Diproteksi: Chicken Soup for Teenage Soul | Ch. 12 / end

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Iklan

Chicken Soup for Teenage Soul || Ch. 8 || sekuel CSOF

CHICKEN SOUP FOR TEENAGE SOUL

 

 

Author : rainy hearT

Length : Series

Rated : T to M

Cast :

– Cho Kyuhyun

– Lee Sungmin a.k.a Cho Sungmin

– Other SUJU and SHINEE member

-KyuMin aegya :

~ Cho Sunghyun a.k.a Sungie (N)

~ Cho Minhyuna.k.a Minhyunie (Y)

~ Sandeul b1a4  a.k.a  Cho Kyumin (N)

Haehyuk aegya

                ~ Lee Eunhae a.k.a Junior (N)

-Yewook aegya

                ~Kim Jongki a.k.a Kie (N)

 

-Zhoury Aegya

                ~ Jinyoung b1a4 a.k.a Zhoury (N)

 

-Sibum Aegya

                ~ Baro b1a4 a.k.a Sibum                (N)

-Jungmo x Leeteuk

~ Gongchan a.k.a Baby Soo (N)

– Yeoja Cast (GS)

                ~ Leeteuk            ~ Junsu’ie            ~ Taemin

                ~ Heechul            ~ Jaejong             ~ Key

Pairing : KYUMIN and Other Pair

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan dan diri mereka sendiri. Tapi Kyuhyun dan Sungmin saling memiliki. Kyuhyun milik Sungmin, Sungmin milik Kyuhyun

Genre : Romance / Family/Fantasy

Warning : Boy x Boy / BL / YAOI, gaje, typo disana-sini, EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Summarry : “Menjadi dewasa adalah IMPIAN. Setelah dewasa karena usia adalah BEBAN. Karena semua yang kita lakukan adalah sebuah bekal, untuk melangkah bersama menuju satu titik KEDEWASAAN. Dimana KEJUJURAN akan menjadi satu tali yang mengikat kebersamaan kita. Raih genggaman tanganku dan kita akan tumbuh bersama.”

.

.

.

.

GAMSAHAE untuk yang selalu setia sama KYUMIN and menanti ff ini.

Be Patient with Me please. No Copas/No Bash. Don’t Like Don’t Read.

Mianhe, jika ceritanya semakin ngawur dan juga keluar dari KyuMin. Tapi inilah Chicken Soup.

Dimana kebersamaan dan kekeluargaan itu terasa nyata.

 

As a small present for OUR LOVELY AND THE GREATEST COUPLE

Let’s save their love, 13elieve in the name of 7ove….

.

.

HAPPY READING

.

.

CHICKEN SOUP FOR TEENAGE SOUL

.

Chapter 8

.

.

Ep. Piece of heaven

.

.

.

Notice me:

 

Ni keterangan Usia and tingkatan kelas mereka.

 

~ Senior High 3rd Grade :  Cho Sunghyun (17), Cho Minhyun (17), Kim Jongki (17), Junior (17), Taemin (15), Key (16), Minho (16), Onew (17).

 

~ Senior High 1st Grade :  Zhoury (15), Sibum (15)

 

~ Primary School  5th grade : Kyumin (10), Baby Soo (11)

 

.

.

.

Rumah Sibum

 

.

 

.

 

.

 

“Hyung…”

 

“Hnn…”

 

Kyumin membalik posisinya. Ia mengerjap pelan dan berusaha menatap Sibum yang terlihat masih sibuk dengan bukunya. Ia tak pernah tahu, jika hyungnya yang satu ini sangat suka membaca.

 

“Kau selalu sibuk dengan bukumu, mirip Kibum Mommy…” Kyumin berucap lirih kemudian duduk berhadapan dengan Sibum.

 

“Yah, mungkin saja. Besok aku ada sedikit tes lisan. Kau tahu bukan, tak selamanya bahasa Inggris itu mudah. Dan aku harus belajar karena besok aku harus menceritakan satu kisah atau dongeng dengan bahasa inggris.”

 

Kyumin mengangguk kecil, lalu  melihat buku yang tengah di baca Kibum. “Chicken Soup for Teenage Soul.”

 

“Nde.”

 

“Apa bagus?”

 

“Tentu saja, tapi sayang ceritanya berbahasa Inggris.” Sibum akhirnya menyudahi kegiatannya saat melihat Kyumin yang malah sibuk menatap padanya. Ia melepaskan kacamatanya dan menarik namja itu untuk duduk dan bersandar didadanya. “Mianhe jika mengganggumu, aku kira kau sudah tidur. Kemarilah.”

 

Kyumin mendekat dan membiarkan Sibum memangkunya. Sibum memeluk tubuh mungil itu dan mencium kecil pelipisnya. Hingga akhirnya ia menjadi ketagihan dan mencoba untuk merasakan lebih dan lebih.

 

“Hahaha… geli hyung…”

 

Kyumin tertawa kecil saat merasakan nafas dan ciuman kecil Sibum mulai menggelitik telinganya. Ia terus menggeliat pelan dan kemudian membalikkan tubuhnya dan berhadapan langsung dengan Sibum.

 

“Harusnya kau sudah tidur, anak nakal.” Sibum mulai menggelitik pinggang kecilnya. Membuat Kyumin semakin bergerak tak tentu arah.

 

“Yah, hentikan. Hahaha… geli hyung, ayo hentikan… ahhahhaa….” Kyumin tampak menikmati permainan malam mereka, hingga akhirnya Sibum menghentikan candaannya dan kemudian ia diam. Menatap intens pada wajah merah Kyumin.

 

“Hhaha… akhirnya kau berhenti menggelitikku hyung, aish… geli sekali.”

 

Sibum tak mempedulikan ucapan Kyumin, ia hanya tersenyum manis dan kemudian menatap tanpa kedip pada tubuh mungil berbalut piyama kuning yang di pakai Kyumin. Piayama yang cukup kebesaran hingga menampakkan bagian leher yang sungguh putih mungkin terasa manis.

 

“Jangan melihatku seperti itu hyung, kau membuatku takut.”

 

Sibum tersenyum kecil. “Benarkah?”

 

“Nde…. takut dan malu. Hehehe…” Kyumin tertawa polos dan dengan wajahnya yang menggemaskan itu ia terlihat semakin menggoda di depan Sibum. Entah sengaja atau tidak, Kyumin menarik kerah piyamanya seakan tengah menunjukkan leher jenjangnya.

 

.

Grep…

.

 

“Eoh…”

 

Kyumin mengerjap bingung saat merasakan lengan Sibum yang tiba-tiba saja memeluk tubuhnya. Sibum menyamakan posisi wajahnya dengan Kyumin, hingga kedua pasang mata mereka saling bertemu. Sibum bisa merasakan nafas Kyumin yang sudah tak stabil lagi.

 

“Apa kau berdebar?”

 

Kyumin mengangguk pelan dan ia sedikit mundur saat Sibum denga cepat mendekati wajahnya dan mencuri ciuman kecil di pipinya. Wajah Kyumin merona merah. “Kau sangat lucu…”

 

“Dan hyung sangat tampan.” Pipi Kyumin merona merah. Ia sedikit tersentak saat merasakan ciuman kecil di pipinya. “Ish… kenapa menciumku?”

 

“Hnnn… hanya ingin saja. Wae? Tak bolehkah?”

 

“Tidak.” Kyumin mempoutkan bibir tipisnya dan menggeleng pelan. “Harusnya kau memintanya dariku, kenapa harus mencuri-curi seperti itu?”

 

“Eum, kalau begitu sekarang aku meminta. Bolehkah?” Sibum bertanya dengan suara memelasnya. Tapi sesungguhnya ia tersenyum dan menyeringai seram didalam hati.

 

“Eum… bagaimana yah? Boleh tidak yah…” Kyumin memasang pose berfikir yang begitu menggemaskan. Terlebih ia sedikit memainkan bibirnya dan mengetuk-ngetukkan jari telunjukknya di dagunya.

 

“Aku akan memberikanmu permen yang sangat manis yang bahkan tak akan bisa kau beli meski tabunganmu sudah banyak.”

 

“Benarkah?”

 

“Nde, tentu saja.”

 

“Bolehkah akutahu apa itu?”

 

Sibum tersenyum aneh err… sedikit menyeringai dan menggeleng. “Tak boleh. Harus deal dulu…”

 

“Baiklah kalau begitu. Deal…” Kyumin kembali mengangguk imut dan jarak antara mereka semakin dekat. Kyumin masih duduk di pangkuan Sibum, namun sekarang posisi mereka berhadapan. dan Sibum bisa dengan mudah melihat wajah menggemaskan itu meski hanya dengan cahaya lampu yang remang.

 

Sibum kembali melingkarkan lengannya untuk mengunci tubuh Kyumin. “Tapi tutup matamu.”

 

“Kenapa harus menutup mata?” Kyumin kembali memasang aegyo dan wajah polosnya. Ia memiringkan kepalanya sedikit dan seolah tengah merajuk pada Sibum.

 

“Sudah, tutup saja.”

 

Meski awalnya ragu tapi Kyumin akhirnya menutup kedua matanya. Namja mungil itu bersiap menunggu apa yang akan dilakukan Sibum padanya. Namun, entahlah….

 

Ia harus terkejut atau bagaimana saat merasakan serangan yang tiba-tiba dari Sibum. “Hnnn…..” Kyumin melenguh kecil saat merasakan ciuman dadakan yang cukup memaksa dari Sibum. Entahlah, tapi Sibum begitu menikmati permainannya meski Kyumin tak bisa merespon apa yang ia lakukan. Baginya sudah cukup saat Kyumin meremas lembut pinggangnya dan nafas yang terengah dan menimbulkan sedikit suara desahan lembut itu cukup bisa membuat Sibum semakin menginginkan namja mungil ini.

 

“Eunngghhhh…. hhhh….”

 

Kyumin kembali melenguh saat merasakan lidah Sibum membelit kuat lidahnya. Membuatnya menjadi sedikit berani untuk ikut bermain dengan lidah pintar Sibum. Mereka berdua baru saja akan hanyut dalam permainan kecil mereka hingga akhirnya…

 

“Ehhemm…!”

 

“Eh…”

 

Kedua namja polos nan lucu itu langsung menjauhkan tubuh mereka saat mendengar deheman keras dari namja tinggi besar yang kini tengah berdiri tegak sambil menggelengkan kepalanya dan bersandar nyaman di pintu kamar Sibum.

 

“Jadi ini yang kalian lakukan malam-malam?” Namja besar itu melangkah pelan dengan gayanyayang sedikit menakutkan membuat Kyumin semakin menunduk dalam dan meski Sibum sudah memeluk tubuhnya, ia tetap saja merasa takut.

 

“Daddy, kau mengganggu saja.” Sibum sedikit kesal dan menatap tajam pada namja besar itu.

 

“Hei, kau yang tak tahu diri. Masih kecil sudah mengajari Kyumin yang tidak-tidak.” Namja itu, Choi Siwon beralih menatap Kyumin dan kemudian duduk disisinya. “Hei, ayo tidur dengan Won dad. Jangan tidur dengan setan mesum seperti dia.”

 

“Eum…” Kyumin mengangkat wajahnya. “Tapi aku ingin tidur dengan Sibum hyung, boleh ‘kan?”

 

“Kau bisa habis jika tidur dengan dia disini.”

 

“Hei daddy… ayolah. Aku hanya menciumnya, apa salah? Ish…” Sibum yang gemas akhirnya mendorong Siwon untuk beranjak dari duduknya dan mendorong namja itu untuk keluar. Meski tubuh Siwon besar bukan berarti dia bisa menang melawan kemauan keras Sibum.

 

“Daddy… pergilah… uuuhhhhh…” Sibum terus mencoba mendorong Siwon hingga akhirnyamereka ada di dekat pintu.

 

“Hei … tapi Kyumin tak aman denganmu.” Siwon mencoba berbalik lagi dan kembali mendekati Kyumin. Tapi kemudian dengan sedikit berjinjit, Sibum menarik lengan Siwon dan mencoba berbisik ditelinga namja itu.

 

“Hei … daddy, dengarkan aku. Aku punya rahasia.”

 

“Mwo? Rahasia apa? Kau menyembunyikan porn movie yah?”

 

“Ck… ahni, bukan itu. Tapi rahasia di kantormu.”

 

“Eoh?” Siwon mengernyit aneh. Ia mencoba mengingat-ingat satu hal terakhir ini. “Kau pasti sedang mempermainkan daddy. Sudahlah, kemarikan Kyumin biar dia tidur dengan Mommy dan daddy…”

 

Tapi Sibum malah menarik kencang lengan Siwon, lalu ia kembali berbisik dengan sangat pelan. “Daddy, turst me or I’ll tell mommy if you’ve got new secretary and she was so damn HOT.”

 

“Mwo?” Siwon mendelik hebat. Ia tak  habis pikir, darimana namja pervert ini tahu. “Hei … darimana kau tahu?”

 

“Sudahlah daddy, kau tak perlu tahu aku tahu dari mana. Yang penting sekarang, pergi atau kau akan mati ditanganku.”

 

 Siwon menghela nafasnya. Ia benar-benar harus ekstra hati-hati dengan Sibum. “Ishhh…. baiklah, aku akan pergi. Tapi jangan kau apa-apakan Kyumin, aku tak mau kau  berbuat mesum padanya. Kau  dan dia masih kecil.”

 

Sibum mengangguk yakin. “Tenanglah appa, dia aman… seaman rahasiamu. Hahha…”

 

.

Blammmm…

.

 

“Kyuminnie…”

 

Sibum memanggil lembut nama itu dan kemudian mendekati namja yang masih sedikit shock melihat kelakuan anak dan appa ajaib itu.

 

“Apa tidak apa-apa hyung? Sepertinya, appamu marah dan itu sangat menyeramkan.”

 

Sibum mengacuhkan Kyumin dan ia mulai duduk didepan namja mungil itu. Kemudian membenarkan poninya dan menyematkan rambut berantakkan itu ke belakang telinganya, “Kau sangat manis, bahkan lebih manis dari Mommy.”

 

“Eoh… benarkah?”

 

“Nde.” Sibum mengangguk dan semakin mendekati wajah Kyumin. “Eum… bolehkah aku melakukannya lagi.”

 

“Apa?”

 

“Ini…”

 

Dan Kyumin, kembali sedikit memundurkan tubuhnya saat melihat namja di depanya tengah memejamkan kedua matanya dan semakin mendekatkan wajahnya. Ia tersentak kembali sata merasakan ciuman kecil Sibum yang lembut. Bibir itu terasa sangat kenyal dan manis.

 

Tubuh Kyumin semakin lama melemas dan pasrah. Ia membiarkan Sibum kemudian membaringkan tubuhnya dan mulai bermain dengan lidahnya. Lidah nakal itu membelit dan memainkan lidah sibum. Sementara kedua tangan Sibum tengah sibuk mengusap pipi dan leher Kyumin.

 

Ciuman yang benar-benar basah dan panas hingga tubuh kecil Kyumin mulai menggeliat tak karuan terlebih saat ia merasakan daging basah itu mulai memainkan telinganya.

 

“Ahnnn…. hyunggg…. “

 

.

 

.

 

.

 

“No Crown Prince No Schnee.”

 

“Ya!!! Jangan bicara itu terus.” Yesung lama-lama kesal dengan Raja peri yang sedari tadi sibum memainkan tongkatnya dan terus saja bergumam aneh. Sementara Kie dan Minhyun sepertinya amsih asyik dengan dunia mereka.

 

Mereka masih bingung memikirkan bagaimana kelanjutan semuanya. Sekarang mereka tengah duduk di taman belakang. Menatap rimbunnya tanaman bunga di rumah kaca yang ada di sana.

 

“Mianhe…”

 

Minhyun mengucap lirih. Ia seakan sadar jika ini adalah kesalahannya dan Sunghyun. Jika saja dulu mereka tak memaksakan kelahiran Kyumin, mungkin saja Kie tak akan kehilangan Wookie.

 

Minhyun sudah menunduk dalam. Ingin rasanya dia berteriak dan menangis keras, tapi sayang dia tak bisa. Hanya terisak lirih akhirnya. Kie mendekat perlahan pada yeoja itu dan mendekapnya kuat. Meraih bahunya dan menciumi pelipis Minhyun. “Gwenchana chagi. Itu tak sepenuhnya salahmu.”

 

“Hiksss… tapi… hikss….”

 

“Ssshhh….”

 

“Kie….” Minhyun membalik tubuhnya dan memeluk erat pada pinggang Kie. Melesakkan kepalanya ke dada Kie. “Bagaimana ini? Bagaimana jika kau harus tinggal di tempat raja peri? Bagaimana denganku?”

 

Minhyun mengangkat wajahnya dan mencoba melihat wajah Kie. “Bagaimana denganku, Kie? Hikss…. “ Akhirnya tangis itu pun pecah. Ia sungguh kalut memikirkan bagaimana dengan mereka selanjutnya. “Hiksss… memikirkannya saja sudah membuatku hampir gila. Hikkss…”

 

Kie semakin merapatkan pelukannya. Ia juga tak tahu harus berbuat apa, tapi inilah kenyataan dan mungkin sama saja bagi Kie. Dia juga tak menginginkan ini.

 

.

 

.

 

.

 

“Jadi bagaimana?”

 

Kie mengambil nafasnya. Tangannya masih menggenggam kuat jemari Minhyun. Sesungguhnya ini sangatlah berat, tapi tak mungkin jika ia membiarkan  Wookie menghilang. “Aku akan ikut denganmu.”

