HORMONES- The Confusing teens-Dopamine_KyuMin|YAoi

 HORMONES KYUMIN FF

Author : rainy hearT

Length : Series (?)

Rated :  T

Cast :

-Cho Kyuhyun & Lee Sungmin

– EunHae

-BaDeul

-HanChul x SiChul

-YeWook

-YunJae

-OnKey

-2Min

Pairing : || KYUMIN |

Desclaimer : Semua cast belongs to God and themselves. Dan seperti biasanya, jika saya bisa saya sudah meng-Klaim seorang Lee Sungmin menjadi milik saya.#Mimmpi….#

Genre : ||Drama || Romance|| Angst | Fluff

Warning : || BL/ YAOI || Gaje || typo’s || EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia||

Sumarry : I just pick some scene’s from mini series from Thai, named Hormones. It’s just get inspired by the tittle, but actually the story inside was so different, not same as the series. If you like Thai series, better chek it out. The mini series was so damn fucking good. Trust me.

 

.

 

Another PRESENT From Me

.

~The Confusing Teens~

.

 

Just KYUMIN

 

Please be Patient With me. Don’t Like Don’t Read. No copas No bash.

 

.

 

HAPPY READING

.

.

 

Part 2 (Dopamine)

 

 

.

 

.

 

Hae’s home…

.

 

.

 

“Bagaimana Hyung, apa handycam-nya sudah siap?”

 

“Sebentar, Hae.”  Yesung mengangguk yakin saat ia sudah memastikan oom dan angle yang akan dia dapatkan. IA memilih duduk di lantai kamar Hae dan bersiap. “Oke. Siap!” Yesung mengacungkan jempolnya.

 

Donghae sudah bersiap dengan gitarnya. Hari ini ia ingin membuat sebuah demo yang akan dia unggah ke youtube, dan juga media social sekolah. Hae sudah sangat siap, dan kali ini ia akan menyanyikan lagu ciptaanya.

 

Hae hendak memerik gitarnya, tapi ia berhenti. Ia melirik pada Kyuhyun. “Hei, Kyu!!! Ayo bantu aku, aku butuh bantuanmu.  Seorang namja paling keren satu sekolah.”

 

Kyuhyun yang tengah sibuk dengan psp-nya mau tak mau meletakkan benda kesayangannya itu terlebih dahulu. Kyuhyun mendengar suara pintu terbuka, ia mengangguk hormat saat melihat Umma-nya Hae di ambang pintu.

 

“Hae!!!”

 

“Nde!!”

 

Hae’s Umma masuk ke kamar anak kesayangannya itu. “Aku akan masak bulgogi, kalian pasti akan menyukainya. Ayo, makan bersama.”

 

“Nde, ahjumma.” Yesung menjawab bersamaan dengan Kyuhyun. Mereka mengabaikan wajah kesal Hae. Setelah yakin jika umma-nya sudah meninggalkannya, Hae menatap kesal pada kedua sahabatnya.

 

“Ck… bukankah kalian masih ingat? Jika Umma meminta kalian makan malam disini, jangan mau.”

 

Kyuhyun menepuk bahu Hae. “Tidak apa-apa, aku sudah biasa mendengar suara cempreng Umma-mu.”

 

“YA! Tapi Umma-ku terlalu berisik. Dia bisa berbicara sepanjang waktu makan malam dan menceritakan semua kejelekanku.” Hae menatap Kyuhyun dan Yesung. “Begini saja, kalian bantu aku membuat demo malam ini, dan jangan makan malam dirumah. Aku akan mentraktir kalian Di Grill 5 Taco.”

 

“Deal!!!” Kyuhyun berseru senang. “Ayo, lakukan.”

 

Mereka memulai merekam demo yang akan diunggah ke youtube. “Tadinya aku hanya dapat 30 view dalam satu minggu. Sekarang pasti langsung ribuan. Hahhaa…!” Donghae tertawa polos.

.

 

.

.

.

 

“Dimana Kyuhyun dan Yesung?”

 

“Mereka sudah pulang, Umma.”

 

“Padahal umma sudah memasak sangat banyak, kenapa kau biarkan mereka pulang.” Hae’s Umma meletakkan piring berisi sayuran dan kemudian sibuk menuangkan sayur ke piring Hae. “Seharusnya mereka ikut kita makan.”

 

Donghae menggeser kursinya dan duduk dikursi. “Tidak apa-apa. Aku yang akan habiskan.” Hae tersenyum pada Ummanya. Yah… dia merasa bersalah. Terkadang ummanya memang sangat berisik. Hae melihat TV yang masih menyala dihadapannya. “Appa, besok belikan aku itu yah???”

 

Hae’s Appa melihat iklan yang masih di putar di TV itu. Iklan sebuak skuter yang memang baru di luncurkan beberapa hari kemarin. Ia tak bisa membiarkan Hae mengendarai motor itu. Hae anak yang cukup ceroboh. “Tidak bisa, itu bukan mainan anak ceroboh sepertimu.”

“Tapi appa….” Hae merengek. Ia menoleh pada Umma yang duduk disisinya. “Umma, belikan aku itu yah???”

 

“Mianhe, appamu bilang tidak. Jadi umma tidak bisa berbuat apapun.”

 

Hae cemberut. Ia memasang wajah memelasnya.

 

“Sudahlah, Hae. Umma sudah menyiapkan susumu. Sebelum naik, bawa keatas dan habiskan.”

 

Hae hanya mengangguk patuh. Sejujurnya ia kesal. Ia masih saja dipandang dan diperlakukan seperti anak kecil. Setelah menyelesaikan makan malamnya, ia naik keatas menuju kamarnya. Ia sudah tak sabar untuk melihat bagaimana reaksi viewer di video yang diunggahnya.

 

Hae mereload  halaman terakhir dari youtube. Dan, “Coooollll!!!” Hae berseru senang.

 

Dilayar tertera jelas. “1448.”

.

 

.

 

.

 

At School!!!

 

.

 

.

 

Esoknya Hae merasa seperti menjadi artis dadakan. Mungkin mengalahkan perasaan artis kilat lainnya yang terkenal hanya lewat youtube. Dia berjalan menuju  kelasnya dengan senyuman lebar diwajahnya.

 

Ia menemui Yesung dan Kyuhyun yang tengah menikmati waktu santai mereka di tepian lorong sekolah mereka.

 

“Hae-ah…. sepertinya kau senang sekali.”

 

“Nde, Kyu!!!! Kau tau viewernya pagi ini sudah 2500. Itu bagus sekali. Ah… biarkan aku merasakan menjadi seorang artis dulu.

 

“Kyuhyun Sunbae!!!”

Tiba-tiba datang segerombolan namja yang sudah pasti Kyuhyun tidak mengenalnya. Key, Jonghyun dan Jino. Sebenarnya Jonghyun malas mengikuti Key. Tapi Key memang sangat manja dan pemaksa. Dia tak segan-segan mengomeli  Jonghyun didepan orang banyak. Key menyeret Jino untuk mendekat kepada Kyuhyun.

 

“Kyuhyun Sunbae, aku sudah melihat video yang kau unggah. Lagunya bagus!!! Bisa berfoto bersama?”

 

“Tentu saja, cantik…” Kyuhyun tak lupa memberikan rayuan maut. Yesung hanya bisa menggeleng heran. Kyuhyun memang tak bisa diam jika melihat makhluk cantik. Key memberikan ponselnya pada Yesung. Tapi saat Yesung sudah bersiap mengambil foto, Key kembali berubah pikiran.

 

“Yesung sunbae ikut berfoto dengan kami.” Key menatap Donghae. Ia menarik ponselnya dari Yesung dan memberikannya pada Donghae. “Sunbae, tolong fotokan untuk kami. Eum 2 kali yah, takutnya nanti hasilnya kurang bagus.”

 

Sebenarnya Donghae sangat kesal. Ia memang tak bisa sepopuler Kyuhyun, tapi kenapa seperti ini. Mau tak mau, meski sangat kesal ia memotret mereka.

 

“Hae, sepertinya kau masih kalah populer dari Kyuhyun.”  Setelah segeromnolan namja itu pergi, Yesung tertawa pelan dan menepuk bahu Hae. Bermaksud untuk menenangkan namja itu, tadinya memang berniat seperti itu. Tapi akhirnya Hae semakin dongkol dan kesal.

 

“Kenapa seperti ini? Aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi artis terkenal.”

 

Kyuhyun dan Yesung hanya tertawa melihat komentar polos Hae. Anak itu memang benar-benar masih sangat polos.

 

“Annyeong…”

 

Hae terdiam seketika. Ia melihat salah satu sunbae mereka -mahasiswa- yang Hae kenal benar jika namja ini adalah salah satu personil dari Spaceband.

 

“Sunbae….”

 

“Aku melihat video di youtube. Bukankah kau yang memainkan gitar?”

 

Hae mengangguk semangat.

 

“Aku akan mengadakan audisi akhir pekan ini. Aku tunggu di ruang musik sekolah sabtu sore.”

 

“Ya, pasti. Aku pasti akan datang.”

 

Setelah sunbae itu pergi, Hae berjingkrak senang. Ia bahkan tak malu saat dengan seenaknya mencium pipi Kyuhyun dan Yesung. “Cool!!!”

