The Miracle of 7 years of Love |KyuMin Ff|Sungmin’s birthday FF |OS

.

.

 

rainy hearT

.

~Proudly present~

 

.

 

.

 

The Miracle of 7 years of Love

.

 

.

 

.

 

“FIRST LOVE NEVER DIES…”

.

 

.

Cast :   – Cho Kyuhyun

          Lee Sungmin

        

Pairing: KYUMIN

 

Genre : Drama, romance.

 

Length : Oneshoot

 

Rated : T

 

Disclaimer : All the cast belongs to God.

 

Warning : YAOI / BL | Typo |EYD tidak sesuai dengan Kaidah Bahasa Indonesia.

.

.

.

Don’t Like Don’t Read

 

No Copas No Bash No Flame

.

FF ini sedikit berbeda. Ini merupakan POV Kyuhyun dan juga POV author. Soal setting waktu yang di gunakan, di pikirin sendiri yah…

.

.

.

.

 

Happy Birthday Lee Sungmin…

 

.

.

Rumahku terasa sangat sepi. Rumah besar dan aku hanya tinggal sendiri. Noona memilih sekolah asrama. Semua orang tahu, jika dia memang sangat bersahabat. Anak-anak di komplek perumahan kami tak banyak, mungkin dia merasa sendirian.

 

Appa dan Umma sibuk dengan pekerjaan mereka. Aku juga terkadang sibuk dengan mainanku, sekolah, game komputer… starcraft. Tapi, kali ini aku sedang merasa bosan. Liburan musim panas memang membuatku sibuk dengan PR yang banyak, dan semuanya sudah selesai. Eum… akan slesai. Hanya tinggal satu tugas.

 

Penelitian.

 

Kenapa Park Seonsangnim memberiku tugas untuk memelihara  hewan? Aku sama sekali tak berminat memelihara segumpalan bulu yang selalu berbuat semau mereka sendiri. Mengacak-acak rumah, sampai membuat Umma memotong uang jajanku hanya untuk membayar makanannya. Dia merepotkan.

 

Sangat menyebalkan saat dalam undian, aku diharuskan memelihara kelinci. Hewan itu menyebalkan. Wajahnya yang sok imut dengan telinga putihnya, dan juga giginya yang lucu. Ughh… baiklah, kelinci memang sangat lucu dan menggemaskan.

 

Memang apa yang harus aku lakukan dengan kelinci itu? Mengukur pertumbuhannya, berat badannya dan juga bulunya. Ugh.. lupakan tentang kelinci.

 

Hal  paling baik dari kelinci dan liburan musim panas adalah Lee Sungmin.

 

Dia menempati rumah baru yang tepat berada di sebelah rumahku. Rumahnya sama dengan rumahku dan hal baiknya, kamar kami berdekatan. Aku sering melihatnya lewat teropong milikku, tapi aku bukan stalker. Aku hanya heran, dia mirip kelinciku.

 

Kelinciku sangat aneh, karena bulunya putih, dan mungkin karena terlalu putih hingga saat kepanasan warna bulunya akan berubah menjadi pink. Memang hanya soft pink, tapi ini membuatku mengingat Sungmin.

 

Namja itu sangat cantik saat ia tersenyum dan bahkan saat senang menggoda Sungjin. Mereka bersaudara, dan jika saja Sungmin dan Sungjin berukuran sama (?) maka semua orang pasti akan berfikir sama denganku, Sungjin terlihat seperti Hyung dan Sungmin adalah adik kecil yang manis.

 

Sayangnya, Sungjin sedikit kurus.

 

Tapi bukan berarti Sungmin gemuk. Dia tidak gemuk, dia sama seperti kelinciku. Sangat menggemaskan. Ah …sudahlah. Kurasa Sungmin sudah menungguku. Kami harus merawat Sen. Nama kelinci kami.

 

Oh iya, aku dan dia satu kelas. Bukannya sombong, tapi aku jenius. Aku si pintar dan si tampan, Cho Kyuhyun.

 

“Kyuhyun-ah, ayo kita lihat Sen!!!”

.

.

.

Kami bersahabat sangat baik, Sungmin hyung (dia lebih tua 2 tahun dariku). Aku sadar, aku hanya namja muda, berusia 13 tahun. Mungkin sangat konyol saat aku ingin mengakui jika aku senang melihat Sungmin hyung. Aku tak tahu, mungkin ini hanya karena dia satu-satunya orang yang benar-benar bisa aku anggap sebagai teman.

 

Dia tak membedakanku atau menghinaku, tak mengagumiku hanya karena aku tampan dan pintar. Haha…. jangan katakan aku narsis, tapi kebanyakan teman namja dan juga yeoja hanya selalu memanfaatkanku.

 

Padahal aku pikir, aku bukan namja yang baik. Kurasa aku juga jahil dan jahat pada mereka. Oke, semua wajar jika mereka membalasku dengan terkadang memanfaatkanku-mereka mencontek PR ku-lalu membuatku bertanggung jawab atas kekacauan yang aku buat(?).

 

Tapi, tidak dengan Sungmin hyung. Dia melindungiku dan bahkan mengaku salah atas semua kejahilan dan juga kenakalanku. Bahkan Umma pernah sesekali menjewer telinga Sungmin hyung saat dia mengaku jika dia menggantung Sen di tali jemuran di belakang rumah. Padahal itu aku….

