Diproteksi: Not Suitable For Children | KyuMin |YAOI |CH. 7

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Iklan

Kiss Yo…|KyuMin|OS |YAOi

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Beberapa orang mengatakan, jika kau sedang marah maka wajahmu akan semakin menggemaskan.

 

Marah pun, kau terlihat seperti anak kecil yang tengah merajuk.

 

 

Eum… apakah bisa aku rayu dengan sesuatu yang disukai anak-anak?

 

 

“Kau mau ice cream? Atau coklat?”

 

 

Hanya menggeleng. Oh… baiklah..

 

 

.

 

 

See…

 

 

Jika kau anggap dia benar-benar seperti anak kecil, yeah.. benar-benar seperti yang

 

kau bayangkan termasuk segala tingkah lakunya, jawabnya adalah salah besar. Dia

 

bahkan tak mempan dirayu oleh strawberry ataupun pumpkin kesukaannya.

 

 

“Hyung, aku benar-benar tak tahu kenapa kau marah?”

 

 

Dan dia pergi meninggalkan aku. Ah… apalagi ini?

 

 

Aku mencoba menguntitnya (?) lagi. Mengekorinya kemanapun dia berjalan. Meski hanya

 

disekitar dorm saja. Aku jujur… aku tak tahu kenapa dia marah?

 

 

“Aku tak berselingkuh hyung?”

 

 

Dia  berhenti berjalan dan kemudian menoleh dan menatapku. Aku hanya bisa tersenyum

 

aneh dan sungguh, wajah imut itu kali ini terlihat menakutkan. “Ah… ahniya.

 

Maksudku, kupikir jika kau mengira aku selingkuh maka aku tidak hyung. Ayolah,

 

kenapa kau marah?”

 

 

“Heuh… sama sekali, kau benar-benar menyebalkan.”

 

 

Dan dia kembali meninggalkanku, masuk kedalam kamarnya dan__

 

 

.

 

 

Jdukkk…!!!

 

 

“Awww…. Uhh… neomu appo.”

 

 

Dahiku sukses mencium pintu yang ditutup kasar oleh Sungmin hyung. Anyways…. Ada yang

 

tahu, apa kesalahanku?

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

rainy hearT

 

 

.

 

 

~Proudly present~

 

 

.

 

 

.

 

 

Kiss Yo…

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

“If you are not telling me, how will I know?”

 

 

 

Cinta itu seperti ice cream, yang lama kelamaan

 

mungkin akan bisa meleleh dan benar-benar tak enak. Tapi bukankah kita bisa

 

menyimpannya di lemari pendingin?

 

 

 

Cinta sama seperti itu, jika dimakan terlalu

 

cepat juga tidak bisa benar-benar dirasakan dan dinikmati. Jika terlalu lama,

 

maka akan bosan dan meleleh.

 

 

 

Lalu, apa hubungannya dengan lemari pendingin?

 

 

 

It was about your heart…

 

 

 

Cinta butuh pemikiran yang dingin, butuh hati

 

yang super sabar dan pengertian.

 

 

 

Yeah, I guess so…

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Cast :  – Cho Kyuhyun

 

          Lee Sungmin a.k.a Cho Sungmin

 

 

Pairing: KyuMin

 

 

Genre : Drama, romance, fluff

 

 

Length : ONEshoot

 

 

Rated : T

 

 

Disclaimer : KyuMin saling memiliki, Kyu Milik Sungmin, dan Sungmin milik Kyu.

 

 

Warning : YAOI / BL, GaJe, Typo(s), etc

 

 

.

 

 

.

 

 

Aku lagi suka banget lagu kiss yo… dan entahlah, kepikiran alur ccerita ini. Semoga

 

ga bikin bosen deh… ^__^

 

.

 

 

Don’t Like Don’t Read

 

 

No Copas No Bash No Flame

 

 

.

 

 

— Happy Reading —

 

 

.

 

 

 

 

.

 

 

Cho Kyuhyun POV

 

 

 .

 

 

.

 

 

Aku rasa aku sama sekali tak melakukan kesalahan apapun. Aku bekerja dengan baik dan bahkan kami sedikit membagi rahasia kami ke salah satu KMS –I guess-  beberapa hari kemarin. Dan dia benar-benar terlihat senang saat itu, bahkan sangat cantik.

 

 

Ah… dan aku juga sempat menyuruhnya mendekat padaku saat di stage. Dan setelah semuanya selesai, dia tak protes apapun tentang perhatianku. Lalu apa yang salah? Aku tak melakukan kesalahan apapun.

 

 

“Hyung… jika kau tak mau bicara maka aku tak tahu apa salahku?”

 

 

Aku kembali merayapi pintu sambil sesekali masih mengetuknya. Benar-benar kasihan. Ck… seharusnya libur begini kami bisa menghabiskan waktu berdua. Tapi, kenapa dia malah marah padaku.

 

 

“Hyung, harusnya kita bisa jalan-jalan hyung? Ayolah hyung, kenapa diam begini?? Apanya yang salah?”

 

 

Aish… lagi-lagi tak ada jawaban.Baiklah, mungkin dia terlalu sering ke Jepang hingga Jepang tak lagi menarik. Tapi, jika jalan – jalan bersamaku bukankah belum pernah. “Kita bisa menyamar

 

dan pergi ke tempat yang kau mau. Onegai …”

 

 

.

 

 

Tuk… tuk… tuk…

 

 

.

 

 

Aku menempelkan punggungku ke pintu, dan kemudian mengetuk malas dengan menggunakan kukuku. Tak mungkin aku ribut pagi-pagi, bisa-bisa aku menjadi sasaran kemarahan Kangin hyung. Heuh… beruang itu masih tidur.

 

 

“Atau kau mau nonton hyung? Kita bisa ke bioskop dan nonton disana. Kita bisa minta kursi di sudut depan atau belakang yang tak terlihat orang. Kita bisa nonton film romantis atau apalah.”

 

 

Hening….

 

 

“Ck… hyung!!! Ayolah, jangan diam saja.”

 

 

Lagi-lagi tak ada jawaban.

 

 

Heuh… baiklah, dia benar – benar marah padaku.

 

 

“Hyung, ck… jika kau tak menjawab, ataupun membuka pintu maka aku sendiri yang akan mendobraknya.”

 

 

“….”

 

 

“Hyung????”

 

 

Sama sekali tak ada suara. Ada apa dengannya?

 

 

Arraseo!!!

 

 

Aku kembali menyandarkan tubuhku pada pintu. Tanganku memainkan kenopnya dan, “Eh… tidak dikunci?”

 

 

Ah… paboya Cho Kyuhyun.

 

 

Aku mengintip ke dalam. Sama sekali tak terlihat dimana namjaku – bunnyku yang tengah merajuk -itu. Perlahan aku memasuki kamarnya dan…

 

 

 

“Ouh…. Kau tertidur…”

 

 

Dia sudah menggulung tubuhnya dengan selimut. Aku tahu, ini terlalu pagi dan dia belum sepenuhnya beristirahat. Mungkin masih mengantuk.

 

 

Aku naik ke kasurnya, berbagi seperti yang biasanya kami lakukan selama di Jepang -pengecualian untuk tadi malam karena dia marah dan tak mau bicara padaku hingga dia lebih memilih tidur

 

di sofa-

 

 

 

Wajahnya lelah sekali, sepertinya dia benar-benar terganggu dengan masalah kami. Aku sendiri tak tahu apa salahku dan dia sama sekali tak memberitahukannya. Aishh… apanya yang salah.

 

 

Aku mengulurkan tanganku untuk mengusap pipi chubbynya, dan memastikan suhu tubuhnya normal. Setidaknya, dia marah padaku bukan karena dia sedang sakit dan menjadi badmood.  Tapi, suhu tubuhnya normal dan apakah dia benar-benar kelelahan?

 

 

Dia tak terganggu sama sekali dengan apa yang aku lakukan tadi.

 

 

Ah… aku semakin ingin menggodanya. Aku mengulurkan jariku dan kemudian mengurutkan hidung mungilnya. Hidungnya cantik sekali, dan bibirnya…

 

 

Ah… I wanna kiss you~

 

 

Aku mengusap bibirnya lembut, dan jujur aku benar-benar ingin menciumnya. Dan entah kapan, tapi beberapa detik kemudian aku sadar dia sudah membuka matanya. Mata foxy yang menatap kosong

 

padaku.

 

 

Jujur aku serba salah, dan rasanya sangat canggung. Sungmin hyung hampir tak pernah menatapku seperti ini. Ini terlihat seperti dia marah dan putus asa.

 

 

“Hei…”

 

 

Aku memanggilnya dan dia menyahut dengan suara yang sangat rendah dan bahkan hampir tak terdengar.

 

 

“Kau kenapa hyung?”

 

 

Dia hanya menggeleng lemah dan kemudian berusaha mendudukkan tubuhnya dan bersandar pada headbed. Terlihat wajahnya yang sangat lesu.

 

 

Aku menatap kedua matanya dan kemudian mengangkat dagunya. “Katakan padaku, apa kau sakit?” Dia hanya menggeleng cepat sambil memainkan bibirnya.

 

 

Eoh…. Hontoni kawaii !!!

 

 

 

“Heung… wanna hug me?”

 

 

 

 

Dia hanya diam. Ah… baiklah, uri cute bunny need some hug from his lovers.

 

 

“Come… let me hug you.”

 

 

Dia tak bergerak barang sedikitpun. Aish… benar-benar menjaga harga dirinya. Ya baiklah, aku yang

 

mengalah. Aku mengulurkan kedua tanganku dan menariknya untuk mendekat kearahku.  Mendudukkannya di hadapanku dan memeluknya dengan erat.

 

 

Heum… meski belum mandi pun, pagi ini dia sudah wangi.

 

 

 

 

“Jadi, apa yang kau pikirkan tentangku. Sampai kau memilih tidur disofa dan marah saat akan ku pindah. Kita tak sedang bertengkar ‘kan? Dan lagi pula, kurasa aku tak berbuat aneh-aneh.”

 

 

Dia mengangguk kecil.

 

 

Sungmin hyung terdiam hening sejenak hingga kemudian dia sedikit berdiri dan sampai wajahnya sedikit lebih tinggi dari aku. Kemudian kembali mengeratkan pelukkannya di leherku.

 

 

“Tell me…”

 

 

Untuk beberapa saat kemudian dia diam, hingga akhirnya dia melepaskan pelukannya dan menatapku. “Kyunie…”

 

 

“Nde, bunny?”

 

 

“Ish…”

 

 

“Ahhh… ayolah, hanya memanggilmu seperti itu. Ck… bukankah kau bunnyku yang cantik?” Dia mem-pout-kan bibirnya, membuatku mencuri quick morning kiss-nya pagi ini. “Kawaii!!!” aku mencubit kecil pipinya. Dia hanya tersenyum kecil dan memukul bahuku.

 

 

Kurasa mood-nya kali ini sudah sedikit membaik. “So, ada apa?”

 

 

Sungmin hyung hanya menggeleng. Dia kemudian menjatuhkan bokong seksinya di pangkuanku. Ah… jujur, it’s so iritating me.

 

 

Merasakan butt-nya tepat di kakiku, membuatku sudah berpikiran yang aneh-aneh. Ah… ahni, Sungmin hyung akan menolaknya. Morning sex… untuk saat ini mungkin tidak, Sungmin hyung belum sepenuhnya membaik.

 

 

 “Kyunie…”

 

 

“Ah… nde, wae?”

 

 

“Mungkin, ini hanya karena aku saja yang terlalu memikirkannya. Mianhe…”

 

 

“Untuk?”

 

 

“Yeah, karena marah padamu.” Dia kemudian menarik kedua lenganku dan memainkan jariku menggunakan jemarinya. “Aku hanya terlalu serius memikirkanya. Aku sampai marah padamu, padahal mungkin saja saat itu kau sedang tak begitu__” Ucapan Sungmin terhenti. “Begitu…???? Begitu apa?”

 

 

“Ah… sudahlah, tidak jadi. Aku mau tidur lagi saja.” Dia menggeleng cepat dan kemudian segera beranjak, tapi jangan harap dia bisa lepas begitu saja tanpa menyelesaikan masalah ini.

