HORMONES- The Confusing teens-Dopamine_KyuMin|YAoi

 HORMONES KYUMIN FF

Author : rainy hearT

Length : Series (?)

Rated :  T

Cast :

-Cho Kyuhyun & Lee Sungmin

– EunHae

-BaDeul

-HanChul x SiChul

-YeWook

-YunJae

-OnKey

-2Min

Pairing : || KYUMIN |

Desclaimer : Semua cast belongs to God and themselves. Dan seperti biasanya, jika saya bisa saya sudah meng-Klaim seorang Lee Sungmin menjadi milik saya.#Mimmpi….#

Genre : ||Drama || Romance|| Angst | Fluff

Warning : || BL/ YAOI || Gaje || typo’s || EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia||

Sumarry : I just pick some scene’s from mini series from Thai, named Hormones. It’s just get inspired by the tittle, but actually the story inside was so different, not same as the series. If you like Thai series, better chek it out. The mini series was so damn fucking good. Trust me.

 

.

 

Another PRESENT From Me

.

~The Confusing Teens~

.

 

Just KYUMIN

 

Please be Patient With me. Don’t Like Don’t Read. No copas No bash.

 

.

 

HAPPY READING

.

.

 

Part 2 (Dopamine)

 

 

.

 

.

 

Hae’s home…

.

 

.

 

“Bagaimana Hyung, apa handycam-nya sudah siap?”

 

“Sebentar, Hae.”  Yesung mengangguk yakin saat ia sudah memastikan oom dan angle yang akan dia dapatkan. IA memilih duduk di lantai kamar Hae dan bersiap. “Oke. Siap!” Yesung mengacungkan jempolnya.

 

Donghae sudah bersiap dengan gitarnya. Hari ini ia ingin membuat sebuah demo yang akan dia unggah ke youtube, dan juga media social sekolah. Hae sudah sangat siap, dan kali ini ia akan menyanyikan lagu ciptaanya.

 

Hae hendak memerik gitarnya, tapi ia berhenti. Ia melirik pada Kyuhyun. “Hei, Kyu!!! Ayo bantu aku, aku butuh bantuanmu.  Seorang namja paling keren satu sekolah.”

 

Kyuhyun yang tengah sibuk dengan psp-nya mau tak mau meletakkan benda kesayangannya itu terlebih dahulu. Kyuhyun mendengar suara pintu terbuka, ia mengangguk hormat saat melihat Umma-nya Hae di ambang pintu.

 

“Hae!!!”

 

“Nde!!”

 

Hae’s Umma masuk ke kamar anak kesayangannya itu. “Aku akan masak bulgogi, kalian pasti akan menyukainya. Ayo, makan bersama.”

 

“Nde, ahjumma.” Yesung menjawab bersamaan dengan Kyuhyun. Mereka mengabaikan wajah kesal Hae. Setelah yakin jika umma-nya sudah meninggalkannya, Hae menatap kesal pada kedua sahabatnya.

 

“Ck… bukankah kalian masih ingat? Jika Umma meminta kalian makan malam disini, jangan mau.”

 

Kyuhyun menepuk bahu Hae. “Tidak apa-apa, aku sudah biasa mendengar suara cempreng Umma-mu.”

 

“YA! Tapi Umma-ku terlalu berisik. Dia bisa berbicara sepanjang waktu makan malam dan menceritakan semua kejelekanku.” Hae menatap Kyuhyun dan Yesung. “Begini saja, kalian bantu aku membuat demo malam ini, dan jangan makan malam dirumah. Aku akan mentraktir kalian Di Grill 5 Taco.”

 

“Deal!!!” Kyuhyun berseru senang. “Ayo, lakukan.”

 

Mereka memulai merekam demo yang akan diunggah ke youtube. “Tadinya aku hanya dapat 30 view dalam satu minggu. Sekarang pasti langsung ribuan. Hahhaa…!” Donghae tertawa polos.

.

 

.

.

.

 

“Dimana Kyuhyun dan Yesung?”

 

“Mereka sudah pulang, Umma.”

 

“Padahal umma sudah memasak sangat banyak, kenapa kau biarkan mereka pulang.” Hae’s Umma meletakkan piring berisi sayuran dan kemudian sibuk menuangkan sayur ke piring Hae. “Seharusnya mereka ikut kita makan.”

 

Donghae menggeser kursinya dan duduk dikursi. “Tidak apa-apa. Aku yang akan habiskan.” Hae tersenyum pada Ummanya. Yah… dia merasa bersalah. Terkadang ummanya memang sangat berisik. Hae melihat TV yang masih menyala dihadapannya. “Appa, besok belikan aku itu yah???”

 

Hae’s Appa melihat iklan yang masih di putar di TV itu. Iklan sebuak skuter yang memang baru di luncurkan beberapa hari kemarin. Ia tak bisa membiarkan Hae mengendarai motor itu. Hae anak yang cukup ceroboh. “Tidak bisa, itu bukan mainan anak ceroboh sepertimu.”

“Tapi appa….” Hae merengek. Ia menoleh pada Umma yang duduk disisinya. “Umma, belikan aku itu yah???”

 

“Mianhe, appamu bilang tidak. Jadi umma tidak bisa berbuat apapun.”

 

Hae cemberut. Ia memasang wajah memelasnya.

 

“Sudahlah, Hae. Umma sudah menyiapkan susumu. Sebelum naik, bawa keatas dan habiskan.”

 

Hae hanya mengangguk patuh. Sejujurnya ia kesal. Ia masih saja dipandang dan diperlakukan seperti anak kecil. Setelah menyelesaikan makan malamnya, ia naik keatas menuju kamarnya. Ia sudah tak sabar untuk melihat bagaimana reaksi viewer di video yang diunggahnya.

 

Hae mereload  halaman terakhir dari youtube. Dan, “Coooollll!!!” Hae berseru senang.

 

Dilayar tertera jelas. “1448.”

.

 

.

 

.

 

At School!!!

 

.

 

.

 

Esoknya Hae merasa seperti menjadi artis dadakan. Mungkin mengalahkan perasaan artis kilat lainnya yang terkenal hanya lewat youtube. Dia berjalan menuju  kelasnya dengan senyuman lebar diwajahnya.

 

Ia menemui Yesung dan Kyuhyun yang tengah menikmati waktu santai mereka di tepian lorong sekolah mereka.

 

“Hae-ah…. sepertinya kau senang sekali.”

 

“Nde, Kyu!!!! Kau tau viewernya pagi ini sudah 2500. Itu bagus sekali. Ah… biarkan aku merasakan menjadi seorang artis dulu.

 

“Kyuhyun Sunbae!!!”

Tiba-tiba datang segerombolan namja yang sudah pasti Kyuhyun tidak mengenalnya. Key, Jonghyun dan Jino. Sebenarnya Jonghyun malas mengikuti Key. Tapi Key memang sangat manja dan pemaksa. Dia tak segan-segan mengomeli  Jonghyun didepan orang banyak. Key menyeret Jino untuk mendekat kepada Kyuhyun.

 

“Kyuhyun Sunbae, aku sudah melihat video yang kau unggah. Lagunya bagus!!! Bisa berfoto bersama?”

 

“Tentu saja, cantik…” Kyuhyun tak lupa memberikan rayuan maut. Yesung hanya bisa menggeleng heran. Kyuhyun memang tak bisa diam jika melihat makhluk cantik. Key memberikan ponselnya pada Yesung. Tapi saat Yesung sudah bersiap mengambil foto, Key kembali berubah pikiran.

 

“Yesung sunbae ikut berfoto dengan kami.” Key menatap Donghae. Ia menarik ponselnya dari Yesung dan memberikannya pada Donghae. “Sunbae, tolong fotokan untuk kami. Eum 2 kali yah, takutnya nanti hasilnya kurang bagus.”

 

Sebenarnya Donghae sangat kesal. Ia memang tak bisa sepopuler Kyuhyun, tapi kenapa seperti ini. Mau tak mau, meski sangat kesal ia memotret mereka.

 

“Hae, sepertinya kau masih kalah populer dari Kyuhyun.”  Setelah segeromnolan namja itu pergi, Yesung tertawa pelan dan menepuk bahu Hae. Bermaksud untuk menenangkan namja itu, tadinya memang berniat seperti itu. Tapi akhirnya Hae semakin dongkol dan kesal.

 

“Kenapa seperti ini? Aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi artis terkenal.”

 

Kyuhyun dan Yesung hanya tertawa melihat komentar polos Hae. Anak itu memang benar-benar masih sangat polos.

 

“Annyeong…”

 

Hae terdiam seketika. Ia melihat salah satu sunbae mereka -mahasiswa- yang Hae kenal benar jika namja ini adalah salah satu personil dari Spaceband.

 

“Sunbae….”

 

“Aku melihat video di youtube. Bukankah kau yang memainkan gitar?”

 

Hae mengangguk semangat.

 

“Aku akan mengadakan audisi akhir pekan ini. Aku tunggu di ruang musik sekolah sabtu sore.”

 

“Ya, pasti. Aku pasti akan datang.”

 

Setelah sunbae itu pergi, Hae berjingkrak senang. Ia bahkan tak malu saat dengan seenaknya mencium pipi Kyuhyun dan Yesung. “Cool!!!”

 

.

 

.

 

.

 

Prok..! Prookkkk!

 

“Ah.. Eunhyuk-ah!” Hae berlari kencang menuju Enhyuk yang menyambutnya dengan tepuk tangan meriah dari dalam kelas.

 

“Aku dengar kau diterima di band itu, chukkae!”

 

Hae memeluk Eunhyuk. “Nde. Ah… kami akan mengadakan pertunjukkan untuk menutup acara sekolah. Aku ingin kau merekamku nanti dan pastikan kau ada di barisan pertama.”

 

“Nde…”

 

.

 

.

 

.

 

Sekolah sangat meriah. Terlebih, nanti akan ada pentas seni yang dibuka oleh band sekolah mereka. Hae sangat gugup, ini pertama kalinya dia tampil didepan banyak orang. Hae melihat penonton yang sudah mulai berkumpul di depan panggung. Ia tersenyum melihat semua siswa sepertinya benar-benar tertarik untuk melihat penampilan Spaceband.

 

“YA! Hae-ah, ayo ambil posisi.”

 

Hae mengangguk. Ia kemudian naik ke panggung dan mengambil gitarnya. Bersiap untuk mengiringi vokalis band mereka. Kali ini mereka akan memainkan lagu wajib Spaceband. Lagu yang sedikit bergenre rock meski dengan lirik yang sedikit melow.

 

Seperti janjinya, Eunhyuk berada di barisan depan. Dia sudah bersiap dengan kamera ponselnya. Awalnya Enhyuk takut, saat iamelihat keraguan di raut wajah Hae. Tapi entah mengapa, lama-kelamaan ia malah menjadi khawatir. Hae sepertinya terlalu menikmati atau malah over dalam memainkan gitarnya.

 

“Lihatlah, bukankah dia gitaris baru?”

 

“Nde, tapi kenapa main gitarnya seperti itu?”

 

“Ih… aneh sekali. Bagaimana bisa dia mengiringi Subin eonni?”

 

“Ia, permainan gitarnya juga jelek sekali.”

 

Eunhyuk sudah memaksakan diri untuk menulikan telinganya dan tak mempedulikan ocehan para yeoja yang berdiri disekitarnya. Mereka mengomentari permainan gitar Hae. Eunhyuk memfokuskan dirinya untuk melihat penampilan Hae, tapi lama kelamaandia juga merasakan jika apa yang dikatakan para yeoja berisik itu memang ada benarnya. Eunhyuk mulai ragu. Ia menurunkan ponselnya.

 

Ia melihat penampilan Hae yang malah semakin lama semakin berlebihan. Ia merasa kesal sendiri dan kecewa, seharusnya Hae tak perlu bermain seperti itu.

 

Setelah penampilan Spaceband selesai, Hae langsung turun dari panggung. Ia heran kenapa di detik-detik akhir Enhyuk malah pergi dan tidak menonton penampilannya lagi. Ia mencari Eunhyuk  ke seluruh ruangan dan lorong sekolah. Tapi semuanya sepi.

 

Akhirnya Hae memilih untuk kembali ke ruang kelasnya. Ia menemukan ponselnya sudah berada di meja. “Ah.. pasti dari Hyukkie.” Hae memutar videonya dengan semangat. Ia sudah tak sabar melihat seperti apa penampilannya tadi.

 

Awalnya Hae memang merasa senang, ia terlihat seperti pemain gitar profesional tapi saat Hae mulai mendengar suara berbisik-bisik, ia mulai merasa terganggu. Hae mengeraskan volume rekaman video itu. Meski suara musik lebih keras tapi Hae bisa mendengar suara dari beberapa yeoja yang mengomentari penampilannya.

 

Hae menghentikan video itu. Ia tertegun. ‘Apa ini alasan Hyukkie?’

 

.

 

.

 

.

 

“Hae, Umma akan mengajakmu untuk makan di restoran Jepang. Kita akan merayakan penampilan pertamamu dengan bandmu itu. Bagaimana?”

 

Umma Hae yang tengah menyetir itu mengerutkan keningnya. Tak biasanya Hae hanya diam dan tak menyahut. Apalagi, Hae paling suka masakan Jepang. “Hae, kau baik-baik saja kan sayang.”

 

Hae tetap saja diam. Hae’s Umma kemudian memasuki lahan parkir luas yang tepat berada di depan sebuah restoran Jepang yang mewah. “Ayo, kita masuk dan makan dulu. Setelah itu baru kita pulang, umma sudah menyiapkan kejutan untukmu.”

Tapi bukannya turun dan menuju ke restoran, Hae malah berlari jauh dan mengabaikan teriakan Ummanya. Hae merasa kesal, pada dirinya sendiri dan juga ia merasa bersalah… pada dirinya sendiri. Mengapa ia bertingkah konyol dan memalukan seperti itu?

 

Hae berlari dari restoran jepang yang jaraknya memang cukup dekat dari rumahnya. Dengan tergesa, ia membuka gembok rumahnya dan masuk melalui pintu yang ada di samping rumah.Tapi Hae tertegun saat melihat motor yang terparkir di samping rumah.

 

“Mianheyo, Umma…”

 

Hae menangis pelan. Ia telah meninggalkan ummanya. Seharusnya, ia tak bersikap seperti itu. Hae mengusap air matanya, ia tersenyum saat melihat tulisan di kartu yang tergantung di spion sepeda motor itu.

 

“Hae-ah…화이팅!!!”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Heechul tengah menikmati waktu sorenya di sebuah toko buku. Ia akan membeli beberapa buku bacaan yang mungkin bisa menemaninya saat ia merasa kesepian di rumah. Nunna-nya tak selalu ada waktu untuknya.