 

“Baguslah, kau mengambil keputusan yang tepat.” Raja peri mendekati Kie, sementara Yesung sama sekali tak berkutik dan tak bisa berbuat apapun. Ia hanya bisa berharap inilah yang terbaik bagi mereka semua.

 

Mata cantik Minhyun sudah begitu sendu, rasanya ia ingin menghilang saja saat ini. “Raja peri yang teragung… hikss… b-bisakah kau tak mengambil Kie. Hiksss…”Minhyun mencoba memohon dan mendekati raja peri. “Kau tahu, hikss… aku bahkan  baru saja merasakan semuanya. Kebahagiaanku bersama Kie. Aku mencintainya, lebih dari apapun jadi jebal… hiksss jangan ambil dia. Biarkan dia kembali, aku mohon…”

 

Raja Peri hanya menghela nafasnya. “Huah…. manusia sama saja. Mereka selalu saja menyusahkan aku.” Raja peri itu mengusap pelan jenggot panjangnya dan kemudian menatap Kie dan Minhyun. Ia berganti menatap pada kedua bocah itu. “Aku tahu, kalian sudah melakukkannya.”

 

Raja Peri menyeringai penuh dan sedikit menyungginggkan senyumannya. “Baiklah, kita akan bernego dengan Schnee.”

 

“Apa maksudmu?” Yesung mendekat. “Jangan katakan kau akan mengambilnya.”

 

Raja peri menatap sinis pada Yesung. “Bukan urusanmu. Sebaiknya  kau berfikir lagi. Bukankah aku baik? Aku tak marah kau mengambil putraku. Aku juga tak marah kau selalu seenaknya, dan menghilangkan putraku. Dan sekarang giliranku.”

 

Raja peri meraih tangan Kie dan menyeretnya  untuk berdiri disisinya. “Kau akan pergi bersamaku dan kita akan memunculkan Schnee.” Lalu raja peri memainkan tongkatnya dan mengucapkan mantra. “Apparere…!!!”

 

Munculah didepan mereka satu tabung pengukur waktu dan satu tabung besar lainnya dengan sinar keunguan yang ada didalamnya. “Ini adalah tabung waktu untuk pengukur 7 hari di dunia peri. Itu artinya sama saja dengan 1 hari di dunia manusia.”

 

“Lalu apa yang akan kau lakukan dengan tabung ini?”

 

Raja peri tersenyum penuh menatap Yesung. Ia kemudian kembali memainkan tongkatnya hingga membentuk cahaya ungu yang membulat. “Perjanjian dengan Schnee adalah perjanjian sakral. Dia bukan hanya peri salju abadi, tapi juga penjaga dunia peri. Seharusnya Kie yang menjadi keturunan peri meneruskan tahta. Tapi kita akan mencobanya, mungkin saja keturunan setengah peri setengah manusia bisa membuatnya luluh.”

 

“Apa maksudmu?”

 

Raja peri mengacuhkan Yesung dan terus memutar tongkatnya. “Didalam perut itu akan ada keturunanku. Keturunan Raja Peri Zheech.” Raja Peri menunjuk pada Minhyun tepat diperutnya. “Dan keturunan itu akan hidup di dunia peri jadi, signum et quietam…!”

 

.

Brak…

.

 

“Ahni!!!”

 

Terlihat namja itu langsung mendekat ke posiis Minhyun tadi. Yeoja itu diam dan kemudian lemah hingga tubuhnya ambruk dan dengan sigap Sungmin menangkapnya. “Yah! Apa yang kau lakukan dengan anakku.”

 

“Hahhaa… anakmu? Apa kau sedang bercanda? Hahahhaha….”

 

“Kau apakan anakku? Minnie chagi… bangunlah…”

 

Tapi sayang, meski harus bagaimanapun Minhyun tak akan bangun. “Tunggulah hingga besok hari dan dia akan bangun kembali. Sekarang aku meminjamnya.  Hhhhaha…”

 

“Mwo?”

 

Evanescunt…”

 

Dan mereka menghilang dengan mudah. Meninggalkan 3 namja dewasa yang terlihat begitu linglung dan kalut. “Hikss… Minnie baby…”

 

Sungmin memeluk erat tubuh Minhyun yang lemas. Tubuh itu sudah tak berjiwa…

 

Sungmin membawanya ke pelukannya dan menyerahkannya pada Kyuhyun. “Lihatlah Kyu… hikss…. aku tak akan mengampuni diriku sendiri jika dia sama sekali tak bisa hidup kembali. Hikss…”

 

“Mianhe…” Yesung melangkah dan mendekat pada Sungmin dan Kyuhyun yang masih memelik tubuh Minhyun. “Meski aku tak tahu harus bagaimana, aku percaya jika Minhyun dan Kie akan kembali dan membawa Wookie.”

 

“Tenanglah Ming, kita harus kuat untuk Minhyun.”

 

Kyuhyun mencoba tegar dan memeluk Minhyun dan Sungmin dalam satu rengkuhannya. Mencoba meyakinkan dirinya sendiri jika semua memang baik-baik saja.

 

.

 

.

 

“Minnie…”

 

Sunghyun tersentak bangun dari tidurnya. Ia mencoba duduk namun rasa sakit di bagian bawah tubuhnya membuatnya mengurungkan niatnya. Entahlah, perasaannya sangat tidak enak. Ia sungguh takut dan kalut sekarang. Entah apa yang terjadi dengan Minhyun, tapi yang ia tahu di hatinya terasa sangat sakit namun sepi.

 

Sunghyun mencoba mengusir pikiran-pikiran anehnya, dan mencoba berfikir positif. Ia kemudian mencoba meraih ponselnya dan hanya melenguh pelan saat melihat  jam di ponselnya.

 

“Sudah jam 9 pagi.” Sunghyun menoleh ke sampingnya. Tersenyum kecil saat menemukan  Junior yang masih tidur dengan lelap. Ia kembali melihat ponselnya dan segera  menelfon. Menunggu beberapa saat hingga akhirnya ia tersambung dengan nomor yang ia tuju.

 

“Yobosseoyo, saengil chukkae…”

 

‘Sungie…’

 

“Eoh, Mommy…” Sunghyun mengernyitkan dahinya saat mendengar suara Sungmin. “Apa yang Mommy lakukan disana? Bukankah ini ponsel Kie?”

 

‘Minnie baby… hiks… bagaimana dengan Minnie baby, Sungie…’

 

“Apa maksud mommy?”

 

Dia menghilang.’

 

.

 

.

 

.

 

Setelah telfon itu, Sunghyun langsung membangunkan junior dan langsung berpamitan untuk pergi ke rumah Kie. Disana, ia menemukan Sungmin yang masih menggenggam kuat jemari Minhyun. Sungmin yang terlihat sangat terpuruk.

 

“Mom…”

 

“Hikss…. Sungie…” Sungmin mencoba mengusir air matanya yang terus saja mengalir. Ia membiarkan Sunghyun memeluknya. “Lihatlah Minnie baby… hikss… bagaimana bisa dia meninggalkan aku seperti ini…”

 

.

 

.

 

.

 

 Hari pertama di Kerajaan Peri

 

.

 

.

 

.

 

“Hidup Raja Peri Zheech!”

 

Seruan di teriakkan oleh seluruh peri kasta rendah dan juga bangsawan saat melihat sinar keungunan tiara raja peri itu terlihat dari kejauhan.  Tubuh Kie yang sudah berubah menjadi mungil dan juga berwarna hijau berhasil mengundang perhatian dari seluruh penghuni kerajaan peri.

 

“Tenanglah semua rakyatku.” Raja peri itu terbang ke angkasa dan terbang diatas semua penghuni kerajaannya. Cahaya ungunya membuatnya terlhat berbeda diantara semua peri bercahaya pink dan biru. Cahaya pink untuk kasta bangsawan dan biru untu kasta rendahan.

 

Rraja peri kemudian menggantung satu tabung berisikan jiwa Minhyun di tengah altar persembahan untuk Peri salju abadi.

 

“Dengarkan aku wahai rakyatku! Sambutlah, calon putra mahkota kita…” Tangan raja peri mengayun pada Kie. “Dia , Rakhie….”

 

Semua rakyat bersorak gembira saat melihat sosok Kie berdiri di tengah altar. Tubuhnya yang berbalut pakaian senada daun dan cahaya kehijauan membuatnya terlihat semakin berbeda.

 

Raja peri kemudian menyalakan kembali tongkatnya. Ia mengarahkan pada Kie. “Wahai keturunanku, keturunan Raja Peri Zheech! Keluarkanlah kekuatanmu dan pimpinlah kami. Vires et exsurge Domine filiorum!”

 

Cahaya ungu itu menerpa tubuh Kie hingga kemudian saat cahaya itu menghilang, di punggung Kie…

 

“Sayap…” Kie menggumam lirih saat melihat sayap tumbuh di punggugnya. Kemudian Kie menggeleng sedikit erat saat merasakan pusing di kepalanya. “Apa lagi ini? Akhhh  appo…”

 

Kie terus menggeleng cepat. Ia merasakan begitu banyak teriakan dan suara yang terus menggema di telinganya. “Hafalkanlah Putraku… itulah mantramu. Hahhaa..” Raja Peri ytertawa keras diiringin dengan seruan keras oleh rakyatnya. “Long lifetime,my Majesty!!!”

 

“Nah … dengarkan aku.” Raja peri melangkah mendekat pada Kie kemudian mengajaknya untuk duduk bersamanya disinggasana  mungilnya. “Kaulah keturunan peri. Kita akan melakukan penawaran sengan Schnee. Berdo’alah jika dia akan menerima janinmu yang hidup di perut yeoja itu atau jika tidak, maka kalian berdua akan tetap tinggal di kerajaan peri.”

 

Kie mengangguk paham. “Aku mengerti. Hanya saja aku masih tak bisa menerima jika Minhyun harus terjebak juga disini.”

 

Raja peri tertawa kecil. “Itu salahmu sendiri, karena kau menghamilinya. Hhahahhaaa….”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

TBC

.

.

.

.

 

Gimana lanjutannya? Hhhahhaha… garing and ngarang abis. Adeuh… sempet ga pede ma scene perinya.

 

Typo-nya banyak… haish ga sempet edit.

 

Lama Update, Udah gitu pendek pula… Udah biasa…

 

 

Mind to RCL?

 

GAMSAHAMNIDA

^____^

Chicken Soup for Teenage Soul || SEKUEL CSOF || ch. 4||

 

 

Author : rainy hearT

 

Length : Series

 

Rated : T to M

 

Cast :

– Cho Kyuhyun

– Lee Sungmin a.k.a Cho Sungmin

– Other SUJU and SHINEE member

 

-KyuMin aegya :

~ Cho Sunghyun a.k.a Sungie (N)

~ Cho Minhyun a.k.a Minhyunie (Y)

~ Sandeul b1a4  a.k.a  Cho Kyumin (N)

 

Haehyuk aegya

~ Lee Eunhae a.k.a Junior (N)

 

-Yewook aegya

                ~Kim Jongki a.k.a Kie (N)

 

-Zhoury Aegya

                ~ Jinyoung b1a4 a.k.a Zhoury (N)

 

-Sibum Aegya

                ~ Baro b1a4 a.k.a Sibum                (N)

 

-Jungmo x Leeteuk

~ Gongchan a.k.a Baby Soo (N)

 

– Yeoja Cast (GS)

                ~ Leeteuk            ~ Junsu’ie            ~ Taemin

~ Heechul            ~ Jaejong             ~ Key

 

Pairing : KYUMIN and Other Pair

 

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan dan diri mereka sendiri. Tapi Kyuhyun dan Sungmin saling memiliki. Kyuhyun milik Sungmin, Sungmin milik Kyuhyun

 

Genre : Romance / Family/Humor (dikit)

 

Warning : Boy x Boy / BL / YAOI, gaje, typo disana-sini, EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

 

Summarry : “Menjadi dewasa adalah IMPIAN. Setelah dewasa karena usia adalah BEBAN. Karena semua yang kita lakukan adalah sebuah bekal, untuk melangkah bersama menuju satu titik KEDEWASAAN. Dimana KEJUJURAN akan menjadi satu tali yang mengikat kebersamaan kita. Raih genggaman tanganku dan kita akan tumbuh bersama.”

.

.

.

.

GAMSAHAE untuk yang selalu setia sama KYUMIN and menanti ff ini.

 

Be Patient with Me please. No Copas/No Bash. Don’t Like Don’t Read.

 

Mianhe, jika ceritanya semakin ngawur dan juga keluar dari KyuMin. Tapi inilah Chicken Soup.

Dimana kebersamaan dan kekeluargaan itu terasa nyata.

 

As a small present for OUR LOVELY AND THE GREATEST COUPLE

Let’s save their love, 13elieve in the name of 7ove….

.

.

HAPPY READING

.

.

CHICKEN SOUP FOR TEENAGE SOUL

.

Chapter 4

.

.

Ep. Hurt or Comfort

.

.

.

Notice me:

 

Ni keterangan Usia and tingkatan kelas mereka.

 

~ Senior High 3rd Grade :  Cho Sunghyun (17), Cho Minhyun (17), Kim Jongki (17), Junior (17), Taemin (15), Key (16), Minho (16), Onew (17).

 

~ Senior High 1st Grade :  Zhoury (15), Sibum (15)

 

~ Primary School  5th grade : Kyumin (10), Baby Soo (11)

 

.

.

.

.

.

.

.

Kyumin baby x Sibumie

.

.

.

“Eoh? Kenapa kita ke game centre?” Sibum menoleh ke arah Kyumin yang duduk disisinya. Saat ini mereka berhenti ditengah jalan. “Bukankah kau bilang kita akan main? Setidaknya jangan ke game centre? Ayolah aku tahu, kau pasti akan mengabaikan aku disana?”

 

Kyumin mempoutkan bibirnya. “Aku ‘kan bilang main. Main itu artinya game centre, aku mau membeli kaset game terbaru. Ayolah, aku sudah mengumpulkan banyak uang dan juga membohongi Mommy. Jebal… antarkan aku kesana?”

 

Puppy eyes mematikan dari seorang anak berumur 10 tahun yang sepertinya akan melakukan apa saja untuk game kesayangannya. Sungmin memang melarang supirnya untuk mengantar Kyumin ke game centre. Alasannya, mudah saja. Karena Kyumin sama seperti Kyuhyun yang akan mengabaikan apa saja demi game. Termasuk dengan jam tambahannya untuk acceleration class.

 

“Tapi Kyumin-ah, aku…”

 

“Ayolah, jebal…” Kyumin menyatukan kedua tangannya dan wajah menggemaskannya di buat begitu kasihan dan melas, hingga akhirnya Sibum menyerah.

 

Sibum menghela nafasnya, ia benar-benar tak bisa menolak Kyumin jika sudah begini. “Baiklah, aku antarkan. Tapi hanya membeli kaset game.”

 

“Nde, tentu saja. Dan setelah itu kau harus mengantarku ke taman bermain. Aku mau ke Lotte World karena Minnie noona akan ke Everland. Dan kita bisa mencoba semua wahana. Wha!!! Aku senang sekali. Eum… hyung…” Kyumin menghentikan ceritanya kemudian merogoh dompet kecil berwarna kuning yang ia bawa.

 

“Lihatlah… “ Kyumin menunjukkan isi dompetnya yang penuh dengan uang recehan. Memang, Sungmin tak memberikan uang lebih, dan karena alasan yang sama. Selalu game saja yang ada di otak Kyumin. Ck…. ck… ck…

 

“Uangku hanya cukup untuk membeli kaset game. Dan kau tahu, aku belum makan. Hikss… aku kasihan sekali.” Kyumin baby berpura-pura menangis. “Padahal, aku sudah meminta uang lebih pada Mommy tapi Mommy bilang aku masih kecil jadi hiksss… aku..”

 

Sibum tersenyum gemas menatap Kyumin. Ia mencubit kecil pipi menggemaskan namja cilik itu. “Haish… ya sudahlah. Jangan berpura-pura menangis seperti itu. Tanpa kau minta pun aku yang akan membayarnya.”

 

“Eoh? Jinjja!”

 

Sibum mengangguk dan tersenyum.

 

“Semuanya?”

 

“Nde tentu saja, semuanya. Makananmu, tiketnya dan juga ice cream-mu dan semua yang kau inginkan.”

 

Kedua mata itu berbinar dan dengan cepat Kyumin memeluk Sibum. “Wah… Sibum hyung baik sekali. “Tapi saat menyadari bahwa tubuh Sibum langsung kaku dan diam, kemudian Kyumin menghentikan teriakannya dan dengan cepat melepaskan pelukannya.

 

Wajah menggemaskan Kyumin itu semakin cantik dengan rona merah dan senyuman yang lucu. Hei, biar bagaimanapun dia hanya anak berumur 10 tahun. “Mianhe Hyung, aku hanya terlalu senang.”

 

Sibum hanya tersenyum kemudian mengacak rambut Kyumin. “Gwenchana. Aku senang kau memelukku.” Sibum tersenyum aneh dan mensejajarkan wajahnya  dengan wajah Kyumin. Jantung Kyumin semakin berdetak kencang.

 

“Jangan melihatku seperti itu Hyung, kau membuatku takut…” Kyumin memundurkan wajahnya dan itu malah membuat Sibum semakin memajukan tubuhnya. Kemudian dengan cepat lengan Sibum menahan punggung Kyumin. “Hei, aku mau minta bayaranku dulu sebelum aku menjadi supirmu hari ini.”

 

“Mwo? Bayaran?” Kedua mata Kyumin berubah sendu. Sepertinya ia akan menangis betulan.  Kau kan tahu, aku tak punya uang hyung. Hiksss… huweee….” Kyumin kembali memasang wajah memelasnya dan berpura-pura menangis.