 

 

“Hei…tunggu sebentar.” Aku kembali menariknya dan mendudukkannya di kakiku. Membuatnya sedikit miring menghadapku dan aku bisa melihat wajahnya memerah. “Aigo… siapa yang membuatmu seperti ini, eoh??? Kenapa wajahmu seperti yeoja yang tengah malu-malu begitu.”

 

 

“Ish…” Dia memasang wajah sebalnya. “It’s not like that. Ah… sudahlah, aku mau tidur saja. Dari semalam aku tak bisa tidur.”

 

 

“Itu kan salahmu karena kau menghindariku.”

 

 

“Aku hanya sedikit kesal padamu, kau benar-benar menyebalkan.”

 

 

Aku menatapnya, dan bisa kulihat dia benar-benar tengah tersipu malu. Ah…. Neoumu yeppeo. “Ya… siapa yang tengah malu sekarang? Hyung, wajahmu semakin memerah. Kurasa kau tak sakit, jadi kau

 

pasti merasa malu padaku. Ah… biar kutebak, apa kau merindukanku?”

 

 

“Ahniya. Ck… sudahlah.”

 

 

Dan wajahnya makin memerah, sampai ke telinganya. Aku yakin, pasti dia hanya merasa bahwa dirinya sangat konyol dan memalukan

 

 

“Benarkah?” Aku menggodanya, dan jangan salahkan pikiran mesumku jika mulai bekerja dan mempengaruhi semua fungsi tubuhku. Entah mengapa, pikiranku langsung mengarah ke hal yang

 

‘iya-iya’ itu.

 

 

Kemudian aku mengangkat dagunya dan mendekatkan wajah kami. “Eum… jika aku ingat, terakhir kali kita melakukan itu adalah eum… kapan yah? Pokoknya kita sudah sedikit lama tak melakukan itu,

 

bahkan aku saja sampai lupa. Dan biar kutebak, kau marah karena kita lama tak

 

mel…aawwww… kenapa mencubitku?”

 

 

Dia mencubit pahaku. Meski cubitan kecil tapi tetap saja sakit. Dia menyilangkan kedua tangannya tepat di dadanya dan benar-benar berpose seperti orang yang tengah merajuk. Ah… aku

 

semakin ingin menggodanya.

 

 

“Hehehe… jangan katakan, kau menginginkannya?”

 

 

“Mwo???”

 

 

Kedua mata foxynya melebar. Ah… aku semakin yakin. “Yeah, kita lama tak bermain dan aku yakin kau pasti menginginkannya dan oh… aku baru ingat.”

 

 

“A-ahnieyo. Aku tidak marah. Ck… kau ini mesum sekali.”

 

 

Ah… iya, aku baru ingat sekarang.

 

Aku menepuk dahiku dan kemudian menatap nakal padanya. “Apa kau marah karena

 

saat itu?”

 

 

“….”

 

 

Wajahnya semakin memerah, dan dia mulai bergerak gusar. Baiklah, mungkin kali ini aku benar. “Karena waktu kita berciuman beberapa hari yang lalu, aku tak benar-benar menikmatinya, yeah… karena aku sedikit merasa flu dan kau langsung mendorongku dan pergi. Benar ‘kan?”

 

 

“Eum…???”

 

 

“Hei… tak usah mengelak, aku sudah tahu. Bukankah benar? Dan lagi kita juga sudah lama tak melakukan itu, makanya kau marah karena kau sangat merindukan namjamu yang tampan ini.”

 

 

“A-ahnieyo, eumh.. . i-itu hanya kebetulan saja. Aku bukan marah karena itu. Ck… sudahlah, aku semakin kesal nanti. Biarkan aku tidur saja.”

 

 

Dia hendak beranjak lagi, tapi kali ini aku memilih untuk mengikat pinggangnya erat dan kemudian menjatuhkan tubuh kami berdua. Ah… aku bisa merasakan debaran jantungnya yang cepat, aku

 

pastikan dia gugup dan takut karena ketahuan.

 

 

“Kau berdebar hyung, berarti aku benar.”

 

 

“A-ahniya. Ck… sudahlah, kita tidmmmhhh…”

 

 

Kalian tahu, aku sangat lega saat berhasil menciumnya.

 

 

Aku memanjakannya dan memainkan lidahku. Mencampur saliva kami hingga membuat basah di sekitar pipi dan lehernya. Menghisap dan menggigit bibirnya. Ah… sangat manis. Meremas rambut

 

hitamnya dan semakin menekan tubuhnya. Ah… dia hangat sekali.

 

 

“MMhhh… Kyunie…” Dia mendorongku dan melepaskan ciuman kami. Ouh… aku benar-benar tergoda wajahnya. Aku menurunkan ciumanku dan kali ini aku memanjakan lehernya. Hanya

 

mengendusnya dan meniupkan udara hangat di lehernya.

 

 

“Nngghh … Kyunie, aku tidak… ah…. Hentikan. Jangan digigit, awww… Kyu!!”

 

 

Aku langsung mengangkat wajahku dan menatapnya. Aku memberikan senyuman evil terbaikku. “So, apakah kau mau mengaku?”

 

 

Kulihat nafasnya masih tak karuan.

 

 

“Hei, apakah aku sehebat itu sampai kau terlihat sangat kelelahan?” Aku tersenyum evil padanya dan memainkan alisku. “Atau kau yang benar-benar ingin?”

 

 

“Ahnieyo, aku…”

 

 

OK… baiklah.

 

 

Aku beranjak dari posisiku dan kemudian berjalan menuju ke pintu kamar.

 

 

“Kyu, aku tak mau kemana-mana. Aku mau dirumah saja. Jika kau mau jalan-jalan, kau bisa ajak Kangin hyung atau yang lain.”

 

 

“Oh… benarkah?”

 

 

“Nde, ajak yang lain saja. Aku tak ingin keluar rumah, dan…”

 

 

 .

 

 

HUP!!!

 

 

.

 

 

Aku langsung melompat dan mendekatinya. “Kau pikir aku akan pergi eoh?”

 

 

“Eum…”

 

 

“Heum… kau pikir, siapa yang mau pergi. Aku hanya memastikan aku sudah mengunci pintu atau belum tadi.”

 

 

“Kyu, kau tau… kita tak harus melakukan itu pagi ini dan aku mmmhhh…. Nnghhh…”

 

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Aku tak perlu banyak penjelasan lagi. Aku tahu, dia hanya merindukanku. Ya Tuhan… kenapa dia bisa semanis ini. Bukankah tinggal minta saja, dan aku akan melayaninya (?) sampai dia menyerah

 

kalah. Ah… namja ini sangat manis.

 

 

“Nghhh… Kyunieee…ahsss…”

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

 

END

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

 

 

Semoga ini ga ngelanggar rate T yah…

 

 

 

 

 

Bye… bye…

 

 

Bunny… | KyuMin|YAOI|OS

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

 

.

 

 

rainy hearT

 

.

 

 

~Proudly present~

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

~Bunny…~

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

Cast :  – Cho Kyuhyun

 

          Lee Sungmin

 

          Others Super Junior members

 

 

Pairing: KyuMin

 

 

Genre : Drama, romance, fluff, etc

 

 

Length : Oneshoot

 

 

Rated : T

 

 

Disclaimer : KyuMin saling memiliki, Kyu Milik Sungmin, dan Sungmin milik Kyu _bersama dengan saya_  >^<

 

 

 

Warning : YAOI / BL, GaJe, Typo(s), etc

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Don’t Like Don’t Read

 

 

No Copas No Bash No Flame

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

—>> Author POV

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

Sungmin menghela nafasnya. Hari yang sangat melelahkan baru saja ia lewati. Menyelesaikan musikalnya di Jepang dan langsung terbang pulang ke Korea untuk mempersiapkan SS5 di negara berikutnya bersama member yang lainnya.

 

 

Ia sampai di dorm saat menjelang dini hari. Manager hyung menyuruhnya agar langsung istirahat karena mereka akan mengambil penerbangan lusa pagi. Ia bisa beristirahat selama stau hari penuh.

 

 

Sungmin meletakkan sepatunya pada rak sepatu yang terletak disudut ruangan. Ia berjalan perlahan sambil sesekali mengusap tengkuknya untuk menghilangkan rasa pegal yang sedikit mengganggunya. Hingga akhirnya ia melihat cahaya yang ia yakin benar berasal dari TV yang berada di tengah dorm.

 

 

Ia mendekat perlahan untuk memastikan siapa yang tengah menonton TV hingga malam selarut ini. Sedikit berharap jika magnae kesayangannyalah yang tengah menunggunya. Beberapa hari ini mereka sama-sama sibuk untuk musical hingga jarang sekali mengirim kabar. Terlebih Sungmin selalu saja berada jauh dari Kyuhyun untuk beberapa hari karena jadwal musical-nya di  Jepang.

 

 

Sungmin tersenyum saat ia sampai pada posisi yang ditujunya. Ia tak melakukan hal appaun selain tersenyum saat melihat wajah polos dihadapannya. Mendapat pantulan cahaya dari TV di wajah Kyuhyun seakan menunjukkan betapa tampannya sosok dihadapannya itu.

 

 

Ia menghela pelan nafasnya. Melihat wajah damai Kyuhyun dengan kedua matanya yang tertutup membuatnya sedikit tenang. Ia bukan ingin menganggap Kyuhyun lemah dan melarangnya menungguinya hingga larut. Hanya saja beberapa hari terakhir Kyuhyun terlihat sedikit pucat.

 

 

Sungmin duduk disisi Kyuhyun. Ia tersenyum saat menemukan sedikit berkas air liur di ujung bibir Kyuhyun. Dan entah tanpa rasa jijik, Sungmin malah menjilatnya. Aww…. dia merasa menjadi sedikit naughty…

 

 

Dan satu jilatan kecil untuk menghapus air liur itu seperti satu pintu gerbang yang terbuka dan membuat Sungmin ingin mencuri ciuman lebih banyak lagi. Diabaikannya suara TV yang tengah mempertontonkan drama.

 

 

Ia lebih tertarik untuk mengusap lembut pipi Kyuhyun. Rasanya sangat lama dia tak mengagumi wajah namjanya ini. Cinta yang terlalu dewasa mungkin, hingga ia sedikit malu untuk ber -lovey-dovey dengan seseorang yang sudah bersamanya lebih dari 7 tahun belakangan.

 

 

Sungmin tersenyum saat ia bisa merasakan sedikit rasa pahit kopi saat ia mulai menjilat bibir Kyuhyun. Dengan sedikit nakal dia menjilat dan membasahi seluruh bibir Kyuhyun, dan mungkin ia tengah beruntung saat tiba-tiba saja Kyuhyun membuka bibirnya.

 

 

Tanpa sedikitpun rasa curiga, ia memasukkan lidahnya kedalam mulut terbuka Kyuhyun dan mulai memainkan lidahnya di ruang hangat basah itu. Sesekali mencoba mengulum lembut bibir Kyuhyun.

 

 

Ia tahu, Kyuhyun mungkin bangun. Tapi mungkin itulah tujuannya. Dan terlebih saat ia merasakan Kyuhyun seperti mulai menggerakkan lidahnya dan membalas permainannya. Membiarkan saliva mereka meleleh dan saling bercampur didalam mulut Kyuhyun.

 

 

Dan dengan mudahnya, Sungmin naik ke pangkuan Kyuhyun. Melingkarkan kedua kakinya di pinggang Kyuhyun dan menarik Tubuh Kyuhyun untuk mendekat padanya. Ia berani bersumpah, ia bisa merasakan sesuatuyang keras mulai menekan bagian bawah tubuhnya.

 

 

Junior Kyuhyun mulai bereaksi. Sungmin semakin bersemangat untuk menghisap bibir Kyuhyun.  menarik dan mempermainkannya. Mengulum dan hingga akhirnya ia menggigit gemas bibir bawah Kyuhyun.

 

 

“Awwhhh….” Terdengar lenguhan pelan suara Kyuhyun. Bisa dipastikan namja itu sudah bangun dari tidurnya. Dan saat Sungmin merasakan balasan pelukan di punggungnya, ia tahu Kyuhyun benar-benar bangun.

 

 

“Heumm….” Sungmin melepaskan ciumannya dan mengatur nafasnya. Ia tersenyum saat menemukan kedua mata Kyuhyun terbuka.

 

 

“Siapa yang mengijinkanmu mencuri ciumanku, Hyung?”  Kyuhyun menarik Sungmin untuk lebih mendekat pada tubuhnya. Ia mendaratkan ciumannya di telinga Sungmin dan mulai meremas butt Sungmin yang sedari tadi menggoda paha Kyuhyun.