 

Ia melihat ponselnya. “Ah… Dia sudah menungguku.” Heechul segera membayar dikasir dan kemudian keluar dari toko buku itu.

 

“Annyeong…”

 

Heechul tersenyum saat melihat seorang namja yang menyapanya. Bukan dari sekolah yang sama dengannya, tap namja itu cukup menarik baginya. “Nde, annyeong.”

 

“Bisa berbagi contact mu denganku? Kuharap kita bisa berteman.”

 

.

 

Pluk!

 

.

 

Sebuah tepukan kecil melayang dengan mudahnya mengenai kepala namja itu. Heechul hanya bisa diam. Ia tahu, dalam hal ini ia tak akan bisa berbuat  apapun. “Yah, anak kecil. Jangan sekali-kali mengganggu dia lagi. Dia ini milikku.”

 

Namja itu hanya bisa merengut kesal. Dan tak lama setelah Heechul berlalu darinya, di belakangnya tiba-tiba ada sekelompok namja yang kemudian ikut memukulinya. “Kau harusnya berkaca. Ah… dan harus kau ingat, kau bukan apa-apa. Hanya namja lemah yang tak pantas bersaing dengan Han hyung.”

 

Heechul masih sempat menoleh kebelakang hanya untuk memastikan keadaan namja itu. “Hannie, seharusnya kau tak perlu sekejam itu padanya. Dia hanya ingin berteman denganku.”

 

“Chullie, jangan mengelak. Aku tahu bagaimana sikapmu. Jangan buat aku kehilangan kesabaran denganmu.”

 

Heechul hanya bisa diam pada akhirnya. Ia tahu, Hangeng memang sangat dan terlalu mencintainya. Bukan ia tak mencintai Hangeng, hanya saja namja itu selalu memberikan cinta yang berlebih untuknya dan terkadang ia malah merasa bosan.

 

“Ah… dan kenapa Siwon harus menjadi anak buahmu. Dia sungguh kasihan, harus membelamu.”

 

“Hei… dia itu adik kesayanganku. Sudahlah, berhenti mengasihani orang lain.” Hangeng meremas nakal bokong Heechul. “Aku akan mengajakmu ke rumahku. Kita bisa menghabiskan akhir pekan bersama.”

.

 

.

 

.

 

.

 

Sungmin memasuki kelasnya dengan wajah cerah. Mereka semua baru saja kembali ke kelas masing-masing setelah sebelumnya berkumpul di gedung olahraga untuk mengetahui siapa yang akan mewakili upacara penghormatan kepada para guru yang sudah biasa mereka lakukan di awal tahun pelajaran.

 

Sungmin senang-senang saja saat mendengar jika Kyuhyun juga ikut mewakili mereka. Sebenarnya ia berharap wakil yang lainnya dari kelas yang lain dan bukan dari kelasnya, terlebih itu adalah Kyuhyun. Tapi Sungmin harus bersikap sportif.

 

Sungmin berdiri di depan para siswa yang lainnya. Hari ini mereka dibebaskan dari semua pelajaran sekolah untuk mempersiapkan upacara penghormatan itu.

 

“Apa kau yakin dengan apa yang kau tuliskan? Apa tak ingin berubah dari tahun kemarin?” Kyuhyun bersuara mengomentari tulisan di papan tulis yang baru saja di tuliskan Sungmin.

 

“Kita perlu sesuatu yang teratur dan juga rapi. Aku tidak mau kau membawa tingkahmu yang urakan itu kedalam sekolah kami.”

 

“Tapi, Sungminnie…” Kyuhyun memanggil Sungmin dengan suara lembutnya. Sungmin sempat merasa malu pada awalnya. Namun ia langsung menghentikan acara ber-blush-ing ria dan kembali menormalkan raut wajahnya. Sungmin mulai merasa ada yang salah dengan dirinya.

 

Sementara, Kyuhyun yang sadar dengan kelakuannya hanya tersenyum nakal. “Apakah tidak sebaiknya kita menambahkan kesan lucu agar para siswa juga tak takut lagi dengan Seonsaengnim. Kau tahu, seperti Kang In seonsaengnim, dia menakutkan. Yah… aku hanya berfikir mungkin kita bisa menambah sesuatu yang lucu. Agar tak kaku seperti biasanya, Ming.”

 

Sungmin hanya menggeleng. Ia harus berusaha sabar menghadapi Kyuhyun. meski Kyuhyun sudah berani-beraninya memanggilnya dengan berbagai macam panggilan yang sama sekali tak sopan. “Kalau begitu baiklah. Aku pikir ada baiknya juga. Nah, yang setuju dengan ideku untuk melakukan upacara formal seperti biasanya harap berkumpul di sebelah kiri dan yang setuju dengan ide Kyuhyun harap berkumpul disebelah kanan.”

 

Kyuhyun masih sempat mencuri padang pada Sungmin, meski sepertinya Sungmin terlalu acuh dan tak memperhatikannya. Meski Kyuhyun sudah berusaha untuk menyangkal, tapi tingkah Kyuhyun benar-benar memperlihatkan betapa ia sangat mengagumi Sungmin.

 

.

 

.

 

.

 

Heechul keluar dari sekolah dengan lemas. Hari ini Hangeng tak akan sempat menciumnya. menjadi seorang mahasiswa memang melelahkan dan membuatnya tak bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama Heechul.

 

Heechul melihat Siwon yang tengah berdiri di halte bus, ia mnghampirinya. “Hei!”

 

“Oh… Heechul Hyung.”

 

“Kenapa sendirian?”

 

“Hari ini aku harus pulang kerumah dulu, baru main ke tempat Hangeng Hyung.”

 

Heechul mengangguk. “Eum.. apakah kau benar-benar melakukannya atas dasar teman?”

 

“Maksudmu?”

 

Heechul menatap melas pada Siwon. “Kau tahu, Hannie hanya memanfaatkan kalian. Aku tak suka dia melakukan hal seperti itu.”

 

Siwon hanya menggeleng. “Tidak apa-apa.”

 

“Hey!!!”

Siwon menoleh ke sumber suara. Ia melihat namja yang kemarin menggida Heechul mendatanginya dengan beberapa teman genknya. Siwon mungkin jago bela diri, tapi jika teman genk-nya sebanya itu…

 

“Ayo! Pukul dia!”

 

Heechul hanya bisa berteriak dan sedikit-sedikit menangkis pukulan pada tubuh Siwon. “YA! Jangan ganggu kami, pergilah! Tolong!”

 

Setelah ada seorang polisi patroli terlihat berlari menuju ke tempat mereka, gerombolan anak-anak itu lalu pergi meninggalkan Heechul dan Siwon. “Mianhe, Siwon-ah…”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Malamnya, di tempat Hangeng mereka semua berkumpul. Termasuk Siwon dan Heechul.

 

“Aku akan menghabisi mereka.” Hangeng geram hingga meremas kaleng beer yang ia pegang. Ia menepuk pelan bahu Siwon. “Kau sekarang, tak boleh kemana-mana sendiri. Sebaiknya kalian selalu ikut bersamanya.”

 

“Nde, Hyung.” Bebearap anak yang lain menyahut patuh pada pemimpin mereka.

 

“Kau tidak apa-apa, baby…”

 

“Ahni, hanya takut saja. Mereka sempat menggangguku, harusnya kau memukuli mereka.”

 

Hangeng mencium bibir pouty Heechul. “Tenang saja, aku akan bereskan anak kecil itu.”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

“Morning!!!”

 

“Yeay! Kembali lagi bertemu dengan Sandeulie yang paling cute dan juga nae baby Baro!”

 

“Nde. Hari ini kami akan menayangkan acara yang paling ditunggu setiap minggunya. Yeah, apalagi kalau bukan We Are Sources.”

 

“Dan kali ini kami akan menayangkan reka ulang dari gosip terhangat dan terpanas minggu ini. Jangan lupa, beri tanggapan kalian di fanpage Badeul News.”

 

Itu hanya sedikit kata pembukaan sebelum rekaman reka ulang dimulai. Sungmin melihat itu. Ia tahu benar rekaman itu adalah kejadian beberapa hari yang lalu yang ia yakin tak ada satu orangpun yang tahu kejadian itu selain dia dan Key.

 

Tapi saksi dalam video reka ulang itu bukan Key. Lalu siapa yang membocorkan hal itu keseluruh sekolah. Sangat memalukan memang. Gay disekolah memang sudah biasa dan tak dipermasalahkan. Tapi bukan berarti mereka bisa bermesraan dengan bebas di lingkungan sekolah.

 

Sungmin sedikit geram melihat rekaman itu. “Chulie… waeyo?” Sungmin menghela nafasnya.

 

“Waeyo, Ming?”

 

“Ah… Kyu…” Sungmin menyembunyikan ponselnya. “Ahni, bukan apa-apa. Kenapa kau belum pulang? Bukankah ini sudah jam pulang.”

 

“Aku menunggumu.”

 

“Ah… klasik sekali.” Sungmin melihat ponselnya. Ia mendapat pesan dari Ummanya. “Kalau begitu, pulanglah sekarang karena aku juga akan pulang sekarang.”

 

Sungmin meninggalkan Kyuhyun didalam kelas. Yesung datang dari luar kelas dan menghampiri Kyuhyun. “Kukira kau sudah di kelas Hae? Ternyata kau mengganggu Sungmin lagi.”

 

“Aku tidak mengganggunya, hanya ingin berkenalan dengannya.”

 

“Kyu, Sungmin itu tidak seperti yang lain.”

 

“Tapi dia tidak galak padaku. Dia pasti akan menyukaiku, buktinya dia masih baik padaku meski aku sudah sering mengganggunya.”

 

“Terserah kau saja.”

 

“Yesung-ah, apa kau tahu apa hubungan Heechul dan Sungmin.”

 

“Aku tak yakin, tapi dulu saat mereka berteman baik. Aku tak tahu, apa yang membuat Sungmin dan Heechul jadi seperti sekarang.”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

 

TBC

 

 

.

 

Aku tahu ini ngebosenin, dan juga ga cuman fokus Kyumin. Kan udah jelas castnya, and bagi yang belum nonton dramanya, aku saranin nonton deh. Dan aku juga secara garis besar ngikut alur di dramanya, jadi yah… begini deh.

 

Gomawo!!!

 

Iklan

Remarried | KyuMin | YAOI | Part 1

.

 

.

 

.

 

Matahari sore bersinar hangat. Terlihat indah. Mereka berdua memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar taman sedikit jauh di depan rumah mereka. Membeli ice cream atau sekedar gula kapas mungkin.

 

Tapi, sore ini …

 

Sepertinya namja pintar ini memiliki pemikiran lain. Memang wajar jika seusianya sudah menanyakannya. Ia mencoba untuk tak bertanya, tapi nyatanya perbedaan itu terlalu mencolok dan benar-benar membuatnya penasaran.

 

“Appa….”

 

“Heum…”

 

“Cungie cuma punya satu appa, waeyo?”

 

“Kenapa tiba-tiba berbicara seperti itu, baby?”

 

Sunghyun sedikit takut dan mengkerut, hingga akhirnya ia menggeleng lemah dan berusaha untuk tidak menangis. Ia tahu, appanya tak akan suka jika membicarakan hal ini. Bahkan sejak beberapa hari yang lalu, ia sudah mulai berfikir jika dia bukan anak appa kesayangannya ini. Mungkin saja, perkataan chingunya benar jika Sunghyun berasal dari sebuah rumah yang besar dengan begitu banyak anak kecil didalamnya. Rumah besar tepat didepan rumah mereka.

 

“Ahniya, appa…”

 

Namja mungil itu menunduk, namun dengan pasti ia melepaskan tangannya dari genggaman namja disisinya. Mau tak mau, namja tampan itu harus menghentikan langkah mereka dan mulai membujuk putra kesayangannya yang merajuk padanya.

 

Meski namja kecil itu sedikit meronta, tapi ia tetap memaksakan untuk membawanya dalam gendongan lengannya. “Kenapa bersikap seperti ini pada Appa? Hei… jangan menangis sebelum mengatakan apapun. Kau tahu bukan, namja tidak boleh cengeng.”

 

Sunghyun mengangguk pelan. Ia mengusap sedikit basah di wajahnya dan kemudian segera memeluk erat leher appanya. “Juniol, punya 2 appa.”

 

Sunghyun bergumam kecil dengan suaranya yang sedikit serak. Sungguh, ia benar-benar ingin tahu, kenapa hanya dia…

 

Kenapa…

 

Namja tampan ini sangat yakin, jika jagoan kecilnya ini pasti tengah merengek. Sebenarnya bukan karena 2 atau 3 appa. Ia mungkin hanya merasa iri dan itu saja, tidak lebih. “Hei… lalu kau mau punya 2 appa juga?”

 

“Eum…Cungie…” Sunghyun menggumam pelan.

 

“Atau kau ingin seperti Gwiboon?”

 

“Eoh? Boonie nuna…” Sunghyun tampak berfikir. Heuh… ia sama sekali tak tahu apa yang dia pikirkan. Ia juga tidak ingin mempunyai satu appa dan satu umma. Dia tidak merasa iri pada Gwiboon. Bukan pada yeoja anak tetangganya itu. Tapi, ia benar-benar merasa iri pada Junior.

 

“Appa…” Sunghyun menangkup kedua sisi pipi namja yang tengah menggendongnya ini. Kemudian dia mendekatkan wajahnya dan mencium kening namja itu.

 

“Cungie lihat Hae Appa cepelti itu cama Hyukkie appa.”

 

“Hehehe….Lalu?”

 

“Yeye appa…. “

 

“Nde, kenapa dengan Yesung appa?”

 

Sunghyun tidak menjawab, hanya menggeleng. Dan dengan begitus saja namja ini tahu, jika putranya benar-benar tak menyukai seseorang yang selama ini selalu bersama mereka.

 

“Wae?”

 

“Cungie bukan dali lumah itu ‘kan, Appa?”

 

“Ya… tentu saja. Ish… siapa yang mengatakan itu?”

 

“Yeye appa, bukan appa Cungie. Lalu ciapa appa Cungie?”

 

“Sunghyunie….”

 

“Apa, Cungie punya umma cepelti Boonie nunna?”

 

“Chagiya, kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu. Sudahlah… eum appa akan membelikan ice cream untukmu.”

 

“Hukss… Appa….”

 

.

 

.

 

.

 

‘Mianhaeyo… baby…’

 

.

 

.

 

.

 

 

re-MARRIED

 

.

.