 

.

 

.

 

.

 

Tapi, semua yang dilakukan Sungmin hyung hanya membuatku bingung. Aku percaya, aku mengaguminya. Tapi, kenapa sepertinya semuanya berkembang selama beberapa tahun ini. Aku Cho Kyuhyun, 20 tahun…. dan aku mengakui, aku menyukai Sungmin hyung.

 

“Sungmin hyung…”

 

“Nde.”

 

“Saranghae…”

 

“Nde, nado saranghaeyo.”

 

Aku tak suka dia menjawabku dengan senyumannya itu. Bukan karena apa, tapi itu berarti dia hanya menganggapku sebagai anak kecil yang sedang bercanda dengan Hyungnya. Hell…! Aku 20 tahun, dan aku siap menentang arus untuk bisa bersama Sungmin hyung. Aku tahu, aku akan menjadi masalah baru untuk appa dan seluruh keluargaku.

 

Tapi, sama sekali…

 

Aku tak bisa mengalahkan perasaanku.

 

“Aku benar-benar menyukaimu hyung, aku sangat mencintai Sungmin Hyung. Semua yang ada dalam Sungmin hyung, aku suka.”

 

“Kyu….”

 

“Wajah lucu Sungmin hyung, wajah jelekmu, gigi anehmu, suara cempreng Sungmin hyung, dan aku bahkan menyukai hobimu tentang memasak pumpkin. Aku menyukai masakanmu meski terkadang rasanya agak aneh.”

 

Aku melihat reaksi Sungmin hyung, dan aku menjadi lebih kecewa.

 

Senyumnya tambah lebar dan bahkan berubah menjadi tawa pelan. Detik berikutnya, aku tahu dia memelukku. Sibuk menepuk punggungku seperti saat dulu. Hal sama yang dia lakukan saat aku berusia 15 tahun, saat Sen mati karena aku memberinya wortel beracun. Aku tak bisa membedakan mana yang organik mana yang bukan, harusnya aku memberikannya makanan yang biasanya.

 

Ah… sudahlah. Yang aku tahu sekarang aku sedang menangis. Aku tak yakin apa aku sedih karena mengingat Sen, tapi yang pasti hatiku terasa sakit.

 

“Kita tak bisa bersama Kyu, lagi pula kita namja. Jangan berfikir konyol dan aneh. Aku tak bisa menganggapmu serius, kita saling mengenal sejak 7 tahun yang lalu, dan aku menganggapmu sama seperti Sungjin, adik kecilku yang manis.”

.

.

.

Dia berjanji padaku, akan selalu menjadi temanku. Awalnya memang seperti itu, kami saling mengirim pesan, menanyakan kabar, dan sesekali bertemu.

 

Tapi setelah hari dimana aku mengatakan aku menyukainya, hari itu kami tak pernah bersama-sama lagi seperti sebelumnya. Dia selalu mengajak beberapa orang temannya saat kami berjanji bertemu, bahkan untuk main kerumahnya dan itu membuatku tak nyaman.

 

Dia bisa bersahabat baik dengan begitu banyak orang. Satu hal itulah yang sama sekali tak bisa aku lakukan dengan baik. Mungkin aku merasa iri akan hal itu. Kamarnya pun sudah pindah, aku tak bisa lagi melihatnya lewat teropongku.

 

Dan hari itu tiba. Setelah 3 tahun dia melakukan itu padaku, hari itu adalah puncaknya. Aku melihat dari kejauhan, banyak mobil besar yang sepertinya akan mengangkut seisi rumah Sungmin. Apakah dia begitu takut padaku sampa dia harus pindah dan menjauhiku???

 

Aku berlari menuju depan rumahnya. Aku menemukannya tengah berbincang dengan seorang namja. Saat itu aku baru menyadari, semua yang di pindah adalah barang-barang Sungmin. Aku tahu setiap detail barang kesayangan Sungmin dan juga seisi kamarnya.

 

Aku menepuk bahu Sungmin.

 

Aku hanya diam, tak ingin berkata apapun. Suaraku seperti hilang. Tapi, dengan seperti itu saja sudah cukup, Sungmin memang mengenalku dengan baik. Dia membawaku menjauh dari keramaian orang-orang yang yang ada didepan rumahnya.

 

Dia mengajakku ke samping rumahnya. Mendudukkanku di ayunan yang tepat berada di bawah pohon sakura yang kering.

 

Hari ini memang panas, dan sepertinya sama dengan perasaanku yang sama sekali tak berwarna, sangat kering dan menakutkan.

 

“I’m getting married.”

 

.

 

.

 

.

 

Saat itu juga aku tak pernah bertemu dengan Sungmin lagi. Aku tak tahu jika rasanya akan seperti ini. Saat itu aku hanya berharap, jika dia akan membalas perasaanku di hari terakhirnya. Tapi yang aku dengar bukanlah yang aku harapkan.

 

Aku juga tak punya keinginan untuk menanyakan apapun tentang Sungmin pada Sungjin ataupun keluarga Lee. Jika dia bisa pergi meninggalkan aku, aku juga bisa. Jika dia bisa mengalihkan kehidupannya dan menjalaninya sesuai dengan keegoisannya, aku juga bisa.