 

Sibum tersenyum dan mengusap rambut hitam Kyumin.   “Tutup matamu.”

 

“Eoh? Tapi hyung…”

 

“Sudah, tutup saja.”

 

Kyumin menutup  kedua matanya dan tiba-tiba Kyumin bisa merasakan sesuatu. Angin yang hangat yang semakin dengat dengannya. Detak jantungnya pun semakin cepat. Dan bertambah cepat saat Kyumin merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibir mungilnya. Ia membuka kedua matanya dan semakin kaget saat ia melihat mata Sibum menutup dan menikmati ciuman kecilnya…

 

.

Sreeet…

.

 

“Huwa!!!!”Kyumin mendorong Sibum dan berteriak. “Yah! First kiss-ku… waeyo… hikss…. hikss…” Kyumin memasang wajah sedihnya.

 

“Ck… ayolah, kau juga tahu aku suka mencium bibir Mommy dan Daddy-ku.”

 

“Tapi itu first kiss-ku Hyung. Harusnya aku melakukannya dengan Hyung beberapa tahun lagi. Kalau sekarang aku kan masih kecil. Jadi … eum itu…”

 

“Eoh? Ternyata kau mengharapkannya denganku yah? Ayo bilang saja kau menyukaiku…”

 

“Ah, ahni. Itu hanya…”

 

“Hei jangan mencoba mengelak. Kau tadi dengan jelas mengatakannya.”

 

“Yah, tapi bukan seperti ini. Eum maksudku, aku masih kecil dan itu first kiss ku jadi aku…”

 

“Eoh? Hei… ternyata uri magnae juga  nakal ya?” Sibum mencolek pipi Kyumin dan kembali mendekatkan wajahnya. “Ck… bukan begitu. Harusnya ‘kan lebih romantis. Eum, seperti Mommy dan Daddy. Tadi pagi aku melihat mereka berciuman dan kemarin dan kemarinnya lagi. Huh… ciumannya lain, tidak seperti tadi.”

 

“Eoh… nappeun magnae. Kau mengharapkan yang seperti apa???” Sibum sudah semakin mendekati Kyumin dan begitu lenganya kembali melingkar di pinggang namja berumur 10 tahun itu. “Beginikah…?”

 

Bibir Sibum kembali menemukan rasa manis pada bibir Kyumin. Bibir tipis yang terasa kenyal dan juga lembut, manis dan seperti mempunyai daya tarik tersendiri yang membuat Sibum begitu menikmati permainannya pada bibir yang terus menutup itu. Hingga akhirnya ia gemas sendiri, kemudian sedikit melepaskan ciumannya.

 

“Bukalah mulutmu.”

 

“Eoh?” Wajah polos itu sama sekali tak mengerti dengan apa yang akan dilakukan Sibum. Ia masih saja sibuk mengatur jantung dan nafasnya yang semakin sesak.

 

“Aku akan mengajarimu…”

 

“Eum it…emhhh…..hhhmmmmm…eummmmhh…”

 

Sibumie yang pervert tak akan bisa menolak polosnya Kyumin baby yang dibungkus dengan tubuh yang hanya berbeda  20 cm darinya. Salahkan sendiri Kyumin baby tumbuh terlalu cepat hingga fisiknya tak seperti anak 10 tahun lainnya.

 

Dan biarkan Sibum mendapatkan hadiahnya untuk kencan mereka hari ini. Sementara Kyumin, biarkan dia merasakan apa yang di rasakan Minhyunie saat kecil dulu. Huah… first kiss memang ajaib.

.

.

.

.

Seoul International Multischool

.

.

.

.

“Hei, kau kenapa?” Junior merangkul leher Sunghyun yang masih saja diam di dalam kelas. Tadinya Junior akan mengajak Sunghyun untuk ke kantin, tapi sepertinya uri Oppa sedang tak ingin melakukan apapun sekarang.

 

“Gwenchana. Hanya malas saja, sudah sana. Kalau kau lapar pergi saja menyusul Minnie dan Kie.”

 

Tapi Junior tetap di tempatnya. Ia melepaskan rangkulannya pada leher Sunghyun dan menyandarkan tubuhnya pada meja di pelakangnya. Jadi posisi sekarang, Sunghyun dan Junior saling berhadapan.

 

Junior menatap dalam pada wajah Sunghyun seakan dia tengah mencari tahu apa yang terjadi dengan Hyungya itu. “Hei, apa karena Key? Bagaimana kencanmu kemarin?”

 

“Huah….” Sunghyun mendesah kesal. “Entahlah, mungkin aku saja yang bodoh.”

 

“Eoh? Kenapa bisa begitu?”

.

.

.

Flashback On

.

.

Sunghyun POV

.

.

“Saranghae….”

 

Dengan semua keberanianku, aku mengatakannya pada Key. Dan lihatlah, wajah cantik itu begitu merona merah. Ya Tuhan, inilah keindahan sesungguhnya. “Neomu yepeeo…”

 

Dia masih terdiam, mungkin saja dia sedang memikirkan jawabannya untukku. Tapi aku harus terkejut dan kecewa sekarang, saat aku mulai mencoba mendekatinya dan mencium pipi putihnya lagi.

 

“Ah… ahniya…”

 

Dia memalingkan wajahnya dan menghindariku. Baiklah, aku mungkin tegar tapi untuk pertama kalinya aku menyatakan perasaanku dengan seorang yeoja dan aku ditolak olehnya kurasa itu bukan hal yang baik.

 

Wajah cantik itu menunduk dan tak mau menatapku. Aku sediki menjaga jarak dari Key, mulai mengangkat wajahku dan melihat ke atas. Dedaunan hijau yang terus saja bergerak karena tertiup angin, perlahan seperti membuat kedua mataku semakin perih….

 

“Aku tak bisa Oppa, mianhe…”

 

“Gwenchana Key….” Sesungguhnya aku begitu sakit saat mendengarnya. Aku berharap ini hanya mimpi tapi tak mungkin. Inilah nyata, dan aku merasakan kedua tangan Key menggenggam erat jari tangan kananku. Kedua mata cantik itu menatapku lembut.

 

“Hei, kenapa matamu merah. Jangan menangis Key…”

 

“Ahni, Oppa. Hajiman… aku…”

 

“Sudahlah, aku akan baik-baik saja.”

 

“Ahniya.” Key menggeleng cepat. Kedua mata cantiknya semakin merah dan semakin mulai mengalirkan air matanya. Hatiku lebih sakit jika seperti ini. Key mencoba menghentikan tangisnya. “Seandainya… huksss… Oppa mengatakannya dari dulu, saat aku mengharapkan Oppa mungkin saja aku… hukksss…”

 

“Eoh? Maksudmu?”

 

Key melepaskan genggaman tangannya padaku dan kini mulai sibuk meremas genggaman jarinya sendiri. Aku tahu, dia sedang gelisah. “Waktu itu, aku menunggu Oppa. Berharap saat itu Oppa akan menyatakannya, saat kita hanya berdua waktu perayaan ulang tahun Oppa. Tapi, ternyata Oppa tak mengatakan apapun.”

 

Mata itu menatapku lembut, inikah kesalahanku? “Dari dulu aku selalu menyusahkan Oppa, dan aku selalu menganggap Oppa adalah orang terbaik yang pernah aku kenal. Bahkan rasanya seperti mimpi saat Oppa menciumku di hari ulang tahunmu itu. Tapi mengapa Oppa tak memintaku saat itu?”

 

Keuda matanya menatapku seakan mengintimidasiku. Aku tak mengatakannya, itu karena aku memang bodoh dan tak punya cukup keberanian.“Key, itu karena aku…”

 

“Hikss…. jika Oppa memintaku sekarang, bagaimana aku menjelaskannya pada Jinki?”

 

“Key?” Aku menatapanya. Mencoba mengerti apa maksud dari perkataannya.

 

“Aku dan Jinki Oppa… aku sudah bersamanya. Aku menerimanya…” Aku mengangkat wajahnya dan mengusap air mata yang terus mengalir di pipi tirus yang cantik itu. Ia menghentikan tanganku dan kedua mata kami bertemu.

 

“Aku tak mungkin menyakiti Jinki Oppa, aku …hikss…. mianhe Oppa… hikss…”

.

.

.

.

.

Sunghyun POV end

.

.

.

Flashback Off

.

.

.

.

“Haish, sudahlah. Masih banyak yeoja dan kau bisa memilih satu diantara banyak fansmu itu, atau … Hei… banyak namja tampan yang mengincarmu.”

 

“Mwo?!” Kedua mata Sunghyun langsung terbuka lebar, seakan smeua kesedihannya sudah menguap. “Bilang apa kau? Namja? Yah kau pikir aku gay? Ayolah, aku masih senang melihat yeoja cantik dan sexy…”

 

“Eoh,benarkah?”

 

Junior tertawa kecil dan menepuk bahu Sunghyun. “Kau belum membuktikannya. Ayolah, apa salahnya kalau kau Gay. Bukankah uri bumonim all is namja. Ayolah, jangan menghindari kenyataan itu.”

 

Junior berdiri dari duduknya dan satu tangannya terulur untuk menyeret Sunghyun. “Kajja! Aku tak mau Minhyun ataupun Ming Mommy memarahiku karena anak kesayangannya ini tak terurus dengan baik di sekolah.

 

“Ck… merepotkan. Ya sudahlah, ayo makan.”

 

.

.

.

 

Sepanjang perjalanan, Junior terus saja merangkulkan lengannya di leher Sunghyun. Tinggi tubuh mereka sama, tapi mengapa sekarang terkesan kalau Junior itu lebih tinggi daripada Sunghyun?

 

“Hei, mereka cocok sekali.”

 

“Wah, setelah kemarin ada pasangan Onkey dan Minkie, bagaimana kalau kita namai mereka. Eum… JunSung couple?”

 

“Ommo!!! Keren sekali. Mereka memang serasi?”

 

Ya, suara-suara itulah yang didengar Junior dan Sunghyun di sepanjang perjalanan mereka hingga menuju ke kantin. Di kantin, Sunghyun pun membiarkan Junior mengambilkan makanan untuknya dan kemudian mereka meninggalkan kantin, menuju ke atap.

 

“Huwa… anginnya sejuk sekali. Kalau begini aku lebih baik tidur dari pada mengikuti jadwal selanjutnya. Hey hyung, bagaimana kalau kita disini saja?”

 

Junior tersenyum dan menoleh pada Sunghyun, menunggu jawaban dari namja itu. Tapi tampaknya, Sunghyun tak menanggapi Junior dan malah sibuk menatap lurus pada wajah tampan didepannya.

 

“Ayolah hyung, aku tahu aku tampan. Tapi jangan melihatku sampai seperti itu.” Jujur, sekarang Junior sedikit kikuk saat mendapati Sunghyun menatapnya intens. Baru kali ini ia melihat Sunghyun menatapnya seperti itu. Seperti menyalurkan hal lain yang ia sama sekali tak bisa mengerti.

 

“Kajja! Kita buktikan!” Sunghyun berdiri dari duduknya dan mendekati Junior

 

“Mwo?”

 

“Apa aku ini gay atau bukan?”

 

“Mwo!!!!?”

 

“Hahahaaahahaa…” Sunghyun tertawa keras. “Ada yang tertipu, ahahhahahaa…”

 

.

Pletak…

.

“Awww… appo! Ya! Kenapa memukul kepalaku, sakit tau?!” Sunghyun mengusap pucuk kepalanya yang dipukul dengan seenaknya oleh Junior.

 

“Ck… kau sendiri yang mempermainkan aku. Padahal aku sudah kaget setengah mati, haish…. Kau ini, membuatku jantungan saja.” Junior mengusap dadanya dan tersenyum canggung. Baginya, kali ini… moment mereka tadi begitu aneh.

 

“Hei, sebegitu sakitkah?”

 

“Ya tentu saja. Kau pikir, tanganmu itu tak sakit saat memukul orang. Aku ini hyungmu, kau tega sekali.” Sunghyun mencibir Junior dengan satu tangannya masih sibuk mengusap pucuk kepalanya. Kemudian Junior mendekati Sunghyun dan mengusap kepala hyung-nya itu.

 

“Mianhe…”

 

Sunghyun mengalihkan wajahnya, hingga sekarang ia berhadapan langsung dengan Junior. Wajah mereka begitu dekat dan karena memang Junior sedikit lebih tinggi, mungkin jadi Sunghyun terkesan sedikit mengangkat wajahnya.

 

Nafas hangat itu menggelitik wajah mereka berdua. Jarak yang terlalu dekat, hingga hidung mereka bahkan hampir saling bersentuhan. “Neomu yeppeo….”

 

.

.

.

.

.

.

 

“Apah??? Kau menciumnya?”

 

Sibum hanya mengangguk tanpa rasa bersalah.

 

“Ya! Tapi dia baru berusia 10 tahun. Dan kau ini, mesum sekali!”

 

“Lie, sudahlah. Jangan di bahas, ‘kan yang penting kami menikmatinya. Hei… tak kusangka bibir Kyumin itu sangat lembut. Hampir seperti bibir mommy, tapi ini lebih lembut.”

 

“Ah, ya Tuhan…. Sibumie, kau sudah gila. Dasar setan pervert.”

 

“Yah! Zhoury…. jangan mengataiku seperti itu. Kau saja yang tak pernah mencium orang, coba kalau kau mencium yeoja. Cobalah, dengan siapapun atau orang yang kau sukai. Rasanya seperti ada semut di perutmu yang terus menggigit apa yang ada di dalamnya.”

 

“Eoh? Kau sudah gila!”

 

“Hehehee… rasanya geli, nyeri dan ngilu tapi aku menyukainya.” Sibum tersenyum dan kemudian ia mengusap sweater yang dipakainya. “Lihat, bahkan sweater yang dipilih Kyumin untukku sangat pas sekali. Bukankah dia pintar, dan warnanya… aku juga menyukainya.”

 

Zhoury hanya menggeleng. “Kau mesum,dan sayangnya Kyumin baby itu masih terlalu kecil. Ck… harusnya aku tak membiarkan setan mesum sepertimu mendekati saeng-ku.”

 

Dan Sibum, seakan tak mendengarkan ocehan Zhoury. Ia terus saja tersenyum dan sesekali mencium aroma Kyumin. Yah, baby kecil itu sudah menyemprotkan parfum kesayangannya ke sweater yang ia berikan pada Sibum.

 

“Huah…. aku tak sabar menunggunya besar nanti…”

.

.

.

.

.

“Hei Kyumin-ah! Jangan tersenyum sendiri seperti itu. Kau mengerikan.” Baby Soo heran sendiri melihat Kyumin yang terus saja tersenyum dan menyentuh bibirnya.

 

Seandainya saja Baby Soo tahu jika Kyumin sedang mengecap rasa itu lagi, rasa manis dan lembut dibibirnya yang bahkan masih begitu melekat sampai sekarang.

 

”Hyung, aku tak sabar ingin cepat besar.”

 

“Wae? Sekarang saja kau sudah lebih tinggi dariku. Bukankah kau sudha tumbuh dengan cepat?”

 

Kyumin menggeleng. “Aku memang tinggi tapi aku masih di primarry. Tahun besok aku harus bisa langsung ikut ujian agar aku bisa masuk ke junior, lalu aku akan masuk senior dan bersama-sama berkuliah dengan Sibum hyung.”

 

Kyumin bersemangat menceritakan obsesi kecilnya, sementara Jung Soo baby hanya menatapnya heran. “Yah, terserahmu sajalah. Aku tidak takut kau saingi terus. Tapi apa umurmu tak terlalu muda Kyumin-ah.”

 

“Eoh…?” Wajah menggemaskan itu lagi. Benar-benar membuat Baby Soo gemas dan mencubit pipi tembem Kyumin.

 

“Kau masih 10 tahun, saengie…..”

 

Baby Soo kemudian tertawa dan menepuk-nepuk pucuk kepala Kyumin. Sementara Kyumin hanya mempoutkan bibirnya. Kali ini, ia sedang kesal dengan hyungnya itu.

 

.

.

.

.

.

.

 

“Hyung…” Sungmin berujar lirih dan mendekati Yesung yang berusaha mengumpulkan butiran salju yang sudah mulai turun tadi pagi ke dalam satu pot kecil yang berisi sedikit tanah dan juga bunga snowdrop kering.

 

“Mianhe hyung…” Sungmin kembali berujar lirih. Ia merasa sangat bersalah saat mengetahui kenyataannya. Meski ia tak marah dengan Kyuhyun, tapi ia juga tak bisa membiarkan Yesung menderita ditengah kebahagiaan mereka bersama Kyumin.

 

“Mian….”

 

“Sudahlah Ming.” Yesung menghentikan kegiatannya dan kemudian menyimpan pot itu kembali di tempat semulai. Di tepi jendela kamarnya. Berharap keajaiban akan menghampiri mereka.

 

“Tapi hyung, ini salahku. Seandainya saja aku tidak keguguran sat itu, pasti…’

 

“Wookie saja tak mempermasalahkan itu. Biarkan saja, mungkin inilah jalan kami.” Yesung mencoba tegar, sedangkan Sungmin semakin menggenggam kuat tangan Kyuhyun yang memeluk pinggangnya.

 

Sungmin mendongakkan wajahnya sedikit dan menatap Kyuhyun. Terlihat jelas jika mata foxy itu sedikit mengeluarkan bercak kemerahan, dan Kyuhyun tahu itu. Sungmin akan menangis sebentar lagi.