 

Author : rainy hearT

 

Length : Series

 

Rated : T

 

Cast :

-Cho Kyuhyun

-Lee Sungmin

– Lee Hyunming (Sungmin Twins) – OC – Yeoja

– Other SUJU member

 

Pairing : || KYUMIN ||

 

Disclaimer : Semua cast belongs to God and themselves. KyuMin saling memiliki dan saya adalah pemilik mutlak dari seorang Lee Sungjin #%$&&^%???

 

Genre : ||Drama || Romance|| Slice of life |

 

Warning : || BL/ YAOI || Gaje || typo’s || EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia||

 

.

 

Another PRESENT From Me

.

 kyumin remarried mini size

.

 

Just KYUMIN

 

Please be Patient With me. Don’t Like Don’t Read. No copas No bash. Kritik and saran yang mendukung selalu diterima dengan tangan dan hati yang terbuka.

 

.

 

.

 

Happy Reading

.

 

 

 

Part 1

.

 

.

 

.

 

Jika aku bisa kembali, aku berharap tak pernah menemukanmu,

 

Jika aku bisa menolaknya, maka aku tak ingin bersama denganmu,

 

Dan jika aku akan kalah pada akhirnya, aku benar-benar tak akan pernah mencintaimu.

 

.

 

.

 

.

 

Berawal dari pertemuan kecil, hingga akhirnya membuatmu terus merasa bersalah jika tak mengalah. Apakah sama sekali tak pernah berfikir, bahwa aku benar-benar tak menginginkan ini.

 

Jika cinta hanya karena belas kasihan, aku tak mau melakukannya. Mengapa memohon padaku, jika nantinya akan menyakitimu?

 

Untuk apa kau melakukan ini? Apakah sudah bosan dan tak mencintaiku lagi?

 

Apa hakmu untuk mengatur kehidupanku? Untuk apa memohon padaku?

 

Harusnya kau juga tahu, aku tak akan pernah bisa membahagiakannya. Aku tak akan pernah benar-benar mencintainya. Aku sungguh, tak akan bisa.

 

Mengerti?

 

 Atau kau tak mau mengrti….

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Flashback On

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Teng….teng… teng…

 

.

 

Lonceng gereja itu berbunyi nyaring, menandakan upacara disana telah selesai. Meski hanya beberapa sahabat asing yang mereka temukan, itu sudah cukup sebagai saksi kebahagiaan mereka. saling melempar senyuman dan bahkan menggenggam jemari.

 

Seperti tak ada beban apapun lagi, karena kita benar-benar bebas. Bahkan berciuman didepan orang banyak, dan mereka menghargai.

 

Inilah yang disebut cinta, sesuatu yang bebas.

 

Dan inilah ikatan kita seharusnya.

 

.

 

.

 

.

 

“Aku tak percaya kita menikah.”

 

Senyuman cantik itu menghiasi bibir Sungmin. Dia tersenyum dan memutar tubuhnya, untuk melihat bagaimana ekspresi namjanya. Yeah, mereka menikah …

 

Jauh diseberang. Di negeri orang, dimana pernikahan itu akan benar dan tak ada yang salah dengan cinta mereka.

 

“Kau senang, Ming?”

 

“Nde, tentu saja. Heuh, aku tak menyangka akan menikah dengan namja menyebalkan yang dari dulu sangat suka menggangguku. Kukira kau tak akan menemukan aku di Paris. Sangat menyebalkan.”

 

Sungmin mendekat pada namja itu, kemudian membiarkan lengan kuat namjanya melingkar indah dan mengangkat tubuh Sungmin, agar kaki mungilnya berpijak pada kakinya.

 

“Ck… Kyunie, aku berat. Kau tahu….”

 

“Biarkan saja. Aku ingin melakukan ini. Aku suka kau seperti ini, jangan mencoba diet. Atau aku akan memberikanmu susu penambah nafsu makan.”

 

“Ahaha… Konyol sekali.”

 

Kyuhyun, namja yang menikahinya. Memberikan marga Cho, meski sangat sulit pada akhirnya. Senyuman di bibir Sungmin perlahan menghilang. Ia kemudian mengusap dada Kyuhyun dan memeluknya erat.

 

“wae, kenapa wajahmu seperti itu?”

 

Sungmin hanya menggeleng menanggapi pertanyaan Kyuhyun. Sejujurnya, ia sungguh takut dalam hal ini. “Aku tak bisa menjelaskannya nanti. Bagaimana jika appa dan umma-mu tahu? Bagaimana jika mereka…”

 

Kyuhyun menggeleng dan meletakkan satu jemarinya dibibir Sungmin, meminta namja itu untuk diam dan menghentikan semua pemikiran anehnya. Sungmin merajuk. Dia menghentak pelan tubuhnya dan memasang wajah khawatirnya.

 

“Ck… mereka tak pernah menyukaiku sejak dulu. Mereka sadar, jika kau… aku… yeah…. aku…”

 

“Sssttt…. jangan berfikiran sampai seperti itu. Aku yakin, mereka akan merestui kita. Bukankah, menantunya ini sangat cantik?” Kyuhyun mencuri ciuman kecil di pipi chubby Sungmin. Membuat wajah imut namja itu memerah dan semakin menggemaskan.

 

“Ah, aku juga tak tahu bagaimana memberi tahu Hyunming noona.” Tambah Sungmin. Namja itu benar-benar khawatir tentang semua hal. Pernikahan ini benar-benar tak mudah. Bagaimana bisa ia mengubah pemikiran banyak orang dinegaranya nanti. “Dan juga appa dan Umma…”

 

Kyuhyun tersenyum kecil dia mengusap lembut pipi Sungmin, membuat namja itu menatap Kyuhyun. “Apa kau ingin pulang, baby?” Kyuhyun berbisik pelan. Sungmin hanya mengangguk.

 

Bagaimana ia tak ingin pulang setelah beberapa tahun meninggalkan Korea. “Aku sudah menyelesaikan sekolahku di sini. Aku bisa mengajar di salah satu universitas atau high school. Dan lagi, aku mengkhawatirkan Hyunming noona. Beberapa bulan ini, dia sama sekali tak bisa dihubungi.”

 

Kyuhyung mengangguk pelan. “Baiklah, Cho Sungmin. Kita akan pulang ke Korea.”

 

“Tapi, Kyu… appa dan umma-mu…”

 

“Jangan dipikirkan. Aku yakin mereka akan mengerti, dan jika mereka belum bisa menerimamu… aku akan tetap bersamamu.”

 

Masih terlihat raut wajah khawatir Sungmin, tapi Kyuhyun menoba meyakinkannya. Menatap kedua mata foxy yang cantik itu dan tersenyum pada namjanya. “Kita akan bersama, bukankah aku sudah mampu melaluinya selama beberapa tahun. Untuk beberapa tahun lagi, kurasa bukan masalah.”

 

Sungmin mengembangkan senyumannya. Sungguh, ia sangat mencintai namjanya. Namja tampan yang sedari dulu sudah mengejarnya. Namja yang bahkan rela melanggar aturan dalam keluarganya hanya untuk cintanya.

 

“Aku sangat mencintaimu, Kyu.”

 

“Aku lebih mencintaimu, Cho Sungmin….”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Bandara selalu saja ramai. Bahkan hari ini sepertinya lebih ramai. Yeoja yeppeo ini sudah menunggu hingga kering di arrival gate. Sialnya, penerbangan diundur beberapa jam hingga membuatnya menunggu dan menunggu.

 

Sesekali ia melihat jam tangan putih yang bertengger manis di pergelangan tangannya. Menggeleng pelan dan kemudian melihat lagi kearah depannya. “Ah… akhirnya.” Ia mendesah pelan saat melihat beberapa orang asing keluar dari pintu itu. Sepertinya penantiannya sudah berakhir.

 

Sangat mudah mencari seseorang yang ia tunggu. Sangat mudah….

 

“Noona….”

 

Sungmin tersenyum saat melihat yeoja yang tengah menunggunya di arrival gate. Dia meninggalkan Kyuhyun dan kemudian segera bergegas memeluk yeoja itu.

 

“Sungmin… ck… kau menyebalkan sekali. Asal kau tahu, aku menunggu sangat lama.”

 

“Mianhe, noona…”

 

“Hikss… kau benar-benar kejam saat meninggalkan aku sendiri di Korea. Aku merindukanmu, pabbo…”

 

Sungmin melepaskan pelukannya dan bersiap untuk menghapus air mata nonanya. “Ck… kau cengeng sekali, Nonna.”

 

“Yah!!! Kau pikir kau pergi berapa lama. Sama sekali tak memikirkan bagaimana aku. Appa dan Umma terus menanyakanmu. Mereka sangat khawatir.”

 

“Mianhe…” Sungmin mencium pucuk kepala nonanya. Ia kemudian menoleh ke belakangnya. Namja tampan itu tengah menunggu gilirannya. “Eum, Hyunming nonna…ini…”

 

“Ah… bukankah kau Kyuhyun.” Hyunming melihat penuh selidik pada Kyuhyun. “Ommo!!! Jangan katakan kalau kalian…”

 

Sungmin mengangguk mengiyakan pemikiran Hyunming.

 

“Yah!!! Beraninya kau menikah tanpa memberitahuku. Anak nakal.” Hyunming memukul lengan Sungmin dengan jemari kurusnya. “Ah … baiklah, sepertinya aku harus mengucapkan selamat. Dan kau Kyuhyun-ah… jaga Sungminku baik-baik.”

 

Sungmin berusaha tersenyum. Meski wajah nonanya sama sekali tak menyiratkan apapun, tapi ia tahu… nonanya kecewa. Ini bukan karena Sungmin menikah dengan sesama namja tapi ini karena….

 

Kyuhyun…

 

.

 

.

 

.

 

Mereka terkesan diam didalam mobil. Sangat tak wajar karena diawal pertemuan, Hyunming bahkan sangat berisik.  Terlebih lagi, yeoja itu lebih memilih duduk dibelakang bersama karangan bunga white lily yang ia bawa untuk Sungmin. memilih menyendiri dibelakang dan membiarkan Kyuhyun membawa mobilnya menuju rumahnya.

 

“Nonna, tentang appa dan umma… “

 

“Tenanglah Ming, aku yakin mereka hanya butuh waktu. Kau bisa menjelaskannya perlahan.”

 

Biar bagaimanapun, biar seperti apapun cinta itu… hubungan mereka tetaplah menjadi cinta yang terlarang. Dianggap tabu dan sebelah mata. Dan benar-benar menyakitkan jika sama sekali tak ada satupun dari mereka yang mengerti.

 

“Ah… bagaimana denganmu Noona. Apakah kau sudah menikah?”

 

Hyunming tertawa pelan. “Bagaimana menikah, jika aku pusing memikirkanmu. Aku khawatir padamu, Ming. Kau pergi begitu saja, untung Umma tidak mati karena serangan jantung.”

 

“Hehe… mianhe Noona, kau juga sama sekali tak bisa dihubungi beberapa bulan terakhir.”

 

“Ah… itu karena aku harus mengurus perusahaan Appa. Mereka ingin beristirahat. Heuh… harusnya kau yang melakukannya, kenapa jadi aku.”

 

“Ahh… nde. Dan soal ini, aku….”

 

Dan kembali hening lagi. Sungmin tak berani melanjutkan perkataannya saat ia menyadari genggaman kuat pada tangannya. Kyuhyun mencoba menghentikan pembicaraan Sungmin.

 

Sungmin menatap seklias pada Kyuhyun, terlihat raut kecewa dan gelengan perlahan dari namja itu. Sungmin sendiri tak mengerti harus bagaimana. Dari dulu, ia sudah berusaha untuk membuat Kyuhyun tak mencintainya. Membuat namja itu melihat nonanya. Tapi, percuma.

 

“Nonna, aku minta maaf.”

 

Hyunming menghela nafasnya. Entahlah, ia hanya merasa sedikit sesak dan… bodoh.

 

“Tak ada yang perlu dimaafkan Ming.” Hyunming kemudian meraih tasnya dan merapikan dirinya. “Ah… aku berhenti disini.”

 

“Tapi noona….”

 

“Ck… jangan khawatir. Aku akan bertemu dengan Yesung Oppa. Sebaiknya kau bawa mobilku, berjalan-jalan mungkin. Kau bisa pulang ke apartemenku dulu. Atau kalian mau berbulan madu. Ahahha…. sangat romantis.”

 

Tepat saat Hyunming berhenti berbicara, mobil mereka sudah menepi. Sungmin hampir menahan Hyunming, tapi Kyuhyun sepertinya tak mengijinkannya. Hingga akhirnya, ia hanya melihat dari dalam mobilnya, yeoja itu mengusap kasar pipinya. Ia yakin, jika noona kesayangannya tengah menangis. Dan ini karena dia.

 

“Kami adalah saudara Kyu. Aku tahu nonna sangat kecewa padaku. Aku…”

 

Sungmin terdiam saat ia merasakan tarikan cepat dari Kyuhyun dan pelukan nyaman tubuh namja itu. Ia berusaha memejamkan kedua matanya dan mencoba untuk tak menangis.

 

“Bukankah kau yang meminta pulang? Jika kau belum siap, kita bisa kembali ke Paris.”

 

Sungmin menggeleng lemah. “Ahnieyo… aku akan menghadapi semuanya, Kyu. Aku… aku hanya…”

 

“Jika kau hanya kasihan pada nonamu, apa ku tak kasihan padaku? Apa tak memikirkan aku?”

 

“Kyu…”

 

Sungmin mengangkat wajahnya dan melihat Kyuhyun. Melihat wajah tampan itu tersenyum padanya, dan membiarkan ibu jari namja itu mengusap berkas air mata di pipinya.

 

“Jangan menangis, bukankah kau namja? Jangan mengatakan kau tak bisa, karena kita tak bisa terus menghindari ini.”

 

Sungmin mengangguk, dan perlahan tapi pasti ia menyatukan bibirnya…

 

Membiarkan Kyuhyun menuntunnya untuk  menenangkan pikiran dan perasaannya. Merasakan setiap lumatan lembut dan gigitan nakal Kyuhyun. Menikmati moment mereka di tengah kota Incheon.

 

Meski mereka tak menyadarinya, seseorang tengah mencoba menahan tangisnya. “Hikss…”

 

“Hei…”

 

“Ah, Yesung oppa.” Hyunming mencoba menghapus semua air matanya. Ia segera mengalihkan pandangannya dari mobil dimana Sungmin dan Kyuhyun masih sibuk dengan kegiatannya.

 

Yesung hanya menggeleng pelan dan kemudian meraih jemari kurus Hyunming. “Tak seharusnya kau terus memikirkannya. Bahkan Kyuhyun sama sekali tak melihatmu.”