 

 

“Awhhh… Kyunie. Ak-aku hanya merindukanmu.”

 

 

Sungmin tersenyum kecil  saat ia merasakan jilatan di lubang telinganya. Serta remasan pada bokongnya yang semakin membuatnya ingin merasakan lebih dan lebih lagi. Seluruh tubuhnya merinding hebat saat Kyuhyun lebih gencar lagi menghujani lehernya dengan ciuman.

 

 

Ia menutup kedua matanya dan mulai meremas anak rambut di tengkuk Kyuhyun. Ia benar-benar menikmati cumbuan dan jilatan basah dari Kyuhyun. Sungmin melenguh pelan dna mulai berusaha mendorong tubuh Kyuhyun. Ia sungguh tak tahan ingin mencium namjanya itu. Sungmin meremas bahu Kyuhyun, dan ia benar-benar sedikit lupa karena cumbuan Kyuhyun hingga akhirnya ia merasakan Kyuhyun mulai mengigit kecil lehernya.

 

 

“Awwhhh… Kyuhhh… Ja-jangan disitu.”

 

 

Kyuhyun tersenyum dalam ciumannya. Ia kemudian menatap kedua mata Sungmin. Kyuhyun memainkan ibu jarinya di dagu Sungmin. Mengusapnya perlahan dan tersenyum seraya mencuri ciuman kecil di bibir Sungmin. “Lalu, bagian mana aku harus menandaimu? Kau tahu, akhir-akhir ini kau sedikit nakal dengan terus berselca ria bersama ahjussie itu. Itu membuatku selalu berfikir jika aku tak cukup baik untukmu. Dan juga selca mu dengan Henry it—“

 

 

Kyuhyun menghentikan ucapannya saat Sungmin menaruh telunjukknya tepat pada bibir Kyuhyun. “Kau juga melakukan Kissing scene di dramus-mu. Kau kira aku tidak tahu???”

 

“Kau melakukannya juga, bukannya kita impas.” Kyuhyun melepaskan pelukannya pada tubuh Sungmin. Entahlah, ia tiba-tiba merasa kesal. “Kau bahkan melakukannya berkali-kali dan berflirting ria dengan noona dancer. Kau benar-benar….”

 

 

Sungmin kesal. Ia segera mendorong bahu Kyuhyun dan kemudian menurunkan kakinya dari pangukan Kyuhyun. Ia berdiri tepat didepan Kyuhyun dan menyilangkan kedua tangannya. “Aku baru pulang dan kau ingin kita marahan lagi?”

 

 

Kyuhyun tak menjawab. Dia memalingkan wajahnya. Sebenarnya, ia tak sungguh merasa ada masalah dengan kedekatan HenMin. Henry x Sungmin.

 

 

Pair itu muncul karena beberapa fans menemukan kecocokan antara keimutan Sungmin dan maknae dari Super Junior M itu. Dan terlebih karena MV TRAP…

 

 

Kyuhyun benar-benar membenci MV itu. Dia terlihat sangat bodoh dan tua. Terlebih siang tadi, sia mencoba untuk membuat perubahan dengan mengubah warna rambutnya menjadi blonde seperti Henry, dan hasilnya sangat mengecewakan. Akhirnya, ia memilih untuk mengembalikan rambutnya ke warna sebelumnya.

 

 

“YA!! Kyuhyun-ah…! Aku bicara denganmu? Kenapa selalu Henry? Padahal kau tau sendiri, aku hanya menyukainya seperti adikku. Sama seperti aku menyukai Jongjin atau juga Sungjin. Dia seperti dongsaengku sendiri.”

 

 

Kyuhyun masih mengacuhkan Sungmin. Ia sebenarnya tak lagi kesal soal kiss scene, karena sejujurnya dia merasa bersalah atas kiss scene yang juga ia lakukan di dramusnya. Tapi soal MV Trap itu, dan juga Selca bersama Henry, dan itu karena Sungjin yang mengambil foto itu, berarti Sungjin….

 

 

“Oh ayolah Kyuhh…”

 

 

“Jadi dia seperti Sungjin untukmu?”

 

 

Sungmin mengangguk.

 

 

“Apakah kau pernah mencium Sungjin.”

 

 

Meski merasa aneh dengan pertanyaan Kyuhyun, tapi akhirnya Sungmin mengangguk.

 

 

“Di pipi?”

 

 

“Ya, sesekali.”

 

 

“Di kening?”

 

 

“Ya… karena terkadang dia merasa Umma lebih menyayangiku. Jadi aku menciuminya di kening. Hei… kenapa menanyakan itu, Kyuhyun-ah?”

 

 

“Di bibir?”

 

 

“K-Kyu???” Sungmin hampir merajuk karena pertanyaan konyol Kyuhyun.

 

 

“Jawab saja Ming.”

 

 

Sungmin sedikit kaget saat Kyuhyun memanggil namanya. Hanya nama. Bukan hyung lagi. Itu artinya Kyuhyun benar-benar serius dengan pertanyaannya. “Jadi kau mencium Sungjin di bibir juga?”

 

 

“Eum…” Sungmin memainkan jemarinya. Ia sedikit nervous saat Kyuhyun berdiri dan mendekatinya. Ia bisa melihat jelas smirk di bibir Kyuhyun. “Ok-oke… aku mencium Sungjin di bibir. Tapi dia dongsaeng-ku Kyu. Kau tak seharusnya marah karena itu Sungjin, dan…”

 

 

“Dan kau mengatakan tadi Henry itu sudah seperti Sungjin. Itu artinya, kau juga akan mencium Henry jika dia…”

 

 

“KYU!!!”

 

 

“Apa??? Aku sedang kesal denganmu Hyung. Apa maksudmu dengan selca yang kau upload dan kau hapus lagi. Itu benar-benar membuat pemikiran jika kau menyembunyikan satu hal atau berusaha menyembunyikannya. Kau pikir fans mu tak tahu??? Mereka bahkan bergerak sangat cepat. Setelah kau menghapusnya, slecamu itu sudah terlanjur menyebar di  manapun. Apa kau sengaja membuatku marah?”

 

 

“K-Kyu…” Suara Sungmin melemah. Ia sangat takut saat melihat wajah Kyuhyun. Meski cahaya yang kurang, dia bisa melihat Kyuhyun memancarkan aura kemarahannya. “Kau bisa membangunkan yang lainnya. Sebaiknya kita tidak terlalu berisik, kita-“

 

 

“Yang lainnya sedang mengunjungi Heechul Hyung. Hanya ada kita di dorm ini hyung, dan aku menunggumu sedari tadi.  Aku benar-benar merindukanmu, tapi entahlah. Aku kesal, kau benar-benar sering sekali memancing kemarahanku. Apa kau sedang menguji kesabaranku?”

 

 

“Kyunie….”

 

 

Sungmin mendekat pada Kyuhyun dan kemudian memeluknya. “Mianhe, Kyu. Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya…”

 

 

“Apa kau sengaja membuatku marah?”

 

 

“Ahniya, aku tidak…”

 

 

“Kau sengaja membuatku marah, hingga aku bisa menghabiskanmu malam ini juga dan bisa kupastikan kita akan terus melakukannya hingga esok. Melakukannya dengan kasar. Ah… kita sudah lama tak melakukan permainan yang benar-benar kasar. Bagaimana jika counter dapur?”

 

 

“Kyunie…”

 

 

Sungmin mencubit kecil pinggang Kyuhyun. Ia tersenyum. “Aku tak memancingmu, hanya saja itu karena Sungjinnie yang memaksaku untuk menguploadnya. Kau tahu, dia sedikit tertular virus aneh Jongjin. Kurasa mereka pasangan yang aneh, tapi benar-benar serasi.”

 

 

“Ouh… berhenti membicarakan orang lain.” Kyuhyun mulai mendorong tubuh Sungmin agar berjalan mundur hingga menuju counter dapur dan kemudian menyudutkannya, hingga terpaksa Sungmin naik ke sudut counter dapur dan melingkarkan kakinya untuk mengikat pinggang Kyuhyun lebih dekat padanya.

 

 

Sungmin memainkan jemarinya pada dada Kyuhyun. Ia memainkan jemarinya pada kancing piyama Kyuhyun dan mulai melepaskan kaitan kancingnya. “Sepertinya seseorang mulai tak tahan.”

 

 

“Eum… aku hanya terlalu merindukanmu.”

 

 

“Kiss me…”

 

 

“Dengan senang hati, Master.”

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

END

 

.

 

 

.

 

 

Apa ini????

 

 

Hahhaa…… saya tidak tahu apa ini? baiklah,,,, abaikan author ini.

 

 

Maaf untuk bahasa yang aneh dan kaku. Aduh…. kerjaanku bikin semua hidupku berubah. I’m so formal now….#silly

 

.

 

 

 

 

It was you, me and rainy days…|KyuMin | Drabble | Yaoi

.

.

.

“It was you, me and rainy days…”

.

.

Ketika hujan turun dan aku menyadari, tak selamanya hanya memberiku rasa sakit akan dingin yang berlebihan ini.

Ketika hujan rintik dan aku berteduh, tidak hanya aku… there was us…

Bukan… bukan hanya kita, tapi banyak orang. Entahlah, yang bisa kulihat hanya kita dan yang lainnya… anggaplah hanya bayangan semu dimataku.

Itu adalah kali pertama, aku melihatnya. Senyuman yang sangat cantik saat kau mengagumi hujan. Dan ketika kaki kecilmu melangkah untuk bermain diantara mereka…

Aku… aku bahkan tak bisa menghentikan diriku sendiri untuk tak tersenyum.

Hanya cukup melihatmu seperti itu, dan aku tahu ada hangat diantara rintik hujan yang selalu aku benci. Sejujurnya, hujan tak pernah menjadi sahabatku. Tapi, bolehkah kali ini kita berbagi payung merahku?

Ck… aku merasa seperti anak kecil, yang bahkan tak berani melakukan apapun. Hanya melihatmu, menari dengan cantik dan berbaur dengan rintik hujan yang terus turun. Sama sekali melupakan semua orang yang menatap heran padamu, tapi inilah kau…

Diantara kau dan aku… selalu ada hujan yang menghangatkan aku.

Diantara kau dan hujan, aku berjanji akan selalu ada aku yang mengantarkan payung merah untukmu.
.

.

.

rainy hearT
.

~Proudly present~

.

.

It was you, me and rainy days..
.

.

.
Ketika hujan terus turun dan membasahimu,
Aku selalu bisa melihatmu.

Saat menemukanmu dan kau tersenyum,
Aku telah jatuh cinta…. sekali lagi.

Saat aku datang dan melindungimu,
Berbagi payung merah bersamaku…

And after that…

Can i kiss you….?
.

.

Cast : – Cho Kyuhyun
– Lee Sungmin
– Others Super Junior members

Pairing: KyuMin

Genre : Drama, romance, fluff, etc

Length : Oneshoot

Rated : T

Disclaimer : KyuMin saling memiliki, Kyu Milik Sungmin, dan Sungmin milik Kyu _bersama dengan saya_ >^<

Warning : YAOI / BL, GaJe, Typo(s), etc

.

.

.

Don’t Like Don’t Read

No Copas No Bash No Flame

.

.
Maap jika ini ga ada manis-manisnya. Ah… cuman kebayang aja sama fanart kyumin berpayung merah. Cekidot…!!!

.

.

.

.
—>> Kyuhyun POV

.

.

.

.

Ini adalah hari keberapa dalam bulan ini, hujan terus turun disaat kami menyelesaikan latihan kami. Sebenarnya aku sedikit khawatir, aku takut dingin.

Entahlah ini sedikit aneh memang, tapi jika bisa jujur aku juga sangat mencintai hujan. Aku menyukai hujan, karena ada dia. Seseorang yang kini tengah melompat kesana kemari dan sibuk bermain dengan percikan air di kakinya.

Sesekali berputar dan mengarakan senyumannya ke atas,melihat langit yang terus menjatuhkan rintik hujan di wajahnya. Aku melihatnya, lebih bersinar.

Aku sangat beruntung, karena bisa terus mengaguminya. Tapi, aku juga mengkhawatirkannya. Tak takutkah dia, jika sakit. Hujan tak selamanya menjadi sahabat jika sudah berlebihan seperti ini.

