PROMPT by req | KyuMin Drabble| Happy Kyudays

HAPPY KYU DAYS!

Hari ini 우리 사랑하는 아빠 Ulang tahun yang ke 27…

Happy Birthday!

Kita do’akan semua yang terbaik buat Kyuappa, dan semoga makin cintah sama Ming Umma.

Nah, buat ngeramein haru Ultah Kyu appa aku udah ngadain PROMPT by req di Grup Kyumin and Friends yang ada di Facebook. Prompt itu udah aku terusin dan aku selesain jadi sebuah drabble. Sekarang kita share yah…

Enjoy!


Prompt req by Andi Sartika

“Hei Kyu,, aku lagi teringat sesuatu” Kyuhyun memandang Sungmin yang lagi sibuk memakan kue ulang tahunnya, seolah mengatakan ‘apa?’. ” Kau pernah bilang beberapa hari yang lalu kalau di ulang tahunmu yang sekarang kamu ingin mengatakan sesuatu yang penting padaku. Apa itu?” Tanya Sungmin. Kyu tersenyum kemudian berbisik di telinga Sungmin …

.

“Apa Kyu?”

“Tidak jadi, aku sudah lupa.” Kyuhyun kemudian mulai ikut memakan kue Sungmin. Karena merasa kecewa, Sungmin menyembunyikan kuenya di belakang tangannya.

“KAu bukan pelupa Kyuu, kau pasti mau menghindar. Ugh… menyebalkan.”

“Memang kenapa? Sepertinya kau mengharapkan sesuatu?”

“Ah.. sudah tidak ingin mendengar lagi.” Sungmin meletakkan kuenya di meja. “Sana, makan saja kuemu. Aku mau tidur saja.”

“Eih… uri bunny marah.”

“Ahni, aku tidak marah.” Sungmin berhenti sejenak dan menatap kesal pada Kyuhyun. “Kau saja yang suka menghindar.”

“Memangnya kau berharap aku mengatakan apa?” Kyuhyun mendekati Sungmin dan memeluknya dari belakang. Mencium wangi leher Sungmin yang manis dan terasa seperti cerry. Kyuhyun mengecupi pelipis Sungmin.

“Aku tidak berharap, apa-apa. Ah… sudahlah, happy birthday Kyunie.” Sungmin memutar tubuhnya. Ia melingkarkan kedua lengannya di leher Kyuhyun dan berjinjit sedikit lalu mencium perlahan bibir tebal Kyuhyun. “Aku hanya berharap kau mengatakan sesuatu, yah… mungkin yang bisa membuatku senang.”

Kyuhyun hanya tersenyum. Ia memegang satu tangan Sungmin dan mengarahkannya ke bokongnya, lalu mengarahkannya masuk kedalam kantong celananya. Ia mendekati telinga Sungmin. “Pakailah…”

“Kyu…” Sungmin hampir tak percaya dengan apa yang ia temukan di kantong celana Kyuhyun.

“Hadiah untukmu, baby Ming.”

Kyuhyun mengambil cincin itu dari tangan Sungmin dan memakaikannya di jari Sungmin. “Ah… pas sekali.”

“Sungmin-ah… itu aku yang pilih lho…!”

“YAHHH! HEECHULL!”

Dan lagi-lagi, Heechul oppa yang cantik jelita, menjadi pengganggunya. Ahahhaa…!

END

.

.


Prompt req dari Lee Lees Kim:

Kyuhyun merasa ada yang memeluknya erat dari arah belakang,,seketika kyuhyun pun mengernyit kaget dan saat dia membalikkan badanya,dia amat terkejut ternyata yang memeluknya erat tersebut adalah…

Heechul.

Kyuhyun langsung melepaskan kedua tangan Heechul di pingangnya. “Yah… Apa-apaan sih Hyung. Aku kira…”

“Sungmin. Huuuh!” Heechul mendorong wajah Kyuhyun dengan telapak tangannya yang lebar itu. “Mengharap saja, Kyu. Sungmin masih ada di Manila, dan kau masih harus main drama musical dengan Nenek lampir itu.”

“Namanya juga cari uang, Hyung.”

Kyuhyun menghampiri Heechul yang sedang bermain dengan Heebum. ” Jangan dekat-dekat, kau membuat Heebum takut.”

“Ih… pelit sekali.”

“Bukannyakau juga harus syuting radio star?”

“Ah, iya … hampir lupa.”

Kyuhyun segera beranjak ke kamarnya. Tapi saat melewati kamar Sungmin, ia merasa ada yang aneh. Kamarnya terbuka dan juga samar terdengar suara orang bernyanyi.

Kyuhyun mulai takut dan merinding. Sejak kapan di dorm mereka ada hantu? Tapi, Kyuhyun harus memastikannya. “Ugh… baiklah, akan aku pastikan.”

Kyuhyun membuka kamar Sungmin yang memang ternyata tidak di kunci. Semakin ia masuk kedalam, semakin keras nyanyian terdengar.

Kyuhyun berjalan semakin pelan dan takut-takut. “Kenapa seperti suara Sungmin?”

Akhirnya dengan cepat Kyuhyun membuka pintu kamar mandi.

“YA!”

“Aww… Ming!”

Kyuhyun mengusap wajahnya yang sukses menjadi sasaran tepat lemparan spons gosok dengan stik panjang yang keras. “Pasti hidungku berdarah.” Kyuhyun merasakan Sungmin membersihkan wajahnya dengan handuk.

“Mianhe, Kyu… aku…”

“Bukannya harusnya kau ke Manila, lalu kenapa masih disini?”

“Aku ketinggalan pesawat, jadi ya… besok saja.”

Kyuhyun terpesona.. Ah, bibir pouty Sungmin memang sangat cantik. Dan terlebih, tubuh Sungmin hanya berbalut busa yang perlahan meletus dan menghilang dari tubuh Sungmin.

“AWWW…” Sungmin menjerit pelan, saat tangan Kyuhyun meremas bokongnya.

“Kyu, besok aku harus ke Manila da_”

“Kan perginya besok, jadi sekarang main denganku.”

Sungmin hanya bisa pasrah. “Kyuhhh…

END

.

.


Prompt req Sunrise NukoSatry Fadia:

Hyung, kau melihat ming hyung dimana? Aniyo. eeeeee, ooooo..isk dia dimana? Miiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing…

.
Kyuhyun sudah mencari Sungmin ke seluruh penjuru dorm, tapi tetap saja tidak ketemu. Ia baru saja menelfon Ryeowook, dan namja itu hanya mengatakan ia pergi hanya bersama Eunhyuk.

Ia sempat bertanya pada Heechul, tapi yang ada malah ia diacuhkan.

“Ugh! Kenapa semya hyung pergi dan tidak mempedulikan aku, padahal aku sedang sakit.” Kyuhyun akhirnya kembali ke kamarnya.

Ia merasa tidak dipedulikan. Kyuhyun kemudian menyembunyikan tubuhnya di balik selimut tebal, dan iseng-iseng ia memotretnya dan mengunggahnya di twitter.

kyuhyun tak pernah cengeng,tapi ia sedih karena tak ada satupun hyung yang mempedulikannya. Akhirnya Kyuhyun mencoba untuk tidur, tapi sebelum ia benar-benar terlelap…

.
cklek…

“Kyu?”

‘Suara Sungmin hyung… ‘ Kyuhyun langsung berpura-pura memasang wajah memelasnya.

“Kau sakit?”

“Nde Ming, dan tak ada satupun yang merawatku. Bahkan mereka semua pergi. Ah… aku juga lapar.”

“Mianhe, Kyunie. Sekarang tunggulah disini karena aku akan membuatkanmu bubur.”

“Ah… ahni. Nanti saja Ming, sekarang temani aku tidur dulu.”

“Kau yakin? Bukannya kau lapar? ”

“Jika aku sudah tidur kau baru boleh pergi dan memasak. Dan bangunkan aku jika sudah matang nanti.”

“Aigo! Manja sekali!”

“Yah Heechul hyung, diamlah. Jangan mengganggu kami.”

.

END

.

.


Prompt req by: Cho KyuMin ElfJoyer

Kyuhyun tengah mengintip kegiatan seseorang yang tengah bercanda dengan temannya dari ujung tangga sekolahnya. Dengan serius Kyuhyun memperhatikan Si namja manis yg dikaguminya. Ia kaget saat sang namja manis menuju kearahnya, kemudian Kyuhyun dengan cepat menaiki tangga untuk kabur. Tapi…

GUBRAK!

Kyuhyun harus rela jatuh dengan sangat tidak elit hanya karena tak melihat anak tanga yang ia naiki. Kyuhyun meringis, memasang wajah polosnya yang gagal itu. Sementara Sungmin, ia sempat tertawa sebelum akhirnya menolong Kyuhyun.

“Seharusnya kau melihat tangganya.” Sungmin membantu Kyuhyun berdiri. Ia merapikan seragam Kyuhyun dan memasangkan kembali kacamatanya. “Untung saja kacamatamu tidak pecah.”

MAu tak mau Kyuhyun hanya mengangguk seperti orang bodoh. Sungmin memang benar-benar manis. Dilihat dari jauh saja dia sangat indah, dan jika dilihat dari jarak dekat seperti ini…

“Kyu… Hei, jangan melamun.”

Kyuhyun hanya mengangguk dan kembali menunduk. “Eh… kau tahu namaku?”

Sungmin hanya tersenyum. Ia menegakkan wajah Kyuhyun dengan mengangkat dagunya. “Untuk namja tampan sepertimu, aku tahu semua tentangmu.”

Dan setelah itu Kyuhyun merasa pusing.

“Kyu… ah… kau mimisan! Aigo…!”

.
Brugh…

“Yah! KYU..!” Sungmi melihat ke sekitarnya. “Hyukkie-ah…! Tolong, Kyuhyun pingsan!”

“Kyuhyun? Siapa dia?”

Meski Hyukkie tak tahu pasti siapa Kyuhyun, tapi ia tetap mendekat pada Sungmin dan menolong namja nerd yang aneh si kutu buku yang sedang di tolong Sungmin.

“Ini salahmu, Ming. Dia selalu mimisan jika bertemu denganmu.”

Sementara Sungmin dan Hyuk kesusahan memapah tubuh Kyuhyun, Kyuhyun malah tersenyum dalam mimpinya. Ah… ini indah sekali. ‘Aku tak menyangka, Sungmin sunbae tahu aku.’

END

.

.


prompt req: Whulan Octantya M. Peni

.
sungmin baru saja selangkah masuk ke kamarnya, dan begitu terkejut setelah melihat kyuhyun…

.
sedang bersembunyi dibalik selimutnya. Sungmin merasa heran karena jarang sekali Kyuhyun menyembunyikan tubuhnya dibalik selimut, bahkan sampai tak terlihat apapun. Dan lagi ini musim panas,apakah Kyuhyun sakit lagi?

Sungmin mengerutkan keningnya.

“Hhhhh…”

Sungmin merasa mendengar suara-suara yang emmmm… yah seperti mendesah.

Tidak mungkin Kyuhyun sedang bermain sendiri? Aish… Sungmin mencoba menghilangkan pikiran kotornya.

Kyuhyun habis sakit jadi tak mungkin ia sedang… eum…

Ah mungkin saja dia demam lagi. Sungmin segera berlari menuju kasur Kyuhyun. Ia kemudian berusaha membuka gumpalan selimut yang melilit tubuh Kyuhyun.

“Kyu…”

“Eh…Ming…”

Wajah Sungmin memerah. “Ah… Mianhe Kyunie, aku pikir kau sakit lagi jadi… ”

“Ah… Ming, aku … ini…”

” Sebaiknya aku pergi saja.”

Sungmin hendak berbalik tapi Kyuhyun meraih tangannya dan menarik lembut tubuh Sungmin. “Aku memang sudah sembuh tapi ini sakit Ming…” Kyuhyun mengarahkan tangan Sungmin menuju ke bagian bawahnya.

“Mmmhh…Ming.” Kyuhyun menggerakkan tangan Sungmin untuk meremas litte Cho yang sudah mengeras.

“Salahmu sendiri melihat video seperti itu.”

“Itu karena kau tak memberikan aku jat…”

“Yah! Kalau mau main, cepatlah. Aku sudah menunggu dari tadi.”

Mendengar suara cempreng Heechul, tanpa basa-basi Kyuhyun langsung turun dari bed-nya dan kemudian menutup jendela balcon tempat Heechul tengah mengintip mereka.

“Jangan menggangguku! Dasar Janda kesepian!”

“Awas kau Kyu!”

.

End

.

.


Prompt req by Megumi Kishimoto

Mulutnya kembali dibuat ternganga, pemandangan yang -menurutnya- terlihat begitu indah itu seolah menyilaukan matanya. Sosok tampan itu sedikit membenturkan kepalanya pada dinding kamar mandi didepannya, mengutuk segala sensasi panas yang kini semakin menjalari tubuhnya, harum vanila yang singgah pada indra penciumannya itu seolah memabukan, semakin besar, hasrat yang seolah memuncak dan berpusat pada tubuh bagian selatannya. Demi tuhan, demi seluruh panggilan setan yang selama ini ia terima, dan demi semua koleksi game yang ia punya, mengintip seorang Lee Sungmin yang tengah mandi itu tak berbeda seperti kau yang berniat mengambil madu di sarang lebah, begitu manis.. dan memabukan. Namun disaat bersamaan dapat membuatmu menjerit frustasi karena sengatan-sengatan panas tak terduga. “oh, so damn Lee Sungmin.”

Kyuhyun berulang kali meneguk air liurnya, dan bahkan sempat mengusap air liur yang masih keluar dari bibirnya. Kedua matanya semakin terbuka lebar saat melihat Sungmin tengah mengusap spons penuh busa sabun di dadanya. “Ugh… bahkan nipplenya pun sangat merah.” Kyuhyun tak tahan lagi.

Entah sadar atau tidak, tapi tangannya mulai menjalar kebawah dan berhenti tepat diantara kedua kakinya. Ia sempat mengumpat pelan saat merasakan bahwa little Cho sudah benar-benar mengeras. “Sial…”

Kyuhyun menggeram pelan. Ia menyandarkan tubuhnya di ambang pintu. Semakin menggila saat Sungmin tengah mengusap kedua sisi butt penuhnya yang sangat menggoda. Kyuhyun semakin merasa panas tak karuan.

Dengan tergesa dia menurunkan boxer serta celana panjangnya. Ia segera meraih juniornya dan mulai mengurutnya perlahan.

Kyuhyun semakin dan semakin menggila. Sungmin tengah memainkan juniornya yang hampir menegang. Membiarkan tangannya yang penuh dengan buih sabun memanjakan junironya. Terkadang terdengar lenguhan pelan Sungmin, membuat Kyuhyun semakin menggila.

Pluk…

Eh?

Kyuhyun merasa aneh. Ada yang menepuk bahunya. Dan belum sempat ia menoleh kebelanga, wajah evil nan menakutkan itu muncul di samping wajah Kyuhyun. “Hei… jangan berdiri di pintu seperti orang bodoh. Kenapa tak kesana saja dan bermain dengannya. Bodoh!”

“Pergi kau hyung… dasar setan menyebalkan! Janda kesepian, kau suka sekali mengganggu kesenanganku.”

Setelah berhasil mengusir Heechul keluar dari kamar tidur Sungmin, Kyuhyun kemudian bergegas hendak kembali ke kamar mandi dan meneruskan kegiatannya, tapi…

“Ming…”

Entah harus shock atau senang, tapi yang jelas little Cho sangat bahagia saat menemukan Sungmin sudah siap menerimanya, terlentang di bed lebar, dengan senyum sexynya.