 

“Aku tahu, oppa… tapi…”

 

“Apakah setiap saudara kembar pasti akan seperti ini? Jatuh cinta pada orang yang sama, seperti tidak ada yang lain saja.”

 

“Oppa…” Suara Hyunming semakin lirih. Ia berusaha untuk tak menangis lagi, tapi tangannya melemah dan perlahan melepaskan genggaman Yesung. Mau tak mau namja itu berhenti dan kemudian memeluk Hyunming.

 

“Jangan menangis untuk kebahagiaan mereka. Bukankah kau menyayangi Sungmin?”

 

Hyunming mengangguk pelan. “Aku sangat menyayangi Sungmin, bahkan lebih dari apapun.”

 

“Jadi berbahagialah untuk mereka. Kau yeoja yang hebat, Hyun-ah…”

 

Hyunming mengangguk pelan. “Aku tahu…hikss… tapi, tetap saja ini sedikit sakit. Hikss…. Oppa…”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

 

Dan angin menerbangkan kisah mereka. Menceritakannya pada debu yang menyertainya. Membawa mereka pada satu titik waktu dimana semuanya harus berubah sesuai dengan takdirnya. Sama sekali tak bisa menghindar.

 

Jadi, aku hanya manusia biasa. Apa yang bisa aku lakukan….

 

.

 

.

 

.

 

.

 

“Jadi, apa rencana hari ini?”

 

“Eum….”

 

Sungmin mengetuk dagunya menggunakan pena yang sedari tadi ia mainkan. “Aku sudah mendaftar pada salah satu sekolah, kurasa mungkin bulan depan aku sudah harus bekerja.”

 

“Baik, lalu…”

 

“Kita akan ke rumah Umma.”

 

“Umma?”

 

“Nde, ke rumah Umma.”

 

“Baik.” Kyuhyun mengangguk dan melepaskan kacamatanya. “Kurasa, aku siap untuk kerumahmu.” Kyuhyun mendekati Sungmin dan memainkan hidungnya, membuat Sungmin mau tak mau tersenyum melihat tingkah Kyuhyun.

 

“Yak, Kyunie… hentikan.” Sungmin menjauh, ia sungguh kesal saat Kyuhyun terus memainkan hidungnya. “Ish… siapa bilang akan kerumahku, aku ingin kita ke rumahmu Kyunie.”

 

“Eoh?”

 

“Kau yakin?”

 

“Aku pulang!!!”

 

“Noona….!” Sungmin langsung mendorong Kyuhyun untuk menjauh darinya. Biar bagaimanapun ia masih punya perasaan untuk hal ini. Ia tak ingin menyakiti noonanya lebih dalam lagi. “Wah, kau sudah pulang.”

 

“Nde.” Hyunming membuka beberapa tas belanjaannya. Ia tersenyum saat mengangkat salah satu dari beberapa tas itu. “Nah, Sungminnie… lihat apa yang aku beli untukmu.”

 

Hyunming mengangkat kain itu dan kemudian berjalan mendekati Sungmin. “Cuaca akan dingin di akhir bulan ini. Aku harap, syal ini akan menghangatkan nae bunny Ming.”

 

“Ish… Noona, seperti kau bukan bunny saja.” Sungmin meraih syal yang dililitkan Hyunming di lehernya. Syal berwarna hijau yang cantik. “Gomawo, noona…”

 

“Nde.” Hyunming mengangguk dan kemudian dia mengobrak-abrik belanjaannya yang lain lagi. “Nah, ini untuk Kyuhyun. Cha…” Hyunming berusaha untuk tersenyum sebaik mungkin. Meski sedikit malas, tapi Kyuhyun akhirnya menerimanya – meski harus menerima deathglare terlebih dahulu dari Sungmin-.

 

“Terima kasih untuk syalnya…”

 

“Nde, Kyuhyun-ah. Mianhe karena yang tersisa tinggal warna putih. Aku sebenarnya akan memberikanmu yang hijau sama dengan milik Sungmin. Tapi…”

 

“Gwenchana, ini saja sudah cukup.”

 

Sungmin melihat kecanggungan diantara kedua manusia itu. Sungguh, ia seperti orang jahat yang terus saja menusuk noonanya sendiri. Keadaan ini benar-benar sangat tidak nyaman.

 

“Ah… Nonna, besok aku akan kerumah Kyunie.”

 

“Wah, bagus. Ganbate!! Aku tahu, appa dan umma Cho akan senang melihatmu.”

 

Seketika raut wajah Sungmin berubah. Hyunming menyadari itu. “Hei… jangan seperti ini. Biar bagaimanapun, cepat atau lambat kau juga akan tetap menemui mereka.”

 

“Noona, bisakah kau ikut denganku. Aku…”

 

“Ming?” Kyuhyun menyela Sungmin. Sungguh, ia benar-benar tak senang dengan keadaan ini.

 

“Tapi, Kyu… aku ingin noona melihat dan mendukungku. Aku ingin dia selalu bersamaku. Kau tahu, kami sama Kyu… aku…”

 

Hyunming menggeleng dan menggenggam tangan Sungmin. “Gwenchana Ming, Noona tidak usah ikut ya. Aku janji, akan selalu mendoakanmu Bunny…..”

 

“Tapi Noona, aku ingin kau melihatku. Aku ingin kau menjadi Umma dan mendukungku. Kau tahu, aku tak bisa memberitahu Umma sekarang. Dia benar-benar bisa mati karena serangan jantung dan….”

 

“Ah… baiklah, tapi…”

 

Kyuhyun segera beranjak dari duduknya dan meletakkan syal dari Hyunming begitu saja. “Heuh… terserah kalian saja.”

 

“Kyu! Yak… Cho Kyuhyun…!”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

TBC

 

.

 

.

 

Ini alurnya mundur yah… dan saja ga tahu, ini bakal ngegantung apa cepet end… ahaha….

 

 

GamsaHAE ^_^

.

 

Dreams… sekuel|| ep. His Wedding || Part. A || KyuMin || GS ||

.

.

.

.

.

Gulungan merah itu~

 

Entah mengapa rasanya masih berat?

 

Meski sudah mencoba berulang kali, tetap saja masih tersisa.

Sungmin menggumamkan pemikiran itu dalam diamnya. Bibirnya bergetar menahan perasaan tak menentu dalam  hatinya. Sesuatu yang terisi bahkan sudah terisi penuh. Lalu sesuatu yang hilang bahkan sampai tak tersisa.

Cinta ~

 

Adalah sebuah noda yang kadang tak bisa kau buang begitu saja.

 

Meski terlihat bersih, belum tentu benar-benar tak tersisa.

.

.

.

.

.

.

Dreams….

 

Author : rainy hearT

Length : Series

Rated : M

Cast :

– Cho Kyuhyun

– Lee Sungmin a.k.a Cho Sungmin

– Kim Jong Woon a.k.a Yesung

– Kim Ryeowook

– Other Super Junior member

Pairing : || KYUMIN || slight Yemin || YEWOOK

Disclaimer : Semua cast belongs to God and themselves. Dan seperti biasanya, jika saya bisa saya sudah meng-Klaim seorang Lee Sungmin menjadi milik saya.#Mimmpi….#

Genre : ||Drama || Romance||Fluffy Angst||

Warning : || GS || Gaje || typo’s || EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia||SAD jadi siapn tissue yang banyak J

Summarry : ||Ini bukanlah yang aku inginkan. Seandainya saja kau tahu jika ini menyakitkan, kuharap kau tak akan meninggalkan aku semudah itu. Tapi, mengapa disaat pertemuan itu datang, aku tak bisa bernafas…. aku TERPENJARA…||

 

Another PRESENT From Me

 

Sekuel of

 

~ DREAMS ….~

 

Ep. His wedding

 

.

.

.

 

Aku ga tau ini akan berchapter atau bagaimana, yang menentukan adalah tanggapan para reader

 

.

 

.

 

 

Please be Patient With me. Don’t Like Don’t Read. No copas No bash. Kritik and saran yang mendukung selalu diterima dengan tangan dan hati yang terbuka.

 

Nikmatilah STORY-nya…. ^_____^

.

.

HAPPY READING

.

.

 

 

~His Wedding~

 

.

.

.

.

 

KyuMin House

 

.

 

.

 

.

 

Yeoja ini~

 

Dia tengah menikmati kembali kesendiriannya. Di rumah besar dan megah itu, ia lebih memilih berada di sudut kamarnya dan menyendiri. Duduk memeluk lututnya dan seakan tak mempedulikan sekitarnya lagi.

 

Salahnya kah~ sampai semua menjadi seperti ini lagi?

 

Ia kembali memainkan gulungan kertas berwarna merah gelap dengan pita kuning gold yang melilit gulungan itu. Kembali membuka lilitan pita dan membacanya. Sederet tulisan yang seharusnya~

 

Sungmin bisa meyakinkan dirinya baik-baik saja dengan ini, bahkan dia sudah bersama Kyuhyun. Apakah dia terlalu egois?

 

.

 

Kyuhyun~

 

.

 

 

Namja itu terlalu~

 

Ah, entahlah. Cinta memang membutakan mata dan hati, bahkan meracuni pikirian dan melemahkan tubuhmu sendiri. Ia menjadi namja lemah yang hanya akan terus menopang Sungmin.

 

Cintanya yang tak pernah terukur itu membuatnya tersiksa sendiri. Tapi ah~ cinta itu baginya tetap indah. Terlebih saat ia melihat semua dari sisi baik kehidupan dan pemikirannya. Ya, setidaknya Sungmin masih miliknya.

 

 

.

 

.

 

.

 

“Kau masih memikirkannya, Ming.”

 

Kyuhyun bergumam pelan saat melihat Sungmin yang masih bersandar pada dinding kaca di kamar mereka. Ia baru saja pulang dari kantornya dan saat membuka pintunya, ia hanya bisa tersenyum miris melihat Sungmin di pojok ruangan kamar mereka.

 

~Tak seharusnya Sungmin berbuat seperti itu~

 

Ya, memang benar. Tak seharusnya seorang yeoja yang bahkan sudah bersuami, dan bahkan sudah berusaha mencintai ~ mengatakan akan berusaha mencintai dan hanya mencintai, tapi__

 

Hati itu nyatanya masih terbagi.

 

Sungmin masih menatap sendu gulungan merah, undangan pernikahan yang sejujurnya sangat tak ia inginkan. Pernikahan yang bahkan sangat mendadak dan mungkin satu tindakan konyol karena berani mengambil resiko di saat karirnya sedang melambung tinggi.

 

“Yesung akan menikah, bukankah sewajarnya kau bahagia?”

 

Ya~ kata-kata Kyuhyun itu cukup menusuk Sungmin sekarang. Ia bukan tak bahagia, tapi rasanya~

 

Berfikirlah…

 

Bagaimana perasaanmu saat seseorang mengambil sesuatu yang sangat kau sayangi? Ah, bukan sesuatu. Baiklah, mengatakan yang sebenarnya~

 

Bagaimana perasaanmu saat seseorang mengambil sesuatu yang belum benar-benar hilang dalam hatimu?

 

Jangan~

 

Jangan menyalahkan Sungmin atas semua ini. Ini bukan salahnya, atau salah siapapun. Tak ada yang bisa mengontrol hati manusia dan bahkan manusia itu sendiri. Dan Sungmin~ bukan ia tak mau melupakan semuanya, tapi melupakan seseorang yang benar-benar pernah menyatu denganmu itu sangatlah sulit.

 

3 tahun?

 

Tak cukup~ sebanyak apapun waktu itu tak akan cukup, terlebih hidupmu selalu di bayangi olehnya. Bukan~ ini bukan karena Yesung yang selalu ada untuk Sungmin. Tapi karena Sungmin yang selalu mengikuti Yesung.

 

Public figure dengan segudang award dan juga terkenal di  seluruh penjuru Korea bahkan sampai ke luar negeri. Dan Sungmin, hanya perlu menyalakan TV atau hanya perlu menekan angka 1 pada ponselnya untuk menghubungi namja itu.

 

Dan Kyuhyun~

 

Ia tak melarangnya. Baiklah, ini bukan salahnya. Tak ada yang bisa Kyuhyun lakukan jika cintanya sendiri sudah melemahkannya. Ia hanya berusaha untuk selalu mengerti Sungmin dan semua perasaan cinta lamanya.

 

Sungmin sangat mencintainya dan itu kenyataannya.

 

Tapi, membuang sesuatu dari hatimu dan mengganti dengan yang baru, membutuhkan waktu yang bahkan sangat lama. Dan Kyuhyun, he is the perfect angel.

 

“Berusahalah untuk merelakannya, Ming. Biar bagaimanapun kau adalah Cho.”

 

Sungmin mengangkat wajahnya dan menatap Kyuhyun. Ia melepaskan gulungan itu dan beranjak dari duduknya. Perlahan, ia menyadarinya. Membiarkan gulungan merah itu terus berguling dan melewati pintu balkon kamar mereka dan kemudian berhenti disisi pagar pembatas itu.

 

Ya,hanya butuh seseorang untuk membangunkannya dari mimpi panjangnya.

 

Sungmin langsung memeluk Kyuhyun dan melesakkan wajahnya ke dada namja itu. Mulai terisak pelan, meski ia sudah berusaha untuk tak menangis.

 

“Mianhe, Kyuh. Hiks… aku hanya… aku…”

 

“Ssstttt…” Kyuhyun mengusap pucuk kepala Sungmin dan mengecupinya perlahan. “Aku mengerti Ming. Asal kau terus mencobanya, aku akan baik-baik saja.”

 

Sungmin mengangguk pelan dan mengeratkan pelukannya pada Kyuhyun. “Saranghae, Kyunie.”

 

“Nde, nado saranghaeyo.”

 

.

 

.

 

.

 

“Dia harus membenciku.”

 

Namja itu memasukkan dua block gula ke kopi hitamnya. Ia mengaduknya pelan dan perlahan menghirup wangi khas kopi itu. Sementara namja yang ada didepannya hanya terus melihat kesekitar ruangan yang terbilang kecil itu.

 

Ia kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan pelan. Membuka pintu menuju balkon di apartemen itu dan mendekati pagar putih pembatas balkon. Ia melihat ke bawah. Sangat tinggi, lantai 25.

 

Sejujurnya, ia sempat memilih mati jika memang akan terus seperti ini. Tapi kemudian ia berfikir kembali, dan lagi~ hanya bisa tersenyum miris.

 

.

Pukkk~

.

 

Tepukan dibahunya membuatnya meloloskan sedikit tawanya. “Hahaha…. sangat menyedihkan.” Ia menggeleng pelan dan berusaha untuk tak menjadi namja lemah dan terus menangisi kekalahannya. “Aku bahkan sudah kalah sebelum kita berperang. Kau selalu menang dan bahkan sampai sekarang.”