“Hyung, aku yakin kau akan sakit jika kita bertahan 5 menit lagi saja disini?” Aku melangkah mendekatinya, mencoba menangkap tubuhnya dan menghentikannya untuk terus bermain hujan.

Dia menatap penuh melas padaku. “Ayolah, Kyunie… aku hanya bersenang-senang.” Dan kemudian kembali berlari kesana kemari, melompat kembali.

Aku hanya bisa menggeleng tak percaya dengan apa yang ia lakukan. Bahkan kali ini ia menaikkan lengan mantel yang ia pakai dan mulai kembali memainkan air hujan yang jatuh di jemarinya.

“Hyungie…”

“Ck… Kyunie, onegai….”

Dia menghentikan kegiatannya dan merajuk padaku. Dari kejauhan dia bertingkah lucu dan memasang aegyonya. Aish… baiklah, tidak tergoda. Akan lebih baik dia marah dari pada dia sakit nantinya.

“Tidak hyung, ini sudah 30 menit dan hujan rintik lebih berbahaya. Kau bisa kena flu dan jangan lupakan, jika kau sudah bermain air selama beberapa hari.”

“Aish… Kyunie tidak asyik. Aku kan hatch…iii !!!”

“Well…”

Aku segera menariknya dan dia harus mau mengikutiku.

“Baiklah, kita pulang.”

“Kita memang harus pulang hyung, atau kau akan benar-benar sakit.”

“Eum….”

Aku mendengarnya berdengung pelan, tapi setelah itu ia sama sekali tak mengucapkan apapun. Demi Tuhan, dia sangat menggemaskan. Tubuh mungilnya terbungkus mantel kuning yang membuatnya semakin menggemaskan.

“Apa yang ingin kau katakan, hyung?”

“Ahniya, tidak jadi.”

Eoh??? Baiklah. Kurasa ini sudah terlalu malam, dan berjalan kaki diantara rintik hujan tak buruk juga. Menikmati saat ini, adalah kepingan terbaik dalam hidupku. Membagi payung merahku dengannya dan juga menggenggam jemarinya.

“Lihat sepertinya jarimu sudah berkerut.” Aku mengangkat satu tangannya dan melihat satu per satu jemarinya, dia benar-benar sudah kedinginan. “Seharusnya kau berhenti bermain hujan.”

Dia hanya diam. See… sekarang siapa yang benar-benar cerewet, aku sungguh mengkhawatirkannya. Sama seperti beberapa minggu kemarin saat aku sakit dan dia juga ikut sakit, aku sama sekali tak bisa melakukan apapun.

“Aku hanya mengkhawatirkanmu, hyung…”

Aku menggenggam jemari kanannya dan memasukkannya kedalam saku mantelku. Aku sedikit mendengar nada protes darinya, tapi sama sekali tak bisa menghentikan keinginanku.

“Jangan menolak apa yang aku lakukan, kau tahu… kau kedinginan hyung dan kita masih harus 15 menit lagi berjalan menuju dorm.”

“Arraseo…”

Suaranya terdengar lirih dan sedikit kesal. Mood bunny Ming kesayanganku memang terkadang buruk. Dia memperlambat langkahnya, aku tahu dia benci terlalu diperhatikan seperti ini. “Ah… apa kau mau aku patah tulang hanya karena menggendongmu? Apa kau tak sadar kau itu berat?”

“Kyunie….!!!”

“Ah… baiklah-baiklah… jangan merajuk.”

Dia malah berhenti berjalan, sudah kuduga dia pasti kesal. Kami terpaksa menepi lagi di salah satu halaman toko yang sudah tutup. Sudah jam 11 malam dan jika tak hujan pun udara sudah dingin. Tak bisa kubayangkan berapa derajat malam ini.

Aku melepaskan kaitan kancing mantelnya dan kemudian melepaskan mantelku sendiri, memakaikan padanya.

“Kyunie, nanti kau kedinginan dan sakit. Sudahlah, lagi pula ini salahku.”

“Gwenchana…”

“Harusnya tadi kita pulang bersama yang lain dan naik mobil manajer hyung. Tapi hujan dan… dan aku..”

“SSsssttt…” Aku meletakkan telunjukku pada bibirnya. Dan baru kusadari, bibirnya sudah membiru. “Sebaiknya aku menelfon seseorang untuk menjemput kita. Aku akan menelfon Kangin hyung, sebentar.”

Aku segera melakukan apa yang harus aku lakukan, menelfon seseorang yang kurasa lebih bisa mengendalikan Sungmin hyung.

Meski hujan tak selebat tadi, tapi tetap saja perjalanan kami masih cukup lama, dan Sungmin hyung sudah benar-benar kedinginan kali ini. Setelah selesai menelfonnya, aku kembali memperhatikan Sungmin hyung.

“Bibirmu sudah membiru, seharusnya kalau sudah kedinginan kau berhenti hyung.”

“Tapi, Kyu…. hujan jarang terjadi dan seringnya aku melewatkannya. Kau tahu, sekarang kita tak selalu bisa menikmati waktu dan…”

.
Chup…
.

“Satu ciuman, untuk namja cerewet sepertimu. Kau tahu, kau sakit nanti hyung…”

Dia mempoted-kan bibirnya dan bergumam lucu seakan menirukan aku. Baiklah, namja ini benar-benar membuatku gemas. “Hei…” Aku memanggilnya lirih. Dia sama sekali tak mau menatapku. Aku mengusap bibir shape M yang selalu menarik untukku.

“Look… “ Aku menjaga kedua pipinya agar ia bisa menghadapku, menatapku dengan baik dan mau mendengarkan aku. “Aku tak mau kau sakit hyung, aku benar-benar khawatir. Jadwalmu sangat padat, dan kumohon berhenti menjadi egois.”

“Ck… arra…”

Dia menjawab dengan nada kesalnya, kawaiii neh…?

“I love you hyung…”

“Neh…”

“Hei… kenapa jawabnmu seperti itu, kau marah?”

“Ahniya,hanya saja kau sangat cerewet.”

Aku memeluknya. “Biarkan seperti ini, karena kau sangat kedinginan.”

Dia diam, sama sekali tak menjawab. Ck… baiklah, dia benar-benar kesal. Aku mengangkat dagunya, membuatnya menatapku. “Apa kau marah pada dirimu sendiri?”

Dia mengangguk pelan.

“Oke… lain kali, kita akan bermain hujan, tapi tidak jika malam hari. Dan sekarang, jangan memasang wajah seperti itu, atau aku akan berakhir di rumah sakit karena Kangin hyung memukuliku.”

Dia memukul kecil dadaku. Aish… sangat menggemaskan. Aku mengusap lembut bibirnya dan mendekatkan jarak kami. Biarkan saja J-Elf melihat, bukankah bagus.

Ah… bibirnya benar-benar dingin. Seperti es…

Aku mengulumnya pelan dan mempererat pelukan kami. Sungguh, dia benar-benar butuh sesuatu yang hangat, seperti ciumanku kali ini. Ah… bolehkah aku tersenyum?

“I love you…”

“Love you too…”

Dan melanjutkan ciuman kami kembali, aku harap kali ini dia lebih mendengarkan aku.

.

.

.

.

.
END
.

.

Apah ini????

Okeh ini bukan FF yah… ini drabble….

Ps: abaikan TYpo

Self Tittled | KyuMin Aniv| Yaoi |OS

.

.

.

“Kyuhyun-ah…”

“Heum…”

“Saranghae…”

 

“Nde nado sarangheyo…”

.

.

 

Self Titled

 

.

.

Author : rainy hearT

Length : Series

Rated : T

Cast :

-Cho Kyuhyun

-Lee Sungmin

– Other SUJU member

Pairing : || KYUMIN ||

Disclaimer : Semua cast belongs to God and themselves. KyuMin saling memiliki dan saya adalah pemilik mutlak dari seorang Lee Sungjin #%$&&^%???

Genre : ||Drama || Romance|| Fluff |

Warning : || BL/ YAOI || Gaje || typo’s || EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia||

 

.

 

Another PRESENT From Me

.

 

.

 

Just KYUMIN

 

Please be Patient With me. Don’t Like Don’t Read. No copas No bash. Kritik and saran yang mendukung selalu diterima dengan tangan dan hati yang terbuka.

.

.

 

Hari ini adalah keajaiban, dimana cinta menentukan segalanya.

 

Hari ini adalah peringatan, dimana cinta menyatukan segala perbedaannya.

 

Happy ever after…

 

Our Beloved KYUMIN

 

.

 

It’s a JOY DAY, our lovely day…

.

.

 

.

 

.

 

Love is about to learn, about to feel, and about to know, to make sure…

That every single steps that i take, it’s always come so near and always come for you…

 

Love is all about to believe and keep on my faith..

That every beat in my heart, is always singing on your name…

 

And it’s a lovely day when even the rains pour on me…

I feel that i was free for you….

 

It’s a joy in my life when i know…

That all of  my life was ‘bout  just to learn, how to love you…

 

.

 

.

 

Lee Sungmin POV

 

.

 

.

 

.

 

Ini cuaca di musim panas, saat dia datang. Namja berkulit pucat yang turun dari mobil box besar bertuliskan ‘Moving’ dan kemungkinannya adalah dia tetangga baruku.

 

“Ada baiknya kau membantunya, Ming.” Aku mendengar suara Umma, dan itu artinya dia mengijinkan aku untuk keluar dan sekedar membantu. Meski aku tahu apa yang aku lakukan tak lebih dari sekedar menyusahkan orang.

 

“Oke….”

 

Aku mengangguk cepat. Segera turun dari kamarku dan berlari menuju lantai bawah. Melalui pintu sebelah rumah dan membukanya dengan senyuman. Hari ini aku akan berbuat baik lagi.

 

Aku berjalan menuju ke arah rumah itu. Sedikit takut, karena sepertinya mereka keluarga kaya. Aku tak mengatakan jika keluargaku miskin, hehehe… hanya saja … yeah begitulah. Aku membenarkan pakaianku, dan berusaha untuk terlihat rapi dan juga tampan.

 

Aku melihat anak, yang mungkin seumuranku. Aku yakin, karena dari postur tubuhnya dia bahkan tidak lebih tinggi dariku. Aku perlahan mendekatinya. Bisa kulihat, dia sedikit tidak nyaman dengan lingkungan barunya. Bisa kulihat seperti itu, karena dia menjauhi kandang si putih yang aku letakkan didepan rumah.

 

“Kelinciku tidak akan menggigitmu, jadi tidak perlu berlebihan seperti itu.” Aku mendekatinya. Dia hanya menatap aneh padaku. Aku tahu itu, karena tatapannya seperti mengejek pasdaku. Yeah, Mungkin kebanyakan orang yang datang dari Seoul itu bersikap sama. Aku mengulurkan tanganku, untuk berkenalan dengannya. “Lee Sungmin, aku Lee Sungmin.”

 

“Ah… nde.” Dia hanya mengangguk dan kemudian diam. Sama sekali tak berniat menyahut ku atau sekdar mengatakan namanya, dan bahkan mengabaikan tanganku. Baiklah, kurasa dia hanya agak pendiam.

 

“Kyu!! Sebaiknya kau membantu Mommy!”

 

Aku mendengar teriakan, dari seorang yeoja di dalam rumah itu.

 

“Yes, Mommy!” Kyuhyun menyahut sebentar dan kemudian kembali melihatku. Kulihat dia diam sebentar, dan seperti melihatku. Seperti detektif dalam serial anime-ku. Ck… sangat aneh saat dilihat seperti itu. Tapi dia kemudian mengangguk, “Baik, aku Cho Kyuhyun.”

 

Aku tersenyum, meskipun dia tidak melihat senyumanku. Bagiku menemukan teman baru adalah satu kebahagiaan. Aku mengekori Kyuhyun dan aku pikir dia mungkin sedikit terganggu dengan kehadiranku, karena terlihat sesekali dia menoleh kebelakang membuatku sedikit salah tingkah.

 

Untuk beberapa menit dia kemudian berhenti dan kemudian dia menoleh lagi padaku. Aku sama sekali tak bisa bersikap, hanya menggaruk rambutku untuk sedikit menghilangkan kecanggunganku. “Eum… aku hanya ingin membantu, kata umma aku boleh membantu kalian. Aku cukup kuat untuk mengangkat kardus buku atau sekedar menata kamarmu.”