“Happy birthday BabyKyu…”

END

.

.


prompt req dari: Tyarha Ciie’ D’Rezpector Pororo:…

Sungmin diam2 datang ke drama musical kyuhyun untuk memberi kejutan. Tapi disana tidak sengaja sungmin melihat Kyuhyun sedang. . .

berusaha melepaskan kostum yang ia pakai. Sungmin mendekat dengan perlahan, hampir tak bersuara. Ia menutup ruang ganti itu dengan sangat perlahan, berdo’a dalam hati agar kyuhyun tak menyadari keberadaannya. Sungmin tersenyum saat melihat Kyuhyun yang tak menyadari kehadirannya. Setelah memastikan pintu terkunci, Sungmin mengendap pelan menuju meja rias, dan meraih ikat kepala Kyuhyun. Ia mengambilnya dan dengan gerakan yang sangat cepat, Sungmin mengikatnya untuk menutupi kedua mata Kyuhyun.

“Hei ..! ” Kyuhyun berusaha untuk menangkap orang yang mengerjainya. Tapi Sungmin sangat pintar, ia bersembunyi dibelakang Kyuhyun dan terus memegang ikat kepala itu.

Tawa Sungmin hampir pecah saat mendengar Kyuhyun mengeluh, dan ia juga kasihan karena ia sadar ia sudah menarik ikat kepala itu terlalu keras.

“Yah! Cho Sungmin, jangan pikir aku tak tau itu kau ya! ”

Kyuhyun memutar tubuhnya dengan cepat, dengan sengaja membuat Sungmin kewalahan dan akhirnya melepaskan ikat kepala itu.

“Ah..Kyunie tidak asik. Kukira kau tak tahu itu aku. ”

“Salah sendiri, kau pakai parfum yang sama.” Kyuhyun tersenyum dan meraih dagu Sungmin. “Jangan seperti itu didepanku, aku bisa menyerangmu kapan saja.”

Bukannya berhenti memainnkan lidah dan bibirnya, Sungmin malah semakin menggodanya. Ia menjilat telinga Kyuhyun, “Aku sudah mengunci pintunya.”

“Dasar kelinci nakal.”

.

END

.

.

Gimana? Asyik kan main prompt by req. Nah, kalau ada yang mau ikutan main, cukup komen atau kirim PM ke akun FB aku . Kajja, kita ramein ultah Uri Appa…

LOVE YA!

 

Iklan

All About Me | KyuMin | Yaoi (trilogi) | B |

.

rainy hearT

.

~Proudly present~

 

.

 

.

 

ALL ABOUT ME

 

Side story dari

 

All About U

.

 

.

 

.

 

Cast :  – Cho Kyuhyun

–          Lee Sungmin

–          -Choi Minho (Shinee)

–          Others Super Junior members

Pairing: KyuMin

Genre : Drama, romance, angst, etc

Length : ?

Rated : T

Disclaimer : KyuMin saling memiliki, Kyu Milik Sungmin, dan Sungmin milik Kyu _bersama dengan saya_  >^<

Warning : YAOI / BL, GaJe, Typo(s), etc

.

.

.

Don’t Like Don’t Read

No Copas No Bash No Flame

.

.

.

Cho Kyuhyun POV

 

.

 

.

 

Dimulai dari saat anak itu datang. Mata besarnya sangat hangat, dan tampan. Dia benar-benar seperti tiruan dari pengusaha muda Choi yang meninggal karena kecelakaan pesawat tahun lalu.

 

Aku bukan anak kecil lagi, jadi jangan mengira aku tak tahu apapun. Aku tahu, appa menyukai bekas istri tuan Choi itu. Siapa yang tak akan jatuh cinta pada yeoja cantik yang malang?

 

Menjadi hyung dari seorang Choi Minho pun, bukan hal yang aku sesali. Dia anak yang baik dan hangat, bahkan sesekali aku merasa jika dia benar-benar adikku. Selalu menempel dan manja padaku. Meski tak jarang  juga aku mengacuhkannya, tapi dia selalu bersinar. Tersenyum padaku.

 

Bukan aku tak menyukainya, hanya saja dia seperti kedua sisi tangan bagiku.

 

Aku adalah bagian putih yang selalu terlindung dari cahaya luar, dan dia adalah bagian hitam yang selalu saja menjadi tameng. Dia anak yang mandiri, dan appa menyukainya.

 

Aku namja yang bebas, yang melakukan apapun sesuai dengan keinginanku. Aku tak suka terikat.

 

Aku membiarkan Minho, lebih menguasai appaku. Aku juga tak menyesal karena aku tak dekat dengan Umma baruku. Aku tahu, Heechul… dia Umma yang baik. Hanya saja, aku lebih senang menjadi seorang yang bebas dan memulai semuanya sesuai dengan apa yang aku inginkan.

 

Aku tak menginginkan secuil pun kekayaan appaku membantuku. Aku bisa mandiri dan menikmati hidupku. Sebagai pemusik jalanan, menyanyi di cafe atau bahkan pelayan di toko. Aku belajar semuanya dari nol. Merasakan sulitnya mencari uang di kota yang padat ini.

 

Dan saat inilah pertama kali aku melihatnya, dan kurasa ini mungkin alasan terbaik yang aku miliki karena aku masih setia naik kereta meski harus berjalan atau bahkan berlari untuk melalui setiap hari dan pekerjaanku.

 

Aku melihat namja manis yang tengah duduk di kursi yang sedikit jauh dari platform kereta yang sedang kutunggu, dia mengganggu penglihatanku. Dia terlihat mengantuk. Aku tak yakin jika dia seorang namja sebelum aku melihatnya lebih teliti selama beberapa menit.

 

Musim dingin memang selalu membuat semua orang terlihat semakin manis, dengan penutup telinga dan juga topi kupluk lucu dengan telinga koala berwarna pink. Kulitnya cantik.

 

Tapi, seorang namja kurus yang terlalu enerjik itu mengganggu kesenanganku. Dengan seenaknya dia membangunkan namja manis yang sedari tadi menarikku untuk terus menerus menatapnya.

 

Ah…. keretaku sudah datang.

 

“Kajja, Sungmin hyung. Kereta kita sudah datang. Eum, kuharap hari pertama kita akan menyenangkan. Kudengar, pemilik cafe dimana kita bekerja itu adalah putra keluarga Cho.”

 

“Benarkah?”

 

Bagaimana aku tak mendengar mereka? Mereka bergosip tepat dibelakangku. Dan aku sangat senang karena kereta penuh sesak. Aku bisa merasakan punggungnya tepat berada di belakangku.

 

Dia wangi dan…. hangat.

 

“Nde, Hyung. Tapi, dia putra dari pengusaha Choi. Namanya Choi Minho, dia teman Yesung hyung. Dan, dari yang kudengar dia sangat tampan. Mungkin saja dia akan menyukaimu  nanti. Huwaaa!!! Aku tak sabar untuk mengenalkanmu pada…”

 

.

 

Bughh!!

.

 

“Awwhhh!!!”

 

Sungguh aku tak sengaja. Aku hanya tak menyukai apa yang mereka bicarakan, aku hanya__

 

“Mianhe.” Sial! Kenapa suaraku bisa sedingin ini? Aku tak bisa mengatur ekspresi wajahku sendiri.

Ingin sekali aku keluar dari kereta ini dan bersembunyi dimanapun tempat yang tak terlihat manusia. Aku tak sengaja memukulnya.

 

“Yah!!! Bisa tidak kau meletakkan kotak bodoh itu. Kau tahu, kereta ini sesak dan kau berhasil memukul kepala Hyungku dengan kotak biola bodohmu. Itu keras tahu!!!”

 

“Wookie-ah, sudahlah.”

 

Aku hanya diam.

 

Akhirnya aku memutar posisi berdiriku hingga aku bertemu dengan kedua matanya. Entahlah, mungkin tanpa sadar aku tersenyum. Meski sahabatnya itu terus mengoceh memarahiku, tapi aku tak mendengarkan apapun.

 

“Sungmin Hyung!!! Kajja!!”

 

Rasanya sangat berat saat dia harus segera keluar dari keretaku. Entahlah, aku tak tahu dan tak sadar. Aku mengikutinya.

 

“Cho Kyuhyun.”

 

“Nde…”

 

Dia menatapku. Aku tahu aku lebih tinggi darinya dan itu malah membuatnya terlihat semakin manis saat ia mencoba melihat kearahku.

 

“Namaku Cho Kyuhyun.”

 

Dia tersenyum.

 

“Kajja Hyung, kau mengganggu antrian.”

 

“Ak-aku Sungmin. Lee Sungmin.”

 

Aku melihat punggungnya. Semakin menjauh.

 

Aku tak tahu kenapa aku berdiri didepan gate seperti ini. Haruskah aku mengejarnya?

 

.

 

.

 

.

 

Dan aku baru sadar, jika aku mengikuti mereka. Terdampar didepan cafe yang aku tahu benar, ini memang milik Minho. Appa pernah mengajakku kesini saat dia membangunnya. Sejujurnya aku merasa menyesal, dan juga sedikit canggung.

 

Harusnya aku berada di gedung pertunjukkan seperti biasanya. Dan dengan bodohnya aku malah berdiri didepan cafe ini. Aku tak yakin jika aku ingin masuk kesana. Seharusnya aku berada di gedung pertunjukkan, dan bukan disini. Tapi, ugh… Minho. Kenapa dia harus menemukanku?

 

“Hyung, aku senang kau datang.”

 

“Nde.”

 

Aku tak bisa seperti Minho yang selalu tersenyum. Rasanya kaku sekali.

 

“Kukira kau akan melihat anak-anak itu malam ini, bukankah ini pertunjukkan pertama mereka?”

 

“Aku tahu.”

 

Meski sedikit gelap, tapi aku bisa melihat perubahan wajah Minho. Aku tahu aku bersalah sekarang. Dia sudah berusaha menjadi orang baik dan selalu mendekatiku. Entahlah, sangat sulit untuk merubah wajahku agar tersenyum.

 

“Hyung, aku harap kau bisa disini. Kau tahu, yeah… bermain biola untukku. Aku sangat mengagumimu.”

 

Minho menunjukkan senyumannya lagi. Dia benar-benar anak yang baik. “Hyung, kau tahu bukan__ aku sangat menyayangimu.”

 

Hening.

 

Aku tahu, aku juga sangat menyayanginya. Menjadi anak tunggal bukanlah hal yang mudah. Terlebih saat kau menyadari jika alasan kau tak memiliki Umma adalah salahmu sendiri. Umma meninggal saat melahirkan aku.

 

Umma memaksakan kehamilannya dan lebih memilihku dari pada dirinya sendiri.

 

Dan aku sungguh tak bisa memberikan ekspresi apapun.

 

Aku melihat wajah Minho, dia sedikit seperti… terluka.

 

Huh… aku benci perasaan seperti ini. Sangat bersalah.

 

“Kajja…”

 

Entah sadar atau tidak, aku meraih tangannya dan menyeretnya masuk. Aku tak tahu apa yang aku lakukan. Hanya saja, aku ingin menurutinya. Aku ingin membahagiakannya.

 

“Gomawo, Hyungie…!”

Ugh… aku benci saat dia memelukku seperti ini.

 

Membuatku jadi ingin menangis.

 

‘Mianhe, Minho-yah… ‘

 

.

 

.

 

.

 

.

 

“Selamat datang!!!”

 

Aku mendengar suara itu, teriakan cempreng dan ah… benar. Namja menyebalkan yang suka marah-marah. Dia benar-benar bekerja ditempat Minho.

 

Tapi, ada suara yang menggangguku. Suara lembut dan petikan gitar yang sangat hangat. Sangat pas dan romantis.

 

Aku terus menatapnya, menunggu mata kami bertemu. Cukup lama, sampai dia hampir menyelesaikan lagunya. Dia menatapku. Meski dia terus bernyanyi, tapi aku tahu wajahnya tersenyum.

 

“Kau memang hyung yang terbaik untukku. Kita bahkan memiliki ikatan, ya ‘kan Hyung?”

 

Aku menoleh pada Minho yang entah sejak kapan berdiri disisiku.

 

“Aku menyukainya, bahkan sejak pertama aku melihatnya. Mungkin hanya tinggal pendekatan sedikit dan aku akan menyatakan perasaanku padanya.”

 

.

 

.

 

.

 

Aku tak tahu harus bersikap seperti apa. Atau mungkin aku sudah terlalu terbiasa bersikap dingin dan acuh, jadi semuanya terasa mudah. Aku tak mau dia selalu mengatakan dia menyukaiku, yang mungkin kenyataannya dia hanya menyukai permainan musikku.

 

Aku juga terkadang membenci saat ia memuji kopi buatanku yang memang sengaja aku buatkan untuknya. Mungkin saja, dia hanya merasa tak enak padaku saat tahu aku dan Minho bersaudara.

 

Dan aku menyayangi Minho. Dia salah satu bagian terbaik dari hidupku. Jika dia tak ada, aku mungkin tak akan sebebas ini menjalani hidupku. Aku menyesal, saat usia mudanya dia harus sudah mengurus perusahaan appa dan dengan senang hati menggantikan aku. Melupakan impiannya sendiri untuk bisa membawa Korea menjadi juara dunia.

 

Aku tertawa pedih dalam hatiku.

 

Aku tak bisa menggenggamnya meski dia sudah berada di tanganku.

 

“Terima kasih Kyu, kau pasti menyanyikan lagu itu untukku. Iya ‘kan?”

 

“Huh…. tidak penting.”

 

“Yah!! Setidaknya kau memang tersenyum padaku. Ayo, mengakulah kalau kau menyukaiku.”

 

Aku mengacuhkannya, padakal dia tepat berada disisiku dan terus menggangguku.

 

“Kyu, bukankah kau  tahu perasaanku? Ayolah, mungkin kau hanya malu. Eh, atau karena aku bukan orang kaya jadi kau tak mau…”

 

“Bukan karena uang, Sungmin. Aku tak pernah mempermasalahkan itu.”

 

“Eh, jadi benar kau juga menyukaiku. Ah… akhirnya.” Dia tersenyum seperti orang bodoh. Aku tak tahu, harus memukulnya atau menciumnya.

 

“Terserah kau saja.”

 

“Kalau begitu, aku milikmu dan kau milikku. Iya ‘kan? Begitu bukan maksudmu? Ah… senangnya.”

 

Aku hanya bisa menghela nafasku. Untung saja hari ini Minho tak sedang main ke cafe. Aku menghentikan langkahku dan memegang kedua sisi bahunya. Menatap ke kedua matanya.

 

Tuhan,

 

Neomu yeppeo…

 

“Sungmin…”

 

“Nde.”

 

“Aku tid_”

 

“Sungmin hyung!!!!”

.
Sial!

.

 

Setan kecil itu datang lagi dan langsung menyeret Sungmin. Namja itu, seharusnya ikut terbang ditelan salju kemarin malam. Menyebalkan sekali.

 

.

 

.

 

.

 

Entah mengapa, dia terus melakukannya. Ada atau tidak ada Minho. Aku tak enak.

 

Aku bisa melihat perasaan Minho, aku tahu dia sakit hati. Dasar bodoh!

 

Aku mendekati Sungmin, ini sudah cukup dan dia tak akan melakukan ini lagi. Padaku ataupun Minho. Mungkin ini saatnya, aku harus berhenti memberikan harapan padanya.

 

“Berikan padaku.”

 

“Tapi___”

 

“Kau tak punya hak untuk merekamnya. Jangan membuatku marah.”

 

Aku mengambil kamera miliknya dan mengeluarkan memori didalamnya. Mengambil memori itu dan memberikan kembali kamera ke pemiliknya.