 

“Umma…”

 

“Heum?”

 

“Aku ingin mandiri.”

.

.

.

 

“Kyuhyun-ah!!!”

 

Kyuhyun merasakan tepukan yang cukup keras dibahunya. Ia ingin marah, tapi saat melihat namja yang menepuknya dia mengurungkan niatnya.

 

“Jangan menggangguku.”

 

“Kau saja yang selalu melamun. Kita kesini untuk liburan, Kyu. Bukan melihatmu seperti ini. Selalu melamun. Ah… apa kau ingin merubah nasib?”

 

“Maksudmu?”

 

“Yah…. kita baru saja lulus dari akademi, dan ada baiknya kau menguji kemampuanmu. Suaramu bagus Kyu, mungkin kau bisa jadi penyanyi.”

 

Kyuhyun tertawa. Baginya, sahabatnya itu memang terkadang berlebihan. Dia terlalu dan selalu sibuk memikirkan orang lain. Mungkin saja dia memang berbakat menjadi manager artis.

 

“Kau tahu Kyu…”

 

“Apa?”

 

“Aku melamar di SME.”

 

Kyuhyun terkejut. Ia menoleh tak percaya pada sahabatnya. “Kau ingin jadi artis?”

 

“Tidak. Suaraku jelek dan sama sekali tak bisa bernyanyi. Aku melamar menjadi manager atau mungkin asisten manager. Mungkin aku bisa bertemu dengan Boa. Hahhaa….”

 

Yang terdengar berikutnya hanya tawa keras sahabat Kyuhyun.

.

.

 

Perjalanan hidup terkadang tak begitu bersahabat dengan Kyuhyun. Ia berpisah dengan teman masa lalu dan lebih memilih berada di tempat yang jauh dimana tak banyak orang yang mengenalnya.

 

Hanya bekerja sebagai pelayan dan juga mengembangkan hobinya.  Photografi….

 

“Kyu…”

 

“Nde, Umma.”

 

Kyuhyun mendekat pada yeoja tua pemilik coffe shop tempatnya bekerja itu. Kyuhyun dengan sabar menunggu apa yang akan dikatakan oleh yeoja yang sudah berumur 60-an itu. Ia tak yakin, apa yang sebenarnya diinginkan oleh yeoja yang sudah ia anggap seperti umma-nya sendiri itu.

 

Kyuhyun menerima dengan setengah hati, selebaran yang diberikan padanya.

 

“Aku tahu, kau bisa menyanyi. Dan mungkin ini kesempatanmu.”

 

Kyuhyun menatap malas pada selebaran yang ada ditangannya. Ia mengangkat wajahnya saat ia merasakan usapan lembut yang membelai rambut ikalnya. “Aku juga pernah muda. Meski aku tak lagi bersama dengan suamiku tapi aku sangat mencintainya.”

 

Yeoja itu mencium pucuk kepala Kyuhyun. Ia menatap penuh cinta pada Kyuhyun. “Mungkin kau bukan anakku, tapi aku bisa merasakan apa yang selalu kau rasakan dan juga ketakutanmu. Jangan hanya melihatnya dari layar kaca, kau harus berusaha.”

 

“Umma…”

 

“Aku bukan buta. Aku tahu, kau pasti menyukainya. Mungkin aku tak tahu seperti apa perasaanmu, tapi aku rasa kau bukan hanya seorang fanboy dari boyband itu. Ikutilah audisi ini, dan aku yakin kau akan bahagia. Ah… jangan lupa, mainlah kesini setelah kau terkenal nanti. Aku akan mendukungmu, Kyu….”

 

“Aku tak ingin melakukannya.”

 

“Jangan memaksakan keinginanmu Kyu…”

 

Kyuhyun hanya diam dan membiarkan yeoja itu memeluknya. Ia tak mengerti kenapa seperti ini. Ia tak tahu harus bersikap seperti apa. Ia merasa takut dan juga merasa kalah. Tak mungkin ia bisa dibodohi hingga terjatuh seperti ini. ‘Tapi rasanya masih sangat sakit. Kenapa membohongiku?’

 

.

 

.

 

Life couldn’t get better

 

Nan nol pume ango nara

 

Purun darul hyanghe nara

 

Jamdun noui ib machul koya

 

Life couldn’t get better

 

Noui mame munul yoro jwo

 

Gude ne sonul jabayo

 

Life couldn’t get better

 

Kyuhyun melihat MV itu berulang kali, dan bahkan ia sesekali berhenti saat Umma di cafe dengan sengaja membuat Kyuhyun melihat acara musik yang menghadirkan boyband itu. Ia bisa melihat jika umma memang benar-benar serius dengan keinginannya.

 

Kyuhyun berhenti dan duduk di counter di belakang mesin coffe maker. Ia menatap umma dengan wajah tak percayanya. Kyuhyun tak habis pikir, apa sebenarnya yang dipikirkan yeoja tua itu. Dia seperti sengaja membuat Kyuhyun benar-benar tak menyukai apa yang di lakukan yeoja itu. Terus menggoda Kyuhyun.

 

“Jadi bagaimana Kyu…”

 

Kyuhyun menghela nafasnya. “Terserah kau saja.”