 

Dia sepertinya sedikit keberatan, tapi saat aku lihat yeoja yang di panggil Moomy itu tersenyum padaku, akhirnya dia mengangguk dan menyetujui keinginanku. “Baiklah…”

 

Aku tersenyum lega, dan tak lupa juga mengumbar senyuman manisku pada dang Momy dari anak ini. Dan untuk pertama kalinya aku melihat dia tersenyum.

 

Namja berkulit pucat, dengan rambut ikal kecoklatannya, terlihat tampan. Untuk pertama kalinya, memang sedikit menyebalkan karena dia sangat pendiam. Tapi  setelah mengenalnya beberapa hari, aku tahu jika dia memiliki banyak sifat yang tak aku duga sebelumnya.

 

Sedikit nakal dan seenaknya, tidak menurut pada Daddy dan Mommy Cho, dan juga aku baru tahu dia namja yang jenius, benar-benar jenius.

 

“Aku 13 tahun, dan aku sudah berada di tingkat 9. Senang bisa satu kelas denganmu… Sungmin Hyung.”

 

Rasanya sangat mengherankan, karena dia benar-benar tak terlihat semuda itu. Apakah dia bercanda saat mengucapkan usianya 9 tahun? Yang benar saja???

 

Dan dia mengejekku, dengan wajah menyebalkannya itu.  Aku sungguh kesal.

 

Dan menyebalkannya lagi, dia selalu menekankan kata Sungmin hyung seakan mengejekku dan sepertinya dia sangat bangga karena selalu menjadi yang lebih dan bahkan yang terpintar dikelas. Mulai hari itu, aku menyataka jika Kyuhyun adalah sahabat dan juga rivalku.

 

Sangat menyebalkan.

 

“Aku Lee Sungmin, dan aku tingkat 9. Sebenarnya aku kesal denganmu, karena kau berada di kelas yang sama denganku dan bahkan kau lebih pintar. Asal kau tahu, itu sangat menyebalkan. Tapi aku tidak bisa marah padamu, karena kau tahu kenapa??? Karena aku lebih tua, dan aku Sungmin Hyung. Setidaknya kau masih memanggilku Hyung dan itu jauh lebih baik, tapi bagiku kau masih menyebalkan.”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Kami berangkat sekolah bersama dan aku tak pernah menyadari sebelumnya, jika dia namja yang benar – benar tampan dan populer. Dalam waktu beberapa bulan saja, dia seperti bintang dimanapun. Memang dia tidak bisa berolahraga dengan benar tapi jika hanya untuk sekedar mengeluarkan keringat dan terlihat keren, dia selalu melakukan olahraga bersama dengan tim basket.

 

Dia memang tak buruk dalam permainan itu, tapi sangat menyebalkan saat dia melempar flying kiss ke semua yeoja, dan bahkan itu dilakukan meski dia tidak mencetak satu angka pun. Dasar pabbo….!

 

Dan juga aku tak tahu jika dia sangat terkenal, hingga semua sunbae bahkan tergila-gila pada Kyuhyun. Saat itu, kami tengah duduk berdua di bawah pohon yang berada di taman belakang sekolah. Dia menutup bukunya dan mulai melihatku.

 

Aku merasa canggung dan aneh, karena jujur…. Kyuhyun sangat sering melihatku seperti itu dan ini sangat aneh. Ah… aku tak tahu apa ini.

 

“Kau pikir, bagaimana?” Dia bertanya tanpa menoleh padaku. Hanya memainkan buku ditangannya. Dan lihatlah, wajah itu terlihat sangat keren. Aku akui dia memang tampan. Ah… baiklah, dia sangat tampan. Tapi aku sungguh tak mengerti apa yang da bicarakan.

 

“Apanya?”

 

“Tentang yeoja asing itu.”

 

Ck… Kyuhyun selalu mengatakan yeoja itu adalah yeoja asing. Padahal kenyataannya dia hanya anak berdarah campuran Aussie dan Korean. Sangat cantik, memang. Tapi, Kyuhyun selalu mengejeknya dan mengatakan jika Eve berasal dari planet lain. Yeah… dalam hal ini kurasa penglihatan Kyuhyun sangat buruk.

 

“Ck…” Aku hanya bisa berdecak kesal. “Dia bukan yeoja asing Kyu, dia Eve dan dia orang asing bukan yeoja asing yang sama sekali tak kita kenal. Bukankah dia sunbae kita. Dan dia hanya berkulit putih dan sangat cantik. Bukankah dia seperti barbie?”

 

“Heuh… dia seperti tokoh di anime yang aneh.” Kulihat Kyuhyun menggeleng.

 

Mungkin aku memang tak benar-benar mengerti akan hal ini. Tapi, dari yang kulihat… Eve benar-benar cantik.

 

“Dia mengatakan jika dia menyukaiku. Heuh… sangat lucu saat ini terjadi di usiaku yang ke 15. Bahkan dia akan lulus tahun ini. Bukankah lebih baik dia memikirkan sekolahnya, bukankah begitu… hyung?”

 

Kyuhyun menoleh padaku. Aku tahu, dia pasti akan memojokkan aku. Dia selalu berfikir jika aku mungkin menyukai yeoja itu. “Aku tak menyukai Eve. Jangan bilang, kau pikir aku benar-benar menyukainya.”

 

“Heuh…” Kyuhyun tersenyum kecil. “Aku tahu, kau tidak menyukainya Hyung. Makanya aku juga tidak menyukainya. Sudahlah, jangan pikirkan dia. Kajja…”

 

Dan dia seenaknya menyeretku. Dia pikir aku ini saeng-nya?? Aku lebih tua!!!

 

Ck… menyebalkan.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Aku tahu ini salah, tapi perasaan ini seperti nada yang terus bernyanyi di telingaku. Aku melihat punggung Kyuhyun. Entahlah, sama sekali tak mengerti. Hanya saja, aku sangat senang melihat punggung Kyuhyun.

 

Ada perasaan nyaman dan hangat. Sangat aneh. Tapi, yang ingin aku lakukan sebenarnya lebih dari ini. Aku ingin memeluknya. Punggung itu, sepertinya sangat nyaman.

 

.

 

.

 

.

 

“Bagaimana jika aku menyukai yeoja, apakah kau juga akan mengijinkannya?”

 

Hari itu, Kyuhyun menanyakannya padaku. Sebenarnya sedikit aneh, karena dia menanyakan hal seperti itu padaku. “Kenapa bertanya? Bukankah seharusnya kau tinggal menjalani saja. Aku akan senang jika kau menyukai seseorang.”

 

Kulihat Kyuhyun menunduk dan tak lama dia kemudian membereskan semua bukunya. Memasukkan ke dalam tas ranselnya.  Mungkin dia tidak puas dengan jawabanku. Kulihat wajahnya yang datar dan sama sekali tak bersahabat seperti biasanya.

 

Aku tahu, kami dekat. Tapi tak cukup dekat dan tak cukup gila untuk mengatakan jika aku mungkin menyukainya. Aku hanya mulai berfikir jika aku mungkin menyukai Kyuhyun, tapi dalam batasan tertentu dan bukan menginginkannya sebagai…

 

Kekasih.

 

Mungkin…  Heuh… aku sama sekali tak mengerti.

 

Dan saat aku menyadari jika aku terlalu banyak bergelut dengan pemikiranku, jemari besar Kyuhyun sudah menyapu pipku. Ini pertama kalinya kami sedekat ini. Sebelumnya, memang kami dekat tapi kami adalah namja dan sepertinya tidak melebihi garis yang sudah ditentukan.

 

Tapi, kali ini aku merasa aku sudah melanggarnya. Aku suka ketika ibu jarinya mengusap pipiku. Tapi sungguh, aku benci ketika dia menunjukkan wajah datarnya. Apakah aku sangat menyebalkan?

 

“Aku hanya ingin tahu, seperti apa Hyung menyayangiku. Tapi, sepertinya tidak benar-benar berbeda dengan apa yang aku pikirkan. We won’t cross the line…”

 

Sungguh aku kesal. Sudah tahu aku tidak bisa berbahasa Inggris dan dia dengan seenaknya mengucapkan itu. “Apa maksudmu?”

 

Kyuhyun hanya menggeleng dan kemudian mengacak rambutku. Dia bergegas turun dari kamarku. “Heuh… sudahlah, lupakan saja. Aku pulang!!!”

 

.

 

.

 

.

 

Pada saat itu, aku sungguh tak mengerti. Aku sama sekali tak pernah berfikiran sampai sejauh ini hingga akhirnya…

 

.

 

.

 

Aku tak bertemu selama beberapa hari dengan Kyuhyun. Aku terlalu sibuk dengan latihan piano, karena sebentar lagi aku akan tampil untuk menghibur para sunbae. Sama sekali tak pernah bertemu Kyuhyun, bahkan sejak hari itu.

 

Dan hari ini, mungkin adalah hari terburukku. Kenapa Kyuhyun menutupi semuanya? Termasuk jika dia akan pindah lagi. Aku melihat mobil bertuliskan Moving  itu datang lagi. Mobil yang sama yang datang 3 tahun yang lalu.

 

“Umma, apakah keluarga Cho akan pindah lagi?”

 

“Sepertinya begitu. Mungkin kali ini mereka akan ke China. Umma dengar, mereka akan pindah kesana.”

 

Kyuhyun benar-benar keterlaluan.

 

Aku berlari menuju rumah Kyuhyun. Sudah banyak kardus di luar rumah.Aku segera berlari menuju kamar Kyuhyun yang terdapat di lantai atas. Cukup canggung saat aku menemukan mommy cho menangis sambil memeluk daddy cho. Kurasa mereka sebenarnya juga tak ingin pindah.

 

Aku menemukan pintu kamar Kyuhyun yang tertutup. Perlahan aku membukanya, tapi apa yang kulihat benar-benar diluar dugaanku. Kamar ini berbeda dari 3 tahun yang lalu saat dimana aku membantu Kyuhyun mendesain-nya. Bukan karena semua barang berpindah.

 

Sialnya, Kyuhyun tak pernah mengijinkan aku masuk kekamarnya. Inikah alasannya?

 

“Seharusnya kau tak masuk kesini tanpa seijinku.”

 

Kyuhyun berucap dingin dan bahkan seperti marah padaku. Tapi bukan itu yang menjadi pikiranku sekarang.Yang aku pikirkan adalah sesuatu yang dia lakukan tanpa aku tahu. Dan saat ini, entah bagaimana… tapi rasanya sangat menyedihkan. Bukan hanya karena dia akan pergi, tapi lebih dari itu.

 

“Wae?”

 

Aku berhenti tepat didepan Kyuhyun, dan dia mengacuhkan aku.

 

“Sudahlah, sebaiknya kau pulang karena kami harus segera pergi.”

 

“Wae Kyu?”

 

“Aboji sakit, dan daddy tidak mungkin untuk tidak pulang.”

 

Aku menggeleng cepat. “Bukan… bukan itu yang aku tanyakan. Bukan itu, Kyu.” Aku mendekati Kyuhyun yang sekarang masih sibuk dengan apa yang dia lakukan. “Sejak kapan Kyu?”

 

Kyuhyun tersenyum kecil, benar-benar senyuman yang aku benci. Wajah dinginnya seperti datang lagi, menjadi Kyuhyun yang sangat acuh. Kyuhyun yang sama 3 tahun yang lalu. “Heuh… jangan terlalu dipikirkan Hyung. Lagi pula, mungkin aku akan menetap di China dan sangat kecil kemungkinannya untuk bertemu lagi.”

 

“Kyuhyun….”

 

Aku meraih tangannya untuk menghentikan apa yang dia lakukan. Sedari tadi dia sibuk merobek semua kertas yang kukira tadinya tertempel dengan benar disetiap dinding dikamar itu. Dan aku tahu pasti, apa yang terlukis di kertas itu.

 

“Kuharap kau menghentikan apa yang kau lakukan, Kyu. Bukankah kau bisa memberikannya padaku dan membiarkan aku menyimpannya?” Aku membantu Kyuhyun memunguti serpihan kertas itu dan juga semua sketsa menjadi satu.

 

“Ck… ini hanya sebuah sketsa, yang bahkan aku sendiri tak pernah menyadari apa yang aku lakukan.”

 

.