 

Aku menutup mataku, aku tak melihatnya. Aku tak ingin melihat kesedihan Sungmin. Ini sudah cukup. “Berhenti menguntitku dan merekap pertinjukanku. Kau tak berhak melakukannya, Lee Sungmin-ssi!”

 

Aku bisa melihat wajah terkejut Minho, tapi aku ingin menjadi buta. Aku tak ingin melihatnya menangis. Aku tahu dia menangis, dan aku tahu mulai saat ini aku hanya akan menjadi kesedihan untuknya dan Minho adalah kebahagiaannya.

 

.

 

.

 

.

 

Apa yang terjadi sama sekali tak sama dengan apa yang kuharapkan.

 

Aku tak  bisa menjauhkannya dariku, dan aku tak ingin menjauh. Aku juga tak ingin dia pergi dan memperhatikan Minho. Aku tahu, ini adalah hal bodoh seperti memperebutkan seboah kotak kosong tanpa isi apapun itu.

 

Kami semua, sama-sama sakit.

 

Dan aku tak ingin terlihat terluka. Hanya diam dan mengacuhkannya. Tapi, sama sekali aku tak berharap dia menjauh dan bahkan bersama dengan Minho. Aku tak ingin mengalah pada Minho, aku hanya tak ingin seperti ini.

 

Lelah….

 

.

 

.

 

.

 

“Sungmin hyung…”

 

Aku sungguh tak ingin tahu, apa yang akan ia katakan. Aku sudah cukup menutup diri dan kurasa aku sudah lelah. Aku akan menyerah, aku harus memaksakannya. Tapi saat aku melihat Minho, dengan senyuman bodohnya dan tangannya tengah menarik Sungmin dalam pelukannya__

 

Aku membenci keduanya, aku membenci Sungmin. Aku membenci diriku sendiri, kenapa seperti ini?

 

.

 

.

 

Dan saat aku tahu jika mereka tak bersama, entahlah aku tak tahu harus bersikap apa. Mungkin aku orang yang jahat karena aku tersenyum saat menepuk bahu Minho dan menenangkannya. Dia tak pernah sesedih ini saat dia tak diterima. Aku tahu, Sungmin akan terus melihatku. Itu sudah dituliskan dalam takdir, dan meski aku tak tahu entah sampai kapan aku akan siap, tapi satu saat nanti aku akan menciumnya dan memintanya menjadi milikku.

 

.

 

.

 

Aku melihatnya di kejauhan.

 

Dia keluar dari tempat Minho, mencoba melarikan diri. Aku benar-benar benci saat makhluk kecil kurus itu terus saja mendikte apa yang harus dilakukan Sungmin. Dia pula yang membujuk Sungmin untuk pergi dan akhirnya aku harus bersusah payah melamar kerja sebagai pelayan di cake shop yang sama sekali tak ada dalam daftar pekerjaanku.

 

Meski aku senang, karena Lee Ahjumma sangat ramah dan baik padaku. Bahkan membiarkan aku tinggal dirumahnya , karena memang jarak cake shop ini dari apartemenku cukup jauh.

 

Aku melihat Sungmin dari kejauhan.

 

Aku senang bisa melihatnya tersenyum lagi.

 

“Kyu…”

“Ah…”Aku melamun. “Mianhe, aku…”

 

“Sudahlah.”

 

Lee Ahjumma tersenyum. “Mungkin kita bisa minta bantuan Sungmin untuk hari ini. Sesekali kau harus mengajaknya bicara. Tak baik menyimpan perasaan terlalu lama.”

 

“Aku tidak menyukainya.”

 

“Eum, benarkah?”

 

Ahjumma itu terkadang bersikap genit. Bahkan dia mengedipkan matanya padaku. Benar-benar konyol.

 

Aku kembali melihat keluar. Mungkin hari ini.

 

Tidak, harus hari ini.

 

“Kyu, aku sudah menyuruhnya kesini. Kurasa kalian bisa memiliki waktu sebentar. Sebaiknya kau berusaha mengajaknya bicara.”

 

“Ahjumma,kau terlalu berlebihan.”

 

“Aku tahu, dan apa kau lupa aku juga pernah muda.”

 

Lagi-lagi dia mengedipkan matanya padaku. Aku melihat Sungmin berjalan ke arahku. Dia terlihat cantik dengan bungan yang memenuhi kedua tangannya.

 

Satu hari nanti, kau akan datang padaku dengan pakaian putih dan juga bunga mawar yang cantik. Dan aku, akan mengulurkan tanganku dan menyambutmu.

 

 

.

 

.

END

.

.

Aku tahu, bahasaku aneh…

Ga tahu kenapa, mungkin gegara kebanyakan belajar. Ah… buat yang nunggu NSFC, mianhe masih buntu nih….

Love you…

Chu ❤

The Miracle of 7 years of Love |KyuMin Ff|Sungmin’s birthday FF |OS

.

.

 

rainy hearT

.

~Proudly present~

 

.

 

.

 

The Miracle of 7 years of Love

.

 

.

 

.

 

“FIRST LOVE NEVER DIES…”

.

 

.

Cast :   – Cho Kyuhyun

          Lee Sungmin

        

Pairing: KYUMIN

 

Genre : Drama, romance.

 

Length : Oneshoot

 

Rated : T

 

Disclaimer : All the cast belongs to God.

 

Warning : YAOI / BL | Typo |EYD tidak sesuai dengan Kaidah Bahasa Indonesia.

.

.

.

Don’t Like Don’t Read

 

No Copas No Bash No Flame

.

FF ini sedikit berbeda. Ini merupakan POV Kyuhyun dan juga POV author. Soal setting waktu yang di gunakan, di pikirin sendiri yah…

.

.

.

.

 

Happy Birthday Lee Sungmin…

 

.

.

Rumahku terasa sangat sepi. Rumah besar dan aku hanya tinggal sendiri. Noona memilih sekolah asrama. Semua orang tahu, jika dia memang sangat bersahabat. Anak-anak di komplek perumahan kami tak banyak, mungkin dia merasa sendirian.

 

Appa dan Umma sibuk dengan pekerjaan mereka. Aku juga terkadang sibuk dengan mainanku, sekolah, game komputer… starcraft. Tapi, kali ini aku sedang merasa bosan. Liburan musim panas memang membuatku sibuk dengan PR yang banyak, dan semuanya sudah selesai. Eum… akan slesai. Hanya tinggal satu tugas.

 

Penelitian.

 

Kenapa Park Seonsangnim memberiku tugas untuk memelihara  hewan? Aku sama sekali tak berminat memelihara segumpalan bulu yang selalu berbuat semau mereka sendiri. Mengacak-acak rumah, sampai membuat Umma memotong uang jajanku hanya untuk membayar makanannya. Dia merepotkan.

 

Sangat menyebalkan saat dalam undian, aku diharuskan memelihara kelinci. Hewan itu menyebalkan. Wajahnya yang sok imut dengan telinga putihnya, dan juga giginya yang lucu. Ughh… baiklah, kelinci memang sangat lucu dan menggemaskan.

 

Memang apa yang harus aku lakukan dengan kelinci itu? Mengukur pertumbuhannya, berat badannya dan juga bulunya. Ugh.. lupakan tentang kelinci.

 

Hal  paling baik dari kelinci dan liburan musim panas adalah Lee Sungmin.

 

Dia menempati rumah baru yang tepat berada di sebelah rumahku. Rumahnya sama dengan rumahku dan hal baiknya, kamar kami berdekatan. Aku sering melihatnya lewat teropong milikku, tapi aku bukan stalker. Aku hanya heran, dia mirip kelinciku.

 

Kelinciku sangat aneh, karena bulunya putih, dan mungkin karena terlalu putih hingga saat kepanasan warna bulunya akan berubah menjadi pink. Memang hanya soft pink, tapi ini membuatku mengingat Sungmin.

 

Namja itu sangat cantik saat ia tersenyum dan bahkan saat senang menggoda Sungjin. Mereka bersaudara, dan jika saja Sungmin dan Sungjin berukuran sama (?) maka semua orang pasti akan berfikir sama denganku, Sungjin terlihat seperti Hyung dan Sungmin adalah adik kecil yang manis.

 

Sayangnya, Sungjin sedikit kurus.

 

Tapi bukan berarti Sungmin gemuk. Dia tidak gemuk, dia sama seperti kelinciku. Sangat menggemaskan. Ah …sudahlah. Kurasa Sungmin sudah menungguku. Kami harus merawat Sen. Nama kelinci kami.

 

Oh iya, aku dan dia satu kelas. Bukannya sombong, tapi aku jenius. Aku si pintar dan si tampan, Cho Kyuhyun.

 

“Kyuhyun-ah, ayo kita lihat Sen!!!”

.

.

.

Kami bersahabat sangat baik, Sungmin hyung (dia lebih tua 2 tahun dariku). Aku sadar, aku hanya namja muda, berusia 13 tahun. Mungkin sangat konyol saat aku ingin mengakui jika aku senang melihat Sungmin hyung. Aku tak tahu, mungkin ini hanya karena dia satu-satunya orang yang benar-benar bisa aku anggap sebagai teman.

 

Dia tak membedakanku atau menghinaku, tak mengagumiku hanya karena aku tampan dan pintar. Haha…. jangan katakan aku narsis, tapi kebanyakan teman namja dan juga yeoja hanya selalu memanfaatkanku.

 

Padahal aku pikir, aku bukan namja yang baik. Kurasa aku juga jahil dan jahat pada mereka. Oke, semua wajar jika mereka membalasku dengan terkadang memanfaatkanku-mereka mencontek PR ku-lalu membuatku bertanggung jawab atas kekacauan yang aku buat(?).

 

Tapi, tidak dengan Sungmin hyung. Dia melindungiku dan bahkan mengaku salah atas semua kejahilan dan juga kenakalanku. Bahkan Umma pernah sesekali menjewer telinga Sungmin hyung saat dia mengaku jika dia menggantung Sen di tali jemuran di belakang rumah. Padahal itu aku….

 

.

 

.

 

.

 

Tapi, semua yang dilakukan Sungmin hyung hanya membuatku bingung. Aku percaya, aku mengaguminya. Tapi, kenapa sepertinya semuanya berkembang selama beberapa tahun ini. Aku Cho Kyuhyun, 20 tahun…. dan aku mengakui, aku menyukai Sungmin hyung.

 

“Sungmin hyung…”

 

“Nde.”

 

“Saranghae…”

 

“Nde, nado saranghaeyo.”

 

Aku tak suka dia menjawabku dengan senyumannya itu. Bukan karena apa, tapi itu berarti dia hanya menganggapku sebagai anak kecil yang sedang bercanda dengan Hyungnya. Hell…! Aku 20 tahun, dan aku siap menentang arus untuk bisa bersama Sungmin hyung. Aku tahu, aku akan menjadi masalah baru untuk appa dan seluruh keluargaku.

 

Tapi, sama sekali…

 

Aku tak bisa mengalahkan perasaanku.

 

“Aku benar-benar menyukaimu hyung, aku sangat mencintai Sungmin Hyung. Semua yang ada dalam Sungmin hyung, aku suka.”

 

“Kyu….”

 

“Wajah lucu Sungmin hyung, wajah jelekmu, gigi anehmu, suara cempreng Sungmin hyung, dan aku bahkan menyukai hobimu tentang memasak pumpkin. Aku menyukai masakanmu meski terkadang rasanya agak aneh.”

 

Aku melihat reaksi Sungmin hyung, dan aku menjadi lebih kecewa.

 

Senyumnya tambah lebar dan bahkan berubah menjadi tawa pelan. Detik berikutnya, aku tahu dia memelukku. Sibuk menepuk punggungku seperti saat dulu. Hal sama yang dia lakukan saat aku berusia 15 tahun, saat Sen mati karena aku memberinya wortel beracun. Aku tak bisa membedakan mana yang organik mana yang bukan, harusnya aku memberikannya makanan yang biasanya.

 

Ah… sudahlah. Yang aku tahu sekarang aku sedang menangis. Aku tak yakin apa aku sedih karena mengingat Sen, tapi yang pasti hatiku terasa sakit.

 

“Kita tak bisa bersama Kyu, lagi pula kita namja. Jangan berfikir konyol dan aneh. Aku tak bisa menganggapmu serius, kita saling mengenal sejak 7 tahun yang lalu, dan aku menganggapmu sama seperti Sungjin, adik kecilku yang manis.”

.

.

.

Dia berjanji padaku, akan selalu menjadi temanku. Awalnya memang seperti itu, kami saling mengirim pesan, menanyakan kabar, dan sesekali bertemu.

 

Tapi setelah hari dimana aku mengatakan aku menyukainya, hari itu kami tak pernah bersama-sama lagi seperti sebelumnya. Dia selalu mengajak beberapa orang temannya saat kami berjanji bertemu, bahkan untuk main kerumahnya dan itu membuatku tak nyaman.

 

Dia bisa bersahabat baik dengan begitu banyak orang. Satu hal itulah yang sama sekali tak bisa aku lakukan dengan baik. Mungkin aku merasa iri akan hal itu. Kamarnya pun sudah pindah, aku tak bisa lagi melihatnya lewat teropongku.

 

Dan hari itu tiba. Setelah 3 tahun dia melakukan itu padaku, hari itu adalah puncaknya. Aku melihat dari kejauhan, banyak mobil besar yang sepertinya akan mengangkut seisi rumah Sungmin. Apakah dia begitu takut padaku sampa dia harus pindah dan menjauhiku???

 

Aku berlari menuju depan rumahnya. Aku menemukannya tengah berbincang dengan seorang namja. Saat itu aku baru menyadari, semua yang di pindah adalah barang-barang Sungmin. Aku tahu setiap detail barang kesayangan Sungmin dan juga seisi kamarnya.

 

Aku menepuk bahu Sungmin.

 

Aku hanya diam, tak ingin berkata apapun. Suaraku seperti hilang. Tapi, dengan seperti itu saja sudah cukup, Sungmin memang mengenalku dengan baik. Dia membawaku menjauh dari keramaian orang-orang yang yang ada didepan rumahnya.

 

Dia mengajakku ke samping rumahnya. Mendudukkanku di ayunan yang tepat berada di bawah pohon sakura yang kering.

 

Hari ini memang panas, dan sepertinya sama dengan perasaanku yang sama sekali tak berwarna, sangat kering dan menakutkan.

 

“I’m getting married.”

 

.

 

.

 

.

 

Saat itu juga aku tak pernah bertemu dengan Sungmin lagi. Aku tak tahu jika rasanya akan seperti ini. Saat itu aku hanya berharap, jika dia akan membalas perasaanku di hari terakhirnya. Tapi yang aku dengar bukanlah yang aku harapkan.

 

Aku juga tak punya keinginan untuk menanyakan apapun tentang Sungmin pada Sungjin ataupun keluarga Lee. Jika dia bisa pergi meninggalkan aku, aku juga bisa. Jika dia bisa mengalihkan kehidupannya dan menjalaninya sesuai dengan keegoisannya, aku juga bisa.

 

“Umma…”

 

“Heum?”

 

“Aku ingin mandiri.”

.

.

.

 

“Kyuhyun-ah!!!”

 

Kyuhyun merasakan tepukan yang cukup keras dibahunya. Ia ingin marah, tapi saat melihat namja yang menepuknya dia mengurungkan niatnya.

 

“Jangan menggangguku.”

 

“Kau saja yang selalu melamun. Kita kesini untuk liburan, Kyu. Bukan melihatmu seperti ini. Selalu melamun. Ah… apa kau ingin merubah nasib?”

 

“Maksudmu?”