 

.

 

.

 

.

 

Prok..! Prookkkk!

 

“Ah.. Eunhyuk-ah!” Hae berlari kencang menuju Enhyuk yang menyambutnya dengan tepuk tangan meriah dari dalam kelas.

 

“Aku dengar kau diterima di band itu, chukkae!”

 

Hae memeluk Eunhyuk. “Nde. Ah… kami akan mengadakan pertunjukkan untuk menutup acara sekolah. Aku ingin kau merekamku nanti dan pastikan kau ada di barisan pertama.”

 

“Nde…”

 

.

 

.

 

.

 

Sekolah sangat meriah. Terlebih, nanti akan ada pentas seni yang dibuka oleh band sekolah mereka. Hae sangat gugup, ini pertama kalinya dia tampil didepan banyak orang. Hae melihat penonton yang sudah mulai berkumpul di depan panggung. Ia tersenyum melihat semua siswa sepertinya benar-benar tertarik untuk melihat penampilan Spaceband.

 

“YA! Hae-ah, ayo ambil posisi.”

 

Hae mengangguk. Ia kemudian naik ke panggung dan mengambil gitarnya. Bersiap untuk mengiringi vokalis band mereka. Kali ini mereka akan memainkan lagu wajib Spaceband. Lagu yang sedikit bergenre rock meski dengan lirik yang sedikit melow.

 

Seperti janjinya, Eunhyuk berada di barisan depan. Dia sudah bersiap dengan kamera ponselnya. Awalnya Enhyuk takut, saat iamelihat keraguan di raut wajah Hae. Tapi entah mengapa, lama-kelamaan ia malah menjadi khawatir. Hae sepertinya terlalu menikmati atau malah over dalam memainkan gitarnya.

 

“Lihatlah, bukankah dia gitaris baru?”

 

“Nde, tapi kenapa main gitarnya seperti itu?”

 

“Ih… aneh sekali. Bagaimana bisa dia mengiringi Subin eonni?”

 

“Ia, permainan gitarnya juga jelek sekali.”

 

Eunhyuk sudah memaksakan diri untuk menulikan telinganya dan tak mempedulikan ocehan para yeoja yang berdiri disekitarnya. Mereka mengomentari permainan gitar Hae. Eunhyuk memfokuskan dirinya untuk melihat penampilan Hae, tapi lama kelamaandia juga merasakan jika apa yang dikatakan para yeoja berisik itu memang ada benarnya. Eunhyuk mulai ragu. Ia menurunkan ponselnya.

 

Ia melihat penampilan Hae yang malah semakin lama semakin berlebihan. Ia merasa kesal sendiri dan kecewa, seharusnya Hae tak perlu bermain seperti itu.

 

Setelah penampilan Spaceband selesai, Hae langsung turun dari panggung. Ia heran kenapa di detik-detik akhir Enhyuk malah pergi dan tidak menonton penampilannya lagi. Ia mencari Eunhyuk  ke seluruh ruangan dan lorong sekolah. Tapi semuanya sepi.

 

Akhirnya Hae memilih untuk kembali ke ruang kelasnya. Ia menemukan ponselnya sudah berada di meja. “Ah.. pasti dari Hyukkie.” Hae memutar videonya dengan semangat. Ia sudah tak sabar melihat seperti apa penampilannya tadi.

 

Awalnya Hae memang merasa senang, ia terlihat seperti pemain gitar profesional tapi saat Hae mulai mendengar suara berbisik-bisik, ia mulai merasa terganggu. Hae mengeraskan volume rekaman video itu. Meski suara musik lebih keras tapi Hae bisa mendengar suara dari beberapa yeoja yang mengomentari penampilannya.

 

Hae menghentikan video itu. Ia tertegun. ‘Apa ini alasan Hyukkie?’

 

.

 

.

 

.

 

“Hae, Umma akan mengajakmu untuk makan di restoran Jepang. Kita akan merayakan penampilan pertamamu dengan bandmu itu. Bagaimana?”

 

Umma Hae yang tengah menyetir itu mengerutkan keningnya. Tak biasanya Hae hanya diam dan tak menyahut. Apalagi, Hae paling suka masakan Jepang. “Hae, kau baik-baik saja kan sayang.”

 

Hae tetap saja diam. Hae’s Umma kemudian memasuki lahan parkir luas yang tepat berada di depan sebuah restoran Jepang yang mewah. “Ayo, kita masuk dan makan dulu. Setelah itu baru kita pulang, umma sudah menyiapkan kejutan untukmu.”

Tapi bukannya turun dan menuju ke restoran, Hae malah berlari jauh dan mengabaikan teriakan Ummanya. Hae merasa kesal, pada dirinya sendiri dan juga ia merasa bersalah… pada dirinya sendiri. Mengapa ia bertingkah konyol dan memalukan seperti itu?

 

Hae berlari dari restoran jepang yang jaraknya memang cukup dekat dari rumahnya. Dengan tergesa, ia membuka gembok rumahnya dan masuk melalui pintu yang ada di samping rumah.Tapi Hae tertegun saat melihat motor yang terparkir di samping rumah.

 

“Mianheyo, Umma…”

 

Hae menangis pelan. Ia telah meninggalkan ummanya. Seharusnya, ia tak bersikap seperti itu. Hae mengusap air matanya, ia tersenyum saat melihat tulisan di kartu yang tergantung di spion sepeda motor itu.

 

“Hae-ah…화이팅!!!”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Heechul tengah menikmati waktu sorenya di sebuah toko buku. Ia akan membeli beberapa buku bacaan yang mungkin bisa menemaninya saat ia merasa kesepian di rumah. Nunna-nya tak selalu ada waktu untuknya.

 

Ia melihat ponselnya. “Ah… Dia sudah menungguku.” Heechul segera membayar dikasir dan kemudian keluar dari toko buku itu.

 

“Annyeong…”

 

Heechul tersenyum saat melihat seorang namja yang menyapanya. Bukan dari sekolah yang sama dengannya, tap namja itu cukup menarik baginya. “Nde, annyeong.”

 

“Bisa berbagi contact mu denganku? Kuharap kita bisa berteman.”

 

.

 

Pluk!

 

.

 

Sebuah tepukan kecil melayang dengan mudahnya mengenai kepala namja itu. Heechul hanya bisa diam. Ia tahu, dalam hal ini ia tak akan bisa berbuat  apapun. “Yah, anak kecil. Jangan sekali-kali mengganggu dia lagi. Dia ini milikku.”

 

Namja itu hanya bisa merengut kesal. Dan tak lama setelah Heechul berlalu darinya, di belakangnya tiba-tiba ada sekelompok namja yang kemudian ikut memukulinya. “Kau harusnya berkaca. Ah… dan harus kau ingat, kau bukan apa-apa. Hanya namja lemah yang tak pantas bersaing dengan Han hyung.”

 

Heechul masih sempat menoleh kebelakang hanya untuk memastikan keadaan namja itu. “Hannie, seharusnya kau tak perlu sekejam itu padanya. Dia hanya ingin berteman denganku.”

 

“Chullie, jangan mengelak. Aku tahu bagaimana sikapmu. Jangan buat aku kehilangan kesabaran denganmu.”

 

Heechul hanya bisa diam pada akhirnya. Ia tahu, Hangeng memang sangat dan terlalu mencintainya. Bukan ia tak mencintai Hangeng, hanya saja namja itu selalu memberikan cinta yang berlebih untuknya dan terkadang ia malah merasa bosan.

 

“Ah… dan kenapa Siwon harus menjadi anak buahmu. Dia sungguh kasihan, harus membelamu.”

 

“Hei… dia itu adik kesayanganku. Sudahlah, berhenti mengasihani orang lain.” Hangeng meremas nakal bokong Heechul. “Aku akan mengajakmu ke rumahku. Kita bisa menghabiskan akhir pekan bersama.”

.

 

.

 

.

 

.

 

Sungmin memasuki kelasnya dengan wajah cerah. Mereka semua baru saja kembali ke kelas masing-masing setelah sebelumnya berkumpul di gedung olahraga untuk mengetahui siapa yang akan mewakili upacara penghormatan kepada para guru yang sudah biasa mereka lakukan di awal tahun pelajaran.

 

Sungmin senang-senang saja saat mendengar jika Kyuhyun juga ikut mewakili mereka. Sebenarnya ia berharap wakil yang lainnya dari kelas yang lain dan bukan dari kelasnya, terlebih itu adalah Kyuhyun. Tapi Sungmin harus bersikap sportif.

 

Sungmin berdiri di depan para siswa yang lainnya. Hari ini mereka dibebaskan dari semua pelajaran sekolah untuk mempersiapkan upacara penghormatan itu.

 

“Apa kau yakin dengan apa yang kau tuliskan? Apa tak ingin berubah dari tahun kemarin?” Kyuhyun bersuara mengomentari tulisan di papan tulis yang baru saja di tuliskan Sungmin.

 

“Kita perlu sesuatu yang teratur dan juga rapi. Aku tidak mau kau membawa tingkahmu yang urakan itu kedalam sekolah kami.”