 

Terdengar tawa ringan dari yeoja tua yang kemudian malah memperbesar volume dari MV yang sedang ia putar di salah satu TV yang ada di Coffe Shop itu.

.

.

.

.

Kyuhyun tak menyangka jika langkahnya semudah ini. Ia hampir tak percaya dengan kemampuan dan keberuntungannya. Sangat mudah melewati audisi dan bahkan ia tak perlu melalui proses training yang lama seperti yang lainnya.

 

Hari ini, hanya 3 bulan pertama… dan ia sekarang sudah berada didepan pintu dorm yang nantinya akan menjadi tempat tinggalnya. Kyuhyun tak tahu, apakah ia harus merasa senang atau sedih. Ia tak ingin membayangkannya terlebih dahulu, ia terlalu takut.

 

Kyuhyun tak pernah berharap jika dia akan bersama dengannya saat pertama ia menginjakkan kakinya di gedung mewah SME. Ia tak pernah memaksakan takdirnya untuk bisa bertemu dengannya lagi. Ia hanya menjalani semuanya dengan sangat baik.

 

Kyuhyun menghirup nafasnya dalam-dalam. Ia perlu memberanikan diri untuk menghadapi kenyataan dimana takdir menelantarkannya didepan pintu dorm ini. Dengan tangan gemetar, dia mencoba menekan bel pintu apartemen itu.

 

“Eoh… kenapa kau belum masuk. Bukankah aku sudah menyuruhmu masuk dari tadi?”

 

Seorang namja yang setahu Kyuhyun adalah manager dari boyband itu menegur Kyuhyun. Tanpa bisa Kyuhyun cegah, namja itu membuka pintu dorm dan menyeretnya masuk.

 

“Yeorobun!!!!!”

 

“Ne… prince manager.”

 

“YAK!!! Hentikan panggilan konyol itu.”

 

Kyuhyun mengikuti langkah manager yang membawanya memasuki ruangan yang cukup luas. Beberapa namja keluar dari kamarnya. Kyuhyun bisa bernafas lega, karena sepengetahuannya, boyband itu terpisah dalam 2 ruang yang berbeda lantai. Setidaknya dia tak harus satu tempat dengannya.

 

“Ini anggota ke tiga belas kita Hyung?”

 

“Nde.” Manager hyung mendorong Kyuhyun kedepan. Tubuhnya sedikit limbung karena Kyuhyun memang sama sekali tak bisa berkonsentrasi saat ini. Ia tengah berusaha mengatur detak jantungnya. Ia melihat namja yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.

 

“Mianhe, aku telat. Aku harus memberi makan Sen terlebih dahulu.”

 

Kyuhyun merasa semakin canggung dan takut saat mereka saling bertatapan. Ia tak bisa sembunyi lagi saat ini. Sangat memalukan memang, ketika kau menguntiti orang yang sama dan tak pernah bisa benar-benar melupakan masalalu-mu.

 

Kyuhyun merasakan kecanggungan itu. Lidahnya kelu dan seluruh keberaniannya luruh. Bukan hanya karena pandangan tak suka dari member yang lain. Tapi pandangan kosong dari Sungmin.

 

“Nah, karena Kyuhyun belum mempunyai kamar, aku harap ada yang mau berbagi dengannya. Aku pergi dulu. Jangan lupa, jaga dia.” Kyuhyun hampir pingsan saat ia tahu jika ia akan ditinggalkan. “Dia maknae kalian.”

 

“MAKNAE!!!”

.

.

Kyuhyun menunduk menyembunyikan wajahnya. Ia sudah berusaha sekuat tenaganya, tapi tetap saja gagal dan tak bisa melakukan apapapun. Beberapa member hanya diam dan mengacuhkannya.

 

Ia tak bohong saat ia mengatakan ia sangat lelah. Dan meski itu terucap hanya dalam hatinya. Kyuhyun takut, karena dia seperti pengganggu. Ia tengah menunggu kepastian yang mungkin sebentar lagi akan diberitahukan oleh Leader jika dia pulang nanti.

 

“Kau akan membuang salah satu dari kami.”

 

“Aku tak percaya kau butuh 3 bulan untuk training, dan aku tahunan. Apa yang kau lakukan sampai kau bisa debut semudah ini?”

 

“Kau membayar berapa pada mereka?”

 

“Siapa kau sebenarnya?”

 

Kyuhyun hanya diam. Ia tak ingin menjawabnya. Dalam sudut hatinya, ia merasa senang karena ia sama sekali tak mendengar suara dari seseorang yang saat ini menjadi kunci dari semua yang ia lakukan, hingga ia berani melakukan hal seperti ini.

 

Pintu dorm terbuka, dan Leader masuk dengan wajah sumringah dan bahagianya. “Dia tak akan menggeser siapapun. Kita juga tak akan kehilangan siapapun di grup kita. Semuanya seperti biasa. Anggap saja Kyuhyun adalah pelengkap kita.”

 

Kyuhyun merasakan rangkulan hangat di bahunya. “Sebaiknya kau istirahat karena besok kau harus mulai menyesuaikan diri dengan jadwal dan kesibukan kami.”

 

Kyuhyun tersenyum saat merasakan pelukan dari seorang leader dari boyband yang selama ini hanya bisa ia lihat di TV. Tapi setelah Leader itu pergi, beberapa member yang lain juga ikut pergi dan mengikutinya naik ke dorm yang lain. Sedangkan teman satu dorm Kyuhyun kembali mengacuhkannya. Mungkin mereka masih tidak terima dan marah.