 

Namja itu kemudian berdiri disisinya. Ikut melihat pemandangan sore hari yang sejuk dan sedikit dingin di awal musim dingin itu. “Sudahlah, aku akan menikah dan aku pastikan dia tak akan mengingatku lagi.”

 

“Seandainya kau tahu, jika ia semakin terpuruk~ apa kau juga akan tetap menikah? Kau melepaskannya, Yesung hyung. Tapi bukan berarti dia benar-benar hilang dari hidupmu, dan dia juga sama sekali belum melupakan perasaannya.”

 

Kyuhyun meremas kecil kemeja di bagian dadanya. “Disini sakit, sampai sangat sakit hingga aku kadang tak tahu lagi harus bagaimana. Aku tak bisa mengubah perasaannya, dan kau memang telah memilikinya selama ini. Sementara aku, hanya orang baru yang tak tahu apa-apa.”

 

“Tapi dia sudah berusaha, Kyu. Setidaknya kau harus lebih membantunya.”

 

Kyuhyun menoleh pada Yesung. “Aku sudah membantunya. Selalu mencintainya dengan apapun yang aku miliki. Hatiku, tubuhku dan bahkan hidupku~ semuanya aku arahkan untuk mengikutinya. Tapi rasanya belum cukup, atau entahlah~” Kyuhyun menunduk. “ Mungkin butuh waktu yang lebih lama lagi.”

 

.

 

.

 

.

 

Jika akan terus seperti ini, sanggupkah ia bertahan. Mencintai bukan berarti menerima semuanya, terkadang  jika sudah lelah mengalah maka ada saatnya ia berhenti. Dan~ apakah mungkin ia kembali berhenti lagi setelah perjuangannya bertahun ini?

 

Sungmin mengedarkan pandangannya menatap keseluruh ruangan luas itu. Ia tersenyum canggung saat melihat yeoja yang masih terlihat cantik itu sedang menata bunga yang baru ia beli. Menatanya dengan cantik dan meletakkan di setiap sudut ruangan.

 

“Kau sudah bangun?”

 

Yeoja itu tersenyum canggung dan melangkah pelan mendekati Sungmin. Ia kemudian meraih punggung Sungmin dan menuntunnya untuk duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu itu.

 

“Bagaimana keadaanmu? Kau sudah baikan?”

 

Sungmin mengangguk canggung. Entahlah~ ia hanya bingung. Menjadi menantu dan sangat disayangi oleh yeoja ini. Dan memberikan pengharapan jika nantinya ia akan melahirkan putra Cho yang tampan dan pintar. Tapi~

 

Setelah tahun ke-3 pernikahan, yang terjadi hanya…

 

“Gwenchana Heechul Umma, hanya pusing saja. Mungkin aku hanya belum terbiasa dengan cuaca dingin.”

 

Heechul mengangguk dan mengusap lembut  lengan Sungmin. “Belum waktunya, bukan berarti tak akan pernah. Mungkin saja memang tubuhmu belum siap menerima kehadiran baby, tenanglah chagi.”

 

Heechul meraih pipi Sungmin dan mengusapnya pelan. “Umma akan menunggu kehadiran cucu umma, bahkan sampai kapanpun.”

 

Nyess~

 

Rasanya hati Sungmin seperti tertusuk pisau sedingin es yang langsung membuat lubang besar dihatinya. Perasaan bersalah itu, perlahan melemahkan Sungmin. Ia tak tahu, mengapa sampai saat ini masih saja terasa sulit meski Kyuhyun selalu saja memahami dan menurutinya.

 

Cinta memang tak bisa dipaksakan, tapi mungkin Sungmin harus memaksakan diri untuk menutup kedua matanya kali ini. “Mianhe, Umma.”

 

Ya~ hanya kata-kata itu yang mungkin bisa ia sampaikan pada Heechul. Ia tak tahu, mengapa terus saja meminum obat-obatan itu dan menolak kehadiran baby diperutnya. Dan Kyuhyun, dia hanya namja yang penuh cinta. Selalu menerima semua apa yang Sungmin inginkan dengan sepenuh hati.

 

.

 

.

 

Kyuhyun duduk gelisah di depan Ahra. Memang, ia tak akan bisa menyembunyikan sesuatu  apapun itu dari yeoja ini. Dan ia hanya bisa menunduk saat Ahra terus mempertanyakan keanehan rumah tangga Kyuhyun.

 

Sekarang yeoja itu tengah mengunjungi Kyuhyun di kantornya. Ia tak mungkin mengunjungi adik kesayangannya di rumah dan membuat keributan disana. Ia sudah lelah mengatur emosi dan kemarahannya, dan sekarang ia sudah tak tahan lagi.

 

“Kau tahu. Aku baru menikah awal tahun lalu dan sekarang sudah hamil. Aku yakin, kau bisa memberikan keturunan Cho. Tapi kenapa Sungmin tak kunjung hamil?” dengan nada sengit dan sedikit mengejek, ia mencoba membuat Kyuhyun sadar.

 

“Molla, noona.” Kyuhyun hanya menggeleng enteng dan kembali membuka-buka kecil berkas yang ada di tangannya.

 

“Apa kau yang melarangnya?”

 

Kyuhyun yang tak mau Ahra lebih keterlaluan dan salah paham pada Sungmin, akhirnya memilih meletakkan berkas yang sedari tadi ia pegang dan menatap Ahra. “Sudahlah, Noona. Ini bukan masalah aku melarang atau tidak. Bukankah kau juga tahu jika banyak pasangan yang bahkan sudah menikah berpuluh tahun masih juga belum mempunyai anak. Jangan menjadikan ini masalah besar.”

 

Tapi Ahra terkekeh kecil. Ia menggeleng dan mengusap pelan perutnya yang sedikit membuncit.  “Aku tak yakin, Sungmin mencintaimu.”

 

Ahra hanya menggumam, tapi cukup jelas untuk didengar oleh Kyuhyun yang duduk didepannya. Tubuh Kyuhyun kemudian mendadak kaku dan tegang. Lidahnya terasa kelu dan sangat nyeri di hatinya. Apakah sangat terlihat, sampai Ahra dengan mudah menyimpulknnya.“Sudahlah,Noona. Jangan membicarakan ini lagi, kau membuatku__”

“Membuat apa?” Ahra beranjak dari duduknya dan kemudian mendekati Kyuhyun. Bersandar pada meja Kyuhyun dan berdiri menghadap Kyuhyun. “Jangan kira aku buta sampai tak melihat bagaimana cara Sungmin mencintaimu. Sudah terlihat jelas jika masih ada penyanyi itu dimatanya. Sementara kau~ bahkan mungkin hanya sekumpulan kecil pasir yang lama-lama akan habis dan hilang dalam genggaman tangan Sungmin.”

 

Kyuhyun diam. Ia tak mungkin terus menyangkal dan berdebat dengan Ahra. Kyuhyun lebih memilih tenggelam dalam pemikirannya tentang Sungmin, lagi ~dan lagi~ akan terus seperti itu.

 

“Aku akan mengaturnya, Kyu.” Ahra mendekati wajah Kyuhyun dan mengusap pipinya. “Adik kesayanganku harus mendapatkan yang terbaik. Dan aku tak akan bersabar lebih lama lagi jika terus seperti ini.”

 

“Apa maksud Noona? Jangan mencampuri urusanku.”

 

Tapi Ahra sama sekali tak mempedulikan gertakan Kyuhyun, ia malah tersenyum~ eerrr… lebih tepatnya menyeringai.

 

“Sepertinya kau memang perlu bantuanku Kyu. Hahhaa… kita lihat, jika di sesuatu yang lama kau miliki itu bahkan sama sekali tak berguna maka sekarang adalah saatnya kau mencari yang lainnya.”

 

“Mwo?”

 

Ahra mengangguk yakin. “Sesuatu yang baru untuk hidupmu, cinta yang baru.”

 

“Noona~~~!!!!”

 

.

 

.

 

Yesung POV

.

 

.

Jika semua berfikir bahwa aku akan baik-baik saja, maka aku tak seperti itu. Menyerah untuk mencintai setelah sekian lama memilikinya dan mencoba mengganti dengan yang baru ternyata tak semudah yang aku pikirkan.

 

Sekarang, baru aku tahu~ bagaimana rasanya menjadi Sungmin.

 

Ketika dihadapkan pada cinta yang baru, sedangkan hatimu masih separuh tertinggal ditempat yang lama. Aku mungkin tak sekuat apa yang terlihat. Mencoba bijak dan melepaskan Sungmin meski aku sendiri tak tahu apakah aku bisa bertahan tanpanya.

 

Mencoba egois dan menikah dengan yang lain, dan menghancurkan semuanya dengan satu kali hentakkanku. Tapi jika boleh berharap, bisakah aku bersamanya di kehidupan yang akan datang?

 

“Oppa~”

 

Dan dia yang datang dalam hidupku, akan aku bawa kemana kehidupan ini. Jika aku boleh memilih, maka aku ingin hilang. Atau setidaknya menghilangkan perasaan ini. Aku tak ingin menyakitinya, tapi Sungmin~

 

“Oppa…”

 

Wookie merengek lemah dan membuyarkan semua lamunan ku tentang yeoja itu. Yeoja yang selalu tersenyum sambil menekan tuts pianonya. Bernyanyi dengan suara tenor cantiknya dan terus tersenyum padaku.

 

Semuanya sama, atau bisa aku katakan jika Wookie seperti duplikat Sungmin. Ia memiliki semua yang Sungmin miliki. Tapi, mengapa rasanya masih sangat jauh dari tempat Sungmin?

 

Dihatiku, dia tak pernah hilang. Dan aku tahu pasti, dia juga tak akan dengan mudah menghilangkan aku. Lalu harus dibagaimanakan kehidupan hati kami?

 

Aku membiarkan Wookie bergelayut manja di lenganku dan membiarkan tangannya memainkan cincin pertunangan kami. “Oppa, sebenarnya kau memikirkan apa?”

 

“Ahni, bukan apa-apa.”

 

“Lalu kenapa kau diam saja. Apakah memikirkan pernikahan kita?”

 

“Bukan chagi, aku tak memikirkan apapun. Hanya sedikit nervous untuk hari itu.”

 

Dan dia tersenyum kecil. “Aku tak menyangka jika aku akan menikah dengan Yesungie Oppa, dan bersamamu selama 3 tahun lebih membuatku semakin tahu semuanya tentangmu.” Ia terdiam. Dan aku mencoba melihat wajahnya.

 

Pipi tirus itu memang lain dari pipi chubby Sungmin. Aish~ hilangkanlah Sungmin dari pikiranku sekarang! Atau aku akan benar-benar mati karena terus mengharapkannya.

 

Wajah Wookie berubah. Senyuman itu perlahan memudar dan hilang. Berganti menjadi raut sedih, dengan kulit wajah yang terus memerah.

 

“Aku tahu semua  tentangmu, termasuk Yeoja itu. Lee Sungmin~ ah … atau bolehkah aku panggil Cho Sungmin?”

 

Hatiku nyeri mendengar itu. Aku tahu aku terlalu bodoh sampai tak bisa menyembunyikannya dari Wookie. “Jangan memulai lagi pembicaraan itu.”

 

“Aku tak memulai apapun. Yang ada itu, kau~ Oppa. Kau yang memulainya, dan bahkan sebelum kita sempat mengawali semuanya. Kau sudah terlanjur menjalin dan merasakan semuanya padanya. Termasuk cintamu yang sepertinya tak ada habisnya untuk yeoja Cho itu. Kau bahkan tak berhenti mmeikirkannya, dan sampai sekarang masih saja seperti itu.”

 

Marahkah~

 

Pantas, jika dia marah padaku. Aku terlalu bodoh hingga berpura-pura bijak dan melepaskan Sungmin. Yang pada kenyataannya aku tak bisa melakukan apapun dengan baik tanpa Sungmin, tanpa mendengar suaranya.

 

“Hikss…” Dan Wookie mulai menangis. “Aku… lalu aku harus bagaimana dengan perasaanku. Kau membuatku mencintaimu dan sampai sekarang aku sangat mencintaimu. Tapi, kau~  seperti tak punya sisa lagi, untukku. Hiks…. kau selalu hanya memikirkannya, Oppa. Dan bahkan setelah pertunangan kita. Hikss… Apakah hal itu yang akan terus kau lakukan? Meski kita sudah menikah nanti?”

 

“W-Wookie…”

 

Dia menatapku, dengan mata merahnya dan juga pipi basah itu. Ia mengusap kasar air matanya. “See~ bahkan kau tak mengusapkan air mataku. Tapi kenapa jika dia yang menangis, kau bahkan rela meninggalkan semua pekerjaanmu. Hikss…. oppa!”

 

“Mianhe, Wookie. Aku~”

 

“Kau pikir aku tak punya hati! Atau kau pikir aku kejam, sampai terus mengekangmu! Aku tak ingin kau menikahiku hanya karena Sungmin,hikss… aku tak mau kau selalu melihat Sungmin dalam tubuhku. Aku tak mau hikss… aku benci Sungmin!”

 

Ia mendorongku saat aku berusaha menenangkannya. Dan aku semakin tak tahu apa yang harus kulakukan. Menjadi orang yang bodoh terus menerus semakin bertambah bodoh, membuatku semakin tak bisa mengendalikan semuanya.

 

Aku sadar~ bahkan aku tak mengejarnya saat ia berlari sambil menangis dan pergi dariku. Aku bukannya ta tahu, perasaan dan bahkan tingkah lakuku. Semuanya bahkan masih mengarah pada Sungmin.

 

Aku meraih ponselku, dan see~ Sungmin menelfonku.

 

‘Oppa?’

 

“Nde,Princess Ming.”

 

‘Kita harus bertemu, Oppa.’

 

Dan aku tahu, jika aku tak pernah bisa menolaknya.

 

.

 

.

 

.

 

“Hiks…. Oppa~”

 

.

Greeppp…

.

 

Tubuhku hampir limbung saat ia berlari kearahku dan memelukku dengan erat. Apakah ia begitu merindukan aku? Tapi, saat merasakan basah di bahuku, aku tahu jika dia tengah terluka. Entahlah, kali ini apakah masalah yang sama?

 

Kami berada di apartemen lamaku, tempat yang sudah lama aku tinggalkan. Sungmin seringkali mengajakku bertemu disini. Ia merasa ini adalah rumahnya.

 

Aku melepaskan pelukan Sungmin dan kemudian mengusap pelan air matanya yang jatuh di pipinya. Yeah~ aku sadar jika aku bahkan tak pernah melakukan ini pada Wookie.