 

“Tapi, Sungminnie…” Kyuhyun memanggil Sungmin dengan suara lembutnya. Sungmin sempat merasa malu pada awalnya. Namun ia langsung menghentikan acara ber-blush-ing ria dan kembali menormalkan raut wajahnya. Sungmin mulai merasa ada yang salah dengan dirinya.

 

Sementara, Kyuhyun yang sadar dengan kelakuannya hanya tersenyum nakal. “Apakah tidak sebaiknya kita menambahkan kesan lucu agar para siswa juga tak takut lagi dengan Seonsaengnim. Kau tahu, seperti Kang In seonsaengnim, dia menakutkan. Yah… aku hanya berfikir mungkin kita bisa menambah sesuatu yang lucu. Agar tak kaku seperti biasanya, Ming.”

 

Sungmin hanya menggeleng. Ia harus berusaha sabar menghadapi Kyuhyun. meski Kyuhyun sudah berani-beraninya memanggilnya dengan berbagai macam panggilan yang sama sekali tak sopan. “Kalau begitu baiklah. Aku pikir ada baiknya juga. Nah, yang setuju dengan ideku untuk melakukan upacara formal seperti biasanya harap berkumpul di sebelah kiri dan yang setuju dengan ide Kyuhyun harap berkumpul disebelah kanan.”

 

Kyuhyun masih sempat mencuri padang pada Sungmin, meski sepertinya Sungmin terlalu acuh dan tak memperhatikannya. Meski Kyuhyun sudah berusaha untuk menyangkal, tapi tingkah Kyuhyun benar-benar memperlihatkan betapa ia sangat mengagumi Sungmin.

 

.

 

.

 

.

 

Heechul keluar dari sekolah dengan lemas. Hari ini Hangeng tak akan sempat menciumnya. menjadi seorang mahasiswa memang melelahkan dan membuatnya tak bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama Heechul.

 

Heechul melihat Siwon yang tengah berdiri di halte bus, ia mnghampirinya. “Hei!”

 

“Oh… Heechul Hyung.”

 

“Kenapa sendirian?”

 

“Hari ini aku harus pulang kerumah dulu, baru main ke tempat Hangeng Hyung.”

 

Heechul mengangguk. “Eum.. apakah kau benar-benar melakukannya atas dasar teman?”

 

“Maksudmu?”

 

Heechul menatap melas pada Siwon. “Kau tahu, Hannie hanya memanfaatkan kalian. Aku tak suka dia melakukan hal seperti itu.”

 

Siwon hanya menggeleng. “Tidak apa-apa.”

 

“Hey!!!”

Siwon menoleh ke sumber suara. Ia melihat namja yang kemarin menggida Heechul mendatanginya dengan beberapa teman genknya. Siwon mungkin jago bela diri, tapi jika teman genk-nya sebanya itu…

 

“Ayo! Pukul dia!”

 

Heechul hanya bisa berteriak dan sedikit-sedikit menangkis pukulan pada tubuh Siwon. “YA! Jangan ganggu kami, pergilah! Tolong!”

 

Setelah ada seorang polisi patroli terlihat berlari menuju ke tempat mereka, gerombolan anak-anak itu lalu pergi meninggalkan Heechul dan Siwon. “Mianhe, Siwon-ah…”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Malamnya, di tempat Hangeng mereka semua berkumpul. Termasuk Siwon dan Heechul.

 

“Aku akan menghabisi mereka.” Hangeng geram hingga meremas kaleng beer yang ia pegang. Ia menepuk pelan bahu Siwon. “Kau sekarang, tak boleh kemana-mana sendiri. Sebaiknya kalian selalu ikut bersamanya.”

 

“Nde, Hyung.” Bebearap anak yang lain menyahut patuh pada pemimpin mereka.

 

“Kau tidak apa-apa, baby…”

 

“Ahni, hanya takut saja. Mereka sempat menggangguku, harusnya kau memukuli mereka.”

 

Hangeng mencium bibir pouty Heechul. “Tenang saja, aku akan bereskan anak kecil itu.”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

“Morning!!!”

 

“Yeay! Kembali lagi bertemu dengan Sandeulie yang paling cute dan juga nae baby Baro!”

 

“Nde. Hari ini kami akan menayangkan acara yang paling ditunggu setiap minggunya. Yeah, apalagi kalau bukan We Are Sources.”

 

“Dan kali ini kami akan menayangkan reka ulang dari gosip terhangat dan terpanas minggu ini. Jangan lupa, beri tanggapan kalian di fanpage Badeul News.”

 

Itu hanya sedikit kata pembukaan sebelum rekaman reka ulang dimulai. Sungmin melihat itu. Ia tahu benar rekaman itu adalah kejadian beberapa hari yang lalu yang ia yakin tak ada satu orangpun yang tahu kejadian itu selain dia dan Key.

 

Tapi saksi dalam video reka ulang itu bukan Key. Lalu siapa yang membocorkan hal itu keseluruh sekolah. Sangat memalukan memang. Gay disekolah memang sudah biasa dan tak dipermasalahkan. Tapi bukan berarti mereka bisa bermesraan dengan bebas di lingkungan sekolah.

 

Sungmin sedikit geram melihat rekaman itu. “Chulie… waeyo?” Sungmin menghela nafasnya.

 

“Waeyo, Ming?”

 

“Ah… Kyu…” Sungmin menyembunyikan ponselnya. “Ahni, bukan apa-apa. Kenapa kau belum pulang? Bukankah ini sudah jam pulang.”

 

“Aku menunggumu.”

 

“Ah… klasik sekali.” Sungmin melihat ponselnya. Ia mendapat pesan dari Ummanya. “Kalau begitu, pulanglah sekarang karena aku juga akan pulang sekarang.”

 

Sungmin meninggalkan Kyuhyun didalam kelas. Yesung datang dari luar kelas dan menghampiri Kyuhyun. “Kukira kau sudah di kelas Hae? Ternyata kau mengganggu Sungmin lagi.”

 

“Aku tidak mengganggunya, hanya ingin berkenalan dengannya.”

 

“Kyu, Sungmin itu tidak seperti yang lain.”

 

“Tapi dia tidak galak padaku. Dia pasti akan menyukaiku, buktinya dia masih baik padaku meski aku sudah sering mengganggunya.”

 

“Terserah kau saja.”

 

“Yesung-ah, apa kau tahu apa hubungan Heechul dan Sungmin.”

 

“Aku tak yakin, tapi dulu saat mereka berteman baik. Aku tak tahu, apa yang membuat Sungmin dan Heechul jadi seperti sekarang.”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

 

TBC

 

 

.

 

Aku tahu ini ngebosenin, dan juga ga cuman fokus Kyumin. Kan udah jelas castnya, and bagi yang belum nonton dramanya, aku saranin nonton deh. Dan aku juga secara garis besar ngikut alur di dramanya, jadi yah… begini deh.

 

Gomawo!!!

 

Iklan

Dreams…. | Ch. 3 | KyuMin | GS |

 

.

.

.

.

.

“Nde, Umma. Aku dan Sungmin akan menetap sementara di Seoul. Mengurus perusahaan yang ada disini.”

 

Aku sedikit mencuri pandang ke arah Sungmin yang masih mengayun pelan ayunan yang ada di belakang rumah kami.

 

“Nde, aku sudah  membeli rumah umma. Tenang saja, aku dan Sungmin akan baik-baik saja.”

 

 

“…”

 

 

“Nde, Umma.”

 

Aku menyudahi telfonku dengan Umma dan mendekati Sungmin, membawakan makanannya.

 

Hari ini entah sudah berapa bulan kami mencoba mencari Yesung. Namja itu seakan hilang ditelan ramainya kota Seoul. Sementara aku, seakan hanya menjadi bayangan yang mengikuti kemanapun Sungmin melangkah.

 

Yeoja ini begitu teguh….

 

Sangat teguh hingga sama sekali tak goyah meski aku telah menangis untuknya. Aku yang bodoh atau dia yang terlalu kejam padaku.

 

“Jebal, Min-ah… setidaknya kau harus tetap bertahan.”

 

“Aku hanya mau Yesungie….”

 

.

.

.

.

.

.

Dreams….

 

Author : rainy hearT

Length : Series

Rated : T

Cast :

– Cho Kyuhyun

– Lee Sungmin a.k.a Cho Sungmin

– Kim Jong Woon a.k.a Yesung

– Other Super Junior member

Pairing : || KYUMIN || slight Yemin

Disclaimer : Semua cast belongs to God and themselves. Dan seperti biasanya, jika saya bisa saya sudah meng-Klaim seorang Lee Sungmin menjadi milik saya.#Mimmpi….#

Genre : ||Drama || Romance||Fluffy Angst||

Warning : || GS || Gaje || typo’s || EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia||SAD jadi siapn tissue yang banyak J

Summarry : ||Ini bukanlah yang aku inginkan. Seandainya saja kau tahu jika ini menyakitkan, kuharap kau tak akan meninggalkan aku semudah itu. Tapi, mengapa disaat pertemuan itu datang, aku tak bisa bernafas…. aku TERPENJARA…||

Another PRESENT From Me

 

Mini Series

 

~ DREAMS ….~

 

Just KYUMIN

.

.

 

Ini emang terinspirasi and ngikutin film India yang aku sendiri lupa judulnya.