 

“Yah…. kita baru saja lulus dari akademi, dan ada baiknya kau menguji kemampuanmu. Suaramu bagus Kyu, mungkin kau bisa jadi penyanyi.”

 

Kyuhyun tertawa. Baginya, sahabatnya itu memang terkadang berlebihan. Dia terlalu dan selalu sibuk memikirkan orang lain. Mungkin saja dia memang berbakat menjadi manager artis.

 

“Kau tahu Kyu…”

 

“Apa?”

 

“Aku melamar di SME.”

 

Kyuhyun terkejut. Ia menoleh tak percaya pada sahabatnya. “Kau ingin jadi artis?”

 

“Tidak. Suaraku jelek dan sama sekali tak bisa bernyanyi. Aku melamar menjadi manager atau mungkin asisten manager. Mungkin aku bisa bertemu dengan Boa. Hahhaa….”

 

Yang terdengar berikutnya hanya tawa keras sahabat Kyuhyun.

.

.

 

Perjalanan hidup terkadang tak begitu bersahabat dengan Kyuhyun. Ia berpisah dengan teman masa lalu dan lebih memilih berada di tempat yang jauh dimana tak banyak orang yang mengenalnya.

 

Hanya bekerja sebagai pelayan dan juga mengembangkan hobinya.  Photografi….

 

“Kyu…”

 

“Nde, Umma.”

 

Kyuhyun mendekat pada yeoja tua pemilik coffe shop tempatnya bekerja itu. Kyuhyun dengan sabar menunggu apa yang akan dikatakan oleh yeoja yang sudah berumur 60-an itu. Ia tak yakin, apa yang sebenarnya diinginkan oleh yeoja yang sudah ia anggap seperti umma-nya sendiri itu.

 

Kyuhyun menerima dengan setengah hati, selebaran yang diberikan padanya.

 

“Aku tahu, kau bisa menyanyi. Dan mungkin ini kesempatanmu.”

 

Kyuhyun menatap malas pada selebaran yang ada ditangannya. Ia mengangkat wajahnya saat ia merasakan usapan lembut yang membelai rambut ikalnya. “Aku juga pernah muda. Meski aku tak lagi bersama dengan suamiku tapi aku sangat mencintainya.”

 

Yeoja itu mencium pucuk kepala Kyuhyun. Ia menatap penuh cinta pada Kyuhyun. “Mungkin kau bukan anakku, tapi aku bisa merasakan apa yang selalu kau rasakan dan juga ketakutanmu. Jangan hanya melihatnya dari layar kaca, kau harus berusaha.”

 

“Umma…”

 

“Aku bukan buta. Aku tahu, kau pasti menyukainya. Mungkin aku tak tahu seperti apa perasaanmu, tapi aku rasa kau bukan hanya seorang fanboy dari boyband itu. Ikutilah audisi ini, dan aku yakin kau akan bahagia. Ah… jangan lupa, mainlah kesini setelah kau terkenal nanti. Aku akan mendukungmu, Kyu….”

 

“Aku tak ingin melakukannya.”

 

“Jangan memaksakan keinginanmu Kyu…”

 

Kyuhyun hanya diam dan membiarkan yeoja itu memeluknya. Ia tak mengerti kenapa seperti ini. Ia tak tahu harus bersikap seperti apa. Ia merasa takut dan juga merasa kalah. Tak mungkin ia bisa dibodohi hingga terjatuh seperti ini. ‘Tapi rasanya masih sangat sakit. Kenapa membohongiku?’

 

.

 

.

 

Life couldn’t get better

 

Nan nol pume ango nara

 

Purun darul hyanghe nara

 

Jamdun noui ib machul koya

 

Life couldn’t get better

 

Noui mame munul yoro jwo

 

Gude ne sonul jabayo

 

Life couldn’t get better

 

Kyuhyun melihat MV itu berulang kali, dan bahkan ia sesekali berhenti saat Umma di cafe dengan sengaja membuat Kyuhyun melihat acara musik yang menghadirkan boyband itu. Ia bisa melihat jika umma memang benar-benar serius dengan keinginannya.

 

Kyuhyun berhenti dan duduk di counter di belakang mesin coffe maker. Ia menatap umma dengan wajah tak percayanya. Kyuhyun tak habis pikir, apa sebenarnya yang dipikirkan yeoja tua itu. Dia seperti sengaja membuat Kyuhyun benar-benar tak menyukai apa yang di lakukan yeoja itu. Terus menggoda Kyuhyun.

 

“Jadi bagaimana Kyu…”

 

Kyuhyun menghela nafasnya. “Terserah kau saja.”

 

Terdengar tawa ringan dari yeoja tua yang kemudian malah memperbesar volume dari MV yang sedang ia putar di salah satu TV yang ada di Coffe Shop itu.

.

.

.

.

Kyuhyun tak menyangka jika langkahnya semudah ini. Ia hampir tak percaya dengan kemampuan dan keberuntungannya. Sangat mudah melewati audisi dan bahkan ia tak perlu melalui proses training yang lama seperti yang lainnya.

 

Hari ini, hanya 3 bulan pertama… dan ia sekarang sudah berada didepan pintu dorm yang nantinya akan menjadi tempat tinggalnya. Kyuhyun tak tahu, apakah ia harus merasa senang atau sedih. Ia tak ingin membayangkannya terlebih dahulu, ia terlalu takut.

 

Kyuhyun tak pernah berharap jika dia akan bersama dengannya saat pertama ia menginjakkan kakinya di gedung mewah SME. Ia tak pernah memaksakan takdirnya untuk bisa bertemu dengannya lagi. Ia hanya menjalani semuanya dengan sangat baik.

 

Kyuhyun menghirup nafasnya dalam-dalam. Ia perlu memberanikan diri untuk menghadapi kenyataan dimana takdir menelantarkannya didepan pintu dorm ini. Dengan tangan gemetar, dia mencoba menekan bel pintu apartemen itu.

 

“Eoh… kenapa kau belum masuk. Bukankah aku sudah menyuruhmu masuk dari tadi?”

 

Seorang namja yang setahu Kyuhyun adalah manager dari boyband itu menegur Kyuhyun. Tanpa bisa Kyuhyun cegah, namja itu membuka pintu dorm dan menyeretnya masuk.

 

“Yeorobun!!!!!”

 

“Ne… prince manager.”

 

“YAK!!! Hentikan panggilan konyol itu.”

 

Kyuhyun mengikuti langkah manager yang membawanya memasuki ruangan yang cukup luas. Beberapa namja keluar dari kamarnya. Kyuhyun bisa bernafas lega, karena sepengetahuannya, boyband itu terpisah dalam 2 ruang yang berbeda lantai. Setidaknya dia tak harus satu tempat dengannya.

 

“Ini anggota ke tiga belas kita Hyung?”

 

“Nde.” Manager hyung mendorong Kyuhyun kedepan. Tubuhnya sedikit limbung karena Kyuhyun memang sama sekali tak bisa berkonsentrasi saat ini. Ia tengah berusaha mengatur detak jantungnya. Ia melihat namja yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.

 

“Mianhe, aku telat. Aku harus memberi makan Sen terlebih dahulu.”

 

Kyuhyun merasa semakin canggung dan takut saat mereka saling bertatapan. Ia tak bisa sembunyi lagi saat ini. Sangat memalukan memang, ketika kau menguntiti orang yang sama dan tak pernah bisa benar-benar melupakan masalalu-mu.

 

Kyuhyun merasakan kecanggungan itu. Lidahnya kelu dan seluruh keberaniannya luruh. Bukan hanya karena pandangan tak suka dari member yang lain. Tapi pandangan kosong dari Sungmin.

 

“Nah, karena Kyuhyun belum mempunyai kamar, aku harap ada yang mau berbagi dengannya. Aku pergi dulu. Jangan lupa, jaga dia.” Kyuhyun hampir pingsan saat ia tahu jika ia akan ditinggalkan. “Dia maknae kalian.”

 

“MAKNAE!!!”

.

.

Kyuhyun menunduk menyembunyikan wajahnya. Ia sudah berusaha sekuat tenaganya, tapi tetap saja gagal dan tak bisa melakukan apapapun. Beberapa member hanya diam dan mengacuhkannya.

 

Ia tak bohong saat ia mengatakan ia sangat lelah. Dan meski itu terucap hanya dalam hatinya. Kyuhyun takut, karena dia seperti pengganggu. Ia tengah menunggu kepastian yang mungkin sebentar lagi akan diberitahukan oleh Leader jika dia pulang nanti.

 

“Kau akan membuang salah satu dari kami.”

 

“Aku tak percaya kau butuh 3 bulan untuk training, dan aku tahunan. Apa yang kau lakukan sampai kau bisa debut semudah ini?”

 

“Kau membayar berapa pada mereka?”

 

“Siapa kau sebenarnya?”

 

Kyuhyun hanya diam. Ia tak ingin menjawabnya. Dalam sudut hatinya, ia merasa senang karena ia sama sekali tak mendengar suara dari seseorang yang saat ini menjadi kunci dari semua yang ia lakukan, hingga ia berani melakukan hal seperti ini.

 

Pintu dorm terbuka, dan Leader masuk dengan wajah sumringah dan bahagianya. “Dia tak akan menggeser siapapun. Kita juga tak akan kehilangan siapapun di grup kita. Semuanya seperti biasa. Anggap saja Kyuhyun adalah pelengkap kita.”

 

Kyuhyun merasakan rangkulan hangat di bahunya. “Sebaiknya kau istirahat karena besok kau harus mulai menyesuaikan diri dengan jadwal dan kesibukan kami.”

 

Kyuhyun tersenyum saat merasakan pelukan dari seorang leader dari boyband yang selama ini hanya bisa ia lihat di TV. Tapi setelah Leader itu pergi, beberapa member yang lain juga ikut pergi dan mengikutinya naik ke dorm yang lain. Sedangkan teman satu dorm Kyuhyun kembali mengacuhkannya. Mungkin mereka masih tidak terima dan marah.

 

“Aku akan tidur dalam tenda saja. Kalian tak usah memikirkan aku.” Kyuhyun berbicara pelan. Ia tak yakin ada yang mendengarnya atau tidak. Yang penting, hari ini ia tak merepotkan siapapun. Ia tak ingin membuat semua hyung-nya bertengkar dan saling menyalahkan karena tak ada satupun dari mereka yang mau berbagi kasur mereka dengan Kyuhyun.

 

Kyuhyun mencoba mendirikan tenda yang ia temukan di depan rak sepatu dorm. Ia rasa ia tak perlu meminta izin untuk memakainya, toh tak ada yang memperdulikannya.

 

Kyuhyun mengambil tempat tepat didepan pintu geser yang ada di salah satu ruangan kosong dekat balkon. Dengan sedikit menggeser beberapa benda berserakan dan juga tanaman yang ada disana, dia mendapatkan tempat yang cukup untuk tendanya.

 

Kyuhyun merasa sedih, karena sepertinya Sungmin enggan melihatnya. Ia takut, semua usahanya akan sia-sia.

 

Kyuhyun mencoba berbaring dan memejamkan matanya. Tubuhnya terasa lelah dan juga sakit. Tapi hatinya lebih sakit saat ia mengingat raut wajah Sungmin. Ia teringat ucapan Sungmin.

 

“Sen…”

 

Sungmin memiliki binatang peliharaan yang diberi nama Sen. Itu mengingatkan tentang kelinci mereka. Kyuhyun semakin tersenyum saat ia sadar satu kenyataan. Mungkin Sungmin dulu memang berbohong saat ia mengatakan jika dia akan menikah.

 

Kyuhyun juga merasa sangat bodoh dan egois karena dia tak pernah mencoba mencari tahu apa sebenarnya yang direncanakan Sungmin.

 

“Kyu…”

 

Kyuhyun terlonjak kaget saat mendengar panggilan itu. Antara yakin dan tidak, ia membuka zipper tendanya. “Sungmin hyung…”

 

“Apa yang kau lakukan disini?”

 

“Aku…”

 

Kyuhyun tak bisa berucap hal lain lagi. Ia menunduk dan melihat jika Sungmin membawakan selimut dan juga bantal untuknya.

 

“Ini untukmu. Aku meminta maaf atas nama member lain. Mungkin dengan sedikit penjelasan kau bisa membuat mereka tak marah padamu lagi.”

 

Dengan sedikit tergesa-gesa Sungmin meletakkan bantal dan selimut itu didepan Kyuhyun. Ia segera berdiri dan hendak meninggalkan Kyuhyun.

 

“Apakah Sen juga seekor kelinci???”

 

Kyuhyun bisa mendengar Sungmin tertawa saat mendengar pertanyaan bodoh Kyuhyun.

 

“Bukan, dia seekor kucing.”

 

Beberapa menit kemudian terdengar tawa lirih mereka berdua. Kyuhyun keluar dari dalam tendanya dan ia berdiri mendekati Sungmin. “Kenapa berbohong padaku Hyung?”

 

“Masalah apa?”

 

“Jangan berpura-pura lupa dan menghindar Hyung.”

 

Sungmin terdiam dan menunduk. “Sudahlah, kita harus tidur.”

 

“Apa kau tak ingin memelukku?”

 

“Kyu, ini sudah malam dan besok kau harus mulai__”

 

“Aku merindukanmu hyung…”

 

“Pabbo….”

 

Sungmin diam dan menunduk. Ia membiarkan Kyuhyun meraih tubuhnya dan memeluknya erat. Sungmin menangis pelan. Kyuhyun melepaskan pelukannya dan kemudian ia menghapus air mata Sungmin.

 

“Pabbo…”

 

“Aku tidak bodoh Hyung, nyatanya aku hanya butuh 3 bulan training.”

 

Sungmin tertawa mendengar perkataan Kyuhyun. Sungmin menggeleng pelan dan kemudian kembali memeluk Kyuhyun dengan erat. “Aku sudah berusaha melarikan diri, kenapa kau masih bisa menemukanku?”

 

“My love would always find you….”

 

“Dasar perayu…”

 

“Aku bukan perayu, aku tak pernah berbohong apalagi padamu Hyung.”

 

Kyuhyun mengusap lembut rambut blonde Sungmin. Ia menciuminya berulang kali. “Kalau begitu, apa sekarang kau akan mengijinkanku menjadi temanmu lagi.”

 

“Tentu saja tidak, pabbo.”

 

Kyuhyun segera melepaskan pelukannya. Ia memasang wajah marahnya didepan Sungmin. “Kenapa begitu? Jika kau tak bisa membalas perasaanku, maka kita harus berteman. Dan kali ini jangan perlakukan aku seperti dulu.”

 

“Kita lihat saja nanti….”

.

.

.

.

.

“Jangan membuatku takut Kyu…”

 

“Kenapa?”

 

“Kau membuatku takut. Kenapa memaksakan diri seperti itu? Harusnya aku jadi melakukan protes pada managemen. Mereka terlalu memaksakan semua dan membuatmu bekerja keras. Kau tahu, semua orang khawatir dengan keadaanmu. Fans dan juga yang lain. Kuharap jika sakit, kau tak akan memaksakan diri lagi.”

 

Kyuhyun hanya tersenyum. dan kemudian dia hanya melempar senyuman nakalnya pada Sungmin. Ia menangkap tangan Sungmin dan mencium punggung tangannya. “Aku tak berharap kau masih mengomel padaku saat aku sakit seperti ini. Aku baru saja sadar dari pingsanku dan aku sama sekali tak ingin mendengarmu mengomel, Ming. Setidaknya katakan satu hal yang bisa membuatku senang.”

 

Sungmin tersenyum dan ia kemudian mendekatkan wajahnya pada Kyuhyun. “I love you…”

 

Dan kemudian, Sungmin mencium Kyuhyun. Ciuman yang cukup lama, hingga mereka hampir lupa waktu.