 

Sungmin duduk disisiku dan ia terus menatapku. “Oppa, hikss….”

 

“Berhentilah menangis dan jadilah dewasa, Ming.”

 

“Hiks… mianhe Oppa. Rasanya sangat sulit jika seperti ini. A-aku bahkan tak bisa pernah benar-benar mencintai Kyunie. Aku harus apa , Oppa. Hikss… rasanya aku semakin tersiksa saat berusaha melupakanmu. Hikss…”

 

Ia menangis dalam dan memilih menunduk, dan apa~ apa yang yang terjadi adalah aku kembali mengulurkan tanganku dna meraih pipinya. Dan saat itu aku baru sadar bahwa aku~ selamanya tak akan bisa menjauh dari kehidupannya. Tak akan bisa menghapusnya.

 

“Ahra eonnie. Hikss… dia bahkan sudah meragukan perasaanku pada Kyunie. Hikss… aku harus bagaimana Oppa? Aku terlalu bodoh sampai terus saja mencintaimu dan tak bisa sepenuhnya mencintai Kyunie. Dan Ahra eonnie akan membawa satu menantu baru di rumah dan mengusirku. Hikss… Oppa, bagaimana ini? Aku juga tak mau berpisah dengan Kyunie.”

 

Aku hanya bisa menghela nafasku. Apakah ini masih seperti cinta? Atau sebuah ikatan yang terjalin erat semenjak kami kecil dulu?  Dan jika akan seperti ini terus maka kami hanya akan berdiri ditempat kami dan tak melakukan apapun.

 

“Bencilah aku, Ming.”

 

“Oppa?”

 

Sungmin mengangkat wajahnya dan menatapku.

 

“Ya, Ming. Bencilah aku dan lepaskanlah hatimu. Aku tak mau kita semakin tersiksa dengan perasaan yang sama sekali tak boleh kita rasakan lagi, Ming.”

 

Kumohon, jangan melihatku dengan mata itu. Mata yang selalu bisa menarikku dan membuatku lemah. Ming~ aku tak mau kau terus hidup dalam cinta yang tak pasti ini. Perasaan ini hanya akan semakin menyiksamu dan menyiksa yang lainnya.

 

Aku menarik tubuh itu dalam pelukanku, menarik lehernya dan mencium pelan keningnya. Bertahan cukup lama hingga akhirnya aku yakin, aku sudah bisa melepaskannya.

 

“Mencoba bersama- sama, Ming. Aku tahu semuanya terasa berat, dan aku juga tak akan mudah menjalani ini. Tapi~” aku membenarkan rambutnya dan mencium kecil rambut wangi itu. “Jalan kita berbeda Ming. Mungkin ini waktunya untuk kita benar-benar berpisah.”

 

Aku tahu jika aku akan semakin terpuruk. Tapi aku yakin, jika setelah in semuanya akan menjadi lebih baik. Dia tak boleh untuk terus bimbang dan menduakan cintanya. Dan aku, juga tak mau menjadi namja egois dan penghancur rumah tangga orang.

 

“Mianhe, Princess… jeongmall mianhaeyo….”

 

.

 

.

 

Yesung POV end

 

.

 

.

 

Lee Sungmin POV

.

 

.

 

Aku berjalan pelan dan melangkah ragu memasuki rumah megah ini. Ahra eonni dan Heechul Umma mungkin saja sudah pulang. Aku mengedarkan pandanganku dan mulai meniti tangga rumah megah ini. Kembali seperti ini, sama dengan tiga tahun yang lalu. Dan kembali lagi aku menjadi yeoja yang tak punya hati dan selalu menggantungkan perasaan Kyuhyun.

 

Entahlah, aku hanya ingin bersama Yesungie. Selalu mendengarkan suaranya, saat dia bercerita, tertawa atau bahkan memarahiku. Pernikahannya adalah satu hal yang jika boleh jujur, aku benar-benar tak menginginkannya.

 

Aku terlalu egois, memang. Memohon dan meminta dia untuk selalu untukku dan sedangkan aku terus bersama orang lain tanpa mempedulikan perasaannya dan~ … perasaan Kyuhyun.

 

Apakah aku sempat melupakan dan mengabaikannya lagi?

 

Aku berjalan pelan memasuki kamar itu. Sedikit berantakkan terlebih dengan selimut yang menggulung tubuh Kyuhyun. Yeah, ini masih sore dan namja itu sudah tidur lelap.

 

Aku berjalan perlahan mendekatinya. Mengusap pelan pipi chubby Kyuhyun. “Bahagiakah kau denganku, Kyuh…”

 

Rasanya sesak saat melihatnya seperti ini. Ia bahkan teramat tampan sampai aku tak bisa melukiskan keindahannya. Jemariku hanya bisa mengurutkan wajah itu. Mengusap pelan pipinya dan mencuri ciuman kecil dibibirnya.

 

.

Chup~

.

 

Aku mencintainya~ sangat mencintainya dan ingin membahagiakannya. Tapi, dalam hatiku juga masih ada Yesungie dan sangat sulit untuk menghapusnya.

 

Kulihat mata itu mengerjap pelan dan kemudian terbuka. Seulas senyumannya ia arahkan padaku. “Hnn… mianhe, aku tertidur tadi. Aku sedikit sakit dan mungkin demam,jadi aku pulang lebih dulu dari jam kantor seharusnya dan tertidur setelah Umma memberiku obat.”

 

Aku mengangguk canggung. Istri macam apa yang tak tahu jika suaminya sendiri sedang sakit. “Mianhe Kyuhyunie.” Aku menundukkan wajahku dan mendudukkan tubuhku di lanti tepi kasur itu.

 

Tapi yang terjadi adalah,namja ini mengangkatku dan menjatuhkan aku ke bednya. Mengunci tubuhku dengan kedua lengannya yang memelukku. Aku bisa merasakan, tubuhnya menghangat dan sedikit demam. “Sudahlah, jangan memulai lagi. Dan aku harap, kau tak terlalu memikirkan perkataan Ahra noona. Dia memang terkadang kelewatan.”

 

“Hiks… aku sadar jika tak seharusnya seperti ini, Kyu. Hikss… mianhe telah kembali mengecewakanmu.”

 

Tapi dia mengsuap lembut punggungku dan menciumi pucuk kepalaku. Tak tahukah jika perlakuan lembutnya membuatku semakin tersiksa. “Aku akan memenuhi semuanya Kyu.”

 

“Eh? Maksudmu?”

 

“Hamil dan melahirkan banyak Cho. Mungkin dengan begitu aku bisa mencintai kehidupan kita seutuhnya. Aku juga tak mau terus menggantungkan perasaanmu dan perasaanku sendiri.”

 

“Ming… jika belum siap, kau masih bisa meminum obat itu. Aku tak mau kau hamil dan membenci anakmu sendiri. Aku tak mau dia tumbuh tanpa kasih sayangmu, karena dia separuh darahku. Separuh keluarga Cho yang mungkin malah bis__”

 

“Ssstttt… sudahlah. Lakukan saja.” Aku mengusap lembut dada Kyuhyun. “Aku masih ingin menjadi Cho dan bukan Kim. Mungkin harus memaksakannya dulu jika aku memang ingin benar-benar berhenti dari perasaan ini. “Mianhe Kyu, tapi bantulah aku lebih keras dari hari kemarin. Bertahanlah lebih lama denganku.”

 

Kyunie mengangguk dan tersenyum kecil. Ia melonggarkan sedikit pelukannya dan mensejajarkan wajahnya denganku. “Aku akan selalu denganmu, Ming. Tak akan ada yang menggantikanmu. Bersabar untuk beberapa waktu lagi, aku tak akan mempedulikannya. Karena sepanjang hidupku sudah untukmu Ming.”

 

Dan mata itu kembali menarikku dalam. Ini bukan hanya masalah hati, tapi tubuh dan oikiranku bahkan sudah ada pada Kyuhyun sekian lama ini. Aku hanya perlu melepaskan hatiku dan membiarkannya masuk dan menguasaiku.

 

Sama dengan ciuman lembutnya yang selalu memuaskan aku. Cintanya yang utuh dan hatinya yang penuh, cinta terkadang harus kita paksakan untuk mengetahui untuk siapa sebenarnya cinta itu.

 

.

 

.

 

.

 

TBC/END

.

.

.

.

Haahahahaa…~!!! apa ini? Yah, baiklah. Ff ini semakin aneh dan nyleneh. Awalnya mo buat ada Ncnya. Tapi berhubung aku pengen bikin yang hot and full ch. jadi ga tau juga deh…

 

Mungkin ajah, part ini juga udah gaje banget jadi ga da yang pengen comment. Yosh… jika banyak tanggepan, maka besok part B sekalian NC, tapi low gag, yah anggap ajah ni endingnya.

 

Gomawo ^___*

Dreams… || KyuMin || GS || Ch. 6/end

.

.

.

.

.

 

Kami tak melakukan apapun malam itu. Entahlah, meski aku sudah mengatakan untuk belajar mencintainya tapi sepertinya dia masih tak bisa memaafkan aku.

 

Aku kembali melihat seisi rumah besar ini. Berada sendirian di ruangan yang luas dan sepi. Hanya ditemani satu pigura besar, lukisan yang baru datang pagi tadi.

 

Hamparan bunga kuning dengan sepasang kekasih berbaju pengantin yang cantik. Itukah aku yang terlihat bahagia? Kenapa dia bisa menemukan senyumanku semudah itu?

 

Aku meyakinkan  diriku sendiri, kali ini aku tak boleh menyerah. Dia telah berjuang banyak untukku dan sekarang ini adalah giliranku…

.

.

.

.

.

.

Dreams….

 

Author : rainy hearT

Length : Series

Rated : M

Cast :

– Cho Kyuhyun

– Lee Sungmin a.k.a Cho Sungmin

– Kim Jong Woon a.k.a Yesung

– Other Super Junior member

Pairing : || KYUMIN || slight Yemin

Disclaimer : Semua cast belongs to God and themselves. Dan seperti biasanya, jika saya bisa saya sudah meng-Klaim seorang Lee Sungmin menjadi milik saya.#Mimmpi….#

Genre : ||Drama || Romance||Fluffy Angst||

Warning : || GS || Gaje || typo’s || EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia||SAD jadi siapn tissue yang banyak J

Summarry : ||Ini bukanlah yang aku inginkan. Seandainya saja kau tahu jika ini menyakitkan, kuharap kau tak akan meninggalkan aku semudah itu. Tapi, mengapa disaat pertemuan itu datang, aku tak bisa bernafas…. aku TERPENJARA…||

Another PRESENT From Me

 

Mini Series

 

~ DREAMS ….~

 

Just KYUMIN

.

.

 

Ini emang terinspirasi and ngikutin film India yang aku sendiri lupa judulnya.

Emang sih, ceritanya klasik banget tapi menurutku…

 

Pengorbanan itu mahal harganya

.

.

 

Please be Patient With me. Don’t Like Don’t Read. No copas No bash. Kritik and saran yang mendukung selalu diterima dengan tangan dan hati yang terbuka.

 

Nikmatilah STORY-nya…. ^_____^

.

.

HAPPY READING

.

.

 

 

Chapter 6

 

.

.

.

.

Lee Sungmin POV

.

 

.

 

.

 

Aku beranjak dari tempatku sedari tadi. Aku tak mau terus berada disini dan merenungkan semuanya. Aku harus bergerak sekarang, meski ini bisa menurunkan harga diriku.

 

Seperti mimpi saat ia mengatakannya padaku, sampai membuatku terlihat semakin bodoh karena terus saja berharap dia akan bersamaku tanpa aku melakukan apapun. Tanpa pengakuanku, tanpa kekalahanku.

 

Aku harus menguatkan perasaanku, meski masih terasa aneh tapi aku terus mencoba meyakinkan diriku sendiri. Jika ini memang cara yang ia inginkan, maka aku harus mengikuti permainannya.

 

Jika aku harus mengambilnya meski dengan paksaan, maka aku akan memaksanya. Ia tak boleh seperti ini dan meninggalkan aku.

 

“Kyuhyun-ah…”

 

Aku mengusap kasar air mataku dan terus berjalan cepat menuju ke garasi di samping rumah megahnya. Menimbang yakin dengan tidak, tapi aku harus melakukannya.

 

.

 

.

 

Flashback On

 

.

 

.

 

Tak terjadi apapun, and yeah… we just kiss. Okkay, mungkin itu awal yang buruk untuk perkembangan perasaanku. Atau aku saja yang terlalu berfikir jika kami akan.. eumm… yah kami sudah menikah dan make love it was just a simple things.

 

Tapi dia hanya tersenyum dan terus tersenyum, kemudian hanya menciumku dan hanya dikening. Konyol sekali. Aku ingin marah karena merasa jatuh seketika didepannya. Hello… butuh banyak keberanian bagiku untuk mengambil keputusan ini dan dia hanya mengacuhkan aku. Cho Kyuhyun, such an amazing man. Aku tak pernah menyangka akan jatuh sampai sekonyol ini.

 

Yesung oppa bahkan seribu kali lebih baik, tapi kenapa aku jadi memilihnya dan memiliki perasaan seperti ini. Dan lihatlah namja itu, dia tengah membereskan barang-barangnya. Apakah dia tak punya perasaan?

 

Meninggalkan aku setelah aku mengaku kalah? Apa yang sebenarnya ada dipikirannya?

 

“Aku akan pergi ke Italia.”

 

“Untuk apa?”

 

“Hanya memberimu ruang berfikir.” Dia tersenyum lagi dan menggeleng. “Aku hanya berfikir, mungkin saja kau butuh sendiri untuk memastikan semuanya. Aku tak mau memaksamu dan menyakitimu lagi, terlebih dengan sentuhanku yang mungkin bahkan sama sekali tak kau inginkan.”

 

“Kyu?” Aku hanya bisa mengernyit dan terus berfikir, dan hingga akhirnya ia pergi berlalu melewati aku begitu saja. Dia bukan seperti Kyuhyun yang selama ini aku kenal. Kyuhyun yang begitu lembut padaku dan sangat mengerti aku. Tapi sekarang, sosok itu hilang.

 

Aku ingin mengejarnya, tapi bagaimana mengejarnya. Aku bahkan tak tahu dimana tempatku berdiri sekarang. Dia terlihat begitu jauh dan bahkan tak bisa kulihat lagi.

 

Ini adalah hari kedua dia pergi. Dan sekarang mungkin adalah waktu yang tepat untuk menyadari kebodohanku. Aku sempat terkejut saat melihat mereka datang, bahkan aku tak pernah menyapa mereka selama ini.

 

“Cho Umma….”