Emang sih, ceritanya klasik banget tapi menurutku…

 

Pengorbanan itu mahal harganya

.

.

 

Please be Patient With me. Don’t Like Don’t Read. No copas No bash. Kritik and saran yang mendukung selalu diterima dengan tangan dan hati yang terbuka.

 

Nikmatilah STORY-nya…. ^_____^

.

.

HAPPY READING

.

.

 

 

Chapter 3

 

.

.

.

.

Cho Kyuhyun POV

.

.

Aku melangkah pelan meninggalkan Sungmin. Meletakkan sarapannya di atas meja yang ada di tepi taman. Membiarkannya merenungi semuanya dalam kesendiriannya.

 

Ia selalu seperti itu. Seakan tak mau sesuatu sekecil apapun mengganggu dunianya. Dan sementara aku disini, selalu saja menjadi seorang yang terasing bahkan di rumahku sendiri.

 

Aku beristri, dan dia cantik. Tak ada yang tak sempurna dalam dirinya. Permainan pianonya, suaranya dan nyanyiannya. Terlebih wajah itu, sebelum pipi tirusnya menghilangkan kecantikannya. Sungguh, dia adalah kepingan keindahan surga untukku.

 

Haruskah aku kembali dan terus merenungi semuanya?

 

Kekalahanku….

 

Bahkan sejak lama sebelum aku memenangkannya. Dan bahkan aku tak pernah menang sekalipun.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Aku mengontrol semua perkerjaanku dari rumah. Tak meninggalkan yeoja ini barang sebentar. Ini karena Sungmin terlihat begitu lemah hingga aku tak kuasa meninggalkannya. Ia selalu diliputi kesedihan dan bahkan kami jarang berbicara meski setiap hari aku bertemu dengannya.

 

Ia memang selalu menyiapkan semuanya untukku. Bahkan termasuk sarapan dan dinner kami. Tapi dia sama sekali tak hidup bersamaku bahkan seperti mati dirumah ini, hidupnya seakan kaku dan tak mempunyai jiwa lagi.

 

Tak sama dengan masakannya yang selalu enak dilidahku, tapi sama sekali tak bisa kutelan. Apakah aku lemah, hingga aku terus menangisimu seperti ini? Aku ingin melepaskanmu, Min-ah. Tapi apakah setelah ini kau akan baik-baik saja?

 

Setelah beberapa bulan mencari, ia semakin putus asa dan melemah. Tubuhnya semakin kurus dan juga kantung mata itu membuat wajah cantiknya terlihat menyedihkan. Aku seperti tak becus mengurusnya, padahal kenyataannya tak seperti itu. Sungguh, aku malang sekali…

 

Aku sama sekali tak mengijinkan siapapun datang ke rumah kami, termasuk Umma dan appa. Aku hanya tak bisa membayangkan bagaimana reaksi mereka jika mengetahui kehidupan yang kami jalani.

 

Pernikahan seperti apa ini….

 

.

 

.

 

.

 

.

 

“Kyu!!!”

 

Lengkingan itu terdengar keras disertai dengan larinya yang cukup cepat. Ia berlari ke arahku dari ruang TV yang ada di ruang tengah.

 

Tap…. tap… tap…

 

“Kyu! dia ada di Seoul. Dia akan concert, Kyu!”

 

Wajah itu terlihat cerah. Dan tangannya memegang kuat lenganku.”Maksudmu?”

 

“Tadi aku melihat liputan tentang artis dan trainee Sme, dan mereka akan mengadakan concert Kyu. kita harus datang dan melihatnya. Kau harus mendapatkan tiketnya, Kyu.”

 

Dan wajah itu penuh harap, meski kulitnya pucat tapi aku bisa melihat setitik kehidupan ada di rautnya. “Baiklah, aku akan dapatkan tiketnya.”

 

Dia mulai menatapku dengan mata itu, mata manjanya yang dulu selalu cerah. “VVIP seat. Ya… ya… ya…” Jebal, Min-ah. Jangan merajuk padaku.

 

“Nde.” Aku hanya bisa mengangguk. Meski rasanya berat, tapi demi kebahagiaanmu Min… untukmu.

 

“Ah… gomawo Kyu…!”

 

Dan dia berlari meninggalkan aku. Langkahnya begitu cepat dan terlihat jelas ia tersenyum sangat cantik. Aku tahu, setelah ini ia akan bersembunyi dikamarnya dan sibuk bermonolog sendiri. Mengatakan betapa rindunya ia pada namja itu…

 

Pada Yesungie-nya yang begitu ia cintai…

 

Ah…. aku sungguh malang.

 

“Yeobosseoyo!”

“….”

 

“Dapatkan untukku, tiket Dream Concert SMe. VVip seat.”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Dan sekarang kami disini. Di kursi paling depan dan nyaman hingga berada sangat dekat dengan trainee dan artis SMe. Kedua matanya terus berbinar dan mencari kearah manapun, sementara aku…

 

Jika boleh memilih, jujur…

 

Aku tak mau dia pergi. Tapi jika dia tak bertemu dengannya, sama saja aku tak bisa menikmati pernikahan kami dan hidup dengan baik bersamanya. Dia akan selalu bersedih dan menangis bersamaku. Tapi jika dia bertemu dengannya…

 

Kurasa juga tak akan berbeda akhirnya. Lalu bagaimana denganku?

 

Keadaanku?

 

Hatiku?

 

Apakah dia akan mempedulikannya?

 

“Huhh…” Aku menghela nafasku, rasanya berat dan sesak. Membuat seluruh isi kepalaku hampir meledak meski hanya memikirkan hal konyol ini.

 

Dan dia menoleh padaku. Oh ayolah… aku hanya bosan dengan acara seperti ini. Lebih baik 5 jam duduk di depan meja kerjaku dan semua pekerjaanku selesai.

 

Mata itu menatap semu padaku. Seperti menatapku tapi tidak menatapku. Ia tersenyum kecil, yah… aku tahu itu bukan senyuman manis. Tapi senyuman miris padaku. “Bosankah?”

 

“Ah, ahni… aku hanya…”

 

“Kau bisa pergi kalau kau mau. Jika aku menemukan Yesungie, maka aku akan pergi langsung bersamanya dan kau bisa hidup tenang setelah ini.”

 

Aku hanya bisa terdiam mendengar perkataannya. Begitu tak berartinyakah aku dimata yeoja ini? Seenaknya dia membuangku dan memperlakukan aku seperti ini, terus menerus dan tak pernah memikirkan bagaimana aku…

 

“Ahni, aku takut kau tak akan bertemu dengannya. Bisa saja dia tak mendaftar menjadi trainee. Dan hei, butuh bertahun hingga mereka bisa concert dan menyanyi di panggung. Jadi tidak mungkin jika dia sudah ada di stage ini.”

 

“Kau meragukan kemampuan Yesungie?”

 

“Ah… aku hanya…”

 

“Heuhh….” dia tertawa sinis. “Kau hanya iri padanya. Dia penyanyi terbaik yang pernah ada. Dan suaranya adalah hal terindah yag pernah aku dengar. Jangan menghakimi orang lain, yang bahkan tak kau kenal sama sekali. Aku begitu mengenalnya. Sangat mengenal Yesungi-ku.”

 

Egoiskah?

 

Dan aku hanya diam sekarang. Tak mampu lagi berkata apapun. Menatapnyapun aku sudah  tak punya tenaga. Yeoja ini kah yang terus aku perjuangkan? Dia bahkan sama sekali tak memiliki satu titik pun untukku.

 

Ah… Ya Tuhan…

 

Kenapa mataku panas sekali?

 

Hati ini seperti disayat dengan ribuan pisau kecil yang hanya menggores, namun berulangkali lebih sakit. Goresan itu merata diseluruh jantungku… meremukkannya dengan begitu mudah. Ini menyedihkan.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

“Ah… itu dia! Yesungie!”

 

Dia melonjak senang saat salah satu penyanyi solo baru memasuki stage. Kim Jong Won. Namja ini yang selalu menang dimata Sungmin. Namja ini yang sekarang benar-benar menggenggam kuat dunia Sungmin, bahkan meski dia tak melakukan apapun.

 

“Aku akan ke panggung.”

 

.

Sreet…

.

 

Dengan cepat aku meraih lengannya. “Hei, apa kau gila? Kau bisa mengganggu concert ini, dan bisa saja kau diseret keluar oleh penjaga disini.”

 

“Tapi aku harus bertemu dengannya, jebal… lepaskan aku…”

 

“Tetap disini. Dan kita bisa menemuinya di backstage setelah acara selesai.”

 

“Ahniya…” Dia menggeleng cepat dan berusaha berontak dari cengkramanku di lengannya. “Aku harus bertemu dengannya, dia harus melihatku. Jebal…. hikss…. aku harus bertemu dengannya…”

 

“Tidak bisa, tunggulah dulu.”

 

“Ahni! Aku harus membuatnya melihatku. Aku harus kesana!”