 

“Yah!!! Aku harap hentikan kegiatan saling memakan kalian itu! Kita harus segera ganti baju dan melakukan persiapan. Ayo kerja!!!!“

 

“Heenim-ah… biarkan saja dulu.”

 

“Tidak bisa begitu Zhoumi!!!! Mereka sudah menghabiskan banyak waktu hanya untuk berciuman dan saling memakan seperti itu.”

 

Tak terdengar sahutan apapun dari dalam kamar Sungmin. Hanya suara tawa yang sangat keras hingga membuat Heechul semakin marah.

“Menyebalkan!!”

.

.

END

.

.

                   Happy birthday Sungmin Oppa!!!!Saranghaeo!                 

Keep calm and ship KyuMin

Ps: Based on 7 years of love and Miracle….

.

 

.

HORMONES|The Confusing Teens – Ch. 1|KyuMin Vers

 

 

Author : rainy hearT

Length : Series (?)

Rated :  T

Cast :

-Cho Kyuhyun & Lee Sungmin

– EunHae

-BaDeul

-HanChul x SiChul

-YeWook

-YunJae

-OnKey

-2Min

Pairing : || KYUMIN |

Desclaimer : Semua cast belongs to God and themselves. Dan seperti biasanya, jika saya bisa saya sudah meng-Klaim seorang Lee Sungmin menjadi milik saya.#Mimmpi….#

Genre : ||Drama || Romance|| Angst | Fluff

Warning : || BL/ YAOI || Gaje || typo’s || EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia||

Sumarry : I just pick some scene’s from mini series from Thai, named Hormones. It’s just get inspired by the tittle, but actually the story inside was so different, not same as the series. If you like Thai series, better chek it out. The mini series was so damn fucking good. Trust me.

HORMONES KYUMIN FF

.

 

Another PRESENT From Me

.

~The Confusing Teens~

.

 

Just KYUMIN

 

Please be Patient With me. Don’t Like Don’t Read. No copas No bash.

 

.

 

HAPPY READING

.

.

 

Part 1

 

 

.

 

.

 

Seoul International school

.

 

.

 

Meski pelajaran hari ini sudah dimulai, tapi tetap saja Sungmin terus sesekali menengok kebelakang. Ia merasa sangat terganggu. Sungmin melihat penuh benci kearah Kyuhyun yang masih duduk dengan posisi seenaknya dan juga masih tak memakai seragam sekolah pada hari ini.

 

Ini sudah hari kedua, dan sepertinya Kyuhyun memang sangat keras kepala. Sungmin melihat kearah depannya. Ia menatap Jung Soo-nim. Mereka saling bertatapan untuk beberapa saat. Jung Soo menghela nafasnya, berusaha menahan kemarahannya.

 

Ia sangat mengerti, apa yang ditakutkan Sungmin. Ia mencoba memberikan senyum samar, mencoba mengatakan jika semuanya mungkin akan membaik nanti, dan Jung Soo akan memikirkan apapun caranya untuk mengatur Kyuhyun.

 

“Cho Kyuhyun… “

 

Terdengar suara tegas dan garang yang tiba-tiba saja menyita seluruh perhatian siswa dan Jung Soo di kelas itu. Kang In-nim tengah berjalan dari pintu hingga ketengah ruangan dan terus saja memukulkan stik bambunya ke lantai.

 

“Ikuti aku.”

 

Kangin berkata dengan sangat tegas. Semua siswa sangat mengenal KangIn-nim. Namja itu begitu menakutkan dan tegas dengan semua peraturan. Dia adalah wakil kepala sekolah, yang mungkin saja tahun depan akan menjadi kepala sekolah. Sangat wajar, jika Kang In-nim begitu tegas dengan peraturan.

 

“Kau melanggar peraturan, dan sudah seharusnya kau diberi hukuman. Sekolah tak membebaskanmu untuk memakai pakaian seperti itu.

 

Cho Kyuhyun tak bergeming. Dia sama sekali tak mendengarkan dan tak peduli dengan ucapan Kang In. Bagaimana pun marahnya  Kang In, seperti bukan masalah baginya. Ia tetap saja duduk dan malah balas menatap tajam pada Kang In.

 

Kang In menggeram marah. Hampir saja dia berjalan menuju Kyuhyun dan memukulnya – mungkin – tapi Jung Soo-nim menghentikannya. Ia memegang bahu Kang In dan kemudian berbisik ditelinganya. Entah apa yang dikatakan Jung Soo-nim, tapi yang jelas Kang In-nim langsung pergi dari kelas itu meski sebelumnya tetap saja memamerkan kegarangannya pada Kyuhyun.

 

“Cho Kyuhyun-ssi, saya sangat berharap anda mematuhi peraturan. Secara sadar atau tidak, anda telah mengganggu kegiatan belajar di kelas saya.” Jung Soo mengalihkan perhatiannya dari Kyuhyun. Ia kembali menatap ke seluruh penjuru kelas. “Now class, let’s just talk about the rules. We have so many rules to make the new sentences from the reality that….”

 

Jung Soo mulai berbicara panjang lebar tentang penentuan penggunaan tata bahasa Inggris. Sungmin berusaha untuk mendengarkan dengan baik, tapi tetap saja dia tak bisa berkonsentrasi. Ia masih kesal dan malah semakin merasa kesal setelah kedatangan Kang In-nim.

 

.

 

.

 

.

 

Sungmin berdiri gelisah didepan gerbang sekolahnya. Hari ini ummanya berjanji untuk menjemput. Meski ia berkata tidak usah, tapi yeoja itu tetap memaksa. Terkadang Sungmin merasa sangat aneh, karena Ummanya masih saja bertahan dengan pendiriannya untuk selalu mengantar jemputnya, meski ummanya sangat sibuk sekalipun.

 

Umma Sungmin yang memang hanya bekerja sebagai perawat senior dan tak mempunyai banyak jam kerja. Hanya beberapa jam di pagi hari setiap harinya hingga selalu saja yeoja itu bisa menyempatkan untuk menjemput Sungmin.

 

Anak mommy mungkin, tapi Sungmin sangat menyayangi ummanya. Baginya, hidup seperti ini yang terbaik. Sangat teratur meski ia paham jika appanya adalah orang sibuk yang tak setiap hari bisa ia temui, tapi ia tak tumbuh menjadi anak nakal sangat berbeda dengan Kyuhyun.

 

Ugh… jika mengingat Kyuhyun, rasanya Sungmin menjadi semakin kesal saja. Namja itu benar-benar nakal, atau bodoh atau hanya tukang mencari perhatian. Pada kenyataannya Kyuhyun adalah namja yang pandai, dan ditambah dengan wajah yang tampan … siapa yang tak akan menyukainya.

 

Dan juga dia populer seketika, ditambah lagi dengan kenakalannya dan tingkah seenaknya, “Menyebalkan sekali.”

 

“Hei… baby Ming.”

 

“Um-mma…” Sungmin tersenyum canggung.

 

“Kenapa wajahmu seperti itu?”

Sungmin memeluk dan mencium pipi Ummanya. Dia terlalu sibuk dengan pemikirannya tentang Kyuhyun hingga dia tak sadar jika Ummanya sudah menghampirinya.

 

“Hanya seseorang, Umma. Mungkin dia belum bisa beradaptasi dengan sekolah dan aturannya.”

 

“Murid baru?”

 

“Nde….”

 

“Sudahlah.”

 

Sungmin tersenyum melihat Ummanya. Mereka masuk kedalam mobil. “Hari ini Umma belum memasak, yah… baru saja selesai dan Umma langsung menjemputmu.”

 

“Kalau begitu, aku yang akan memasak.”

 

“Boleh…”

 

.

 

.

 

.

 

Sementara itu, Kyuhyun masih berjalan dengan coolnya dan malah duduk di tepian lapangan melihat Yesung yang sedang bermain basket bersama dengan Donghae dan Eunhyuk, hobae mereka. Kyuhyun tertawa melihat beberapa kali Yesung gagal mengambil bola.

 

“Hahhaa…. pabboya Yesung!!”

 

“Hei! Jangan tertawa, ayo maju sini!!!”

 

“Malas.” Kyuhyun menyahut sekenanya dan kemudian menggeleng. Ia bersandar pada salah satu tiang penyangga sekolah yang terdapat di jalan lorong di sekeliling lapangan basket. Beberapa kali, Kyuhyun melihat Hyukjae memanggilnya untuk ikut bermain tapi Kyuhyun hanya menggeleng dan  malah semakin nyaman dengan posisinya. Ia mengambil ponselnya. Entah apa yang ada dipikirannya, yang jelas ia dengan seenaknya menulis di semua social media miliknya.

 

“KENAPA HARUS MEMAKAI SERAGAM?”

 

Lalu Kyuhyun mengupload beberapa foto terbaru miliknya hari ini dan mengatakan jika tak ada alasan yang mengharuskan mereka memakai seragam disekolah. Di Amerika saja tidak ada aturan seperti itu.

 

Kyuhyun memamerkan smirk andalannya.

 

“Kyuhyun-ie…”

 

Kyuhyun menoleh malas. Meski ia tak yakin siapa yang menghampirinya, tapi mendengar suara yeoja saja dia sudah mual. Malas sekali berurusan dengan para sunbae yang selalu saja berada disekitarnya.

 

Sunbae itu lebih menakutkan dari Kang In-nim. Yeah, setidaknya menurutnya seperti itu.

 

“Kau tak datang di pesta ulang tahunku semalam.”

 

Siapa peduli???’

 

Bisa saja Kyuhyun menyahuti seperti itu, tapi tak mungkin  dia merusak citranya sendiri.  Kyuhyu tersenyum palsu dan kemudian meraih ujung rambut hitam kemerahan sunbaenya.

 

“Mianhe, sunbae… aku sibuk dengan Ummaku.”

 

“Ish… jangan memanggilku sunbae. Kelihatannya aku sangat tua.”

 

“Mianhe, Hyuna baby….”

 

“Hei…!!! Siapa Hyuna!!!!”

 

Suara lengkingan yeoja itu berhasil membuat telinga Kyuhyun berdengung.

 

“Siapa lagi Hyuna!! Baru saja mengencaniku kemarin, tapi kau sudah punya yang lain.”

 

“Ah… mianhe Suzy aku…”

 

“YAHHH!! Siapa lagi Suzy…!!!”

 

.

 

Plakkk

 

.

 

Kyuhyun mengaduh pelan saat ia merasakan pedas di bahunya, sisa tamparan tangan yeoja yang entah siapa namanya. “Namanya Ji Eun. Baru saja minggu yang lalu kalian kencan dan berciuman hot di bar. Masa sudah lupa.”

“Ck…. bagiku tidak penting. Yesung-ah….”

 

“Heum…”

 

Kyuhyun memperlihatkan ponselnya pada Yesung.

 

“Kyu, ini..”

 

Kyuhyun hanya mengangguk. Yesung tertawa dan kemudian memukul-mukul bahu Kyuhyun. “Kau benar-benar cari masalah.”

 

“Yah… untuk hiburan. Lagipula, bukankah asik jika kita tak pakai seragam.”

 

“Boleh…”

 

Dan mereka berdua tertawa penuh kemenangan.

 

.

 

.

 

.

 

Dengan cepat, semua upload dan update terbaru dari Kyuhyun pun menyebar dan juga semua anak mau tak mau mengakui begitu banyak alasan yang dikatakan Kyuhyun. Seragam sekolah yang tak modis dan kuno. mungkin di negara lain masih banyak yang memakai seragam lebih kuno dari yang mereka pakai, tapi tetap saja semua alasan Kyuhyun ada benarnya.

 

“Cha!!! Kami datang kembali!!!”

 

Pasangan reporter alias wartawan sekolah itu terkadang hadir dengan seenaknya dan membuat semua orang kaget dengan kehadiran mereka yang tiba-tiba itu. Terlebih dengan mic berbentuk lolipop dan juga bando telinga mickey yang aneh yang menghiasi kepala mereka.

 

“Disini reporter BaDeul Couple!! Ye!!!”

 

“Kami sedang meliput fenomena hari tanpa seragam yang sepertinya dimulai hari ini. setelah kemarin Cho Kyuhyun sunbae memberi tahu kita semua alasan kenapa kita tidak mesti memakai seragam, semua anak sepertinya terpengaruh.”

 

“Nde…” Baro mengarahkan kamera ponselnya hingga merekam banyak siswa yang tengah berlalu lalang. Sandeul menangkap (?) seorang siswa yang tengah melintas.

 

“Hei… kemari.”

 

“Annyeong!!!”

 

“Nde, annyeong.”

 

“Bagaimana hari pertamamu berangkat tak memakai seragam?”

 

“Wah… senang sekali. Meski pertama kali, Umma dan Appa melarang. Tapi saat aku mengatakan alasan yang sama dengan alasan Kyuhyun Sunbae, akhirnya mereka mengijinkan aku.”

 

“Ah… begitu. Gomawo…” Sandeul membungkuk hormat kepada salah satu sunbaenya itu. Ia kemudian kembali berjalan dan terus menghampiri beberapa siswa lain dan mewawancarai mereka.

 

“Kyuhyun Sunbae nae namja!!!”

 

“Kyuhyun Jjang!!!”

 

“Kyuhyun sunbae … saranghae.”

 

Banyak lagi komentar yang terdengar seiring dengan semakin banyaknya siswa yang tak memakai seragam setiap harinya. Sementara itu, Sungmin tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa berharap mereka semua akan berubah pikiran.

 

Kyuhyun tersenyum penuh kemenangan saat tak sengaja bertemu pandang dengan Sungmin. Meski ia masih merasa sangat terganggu dengan kehadiran Kyuhyun, tapi mau tak mau Sungmin harus mengajak bicara namja itu.

 

Sungmin berhenti sebelum berjarak begitu jauh dengan Kyuhyun. Dia menoleh dan menatap Kyuhyun. “Kyuhyun-ssi…”

 

Kyuhyun berhenti dan hanya berhenti. Sama sekali tak terganggu untuk melihat kearah Sungmin.

 

“Apa yang kau lakukan?”

 

“…”

 

“Kau pikir kau siapa? Kau hanya seorang siswa, dan sekolah ini memiliki aturan. Kau tak berhak menghasut semua siswa yang lain untuk bertingkah sepertimu.”

 

Kyuhyun membalikkan tubuhnya dan kemudian ia berjalan mendekati Sungmin. Dia tersenyum sinis pada Sungmin dan ia menepuk malas bahu Sungmin. “Katakan saja kau juga ingin mengikuti mereka. Ingin  mengikutiku dan tak memakai seragam. Kau hanya sedang kesal, karena kau ketua kedisiplinan yang tak mungkin melanggar peraturan. Hei…”

 

Kyuhyun mendekatkan wajahnya, hingga sangat dekat dengan Sungmin. Ia memamerkan smirk-nya kembali. “Atau kau hanya bingung, akan  memakai rok atau celana seperti itu nantinya. Heh… kulihat kau cukup cantik untuk ukuran namja.”

 

“Kau!!! Ughh!!!” Sungmin yang sangat gemas dengan tingkah Kyuhyun, kemudian dengan sangat cepat menginjak keras kaki Kyuhyun membuat namja itu mengaduh kesakitan. Sungmin tertawa senang melihat ekspresi konyol Kyuhyun.

 

“Awww!!! Yah… jangan menginjak kakiku, pabbo!”

 

“Kau yang babo!”

 

“Yah!!! Bilang saja kau ingin mengikuti kami semua dan tak memakai seragam, kenapa harus berbelit dan melarangku. Kau seperti Ummaku, benar-benar seperti Ummaku. Mengganggu saja.”