 

“Hyung, mianhe… aku…”

 

“Wookie akan kembali. Tenanglah…” Yesung berujar dengan nada datarnya. Ia menatap Sungmin dan Kyuhyun. “Hentikan perasaan bersalah kalian dan kunjungilah baby yang meninggal itu. Biar bagaimanapun, dia juga aegi kalian.”

 

“Tapi bagaimana bisa Wookie kembali? Kau bahkan tak punya kekuatan sihir lagi, atau Raja peri datang dan akan menghidupkannya?” Sungmin bertanya penuh semangat dan meninggalkan pelukan Kyuhyun. Ia memegang pot bunga yang selama bertahun masih tetap utuh seperti dulu saat pertama kali ia menanam bunga snowdrop.

 

“Aku masih mengingatnya, saat aku menemukan bunga ini sendirian di tepi jendelaku. Hiks…. aku tak tahu jika dia akan menjadi peri penolongku.” Sungmin menoleh pada Yesung dan mendekap erat pot itu.

 

“Jebal, katakan apa yang bisa aku lakukan. Aku akan melakukannya, asalkan bisa mengembalikan Wookie. Hikss…. aku merindukannya hyung..”

 

Kyuhyun mendekati Sungmin dan membimbingnya untuk menyandarkan tubuhnya pada dada Kyuhyun. Dan Sungmin masih memeluk erat pot yang sudah terlihat tua itu.

 

Yesung mencoba tersenyum. Ia meraih pot yang ada di tangan Sungmin dan kembali meletakkannya di tepi jendelanya hingga pot itu mendapatkan tetesan salju yang dingin. “Sebentar lagi, saat Kie tepat berumur 17 tahun, maka dia akan bertemu dengan raja peri.”

 

“Jadi selama ini, raja peri tak mengetahuinya?” Kyuhyun bertanya pada Yesung.

 

Yesung menggeleng. “Raja peri tak tahu, jika Wookie sedang tertidur lama sekali. Bahkan Kie juga tak mengetahui kekuatannya. Kekuatan itu hanya akan muncul jika ada peri disekitarnya, atau jika ia dalam bahaya. Kie bahkan tak mengetahui mantranya dan hanya raja peri yang bisa membangkitkan kekuatannya.”

 

“Berapa hari lagi  Kie akan 17 tahun?”

 

“Satu minggu lagi.” Yesung berujar lirih dan kemudian menatap Kyuhyun. “Tapi, ada satu syarat.”

 

“Mwo?”

 

“Biarkan Kie menjadi peri dan pergi ke dunia peri.”

 

“Mwo?!”

.

.

.

.

.

.

Sungmin dan Kyuhyun sampai dirumah sakit dimana Kyuhyun selalu meletakkan sarung tangan kecil dengan warna dan juga hiasan yang  cantik.

 

“Ming…” Kyuhyun memeluk Sungmin setelah mereka meletakkan dua pasang sarung tangan di sudut taman itu. “Mianhe…”

 

“Gwenchana.” Sungmin menggumam pelan dan memejamkan kedua matanya. Mencoba merasakan hangat dan lembutnya perlakuan Kyuhyun padanya. Dan disela perasaan itu, ia mencoba mencari satu titik dimana ia menemukan cahaya kecil.

 

Perlahan … dan Sungmin tak bisa menahan perasaannya lagi.

 

“Kau tak marah padaku bukan?”

 

“Tentu saja aku marah, tapi untuk apa marah sekarang Kyu. Bukankah ini juga kesalahanku? Aku yang tak bisa menjaganya. “ Sungmin berujar lirih dengan suaranya yang sudah sedikit bergetar, hingga akhirnya, “Hikss….”

 

Tangis Sungmin mulai jatuh. Ia meremas kuat lengan Kyuhyun yang berada di pinggangnya. Kemudian memutar tubuhnya  untuk berhadapan dengan Kyuhyun. Memeluk tubuh namja itu dengan erat dan menangis sesak.

 

“Seharusnya ini tak terjadi jika aku…. hikss…. Kyunie aku….”

 

“Sudahlah Ming… jangan menyalahkan dirimu sendiri…”

 

Sungmin menggeleng dalam pelukan Kyuhyun. Kyuhyun meraih pucuk kepala Sungmin dan menciumnya  dengan lembut.

 

“Ahni Kyuh…. aku yang bersalah. Kau begitu mencintaiku hikss… dan aegya kita. Bahkan kau sudah … hikss… Kyunie….” Sungmin terus menangis.

 

Sungmin menggeleng cepat dan terus meremas kuat mantel Kyuhyun. “Kau bahkan sudah memberinya nama. Hyunmin-ah… hiksss…. mianhe….” Tubuhnya bergetar hebat, melampiaskan semua perasaannya. Ia mencintai Kyuhyun, mencintai semua aegyanya dan mencintai Wookie.

 

Sungmin sedikit menoleh ke samping, dimana kedua pasang sarung tangan mungil itu terlihat indah diatas tumpukan salju. Ia terus menggeleng cepat dan menutupmulutnya dengan satu tangannya. Mencoba menahan sesak dan tangisnya.

 

Ingin rasanya Sungmin berteriak kesal, tapi ia tak bisa mengeluarkannya. Ia menyesali semuanya, kesalahannya dan kebodohannya… dan juga Wookie…

 

“Wookie… hikss… karena aku… Kyuhhh…. bagaimana aku bisa menebusnya hikss…..”

 

“Sudahlah Ming…”

 

Dan kyuhyun mencoba tegar meski dalam hatinya ia sungguh menyesali semuanya. Terlebih lagi dengan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Bagaimana ia bisa membiarkan putri kecilnya menderita…

.

.

.

.

.

.

Jongkie baru saja pulang dari sekolahnya saat ia menemukan Yesung tengah kembali mengumpulkan salju dan menumpuknya di sekitar snowdrop yang kering itu.

 

“Appa? Apa yang kau lakukan?”

 

“Hanya mendinginkan pot ini. Saljunya sudah mulai mencair.” Memang aneh, karena setiap salju itu pasti berubah menjadi air dengan cepat di sekitar snowdrop.

 

“Appa….” Kie meletakkan tasnya dan memeluk Yesung dari belakang, hingga akhirnya Yesung tersenyum dan menoleh kemudian memutar tubuhnya menatap Kie.

 

“Waeyo??? Sepertinya kau sedang manja sekali.”

 

Kie menggeleng cepat. Kemudian dia tersenyum. “Ahni, hanya merindukan appa yang dulu. Appa yang memelihara ddangkko brothers saat aku kecil, appa yang selalu ceria dan selalu saja berbicara tanpa henti. Appaku yang tampan… dan juga menyayangiku…”

 

Yesung meletakkan pot itu dan kemudian memeluk balik Jongkie dan menepuk punggungnya. “Kau sudah besar Kie, jadi kau bisa mencari seseorang yang bisa menyayangimu setiap hari. Appa ‘kan bukan Umma yang selalu cerewet  padamu, memasak untukmu dan bahkan memakaikan seragammu.”

 

“Akhirnya….” Kie menggumam pelan dan tersenyum. Ia kemudian  menyeret Yesung untuk duduk bersamanya. “Appa…. aku merindukan Umma…”

 

Yesung menghela nafasnya dan kemudian merangkul bahu putranya, menepuk-nepuknya pelan. “Kau pikir aku tak merindukannya…”

 

“Aku tahu kau merindukan Umma, bahkan kau selalu melakukan apa yang Umma lakukan.”

 

“Hehehee…. “ Yesung tertawa lirih. “Benarkah?”

 

“Nde….” Kie mengangguk pelan dan melihat pot yang kini berada di tepi jendela kamar Yesung. “Kau menaruh salju di pot itu sama seperti apa yang dilakukan Umma dulu. Dan sebenarnya aku ingin menanyakannya.”

 

“Mwo?”

 

“Untuk apa kau melakukan itu appa? Bukankah itu hanya tanaman kering, jika appa mau kita punya banyak snowdrop di kebun belakang atau di taman depan rumah.”

 

Yesung tertawa aneh dan menggeleng. “Kau tak tahu Kie…”

 

“Apa?” Kie mengernyit heran dan menatap Yesung. “Apa yang aku tak tahu?”

 

“Di bunga snowdrop itu, ada peri…. dan itu Ummamu…”

 

“Mwo?!”

 

Kie terlonjak kaget dan menatap tak percaya pada Yesung. Ia tertawa kecil meremehkan perkataan Yesung. “Appa, kau bohong padaku. Ck… aku bukan anak kecil yang bisa kau tipu, appa. Aku ini sudah besar, pintar dan tampan. Ayolah, jangan main-main. Umma sudah meninggal dan tak mungkin ada di bunga itu.”

 

“Kenapa kau tak percaya padaku? Apa aku terlihat sedang berbohong sekarang?” Yesung menatap lurus pada kedua mata Kie. Ia bisa melihat bayangannya di mata Kie. Mereka benar-benar mirip.

“Kau putraku, jadi untuk apa berbohong.”

 

“Ck… appa… kau ja…”

 

“Bagaimana jika aku katakan, Umma-mu bisa hidup lagi.”

 

“Eoh?” Kie menghentikan gelengannya dan menatap serius pada Yesung.

 

Yesung hanya mengangguk dan kemudian tersenyum. “Bagaimana jika Umma hidup lagi? Kau senang bukan?”

 

Kie mengangguk. “Tapi apa mungkin.” Wajah kie berubah menjadi sedih. Ia menyadari jika itu tidak mungkin, tapi Yesung mencoba untuk terus meyakinkan Kie.

 

“Tentu mungkin, karena kau yang akan menghidupkan Umma-mu kembali.”

 

“Mwoya?”

 

“Nde….”Yesung mengangguk pelan disertai dengan senyuman dan usapan di punggung Kie.

 

“Apa maksud Appa?”

 

“Kau punya kekuatan peri.”

 

“Ahniya. Di dunia ini mana ada peri, Appa.”

 

Yesung mendekati Kie dan memeluknya erat. “Cukup lama aku berdo’a pada Tuhan, meski aku dulu seorang peri tapi aku percaya Tuhan itu ada. Aku telah memintanya untuk membuatmu lebih cepat dewasa.”

 

“Yah… Appa, jangan bicara yang aneh seperti itu.”

 

“Kau bilang kau ingin melihat Umma lagi bukan?”

 

“Eih? Bisakah?” Kie menggeleng tak percaya. “Ayolah appa, jangan bercanda….”

 

Yesung hampir tak bisa menahan air matanya. Ia telah gagal untuk menjadi tegar tanpa Wookie. “Hidupkanlah salju untuk Ummamu, dan dia akan kembali.”

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

 

Huwa…. udah gaje, lama pula update-nya. Maafkanlah….

 

Buat yang tanya umur, dimohon untuk baca notice di atas. Tuh dah ada keterangan cast and umur mereka sendiri-sendiri.

 

Gimana lanjutannya? Aneh? Gaje?

 

Kkk… sorry for typo…

 

Mind to RCL?

 

GAMSAHAMNIDA

^____^

Chicken Soup for Teenage Soul || SEKUEL CSOF || ch. 3||

 

 

Author : rainy hearT

Length : Series

Rated : T to M

Cast :

– Cho Kyuhyun

– Lee Sungmin a.k.a Cho Sungmin

– Other SUJU and SHINEE member

-KyuMin aegya :

~ Cho Sunghyun a.k.a Sungie (N)

~ Cho Minhyuna.k.a Minhyunie (Y)

~ Sandeul b1a4  a.k.a  Cho Kyumin (N)

Haehyuk aegya

                ~ Lee Eunhae a.k.a Junior (N)

-Yewook aegya

                ~Kim Jongki a.k.a Kie (N)

 

-Zhoury Aegya

                ~ Jinyoung b1a4 a.k.a Zhoury (N)

 

-Sibum Aegya

                ~ Baro b1a4 a.k.a Sibum                (N)

-Jungmo x Leeteuk

~ Gongchan a.k.a Baby Soo (N)

– Yeoja Cast (GS)

                ~ Leeteuk            ~ Junsu’ie            ~ Taemin

                ~ Heechul            ~ Jaejong             ~ Key

Pairing : KYUMIN and Other Pair

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan dan diri mereka sendiri. Tapi Kyuhyun dan Sungmin saling memiliki. Kyuhyun milik Sungmin, Sungmin milik Kyuhyun

Genre : Romance / Family/Humor (dikit)

Warning : Boy x Boy / BL / YAOI, gaje, typo disana-sini, EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Summarry : “Menjadi dewasa adalah IMPIAN. Setelah dewasa karena usia adalah BEBAN. Karena semua yang kita lakukan adalah sebuah bekal, untuk melangkah bersama menuju satu titik KEDEWASAAN. Dimana KEJUJURAN akan menjadi satu tali yang mengikat kebersamaan kita. Raih genggaman tanganku dan kita akan tumbuh bersama.”

.

.

.

.

GAMSAHAE untuk yang selalu setia sama KYUMIN and menanti ff ini.

Be Patient with Me please. No Copas/No Bash. Don’t Like Don’t Read.

Mianhe, jika ceritanya semakin ngawur dan juga keluar dari KyuMin. Tapi inilah Chicken Soup.

Dimana kebersamaan dan kekeluargaan itu terasa nyata.

 

As a small present for OUR LOVELY AND THE GREATEST COUPLE

Let’s save their love, 13elieve in the name of 7ove….

.

.

HAPPY READING

.

.

CHICKEN SOUP FOR TEENAGE SOUL

.

Chapter 3

.

.

Ep. A Little Love

.

.

.

Notice me:

 

Ni keterangan Usia and tingkatan kelas mereka.

 

~ Senior High 3rd Grade :  Cho Sunghyun (17), Cho Minhyun (17), Kim Jongki (17), Junior (17), Taemin (15), Key (16), Minho (16), Onew (17).

 

~ Senior High 1st Grade :  Zhoury (15), Sibum (15)

 

~ Primary School  5th grade : Kyumin (10), Baby Soo (11)

 

.

.

.

.

.

.

Seoul International Multischool

.

.

.

.

“Aku, sebenarnya aku kesini untuk meneruskan pembicaraan yang sempat tertunda kemarin.”

 

“Ah… iya, maafkan Minnie atas sikapnya kemarin. Aku tahu dia selalu saja ketus seperti itu padamu, kuharap kau memakluminya.”

 

“Nde oppa.” Taemin tersenyum pahit. Ia kemudian memberanikan diri untuk duduk disisi Jongki, membuat namja itu sedikit kaget dan merasa aneh dengan sikap Taemin kali ini.

 

“Ada apa?”

 

“Eum… sebenarnya aku…”

 

“Apa?”

 

“Aku menyukai Kie Oppa…”

 

Tubuh Kie mematung, ia kemudian tersenyum getir. “Jangan bercanda, sudahlah. Sebaiknya kau segera ke UKS, atau nanti kau akan bertambah sakit.”

 

Taemin hanya menggeleng. “Ahni Oppa.”

 

.

 

Greep…

 

.

 

Ingin sekali kie melepaskan pelukan tiba-tiba Taemin, tapi tubuhnya membeku seketika saat ia merasakan lengan seragamnya basah. Ia menoleh pada Taemin dan menemukan Taemin yang menenggelamkan wajahnya pada lengan seragamnya.

 

“Taeminnie, jebal jangan begini. Aku…”

 

“Padahal aku sangat mencintai Oppa.”

 

“Ah… Hei… jangan seperti ini.” Kie berusaha melepaskan pelukan Taemin tapi, Taemin malah semakin mengeratkan pelukannya.

 

“Hiks…. kenapa Oppa harus selalu dengan Minnie? Padahal aku sudah berusaha menjadi yang terbaik untuk Oppa.” Taemin mengangkat wajahnya dan menatap pada Kie. Ia mengusap kasar air matanya.

 

“Padahal aku sudah berusaha mengejar Oppa.”

 

“Lepaskan aku, Taemin. Ini di perpustakaan.” Dengan berat hati Taemin melepaskan pelukannya. Kemudian ia kembali mengusap kasar air matanya. Ia menatap Kie yang berusaha tak peduli padanya.

 

“Jebal Oppa, jangan marah padaku.”

 

Kie hanya menggeleng. Ia diam dan tak bisa berkata apa-apa. Taemin kemudian menguatkan tubuhnya dan mensejajarkan tingginya dengan Kie. “Aku hanya mencintai Oppa. Aku tahu itu salah, tapi aku … aku tak bisa…Hikss…. kau jahat Oppa…!”

 

Tangan kecil Taemin tiba-tiba memukul-mukul lengan Kie, Kie yang harus masih menjaga statusnya dan juga terus merasa tak enak dengan penjaga perpustakaan akhirnya menyeret Taemin untuk pergi keluar dari perpustakaan.

 

.

.

.

.

.

“Aku pergi ke Jepang untuk mengejar Oppa, tapi sepertinya pilihanku salah.”

 

Taemin menatap penuh melas pada Kie. Kedua matanya nampak bengkak dan juga memerah.masih tersisa garis air mata juga di pipi putihnya. Ia sesekali terisak dan terus meremas ujung rok sekolahnya.