 

“Aku akan tidur dalam tenda saja. Kalian tak usah memikirkan aku.” Kyuhyun berbicara pelan. Ia tak yakin ada yang mendengarnya atau tidak. Yang penting, hari ini ia tak merepotkan siapapun. Ia tak ingin membuat semua hyung-nya bertengkar dan saling menyalahkan karena tak ada satupun dari mereka yang mau berbagi kasur mereka dengan Kyuhyun.

 

Kyuhyun mencoba mendirikan tenda yang ia temukan di depan rak sepatu dorm. Ia rasa ia tak perlu meminta izin untuk memakainya, toh tak ada yang memperdulikannya.

 

Kyuhyun mengambil tempat tepat didepan pintu geser yang ada di salah satu ruangan kosong dekat balkon. Dengan sedikit menggeser beberapa benda berserakan dan juga tanaman yang ada disana, dia mendapatkan tempat yang cukup untuk tendanya.

 

Kyuhyun merasa sedih, karena sepertinya Sungmin enggan melihatnya. Ia takut, semua usahanya akan sia-sia.

 

Kyuhyun mencoba berbaring dan memejamkan matanya. Tubuhnya terasa lelah dan juga sakit. Tapi hatinya lebih sakit saat ia mengingat raut wajah Sungmin. Ia teringat ucapan Sungmin.

 

“Sen…”

 

Sungmin memiliki binatang peliharaan yang diberi nama Sen. Itu mengingatkan tentang kelinci mereka. Kyuhyun semakin tersenyum saat ia sadar satu kenyataan. Mungkin Sungmin dulu memang berbohong saat ia mengatakan jika dia akan menikah.

 

Kyuhyun juga merasa sangat bodoh dan egois karena dia tak pernah mencoba mencari tahu apa sebenarnya yang direncanakan Sungmin.

 

“Kyu…”

 

Kyuhyun terlonjak kaget saat mendengar panggilan itu. Antara yakin dan tidak, ia membuka zipper tendanya. “Sungmin hyung…”

 

“Apa yang kau lakukan disini?”

 

“Aku…”

 

Kyuhyun tak bisa berucap hal lain lagi. Ia menunduk dan melihat jika Sungmin membawakan selimut dan juga bantal untuknya.

 

“Ini untukmu. Aku meminta maaf atas nama member lain. Mungkin dengan sedikit penjelasan kau bisa membuat mereka tak marah padamu lagi.”

 

Dengan sedikit tergesa-gesa Sungmin meletakkan bantal dan selimut itu didepan Kyuhyun. Ia segera berdiri dan hendak meninggalkan Kyuhyun.

 

“Apakah Sen juga seekor kelinci???”

 

Kyuhyun bisa mendengar Sungmin tertawa saat mendengar pertanyaan bodoh Kyuhyun.

 

“Bukan, dia seekor kucing.”

 

Beberapa menit kemudian terdengar tawa lirih mereka berdua. Kyuhyun keluar dari dalam tendanya dan ia berdiri mendekati Sungmin. “Kenapa berbohong padaku Hyung?”

 

“Masalah apa?”

 

“Jangan berpura-pura lupa dan menghindar Hyung.”

 

Sungmin terdiam dan menunduk. “Sudahlah, kita harus tidur.”

 

“Apa kau tak ingin memelukku?”

 

“Kyu, ini sudah malam dan besok kau harus mulai__”

 

“Aku merindukanmu hyung…”

 

“Pabbo….”

 

Sungmin diam dan menunduk. Ia membiarkan Kyuhyun meraih tubuhnya dan memeluknya erat. Sungmin menangis pelan. Kyuhyun melepaskan pelukannya dan kemudian ia menghapus air mata Sungmin.

 

“Pabbo…”

 

“Aku tidak bodoh Hyung, nyatanya aku hanya butuh 3 bulan training.”

 

Sungmin tertawa mendengar perkataan Kyuhyun. Sungmin menggeleng pelan dan kemudian kembali memeluk Kyuhyun dengan erat. “Aku sudah berusaha melarikan diri, kenapa kau masih bisa menemukanku?”

 

“My love would always find you….”

 

“Dasar perayu…”

 

“Aku bukan perayu, aku tak pernah berbohong apalagi padamu Hyung.”

 

Kyuhyun mengusap lembut rambut blonde Sungmin. Ia menciuminya berulang kali. “Kalau begitu, apa sekarang kau akan mengijinkanku menjadi temanmu lagi.”

 

“Tentu saja tidak, pabbo.”

 

Kyuhyun segera melepaskan pelukannya. Ia memasang wajah marahnya didepan Sungmin. “Kenapa begitu? Jika kau tak bisa membalas perasaanku, maka kita harus berteman. Dan kali ini jangan perlakukan aku seperti dulu.”

 

“Kita lihat saja nanti….”

.

.

.

.

.

“Jangan membuatku takut Kyu…”

 

“Kenapa?”