 

“Yah!!! Sebaiknya kau jangan mengajak yang lain untuk mengikutimu. Dasar menyebalkan.”

 

Kyuhyun kembali tersenyum. Rupanya ia sangat mengerjai Sungmin. “Oh.. kalau begitu, apa kau punya alasan yang tepat? Kenapa kita harus memakai seragam? Bukankah di Amerika saja tak harus memakai seragam? Lalu kenapa harus??? Jika hanya karena itu peraturan, maka peraturan memang dibuat untuk dilanggar. Lagi pula, aku bukan namja yang bodoh dan jangan lupakan… semua orang menyukaiku.”

 

“Mwo!!! Besar kepala sekali. Aku … aku sangat membencimu.”

 

“Benarkah??? Lalu…” Kyuhyun kembali menatap tajam pada Sungmin. “Bagaimana rasanya ciumanku kemarin?”

 

Kyuhyun lalu pergi berlalu dari hadapan Sungmin setelah berhasil mencuri satu ciuman di pipi Sungmin.

 

“YAH!!! Menjijikkan!!!”

 

Sungmin sangat geram. “Ughhh … awas saja, jika aku bukan ketua kedisiplinan aku pasti sudah menghabisimu.” Sungmin melangkah besar-besar dan menghentakkan kakinya. Ia memang tengah geram dan sangat kesal.

 

.

 

.

 

.

 

Hal seperti itu terus berlanjut hingga akhirnya sampai ke hari pertama lagi, hari senin. Mereka kembali lagi berkumpul di aula sekolah dan kembali berbaris rapi untuk mengikuti upacara.

 

Tapi belum juga dimulai, mereka sudah kembali ribut dan resah tentunya karena yang naik ke podium bukannya kepala sekolah mereka tapi Kang In-nim. Kangin. Memukulkan stik bambunya ke tubuh podium dan kemudian menatap tajam keseluruh siswa.

 

Pemandangan warna-warni dengan celana ketat dan rok atau celana super duper pendek membuatnya tak habis pikir. Tahu begini, dia tak menuruti keinginan Jung Soo untuk mendiamkan terlebih dahulu tingkah Kyuhyun.

 

“Semua… yang tidak memakai seragam, saya harap…”

 

Kangin memberikan jeda dalam pidatonya. “Kembali kerumah masing-masing. Silahkan belajar ditempat yang hanya menuruti kalian. Sekolah kita tak memberlakukan peraturan seperti itu. Saya harap, besok kalian sadar dan akan kembali memakai seragam kalian.”

 

“Untuk yang memakai seragam, silahkan tetap berada ditempat dan juga silahkan mengikuti pelajaran seperti biasanya.”

 

Sungmin melihat kesekelilingnya. Begitu banyak tempat kosong karena banyak sekali siswa yang akhirnya pulang. Sungmin menunduk diam. Dia mendengarkan pidato kepala sekolah, dan kemudian seperti biasanya dia akan memimpin do’a bersama untuk melewati minggu itu dengan baik.

 

Rasanya kosong sekali.

 

Dalam hatinya, ia menyumpahi Kyuhyun.

 

.

 

.

 

.

 

Keesokan harinya, kembali semua siswa dikumpulkan menjadi satu dalam aula. Masih banyak siswa yang masih tak menggunakan seragam hari itu. Sepertinya, hukuman skors 1 hari tak merubah apapun.

 

“Baiklah.” Kang In menarik nafas untuk menahan kemarahannya yang sudah meluap-luap. “Jadi kalian semua menantangku?”

 

Kangin turun dari podium dan kemudian berjalan ke hadapan ratusan siswa. “Yang memakai seragam silahkan kembali kekelas kalian masing-masing. Dan yang tak memakai seragam, sebaiknya kalian menyiapkan kedua tangan kalian untuk merasakan panasnya stik bambu milikku.”

 

Semua anak sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan Kang In. Meski mereka bersalah, Kang In sama sekali tak berhak bersikap seperti itu.

 

“Kang In seonsengnim!!!”

 

Beberapa anak berteriak keras dan kemudian mundur saat Kang In mendekati mereka satu per satu. Jung Soo segera meminta ijin kepada kepala sekolah untuk menjernihkan masalah itu.

 

“Perhatian semuanya!” Jung Soo harus berulang kali memanggil semua siswa dan juga terus berusaha membujuk Kang In untuk menghentikan aksinya. Setelah suasana sedikit tenang, ia meminta semua anak kembali ke barisan.

 

“Sebenarnya apa yang kalian inginkan? Kebebasan???” Jung Soo menatap Kyuhyun. Seakan ia tengah mengajak bicara namja yang kini masih dengan wajah keras kepalanya yang sangat menyebalkan.

 

“Cho Kyuhyun-ssi. Sebenarnya apa tujuanmu? Mempengaruhi semua siswa untuk bertingkah sepertimu. Tak seharusnya kau melakukan hal seperti ini, sekolah memiliki aturan dan aturan itu sudah dibuat sesuai dengan semua hal yang menurut sekolah dan kami para seonsengnim adalah hal yang terbaik untuk semua siswa.”

 

Kyuhyun maju ke depan. Ia berhadapan langsung dengan Kang In dan Jung Soo. “Di Amerika saja, mereka tak mengharuskan kita memakai seragam. Dan lagi pula, dengan seperti ini para siswa terlihat lebih santai dan lebih dapat menikmati sekolah mereka. Lagipula semua peraturan tak tentu semuanya baik untuk kami. Kami yang merasakan, bukan seonsengnim.”

 

Jung Soo tersenyum kecil. “Baiklah. Saya ambil perumpamaan. Kalian melihat kami disini, apakah jika kalian tak mengenal kami maka kalian akan berpikir kami adalah seonsengnim???”

 

“Animnida, Seonsengnim!”

 

“Dan juga, jika kalian berpakaian seperti itu apakah kalian akan dilihat sebagai siswa di luaran sekolah ini?” Semua siswa mulai diam dan berfikir. “Seragam adalah satu hal yang bisa membedakan kita. Siapa siswa, siapa guru. Dan juga jika kalian berpakaian seperti itu, apakah orang-orang jahat dan orang yang baik dapat membedakan kalian?”

 

“Seperti pencuri, jika mereka mengganggu kalian maka polisi mungkin akan diam saja. Mereka akan berfikir jika kalian adalah anak-anak nakal yang lainnya atau malah bahkan kalian ikut ditangkap dan dimasukkan kedalam penjara. Dan juga, seorang dokter, perawat, dan petugas kebersihan pun juga memakai seragam mereka. itulah yang membedakan kita. Semua orang akan menghormati seorang siswa yang belajar. Siswa yang selalu datang kesekolah dengan pakaian rapi dan juga semangat yang tinggi. Tak ada seorangpun bisa membedakan kalian siswa atau anak jalanan jika berpakaian seperti itu.”

 

Semua siswa diam. Jung Soo menatapi mereka satu per satu. Hingga akhirnya mereka semua tersenyum dan bertepuk tangan.

 

“Gamsahabnida, Jung Soo-nim.”

 

.

 

.

 

.

 

“Heum… kau sudah memakai seragamu.”

 

“Tentu.”

 

Tapi, masih ada yang salah.”

 

“Ck….”

 

Kyuhyun menoleh malas. Lagi-lagi hari ini pun ia harus menerima ocehan membosankan dari Sungmin. “Apalagi??? Bukannya aku sudah memakai seragam? Lagi pula semua siswa lain juga sudah memakai seragam. Kau mau memarahiku lagi?”

 

“Pakai seragam yang benar. Kau pikir seragammu itu sudah layak untuk dilihat???”

 

Kyuhyun melihat tubuhnya sendiri. Ia lupa, jika beberapa kancingnya tak terpasang dengan benar, dan juga lengannya yang ia lipat-lipat sangat tinggi. Kerah bajunya yang entah bagaimana bentuknya.

 

Tapi ia hanya melihatnya saja, tak berusaha untuk membenarkan dandanannya. Entah apa yang dipikirkannya. Dia malah tersenyum aneh pada Sungmin dan dengan cepat menangkap lengan Sungmin. ia mengarahkan telapak tangan Sungmin pada kemejanya yang tak terpasang dengan benar itu.

 

“Kenapa tak kau saja yang rapikan??”

 

“KYUHYUN!!!”

 

 

 

.

 

.

 

TBC

.

.

Thanks buat yang selalu rajin review, #tebar kisseu

Gomawo!!!!

.

 

HORMONES|The Confusing Teens – Prolog |KyuMin Vers

Author : rainy hearT

Length : Series (?)

Rated : T

Cast :

Cast :

-Cho Kyuhyun & Lee Sungmin

– EunHae

-BaDeul

-HanChul x SiChul

-YeWook

-YunJae

-OnKey

-2Min

Pairing : || KYUMIN |

Disclaimer : Semua cast belongs to God and themselves. Dan seperti biasanya, jika saya bisa saya sudah meng-Klaim seorang Lee Sungmin menjadi milik saya.#Mimmpi….#

Genre : ||Drama || Romance|| Angst | Fluff

Warning : || BL/ YAOI || Gaje || typo’s || EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia||

Sumarry : I just pick some scene’s from mini series from Thai, named Hormones. It’s just get inspired by the tittle, but actually the story inside was so different, not same as the series. If you like Thai series, better chek it out. The mini series was so damn fucking good. Trust me.

.

 

Another PRESENT From Me

.

~The Confusing Teens~

.

 

Just KYUMIN

 

Please be Patient With me. Don’t Like Don’t Read. No copas No bash.

 

.

 

HAPPY READING

.

.

 

Prolog

 

 

.

 

.

 

Seoul International school

.

 

.

 

 

 

“Untuk memulai tahun ajaran baru, mari kita sambut wakil dari siswa kita. Siswa yang terbaik dan siswa kebanggaan kita semua, Lee Sungmin!”

Dan saat seonsaengnim memanggil namanya, dia berjalan dengan sangat cantik. Namja yang memang sungguh manis dan sangat lembut. Sambil mengembangkan senyumannya disetiap langkahnya. Semua siswa pun tahu jika dia memang sangat bercahaya.

Seorang guru bahkan menyambutnya dengan pelukan hangat sebelum membiarkan Sungmin sampai di podium dan menyampaikan pidatonya. Senyumnya, suara lembutnya, wajahnya, gerakan bibirnya dan bahkan helaian rambut hitamnya yang terurai oleh angin sepoi yang lembut mengusap setiap helaian rambut Sungmin, semuanya terlihat sangat menakjubkan dan sempurna.

Dia bahkan bisa membangkitkan semangat semua siswa yang sebelumnya sudah mengantuk dan hampir mati bosan karena ceramah dari kepala sekolah yang sudah berjam-jam.

Sungmin menyudahi salam pembukaannya untuk tahun kedua disekolahnya itu. Ia tersenyum keseluruh saat melihat mereka memberikan senyuman dan tepuk tangan yang sangat meriah atas sambutannya.

Dia membungkuk hormat pada semua seonsaengnim sebelum meninggalkan podium. Beberapa anak bahkan sempat berbisik baik sebelum dilalui Sungmin, saat dilalui dan bahkan setelah dilalui. Semua siswa tahu, jika namja manis ini juga memiliki wangi khas yang sangat manis, ditambah dengan wajah manis dan juga ah…. he’s just so abso-fucking-lately adorable and cute.

Setelah dibubarkan oleh Jung Soo Seonsaengnim, semua siswa kembali ke kelas yang sudah ditentukan pada saat pembagian tadi. Dan berada di kelas ‘S’ adalah hal yang sangat menakjubkan. Kelas yang penuh dengan namja bekemampuan lebih, selain juga wajah yang tampan dan juga otak yang encer. Kelas super “S.”

Saat itu, Sungmin tengah bercanda dengan teman sebangkunya, sebelum akhirnya ia menabrak seorang namja yang sedikit terburu-buru berjalan menuju kearah pintu masuk kelas yang ada dibelakangnya. Sungmin membungkuk sopan dan meminta maaf.

Semua siswa melihat mereka berdua. Heuh… bahkan beberapa anak yang tengah mengumpul disudut kelas dan sudut lorong sekolah tengah sibuk membicarakan bagaimana pantasnya seorang namja bintang sekolah yang bersinar sangat cantik, bersanding dengan seorang pangeran sekolah yang benar-benar sangat tampan.

“Ah… mianhe, aku tak melihatmu.”  Sungmin berucap sopan sambil memunguti buku yang dibawa namja yang ditabraknya tadi.

“Gwenchanayo…”

Senyuman namja itu bahkan tak terlihat secuil-pun, ditambah dengan nada bicaranya yang sangat dingin. Tapi beberapa fans dari keduanya tengah sibuk melamunkan satu scene dimana kedua namja itu tengah jatuh cinta pada pandangan pertama, saling melempar senyum dan bahkan mungkin berciuman dan melupakan segalanya.

Lupakan.

“Ish…. Kyuhyun sunbae tidak asik.” Key mencibir pelan. Baginya melihat namja dingin itu mengacuhkan Sungmin adalah salah satu hal yang paling menyakitkannya. Dalam pikirannya, dia sudah berfanboy ria  dan menciptakan KyuMin couple. “Ish… lebih baik Sungmin sunbae denganku saja.”

“Hu!!! Enak saja!” Jonghyun seenaknya menoyor dahi Key. Dan selanjutnya, terjadilah pertengkaran kecil diantara mereka berdua. Sementara Henry hanya bisa diam melihat tingkah kedua chingunya.

.

.

.

“Hari ini kita akan mempelajari sastra Inggris. Silahkan buka halaman 7.”

Sungmin tersenyum saat melihat seonsaengnim kesayangannya. Jung Soo adalah seorang guru bahasa Inggris yang sangat baik dan ramah. Ditambah juga wajahnya yang terkadang terlihat cantik dengan kedua lesung pipi, atau malah terlihat tampan dengan wajah tegas dan juga nada bicaranya saat tengah serius.

Sungmin tersenyum saat mendengar pujian dari Jung Soo-nim. Ia selalu bisa membaca Bahasa Inggris dengan sangat baik dan juga jelas, terlebih suara Sungmin yang sangat lembut.

Kelas dibubarkan setelah 2 jam pelajaran. Meski Jung Soo sudah keluar dari kelas, tapi beberapa siswa masih sibuk berbicara kesana kemari didalam kelas. Beberapa siswa sudah mulai pergi keluar, dan tepat di pintu, saat Kyuhyun akan keluar dari kelasnya dia kembali berpapasan dengan Sungmin. Sungmin memilih mundur dan mempersilahkan Kyuhyun maju dan keluar terlebih dahulu, diikuti Yesung dan baru setelah itu, Sungmin dan Ryeowook berjalan dibelakang Kyuhyun.

Tapi, belum juga berjalan jauh dari pintu, Kyuhyun harus berhenti karena seorang hobae tengah menyodorkan sebuah amplop kuning bergambar banana yang mungkin saja berisikan surat cinta.

Kyuhyun hanya tersenyum dingin dan melalui hobae itu dengan seenaknya tanpa memikirkan bagaimana perasaan hobae-nya. Sungmin bisa melihatnya, hobae itu hampir menangis. Dari seragamnya saja, Sungmin sudah tahu jika hobae itu baru tingkat 3 di junior high.

“Keterlaluan sekali.”

Sungmin hampir tak pernah membenci orang, tapi Kyuhyun mungkin pengecualian. Namja dingin itu memang namja baru, siswa baru yang benar-benar menyebalkan.

Sungmin menghampiri hobae itu dan memeluknya.