 

Dia berteriak padaku. Membuat luruh seluruh tubuhku. Rasanya begitu ringan hingga aku jatuh dengan mudahnya. “Sungmin-ah…” Aku hanya bisa berbicara lirih dan pasrah sekarang. Seluruh tubuhku berdenyut sakit untuknya. “Jebal… aku sudah berjanji akan membuatmu bertemu dengannya, tapi kumohon. Kendalikan dirimu Min, kali ini saja. Aku tak mau kau terluka karena amukan fans yang lain ataupun diseret keluar oleh penjaga. Demi dirimu sendiri, Min…”

 

Dan tubuhnya melemas.

 

Ya Tuhan, haruskah aku memelas seperti ini dulu?

 

“Hikss…. aku ingin bertemu dengannya, Kyu. Ini bahkan sudah lama sekali, dan aku begitu merindukannya. Yesungie…. oppa….hiksss…”

 

Perih melihatmu seperti ini, bahkan perihku tak kurasakan lagi. Berhentilah menangis karena keegoisanku, Min. ”Mianhe…”

 

.

 

.

 

.

 

Dan sekarang kami ada di backstage. Bagaimana bisa kami masuk? Tentu saja karena kuasaku. Siapa yang tak tahu Cho Family Group. Label perusahaan yang menguasai hampir seluruh perusahaan di Seoul dan juga Jepang.

 

“Dia sedang ada di ruangan itu.  Sebentar aku panggilkan.”

 

Salah satu kru menyanggupi permintaanku untuk menemui Yesung. Ya Tuhan… mengapa rasanya berat sekali. Aku tak sanggup lagi.

 

Tapi melihat yoja ini. Lee Sungmin yang bahkan namanya masih Lee Sungmin setelah pernikahan kami, pernikahan yang bahkan belum aku daftarkan sama sekali.

 

“Yesungie….”

 

Dia tersenyum manis dan menggenggam kuat kedua tangannya. Dia tersenyum dan menutup kedua matanya seakan tengah berdo’a. Begitu cintanya kau pada pangeranmu itu?

 

Dan jantungku berdetak cepat, sangat cepat. Dia…

 

Sosok itu keluar dengan senyumannya.

 

“Princess…”

 

.

.

.

 

Cho Kyuhyun POV end

 

.

 

.

 

.

 

“Princess…”

 

Sungmin membuka kedua matanya dan mengangkat wajahnya. Ia mengukir senyuman dan kemudian berlari ke arah Yesung yang tengah menunggunya. Namja itu membuka lebar  kedua tangannya dan tersenyum.

 

Menangkap tubuh mungil Sungmin dan memeluknya erat. Yesung hampir saja kehilangan keseimbangan jika dia tak bisa mengontrol dirinya.

 

“Ahahhaaa…. Princess…”

 

“Yesungie, Oppa….bogoshippeo…”

 

Dan Sungmin membiarkan namja itu mencium pipi tirusnya. “Hei, kenapa kau kurus sekali chagi.”

 

Sungmin menggeleng. “Aku hanya terlalu menderita karena jauh darimu. Kau jahat sekali, Oppa.”

 

Dan mata foxy itu  mulai memerah. Ia menenggelamkan wajahnya di dada Yesung dan mulai terisak. Memeluk erat tubuh namja itu. Pelukan itu berlangsung sangat lama. Hingga akhirnya, namja yang lain itu tak sanggup lagi menahan dirinya.

 

Ia tak bisa lagi melihat apa yang ada didepan matanya.

 

Sakitkah?

 

Tentu saja.

 

.

 

 

.

 

.

Lee Sungmin POV

 

.

 

.

 

“Kau kesini dengan siapa, chagi?”

 

“Eum….” Aku harus mengatakan apa? Aku ta tak mungkin mengatakan yang sebenarnya bahwa aku kesini dengan Kyu… “Eoh?”

 

Aku melihat ke arah belakang dan dia tidak ada. Dia…

“Chagi, kau mencari siapa?”

 

“Ah, ahni. Eum… kau sudah selesai ‘kan, Oppa?”

 

“Eum … sebenarnya belum tapi karena aku merindukanmu, aku akan minta ijin dengan manager dan yang lainnya. Tunggu sebentar disini.”

 

Aku mengangguk dan membiarkannya meninggalkan aku. Aku langsung mencarinya, namja itu…

 

Aku bukan tak menghargainya, aku hanya tak ingin menyakitinya terlalu dalam. Memberikan dia harapan yang bahkan tak bisa aku pastikan itu. Aku tak ingin dia semakin terluka.

 

“Mianhe… apa kau melihat Cho Sajangnim disini tadi?” Kru itu hanya mengangguk. “Dimana dia?”

 

“Aku tidak tahu, tapi mungkin saja dia sudah pergi. Mianhe, aku sedang sibuk.”

 

Kyuhyun… aku…

 

“Kajja…”

 

“Ah, nde Oppa.”

 

Aku bersamanya. Sesuai dengan apa yang aku inginkan, dan aku ucapkan. Begitu bertemu dengannya maka aku akan bersamanya dan selalu bersamanya. Tapi bagaimana dengan Kyuhyun, aku…

“Kau kenapa chagi? Kau sakit?”

 

“Ah, ahni.”

 

Kami memasuki mobil yang cukup mewah, dan bahkan aku tak yakin berapa mahal harga mobil ini. “Oppa, kau yakin ini mobilnya?  Mungkin saja kau salah?”

 

Dan dia tersenyum, mengacak rambutku. Mendekatkan wajahnya padaku dan memainkan hidungku. “Dengarkan aku princess. Ini adalah mobil inventaris yang diberikan Manager hyung padaku. Ia tak tega membiarkan aku kesana kemari naik bus dan selalu terlambat, jadi dia meminjamkannya.”

 

Aku hanya mengangguk, dan yah… aku tahu dia pasti sibuk sekali. Dan juga dia telah berhasil menjadi terkenal dan appa…

 

“Bagaimana kau bisa sampai disini chagi?”

 

“Eum… aku membohongi appa dan kabur dari rumah.”

 

“Mwo?”

 

“Nde, Oppa. Appa selalu memaksakan kehendaknya padaku dan aku sudah tak tahan lagi. Aku merindukanmu Oppa. Aku ingin bertemu denganmu, aku tak mau kau jauh lagi, Oppa… aku…hikss… Oppa…. aku merindukanmu sampai aku gila…”

 

Aku merasakan lagi, tubuh hangatnya dan pelukan nyaman itu. Aku tak bisa menahannya, betapa aku ingin menangis bahagia saat melihatnya lagi. “Aku begitu merindukanmu, Oppa. Jebal… hikss… jangan pergi lagi…”

 

“Tenanglah princess, setelah ini kita akan selalu bersama.”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Sekarang aku ada di rumah Yesungie. Entahlah, aku tak yakin ini benar rumahnya. Hanya sebuah apartemen kecil, tapi luas jika hanya Yesungie yang meninggali rumah ini. Aku melihat ke semua arah dan entahlah, aku harus sedih atau senang.

 

“Oppa….hiksss….”

 

Bagaimana aku tak menangis jika ia bahkan masih menyimpan foto bersama kami, tahun pertama saat aku masuk ke junior. Dia lebih tua 2 tahun di atasku dan selalu menjadi sunbae yang baik. Dia yang menjagaku dan begitu lembut memperlakukan aku.

 

“Wae chagi?”

 

Aku mengambil foto itu dan menunjukkan padanya. “Bahkan kau membawa ini? Hikss… oppa…”

 

Dan aku tak bisa menahannya lagi. Memeluknya erat dan aku tak akan pernah melepaskannya lagi. Aku tak akan sanggup jika setelah ini harus kehilangannya. “Hikss… oppa…”

 

“Sudahlah, jangan menangis lagi.” Kedua ibu jarinya mengusap pipiku. Wanginya sudah berbeda, tidak seperti dulu. Dan rambutnya juga…

 

Tapi dia tetaplah Yesungie-ku, namja yang selalu ada dihatiku. Dan wajah ini semakin tampan. “Handsome Oppa…”

 

Dia tersenyum kecil dengan panggilanku. “Kau baru tahu jika aku tampan? Ayolah, princess. Kau tak mungkin jatuh cinta dan tergila-gila padaku jika aku tidak tampan.”

 

“Ish…” Aku mencubit kecil pinggangnya dan see…

 

.

Chu~

.

 

Dia mencium pipiku sebagai imbalannya.

 

“Sudahlah, jangan menangis lagi. Sekarang ayo kita makan. Aku tahu kau pasti lapar.” Dia membawaku ke meja makan. Menyantap bersama makanan yang kami beli tadi.

 

“Chagi, makanlah yang banyak. Kau terlihat kurus.”

 

“Aku harus bagaimana,Oppa. Kau pergi tanpa kabar dan membuatku hampir mati. Aku tak enak makan ataupun tidur. Aku takut sesuatu terjadi padamu.

 

“Hei, chagi. Harusnya yang khawatir itu aku. Kau sendiri di Seoul, dan  kau tak punya siapa-siapa disini. Bagaimana kau bisa bertahan di Seoul?”

 

“Eum… aku… Aku bekerja. Aku bekerja mengajar anak-anak di kindergarten bermain musik, yah…. sesuai impianku.”

 

“Eum… baguslah.”

 

Aku hanya mengangguk canggung.

 

.

 

.

 

.