 

“Kau membuatku takut. Kenapa memaksakan diri seperti itu? Harusnya aku jadi melakukan protes pada managemen. Mereka terlalu memaksakan semua dan membuatmu bekerja keras. Kau tahu, semua orang khawatir dengan keadaanmu. Fans dan juga yang lain. Kuharap jika sakit, kau tak akan memaksakan diri lagi.”

 

Kyuhyun hanya tersenyum. dan kemudian dia hanya melempar senyuman nakalnya pada Sungmin. Ia menangkap tangan Sungmin dan mencium punggung tangannya. “Aku tak berharap kau masih mengomel padaku saat aku sakit seperti ini. Aku baru saja sadar dari pingsanku dan aku sama sekali tak ingin mendengarmu mengomel, Ming. Setidaknya katakan satu hal yang bisa membuatku senang.”

 

Sungmin tersenyum dan ia kemudian mendekatkan wajahnya pada Kyuhyun. “I love you…”

 

Dan kemudian, Sungmin mencium Kyuhyun. Ciuman yang cukup lama, hingga mereka hampir lupa waktu.

 

“Yah!!! Aku harap hentikan kegiatan saling memakan kalian itu! Kita harus segera ganti baju dan melakukan persiapan. Ayo kerja!!!!“

 

“Heenim-ah… biarkan saja dulu.”

 

“Tidak bisa begitu Zhoumi!!!! Mereka sudah menghabiskan banyak waktu hanya untuk berciuman dan saling memakan seperti itu.”

 

Tak terdengar sahutan apapun dari dalam kamar Sungmin. Hanya suara tawa yang sangat keras hingga membuat Heechul semakin marah.

“Menyebalkan!!”

.

.

END

.

.

                   Happy birthday Sungmin Oppa!!!!Saranghaeo!                 

Keep calm and ship KyuMin

Ps: Based on 7 years of love and Miracle….

.

 

.

Iklan

Kiss Yo…|KyuMin|OS |YAOi

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Beberapa orang mengatakan, jika kau sedang marah maka wajahmu akan semakin menggemaskan.

 

Marah pun, kau terlihat seperti anak kecil yang tengah merajuk.

 

 

Eum… apakah bisa aku rayu dengan sesuatu yang disukai anak-anak?

 

 

“Kau mau ice cream? Atau coklat?”

 

 

Hanya menggeleng. Oh… baiklah..

 

 

.

 

 

See…

 

 

Jika kau anggap dia benar-benar seperti anak kecil, yeah.. benar-benar seperti yang

 

kau bayangkan termasuk segala tingkah lakunya, jawabnya adalah salah besar. Dia

 

bahkan tak mempan dirayu oleh strawberry ataupun pumpkin kesukaannya.

 

 

“Hyung, aku benar-benar tak tahu kenapa kau marah?”

 

 

Dan dia pergi meninggalkan aku. Ah… apalagi ini?

 

 

Aku mencoba menguntitnya (?) lagi. Mengekorinya kemanapun dia berjalan. Meski hanya

 

disekitar dorm saja. Aku jujur… aku tak tahu kenapa dia marah?

 

 

“Aku tak berselingkuh hyung?”

 

 

Dia  berhenti berjalan dan kemudian menoleh dan menatapku. Aku hanya bisa tersenyum

 

aneh dan sungguh, wajah imut itu kali ini terlihat menakutkan. “Ah… ahniya.

 

Maksudku, kupikir jika kau mengira aku selingkuh maka aku tidak hyung. Ayolah,

 

kenapa kau marah?”

 

 

“Heuh… sama sekali, kau benar-benar menyebalkan.”

 

 

Dan dia kembali meninggalkanku, masuk kedalam kamarnya dan__

 

 

.

 

 

Jdukkk…!!!

 

 

“Awww…. Uhh… neomu appo.”

 

 

Dahiku sukses mencium pintu yang ditutup kasar oleh Sungmin hyung. Anyways…. Ada yang

 

tahu, apa kesalahanku?

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

rainy hearT

 

 

.

 

 

~Proudly present~

 

 

.

 

 

.

 

 

Kiss Yo…

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

“If you are not telling me, how will I know?”

 

 

 

Cinta itu seperti ice cream, yang lama kelamaan

 

mungkin akan bisa meleleh dan benar-benar tak enak. Tapi bukankah kita bisa

 

menyimpannya di lemari pendingin?

 

 

 

Cinta sama seperti itu, jika dimakan terlalu

 

cepat juga tidak bisa benar-benar dirasakan dan dinikmati. Jika terlalu lama,

 

maka akan bosan dan meleleh.

 

 

 

Lalu, apa hubungannya dengan lemari pendingin?

 

 

 

It was about your heart…

 

 

 

Cinta butuh pemikiran yang dingin, butuh hati

 

yang super sabar dan pengertian.

 

 

 

Yeah, I guess so…

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Cast :  – Cho Kyuhyun

 

          Lee Sungmin a.k.a Cho Sungmin

 

 

Pairing: KyuMin

 

 

Genre : Drama, romance, fluff

 

 

Length : ONEshoot

 

 

Rated : T

 

 

Disclaimer : KyuMin saling memiliki, Kyu Milik Sungmin, dan Sungmin milik Kyu.

 

 

Warning : YAOI / BL, GaJe, Typo(s), etc

 

 

.

 

 

.

 

 

Aku lagi suka banget lagu kiss yo… dan entahlah, kepikiran alur ccerita ini. Semoga

 

ga bikin bosen deh… ^__^

 

.