 

Yeoja itu berjalan anggun dan memelukku. Aku tak tahu harus berbuat apa, aku seperti tengah membohongi mereka semua. “Bagaimana pernikahanmu chagi? Maafkan Kyuhyun, karena dia harus menyelesaikan pekerjaan yang ada di Italia. Perusahaan disana sedikit goyah. Heum… padahal aku sangat berharap kau akan ikut bersamanya, tapi dia berkata kau sedang sibuk dengan rumah baru kalian.”

 

Aku hanya mengangguk canggung. Aku bahkan tak pernah mengurus rumah ini sebelumnya. Dan Cho Umma, dia beranjak dari kursinya dan berjalan kesekeliling rumah, sedangkan Ahra eonie dan Cho appa tengah berada di dapur mempersiapkan makan malam.

 

Mereka menikmati rumah baru ‘kami’ tapi aku… yang kulakukan adalah selama ini adalah membiarkan Kyuhyun hidup sendiri. Bagaimana bisa aku melakukannya? “Umma…”

 

Aku merasakan tangan lembut itu mengusap bahuku, dan kemudian membawaku dalam pelukan hangatnya. “Aku tak tahu apa yang terjadi dengan kalian. Tapi…”

 

Yeoja ini begitu cantik dan anggun dengan segala pesonanya. Mungkinkah dia yang menggoreskan sisi lembut Kyuhyun hingga namja itu terlalu membiarkan dirinya terluka sendiri karena kebodohanku?

 

“Jika bisa bertahan, maka Umma mohon. Bertahanlah untuk pernikahan kalian. Umma tak menuntut banyak hal, hanya cintai dia. Kau perlu tahu, bahwa sebelum bertemu denganmu dia bahkan seorang namja yang gila kerja. Dan saat aku melihatnya pertama kali, diam dan  hanya menatapmu dan saat itu aku tahu dia benar-benar mencintaimu.”

 

“Hikks….” Aku pernah merasa bodoh, tapi selama ini yang kulakukan adalah kebodohan terbesar. Aku tak tahu harus bagaimana dengan pernikahan ini. Haruskah aku mengatakannya pada Umma? Aku, ”Hikksss…. Jongmal mianhamnida….”

 

Aku memeluknya erat, dan tak pernah senyaman ini. Aku merindukan Umma, merindukan pelukan hangatnya. “Pernikahan kalian, adalah bagian terbaik dalam hidupku. Dia putraku yang sangat aku banggakan Ming, kuharap kau bisa menjaganya lebih baik dari yang aku lakukan. Bahagialah.”

 

.

 

.

 

.

 

Kepingan ingatan itu terus menyiksaku. Cho Kyuhyun, yang bahkan tak pernah memiliki Lee Sungmin bahkan setelah pernikahan kami.

 

“Kau ingin menyusulnya?”

 

“Appa…”

 

Namja ini duduk mendekatiku dan kemudian menggenggam tanganku. “Kyuhyun adalah cahaya bagi kehidupan kami. Dia putra yang terbaik, terpintar dan segalanya bagi kehidupan kami.”

 

“Bahkan aku sangat iri padanya.”

 

Ahra eonni. Dia tersenyum dan memelukku erat. “Aku tahu, kalian tak baik-baik saja selama ini. Aku tak akan menyalahkanmu atas semuanya, aku tahu jika boleh menyalahkan maka Kyunnie yang salah. Tapi, aku tahu kau juga mencintainya. Bahkan sangat mencintainya lebih dari apa yang bisa kami lakukan untuknya.”

 

Appa merogoh kantungnya dan membuka genggaman tangannya tepat di depan mataku. “Ini adalah pemberian keluarga untukmu. Jadilah menantu terbaik yang appa miliki, dan bahagiakan dia.”

 

“Aku… hikss… Appa….”

 

Aku hanya bisa menangis melihat mereka. Cinta untukku begitu besar, tapi aku tak pernah menyadarinya. Aku hanya terus memikirkan diriku sendiri tanpa mempedulikan banyak orang yang terluka.

 

.

 

.

 

.

 

Aku kembalike ruangan ini. Tempat yang mengagumkan yang akan selalu aku rindukan. Aku melihat Yesung Oppa yang baru pulang dari jadwalnya, mungkin. Ia tersenyum dan berjalan mendekat padaku. Sungguh aku ingin memeluknya, begitu erat.

 

Tapi aku hanya diam dan menunggunya menghampiriku, membiarkannya duduk di sisiku dan menatap aneh padaku. Aku mengangkat wajahku dan memberanikan diri untuk menatapnya.

 

“Yesung oppa… mianhaeyo…”

 

Dia menggeleng dan melepaskan jaketnya. Tersenyum kecil padaku, “Kau tak perlu mengucapkannya berkali-kali, Princess. Bukankah aku sudah mengatakan aku akan baik-baik saja?”

 

Aku mendekati namja ini, entahlah. Mungkin dia sudah menjadi bintang hingga ia terlihat begitu tampan dan bersinar. “Kau sangat menakjubkan, oppa.”

 

“Yes, i am.” Dia menarikku dalam pelukannya. “Apakah kau menyesal telah salah menikahi orang?”

 

“Oppa?”

 

“Hahahha…. lupakan saja Princess.” Dia melepaskan pelukannya dan mengusap lembut rambutku. “Bahagialah untukku, atau aku akan melakukan apapun untuk mengambilmu darinya jika kau tak berbahagia dalam pernikahanmu.”

 

“Oppa…”

 

Dan namja ini, hanya tersenyum dan menyentuh daguku. “Kau putri tercantik, Minnie…  tetaplah menjadi bagian dari kebahagiaanku dan bahagialah untukku…”

 

 

.

 

.

 

Flashback Off

.

 

.

 

Aku mengemudikan mobilku menuju bandara Incheon.  Aku harus segera menyusul Kyuhyun, dan…

 

“Ah,jebal… apalagi ini…” Aku harus kembali mendesah kecewa saat melihat kerumunan  orang yang ramai di tengah jalan.

 .

 

.

 

Lee Sungmin POV end

 

.

 

.

 

Sungmin mendekat ke kerumunan orang itu, “Bisakah memberi aku sedikit jalan, aku harus segera menuju ke bandara.”

 

“Ya! Kau tak lihat, jika kami juga sedang berusaha untuk menyingkir. Tapi lihatlah, dia tak mau mengalah. Hei… kau yang menabrakku. Ayo bertanggung jawab.”

 

Namja itu menuding namja yang ada didepannya dan kembali pertengkaran itu terjadi di jalan raya, berhasil memblok jalan satu jalur yang harusnya bisa dilewati Sungmin. Di depannya, banyak mobil lagi yang terjebak kemacetan karena dua kendaraan yang berada di tengah jalan itu.

 

Sungmin mengerang frustasi, ia segera berlari menuju ke mobilnya dan mengambil tasnya. “Aku harus  pergi dari sini. Aishh…”

 

Sungmin sedikit berlari dan segera mencari jalan lintas yang paling cepat hingga menemukan lajur jalan lainnya. Ia berusaha berulangkali memberhentikan taxi, tapi sayang sama sekali tak ada taxi yang mau berhenti. Ia sedikit mengacak rambutnya dan sesekali menghentakkan kakinya kesal. Akhirnya ia menyerah dan memilih menunggu bis.

 

“Aish…. kalau begini, aku akan benar-benar telat…” Sungmin menggumam pelan. Dan ia mulai melihat ke sekitarnya. Posisinya sekarang sudah sedikit jauh dari tempatnya macet tadi. Hari sedikit mendung dan mulai gelap karena sore, dan sepi. Entah kenapa cuaca terasa aneh bagi Sungmin kali ini. Di tempatnya duduk sekarang, bahkan tak ada satupun orang yang melalui jalanan yang seharusnya rame itu.

 

“Ck… kenapa sepi sekali, membuatku takut saja?”

 

Sungmin kembali menggumam dan ia beranjak dari duduknya. Melihat ke kanan dan kiri, berharap ada bis yang bisa segera membawanya pergi. Namun, ketakutannya saat ini semakin menjadi saat melihat kerumunan namja dengan pakaian yang terlihat sangat menyeramkan baginya mulai berjalan mendekatinya.

 

“Ommo…”

 

Sungmin mulai gelisah dan ia berjalan pelan, hingga cepat dan sedikit berlari. “Yah!!! Noona!!! Berhenti! Mau kemana kau?! Hahaha…”

 

Mendengar teriakan itu, Sungmin semakin mempercepat larinya dan…

 

“Ahss…”

 

Ia mengaduh saat tak sengaja heelsnya masuk ke dalam lubang. “Hiks… jebal… siapapun selamatkan aku…” Sungmin menggumam sambil terus berusaha mundur menjauhi kerumunan namja yang semakin dekat dengannya.

 

“Ah, yeoja manis…. kau sangat cantik.”

 

“Hiks…. ambil saja semua. Jangan ganggu aku…” Sungmin melempar tas dan juga melepaskan sepatunya. Ia berusaha bangkit tapi sayang kakinya sudah terkilir dan terasa semakin sakit.

 

“Kau tak akan kemana-mana noona. Kau akan bermain dengan kami, ahhahaha….”

 

Tapi sebelum kerumunan namja itu mendekati Sungmin, Sungmin harus kembali dikagetkan dengan sebuah limo berwarna hitam pekat yang berhenti disisinya. Namja berjas hitam turun dari limo itu dan berhenti menghampiri Sungmin.

 

“Apa?? Siapa kau hikss…. jeball jangan ganggu aku…”

 

Namja itu hanya memasang wajah dinginnya dan tersenyum. “Kau akan ikut denganku. Pengawal…” Turunlah dua namja lain dari dalam mobil dan langsung membawa Sungmin.

 

“Kya!!! Lepaskan aku! Kya!!!”

 

“Bius saja dia.”

 

“Ahni! Jebal! Jangan lakukan ini padaku… hikss… Kyunie…hikkss…. Jebal… Kyun…eunghhh…”

 

Dan Sungmin, dia sudah kehilangan kesadarannya. Namja berjas hitam itu kemudian menyodorkan amplop coklat yang cukup tebal pada kerumunan namja preman yang tadi mengejar Sungmin. “Good job.”

 

.

 

.

 

.

 

“Eungh….”

 

Yeoja yang berbalut gaun putih ini melenguh pelan saat wajahnya terkena pancaran hangat matahari. Ia berusaha keras menghilangkan rasa pusingnya dan mencoba membuka kedua matanya.

 

Mengerjapkan pelan dan ketika ia sudah mulai terbiasa dengan semua yang dilihatnya…

 

Tangannya meraba tubuhnya. Bukan…

 

Bukan berbalut baju kemarin, baju lusuh yang bahkan begitu bau dan kotor. Ia bahkan bisa menciumnya, jika tubuhnya sangat wangi. Dan perlahan ia beranjak dari duduknya. Melihat ke arah tubuhnya sendiri yang terpantul jelas didepan cermin.

 

“Hikss….”

 

Ia kembali menangis lirih. Ia ingat betul apa yang ia pakai saat ini. Bahkan di ruangan yang asing ini, ia masih bisa mengingat jelas jika kamar yang ia tempati sekarang adalah kamar yang sama dengan kamar yang dulu.

 

“Kyuniee… hikks…”

 

Sungmin mulai menangis lirih dalam kesepiannya. Ia sungguh menyesali semua kesalahannya selama ini. Dan hingga akhirnya perhatian Sungmin kembali pecah saat mendengar suara pintu terbuka. Ia mendengar derap langkah sepasang sepatu yang berjalan pelan dan semakin mendekatinya.

 

 Sungmin tak ingin menoleh, ia sungguh takut jika ia akan menemukan kenyataan yang mungkin saja berbeda dari apa yang ia harapkan. Dengan tergesa Sungmin menyembunyikan wajahnya, menunduk dalam. Namja itu semakin mendekat dan menatap datar pada Sungmin. Ia ber dan menatap datar pada Sungmin. Ia berhenti disisi Sungmin.

 

Sungmin  merasakan sentuhan dengan sedikit remasan di bahunya. “Jeballl… jangan lakukan apapun padaku…” Ia memohon sedikit dengan berjuta ketakutan dihatinya.tubuhnya sudah bergetar tak keuran.

 

Namja itu tersenyum dan perlahan memeluk Sungmin dari belakang. Melingkarkan lengannya dengan lembut dan perlahan penyusup ke pinggang Sungmin. Jantung Sungmin sudah berdebar kencang, terlebih ia mulai merasakan hembusan nafas hangat di tengkuknya.

 

“Ming…”

 

.

Degh~

.

 

“K-Kyuhh…” dan dengan cepat Sungmin memutar tubuhnya.  Sebuah senyuman ia ukirkan untuk Kyuhyun. Membiarkan kedua lengan kuat itu semakin menguncinya dan membiarkan tubuhnya lepas dengan sendirinya dan muali menikmati pelukan Kyuhyun.

 

Meski canggung pada awalnya, tapi Sungmin akhirnya merasa nyaman saat ia bisa memeluk tubuh Kyuhyun. Bahkan namja itu berpakaian lengkap, yang sepertinya baju pernikahan mereka.

 

“Kau membuatku hampir mati…”

 

“Yah, hanya satu kejutan saja.”

 

“Hiksss…” Dan Sungmin mulai terisak lagi. “Bahkan aku sangat takut saat kemarin, dan sekarang kau bilang semua hanya kejutan. Hikss…. kau tega sekali Kyuh, kukira aku tak akan bertemu denganmu lagi. Hikss… hiksss….”

 

Kyuhyun hanya tersenyum dan mulai membimbing Sungmin untuk duduk nyaman di pangkuannya. Ia menatap kagum pada wajah cantik yang sedikit aneh dengan maskara yang sudah agak luntur itu. “ Heum… harusnya kau tak merusak apa yang sudah susah payah dilakukan Umma dan Ahra noona.”

 

“Maksudmu?”

 

“Yah… rahasia. Kalau tidak mengerti juga tidak apa-apa.” Kyuhyun kemudian menurunkan Sungmin kemudian dengan cepat menarik lengannya menuju ke balkon rumah megah itu. “Kau tahu, kau dimana?”

 

“Tempat ini, aku tak mengenalnya.”

 

“Kita sedang liburan. Yah, anggap saja honeymoon yang benar-benar terlambat.”

 

Entahlah, mungkin sedikit berlebihan. Tapi mendengar kata honeymoon saja, Sungmin seakan tak bisa menghentikan raut senyum yang terus ia ukirkan di wajahnya. Kyuhyun menangkup pipi Sungmin dengan satu tangannya dan tangan yang lain kembali menarik Sungmin dalam pelukannya.