 

“Aku selalu bermimpi bisa bersama Kie oppa, tapi mungkin itu hanya bisa menjadi mimpi. Saat aku pulang dari Jepang dan mendengar kabar kau bersekolah disini, aku langsung mengikutimu. Aku tahu, jika kelas kita juga akan berbeda tapi setidaknya aku masih bisa bertemu denganmu. Rumah lamaku sudah di jual appa, jadi aku tak bisa melihatmu lagi dari jendela rumahku seperti saat Oppa kecil dulu…”

 

“— Tapi saat aku pulang, dan aku melihat foto pertunanganmu itu. Terlebih lagi saat dengan tanpa perasaan Minhyun menunjukkan foto pertunangannya, aku … perasaanku… . Aku memang tak datang pada ulang tahunnya tapi mengapa dia harus dengan wajah sesenang itu dan menunjukkan foto pribadi kalian. Dia sama sekali tak memikirkan perasaanku. Hikss… Oppa…”

 

Kie diam. Ia tak tahu harus berbicara apa. Sama sekali tak terfikirkan olehnya jika keadaannya akan seperti ini. Taemin mendekat pada Kie. Matanya menatap sayu wajah tampan yang beku itu.

 

“Oppa, apa kau tak pernah mencintaiku? Apa kau selalu mencintai Minnie eonni? Apa tak pernah sekalipun kau berfikir untuk memilihku? Oppa… jawab Oppa…”

 

“Aku…” Suara Kie terdengar serak. Ia juga tahu, ini pasti menyakitkan untuk Taemin. Tapi ia tak mungkin mengkhianati Minhyun. “Kau tahu, aku dan Minnie sudah bertunangan. Bahkan sudah lama sekali. Dan kemarin, saat hari ulang tahunnya itu Minnie mengumumkannya pada seluruh siswa dan juga pers. Aku minta maaf, karena Minnie telah menyakitimu.”

 

“Tapi kau tak mencintainya Oppa, kau hanya kasihan padanya.”

 

Kie menggeleng cepat. “Aku tahu, dan aku mencintainya. Aku meyakini Minnie, jadi jangan pernah mengataan hal seperti itu padaku. Kau tak tahu perasaanku sebenarnya.”

 

“Padahal aku sudah berusaha, menjadi lebih pintar dan lebih baik. Menjadi lebih cantik dan juga melompat kelas untuk mengejar Oppa. Padahal aku…”

 

“Sudahlah Taeminnie, kuharap kau tak membuat hubungan ini makin aneh dan kacau. Aku tak ingin membencimu.”

 

“Kalau begitu, kau bisa mencintai aku oppa. Jebal….”

 

“Ahni… mianhe…”

.

.

.

.

.

.

“Eeih, Minnie baby….” Kie terlihat sedikit shock dan canggung saat menemukan Minhyun tengah duduk di kursi yang sedari tadi di dudukinya di perpustakaan.  “Kau sudah lama menunggu?”

 

“Ahni, tadinya aku menunggu di kelas. Tapi kau tak datang-datang. Darimana Kie? Apa ada masalah?”

 

Kie bukan orang yang pandai berbohong dan menyimpan masalah. Jadi dia tak bisa menyembunyikan satu hal pun dari Minhyun. Kie membereskan bukunya dan mengajak Minhyun untuk segera pulang.

 

“Kajja, kita akan ke rumahku bukan?”

 

Minhyun mengangguk yakin dan tersenyum. mengeratkan genggaman tangannya pada Kie.

 

Di mobil, Minhyun merasa aneh dengan kegugupan dang kecanggungan Kie. “Kie, kau bisa berhenti dulu. Sepertinya kau sedang kurang baik. Kita bisa menepi dulu, eum … aku membawa teh bunga chrysanthemum. Kau pasti suka.”

 

“Nde, sepertinya memang seperti itu. Baiklah, kita menepi dulu Baby…”

 

Akhirnya mobil Kie berhenti di area free parking dan dengan cepat Minhyun meraih tas bekal sekolahnya di kursi belakang. Dengan cepat membukanya dan meraih satu termos kecil. “Masih hangat dan juga terasa manis seperti aku. Ayo, minumlah.”

 

Ingin rasanya Kie memakan pipi bulat Minhyun yang bersemu merah itu. “Gomawo, baby.” Kie meraih termos itu dan meminumnya. Setelah perasaannya sedikit tenang, ia meletakkan termosnya ke bottle pocket dan kemudian meraih tangan Minhyun. Mengusap jemarinya dan kemudian menciumnya pelan.

 

“Kie, gwenchana?”

 

Kie mengangkat wajahnya dan menggeleng. “Molla. Rasanya aku sangat merindukanmu.” Kemudian Kie beranjak dari kursinya dan mendekati Minhyun. Sedikit mengangkat tubuh ringan Minhyun dan memangkunya.

 

“Eoh? Kie?”

 

“Biarkan seperti ini dulu Minnie.” Kie menghirup aroma lembut tubuh Minhyun dan melingkarkan lengannya ke pinggang Minhyun. Menciumi tubuh Minhyun, membuat yeoja itu sedikit merinding merasakan perlakuan Jongkie.

 

Hingga akhirnya perlahan Minhyun bisa mencium wangi aneh di tubuh Kie saat ia melingkarkan lengannya pada leher Kie. “Kenapa seperti parfum Taem, Kie?”

 

Kie mengangkat wajahnya kemudian menatap lurus pada mata Minhyun. “Berikan aku satu menit untuk menjelaskannya, dan kau cukup mendengarkan aku. Bisakah?”

 

“Nde.” Minhyun mengangguk dan menyamankan posisinya. Ia memeluk erat leher Kie dan kemudian mendudukkan tubuhnya di antara kaki Kie. “Jangan memangkuku Kie, aku ini berat. Nanti kakimu sakit.”

 

“Hei, bisa saja.” Kie mencolek hidung Minhyun dan mencium pipinya. “Baiklah, kita mulai. Dengarkan aku.” Kie menghela nafasnya. “Tadi Taemin menemuiku dan dia menyatakannya.”

 

“Mwo? Bag…”

 

“Hei, dengarkan dulu chagi…”

 

“Haish, oke. Aku mendengarkan.” Minhyun mulai kesal, karena mendengar nama Taemin saja baginya itu sudah menjadi satu masalah.

 

“Dia menyatakan perasaannya padaku, dan dugaanmu benar dia mencintaiku.” Kie menaruh satu jarinya di bibir Minhyun, berisyarat agar Minhyun tak memotong pembicaraannya lagi. “ Percaya padaku baby, aku hanya mencintaimu. Dengarkan aku dulu.”

 

“Ia pergi ke Jepang untuk mengejar kelas kita hingga akhirnya dia bisa satu tingkat dan bahkan satu kelas denganmu. Dia juga sakit hati saat kau selalu menunjukkan foto pribadi itu padanya dan Key. Ayolah, aku tahu kau memang sengaja melakukannya tapi mulai hari ini berhentilah Minnie. Aku sudah memintanya untuk menjauhiku.”

 

Jongkie mengeratkan pelukannya dan menekan tengkuk Minhyun, “Aku hanya mencintaimu, Minnie baby. Percayalah.”

.

Chu~

.

Dan satu ciuman untuk meyakinkan Minhyun jika Kie memang hanya mencintainya. Ciuman yang begitu jujur dan lembut. Kemudian Kie melepaskan bibir Minhyun dan berbisik lirih. “Kau percaya bukan?” Minhyun hanya mengangguk kecil. “Jangan membenci Taemin, baby. Bantu dia untuk melupakan aku.”

 

Minhyun mengeratkan remasannya pada celana seragam Kie. Posisi seperti inilah yang paling di sukai Minhyun. Ia merasa begitu dekat dengan Kie dan menguasai namja itu sepenuhnya. Terlebih saat ia merasakan bibir Kie mulai memanjakan lehernya. Menciumi kulit putihnya dengan lembut dan perlahan.

 

“Eungggghhh… Kie…..”

 

Minhyun menahan beribu butterfly yang terus bergerak-gerak di perutnya. Ia menikmati perasaan itu. Kehangatan pelukan Kie dan perlakuannya. Caranya memanjakan setiap jengkal lehernya hingga ia bisa merasakan sedikit gigitan kecil di kulit bahunya.

 

“Ummhhhhh….”

 

Menggeliat pelan saat tangan Kie mengusap punggungnya. Tubuhnya memanas dan terus terasa sesak di dadanya. Ingin sekali ia melepaskan sesuatu yang begitu tertahan di tubuhnya. Hingga akhirnya kemanjaan itu berakhir dan Kie tersenyum puas menatapnya.

 

“Lihatlah, hasil karyaku. Cukup satu kissmark yang tak terlihat dan menandakan kalau kau milikku.”

 

“Kie….”

 

Tubuh Minhyun kembali menegang saat kedua tangan mungil Kie meraih pipinya. Mata Kie manatap lurus pada bibir merah Minhyun. Perlahan jarak mereka semakin dekat, dan hingga akhirnya Kie bisa mencium aroma cerry yang semakin dekat….

 

“Saranghe….”

 

“Emmppphh….”

.

.

.

.

.

Rumah KyuMin

.

.

.

.

.

Yeoja cantik dengan dress berwarna pink selututnya itu tersenyum sambil menuruni anak tangga di rumahnya. Kemudian ia berhenti dan mencium Sunghyun. “Sungie Oppa, otte? Naneun noumu yeppeo?”

 

Minhyun melenggokkan tubuhnya kesana kemari dan membuat Sunghyun gemas sendiri dengan tingkah Minhyun. Ia menatap jam tangan yang melingkar di pergelangannya. “Ini bahkan masih jam 9 pagi dan kau sudah siap seperti ini, oddie?”

 

Minhyun tersenyum manis dan memainkan jarinya yang memegang topi piknik berwarna krem itu.”Eum… aku akan pergi dengan Kie. Kami akan kencan. Aku senang sekali, oppa!!” Minhyun melonjak kegirangan dan terus tersenyum.

 

Sedangkan Sunghyun, “Mwo?” Ia membelalakkan mata foxynya. “Kau kencan dengan Kie?”

 

Minhyun mengangguk semangat, tapi entah kenapa ia menjadi kesal sendiri melihat wajah Sunghyun. “Kenapa wajah Oppa seperti itu?” Minhyun sedikit menggembungkan pipinya, kemudian ia berjalan lemas menuruni anak tangga dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu. “Aku hanya ingin menikmati kencanku, jadi aku tak akan memaafkanmu jika kau menggangguku dan mengikutiku terus.”

 

Sunghyun menghela nafasnya, “Siapa juga yang akan mengikutimu, oppa juga malas mengaturmu lagi karena memang kau ini selalu seenaknya dan tak mau menuruti Oppa.” Suara lirih Sunghyun sedikit menimbulkan rasa bersalah di hati Minhyun.

 

“Mianhe Oppa, aku tahu kau hanya ingin menjagaku. Tapi tenanglah, aku tahu batasannya Oppa. Dan kau tahu ‘kan kalau aku…”

 

“Sangat mencintai Kim Jongkie, hanya begitu mencintai seorang Kim Jongkie. Haish… oppa bosan mendengarnya. Untung saja, Jongkie tumbuh jadi namja yang tampan dan juga baik. Coba kalau dia jelek, aku tak bisa membayangkan bagaimana nantinya kau menyesali perbuatanmu karena  terus-terusan mengejarnya.”

 

“Mwo!?” Minhyun menatap tak percaya pada Sunghyun. “Apa maksud Oppa? Kalian ini chingu, kenapa Oppa tega sekali berkata seperti itu?”

 

“Yah, Oppa hanya tak bisa membayangkan bagaimana hidupmu jika semakin kita besar , kau menemukan kenyataan kalau Kie itu jelek. Kau pasti membuangnya.”

 

“Kya!  Oppa!” Minhyun sudah gemas dan mulai memukul pelan lengan Sunghyun. “Awas saja Oppa, aku tak akan merestuimu dengan Key jika kau seperti ini.”

 

Mata Sunghyun memebalak lebar, ia menoleh heran pada Minhyun. “Eih? Dari mana kau tahu?”

 

Minhyun menyeringai kecil. “Pokoknya aku tahu saja, lagi pula hari ini kau juga akan kencan dengan Key ‘kan? Ayo mengaku saja Oppa…”

 

Wajah Sunghyun sudah memerah, dan bertambah gerah ketika Minhyun mulai memperhatikan penampilannya. “Oppa-ku terlihat manis…” Sunghyun memang terlihat manis. Jeans putih yang di padu dengan kemeja berwarna biru tua, juga topi yang ia pakai. Hei… ini baru awal musim dingin dan cuaca sedang bersahabat sekali.

 

Kemudian pandangan kedua twins itu mengarah ke satu namja yang baru saja keluar dari kamar utama di rumah itu. “Hei, pagi sekali kalian sudah rapih begini. Oddie?” Sungmin mendekat dan membiarkan Minhyun menyeretnya, kemudian membiarkan putri kesayangannya itu bergelayut manja di lengannya.

 

“Eum, Mom hari ini adalah hari libur.”

 

“So…?”

 

“Aku akan kencan dengan Kie, dan sebentar lagi dia datang.”

 

Sungmin menoleh pada Minhyun. “Aku akan menyuruh Sungie untuk ikut bersamamu.”

 

“Ah, ahni Mom. Ayolah, aku sudah besar. Boleh yah Mom…. ayolah, jeball…”

 

“Tapi Minnie baby, kau….”

 

“Jeball Mommy, aku hanya pergi ke taman bermain dan supermall appa. Berbelanja dan makan siang, sudah Mom. Aku akan pulang sore hari. Otte?”

 

Wajah memelas Minhyun benar-benar bisa membuat Sungmin luluh. Untung saja Kie tak seperti Kyuhyun dulu yang sangat pervert dan seenaknya hingga membuat Sungmin hamil di usia muda. “Aish, baiklah. Pulang sore, oke. Sore itu artinya sore baby, tak lebih dari jam 8 malam.”

 

“Ahhh!!!! Mommy jjang, saranghae…”

 

Minhyun memekik senang dan memeluk erat tubuh Sungmin. Kemudian Minhyun segera melepaskan pelukannya saat ia mendengar suara mobil Kie berhenti didepan rumahnya. “Annyeong Min Umma….” Kie membungkuk sopan, dan tak ketinggalan juga wajah imut menggemaskan dengan pipi chubbyna itu.

 

“Annyeong, Kie. Baiklah, aku sudah mengijinkan Minhyun. Tapi bawa dia pulang sebelum jam 8, atau…”

 

“Atau Minhyunie akan berubah menjadi katak jika kau tak membawanya pulang tepat waktu … hahahaha…” Sunghyun tertawa senang, ia sungguh senang bisa sedikit menggoda Minhyun.

 

“Kya! Oppa! Awas kau, kalau kau berani  menjelekkanku lagi maka aku akan segera mem…”

 

“Eits… jangan Minnie. Mianhe, oppa hanya bercanda. Sudah sana kalian berangkat saja.” Sunghyun menepuk bahu Kie. “Jaga dia baik-baik, kalau perlu kau boleh memarahinya sekali-kali.” Minhyun merengut kesal mendengar perkataan Sunghyun, ia sedikit teringat pertengkaran kecilnya tempo hari dengan Kie.

 

“Hahahhaa…” Terdengar tawa ringan di balik penderitaan Minhyun. Namun seakan semua kesalnya hilang saat Kie menggenggam erat tangannya dan berpamitan dengan Sungmin.

 

“Umma, kami pergi dulu.”

 

“Nde, Kie. Awas, jangan pulang terlalu malam.”

 

Jongkie mengangguk yakin. “Nde, Min Umma. Pasti.”

 

Sungmin mengantar mereka hingga ke pintu depan dan melihat mobil Kie sudah mulai jalan sedikit demi sedikit.

 

“Mom! Aku pergi, bye!”

 

Minhyun berteriak keras sambil melambaikan tangannya. Ini hari minggu dan wajar jika Minhyun ingin berkencan. Sedangkan di dalam, Sunghyun masih sibuk permain dengan ponselnya. Hingga ia berhenti berkirim pesan dan kemudian menatap Sungmin yang kembali ke tampatnya.

 

“Apakah Kie aman bersama Minnie, Mom?” Sunghyun tersenyum aneh dan menggeleng pelan. Sedangkan Sungmin hanya menyikapinya dengan ringan. “Menurutmu bagaimana?”

 

“Molla. Minhyunie selalu saja menyusahkan Kie dan terkadang sifat keturunan dari Halmeoni itu benar-benar merepotkan. Shoppaholic, dan pantas saja dia cocok jika dengan Key. Mereka berdua penggila Shopping.”

 

“Ah, biarlah. Untung saja dia yeoja, shopping just one of ordinary.”

 

Sunghyun kemudian meraih ponselnya saat ponsel itu terus bergetar kembali.

 

From: Cutie Key

 

‘Aku sudah siap, kau bisa menjemputku di rumah. Aku tunggu Oppa.’

 

Sunghyun tersenyum menerima pesan dari Key.  Dengan takut, takut ia menatap Sungmin dan mencoba meminta ijin sekarang. “Mommy, bisakah aku …”

 

“Nde, pergilah.”  Sungmin langsung tersenyum kecil saat melihat ekspressi wajah Sunghyun.

 

“Umma, kau yang terbaik. Saranghae!” Sunghyun langsung memeluk Sungmin sekilas kemudian meraih kunci mobilnya dan tersenyum sepanjang perjalanan ke pintu. Sedangkan Sungmin hanya bisa menggeleng kecil, kemudian berjalan ke dapurnya.

 

“Ini hari minggu, dan Kyunie belum bangun, baby Kyumin juga mungkin saja masih tidur. Pasti sangat melelahkan untuknya, saat mengikuti tambahan pelajaran untuk acceleration class 1 tingkat. Aku tahu, dia pasti ingin mengejar Sibum.” Sungmin sibuk bergumam kecil.

 

Sebuah ide terlintas di fikiran Sungmin saat ia melihat satu kotak berisi coffe hitam. “Eum, mungkin saja aku bisa mengganggu tidurnya.”