 

 

Don’t Like Don’t Read

 

 

No Copas No Bash No Flame

 

 

.

 

 

— Happy Reading —

 

 

.

 

 

 

 

.

 

 

Cho Kyuhyun POV

 

 

 .

 

 

.

 

 

Aku rasa aku sama sekali tak melakukan kesalahan apapun. Aku bekerja dengan baik dan bahkan kami sedikit membagi rahasia kami ke salah satu KMS –I guess-  beberapa hari kemarin. Dan dia benar-benar terlihat senang saat itu, bahkan sangat cantik.

 

 

Ah… dan aku juga sempat menyuruhnya mendekat padaku saat di stage. Dan setelah semuanya selesai, dia tak protes apapun tentang perhatianku. Lalu apa yang salah? Aku tak melakukan kesalahan apapun.

 

 

“Hyung… jika kau tak mau bicara maka aku tak tahu apa salahku?”

 

 

Aku kembali merayapi pintu sambil sesekali masih mengetuknya. Benar-benar kasihan. Ck… seharusnya libur begini kami bisa menghabiskan waktu berdua. Tapi, kenapa dia malah marah padaku.

 

 

“Hyung, harusnya kita bisa jalan-jalan hyung? Ayolah hyung, kenapa diam begini?? Apanya yang salah?”

 

 

Aish… lagi-lagi tak ada jawaban.Baiklah, mungkin dia terlalu sering ke Jepang hingga Jepang tak lagi menarik. Tapi, jika jalan – jalan bersamaku bukankah belum pernah. “Kita bisa menyamar

 

dan pergi ke tempat yang kau mau. Onegai …”

 

 

.

 

 

Tuk… tuk… tuk…

 

 

.

 

 

Aku menempelkan punggungku ke pintu, dan kemudian mengetuk malas dengan menggunakan kukuku. Tak mungkin aku ribut pagi-pagi, bisa-bisa aku menjadi sasaran kemarahan Kangin hyung. Heuh… beruang itu masih tidur.

 

 

“Atau kau mau nonton hyung? Kita bisa ke bioskop dan nonton disana. Kita bisa minta kursi di sudut depan atau belakang yang tak terlihat orang. Kita bisa nonton film romantis atau apalah.”

 

 

Hening….

 

 

“Ck… hyung!!! Ayolah, jangan diam saja.”

 

 

Lagi-lagi tak ada jawaban.

 

 

Heuh… baiklah, dia benar – benar marah padaku.

 

 

“Hyung, ck… jika kau tak menjawab, ataupun membuka pintu maka aku sendiri yang akan mendobraknya.”

 

 

“….”

 

 

“Hyung????”

 

 

Sama sekali tak ada suara. Ada apa dengannya?

 

 

Arraseo!!!

 

 

Aku kembali menyandarkan tubuhku pada pintu. Tanganku memainkan kenopnya dan, “Eh… tidak dikunci?”

 

 

Ah… paboya Cho Kyuhyun.

 

 

Aku mengintip ke dalam. Sama sekali tak terlihat dimana namjaku – bunnyku yang tengah merajuk -itu. Perlahan aku memasuki kamarnya dan…

 

 

 

“Ouh…. Kau tertidur…”

 

 

Dia sudah menggulung tubuhnya dengan selimut. Aku tahu, ini terlalu pagi dan dia belum sepenuhnya beristirahat. Mungkin masih mengantuk.

 

 

Aku naik ke kasurnya, berbagi seperti yang biasanya kami lakukan selama di Jepang -pengecualian untuk tadi malam karena dia marah dan tak mau bicara padaku hingga dia lebih memilih tidur

 

di sofa-

 

 

 

Wajahnya lelah sekali, sepertinya dia benar-benar terganggu dengan masalah kami. Aku sendiri tak tahu apa salahku dan dia sama sekali tak memberitahukannya. Aishh… apanya yang salah.

 

 

Aku mengulurkan tanganku untuk mengusap pipi chubbynya, dan memastikan suhu tubuhnya normal. Setidaknya, dia marah padaku bukan karena dia sedang sakit dan menjadi badmood.  Tapi, suhu tubuhnya normal dan apakah dia benar-benar kelelahan?

 

 

Dia tak terganggu sama sekali dengan apa yang aku lakukan tadi.

 

 

Ah… aku semakin ingin menggodanya. Aku mengulurkan jariku dan kemudian mengurutkan hidung mungilnya. Hidungnya cantik sekali, dan bibirnya…

 

 

Ah… I wanna kiss you~

 

 

Aku mengusap bibirnya lembut, dan jujur aku benar-benar ingin menciumnya. Dan entah kapan, tapi beberapa detik kemudian aku sadar dia sudah membuka matanya. Mata foxy yang menatap kosong

 

padaku.

 

 

Jujur aku serba salah, dan rasanya sangat canggung. Sungmin hyung hampir tak pernah menatapku seperti ini. Ini terlihat seperti dia marah dan putus asa.

 

 

“Hei…”

 

 

Aku memanggilnya dan dia menyahut dengan suara yang sangat rendah dan bahkan hampir tak terdengar.

 

 

“Kau kenapa hyung?”