 

Cinta itu terlalu cepat datang, dan kurasa ini bukan waktu yang tepat. Tapi, aku sama sekali tak bisa menghentikannya saat aku benar-benar ingin melakukannya.

 

.

 

Aku menampar tangan Kyuhyun yang masih sibuk dengan sketsa itu. Dia merampas dari tanganku dan merobeknya, membuatku semakin kesal. Kulihat dia akhirnya terdiam dan membiarkan aku mengumpulkan robekan kecil itu.

 

Aku tak tahu kenapa, tapi aku sungguh menangis saat ini. Aku berusaha menahan air mataku, tapi sama sekali tak bisa. Dan saat itu, Kyuhyun menunjukkan satu sketsa yang masih berada di buku sketsanya.

 

Aku tak menyangka jika kami benar-benar akan seperti ini. Aku sungguh takut tapi sama sekali tak ingin berhenti. Aku mengangkat wajahku dan melihat Kyuhyun. Wajahnya masih datar tapi sama sekali tak mengurangi ketampanannya. Aku sadar, dia memang begitu tampan dan benar-benar sempurna. Aku, tak bisa menghentikan diriku sendiri untuk tak jatuh cinta dengan pesonanya.

 

Aku melakukan apa yang Kyuhyun gambarkan disana. Meraih satu tangannya dan menyatukan jemari kami. Menuntun satu tangannya untuk meraih tubuhku. Dan membiarkannya untuk memelukku.

 

Dia kaku.

 

Sungguh, aku benci ini.

 

“Apakah, kau juga tak akan melakukan apapun disaat seperti ini?”

 

Kyuhyun menggeleng pelan. “Tidak, Hyung. Sudahlah, ini semua salah. Aku hanya terlalu melewati batas kita.”

 

“Aku tak memikirkan apapun saat ini.”Aku menggeleng cepat. Aku menatap manik hitamnya. Benar-benar tampan. Kyuhyun kecilku yang tampan. “Berjanjilah, satu hari nanti… kau akan kembali.”

 

“Untuk apa?”

 

Aku meraih leher Kyuhyun, dan menyamakan tinggiku dengannya. Mencium lembut bibir itu. Inilah kegilaan pertamaku. Aku benar-benar berani melakukannya.

 

“Untuk memulai, cinta kita yang dewasa.”

 

.

 

.

 

3 tahun pertama adalah perkenalan kita, dan sudah cukup waktu untuk aku tahu. Untuk mengenali diriku sendiri….

 

“Saranghaeyo, Kyuhyunie…”

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

7 years later

 

.

 

.

 

.

 

.

 

“Yak!!! Sungmin hyung! Setidaknya berikan tanggapanmu. Mereka akan menambahkan satu anggota lagi dan kemungkinan satu dari kita akan diganti.”

 

“Aku tahu.”

 

Aku hanya diam. Melihat menembus batas keluar jendela dorm kami.

 

Aku berjuang selama beberapa tahun ini, untuk terus menunjukkan siapa aku dan bagaimana aku. untuk membiarkan seluruh Korea dan bahkan seluruh dunia, jika aku adalah Lee Sungmin.

 

Dan untuk menunjukkan jika aku masih ada, dan aku masih menunggunya. “Aku tak berharap banyak Hyukie-ah. Tapi, aku berharap jika kita bisa selalu bersama. Bukankah menjadi 13 itu lebih baik? Lebih banyak akan lebih ramai.”

 

“Ish… tapi aku tetap tidak setuju. Pihak manajemen mengatakan jika kemungkinannya adalah salah satu dari kita akan digantikan. Dan kau tahu Hyung, dia hanya menjadi trainer selama 3 bulan.”

 

Aku hanya bisa tersenyum kecil. Memang mengesalkan, karena aku butuh bertahun. Tapi…

 

“Jika dia bisa bernyanyi dengan baik, maka tidak masalah.”

 

“Yesung hyung….”

 

Aku lihat Yesung Hyung memang tenang. Dia adalah yang terbaik, suaranya adalah yang terbaik. Maka tak mungkin dia akan digantikan.

 

“Sudahlah, mungkin saja aku. Tenang saja, aku sudah siap.”

 

“Yak….! Sungmin Hyung, kenapa berbicara seperti itu.”

 

Aku melihat manager hyung masuk kedalam dorm kami. “Aku sudah datang bersamanya. Kuharap kalian bisa berteman baik, dan berbagi kamar. Dia akan menjadi maknae kalian.”

 

“MWO??!!!”

 

Siapa yang akan menyangka, 3 bulan masa trainer dan dia sudah menjadi main vocal. Dan juga menjadi maknae yang menambah baris kenyataan pahit, jika dia masih muda dan berbakat. Sudahlah, mungkin memang aku yang keluar.

 

Aku mendekati manager Hyung, “Lalu siapa diantara kami yang akan keluar?”

 

Aku merasakan pelukan hangat di bahuku. Aku tahu, Leeteuk Hyung tak akan membiarkan satu diantara kami keluar. Tapi entah mengapa aku merasa sedikit lelah, karena sama sekali tak bisa menemukan apa yang benar-benar aku cari.

 

“Aku tak akan membiarkan satu dari memberku keluar.” Leeteuk Hyung berbicara dengan nada tegasnya. Dia kemudian menarik kami semua kedalam pelukannya. “Aku tak akan membiarkan mereka keluar. Aku bisa membuktikannya, bahkan pada Soo Man ahjussi …. jika kami akan berusaha lebih baik lagi.”

 

Aku tak bisa menangis, rasanya sangat kacau.

 

“Sudahlah, masalah itu aku tidak tahu. Tapi kau bisa tanyakan langsung pada member ke -13 kalian. Dia sudah rapat tersendiri dengan Lee Sajangnim tadi. Sudahlah, aku pulang dulu.”

 

Manager Hyung segera berlalu dari hadapan kami. Aku mendengar sedikit suara ribut dari luar. Heuh…. sepertinya ini waktu yang tepat untuk beres-beres.

 

“Aku akan membereskan barang-barangku.”

 

“YA!!! Bagaimana kau bisa menyimpulkan jika kau yang akan pergi, Ming?”

 

Aku mendengar Kangin hyung berteriak keras ditelingaku. Dan aku juga bisa merasakan pelukan dadakan dari Hyukjae.

 

“Hikss… hyung, bukankah kita selalu bersama. Kenapa kau tak mengajakku?”

 

“Heuh… jangan kekananakkan Hyukkie-ah. Aku tahu, kau dancer yang hebat. Dan aku… sama sekali tak bisa melakukan apapun.” Aku mengusap punggung Eunhyuk. Ck… si cengeng ini benar-benar menyusahkan. “Tenang saja, aku akan sering main ke dorm.”

 

“Tapi aku datang bukan untuk melihatmu pergi…”

 

Aku menoleh ke arah namja itu. Suaranya asing, dan memang benar-benar bagus. Sudah kuduga jika member ke – 13 kami memang yang terbaik dari yang paling baik. “Heuh… aku sudah mendengar tentang kedatanganmu. Jadi selamat datang dan bergabung dengan Super Junior.”

 

“Sungmin, jangan terlalu cepat memikirkan semuanya. Mungkin saja Soo Man ahjussie tak mengeluarkanmu. Mungkin saja dia membuangku, leader yang sama sekali tak bisa melakukan apapun.”

 

“Ahniya, Hyung.” Aku menggeleng cepat. Kemudian memeluk Leeteuk Hyung. Leaderku ini juga benar-benar cengeng. Tapi, tiba-tiba aku merasakan satu tarikan cepat dan saat aku sadar aku namja itu sudah memelukku.

 

Entah mengapa, semua member bahkan diam dan sama sekali tak memarahinya saat melakukan hal seperti ini padaku. “Yak… lepaskan. Aku bisa memukulmu.”

 

“Berhentilah bersikap aneh, Lee Sungmin.”

 

“Eh… kau tahu aku?” Sedikit aneh saat dia benar-benar tahu siapa aku. Padahal kurasa, aku adalah member yang paling tidak menunjukkan diriku di depan umum. “Ah… aku lupa jika aku juga terkenal. Hehehe… sudahlah lepaskan aku. Aku harus segera membereskan barang-barangku.”

 

“Ck… Sungmin hyung…”

 

“Eh….” Dia kembali memelukku, dan bahkan kali ini lebih erat lagi. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang benar-benar cepat. Dan aku… merasa sangat dekat.

 

“Apakah, terlalu lama 7 tahun itu?”

 

“Eh…?”

 

“Apakah, kau bahkan lupa dengan janjimu sendiri?”

 

“Apa maksudmu?”

 

“Bukankah kau berjanji, untuk memulai cinta kita yang dewasa.”

 

Aku mendorong pelan tubuhnya. Dia memang berkacamata hitam. Ck… orang bodoh mana yang berkacamata hitam malam-malam begini. Aku melepaskan kaca matanya. Dia tersenyum padaku.

 

Aku merasa familiar, benar-benar tak asing. Tapi, sama sekali tak bisa memikirkan perkiraan apapun tentang namja ini. Aku bahkan membiarkan dia mengusap pipiku dengan ibu jarinya, tapi eh… chakkaman…

 

“K-kau…”

 

“Kita sudah dewasa Hyung, jadi maukah kau melanggar garis itu untuk bersamaku. Memulainya dari titik ini dan berjanji untuk membuat jalan kita sendiri?”

 

“K-Kyu….”

 

Kulihat dia tersenyum, dan tak lama setelahnya…. aku bisa merasakan bibirnya menyentuhku. Sangat hangat dan lembut. Aku bisa merasakan betapa eratnya dia memelukku. Aku merasakan, betapa dia mencintaiku…

 

“Hikss… Kyuhyunie…” Aku tak bisa untuk tak menangis. “Paboya Kyuhyunie…”

 

“Hei!!! Kalian baru bertemu sudah beraninya berbuat seperti itu!!!” Aku mendengar suara Heechul Hyung. Sudah kuduga, dia tak akan senang dengan keadaan seperti ini. “Ck… aku baru pulang syuting CF dan mencari uang, kau malah bermesraan dengan member baru itu.”

 

Heechul Hyung segera mendekati member ke -13 kami. Dia tersenyum sengit dan mengusap bahunya. “Kulihat kau cukup tampan. Ah… baiklah, biar aku saja yang keluar dari grup ini.”

 

“Eh…. bagaimana bisa begitu hyung?”

 

“Iya Hyung , kau jangan membuat keputusan sendiri.”

 

Aku melihat Heechul hyung mengibaskan tangannya pada Eunhyuk dan Donghae yang sibuk mencegah Heechul Hyung. “Yeah… aku bisa bergabung dengan girlband mungkin, ah… bisa bersama SooHee.”

 

“YAH!!! Heechul Hyung.”

 

“Aish… kalian berdua ribut sekali.” Heechul Hyung kemudian menarikku dari pelukan erat Kyuhyunku. “Yah!!! Bocah, siapa namamu?”

 

“Ah… annyeong, Cho Kyuhyun imnida. Dan aku memang benar-benar anggota ke-13 tanpa ada pernggantian member.”

 

“Lalu kenapa kau memeluk-meluk Sungmin begitu, kau pikir dia apa heuh? Dasar anak baru.”

 

“Heum… Sungmin hyung, nae namja. Dia namjaku.”

 

“Eh???”

 

Kudengar serentak ke 11 member yang lain berteriak, dan aku tak peduli. Aku kembali memeluk Kyuhyun dan membiarkan dia menciumi pucuk kepalaku.

 

“Heum… kau bertambah gemuk Hyung…”

 

“YAK!!! CHO KYUHYUN!”

 

“AHAHHAHAHA… memang kau gemuk… hehehhe…”

 

 

.

 

 

.

 

.

 

Aku ga tau kenapa ini jadi begini. Yang penting, happy joy day dan aku emang paling ga bisa bikin canon, makanya jadi ga nyambung and aneh pula. Ahaha…. but it’s a joy day… lets pray…!!! Kyumin will always together… they will always happy, forever…

 

13elieve in 7ove

 

Kyumin JOY day,happy 7th anivv…. Hawaian Couple… yeay…!

.

 

 

GamsaHAE ^_^

.

.

1069832_424539017663895_1533781436_n

GamsaHAE ^_^

.

Remarried | KyuMin | YAOI | Part 1

.

 

.

 

.