 

Sungmin membuatkan kopi hitam dan sandwich untuk sarapan Kyuhyun, kemudian ia berjalan pelan ke kamarnya. Tersenyum saat ia menemukan wajah damai Kyuhyun yang masih bergelut nyaman dengan selimutnya.

 

“Kyunie…..” Sungmin memanggilnya lirih dan mengusap pelan pipi Kyuhyun yang terlihat chubby dan merona merah alami. “Tampan sekali…”

 

.

Chup~

.

 

Satu ciuman kecil di bibir Kyuhyun untuk membangunkannya. Tapi sepertinya Kyuhyun yang memang sudah sedikit terbangun itu menginginkan lebih. Ia menarik pinggang Sungmin dan membawanya ke pelukannya, hingga akhirnya sekarang tubuh Sungmin berada di atas tubuhnya.

 

“Kyunie, kau mengerjaiku eoh? Kenapa pura-pura tidur?”

 

Kyuhyun tersenyum kecil dan sedikit menekan tengkuk Sungmin, kemudian memainkan hidung Sungmin dengan telunjuknya. “Hanya ingin cara yang manis dan hangat untuk menikmati pagi ini. Lagi pula ini hari minggu yeobo.”

 

Sungmin hanya bisa tertawa heran mendengar ocehan pagi Kyuhyun. “Humh…. ya sudah, lepaskan aku. Kyumin baby masih di rumah, dan aku tak menutup pintunya.” Sungmin melihat ke arah pintu kamar mereka dan dengan cepat Kyuhyun menyambar pipi chubbynya.

 

“Ish… dasar pervert…”

 

“Biarkan saja, kau ini kan milikku. Istriku tercinta, saranghae….”

 

Sungmin memalingkan wajahnya dan menatap Kyuhyun kembali. Ia mendalami mata Kyuhyun dan tersenyum, “Kau sangat tampan.” Kemudian ia mencium kecil pipi Kyuhyun membuat Kyuhyun terus berharap lebih dan ingin lebih. Tapi baru saja Kyuhyun akan mencium dalam pada bibir Sungmin, tiba – tiba…

 

“Ya!!! Mommy!!!!!”

 

“Ck…mengganggu saja.” Kyuhyun menggerutu pelan dan kemudian membiarkan Sungmin beranjak dari atas tubuhnya.

 

“Daddy, Mommy! Kalian tega sekali membiarkan aku sendirian dan malah asik sendiri seperti itu menyebalkan.” Kyumin menggerutu dan mengabaikan tangan Sungmin yang terulur. Dia malah ikut menjatuhkan tubuhnya di kasur besar itu. Mendekat pada Kyuhyun.

 

“Kyumin, mianhe. Tadi juga mommy baru akan membangunkan daddymu.” Sungmin mengusap pelan bahu Kyumin dan kemudian merentangkan kedua lengannya. “Come on baby, let me hug you… Mianhe.”

 

Masih dengan mempoutkan bibirnya, Kyumin mendekat pada Sungmin. “Dasar setan kecil, mengganggu saja.”

 

“Ssst…” Sungmin menyatukan telunjukknya dengan bibirnya, meminta Kyuhyun untuk diam dan tak terus memasang wajah kesalnya. Tapi sepertinya Kyuhyun memang tak bisa menerima keberadaan Kyumin yang mengganggu mereka.

 

“Hei, Kyumin-ah.”

 

“Mwo?” Kyumin menyandarkan tubuhnya pada Sungmin dan memainkan kakinya yang menindih tubuh Kyuhyun. Menatap tanpa rasa bersalah pada Kyuhyun dan dengan nyamannya melingkarkan lengan Sungmin pada tubuhnya.

 

Hei, bagaimana Kyuhyun tidak kesal melihat Kyumin. Namja kecil itu terlalu cepat tumbuh untuk anak seusianya. Tubuhnya juga lebih tinggi jika di banding anak 10 tahun lainnya, dan wajahnya itu…. it’s almost Sungmin’s face.

 

“Jangan melakukan aegyo Mommy itu padaku, aku tak akan terpengaruh.” Kyuhyun menyeringai kecil. “Katakan, apa lagi sekarang? Tumben sekali hari libur begini kau masih dirumah, biasanya kau sudah meminta supir Kim untuk mengantarmu ke rumah Baby Soo.”

 

“Eum, itu karena aku … eum….”

 

Kyumin baby bertingkah aneh. Wajahnya bingung dan sudah memerah. Sungmin memutar tubuh Kyumin dan mengacak pelan rambutnya. “Wae baby? Kau ingin pergi kemana?”

 

“Aku ada janji dengan Sibum hyungie.”

 

“Mwo?!” Kyuhyun dan Sungmin berteriak heran. Bagi mereka, Kyumin itu masih kecil dan bagaimana bisa anak sekecil itu sudah menyukai  orang lain terlebih lagi itu namja.

 

“Hei, kau masih kecil. Sekolah saja yang benar, jangan macam-macam.”

 

“But daddy, Minnie noona saja sudah bertunangan sejak kecil. Kenapa aku tidak? Aku hanya mau main dengan Sibum hyungie, ayolah daddy?” Kemudian puppy eyes itu menatap Sungmin. Mata penuh melas dan harap. “Jebal mommy, aku janji nilaiku akan baik semua. Aku juga akan lulus tes itu, jebal Mommy. Ini hari libur pertama di musim dingin, pasti sangat ramai. Sebelum kau memberiku banyak pelajaran tambahan Mommy.”

 

“Ah, lihatlah anak kecil ini sudah pandai bicara.” Sungmin memeluk erat Kyumin. “Kau benar-benar menyukainya eoh?” Dan dengan nada mengoda Sungmin menoel pipi chubby Kyumin.

 

“Nde, Mommy. So, boleh ya Daddy… please…”

 

Kyuhyun menatap Sungmin, dan yang ada dia hanya menemukan helaan nafas pada wajah bingung Sungmin. “So, bagaimana Daddy? Kita ijinkan tidak ya?” Sungmin memainkan matanya dan menatap Kyuhyun. Seakan tahu apa bonus yang akan ia dapatkan, Kyuhyun hanya tersenyum kecil.

.

.

.

.

Sibum House

.

.

.

“Kau yakin akan pergi dengannya?”

 

“Uhum….” Sibum mengangguk dan tersenyum menatap Kibum dan Siwon. Sedangkan kedua namja itu hanya tersenyum miris. “Ayolah Mommy, aku hanya pergi dengan Kyumin, kenapa sampai pusing begitu?”

 

“Bagaimana Mommy tidak pusing, kau ini kan pervert dari kecil.” Kibum bergumam malas.

 

“Mwo?”

 

“Hahahahaha…” Siwon tak bisa menahan tawanya saat Sibum menatap kesal pada Kibum. “Nde, memang kau pervert. Sampai sebesar ini saja masih suka menggangguku tidur.” Siwon mencubit kecil hidung Sibum dan mengiyakan ucapan Kibum. “Tak bisa melihatku senang saja.”

 

“Mianhe daddy, tapi kalau diijinkan sekali ini saja aku janji tak akan mengganggu kalian lagi. Meski aku belum rela, daddy menguasai mommy sepenuhnya.” Sibum mengeratkan pelukannya pada Kibum dan hendak mencium bibir Kibum, tapi…

 

“Eits…. termasuk berhenti mencium Mommy-mu. Dia ini milikku, jadi hanya daddy yang boleh menciumnya.” Siwon menahan tubuh Sibum dan hal itu makin membuat Kibum menggeleng heran.

 

“Haish, kalian berdua ini sama saja. Dasar pervert.” Kibum memasang wajah dinginnya. Kemudian memeluk ringan pada Sibum dan mengusap punggungnya. “Gwenchana baby, kau mengganggu mommy tidur juga tidak apa-apa.”

 

“Ah, mommy memang baik. Tidak seperti daddy, pelit. Wleeee….” Sibum menjulurkan lidahnya. Kemudian mencium pipi dan bibir Kibum. Yah, hanya ciuman ringan tapi tetap saja kebiasaan Sibum sejak kecil itu membuat Siwon gemas sendiri.

 

“Ah, sudahlah. Sana pergi saja, mungkin Kyumin sudah menunggumu.” Siwon seakan mengusir Sibum, ia memberikan kunci mobil kesayangannya. “ Ini bonus untukmu, mobil kesayangan daddy. Tapi janji, kau akan menjaga Kyumin. Ingat, meski fisiknya tak seperti anak 10 tahun, tapi dia masih kecil.”

 

“Nde, tenang saja daddy.” Sibum mencium bibir Kibum sekilas dan memeluk hangat pada Siwon. “Thanks daddy, aku pergi dulu.”

 

“Hei, jangan suka menciumnya!” Siwon berteriak keras dan Sibum hanya mengangguk dan melambaikan tangannya. Sedikit melompat senang dalam langkahnya hingga kemudian bayangannya menghilang di balik pintu utama rumah itu.

 

Dan sekarang, Kibum bisa mersakan hawa aneh yang ada disekitarnya begitu Sibum pergi dari ruangan itu. “Wae? Kenapa menatapku seperti itu?” Kibum sedikit menjauhi Siwon. Tatapan mata lapar itu seakan siap menerkamnya.

 

“Aku senang, Sibum pergi dan tak mengganggu kita. Aku perlu melemaskan ototku ini, kau tahu aku masih kuat. Mungkin beberapa ronde di pagi hari dan kita lanjutkan sore nanti, otte?”

 

“Mwo? Apa maksudmu? Eum…. aku ada janji dengan klien. Ah, aku juga ada pertemuan siang ini aku… ahhh…. Wonie…. yahhhh….”

.

.

.

.

At Everland

.

.

.

“Ini, untukmu” Kie menyodorkan satu ice cream strawberry untuk Minhyun dan meraih tangannya untuk duduk bersama di salah satu kursi yang di sediakan untuk pengunjung. Mereka baru saja menaiki roller coaster dan beberapa wahana yang lain. Dan mungkin sekarang Minhyun sudah terlihat lelah. Wajah cantiknya sedikit pucat. “Tanganmu dingin baby….”

 

Kie menatap intens pada wajah Minhyun. “Kau pucat baby, gwenchana?” Kie mengusap dahi Minhyun yang sedikit berkeringat. Memang tidak seperti biasanya, Minhyun juga memakan dengan malas ice cream yang diberikan Kie. “Apa ice cream-nya tidak enak baby?”

 

“Ahni, bukan begitu. Hanya saja…” Suara Minhyun terdengar lemah dan lirih, Kie tahu persis apa yang terjadi dengan Minhyun. Ia segera meraih ice cream Minhyun dan membuangnya.

 

Kemudian segera menarik Minhyun untuk keluar dari Everland dan membeli coklat panas. “Ini minumlah dulu. Cuacanya dingin, tunggu disini aku akan mengambil mobilku.” Kie kemudian meninggalkan Minhyun sebentar untuk mengambil mobilnya yang cukup jauh dari tempat Minhyun berdiri sekarang.

 

“Kajja, masuk. Aku akan menyalakan penghangatnya.”

 

Kie menuntun Minhyun untuk duduk di jok belakang. Mereka beristirahat di salah satu sudut free parking yang ada di Everland. “Nah, tenanglah. Penghangatnya sudah aku nyalakan.” Kie melepas jaketnya dan memakaikannya pada Minhyun. “Seharusnya aku tak mengajakmu main, baby.”

 

“Kie…. hiksss….” tubuh Minhyun bergetar dan dingin. Dia benar-benar kedinginan. “Mianhe, aku menghancurkan kencan kita.”

 

“Gwenchana baby, sudahlah jangan menangis.” Kie meraih cangkir coklat minhyun dan meletakannya di bottle pocket yang ada di mobilnya kemudian meraih beberapa tissue dan terus menyeka keringat dingin yang keluar di dahi Minhyun. Kemudian mengusap pelan air mata yang sedikit membasahi pipi chubby itu.

 

“Mian chagi, aku lupa kalau ini hampir musim dingin.

 

Minhyun hanya menggeleng dan kemudian ia menjulurkan kedua lengannya dan memeluk erat tubuh Kie. Jantung mereka sama-sama berdetak kencang. “Kie….hangat…”

.

.

.

Food Court at Shopping Centre

.

.

.

“Kau lelah?”

 

“Nde.”

 

“Apa sebaiknya kita pulang aja, atau kau masih ingin ke tempat lain?”

 

“Ah, ahni.”

 

Sunghyun tersenyum kecil kemudian ia mengulurkan tangannya. Menangkap pipi Key dan mengusap sisa saus yang ada di bibir Key. Perlakuan Sunghyun membuat Key mematung. Sungguh, ia tak menyangka akan seperti ini.

 

“Oppa, kenapa kau sangat baik padaku? Harusnya kau tak perlu membayar semuanya, aku punya uang kok.”

 

“Hanya belanjaan kecil, gwenchana.”

 

Sebenarnya Key sudah merasa tak nyaman, terlebih karena Sunghyun sepertinya terlalu memanjakan dan sangat baik padanya. Seakan ia bisa menangkap satu kesimpulan dari semua kebaikan Sunghyun.

 

Dan Key lebih terkejut lagi, saat Sunghyun kemudian menarik genggaman tangannya dan mengusap punggung tangannya. Ingin rasanya Key melepaskannya tapi, wajah Sunghyun dan kebaikannya membuat Key tak tega untuk melakukannya.

 

“Bolehkah aku mengatakannya, Key?”

 

“Eum?” Key mengangguk kecil. Ia seperti tak sadar jika Sunghyun sudah kehilangan kontrol atas dirinya beberapa detik yang lalu. Jantung Sunghyun sudah berdebar cepat, apalagi berada dalam jarak sedekat ini dengan Key.

 

“Kau cantik….” Wajah key merona merah dan itu semakin membuat Sunghyun tak tahan ingin menciumnya. “Eum, lebih baik kita ke tempatku, aku yakin kau akan menyukainya.”

 

Tiba-tiba Sunghyun melepaskan tangan Key kemudian merogoh kantungnya, mengeluarkan beberapa lembar uang dan segara menarik tangan Key untuk mengikutinya. Segera masuk ke mobil hitamnya dan pergi dari SSC itu.

.

.

.

.

.

Kini Sunghyun dan Key sudah berada di tempat yang lebih tenang dan indah di sore hari itu. Hamparan air bening dan juga angin yang cukup dingin, menemani mereka yang masih asyik duduk di atas rumput yang begitu nyaman. Berlindung di bawah pohon besar dan menatap hamparan air danau yang luas dan indah.

 

“Key, kau suka?”

 

“Nde, Oppa. Disini bagus sekali.”

 

Sunghyun mencoba menenangkan dirinya sendiri, entah dia gugup atau bagaimana tapi rasanya jantungnya sudah siap keluar. “Kau tahu Key, aku sudah bosan sekarang.” Sunghyun menatap wajah Key dan itu membuat Key juga menatapnya. Menatap tak mengerti pada Sunghyun.

 

“Bosan disini, atau kau bosan karena menemaniku shopping?”

 

“Ah, bukan begitu. Aku hanya bosan menjadi temanmu.”

 

Perkataan Sunghyun membuat raut kecewa terlihat jelas di wajah Key. “Mianhe Oppa, jika aku selalu menyusahkan Oppa. Kau tahu ‘kan, aku memang begini adanya. Cerewet dan suka menyuruh orang sembarangan, aku…”

 

Key tak sanggup untuk meneruskan kata-katanya. Ia langsung diam saat jari telunjuk Sunghyun berada di bibirnya seakan memintanya untuk berhenti berbicara yang sama sekali tak penting.

 

Kemudian, ia masih harus dikejutkan lagi dengan usapan lembut jemari Sunghyun di pipinya. Kemudian perlahan Sunghyun membawa wajahnya untuk semakin mendekati Key. Semakin dekat dan mencium pipi Key.

 

Tubuh Key terasa kaku dan seakan dingin menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi, dan semakin diam saat Sunghyun mencium kedua kelopakmata cantiknya. Key terus memejamkan matanya, seakan mencari jawaban yang sebenarnya ia inginkan.

 

“Saranghae….”

 

.

 

 

 

 

 

 

 

 

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

 

Huwa…. udah gaje, lama pula update-nya. Maafkanlah…. author sok sibuk inih emang lagi banyak kerjaan.

Yosh… dinikmati ajalah…..

 

Gimana lanjutannya? Aneh? Gaje?

 

Kkk… sorry for typo…

 

Mind to RCL?

 

GAMSAHAMNIDA

^____^

Chicken Soup for Teenage Soul || SEKUEL CSOF || ch. 1

 

 

Author : rainy hearT

Length : Series

Rated : T to M

Cast :

– Cho Kyuhyun

– Lee Sungmin a.k.a Cho Sungmin

– Other SUJU and SHINEE member

-KyuMin aegya :

~ Cho Sunghyun a.k.a Sungie (N)

~ Cho Minhyuna.k.a Minhyunie (Y)

~ Sandeul b1a4  a.k.a  Cho Kyumin (N)

Haehyuk aegya

                ~ Lee Eunhae a.k.a Junior (N)

-Yewook aegya

                ~Kim Jongki a.k.a Kie (N)

 

-Zhoury Aegya

                ~ Jinyoung b1a4 a.k.a Zhoury (N)

 

-Sibum Aegya

                ~ Baro b1a4 a.k.a Sibum                (N)

-Jungmo x Leeteuk

~ Gongchan a.k.a Baby Soo (N)

– Yeoja Cast (GS)

                ~ Leeteuk            ~ Junsu’ie            ~ Taemin

                ~ Heechul            ~ Jaejong             ~ Key

Pairing : KYUMIN and Other Pair

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan dan diri mereka sendiri. Tapi Kyuhyun dan Sungmin saling memiliki. Kyuhyun milik Sungmin, Sungmin milik Kyuhyun

Genre : Romance / Family/Humor (dikit)

Warning : Boy x Boy / BL / YAOI, gaje, typo disana-sini, EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Summarry : “Menjadi dewasa adalah IMPIAN. Setelah dewasa karena usia adalah BEBAN. Karena semua yang kita lakukan adalah sebuah bekal, untuk melangkah bersama menuju satu titik KEDEWASAAN. Dimana KEJUJURAN akan menjadi satu tali yang mengikat kebersamaan kita. Raih genggaman tanganku dan kita akan tumbuh bersama.”