 

Berbohong seperti ini bukanlah diriku. Terlebih berbohong pada Yesungie, aku mencintainya dan akumembohonginya. Kenapa aku jadi seperti ini?

 

Sebelumnya aku tak pernah berbohong, bahkan pada orang lain sekalipun. Tapi hari ini aku sudah berbohong begitu banyak hal, pada Yesungie. Seharusnya aku menceritakan yang sebenarnya. Tapi bagaimana nanti? Apa dia akan menerimanya?

 

Aku tak bisa membayangkan, wajah tampan ini marah padaku.

 

Suara lembut ini, mungkin saja membentakku. Aku sama sekali tak akan sanggup jika nantinya akan seperti itu.

 

Bertemu dengannya, seperti sebuah mimpi yang menjadi kenyataan untukku. Dan aku ingin selalu bersamanya. Dialah hidupku dan jiwaku. Dialah nafasku…

 

“Hei…”

 

Sapaan lirihnya menyadarkan lamunanku yang terus menatapnya.

 

“Kau belum tidur chagi? Ayolah, besok aku masih ada jadwal sebelum aku bisa meminta libur. Jadi malam ini, temani aku tidur. Aku merindukanmu, sangat merindukanmu.” Lengan itu menarik tubuhku. Memelukku posesif dan membiarkan aku menjadikan lengannya sebagai bantalan kepalaku.

 

“Oppa, aku malu. Eum, tanganmu juga bisa saja sakit. Jadi…”

 

“Biarkan sedekat ini, chagi. Aku begitu merindukanmu.” Dia mengusap lembut rambutku. Menyingkirkan poniku dan menciumnya. mencium lembut keningku, membuat seluruh tubuhku kembali bergetar lembut. Ciuman itu begitu lama, dan memenjaraku.

 

Yang bisa kulakukan hanya meremas kuat piyama lembutnya. Meremas tepat di kerah bajunya dan mulai meresapi perasaan ini. Perasaannya yang mengalir penuh di tubuhku. Merasakan bibir lembut itu yang menyesap penuh manisku.

 

Gigitan-gigitan lembut itu…

 

“Eumhhh…”

 

Begitu dalam ciuman ini dan memabukkanku. Tapi… mengapa rasanya tak seperti dulu? Ciuman ini masih memabukkan aku, tapi rasanya begitu berbeda. Meski aku mengikuti permainannya tapi…

 

.

Cpk…

.

 

Dia melepaskan ciumannya. “Kenapa chagi? Sepertinya ada yang kau pikirkan?”

 

“Ahni. Aku tak memikirkan apapun. Hanya saja, aku begitu merindukanmu sampai tak bisa memikirkan hal lain lagi.”

 

“Tapi, kau seperti tak menyukainya. Mianhe, aku hanya terlalu merindukan bibirmu, juga tubuhmu, wangimu dan desahanmu…Awwww… Yah! Appo!”

 

Aku mencubit pinggangnya. “ Neo jeongmall… Ish…”

 

Aku sungguh malu, meski kami hanya melakukan deep kiss dan pelukan tapi tetap saja perkataannya begitu mesum. Sebenarnya darimana dia belajar menggombal seperti itu?

 

.

 

.

 

Lee Sungmin POV end

 

.

 

.

 

.

 

Dan malam ini, mereka berpelukan erat. Saling memiliki dan menikmati dinginnya malam, hangatnya pelukan mereka. Di apartemen kecil tapi sederhana itu… dan itulah kebahagiaan sempurna, setidaknya menurut seorang Lee Sungmin.

 

Tapi bagaimana pandangan kita jika melihat namja ini? Dia terpuruk dan terlihat menyedihkan.

 

Namja tampan ini tidak mabuk, tidak juag berada di pub atau bar. Hanya duduk diam di kamar yang begitu indah dan wangi. Kamar yang penuh dengan warna pink yang lembut, begitu banyak beruang dan juga satu anjing kecil dengan bulu cantik yang berwarna putih.

 

“Princess, apa kau merindukan Sungmin?”

 

Dia bermonolog sendiri sambil berjongkok dan mengusap lembut anjing kesayangan Sungmin. Ia menggeleng dan kemudian beranjak dari tempatnya tadi. Membuka kabinet pakaian Sungmin, menarik pintunya. Dan ia mengusap pakaian Sungmin satu per satu. Hingga ia terhenti pada satu baju yang berwarna hitam. Dress yang begitu cantik, dan dress yang sama yang membuatnya jatuh hati pada Lee Sungmin.

 

Ia mengeluarkan dress itu kemudian meletakkannya di atas kasur Sungmin. Yeah, mereka tidur di kamar yang berbeda, dan ini mengingatkan Kyuhyun.

 

Namja itu, Cho Kyuhyun mengusap lembut dress Sungmin. Hingga akhirnya ia tak tahan lagi dan menjatuhkan tubuhnya memeluk dress itu. Ia berusaha menahannya dan berusaha untuk tak terus merutuki semuanya.

 

Tak menyesali apa yang terjadi dan juga tak membenci Sungmin. Tapi ternyata, dia hanya satu namja lemah yang begitu rapu dan bahkan tak bisa bangkit dari keterpurukannya.

 

.

 

.

 

.

 

Cho Kyuhyun POV

 

.

 

.

 

“Mengapa kau lakukan ini padaku, Min-ah… hiksss….”

 

Aku harus melakukan apalagi untuk mempertahankannya? Bahkan dia bukan milikku sebelum ataupun sesudah ini. Dia meninggalkan aku sesuka hatinya dan semudah itu.

 

Apakah aku tak pernah mempunyai satu kesempatan saja untuk mencintainya?

 

Aku disini, hanya bisa sendiri duduk didalam kegelapanku sendiri. Dan dia, apakah dia pernah memikirkan bagaimana aku. Dia selalu menyingkirkan aku, bahkan sebelum aku bisa masuk. Lalu bagaimana aku bisa bertahan.

 

“Lee Sungmin! Pabbo yeoja!! Hikss… kau bodoh sekali…!”

 

Aku tahu tak ada artinya berteriak dan memukuli dressnya. Tapi aku tak tahu lagi harus seperti apa mengatasi semua perasaan ini.

 

“Aku kecewa Min… sangat kecewa padamu. Bagaimana bisa kau menghancurkan hidupku sampai seperti ini? Sama sekali tak pernah memikirkan bagaimana aku, dan selalu saja egois… hikss…. Sungmin…. hikss… aku harus bagaimana Min….”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Aku terbangun karena matahari yang menyilaukan wajahku, tapi kuharap ini bukanlah mimpi. Aku mencium bau masakannya. “Jam 10. Aish… aku terlalu lama tidur.”

 

Kepalaku rasanya berat dan … konyol. Aku ingin tertawa saat menyadari tadi malam aku menangis tersedu deperti yeoja, sungguh payah.

 

“Makanlah, ini sarapanmu.”

 

“Sungmin.”

 

“Nde, ini aku. Kau pikir siapa?”

 

Ini benar-benar dia, ini bukan mimpi. Tubuh ini berada tepat didepanku dan membawa sarapan untukku…

 

“Kau kembali, aku ta…”

 

“Jangan senang dulu. Aku hanya mengambil pakaianku dan segera pindah ke tempat Yesungie Oppa.”

 

“Mwo?! Bagaimana bisa kau melakukannya? Kau tak bisa seperti itu?!”

“Bukankah aku sudah bilang, jika aku akan pergi dengan Yesungie jika aku bisa bertemu dengannya. Bukankah ini sudah jelas jadi jangan mempertanyakannya lagi. Sudah minggir dan makan saja sarapanmu. Dan, ommona…!”

 

Dia melihat ke arah dress yang mungkin sedikit sobek karena aku meremasnya untuk melampiaskan kesalku kemarin.

 

“Bagaimana bisa ini seperti ini? Apa yang kau lakukan pada bajuku?” Dia berusaha  memeriksa dress itu, tapi memang dasarnya dress itu sudah sedikit rusak karena kemarahanku kemarin. “Apa yang kau lakukan Tuan Cho! Kau bahkan tak tahu apa-apa tentang aku, kenapa kau berani melakukan ini? Aku tak pernah menyentuh sedikitpun barang-barangmu, tapi kenapa kau merusaknya?”

 

“Hei, hanya sebuah dress. Aku bisa membelikanmu yang baru, bahkan bisa sama persis deng….”

 

“Yah! Jangan kau pikir aku mau dengan uangmu! Aku tak sudi barang yang diberikan Yesungie harus berganti dengan apa yang kau berikan. Kau tak tahu bagaimana Yesungie membelikan ini untukku. Bagaimana bisa kau merusaknya, kau… hikksss…. bagaimana bisa kau menghancurkan hidupu? Menggangguku terus menerus! Apa kau tak bisa berhenti huh? Hiksss… hiksss…. mianhe… Oppa…!”

 

Dan dia memeluk dress itu.

 

Apakah harga diriku dan hatiku tak seberapa di banding pakaian itu? Kenapa dia benar-benar memandangku sebelah mata. Aku mencoba melangkah dan mendekatinya. Mencoba menyentuh bahunya, tapi…

 

“Jangan mendekat! Kau penjahat! Hiksss… kau mengambil semua kebahagiaanku! Yesungie dan juga masa depanku! Yesungi dan juga pernikahanku! Kau… hikss… kau jahat sekali Kyu… kau jahat…. hikss…”

 

Aku membiarkannya memukul dadaku, terus menerus hingga aku merasakan sesak. Bukan karena sakit tapi ini karena Sungmin.