 

Matahari sore bersinar hangat. Terlihat indah. Mereka berdua memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar taman sedikit jauh di depan rumah mereka. Membeli ice cream atau sekedar gula kapas mungkin.

 

Tapi, sore ini …

 

Sepertinya namja pintar ini memiliki pemikiran lain. Memang wajar jika seusianya sudah menanyakannya. Ia mencoba untuk tak bertanya, tapi nyatanya perbedaan itu terlalu mencolok dan benar-benar membuatnya penasaran.

 

“Appa….”

 

“Heum…”

 

“Cungie cuma punya satu appa, waeyo?”

 

“Kenapa tiba-tiba berbicara seperti itu, baby?”

 

Sunghyun sedikit takut dan mengkerut, hingga akhirnya ia menggeleng lemah dan berusaha untuk tidak menangis. Ia tahu, appanya tak akan suka jika membicarakan hal ini. Bahkan sejak beberapa hari yang lalu, ia sudah mulai berfikir jika dia bukan anak appa kesayangannya ini. Mungkin saja, perkataan chingunya benar jika Sunghyun berasal dari sebuah rumah yang besar dengan begitu banyak anak kecil didalamnya. Rumah besar tepat didepan rumah mereka.

 

“Ahniya, appa…”

 

Namja mungil itu menunduk, namun dengan pasti ia melepaskan tangannya dari genggaman namja disisinya. Mau tak mau, namja tampan itu harus menghentikan langkah mereka dan mulai membujuk putra kesayangannya yang merajuk padanya.

 

Meski namja kecil itu sedikit meronta, tapi ia tetap memaksakan untuk membawanya dalam gendongan lengannya. “Kenapa bersikap seperti ini pada Appa? Hei… jangan menangis sebelum mengatakan apapun. Kau tahu bukan, namja tidak boleh cengeng.”

 

Sunghyun mengangguk pelan. Ia mengusap sedikit basah di wajahnya dan kemudian segera memeluk erat leher appanya. “Juniol, punya 2 appa.”

 

Sunghyun bergumam kecil dengan suaranya yang sedikit serak. Sungguh, ia benar-benar ingin tahu, kenapa hanya dia…

 

Kenapa…

 

Namja tampan ini sangat yakin, jika jagoan kecilnya ini pasti tengah merengek. Sebenarnya bukan karena 2 atau 3 appa. Ia mungkin hanya merasa iri dan itu saja, tidak lebih. “Hei… lalu kau mau punya 2 appa juga?”

 

“Eum…Cungie…” Sunghyun menggumam pelan.

 

“Atau kau ingin seperti Gwiboon?”

 

“Eoh? Boonie nuna…” Sunghyun tampak berfikir. Heuh… ia sama sekali tak tahu apa yang dia pikirkan. Ia juga tidak ingin mempunyai satu appa dan satu umma. Dia tidak merasa iri pada Gwiboon. Bukan pada yeoja anak tetangganya itu. Tapi, ia benar-benar merasa iri pada Junior.

 

“Appa…” Sunghyun menangkup kedua sisi pipi namja yang tengah menggendongnya ini. Kemudian dia mendekatkan wajahnya dan mencium kening namja itu.

 

“Cungie lihat Hae Appa cepelti itu cama Hyukkie appa.”

 

“Hehehe….Lalu?”

 

“Yeye appa…. “

 

“Nde, kenapa dengan Yesung appa?”

 

Sunghyun tidak menjawab, hanya menggeleng. Dan dengan begitus saja namja ini tahu, jika putranya benar-benar tak menyukai seseorang yang selama ini selalu bersama mereka.

 

“Wae?”

 

“Cungie bukan dali lumah itu ‘kan, Appa?”

 

“Ya… tentu saja. Ish… siapa yang mengatakan itu?”

 

“Yeye appa, bukan appa Cungie. Lalu ciapa appa Cungie?”

 

“Sunghyunie….”

 

“Apa, Cungie punya umma cepelti Boonie nunna?”

 

“Chagiya, kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu. Sudahlah… eum appa akan membelikan ice cream untukmu.”

 

“Hukss… Appa….”

 

.

 

.

 

.

 

‘Mianhaeyo… baby…’

 

.

 

.

 

.

 

 

re-MARRIED

 

.

.

 

Author : rainy hearT

 

Length : Series

 

Rated : T

 

Cast :

-Cho Kyuhyun

-Lee Sungmin

– Lee Hyunming (Sungmin Twins) – OC – Yeoja

– Other SUJU member

 

Pairing : || KYUMIN ||

 

Disclaimer : Semua cast belongs to God and themselves. KyuMin saling memiliki dan saya adalah pemilik mutlak dari seorang Lee Sungjin #%$&&^%???

 

Genre : ||Drama || Romance|| Slice of life |

 

Warning : || BL/ YAOI || Gaje || typo’s || EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia||

 

.

 

Another PRESENT From Me

.

 kyumin remarried mini size

.

 

Just KYUMIN

 

Please be Patient With me. Don’t Like Don’t Read. No copas No bash. Kritik and saran yang mendukung selalu diterima dengan tangan dan hati yang terbuka.

 

.

 

.

 

Happy Reading

.

 

 

 

Part 1

.

 

.

 

.

 

Jika aku bisa kembali, aku berharap tak pernah menemukanmu,

 

Jika aku bisa menolaknya, maka aku tak ingin bersama denganmu,

 

Dan jika aku akan kalah pada akhirnya, aku benar-benar tak akan pernah mencintaimu.

 

.

 

.

 

.

 

Berawal dari pertemuan kecil, hingga akhirnya membuatmu terus merasa bersalah jika tak mengalah. Apakah sama sekali tak pernah berfikir, bahwa aku benar-benar tak menginginkan ini.

 

Jika cinta hanya karena belas kasihan, aku tak mau melakukannya. Mengapa memohon padaku, jika nantinya akan menyakitimu?

 

Untuk apa kau melakukan ini? Apakah sudah bosan dan tak mencintaiku lagi?

 

Apa hakmu untuk mengatur kehidupanku? Untuk apa memohon padaku?

 

Harusnya kau juga tahu, aku tak akan pernah bisa membahagiakannya. Aku tak akan pernah benar-benar mencintainya. Aku sungguh, tak akan bisa.

 

Mengerti?

 

 Atau kau tak mau mengrti….

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Flashback On

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Teng….teng… teng…

 

.

 

Lonceng gereja itu berbunyi nyaring, menandakan upacara disana telah selesai. Meski hanya beberapa sahabat asing yang mereka temukan, itu sudah cukup sebagai saksi kebahagiaan mereka. saling melempar senyuman dan bahkan menggenggam jemari.

 

Seperti tak ada beban apapun lagi, karena kita benar-benar bebas. Bahkan berciuman didepan orang banyak, dan mereka menghargai.

 

Inilah yang disebut cinta, sesuatu yang bebas.

 

Dan inilah ikatan kita seharusnya.

 

.

 

.

 

.

 

“Aku tak percaya kita menikah.”

 

Senyuman cantik itu menghiasi bibir Sungmin. Dia tersenyum dan memutar tubuhnya, untuk melihat bagaimana ekspresi namjanya. Yeah, mereka menikah …

 

Jauh diseberang. Di negeri orang, dimana pernikahan itu akan benar dan tak ada yang salah dengan cinta mereka.

 

“Kau senang, Ming?”

 

“Nde, tentu saja. Heuh, aku tak menyangka akan menikah dengan namja menyebalkan yang dari dulu sangat suka menggangguku. Kukira kau tak akan menemukan aku di Paris. Sangat menyebalkan.”

 

Sungmin mendekat pada namja itu, kemudian membiarkan lengan kuat namjanya melingkar indah dan mengangkat tubuh Sungmin, agar kaki mungilnya berpijak pada kakinya.

 

“Ck… Kyunie, aku berat. Kau tahu….”

 

“Biarkan saja. Aku ingin melakukan ini. Aku suka kau seperti ini, jangan mencoba diet. Atau aku akan memberikanmu susu penambah nafsu makan.”

 

“Ahaha… Konyol sekali.”

 

Kyuhyun, namja yang menikahinya. Memberikan marga Cho, meski sangat sulit pada akhirnya. Senyuman di bibir Sungmin perlahan menghilang. Ia kemudian mengusap dada Kyuhyun dan memeluknya erat.

 

“wae, kenapa wajahmu seperti itu?”

 

Sungmin hanya menggeleng menanggapi pertanyaan Kyuhyun. Sejujurnya, ia sungguh takut dalam hal ini. “Aku tak bisa menjelaskannya nanti. Bagaimana jika appa dan umma-mu tahu? Bagaimana jika mereka…”

 

Kyuhyun menggeleng dan meletakkan satu jemarinya dibibir Sungmin, meminta namja itu untuk diam dan menghentikan semua pemikiran anehnya. Sungmin merajuk. Dia menghentak pelan tubuhnya dan memasang wajah khawatirnya.

 

“Ck… mereka tak pernah menyukaiku sejak dulu. Mereka sadar, jika kau… aku… yeah…. aku…”

 

“Sssttt…. jangan berfikiran sampai seperti itu. Aku yakin, mereka akan merestui kita. Bukankah, menantunya ini sangat cantik?” Kyuhyun mencuri ciuman kecil di pipi chubby Sungmin. Membuat wajah imut namja itu memerah dan semakin menggemaskan.

 

“Ah, aku juga tak tahu bagaimana memberi tahu Hyunming noona.” Tambah Sungmin. Namja itu benar-benar khawatir tentang semua hal. Pernikahan ini benar-benar tak mudah. Bagaimana bisa ia mengubah pemikiran banyak orang dinegaranya nanti. “Dan juga appa dan Umma…”

 

Kyuhyun tersenyum kecil dia mengusap lembut pipi Sungmin, membuat namja itu menatap Kyuhyun. “Apa kau ingin pulang, baby?” Kyuhyun berbisik pelan. Sungmin hanya mengangguk.

 

Bagaimana ia tak ingin pulang setelah beberapa tahun meninggalkan Korea. “Aku sudah menyelesaikan sekolahku di sini. Aku bisa mengajar di salah satu universitas atau high school. Dan lagi, aku mengkhawatirkan Hyunming noona. Beberapa bulan ini, dia sama sekali tak bisa dihubungi.”

 

Kyuhyung mengangguk pelan. “Baiklah, Cho Sungmin. Kita akan pulang ke Korea.”

 

“Tapi, Kyu… appa dan umma-mu…”

 

“Jangan dipikirkan. Aku yakin mereka akan mengerti, dan jika mereka belum bisa menerimamu… aku akan tetap bersamamu.”

 

Masih terlihat raut wajah khawatir Sungmin, tapi Kyuhyun menoba meyakinkannya. Menatap kedua mata foxy yang cantik itu dan tersenyum pada namjanya. “Kita akan bersama, bukankah aku sudah mampu melaluinya selama beberapa tahun. Untuk beberapa tahun lagi, kurasa bukan masalah.”

 

Sungmin mengembangkan senyumannya. Sungguh, ia sangat mencintai namjanya. Namja tampan yang sedari dulu sudah mengejarnya. Namja yang bahkan rela melanggar aturan dalam keluarganya hanya untuk cintanya.

 

“Aku sangat mencintaimu, Kyu.”

 

“Aku lebih mencintaimu, Cho Sungmin….”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Bandara selalu saja ramai. Bahkan hari ini sepertinya lebih ramai. Yeoja yeppeo ini sudah menunggu hingga kering di arrival gate. Sialnya, penerbangan diundur beberapa jam hingga membuatnya menunggu dan menunggu.

 

Sesekali ia melihat jam tangan putih yang bertengger manis di pergelangan tangannya. Menggeleng pelan dan kemudian melihat lagi kearah depannya. “Ah… akhirnya.” Ia mendesah pelan saat melihat beberapa orang asing keluar dari pintu itu. Sepertinya penantiannya sudah berakhir.

 

Sangat mudah mencari seseorang yang ia tunggu. Sangat mudah….

 

“Noona….”

 

Sungmin tersenyum saat melihat yeoja yang tengah menunggunya di arrival gate. Dia meninggalkan Kyuhyun dan kemudian segera bergegas memeluk yeoja itu.

 

“Sungmin… ck… kau menyebalkan sekali. Asal kau tahu, aku menunggu sangat lama.”