.

.

.

.

GAMSAHAE untuk yang selalu setia sama KYUMIN and menanti ff ini.

Be Patient with Me please. No Copas/No Bash. Don’t Like Don’t Read.

Mianhe, jika ceritanya semakin ngawur dan juga keluar dari KyuMin. Tapi inilah Chicken Soup.

Dimana kebersamaan dan kekeluargaan itu terasa nyata.

 

As a small present for OUR LOVELY AND THE GREATEST COUPLE

Let’s save their love, 13elieve in the name of 7ove….

.

.

HAPPY READING

.

.

CHICKEN SOUP FOR TEENAGE SOUL

.

.

.

.

Chapter 1

.

.

.

.

Rumah KyuMin

.

.

Yeoja cantik itu kembali menatap pantulan tubuh sempurna yang ada di hadapannya. Singlet berwarna merah dan putih yang ia padu padankan membuatnya terlihat cantik. Rambut yang sedikit curlly, juga polesan make up tipisnya membuatnya semakin terlihat modis.

Salahkah dia? Jika dia seenaknya dalam memakai seragam sekolahnya. Rok yang mungkin saja lebih dari 25 cm di atas lutut, dengan sepatu kets berwarna putih pink yang membuatnya terlihat semakin menggemaskan. Ditambah dengan pita pink yang menghiasi beberapa ikatan rambut curlly-nya. Benar-benar cantik.

“Perfect.”

Yeoja mungil itu tersenyum dan mengedipkan matanya. Yah terkesan nakal dan genit. Tapi itulah dia. Ia meraih tas sekolahnya, dan…

“Minnie baby…!”

“Yes… Mommy!!!”

Ia berlari secepat mungkin menuju lantai bawah. Menyunggingkan senyumannya, terlebih lagi saat ia melihat beberapa namja memakai seragam yang sama dengannya sudah menunggunya di meja makan.

“Morning all.”

“Morning baby.”

Kemudian yeoja mungil itu mencium kedua namja yang duduk di kursi utama, meski tak dapat di pungkiri dia sedikit melirik ke satu namja dengan wajah menggemaskan yang membuatnya ingin segera menciumnya.

“Morning Sungie Oppa.” Ia mendekat pada Sunghyun dan memeluk lehernya. Lalu ia mendekati namja yang sepertinya lebih muda darinya beberapa tahun, yang sepertinya juga sedikit risih ditatap olehnya. “Morning baby Kyumin.”

“Morning, Nonna…”

“Ish, ayolah jangan menghindar. Hari ini aku beri free hug karena aku sedang senang.”

Dan dengan terpaksa, Kyumin membiarkan Noona tersayangnya itu memeluknya erat. Mencubit gemas pipinya dan terus menciumnya.

“Ish … Noona! Aku bahkan belum pernah dicium yeoja manapun, kau ini menyebalkan sekali.”

“Hei, Kyumin-ah. Kau ini tampan, masa tidak pernah dicium yeoja? Asal kau tahu, aku bahkan sering mencium Jongkie dari aku kecil. Dia sangat menggemaskan.”

Yeoja itu mengedip genit pada namja yang kini berada tepat di hadapannya. Membuat namja itu menyembunyikan wajah memerahnya dan tersenyum kecil. Kemudian ia beranjak dan menghampiri namja yang duduk di sisi Kyumin, mengacak pelan rambut namja itu. “Hei… Junior! Rambutmu lengket sekali.”

“Ish… terserah.” Junior menyingkirkan tangan yeoja itu dan kemudian sibuk merapikan rambutnya.

Dan kemudian yeoja itu menyunggingkan senyumannya, melihat seseorang yang benar-benar bisa membuatnya bahagia selama ini. Cukup lama ia berhenti di sisi kiri namja itu, hingga membuat yang ditatap menjadi sedikit salah tingkah dan mulai gelisah. “Mwoya? Kenapa melihatku seperti itu?”

Aww… lihatlah… namja itu tengah menggodanya, mungkin. Wajah menggemaskan yang tak akan bisa ia tolak sedikitpun. “Kie!” Yeoja itu  memekik senang dan langsung memeluk posesif pada namja yang sudah mulai merasakan hawa dingin di tubuhnya.

Membiarkan yeoja itu semena-mena dan terus memeluknya erat hingga ia merasa sedikit sesak. “Uhhhuk… uhhhukkkk…” Kie terbatuk dan mulai mencoba menyingkirkan lengan yeoja itu. “Minnie baby, kau membuatku sesak.”

“Eum… mianhe.”

.

Chup….

.

“Ommo….Minhyunie….!!!”

.

“Ck….. noona itu memang tak tahu malu.”

Dan dalam sekejap saja, Minhyun menghentikan kegiatannya dari memeluk Kie. Ia segera mengangkat tubuhnya dan duduk di sisi Jongkie, kemudian menatap tajam pada Kyumin. “Hei, anak kecil. Kau tahu apa? Kie itu ’kan nantinya juga akan menikah denganku, bukankah tidak apa-apa. Iya ‘kan, nae sarang Kie…” Minhyun menoleh pada Jongki dan menatapnya lembut.

“Ah… n-nde…”

Aish, bagaimana bisa seorang namja sangat pemalu seperti itu. Eum…  sebenarnya tidak begitu pemalu jika ia tak bersama dengan yeoja, terlebih itu Minhyun. Dan sebenarnya Kie juga sudah terus menerus merutuki kebodohannya pagi ini. Ia mau saja menjemput Minhyun dengan alasan tak ada yang menantar. Ck… sungguh konyol.

“Eum… Min-ah. Makan saja sarapanmu, susunya juga di minum.” Jongkie menyodorkan segelas susu putih pada Minhyun, sesungguhnya ia sangat canggung dan tubuhnya sudah bergetar tak karuan. “J-jangan melihatku seperti itu.”

“Nde, Noona. Kau seperti hantu yang akan memakan Kie Hyung.”

Dan seketika saja, Minhyun menatap tajam pada Kyumin. “Hei, anak kecil. Kau ini ma…”

“Sudahlah Minnie baby.”

“But, Mom. Kyumin selalu saja bicara seenaknya, menyebalkan sekali.” Minhyun mempoutkan bibirnya kemudian ia kembali menatap tajam pada Minhyun. “Hei.. kalau kau seenaknya lagi padaku, aku tak akan mengenalkanmu pada Sibum. Heheeee…. kau pikir aku tak tahu?”

“Mwo?” Mata Kyumin membulat dan langsung melihat ke arah Kyuhyun dan Sungmin. Kyumin tahu, sangat tahu malah. Ia masih kecil. “Ahniya, Mommy.” Kyumin menggeleng pelan.

“Sudahlah Ming, jangan melihat baby Kyumin seperti itu.”

“Tapi Kyu, dia itu masih kecil. Baru juga 10 tahun, itu juga baru beberapa bulan kemarin. Ck… mau jadi apa jika semua aegya mengikuti sifatmu.” Sungmin menggeleng prihatin, kemudian ia tersenyum menatap Sunghyun. “Hanya Sungie saja yang sepertinya mau mendengar ocehanku.”

“Ck… Mommy…” Minhyun kembali  mempoutkan bibirnya. “Aku tidak mengikuti Daddy, eum… sedikit sih tapi…”

“Lalu, sikapmu seperti tadi itu kau meniru siapa? Kau ini yeoja chagi, jangan genit begitu.”

“Aish, Mom. Minnie itu tidak genit.” Minhyun kemudian meminum susunya dan melangkah dari kursinya, memeluk leher Sungmin dari belakang. “Minnie itu ‘kan meniru Mommy. Minnie cantik seperti Mommy dan juga pintar seperti Daddy. Minnie itu tidak genit, ‘kan Minnie genitnya cuma sama Kie ajah. Dia ‘kan ca…”

“Ya, dia itu calon suamimu. Baiklah, itu Mommy akui. Tapi bukan berarti kau bebas menciumnya kapanpun. Apa kau tak melihat, Kie itu sedikit sedikit terganggu dengan tingkahmu?”

Minhyun kemudian terdiam. Ia melepaskan pelukannya dan kembali duduk di kursinya. Menopang pipinya dengan satu tangannya, kemudian ia mengulurkan satu tangannya lagi untuk menyentuh pipi Kie yang memang cukup berisi. Kemudian menusuk-nusuknya pelan dengan jari telunjuknya.

“Nae sarang, Kie… memangnya Kie ga suka yah…”

Siapa yang bisa tahan dengan wajah cantik yang kini menatap penuh belas kasihan pada namja tampan itu? Membuat rona merah semakin terlihat jelas dan juga debaran jantung Kie mungkin saja bisa didengar oleh Minhyun.

Sungmin, ia sudah mengeleng heran. “Ck…Sungie-ah, bagaimana bisa Minhyun bersikap seperti itu? Apa kau sama sekali tak pernah membicarakannya dengan Kie? Mungkin saja Kie tak menyukainya.”

Dan Sunghyun hanya tersenyum kecil, kemudian menatap pada Kyuhyun. Hingga akhirnya mata mereka saling bertemu, “Daddy… kurasa dia lebih tau Mom.”

“Mwo?” Kyuhyun menatap tak mengerti pada Sungmin dan Sunghyun, yang kemudian hanya di balas senyuman kecil dari Sungmin.

“Nde…” Sungmin kemudian melanjutkan makannya. Nasi goreng kimchi ala Han appa. “Huah, aku merindukan Han appa dan Heenim Umma. Kenapa mereka malah lebih memilih tinggal di China?”

“Kalau kau mau, kita bisa kesana?” Kyuhyun menawarkan satu hal yang langsung saja membuat Minhyun mengalihkan kegiatannya dari menggoda si pipi merah bernama Kie itu.

“Daddy-ah, kau mau mengajak Mommy honeymoon? Iya?”

“Ah, ahni… hanya mengunjungi Han bojie…”

“Tidak boleh, kalian ini maunya pacaran terus… kencan terus… honeymoon terus… tapi kalau Minhyun pergi sama Kie ajah, semuanya di suruh ikutan.”

“Ck… Minnie baby, itu kan hal lain. Kau tak bisa memban…”

“Pokoknya tidak boleh! Atau Minnie akan kabur sama Kie, terus married terus… punya aegya banyak terus…..”

“Ck… hentikan Minnie.”

.

.

.

.

“Ayo, berhenti Oppa!” Minhyun berteriak keras pada Sunghyun, hingga dengan sangat terpaksa Oppa yang lemah lembut dan kalem itu harus menurut pada yeodongsaengnya yang sangat manja.

Sehingga membuat dua  mobil itu kemudian berhenti semua di tepi jalan. Minhyun keluar dari mobil Sunghyun dan Kyumin, kemudian ia berjalan menuju ke mobil merah mengkilat yang ia kenal betul siapa yang ada di dalam sana.

“Hei, Junior! Kau ikut mobil Sungie oppa, aku mau berangkat sama Kie.”

“Ck… selalu saja. Menyusahkan!” Dengan malas, junior beranjak dari duduknya. Ia sempat berkaca pada spion mobil Kie dan menata rambut lengketnya.

“Haish, junior! Kau ini tidak tau  yah caranya mengatur rambut? Mana rambutmu itu aneh dan lengket begitu.”

“Ini bukan lengket Min, kalau pakai gel rambut ya seberti ini.”

“Ahni, tapi Kie tidak.” Minhyun kemudian masuk ke dalam mobil Kie dan berkedip genit pada Kie. “Kau lihat, Kie itu tampan dan apa adanya.”

“Huh, itu karena kau menyukainya.”

“Ya, memangnya kenapa? Dia kan tunanganku.”

Dan junior sudah malas untuk berdebat lebih jauh dengan Minhyun, ia lebih memilih segera masuk ke mobil Sunghyun dan langsung berangkat menuju ke multi school mereka.

.

.

.

Seoul International Multischool

.

.

.

Multi sekolah dengan tingkatan dari primary hingga universitas yang terkenal di Seoul, dan sebagai pemilik 50 % saham sekolah adalah Cho Hangeng. Ck…. sungguh besar pengaruh  keluarga Cho di Korea. Mobil hitam Sunghyun memasuki area parkiran utama di depan gedung sekolah Kyumin.

Kemudian diikuti oleh mobil Kie.

Mereka  semua turun dari mobil itu dan kemudian berjalan bersama mengantar Kyumin yang memang baru tingkatan primary, benar-benar masih kecil.

“Hei, Kyumin baby.” Minhyun menarik lengan Kyumin, dan kemudian menyamakan tingginya dengan saeng kesayangannya itu. “Kau mau titip apa untuk Sibumie.”

Kyumin menggeleng malas. “Ahni, Noona. Kau sama sekali tak bisa dipercaya, aku tak mau bagi rahasia denganmu lagi.” Kyumin hendak masuk ke dalam kelasnya jika saja Minhyun tak kembali menariknya.

“Benarkah? Kau tak mau memberikannya?”

“Apa?” Kyumin memasang wajah innocent-nya. Ia sedikit menggeleng dan menunduk, menyembunyikan rona merah yang terlihat jelas oleh mata Minhyun.

“Baiklah, jangan menyesal jika aku akan merampoknya darimu. Eum… kira-kira sweater itu muat tidak yah jika dipakai Kie?”

“Yah! Noona!” Kyumin berteriak keras, membuat semua hyungnya yang tadinya sibuk tebar pesona pada hoobae mereka jadi menatap pada Minhyun dan Kyumin.

“Kenapa Kyumin-ah?”

“Ahnia, Sungie Oppa. Eum, Kyumin ada urusan dengan Noona. Jadi Noona ditinggal saja, sanah kalian ke kelas dulu.”

Dengan cepat Kyumin menyeret lengan noonanya, dan mengabaikan wajah bengong dan heran dari ketiga namja yang masih menatap mereka meski jarak mereka sudah jauh.

“Kie, apa kau yakin akan menikah dengan Minhyunie?”

Kie langsung menatap penuh tanya pada junior. “Apa maksudmu? Bukankah kami sudah bertunangan sejak kecil? Mau aku berusaha seperti apa juga, pasti tak mungkin menikah dengan yeoja lain. Kau lihat saja, Minhyunie itu selalu mengawasi setiap yeoja yang dekat denganku.”

“Nde, terlebih jika itu Taeminnie. Hahahhaaa…” Junior tertawa jahil dan kemudian merangkul leher kedua sahabatnya, berjalan bersama menuju kelas mereka. “Hei, Sungie. Meski kita sudah besar dan sebesar ini, tapi aku masih heran. Bagaimana bisa sifatmu dan Minhyunie itu sangat berbeda?”

Ingin rasanya Sunghyun menjitak dahi Junior, tapi ia mengurungkan niatnya saat ia melihat dua yeoja melintas di hadapannya.

“Annyeong, Oppadeul.” Kedua yeoja itu tersenyum dan sedikit membungkuk, Junior dan yang lainnya juga berhenti di depan mereka.”Kemana Minhyunie?” Yeoja dengan kacamata berbingkai hitam yang tak mampu menyembunyikan kecantikan kitty eyes-nya dan rambut curlynya yang ia ikat menjadi dua itu bertanya dengan seenaknya. Memancarkan kecantikannya tanpa sedikitpun memikirkan perasaan Sunghyun.

“Dia ada di kelas Kyumin. Eum… Key, memangnya ada apa?”

“Ahni, hanya saja seonsaeng memintaku untuk menemuinya. Yah, seperti biasa. Kami punya tugas bersama dan satu kelompok. Meski ia tak begitu nyaman dengan Taemin, tapi aku bersyukur dia mau mendengarkan aku.”

Mereka kemudian berjalan bersama menuju ke kelas. Yah, kelas yeoja dan namja berbeda. Dan Untungnya Minhyun itu berteman baik dengan Key, dan meski tak berteman baik dengan Taemin tapi yeoja manja itu masih bisa mengontrol dirinya sendiri.

“Ah, baguslah. Jadi kalian satu kelompok untuk minggu ini. Aku percayakan Minnie padamu, kau tahu bukan, dia itu pencemburu.” Sunghyun tersenyum canggung dan sedikit melirik Kie.

“Ck… Minhyun itu memang terlalu mencintai Kie, dan aku masih ingat bagaimana tingkah Minhyun saat mendengar  kabar jika ia akan bertunangan dengan Kie. Dia sangat lucu dan juga sedikit berlebihan.  Iya, ‘kan Sungie?”

Kie hanya menggeleng kecil. “Haish, sudahlah. Jangan diingat lagi, itu membuatku  malu.”

“Nde, Kie. Minhyun itu memang sangat mencintaimu.” Sungie berhenti berjalan dan kemudian ia duduk di salah satu kursi yang terdapat di pinggiran kelas. Membuat yang lainnya juga ikut berhenti. “Aku masih ingat, saat dia mencium bibirmu. Akh… itu pertama kalinya, first kiss on lips pada usia 6 tahun. Hahahhaa… Kalian lucu sekali.”