 

“Kau tak seharusnya terus menyalahkan aku, Min. Bagaimana bisa kau terus menutup mata padaku, suamimu sendiri? Bagaimana bisa kau sama sekali tak menganggap dan bahkan sama sekali tak mengingatku? Setelah semua yang kulakukan untukmu? Mempertemukanmu dengannya…”

 

“Yah! Jangan membodohiku! Kau juga yang memisahkan aku dari Yesungie, apa kau lupa? Kau membuat appa buta dengan uangmu, apa kau juga tak mengingatnya… kau jahat Tuan Cho, kau begitu jahat dan aku sangat membencimu! Aku membencimu Tuan Cho hikss…. kau menjijikkan! Kau menyebalkan! Kau sampah dan  aku membencimu! Hiksss… Cho Kyuhyun… aku membencimu… hiksss… kenapa kau lakukan ini padaku…”

 

Aku emmbiarkannya melampiaskan semua kemarahannya padaku. Membiarkannya terus memukulku tanpa bisa berbuat apapun. “Sungmin, jika kau ingin kita berpisah maka aku akan melepaskanmu. Lagi pula pernikahan ini hanya disaksikan oleh Tuhan. Aku belum mendaftarkannya, tapi…”

 

Mengapa air mata ini keluar, sementara aku tak bisa mengusapnya. Aku tak mungkin membiarkan yeoja ini terus menertawakan aku karena aku menangis didepannya. Tapi…

 

”Hikss…” aku tak kuasa lagi menahan sakitku. “Harus kau tahu Ming, hikss…. aku bahkan mencintaimu lebih dari diriku sendiri. Hikss…. dan kau sama sekali tak pernah mempunyai mata atau hati untuk melihatku. Tapi apa… aku sama sekali tak pernah mengeluh padamu Ming, aku tak pernah berteriak apapun, tentang perasaanku….”

 

“… Dan bahkan kau melupakanku karena namja itu sudah ada padamu, bahkan kau tak mengucapkan apapun meski sekedar terima kasih… jadi huksss…. kau pikir aku tak pernah merasakan sakit? Mencintaimu adalah salah satu rasa sakitku Min, kau tak pernah melihatku lalu aku harus bagaimana untuk memenangkanmu Min.”

 

“Kyu, aku…”

 

“Huks…. kau bahkan tak punya mata untuk melihatku Min. Hukss…. huksss… haruskah aku memohon dan berlutut padamu Min… atau berteriak pada semua orang jika aku adalah pengantin yang sama sekali tak pernah menikah, kau tak mencintaiku Min… tak pernah melihatku, lalu aku harus apa… huksss…. kau… hukkss…. kau tak pernah mengerti Min…. tak pernah… Kau bahkan bu…”

 

Ya Tuhan, jika ini mimpi maka biarkan aku tetap tidur hingga esok hari atau esoknya lagi.

 

Aku tak ingin kehilangan perasaan ini…

 

Bibir lembut ini…

 

Hukss…. Sungmin-ah…. so much i love you… so deep is my pain…

 

Just guess, how many more time that i can survive, Min…. huksss… please… stand by me….

 

 

.                                                                                                                                                                                                      

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

TBC

.

.

.

.

Huweeee…!!!! #mewek # TT___TT

 

Aku nangis nulis ini. Makanya low banyak typo abaikan ajah, nikmati storynya#plak#

 

Udahlah ga banyak ngomong, aku mo nyari tissue dulu… Bye…

 

Review ya???

 

Saranghae nae lovely reader….

Chicken Soup For Our Family || Teaser || Snowdrop Sekuel

CHICKEN SOUP FOR OUR FAMILLY

 

Author : rainy hearT

 

Length : Series

 

Rated : M

 

Cast :

 

– Cho Kyuhyun

– Lee Sungmin a.k.a Cho Sungmin

– Other SUJU and DBSK member.

– Cameo : Jungmo (Trax) as Choi Jungmo.

 

Pairing : KYUMIN and Other Pair

 

Disclaimer : Semua cast belongs to God and themselves. But Sungmin punyaku #plak#

 

Genre : Romance / Drama

 

Warning : Boy x Boy / BL / YAOI, M-Preg, gaje, typo disana-sini, EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

 

Summarry : “…aku tak akan hidup saat bunga lain bermekaran namun aku akan mekar saat bunga lain telah berguguran…”

 

 

HAPPY READING

 

oooCHICKEN SOUPooo

 

TEASER…

.

Kehidupan after married yang penuh warna. Dipenuhi dengan tangis dan tawa Sunghyun dan Minhyun. Kehidupan Cho Kyuhyun dan Lee Sungmin yang semakin indah dengan hiasan cemburu dan tangis bahagia.

.

.

“Akhh… Kyuhh… Tunggu dulu…”

 

“Hemm… Akuh … Tak bisa menungguh…”

 

Dibawah cahaya lampu yang redup, dua namja ini bergumul dibawah hangatnya selimut mereka. Udara yang dingin khas AC membuat Kyu tak tahan untuk tidak memeluk Bunny Ming-nya. Salahkanlah seorang Cho Sungmin. He is too adorable and sexy.

 

Sungmin, baru saja menidurkan Minhyun dan Sunghyun. Seharian terasa sangat melelahkan untuknya. Mengantar Sunghyun dan Minhyun ke playgroup, mengunjungi Hyukkie, makan malam bersama Wookie dan akhirnya, sampai dirumah tepat saat Kyu baru pulang dari kantornya.

 

“Kyuhh, tidak sekarang.”

 

“Ming, aku benar-benar kedinginan…” Kyu terus menyerang leher Sungmin. Jari pintarnya sudah sangat terlatih untuk membuka satu per satu kancing piyama sutera berwarna krem milik Sungmin.

Dengan ganas, Kyu langsung menghisap nipple Sungmin. Menjilati dan sesekali menggigitnya nakal.

Tangan Kyu yang lain sudah menyusup bebas kedalam celana piyama Sungmin.

 

“Kyuh… Akkhhh… Tidak sekarang Kyuhh…”

 

Sungmin masih mencoba menghentikan aksi Kyuhyun. Mereka masih di kamar KyuMin. Dan sesuai perjanjian, jika akan bercinta, mereka harus mengungsi ke kamar Kyuhyun. Tapi, lihatlah appa kita yang satu ini. Sungguh tak sabaran.

 

Sungmin terus melenguh, tubuhnya menggelinjang hebat merasakan remasan pada juniornya. Tapi tiba-tiba…

 

“Daddy…”

 

“Mommy…”

.

.

Bagaimana reaksi si kembar saat mereka melihat proses pembuatan itu dengan mata kepala mereka sendiri ? Apa yang baby berumur tiga tahun pikirkan ?

 

Bagaimana reaksi KyuMin saat mereka tertangkap basah oleh kedua wajah innocent itu ?

.

.

“Choi Jungmo ? Untuk apa kau menemuiku ?” Heechul kaget setengah mati, saat ia bertemu dengan calon tunangannya dulu. Choi Jungmo.

 

Namja tampan di depannya hanya tersenyum dan membenarkan jasnya. “Lama tidak bertemu Chullie. Kau terlihat semakin cantik.”

 

“Ah, nde. Gamsahae.”

 

“Pasti Hangeng menjaga dan merawatmu dengan baik.”

 

“Tentu saja.” Heechul sudah sedikit jengah melihat wajah tampan dihadapannya itu.

.

Sreeet…

.

“Hei, mau kau kemanakan belanjaanku ?” Heechul mencoba bertanya dengan nada yang lembut dan sopan. Sejujurnya didalam hatinya, ia begitu membenci namja yang ada dihadapannya dan seakan ia sudah siap menelan maja ini bulat-bulat.

 

“Hanya membantumu membawa belanjaanmu. Setelah ini kau mau kemana lagi ? Biar aku yang mengantarmu. Kau tidak membawa supir kan ?”

 

Heechul mencoba menarik belanjaannya namun sayang Jungmo lebih lihai untuk menghindari tangan Heechul.

 

“Aku sudah menikah Jungmo, juga sudah mempunyai cucu. Jangan menggangguku.”

 

“Akh, bagaimana ya ? Aku kesepian Chullie. Istriku sudah meninggal dan kurasa kau wanita yang tepat untuk menjadi ibu Siwon.” Jungmo tersenyum dan mendekatkan wajahnya pada Hechul.

 

“Heh, apa kau sudah gila hah ! Dasar pria tak waras !”

 

“Aku memang gila Chullie. Gila karenamu. Tak kusangka, setelah dua puluh tahun ini terlewati kau tetap cantik. Bertambah cantik.”

 

“Kya, hentikan merayuku. Cepat kembalikan tasku dan pergi dari hadapanku !”

 

Akhirnya Jungmo melepaskan belanjaan Hechul dan dengan tanpa rasa malu Jungmo mencium pipi Hechul ditengah-tengah pusat perbelanjaan itu.