 

“Mianhe, noona…”

 

“Hikss… kau benar-benar kejam saat meninggalkan aku sendiri di Korea. Aku merindukanmu, pabbo…”

 

Sungmin melepaskan pelukannya dan bersiap untuk menghapus air mata nonanya. “Ck… kau cengeng sekali, Nonna.”

 

“Yah!!! Kau pikir kau pergi berapa lama. Sama sekali tak memikirkan bagaimana aku. Appa dan Umma terus menanyakanmu. Mereka sangat khawatir.”

 

“Mianhe…” Sungmin mencium pucuk kepala nonanya. Ia kemudian menoleh ke belakangnya. Namja tampan itu tengah menunggu gilirannya. “Eum, Hyunming nonna…ini…”

 

“Ah… bukankah kau Kyuhyun.” Hyunming melihat penuh selidik pada Kyuhyun. “Ommo!!! Jangan katakan kalau kalian…”

 

Sungmin mengangguk mengiyakan pemikiran Hyunming.

 

“Yah!!! Beraninya kau menikah tanpa memberitahuku. Anak nakal.” Hyunming memukul lengan Sungmin dengan jemari kurusnya. “Ah … baiklah, sepertinya aku harus mengucapkan selamat. Dan kau Kyuhyun-ah… jaga Sungminku baik-baik.”

 

Sungmin berusaha tersenyum. Meski wajah nonanya sama sekali tak menyiratkan apapun, tapi ia tahu… nonanya kecewa. Ini bukan karena Sungmin menikah dengan sesama namja tapi ini karena….

 

Kyuhyun…

 

.

 

.

 

.

 

Mereka terkesan diam didalam mobil. Sangat tak wajar karena diawal pertemuan, Hyunming bahkan sangat berisik.  Terlebih lagi, yeoja itu lebih memilih duduk dibelakang bersama karangan bunga white lily yang ia bawa untuk Sungmin. memilih menyendiri dibelakang dan membiarkan Kyuhyun membawa mobilnya menuju rumahnya.

 

“Nonna, tentang appa dan umma… “

 

“Tenanglah Ming, aku yakin mereka hanya butuh waktu. Kau bisa menjelaskannya perlahan.”

 

Biar bagaimanapun, biar seperti apapun cinta itu… hubungan mereka tetaplah menjadi cinta yang terlarang. Dianggap tabu dan sebelah mata. Dan benar-benar menyakitkan jika sama sekali tak ada satupun dari mereka yang mengerti.

 

“Ah… bagaimana denganmu Noona. Apakah kau sudah menikah?”

 

Hyunming tertawa pelan. “Bagaimana menikah, jika aku pusing memikirkanmu. Aku khawatir padamu, Ming. Kau pergi begitu saja, untung Umma tidak mati karena serangan jantung.”

 

“Hehe… mianhe Noona, kau juga sama sekali tak bisa dihubungi beberapa bulan terakhir.”

 

“Ah… itu karena aku harus mengurus perusahaan Appa. Mereka ingin beristirahat. Heuh… harusnya kau yang melakukannya, kenapa jadi aku.”

 

“Ahh… nde. Dan soal ini, aku….”

 

Dan kembali hening lagi. Sungmin tak berani melanjutkan perkataannya saat ia menyadari genggaman kuat pada tangannya. Kyuhyun mencoba menghentikan pembicaraan Sungmin.

 

Sungmin menatap seklias pada Kyuhyun, terlihat raut kecewa dan gelengan perlahan dari namja itu. Sungmin sendiri tak mengerti harus bagaimana. Dari dulu, ia sudah berusaha untuk membuat Kyuhyun tak mencintainya. Membuat namja itu melihat nonanya. Tapi, percuma.

 

“Nonna, aku minta maaf.”

 

Hyunming menghela nafasnya. Entahlah, ia hanya merasa sedikit sesak dan… bodoh.

 

“Tak ada yang perlu dimaafkan Ming.” Hyunming kemudian meraih tasnya dan merapikan dirinya. “Ah… aku berhenti disini.”

 

“Tapi noona….”

 

“Ck… jangan khawatir. Aku akan bertemu dengan Yesung Oppa. Sebaiknya kau bawa mobilku, berjalan-jalan mungkin. Kau bisa pulang ke apartemenku dulu. Atau kalian mau berbulan madu. Ahahha…. sangat romantis.”

 

Tepat saat Hyunming berhenti berbicara, mobil mereka sudah menepi. Sungmin hampir menahan Hyunming, tapi Kyuhyun sepertinya tak mengijinkannya. Hingga akhirnya, ia hanya melihat dari dalam mobilnya, yeoja itu mengusap kasar pipinya. Ia yakin, jika noona kesayangannya tengah menangis. Dan ini karena dia.

 

“Kami adalah saudara Kyu. Aku tahu nonna sangat kecewa padaku. Aku…”

 

Sungmin terdiam saat ia merasakan tarikan cepat dari Kyuhyun dan pelukan nyaman tubuh namja itu. Ia berusaha memejamkan kedua matanya dan mencoba untuk tak menangis.

 

“Bukankah kau yang meminta pulang? Jika kau belum siap, kita bisa kembali ke Paris.”

 

Sungmin menggeleng lemah. “Ahnieyo… aku akan menghadapi semuanya, Kyu. Aku… aku hanya…”

 

“Jika kau hanya kasihan pada nonamu, apa ku tak kasihan padaku? Apa tak memikirkan aku?”

 

“Kyu…”

 

Sungmin mengangkat wajahnya dan melihat Kyuhyun. Melihat wajah tampan itu tersenyum padanya, dan membiarkan ibu jari namja itu mengusap berkas air mata di pipinya.

 

“Jangan menangis, bukankah kau namja? Jangan mengatakan kau tak bisa, karena kita tak bisa terus menghindari ini.”

 

Sungmin mengangguk, dan perlahan tapi pasti ia menyatukan bibirnya…

 

Membiarkan Kyuhyun menuntunnya untuk  menenangkan pikiran dan perasaannya. Merasakan setiap lumatan lembut dan gigitan nakal Kyuhyun. Menikmati moment mereka di tengah kota Incheon.

 

Meski mereka tak menyadarinya, seseorang tengah mencoba menahan tangisnya. “Hikss…”

 

“Hei…”

 

“Ah, Yesung oppa.” Hyunming mencoba menghapus semua air matanya. Ia segera mengalihkan pandangannya dari mobil dimana Sungmin dan Kyuhyun masih sibuk dengan kegiatannya.

 

Yesung hanya menggeleng pelan dan kemudian meraih jemari kurus Hyunming. “Tak seharusnya kau terus memikirkannya. Bahkan Kyuhyun sama sekali tak melihatmu.”

 

“Aku tahu, oppa… tapi…”

 

“Apakah setiap saudara kembar pasti akan seperti ini? Jatuh cinta pada orang yang sama, seperti tidak ada yang lain saja.”

 

“Oppa…” Suara Hyunming semakin lirih. Ia berusaha untuk tak menangis lagi, tapi tangannya melemah dan perlahan melepaskan genggaman Yesung. Mau tak mau namja itu berhenti dan kemudian memeluk Hyunming.

 

“Jangan menangis untuk kebahagiaan mereka. Bukankah kau menyayangi Sungmin?”

 

Hyunming mengangguk pelan. “Aku sangat menyayangi Sungmin, bahkan lebih dari apapun.”

 

“Jadi berbahagialah untuk mereka. Kau yeoja yang hebat, Hyun-ah…”

 

Hyunming mengangguk pelan. “Aku tahu…hikss… tapi, tetap saja ini sedikit sakit. Hikss…. Oppa…”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

 

Dan angin menerbangkan kisah mereka. Menceritakannya pada debu yang menyertainya. Membawa mereka pada satu titik waktu dimana semuanya harus berubah sesuai dengan takdirnya. Sama sekali tak bisa menghindar.

 

Jadi, aku hanya manusia biasa. Apa yang bisa aku lakukan….

 

.

 

.

 

.

 

.

 

“Jadi, apa rencana hari ini?”

 

“Eum….”

 

Sungmin mengetuk dagunya menggunakan pena yang sedari tadi ia mainkan. “Aku sudah mendaftar pada salah satu sekolah, kurasa mungkin bulan depan aku sudah harus bekerja.”

 

“Baik, lalu…”

 

“Kita akan ke rumah Umma.”

 

“Umma?”

 

“Nde, ke rumah Umma.”

 

“Baik.” Kyuhyun mengangguk dan melepaskan kacamatanya. “Kurasa, aku siap untuk kerumahmu.” Kyuhyun mendekati Sungmin dan memainkan hidungnya, membuat Sungmin mau tak mau tersenyum melihat tingkah Kyuhyun.

 

“Yak, Kyunie… hentikan.” Sungmin menjauh, ia sungguh kesal saat Kyuhyun terus memainkan hidungnya. “Ish… siapa bilang akan kerumahku, aku ingin kita ke rumahmu Kyunie.”

 

“Eoh?”

 

“Kau yakin?”

 

“Aku pulang!!!”

 

“Noona….!” Sungmin langsung mendorong Kyuhyun untuk menjauh darinya. Biar bagaimanapun ia masih punya perasaan untuk hal ini. Ia tak ingin menyakiti noonanya lebih dalam lagi. “Wah, kau sudah pulang.”

 

“Nde.” Hyunming membuka beberapa tas belanjaannya. Ia tersenyum saat mengangkat salah satu dari beberapa tas itu. “Nah, Sungminnie… lihat apa yang aku beli untukmu.”

 

Hyunming mengangkat kain itu dan kemudian berjalan mendekati Sungmin. “Cuaca akan dingin di akhir bulan ini. Aku harap, syal ini akan menghangatkan nae bunny Ming.”

 

“Ish… Noona, seperti kau bukan bunny saja.” Sungmin meraih syal yang dililitkan Hyunming di lehernya. Syal berwarna hijau yang cantik. “Gomawo, noona…”

 

“Nde.” Hyunming mengangguk dan kemudian dia mengobrak-abrik belanjaannya yang lain lagi. “Nah, ini untuk Kyuhyun. Cha…” Hyunming berusaha untuk tersenyum sebaik mungkin. Meski sedikit malas, tapi Kyuhyun akhirnya menerimanya – meski harus menerima deathglare terlebih dahulu dari Sungmin-.

 

“Terima kasih untuk syalnya…”

 

“Nde, Kyuhyun-ah. Mianhe karena yang tersisa tinggal warna putih. Aku sebenarnya akan memberikanmu yang hijau sama dengan milik Sungmin. Tapi…”

 

“Gwenchana, ini saja sudah cukup.”

 

Sungmin melihat kecanggungan diantara kedua manusia itu. Sungguh, ia seperti orang jahat yang terus saja menusuk noonanya sendiri. Keadaan ini benar-benar sangat tidak nyaman.

 

“Ah… Nonna, besok aku akan kerumah Kyunie.”

 

“Wah, bagus. Ganbate!! Aku tahu, appa dan umma Cho akan senang melihatmu.”

 

Seketika raut wajah Sungmin berubah. Hyunming menyadari itu. “Hei… jangan seperti ini. Biar bagaimanapun, cepat atau lambat kau juga akan tetap menemui mereka.”

 

“Noona, bisakah kau ikut denganku. Aku…”

 

“Ming?” Kyuhyun menyela Sungmin. Sungguh, ia benar-benar tak senang dengan keadaan ini.

 

“Tapi, Kyu… aku ingin noona melihat dan mendukungku. Aku ingin dia selalu bersamaku. Kau tahu, kami sama Kyu… aku…”

 

Hyunming menggeleng dan menggenggam tangan Sungmin. “Gwenchana Ming, Noona tidak usah ikut ya. Aku janji, akan selalu mendoakanmu Bunny…..”

 

“Tapi Noona, aku ingin kau melihatku. Aku ingin kau menjadi Umma dan mendukungku. Kau tahu, aku tak bisa memberitahu Umma sekarang. Dia benar-benar bisa mati karena serangan jantung dan….”

 

“Ah… baiklah, tapi…”

 

Kyuhyun segera beranjak dari duduknya dan meletakkan syal dari Hyunming begitu saja. “Heuh… terserah kalian saja.”

 

“Kyu! Yak… Cho Kyuhyun…!”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

TBC

 

.

 

.

 

Ini alurnya mundur yah… dan saja ga tahu, ini bakal ngegantung apa cepet end… ahaha….

 

 

GamsaHAE ^_^

.