“Ya!!! Sudah, berhenti meledekku. Ish…” Kie berteriak kecil. Sungguh, ia sendiri juga tak tahu sudah seperti apa wajahnya sekarang. “Kalian ini, mengumbarnya didepan Key dan Taemin. Membuatku malu saja.”

“Ahniya, Oppa. Kami sudah tahu, Minhyunie pernah menunjukkan fotonya. Dan aku akui, dia sangat cantik. Meski dulu masih 6 tahun tapi dia sudah sangat cantik.” Suara lembut Taemin terdengar begitu serak dan kasihan.

Sebenarnya yeoja itu sudah menahan sesaknya sedari tadi, atau bahkan dari beberapa tahun yang lalu. Seakan tak ada yang tahu, dan ia menyembunyikannya dengan baik. “Eum, kami akan kekelas kami dulu Oppa. Katakan pada Minhyunie, kami menunggunya di lab. Biologi.”

“Nde Taeminnie.” Kie mengangguk pelan dan semua namja itu hanya menggeleng melihat kepergian Key dan Taemin. Mereka kemudian berjalan lagi, menuju ke kelas mereka.

“Taemin, dia pintar sekali. Tak heran dia bisa setingkat dengan kita dan lompat 2 kelas sekaligus.” Junior bergumam pelan dan kemudian sedikit melirik pada Kie. “Kie, apakah benar kau memang tak pernah menyukainya?”

Pertanyaan bodoh Junior itu berhasil mendapatkan free jitakan di dahinya. “Kau ini bicara apa? Disini ada Sungie, apa kau tak takut dia akan membantingmu? Ingat, dia itu pemegang sabuk hitam.” Kie menatap takut-takut pada Sunghyun. Namja itu berjalan pelan di belakang mereka, dan memang sedikit tertinggal jauh tapi bukan berarti Sunghyun tak bisa mendengarnya. Itulah yang di khawatirkan Kie.

“Dia tak mendengarnya Kie.” Junior melihat ke belakang dan Sunghyun masih sibuk dengan ponselnya. Entahlah, apa yang dia lakukan dengan ponsel itu. “Jadi, bagaimana?”

“Molla…” Kie ikut bergumam pelan. Ia memasukkan kedua tangannya ke sakunya dan melihat ke sekitar. Pandangannya bisa menemukannya. Meski ia tak berniat mencarinya tapi ia tetap bisa menemukannya.

Junior  ikut melihat apa yang menarik perhatian Kie. Ia tersenyum kecil dan kemudian merangkul leher Kie. “Hey, aku tahu kau mencintainya. Hahahhaaa….”

Kie kemudian tersenyum dan menggeleng kecil. “Entahlah, tapi….” Kie menatap dalam pada yeoja yang terus berlari dan sedikit meolompat. Terlihat sangat bahagia. Yeoja itu sudah tersenyum dari kejauhan dan terus berlai ke arahnya. “Dia selalu bisa membuatku menemukannya.”

Jongkie kemudian menoleh pada Junior dan menepuk pelan pipinya. “Nanti jika kau telah mencintai seseorang, pasti kau juga akan tahu kalau kita tak perlu mengucapkan kata itu. Yah, meski terkadang Minhyun menuntutku untuk mengatakannya. Yang penting adalah disini….” Kie menunjuk dada Junior, tepat pada jantungnya.

“Jantungmu berdetak semakin cepat, saat kau melihatnya. Terlebih melihatnya tersenyum padamu. Bukankah begitu, Sunghyunie?”

“Nde.” Sunghyun tersenyum kecil. “Aku juga bisa merasakannya.”

“Kie!!!”

Suara pekikan keras itu sudah terdengar jelas, meski si empunya suara masih berada sedikit jauh dengan mereka. Kemudian yeoja cantik itu dengan tergesa terus berlari kecil hingga…

.

Hup….

.

“Kie!!!”

Tubuh rampingnya di tangkap oleh Jongkie, pemandangan yang manis untuk pagi ini. Jongkie hanya tersenyum kecil membiarkan Minhyun memeluknya erat.

“Bogoshippeo Kie, saranghae….”

“Nde, nado saranghaeyo…”

.

.

.

.

.

Cho Kyuhyun POV

.

.

Ini sudah lebih dari 10 tahun, dan aku masih menyembunyikannya. Kenyataan dimana aku tak sengaja melakukannya hingga sekarang harus orang lain yang menanggung beban itu.

Aku tak menyangka, jika dia akan rela mengorbankan kehidupannya demi menolongku. Masih bisa kuingat dengan jelas, saat Wookie tersenyum kecil padaku dan mengatakan ‘Gwenchana.’

Aku benar-benar orang yang jahat. Aku tak bisa menerima kebaikan dari Yesungie, terus menerus menerima semua kebaikannya termasuk menyerahkan Kie untuk Minhyunie. Dia terlalu baik, hingga tak pernah menyalahkan aku karena kematian Wookie.

.

.

.

Kyuhyun Mind’s , a years ago

.

.

“Mianhe.”

Aku terus berkata maaf saat menemukan Yesung yang sepertinya begitu terpuruk. Aku mengunjunginya, bukan karena dia yang memintanya. Hanya saja sepertinya aku merindukan rumahnya. Rumah yang begitu tenang dan penuh dengan wangi bunga, rumah Wookie.

Aku menemukannya, menangis pelan dan menunduk. Memegang satu pot bunga dan aku tahu pasti apa yang ada di pot itu. Bunga snowdrop yang kering.

“Yesungie, aku…”

Dan dia menggeleng. “Sudahlah.”

“Tapi, ini semua karena…”

“Bukan karena siapa. Ini keinginan Wookie, dia yang melakukannya. Dia yang ingin menolongmu, jadi sudahlah tak usah di permasalahkan lagi.”

Bagaimana bisa dia berkata semudah itu, berkata seolah dia tegar padahal dia terus menangis. Aku sungguh jahat. Tapi, apa yang bisa kulakukan.

“Mianhe.”

“Sudahlah, itu bukan salahmu. Ini hanya karena aku saja yang tak bisa menerimanya, mungkin belum bisa menerimanya.”

.

.

.

.

.

Kami sekarang duduk berdua di kamar Yesung hyung. Kamar yang begitu sepi dan sangat dingin. Ia meletakkan bunga snowdrop kering itu di sisi jendela yang ada dikamarnya.

“Aku harap, tahun yang panas ini segera berakhir dan salju akan menghidupkannya lagi.”

Aku sempat tak mengerti apa yang ia katakan, hingga akhirnya dia mengatakan semuanya. Mengatakan kemarahan yang sempat ia rasakan dan juga kekesalannya padaku.

“Dulu, membuat Sungmin hamil itu hal mudah. Dan tanpa berfikir dua kali, kami bisa membuat Hyukkie hamil. Itu adalah hal mudah, sebelum raja peri menghilangkan kekuatanku. Kemudian menyerap separuh kekuatan Wookie hingga akhirnya ia semakin melemah__”

“__ Wookie menyihir salju untuk terus menghidupkan snowdrop ini. Ini adalah rumahnya, dan selama bunga ini hidup maka selama itu juga dia akan terus hidup. Tapi, badai itu menyerang. Kau pasti mengingatnya, saat itu entah bagaimana bisa Seoul begitu panas. Membuat Wookie harus mengeluarkan kekuatan lebih dari sihirnya untuk menahan snowdrop itu tetap hidup. Tapi ternyata tak bisa bertahan lama__”

.

.

.

.

Aku sangat merasa bersalah. Menyimpan semua rahasia ini begitu lama, dan terus menambah luka Yesung hyung. Dan entah bagaimana, ia malah semakin terlihat tegar dan aku malah terlihat semakin terpuruk.

Aku masih bisa mengingatnya dengan jelas, saat ia berkata dengan begitu mudahnya.

“Aku bisa meminta Jongkie untuk menghidupkan Wookie kembali. Tapi kurasa itu butuh beberapa tahun lagi, hingga ia mencapai batas maksimal kekuatannya dan bisa merubah dirinya sendiri menjadi peri.”

“Kenapa kau tak meminta bantuan Raja Peri, bukankah…”

“Aku tak bisa ke dunia peri, kekuatanku hilang. Bahkan hanya sekedar telepati saja, aku tak bisa melakukannya.”

Wajah itu sangat sedih, dan semakin membuatku ah… ahni. Bukan membuatku, tapi memaksaku untuk mengakuinya pada Sungmin. Bukan ingin membuatnya merasa bersalah, tapi sedikit berharap jika bebanku akan berkurang.

Terus berpura-pura didepan Sungmin seakan hidupku tanpa beban  padahal yang sebenarnya jauh didalam hatiku, aku lelah untuk terus berpura-pura.

.

.

.

.

Cho Kyuhyun POV end

.

.

.

“Hei…”

“Eh, Sungmin-ah.” Kyuhyun tersentak kaget saat merasakan tangan Sungmin menyentuh bahunya. Yah, memang saat itu ia sedang merenung. Melihat foto keluarga mereka yang terlihat bahagia. Ia menatap fotonya, bersama Sungmin dan ketiga aegya mereka.

Jujur ia merindukan seseorang.

“Waeyo?”

Kyuhyun tak bisa mengalihkan perasaannya untuk bisa benar-benar lega dan tenang. Ia hanya tersenyum kecil dan memeluk tubuh mungil Sungmin yang sedari tadi melingkarkan lengannya di pinggangnya.

“Eih? Hei….” Sungmin tersenyum canggung, hingga akhirnya ia mulai tertawa lirih saat merasakan pelukan Kyuhyun yang semakin erat.

Sungguh, Kyuhyun ingin mengatakannya dengan jujur. Ia tak mau bersembunyi lagi. Tapi, akankah ia sanggup?

‘Jika saatnya tiba, aku ingin kau tak menghukumku Ming…. aku melakukannya untukmu, saranghae…’

“Kyu, kau melamun?”

Kyuhyun menggeleng pelan. “Ahni, hanya saja melihat Kyumin sudah besar dan juga twins membuatku semakin tua. Bahkan Han appa masih terlihat sangat tampan, tapi kenapa aku terlihat tua?”

Sungmin tersenyum  dan menengadahkan kepalanya. Menatap wajah tampan Kyuhyun. “Kau masih tampan, dan sangat tampan. Jangan melamun terus, entah kenapa bertahun terakhir ini membuat aku merasa jika kau sedikit berubah.”

Sungmin menghela nafasnya dan mengusap pelan dada Kyuhyun. Menundukkan wajahnya dan menatap hampa pada kemeja biru muda yang dipakai Kyuhyun. “Terlebih setelah kelahiran Kyumin, dan beberapa tahun kemudian hingga sekarang sepertinya kau menjadi lain.”

“Ahni, hanya perasaanmu saja. Aku biasa saja, dan masih sangat mencintaimu.” Kyuhyun mencium pucuk kepala Sungmin. Menyalurkan rasa rindunya pada tubuh Sungmin, wangi yang selalu membuatnya lebih tenang.

“Bukan, bukan seperti itu. Kau lain Kyu, sepertinya ada beban yang kau sembunyikan.” Sungmin kembali mengangkat wajahnya dan menatap Kyuhyun. Mata mereka saling bertemu dan itu membuat Kyuhyun semakin merasakan sakit dihatinya.

Mata polos Sungmin benar-benar sukses membunuh keberaniannya. Terus berfikir lagi dan lagi, haruskah ia mengatakannya? Ataukah membiarkan beban itu terus menjadi rahasia, yang mungkin akan terus ia sembunyikan dari Sungmin.

“Tidak apa-apa, Ming. Aku tak menyembunyikan apapun.”

Dan biarkanlah Kyuhyun menyimpannnya dulu, mungkin sebentar lagi atau bertahun lagi.

.

.

.

.

.

.

Yeoja itu berjalan anggun keluar dari mobilnya. Tersenyum melihat rumah megah dengan berbagai tanaman bunga di halamannya. Rumah yang segar dan wangi, yang cukup terawat untuk  awal musim dingin yang sudah mulai meniupkan anginnya.

Ia mengeratkan mantelnya dan berhenti di depan pintu. Mengetuknya pelan, dan menunggu sesaat. Ia tersenyum kecil dan sedikit mengatur dirinya. Dan semakin tersenyum lebar saat pintu itu terbuka.

“Annyeong….”

“Nuguya?”

“Aku Han Su bin, eum… ini rumah Choi Sibum bukan?”

“Nde.”

“Kau Choi Kibum?”

“Nde?”

“Kita perlu bicara.”

.

.

.

.

Kini yeoja itu dan Kibum saling menatap tajam. Beribu kemarahan bertumpuk di hati dan otaknya. Seakan siap meledak kapan saja, ia benar-benar tak bisa menerimanya.

“Mianhe, tapi aku hanya ingin mengambilnya.”

“Apa? Kau tak bisa seenaknya. Dia aegya kami.” Kibum menunjukkan kekesalan dan sisi manly-nya. Ia beranjak dari duduknya dna menunjuk kesal wajah tamunya.

“Tapi dia anak kandungku, aku hanya menitipkannya pada kalian.”

“Kau tak bisa seenaknya. Meski dia sering membuatku kesal, dia tetap anakku dan akan selalu menjadi anakku.”

Yeoja itu mulai menangis terisak. “Salahkah aku jika aku menitipkannya pada kalian di saat aku benar-benar tak bisa bertahan dan mempertahankannya. Ia akan mati jika terus bersamaku dulu.”

“Lalu kenapa kau membuangnya?” Kibum sedikit berteriak dan mulai mengeluarkan kemarahannya. Ia sungguh kesal dengan yeoja yang seakan terus merintih lemah didepannya itu.

“Aku tidak membuangnya. Apa yang akan kau lakukan, jika mati adalah jalan untuk aegyamu bila ia terus bersamamu?”

“Cih…. alasan klasik…”

“Jebal… kembalikan dia padaku….”

Kibum menghela nafasnya, melepaskan kacamatanya dan kemudian duduk menyandarkan punggungnya pada sandaran sofanya. Tertawa kecil. “Heehehe…. jangan gunakan air matamu itu, kau pikir aku akan berubah pikiran jika kau menangis? Kau pikir kau siapa? Seenaknya saja mau mengambilnya setelah meninggalkannya bertahun di rumah kami.”

Subin mengusap air matanya. “Aku tak akan menangis jika ini tak terlalu menyiksaku. Kau tak tahu bagaimana penderitaanku, dan hanya dengan menitipkannya padamu maka dia akan terus hidup.”

Kibum, dia hanya diam dan seakan malas mendengar cerita yeoja itu.

“Baiklah, mungkin kau tak mau mendengarkannya. Tapi, aku benar-benar harus melakukannya.”

“Sudahlah, kau pulang saja. Aku tak mau melihatmu datang kemari lagi.”

“Tapi aku harus….”

“Mommy!!!”

Dan teriakan itu, sedikit memberikan harapan bagi Subin. Hingga akhirnya namja itu malah memeluk Kibum. “Mommy, aku lapar sekali.”

“Eum…  ganti bajumu dulu, Mommy sudah menyiapkan menu kesukaanmu. Mommy ada tamu, jadi mungkin kau mau makan….”

“Ahniya, aku akan menunggumu Mom. Kau tahu kan, aku tak bisa makan kalau tak ada Mommy.”

.

Chup~

.

Kecupan singkat itu mendarat di pipi Kibum, sebelum akhirnya Sibum berlari menuju lantai atas. Menuju kamar dengan pintu berwarna biru itu.

Kibum menatap penuh kasihan pada Subin, kemudian ia menggeleng. “Ck… ck… lihatlah, kau belum buta bukan? Dia sangat menyayangiku dan jangan harap dia akan menganggapmu Ummanya. Kau menyiakannya, dan itu adalah pilihan terbodoh yang kau lakukan. Asal kau tahu, dia sangat berharga bagiku.”

Subin yang semula berdiri, kini menjatuhkan tubuhnya. Menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan mulai terisak. “Waeyo? Ini terlalu sulit, aku hanya… aku…”

“Mom! Kajja!”

“Dia sudah memanggilku, sebaiknya kau pulang.”

Subin segera meraih tas dan mantelnya, bergegas meninggalkan rumah Kibum. Sementara itu, Kibum melangkah menuju ruang makan mereka.

“Nuguya, Mommy?”

“Molla, hanya seorang ahjumma yang ingin bercerita dengan Mommy.”

“Eum, mommy memang keren. Padahal tak pernah praktek di rumah sakit, tapi ada saja yang datang dan bercerita tentang masalahnya pada Mommy. Mommy jjang!” Sibum menyodorkan jempolnya. “Mommyku, dokter psikolog yang hebat.”

Sibum kemudian beranjak dari duduknya dna memeluk leher Kibum. “Mom…”

“Nde.”

“Eum, tadi Kyumin baby memberikan aku sweater.”

Kibum menoleh ke belakang dan melihat wajah memerah aegyanya. “Lalu dia mengatakan apa lagi?”

“Dia memang membeli dan membungkus  sweaternya, tapi yang memberikannya padaku itu Minhyun Noona.” Sibum melesakkan wajahnya di ceruk leher Kibum, menyembunyikan wajah memerahnya.

“Ommo… Sibumie, wajahmu memerah. Hei, apa kau menyukai Minhyun nonna-mu itu? Atau kau menyukai Kyumin baby?”

“Eoh????”

.

.

.

.

TBC

.

.

Otte??? Aneh ya??? Maklum, suka ngeblank sendiri nih pikiran…. kkkk

 

Yosh, yang penting ma aku udah upate. Kkk… sorry for typo…

 

Mind to RCL?

 

GAMSAHAMNIDA

^____^