 

Tangan Kyuhyun mengusap lembut pipi itu. Hingga akhirnya suasana menjadi sepi dan juga sangat asing untuk mereka. Asing dengan suasana itu tapi merasa nyaman dengan posiis mereka.

 

Jantung Sungmin berdegub kencang saat melihat wajah Kyuhyun begitu dekat. “Hei, aku tahu aku tampan…” Kyuhyun bergumam lirih dan kemudian mengangkat dagu Sungmin. “Tenanglah, I’m yours Princesss…”

 

“Kyuh, aku eum…” Sungguh Sungmin merasa tak nyaman dengan panggilan itu. Terlebih Yesung seringkali memanggilnya princess.

 

“Tak suka dengan panggilan itu?”

 

Sungmin menatap Kyuhyun, dan namja itu hanya mengangguk kecil.

 

“Baiklah, jika tak suka maka tak akan kupanggil lagi dengan nama itu. Bagaimana kalau Minimi…”

 

Sungmin mengangguk pelan. Ia kemudian mengernyit heran ketika teringat akan satu hal. “Kau harusnya ada di Italia.”

 

“Kenyataannya sekarang aku ada disini.”Kyuhyun tertawa kecil dan kemudia sedikit membimbing Sungmin untuk bersandar pada dinding kamar mereka. Memenjara tubuh cantik itu dengan kedua lengannya. “Kau merindukanku?” Sungmin mengangguk pelan, membuat Kyuhyun semakin tetsenyum lebar. “Jadi kau benar- benar mencintaiku?”

 

“Eumh, itu aku akan berusaha Kyu. Setidaknya beri aku kesempatan, ak-aku… akan menjadi yang terbaik  untukmu.”

 

“Benarkah?”

 

“Nde.”

 

Kyuhyun terlihat berfikir. Ia semakin mendekatkan wajahnya pada Sungmin. “Kalau begitu bagaimana jika aku menciummu, apa boleh?”

 

“Eum, tentu saja. Cium saja.” Sungmin mengulurkan jari telunjukknya dan menunjuk pipi chubby putihnya.  Tapi Kyuhyun hanya menyeringai kecil dan mulai mendekati Sungmin. Ia tersenyum saat berada begitu dekat dengan pipi itu, hingga akhirnya ia memilih untuk mencium bibir pulmp berwarna soft pink  itu.

 

.

Chu~

.

 

Sungmin terkejut dan hanya diam kaku. Ia membelalakkan kedua matanya, namun saat mulai merasakan panggilan lidah pintar Kyuhyun, akhirnya ia menyerah dan lebih memilih mengikuti permainan itu. Membiarkan Kyuhyun memimpin dalam permainan mereka.

 

“Ahsss…. ahhhhh ….”

 

Sungmin melenguh tak tertahan hingga melepaskan ciuman kereka berdua dan mendorong Kyuhyun. Namun, Kyuhyun belum menikmati ciuman mereka. Ia kembali mendekati Sungmin dan langsung menyerang bibir manis itu. Langsung menjulurkan lidahnya untuk masuk kedalam  liang hangat nan basah milik Sungmin. Mengabsen deretan gigi rapih itu hingga semua yang ada didalamnya.

 

Sungmin meremas kencang kemeja yang di pakai Kyuhyun. Entahlah, tapi ia terbawa dalam permainan itu. “Eunghhhh… eummmhhhh…” Sungmin kembali melenguh saat merasakan jemari Kyuhyun mulai berani memanjakan tubuhnya.

 

Gaun pengantin dengan warna putih yang berbahan begitu halus itu benar-benar membuat Sungmin seakan bisa merasakan langsung sentuhan Kyuhyun pada tubuhnya. Perlahan Sungmin menggeliat saat merasakan tangan yang lain meremas lembut bokong padatnya.

 

Ciuman Kyuhyun semakin memaksa saat ia mulai merasakan sesuatu yang mulai panas didalam tubunya. Siapapun tak kan bisa tahan saat iamenemukan dua gundukan besar yang sudah pasti masih kencang di balut gaun pengantin cantik itu. Dengan tak sabar Kyuhyun mulai mengalihkan ciumannya dan mencumbu dada Sungmin.

 

“Ahnnn… Kyuhhh… ahhhh….”

 

.

 

.

 

.

 

Gaun pengantin itu sungguh terlihat sudah sangat tidak layak. Begitu kusut dan aneh. Berantakan dimana-mana. Bagian dada Sungmin tengah dijajah oleh Kyuhyun.

 

“Ahhhh… Kyuhhhh… ahhhh….”

 

Kyuhyun terus asyik memelintir nipple kanan  Sungmin dengan jemari pintarnya, dan sementara mulutnya sibuk menghisapi nipple yang lainnya. “Kyuhhh… ahhhh… Jebal Kyuhhh….. akuhhh tak tahan lagihh….”

 

Kyuhyun seakan tak peduli, dan terus saja memainkan tangan pintarnya yang lain untuk memanjakan liang basa Sungmin. Tubuh Sungmin terus menggeliat tak karuan terlebih saat Kyuhyun mulai mencubit dan menggesek kasar klitorisnya.

 

“Kyuhhh…uhhhh…”

 

.

Byur…

.

 

Cairan Sungmin keluar dan membasahi jemari Kyuhyun. Kemudian namja itu segera menurunkan g-string berwarna putih berenda itu dan tersenyumsaat melihat pemandangan indah didepannya. Tanpa ragu, ia kemudian melebarkan kaki Sungmin dan menghirup wangi khas vagina dan kemudian mulaimenjulurkan lidahnya.

 

“Ahhhh…!!!”

 

Sungmin terkejut dan rasanya tubuh lemasnya  langsung bangun saat merasakan lidah pintar itu memanjakan vaginanya.

 

“Jebal Kyuhhh… akhhhh…. apah itu… uhhh…”

 

Sungmin terkejut saat ia merasakan sesuatu benda asing masuk kedalam liangnya. Sesuatu yang panjang dan langsung bergerak bebas  mengoyak liangnya. Sementara ia harus semakin menahan tubuhnya saat ia bisa merasakan seseorang tengah memainkan klitorisnya.

 

“Kyuhhh… ouhhh…”

 

.

Byurr…

.

 

Dan kembali, Sungmin orgasme. Kyuhyun kemudian menyudahi permainan lidahnya dan mengangkat wajahnya, tersenyum saat melihat wajah erotis Sungmin. “Aku akan melakukannya Ming.”

 

“Eunghhh… tapi Kyuh… kenapa harus disini…”

 

Tempat mereka berbaring sekarang adalah lantai dan hanya beralaskan karpet tipis. Namun pakaian Sungmin maupun Kyuhyun masih lengkap. Hanya saja dress Sungmin mungkin sudah terboka zipper depan dan roknya tengah naik.

 

Dengan cepat, Kyuhyun mengangkat Sungmin dan menghempaskan tubuh Sungmin ke tengah kasur mereka. menindihnya dan kemudian dengan cepat membuka kaitan celana panjangnya. “Aku sungguh tak tahan, Minnimi…”

 

“Lakukan Kyuh…”

 

Sungmin mengangguk yakin dan kemudian membuka satu-satunya kaitan yang masih menutupi perut datarnya. Kyuhyun semakin lemas saat melihat tubuh hampir telanjang Sungmin. Dan yeoja itu, entah mendapat keberanian darimana ia mulai membuka kaitan kancing kemeja Kyuhyun setelah membuang sembarang jasnya.

 

Tanpa melepas kemeja itu, hingga sangat terlihat sosok Kyuhyum yang begitu sexy dan manly. Meski tubuhnya tak kotak-kotak tetap saja keringat itu terlihat jelas dan mengkilat di tubuh Kyuhyun.

 

Sungmin kemudian menarik dasi Kyuhyun seakan menantang namja itu untuk mendekat padanya. “Come on baby…..”

 

Kyuhyun menyeringai san langsung menggesek pelan juniornya yang sudah sedikit menegang ke vagina Sungmin. “Ahss….”

 

Mereka sama-sama mendesah saat merasakan sedikit sengatan di tubuh bagian bawah mereka. kyuhyun kemudian memposisikan juniornya dan mulai mendorongnya masuk.

 

“Ahhh…. appo…. hhhh….”

 

Nafas Sungmin tak karuan. Sungguh rasanya begitu sakit dan nyeri. “Mianhe Min, aku…”

 

“Ahni. Teruskan saja Kyuh…”

 

Kyuhyun semakin mendorong juniornya dan tiba-tiba ia menghentakkannya kedalam hole Sungmin. Sungmin berusaha menahan sakitnya dan menikmati cumbuan Kyuhyun di leher dan telinganya. Lidah itu begitu pintar dan terus menggoda hasrat Sungmin. Sungmin mulai menyusupkan jemarinya ke balik kemeja Kyuhyun dan mulai mengusap punggung namja itu saat merasakan pergerakan sedikit pelan hingga semakin cepat dan cepat.

 

“Ahhhss…. Kyuhhh… hhhhh…”

 

“Mingghhh uhhh, kau nikmat sekali Ming… hhh….”

 

“Ahhh… there.. ahhh…. lebih Kyuhhh…. akhhh…..”

 

Kyuhyun kemudian melipat kaki Sungmin dan menekannya, menjadikan kaki indah itu sebagai tumpuannya dan mulai kembali menggenjot ganas liang Sungmin. Junior Kyuhyun terasa terjepit dengan posisi seperti ini. Dan terlebih ia harus sedikit tersiiksa saat melihat Sungmin mengusap seluruh tubuhnya untuk melampiaskan nikmat yang ia rasakan.

 

“Euhhhh Kyuhh.. akuhh… ahhhh…”

 

Cairan itu keluar dan menghangatkan junior Kyuhyun. Semakin licin dan basah, membuat Kyuhyun semakin bebas menggenjot liang Sungmin. “Kyuhhh ahhh… jebal Kyuhhh…”

 

“Sebentar lagi Ming…”

 

Kyuhyun sedikit memutar dan terus menyodok kuat dan saat ia merasakan cairan itu hampir keluar, ia mendorong kuat dan terus membiarkannya menyembur masuk kedalam rahim Sungmin. “Ahhhss….” Kyuhyun melenguh lirih saat merasakan nikmat yang melanda tubuhnya. Ia tersenyum saat melihat Sungmin yang menggigit bibir bawahnya seakan tengah menggodanya.

 

Kyuhyun segera melepaskan tautan mereka dan kemudian dengan cepat melepaskan celana panjangnya. “Karena kita hanya berdua, dan karena kau begitu sexy dan cantik…. jadi bisakah kita…”

 

Sungmin mengangguk malu. “Nde. Jadikan aku sepenuhnya selalu mencintaimu Kyuh.””

 

.                                                                                                                                                                                                      

 

.

 

.

 

Other day, other side

 

.

 

“Kya!!!! Menyebalkan!!!”

 

Seorang yeoja keluar dari sebuah toko. Ia mengerang frustasi saat mengetahui jika uangnya bahkan tak cukup untuk membeli satu keping golden disk itu.

 

“Kenapa penyanyi itu sok sekali? Harga kasetnya saja mahal . Kyaa!!!! Menyebalkan!!!”

 

.

Pletak…

.

 

“Ups….”

 

Yeoja itu sebenarnya ingin kabur. Tapi sayang, sepertinya ia kena tangkap sekarang. Ia segera mengikuti gerakan jari namja yang memintanya mendekat. Namja itu menggerakkan jari telunjukknya dan kemudian membenarkan kacamata hitamnya.

 

“Kau pikir kepalaku ini gratisan kemarahanmu. Lagipula, cukup dengan berteriak saja. Tak usah melempar apel ke kepalaku.  Aish… menyusahkan saja.”

 

“M-mian….” Yeoja itu menunduk dalam. “Sebenarnya bukan salahku juga. Tapi Yesungie oppa itu pelit dan matre. Mentang-mentang sudah terkenal dia jadi seenaknya saja.”

 

“Kenapa memangnya?”

 

“Harga kasetnya, mahal sekali. Padahal aku ingin sekali membelinya. Sayang, sepertinya aku harus bekerja lebih giat lagi.”

 

“Bukankah  kau bisa meminta pada kedua orang tuamu?”

 

“Kim Ryeowook imnida. Aku bukan orang miskin, atau bahkan aku sangat kaya. Aku memilih tinggal sendiri di Seoul, oppa. Dan meminta pada Umma dan appa bukan gayaku. Aku biasa mandiri dan mengurus semuanya sendiri.

 

“Jadi kau bekerja?” Wookie hanya mengangguk. “ Lalu untuk? Apa kau di seoul?”

 

“Untuk sekolah musik dan semoga saja aku bisa mengejarnya satu saat… bla… bla… bla…”

 

Siapapun tahu jika yeoja ini sedikit bersemangat dalam menceritakan Yesunginya. Tak mempedulikan jikaYesung bahkan sekarang diam dan memperhatikan  gerak bibir Ryeowook. Entahlah, ada yang aneh hingga ia merasa sangat ingin mengecupnya.

“Eh, tunggu. Sepertinya kau mirip dengan seseorang.”

 

“Nugu?”

.

 

Sreet~

.

 

“Ye… yesungie?” Ryewook kemudian sedikit mencubit kecil pipi tirusnya. “Aish, sakit. Berarti bukan mimpi. Kau Yesungi…?”

 

“Nde,”

 

“Aahhhhh…. Yes… Eummmpphh…”

 

Yesung segera membungkam bibir Ryewook dengan tangannya. “Ssst, jangan berisik. Aku sedang bersembunyi.” Tapi yeoja itu hanya diam dan terus menatapYesung. “Wae? Aku tampan kah?”

 

Ryewook mengangguk polos. Dan kemudian Yesung melepaskan jemarinya dari bibir Ryewook. “Kau cantik…”

 

“Benarkah?” Yesung mengangguk, mengiyakan Ryewook. “Kalau begitu aku boleh meminta sesuatu?”

 

“Apa?”

 

“Tanda tangan dan juga album terbarumu.”

 

“Hanya itu?”

 

“Nde.”

 

“Bagaimana jika aku memberikan lebih?”

 

“Eum, apa itu?”

 

“My love, my kiss, my heart…”

 

“Eoh???”

 

.

 

.

 

.

 

END

.

.

.

.

Endingnya aneh, NC nya aneh, dan semua aneh. Hahah… biarkanlah. Maaf postingnya malem. Karena aku masih ajah nyari feel nc KyuMin GS  tapi setelah berulang kali nyoba tetep aja fellnya gag dapet. YESUNGdahlah… hhhaa.

 

Abaikan ajalah kegajean dan juga typo’s nya. Hehe… nikmatin storynya…

 

Review ya???

 

Saranghae nae lovely reader….