Meski tujuan Sungmin adalah menenangkan hobae itu, tapi akhirnya malah hobae itu tersenyum senang, melebihi apa yang diharapkan Sungmin. Hobae itu terlihat sangat senang dan bahkan hampir terdengar suara tawanya.

“Kupikir kau sakit hati, tapi kenapa tertawa?”

“Aku senang, sunbae memelukku. Gamsahamnida.”

“Cheonmaneyo…”

Sungmin mengusap punggung namja itu. “Siapa namamu?”

“Taemin, Lee Taemin.”

“Aku Sung__”

“Sunbae Lee Sungmin.” Taemin melepaskan pelukan Sungmin dengan cepat dan kemudian tersenyum saat melihat wajah Sungmin. “Aku juga menyukai Sunbae, mari berteman…”

“Nde, tentu.”

.

.

.

Meski satu kelas dengan Kyuhyun, jujur saja… Sungmin sangat membenci namja itu. Pagi ini saja, Kyuhyun baru membuat sensasi yang lainnya lagi, tentu saja setelah kejadian penolakannya pada Taemin yang ternyata adalah hobae mereka yang bahkan sudah populer dan dikenal oleh sunbae Sungmin sendiri.

Kyuhyun kembali menolak yeoja yang menyatakan perasaannya padanya pagi itu. Siapa yang tak kasihan jika melihat yeoja yang di tolak oleh Kyuhyun kini malah jadi sasaran pelampiasan kekesalan seorang sunbae yang mengaku sebagai kekasih Kyuhyun.

Sungmin sangat geram. Berulang kali dia melihat ke bangku belakang dan menatap tajam pada Kyuhyun. Namja itu seperti tanpa dosa dan terus bercanda dengan Yesung. Sungmin tak bisa melakukan apapun, tak ingin melakukan apapun pada akhirnya.

Ia merasa ini bukan haknya untuk ikut campur.

“Sungmin hyung…”

“Nde, Wookie-ah.”

Sungmin menyahut malas sambil terus membuka-buka buku pelajarannya sebelum seonsaengnim datang.

“Jangan melihat Kyuhyun seperti itu, Hyung. Kau seperti ingin memakannya.”

“Heuh… aku hanya kesal saja. Dia keterlaluan.”

.

.

.

Dan entah sejak kapan, Sungmin sangat tertarik dengan semua tingkah Kyuhyun. Pagi ini adalah upacara di minggu kedua. Seperti biasanya, Sungmin akan memberikan sambutan tambahan untuk menyemangati semua siswa di sekolah itu.

Tapi, hari ini ada yang berbeda.

Cho Kyuhyun tak memakai seragam sekolahnya.

Sungmin hanya bisa menggeleng dan terus menatap Kyuhyun. Setelah menyudahi pidatonya, Sungmin kembali kebarisan. Kang In seonsaengnim langsung naik ke podium sambil membawa satu stik panjang yang terbuat dari bambu. Ia memukulkan bambu itu sedikit keras ke badan podium.

“Yah!!!! Kau Cho Kyuhyun-ssi, apa maksudmu memakai baju seperti itu? Kau pikir ini negara Amerika kebanggaanmu?”

Kyuhyun hanya memamerkan smirk andalannya, dan mengacuhkan pertanyaan Kang In Seonsaengnim. Dia malah putar balik dan meninggalkan barisan.

“Yah!!! Apa kau tak mendengarkan aku?!”

Anggap saja teriakan Kang In adalah angin lalu, yang mungkin didengar tapi tak berpengaruh apapun pada Kyuhyun.  Sungmin sudah mulai geram dan bahkan sangat geram. Tapi dia sama sekali tak bisa bergerak dari posisinya.

.

.

.

“YAH!!! Cho Kyuhyun-ssi!!!”

Sungmin berteriak sangat keras dengan suara yang benar-benar melengking hingga beberapa siswa di sekitar kelasnya berhenti dan malah memperhatikan Sungmin yang tengah mencoba mengajak Kyuhyun untuk berbicara.

Biar bagaimanapun ini tugas Sungmin, seorang ketua Dewan Kedisiplinan.

Kyuhyun berhenti dan menoleh malas pada Sungmin.

“Kau pikir ini di Amerika?”

“….”

“YAH!!!”

Kyuhyun merapatkan punggungnya ke salah satu dinding kelas dan bersandar disana. Ia bergaya sangat cool dan hampir menarik semua perhatian siswa. Bahkan ada yang sampai merekam tingkah cool  (?) Kyuhyun dan malah sibuk berfanboy-fangirl ria.

“Ck… kau seperti ibuku. Jangan mengaturku.”

“Kau pikir ini sekolahmu di Amerika? Kau bisa berpakaian seperti itu. Dimana seragammu Cho Kyuhyun-ssi? Bukankah kau membaca peraturan sekolah.”

Kyuhyun hampir tak mendengarkan Sungmin. Ia sibuk dengan pemikirannya sendiri. Siapa yang bisa menahan diri dari pesona seorang namja manis yang malah terlihat semakin cantik saat marah?

Kyuhyun mendekat pada Sungmin dan masih setia memamerkan smirk andalannya. Ia menatap tepat di kedua mata Sungmin. Mereka saling diam, untuk beberapa menit.

Dan memang sengaja, Kyuhyun kemudian meniup kedua mata Sungmin yang masih terus saja menatap tajam padanya, meski itu artinya Sungmin harus sedikit mengangkat wajahnya dan sangat terpaksa juga, Sungmin mengedipkan kedua matanya karena angin dari bibir Kyuhyun yang mengganggu kedua matanya.

.

Chu~

.

Ciuman yang sangat singkat. Hanya menempel.

“YA!!!!”

“Kya!!!!”

Namja dan yeoja, seluruh siswa disana berteriak keras melihat adegan itu.

Sungmin membatu.

‘Bagaimana bisa…. dia menciumku seperti itu?’

.

“Cho Kyuhyun!!!! Awas kau!!!”

.

 

.

 

.

 

TBC

.

.

.

Thanks buat yang selalu rajin review, #tebar kisseu

Gomawo!!!!

.

All About You | KyuMin | Yaoi (trilogi) | A

 

.

 

 

rainy hearT

 

.

 

 

~Proudly present~

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

ALL ABOUT U

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

Cast :  – Cho Kyuhyun

 

          Lee Sungmin

 

          -Choi Minho (Shinee)

 

          Others Super Junior members

 

 

Pairing: KyuMin

 

 

Genre : Drama, romance, angst, etc

 

 

Length : ?

 

 

Rated : T

 

 

Disclaimer : KyuMin saling memiliki, Kyu Milik Sungmin, dan Sungmin milik Kyu _bersama dengan saya_  >^<

 

 

 

Warning : YAOI / BL, GaJe, Typo(s), etc

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Don’t Like Don’t Read

 

 

No Copas No Bash No Flame

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

“Aku pikir ini waktu yang tepat.”

 

 

“Maksud hyung?”

 

 

Sungmin melakukan usaha terbaiknya dan mencoba tersenyum. Meski semuanya percuma saja karena Ryeowook tetap bisa tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi padanya. Tinggal dalam satu ruangan apartemen yang memungkinkan mereka berbagi segalanya.

 

 

Tak ada yang bisa disembunyikan oleh Sungmin.

 

 

“Sudah beberapa tahun dan tak ada perubahan apapun. Aku merasa semuanya percuma.”

 

 

Sungmin merasakan tepukan dan usapan lembut di bahunya. Ia menoleh melihat wajah sedih Ryewook. “Yah, mungkin sudah saatnya kau merubah semuanya Hyung. Selama ini, kau hanya terlalu sibuk dengannya dan sampai tak mempedulikan orang lain yang mungkin saja malah sanggup memberikan perhatian lebih.”

 

 

“Kau bisa saja.”

 

 

Dan kemudian hanya hening. Ryewook memeluk erat tubuh Sungmin. Hyung yang sangat ia sayangi ini sepertinya semakin kurus. Heum… ia tak mau merasakan cinta jika sakitnya akan membuatmu semakin kurus. Ryewook tertawa kecil mengingat pemikiran bodohnya barusan.

 

 

Sepertinya, ia terlalu dalam memikirkan semua masalah yang dihadapi Sungmin.

 

 

‘Cinta tak harus memiliki.’

 

 

Jika mendengar kata-kata itu, rasanya hampa dan tak berguna. Tetap saja, kita egois dan harus memiliki. Rasa sakit hati, lebih bertahan lama dan terus saja melukai tubuh kita meski lukanya tak terlihat sama sekali. Jika bahkan memiliki cinta pun, entahlah harus bersikap seperti apa.

 

 

Mungkin pemikiran Ryewook memang ada benarnya. Sungmin hanya ingin merasakan perasaan dicintai. Hanya cukup dia dicintai oleh orang yang baru dan dia akan melupakan perasaan mencintainya yang sudah cukup lama menyatu dengan Sungmin.

 

 

Ryewook melihat wajah sendu Sungmin yang tengah tertidur. Namja itu selalu lelah dan tertidur dengan cepat setelah melampiaskan semua perasaannya. Meski hanya diam dan berusaha menahan air mata yang tak mungkin untuk tak keluar, ia tetap merasa lelah.

 

 

Ryewook merapihkan makan malam yang telah ia siapkan untuk Sungmin. Ia bergegas meraih mantel dan tas ranselnya. Sudah waktunya untuk bekerja. Ryewook berjalan pelan hingga akhirnya dia sampai di platform untuk menunggu kereta yang akan ia naiki.

 

 

Dari wangi yang berada disekitarnya, Ryewook bisa merasakan jika ini wangi namja itu. Ia benci karena ia juga ikut merasakan sakit hati yang Sungmin rasakan. Ia benci saat melihat wajah angkuh yang seakan buta dan tak melihatnya, padahal mereka berdiri tepat bersisian.

 

 

Ryewook memilih menjauh, dan ia tersenyum lega saat menemukan seseorang yang tengah sibuk mengacak-acak tas ranselnya.

 

 

“Hyung…”

 

 

“Oh, Wookie baby…”

 

 

“Nde.” Ryewook meraih lengan namja itu dan bergelayut manja padanya. “Sungmin hyung tak berangkat malam ini. Kurasa, kita harus mencarikan perkerjaan lain untuknya. Menjadi penyanyi dicafe itu akan semakin menyakitinya.”

 

 

Ryewook mengangkat wajahnya dan menatap namja kesayangannya. Ia mencuri ciuman kecil di hidung namja itu. “Bisa bantu aku, Hyung.”

 

 

Heuh…. namja tampan itu tengah sibuk dengan pemikirannya lagi. “Yesung hyung…” Ryewook merengek manja.

 

 

“Aku sedang memikirkan kemana sebaiknya kita membuang Sungmin.”

 

 

Ryewook hanya berpout-ing ria saat mendengar kata-kata menyebalkan dari Yesung.

 

 

“Ish… bukan membuang. Hanya menjauhkan dia dari Kyuhyun. Aku tak mau terus-terusan melihat wajah sedih Sungmin Hyung. Cukup sudah untuk 3 tahun terakhir ini. Kurasa dia harus mencari seseorang yang bisa mencintainya dan mungkin Sungmin hyung akan belajar mencintai namja itu.”

 

 

“Bagaimana jika Sungmin memilih mengalihkan perhatiannya pada Yeoja?”

 

 

Sahutan pelan nan lirih itu benar-benar membuat Ryewook gemas. Dia mencubit pinggang Yesung dan kemudian segera berlari kedalam kereta yang kebetulan sudah berhenti tepat dibelakangnya. Ia membiarkan Yesung meringis kesakitan.

 

 

Mereka menghilang tepat setelah kereta itu pergi. Tak ada yang tersisa disana. Termasuk Kyuhyun, yang sedari tadi berdiri diam dan menggenggam kedua tangannya. Ia pun hilang bersama perginya kereta itu.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Ryewook sibuk membolak-balikkan tumpukkan kertas yang sangat membosankan baginya. Mengerjakan tugas sekolahnya di cafe dimana ia bekerja sepertinya percuma. Mengerjakan di rumah pun tak mungkin. Ia selalu teralih perhatian pada Sungmin.

 

 

Di cafe, dia pun tak bisa menghentikan rasa bencinya saat melihat seorang namja yang terlihat tampan dengan pakaian casualnya. Menekan tuts piano dan sesekali melayangkan senyumannya saat ia terhanyut oleh nada yang ia mainkan sendiri.

 

 

Tanpa sadar Ryewook menekan keras pensilnya hingga ujungnya patah.

 

 

“Sudahlah. Mau kau lihat sampai kedua bola matamu keluar-pun, dia akan tetap seperti itu. Sangat mengherankan,  Sungmin bisa menyukai namja yang bahkan tak bisa berbicara dengan baik dan benar seperti dia.”

 

 

Ryewook menghela nafasnya. Cafe sangat tenang sore itu hingga Yesung tak sibuk dan bisa mengganggunya. Yeah, mengganggu fantasinya dimana hanya tempat itu yang bisa menjadikan keinginannya nyata. Ia bisa mencabik-cabik Kyuhyun seenaknya.

 

 

“Hyung….”

 

 

Ryewook ikut menoleh saat mendengar suara orang yang ia yakini, adalah target selanjutnya dari semua rencana yang ia susun baik-baik.

 

 

“Ah…Minho-ah. Aigo!!! Kau semakin tampan saja.”

 

 

Minho hanya bisa tersipu malu. Dia masih seperi anak-anak, yang terkadang memang sangat menggemaskan. Meski pada kenyataannya, dialah pemilik cafe itu tapi dia tak pernah membandingkan apapun tentang perbedaan kekayaan dan usianya.

 

 

“Aku tak melihat Sungmin hyung.” Minho berbicara pelan sambil melihat kesekeliling. “Dia tak berangkat?”

 

 

Ryewook menggeleng pelan. “Dia sedikit tak bersemangat malam ini. Eum, Minho-yah…”

 

 

“Heum…”

 

 

Ryewook menatap Minho. Kedua mata mereka bertemu dan sukses membuat Minho salah tingkah, terlebih Ryewook bahkan tersenyum saat melihatnya. “Kau tahu, kau sangat tampan.”

 

 

“Hyung sangat berlebihan.”

 

 

“Kurasa, kau tak kalah tampan dari batu itu. Bagaimana jika kau menyatakan perasaanmu pada Sungmin hyung lagi.”

 

 

Minho terdiam. Raut wajahnya berubah. “Sungmin hyung…”

 

 

“Aku tahu, aku terlalu memaksakan kemauanku. Tapi aku mencintai Sungmin hyung. Melihatnya menangisi batu itu terus menerus membuatku bertambah kesal. Setidaknya jika denganmu, dia akan merasa lebih baik. Kurasa dia hanya butuh dicintai.”

 

 

Ryewook menatap kedalam kedua mata besar Minho. “Kau masih mencintainya bukan???”

 

 

Minho mengangguk pelan. “Tapi, Kyuhyun hyung…”

 

 

“Ish… dia bahkan bukan saudaramu. Aku benci kenapa kau mengalah pada hantu batu itu.”

 

 

“Tapi, dia anak appaku dan aku tak mau…”

 

 

“Sudahlah, kalau begitu.” Ryewook mengalihkan perhatiannya dari Minho dan kembali sibuk melihat tugasnya. “ Sebaiknya kau beralih saja jika sama sekali tak mau berusaha. Kau mengalah pada orang yang salah. Kyuhyun tak menyukai Sungmin. Aku tahu, dia hyungmu. Tapi kalian bahkan tak sedarah. Jika Ummamu tak menikah dengan si bodoh itu, aku sangat yakin jika Sungmin Hyung akan menyukaimu.”

 

 

Ryewook kembali menghentakkan genggaman tangannya ke meja. Dia sungguh gemas. “Kenapa kau masih sangat muda Minho-yah…Ish, aku benci Cho Kyuhyun.”