 

“Kya ! Choi Jungmo ! Beraninya kau !”

 

“Aku akan menjadikanmu istriku Chullie.” Secepat kilat Jungmo berjalan menjauhi Heechul. “Aish… Menyebalkan.”

 

Hechul menghentakkan high heelsnya ke lantai. Sangat kesal rupanya. Lalu ia mengambil semua tas belanjaannya. Betapa terkejutnya ia saat melihat sepatu mengkilat bermerk yang terlihat di depannya. “Hannie…”

.

.

Bagaimana reaksi Hangeng melihat kejadian itu ?

 

Apa yang akan dilakukan Jungmo untuk membuat seorang Cho Heechul berubah menjadi Choi Heechul ?

.

.

“Jongki ! Kau dimana sayang ?” Seorang namja cantik sibuk berjalan kesana kemari mencari putranya. Sudah seharian ini ia mencari putra kesayangannya itu.

 

Jangan tanyakan dimana Yesung berada. Ia masih sibuk membersihkan kolam ikannya. Namun tiba-tiba …

.

Praang…

.

Mendengar suara pecahan kaca Wookie langsung berlari menuju sumber suara itu. Disana sudah ada Yesung yang diam tertegun menatap kearah pecahan kaca itu.

 

“Ada apa ini ? Akh… Jongki baby…”

 

“Wookie sesegera saja menarik Jongki yang terpaku ke pelukannya. Dan Yesung segera mendekati Wookie dan Jongki. Merengkuhnya kedalam pelukan Yesung.

 

“Apa kau merasakannya Wookie baby ? Jongki ketakutan. Tak mungkin ia memecahkan akuarium dangkkoma. Ini pasti…”

 

“Nde, ini aku…” Sebuah cahaya ungu terbang diatas mereka. Makhluk kecil dengan tubuhnya yang bercahaya, dengan kilauan permata ungu di mahkotanya.

 

“Appa…”

 

“Raja…”

.

.

Bagaimana nasib YeWook selanjutnya, saat Raja peri berhasil menemukan mereka ?

Apakah Jongki akan mempunyai kekuatan peri, sama seperti Yesung dan Wookie ?

.

.

“Nyet… nyet… nyet…”

 

“Lihat Hae, kau selalu mengatainya monyet. Dia jadi seperti itu.”

 

Hae hanya menggembungkan pipinya. Sifat kekanak-kanakannya keluar. “Haish, jangan memasang wajah begitu, terlihat aku ini sudah tua dan kau awet muda. Gendong Junior baik-baik.”

 

Hyukkie, semakin cerewet. Hae, semakin kekanak-kanakan dan sama manjanya dengan Eunhae Junior.

 

Mereka tengah berjalan bertiga, menikmati pemandangan Everland di Yeongin. Menikmati permainan dan juga kebun binatangnya. Sangat ramai dan indah di musim semi.

“Minta maaf pada Junior, Hae.”

 

“Daddy… Map… Map…”

 

“Ish, iya bocah. Daddy minta maaf. Puas ?”

 

Junior tersenyum gaje dan memukul wajah Hae. “Dasar !”

 

“Hae, berhenti mengatainya.”

.

Bruk…

.

Seorang yeoja menabrak Hae. “Akh, mianhe. Aku tidak sengaja, aku… Hae …”

 

Yeoja itu menatap pada Hae. Menatap dalam pada matanya tanpa mempedulikan tatapan tajam Hyukkie.

 

“Aku sangat merindukanmu.” Yeoja itu hampir saja menghambur ke pelukan Hae jika saja tangan Hyukkie tak menghentikannya.

 

“Eh, apa hakmu melarangku memeluk Hae. Dia masih berstatus namja chinguku.”

 

“Ish… Yoona hentikan.”

 

“Tapi Hae…” Yoona mencoba merengek pada Hae. Hyukkie yang kesal, langsung merebut Eunhae dan membawanya bersamanya.

 

“Yoona kita sudah berakhir. Sudah lama berlalu, jadi lupakan aku. Aku sudah menikah.”

 

“Tapi Hae…”

.

.

Bagaimana Hyukkie menanggapinya ?

 

Kepingan masalalu Hae. Yoona, kembali dari Amerika. Yoona, kekasih Hae yang membuat Hae sempat menggila. Bagaimana Hae menyikapinya ?

.

.

Zoumi dan Henry, mengadopsi anak setelah setahun menikah. Mereka pindah dan tinggal di Korea.

“Zhoury… Ayo kemari.” Henry tengah memanggil baby yang baru berusia satu tahun lebih. Baby yang baru ia adopsi dari panti asuhan.

 

Baby itu hanya tersenyum dan duduk. Bertepuk tangan didepan Henry.

 

“Lihat, dia sangat menggemaskan Henry.”

 

“Nde gege. Terima kasih telah mengadopsinya untukku.”

 

Zhoumi tersenyum dan duduk mendekat pada Zhoury. Mendudukkannya di pangkuannya. “Bagaimana kalau kita mengunjungi si kembar ? Sejak kita datang ke Korea, kita belum pernah kesana mengunjungi mereka.”

 

“Nde, aku akan bersiap. Jaga Zhoury sebentar.”

 

“Ba… ba… Ba… Ba…” Suara Zhoury sukses menghentikan Henry. “Apa dia baru saja memanggil Baba ?” Zhoumi mengangguk.

 

“Anak Baba, anak baik, anak pintar.”

 

“Hei, panggil Amma.” Henry duduk di sisi Zhuory dan menunjuk dirinya sendiri didepan Zhoury. Tapi tanggapam Zhoury berbeda dengan kemauan Henry. “Ge…! Ge…!” Zhoury berteriak memanggil Henry dengan sebutan Gege. “Kya, Mimi Ge, apa-apaan ini. Kenapa dia memanggilmu Baba, sedangkan memanggilku Gege.”

 

Zhoumi hanya bisa mengangkat kedua bahunya dan menciumi pipi kenyal Zhoury. Henry terus mempoutkan bibirnya karena kesal. “Ge… Ge…!”

.

Repot dan kesalnya mengurus baby, apalagi dengan tingkah Henry yang masih kekanak-kanakan. Bagaimana Zhoumi mengatasinya ?

.

Teringat akan masalalu, akankah kembalinya Henry ke Korea akan mempengaruhi KyuMin ? Cemburu menguras sumur#Upsss#Hati.

.

.

“Kya ! Sibum, berhenti !”

 

“Anni…ni..ni…” Namja kecil itu terus berlari mengitari meja besar di ruang makan. “Sibum nanti kau jatuh sayang.”

.

Huppp…

.

“Akh, bagus Wonie, akhirnya kau menangkap anak ini.” Kibum mengusap keringatnya. Ia benar-benar lelah harus mengejar Sibum. “Nah, minum susumu baby.” Kibum mencoba memasukkan dot susu kedalam mulut Sibum, tapi namja itu malah menggeleng cepat.

 

“Aish, Mommy sudah capek sayang. Nanti kalau tidak minum susu kau akan lapar dan terus bangun nanti.”

 

Sibum tetap saja menggeleng dan bertepuk tangan. Ia senang telah berhasil membuat Kibum marah.

“Jangan harap Mommy akan memberikanmu telinga Mommy nanti saat kau tidur.”

 

“Eh…” Sibum langsung menatap sang Umma dengan pandangan horornya. “Jim- – man -man…”

 

“Tidak ada tapi-tapian Baby.”

 

“Bummie, jangan begitu. Kau tahu kan Sibum tak akan bisa tidur jika tak memegang telingamu.”

 

“Tapi Wonie, kalau dia tak minum susunya dia akan terus saja bangun nanti.”

 

“Akh baiklah.” Siwon menatap Sibum yang berusia dua tahun kurang. Mengecup keningnya.

 

“Ppo…po…” Sibum kecil bertepuk senang saat dicium oleh Siwon, seakan ia meminta dicium lagi.

 

“Minum susumu dulu baby.”

 

 

Dengan cepat Sibum menyedot susunya. Dan Siwon terus menghujani namja kecil itu dengan ciuman di pipi dan keningnya.

 

“Huh… Pervy baby. Dia sebenarnya anak siapa ? Mengapa anak seperti dia ditinggalkan didepan rumah kita.”

 

“Sudahlah Bummie. Lagipula rumah kita menjadi ramai.” Siwon kembali menciumi namja kecil dipangkuannya itu.

 

Sibum, baby kecil yang ditemukan tengah menangis didepan rumah Sibum. Pasangan pengantin baru. Awalnya Kibum tak mau mengurusnya, namun melihat Siwon yang begitu menyukai namja itu akhirnya ia mengalah.

 

Sibum kecil yang pervert. Sangat suka dicium orang dewasa dan sangat suka mencium anak kecil lainnya. Sangat suka memegang telinga Kibum jika tidur.

.

Bagaimana kehidupan penuh warna mereka ?

 

Bagaimana lucunya saat baby ini bergabung dengan yang lain ?

.

.

###CHICKEN SOUP FOR OUR FAMILLY###

.

Gomawo sudah membaca teasernya. Gomawo juga telah menanti Sekuel ini. Mianhe jika ceritanya makin panjang kayak sinetron di Indonesia #plak# Mohon RCLnya

 

.

.