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Ini adalah hari yang lainnya. Hari yang sama seperti hari sebelumnya. Sekolah musik sama sekali tak menarik lagi baginya.  Cafe tempatnya bernyanyi pun, sama sekali tak bisa menghiburnya. Dia sama sekali tak bisa mengalihkan pikirannya pada hal lain. Meski ia bisa mendengar suara Minho, tapi kedua matanya selalu bisa menemukan sosok yang tengah duduk diam sambil melempar jagung kearah merpati yang ada dihadapannya.

 

 

Bagi Sungmin, pemandangan dihadapannya sangat indah. He is kind of another angel. Kyuhyun terlihat sangat sempurna, terlalu bersinar.

 

 

“Aku tahu, aku tak bisa mengalihkanmu.”

 

 

Minho berucap pelan dan sambil menepuk bahu Sungmin. Sungmin mau tak mau harus merasakan perasaan bersalah. Ia juga terluka tengah membuat Minho berada dalam posisi yang mungkin malah paling sakit diantara mereka.

 

 

Sungmin menyentuh kedua sisi pipi Minho. “Kau terlalu baik, Minho.”

 

 

“Tapi tak cukup baik untukmu.”

 

 

Sungmin membeku. Sungmin tahu, jika Minho mencintainya. Entah berapa kali namja itu menyatakan perasaannya. Semua orang pun tahu jika Minho bahkan seribu kali lebih baik dari Kyuhyun. Tapi, kenapa…

 

 

“Mianhe, Minho.”

 

“Bukan salahmu jika sama sekali tak menyukaiku. Tapi, aku bisa mencintaimu. Kita bisa, setidaknya jika kau mau mencoba. Jebalyo…”

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

“Hyung, bagaimana kencanmu?’

 

 

Ryewook bertanya dengan semangat penuh. Ia sendiri yang mengatur kencan Sungmin dengan Minho hari ini. Suasana romantis, sore yang cerah bersama dengan angin yang sejuk. Ditambah ice cream dan juga merpati yang selalu beterbangan di tengah taman.

 

 

“Bukankah sangat romantis, seperti di Paris. Jadi, bagaimana dengan Minho? Apa kau sudah… eum setidaknya berciuman dengannya?”

 

 

Sungmin hanya diam. Ia sama sekali tak bisa mencerna apapun yang dikatakan Ryewook. Dalam pikirannya hanya ada Kyuhyun ia sama sekali tak mengerti, kenapa di semua tempat ia harus selalu bertemu Kyuhyun.

 

 

“Wookie-ah…”

 

 

“Heum…”

 

 

“Disana juga ada Kyuhyun.”

 

 

“Mwoya!!! Bagaimana bisa?!” Ryewook berteriak kesal. “Bagaimana dia bisa ada disana? Dari semua taman, bagaimana bisa dia ada disana!!? Dasar penguntit!” Ryewook kesal, dia terlihat benar-benar sangat kesal dan marah. Ia sudah susah payah membujuk Minho, agar menyatakan perasaannya lagi pada Sungmin.

 

 

Sudah susah payah membujuk Sungmin untuk kencan (?) dengan Minho, dan akhirnya semua berakhir seperti ini lagi.

 

 

“Kenapa Kyuhyun seperti penguntit? Bahkan dia berhenti bekerja di cafe tanpa pemberitahuan apapun dan berapa hari kemudian aku melihatnya berada di toko roti tepat di depan florist yang baru kita buka. Sangat keterlaluan! Aku akan memarahinya terang-terangan. Lihat saja!”

 

 

Ryewook segera beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Sungmin.

 

 

Sungmin memang merasa sangat aneh. Saat dimana ia mulai menjaga jarak dari Kyuhyun, adalah saat yang sangat berat. Karena memang aneh, dia masih bisa menemukan Kyuhyun dimanapun meski dia sudah berpindah tempat kerja, berhenti dari sekolah musik dan bahkan saat ia mengantar bunga kesalah satu pesta pernikahan. Dia bisa menemukan Kyuhyun berada disana, baik dijalan maupun tengah duduk atau sekedar memotret.

 

 

Dan dari pintu kaca toko bunganya, ia bahkan bisa melihat Kyuhyun tengah tersenyum ramah pada seorang Halmeoni dan menghidangkan satu potong cake dan juga coffe latte yang memang terkenal sangat enak saat Kyuhyun yang membuatnya.

 

 

Tak ada satupun celah untuk keburukan yang dimiliki Kyuhyun.

 

 

Apapun yang ada didalam tubuh Kyuhyun, semuanya sempurna.

 

 

“And I was so in love with him….”

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Hari dimana Ryewook justru tidak berangkat untuk membantunya ditoko bunga adalah hari yang terberat bagi Sungmin. Pemilik cake shop, tempat dimana Kyuhyun bekerja memesan beberapa set bunga untuk menghias tokonya.

 

 

Sedikit berdebar. Sungmin tak pernah sedekat ini dengan Kyuhyun setelah beberapa bulan berlalu. Setelah ia memutuskan untuk berhenti menempel pada Kyuhyun dan memutuskan untuk merubah semua tingkah lakunya. Meski ia sendiri merasakan sesuatu yang asing, dia seperti bukan dirinya lagi.

 

 

“Ah… kau sudah datang. Kuharap kau tak sibuk, karena aku ingin kau mengatur semua bunga. Bisakah?”

 

 

Sungmin hanya mengangguk. Yeoja yang sudah berumur itu sangat manis. Seperti ummanya, dan Sungmin tak mungkin mengatakan tidak pada yeoja pemilik cake shop itu. Meski itu artinya dia akan berada disekeliling Kyuhyun. Namja itu tengah merapihkan meja yang baru saja ditinggalkan oleh sepasang kekasih.

 

 

Sungmin sesekali mencuri pandang untuk melihat Kyuhyun, dan semuanya masih sama dia masih saja berdebar dan bahkan sekarang terasa sedikit sakit. Sungmin tak mau lebih lama merasakan perasaan itu, dia bergegas merapihkan punga mawar putih di beberapa meja yang tersisa dan segera mengucapkan salam pada ahjumma pemilik cakeshop itu.

 

 

Sedikit berharap, Kyuhyun akan menyapanya. Tapi, sepertinya kenyataan tak berjalan seperti apa yang ia inginkan. Bahkan Kyuhyun tak melihatnya sekalipun.

 

 

‘He’s as cold as ice…’

 

 

.

 

 

.

 

 

“Hujan…”

 

 

Sungmin melihat kearah luar. Sore itu sangat sepi, karena hujan terus saja turun. Ia bahkan tak bisa pulang karena tak mungkin berjalan cukup jauh untuk sampai ke stasiun kereta di tengah hujan yang entah kapan akan berhenti.

 

 

Sungmin beranjak dari duduknya dan kemudian menutup jendela kaca tokonya. Mungkin ia akan menginap di toko saja. Setelah mengirim pesan pada Ryewook, ia membuat coklat panas dan kembali duduk diam. Ia menekan tombol play pada music player yang ada ditokonya dan ia mulai sedikit merasa tenang. Alunan piano yang terdengar pelan dan lembut cukup berhasil menghibur kesepiannya.

 

 

“Sangat tidak sopan kau selalu memainkannya.”

 

 

Sungmin hampir menjatuhkan gelas coklatnya saat ia mendengar suara bass yang benar-benar ia kenal. Meski hampir sangat jarang Kyuhyun berbicara padanya. Sungmin juga baru merasakan panas pada pahanya beberapa menit setelah ia sadar dari keterkejutannya.

 

 

“Apakah kau selalu seperti ini?”

 

 

Kyuhyun berucap pelan dan mendekati Sungmin. Sungmin tak bisa berkata apapun. Ia bahkan belum percaya pada penglihatannya, Kyuhyun berada dihadapannya, dan berbicara padanya.

 

 

“Aku tidak… aku tak sengaja menjatuhkan coklatnya. Uh… maaf. Tapi, kenapa kau ada disini?”

 

 

Kyuhyun hanya diam. Situasi seperti ini membuat Sungmin sedikit canggung. Meski sebelumnya dia selalu ceria didepan Kyuhyun, tapi entahlah. Sekarang ia merasa sangat takut dan canggung.

 

 

“Kenapa kau sangat senang bermain-main?”

 

 

“Hheuhhh…?”

 

 

Kyuhyun tak menyahut. Ia hanya memamerkan smirk yang entah sejak kapan tak ia keluarkan. Ia mendekati Sungmin dan memegang erat kedua sisi bahunya. “Bagaimana bisa kau selalu seperti ini padaku?”

 

 

“Aku tak melakukan apapun. Bukankah aku sudah menjauh? K-kau sepertinya tak…”

 

 

“Beraninya kau melakukan itu padaku?”

 

 

“Aku tak melakukan apapun, Kyu. Aku tak mengganggumu.”

 

 

Kyuhyun mendekatkan wajahnya pada Sungmin. Kedua mata foxy itu terlihat sangat cantik, dan alunan piano yang mengiringi mereka sepertinya seakan mengerti suasana hati Kyuhyun.

 

 

“Siapa yang mengijinkanmu untuk menjauhiku?”

 

 

“Tapi, Kyu kau…”

 

 

Sungmin diam.

 

 

Dia tak akan bisa bicara saat bibirnya merasakan kelembutan bibir Kyuhyun. Sesuatu yang hangat dan sangat memaksa, yang sanggup melemahkan kedua kaki Sungmin. Bahkan tubuhnya bergetar hebat.

 

 

“Jangan melakukan apapun tanpa seizinku. Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika kau milikku.”

 

 

“Kyu….”

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

“What!!!!” Ryewook berteriak histeris. “Beran-beraninya si evil batu menyebalkan itu mencuri ciuman dari bibir Sungmin hyung!” Ryewook menoleh tajam pada Yesung. Namja yang mungkin sama sekali tak bersalah dalam masalah ini.

 

 

“Ini karena kau, Hyung!!! Kau menahanku saat aku akan menjemput Sungmin hyung. Ish… kau sangat menyebalkan.”

 

 

“Kita sedang  di ronde 2 saat kau ingat Sungmin, bagaimana bisa aku membiarkanmu pergi saat aku sendiri membutuhkanmu.”

 

 

Ryewook ingin sekali memukuli namjanya yang selalu saja blak-blakan itu.

 

 

“Ish…Mianhe Sungmin hyung, aku tak bisa menjagamu. Aku berjanji, setelah ini aku akan selalu bersamamu. Mengantarmu dan mengikutimu kemanapun kau mau.”

 

 

“Yah!!! Aku namjachingumu. Jika kau terus menguntit Sungmin, kapan kau akan bermesraan denganku?”

 

 

“Ish… jangan kekanakkan hyung. Sungmin hyung lebih penting sekarang.” Ryewook bergegas merapihkan isi tas ranselnya dan kemudian bersiap. “Nah, sekarang kita berangkat ke florist. Ah… aku ingin mencium wangi bunga.”

 

 

Ryewook terhenti saat ia tak merasakan pergerakan Sungmin, padahal dia sudah menarik pergelangan tangan namja itu. “Wae Hyung??? Apakah ada yang terlupa?? Bukankah kau meninggalkan tasmu di toko.”

 

 

“Eum… Wookie-ah.”

 

 

“Heum?”

 

“Sebenarnya ranselku tak tertinggal di toko.”

 

 

“Eoh? Dimana hyung??? Jangan sampai hilang atau kita tak akan bisa mengantarkan bunga yang sudah di booking pembeli. Ish… aku tak punya salinan alamatnya hyung.”

 

 

“Wookie, tenanglah. Tasku tidak hilang.”

 

 

“Lalu?”

 

 

“Hanya tertinggal di suatu tempat.”

 

 

“Dimana?”

 

 

“Dirumah Kyuhyun.”

 

 

“Oh… ya sudah kita ambil saja.” Ryewook melenggang dengan santainya sambil menarik Sungmin untuk mengikutinya. Tapi selang beberapa detik, “What!!!!” Ryewook berbalik dengan sangat cepat dan menghadap tepat didepan wajah Sungmin. “Bagaimana bisa dirumah Kyuhyun!!!!”

 

 

“I-itu….”

 

 

“Sshhh…. baby Wookie-ah.” Yesung mencoba menghentikan tangan kurus  Wookie yang terus menggoncangkan tubuh Sungmin.

 

 

“Sudahlah. Lagian kemarin hujan deras, dan sangat pas untuk make out.”

 

 

“Yah!!!!” Ryewook berteriak kesal pada Yesung. “Ingatkan aku jika aku sedang marah denganmu Hyung.” Ryewook mendorong tubuh Yesung hingga namja itu menabrak pintu. Ryewook mengacuhkannya dan kembali sibuk pada Sungmin.

 

 

“Jangan katakan k-kalian make out.”

 

 

Meski dengan wajah memerah dan menunduk, tapi dengan jelas dia melihat Sungmin mengangguk.

 

 

“Yahhh!!! Bagaimana bisa? Ish… aku harus buat perhitungan dengan si evil batu jelek itu. Aku akan…”

 

 

“Akan apa?”

 

 

Ryewook menghentikan kata-katanya. Ia langsung memutar tubuhnya menghadap kepintu. Kemarahannya semakin menjadi saat melihat namja yang benar-benar ia benci tengah berdiri di pintu apartemennya.

 

“Aku akan membunuhmu evil batu jelek!!!”

 

 

“Coba saja kalau kau bisa.” Kyuhyun memamerkan smirknya. Dan tanpa basa-basi ia langsung menarik Sungmin kedalam pelukannya dan mencium lembut bibir namja itu tepat di depan wajah shock Ryewook.

 

 

“How dare you Cho Kyuhyun!!!! Dia hyungku!”

 

 

Kyuhyun memeluk erat pinggang Sungmin setelah ia menghentikan ciuman singkat mereka. ia menatap tajam pada Ryewook. “Kau tahu, aku tak  pernah berharap Sungmin berteman denganmu. Kau membuat semua usahaku sia-sia. Dan tingkahmu yang berani-beraninya menyuruh Minho  untuk terus menempel pada Sungmin benar-benar menggangguku. Jangan melakukan apapun pada Sungminku, atau aku akan melakukan hal yang lebih gila padamu.”

 

 

“Mwoya!!! Apa maksudmu evil Cho!!!!”

 

 

Sungmin menghela nafasnya. Ia mendorong Kyuhyun untuk keluar dari apartemennya. Dia merasa dia harus menjelaskan sesuatu terlebih dahulu pada Ryewook dan menyingkirkan kedua seme evil tak berguna itu diluar pintu.

 

 

“Katakan hyung!!! Bagaimana sebenarnya? Bagaiamana dia bisa melakukan hal itu dengan mudahnya dan bahkan setelah mengacuhkanmu selama beberapa tahun ini dan bagaimana bisa dia menciummu seperti itu? Bag….”

 

 

“Tenang Wookie-ah.”

 

 

“Bagaimana aku bisa tenang?”

 

 

“Dia hanya kesal dengan Minho.”

 

 

“Mwo!!!”

 

“Ya… hari dimana Minho mengatakan dia menyukaiku adalah hari dimana Kyuhyun akan menyatakan perasaannya padaku.”

 

 

“Mwoya!!!”

 

 

“Trust me, he loves me.”

 

 

Dan sungmin mencium pipi Ryewook setelah menepuk pipi tirus itu beberapa kali untuk menyadarkan namja manis itu dari keterkejutannya. “YAH!!! Dasar evil Cho!!!!”

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

END

 

.

 

 

.

 

 

Failed!!

 

 

Bahasanya anehhhhhhhhh….

 

.