 

 

Dia hanya menggeleng lemah dan kemudian berusaha mendudukkan tubuhnya dan bersandar pada headbed. Terlihat wajahnya yang sangat lesu.

 

 

Aku menatap kedua matanya dan kemudian mengangkat dagunya. “Katakan padaku, apa kau sakit?” Dia hanya menggeleng cepat sambil memainkan bibirnya.

 

 

Eoh…. Hontoni kawaii !!!

 

 

 

“Heung… wanna hug me?”

 

 

 

 

Dia hanya diam. Ah… baiklah, uri cute bunny need some hug from his lovers.

 

 

“Come… let me hug you.”

 

 

Dia tak bergerak barang sedikitpun. Aish… benar-benar menjaga harga dirinya. Ya baiklah, aku yang

 

mengalah. Aku mengulurkan kedua tanganku dan menariknya untuk mendekat kearahku.  Mendudukkannya di hadapanku dan memeluknya dengan erat.

 

 

Heum… meski belum mandi pun, pagi ini dia sudah wangi.

 

 

 

 

“Jadi, apa yang kau pikirkan tentangku. Sampai kau memilih tidur disofa dan marah saat akan ku pindah. Kita tak sedang bertengkar ‘kan? Dan lagi pula, kurasa aku tak berbuat aneh-aneh.”

 

 

Dia mengangguk kecil.

 

 

Sungmin hyung terdiam hening sejenak hingga kemudian dia sedikit berdiri dan sampai wajahnya sedikit lebih tinggi dari aku. Kemudian kembali mengeratkan pelukkannya di leherku.

 

 

“Tell me…”

 

 

Untuk beberapa saat kemudian dia diam, hingga akhirnya dia melepaskan pelukannya dan menatapku. “Kyunie…”

 

 

“Nde, bunny?”

 

 

“Ish…”

 

 

“Ahhh… ayolah, hanya memanggilmu seperti itu. Ck… bukankah kau bunnyku yang cantik?” Dia mem-pout-kan bibirnya, membuatku mencuri quick morning kiss-nya pagi ini. “Kawaii!!!” aku mencubit kecil pipinya. Dia hanya tersenyum kecil dan memukul bahuku.

 

 

Kurasa mood-nya kali ini sudah sedikit membaik. “So, ada apa?”

 

 

Sungmin hyung hanya menggeleng. Dia kemudian menjatuhkan bokong seksinya di pangkuanku. Ah… jujur, it’s so iritating me.

 

 

Merasakan butt-nya tepat di kakiku, membuatku sudah berpikiran yang aneh-aneh. Ah… ahni, Sungmin hyung akan menolaknya. Morning sex… untuk saat ini mungkin tidak, Sungmin hyung belum sepenuhnya membaik.

 

 

 “Kyunie…”

 

 

“Ah… nde, wae?”

 

 

“Mungkin, ini hanya karena aku saja yang terlalu memikirkannya. Mianhe…”

 

 

“Untuk?”

 

 

“Yeah, karena marah padamu.” Dia kemudian menarik kedua lenganku dan memainkan jariku menggunakan jemarinya. “Aku hanya terlalu serius memikirkanya. Aku sampai marah padamu, padahal mungkin saja saat itu kau sedang tak begitu__” Ucapan Sungmin terhenti. “Begitu…???? Begitu apa?”

 

 

“Ah… sudahlah, tidak jadi. Aku mau tidur lagi saja.” Dia menggeleng cepat dan kemudian segera beranjak, tapi jangan harap dia bisa lepas begitu saja tanpa menyelesaikan masalah ini.

 

 

“Hei…tunggu sebentar.” Aku kembali menariknya dan mendudukkannya di kakiku. Membuatnya sedikit miring menghadapku dan aku bisa melihat wajahnya memerah. “Aigo… siapa yang membuatmu seperti ini, eoh??? Kenapa wajahmu seperti yeoja yang tengah malu-malu begitu.”

 

 

“Ish…” Dia memasang wajah sebalnya. “It’s not like that. Ah… sudahlah, aku mau tidur saja. Dari semalam aku tak bisa tidur.”

 

 

“Itu kan salahmu karena kau menghindariku.”

 

 

“Aku hanya sedikit kesal padamu, kau benar-benar menyebalkan.”

 

 

Aku menatapnya, dan bisa kulihat dia benar-benar tengah tersipu malu. Ah…. Neoumu yeppeo. “Ya… siapa yang tengah malu sekarang? Hyung, wajahmu semakin memerah. Kurasa kau tak sakit, jadi kau

 

pasti merasa malu padaku. Ah… biar kutebak, apa kau merindukanku?”

 

 

“Ahniya. Ck… sudahlah.”

 

 

Dan wajahnya makin memerah, sampai ke telinganya. Aku yakin, pasti dia hanya merasa bahwa dirinya sangat konyol dan memalukan

 

 

“Benarkah?” Aku menggodanya, dan jangan salahkan pikiran mesumku jika mulai bekerja dan mempengaruhi semua fungsi tubuhku. Entah mengapa, pikiranku langsung mengarah ke hal yang

 

‘iya-iya’ itu.

 

 

Kemudian aku mengangkat dagunya dan mendekatkan wajah kami. “Eum… jika aku ingat, terakhir kali kita melakukan itu adalah eum… kapan yah? Pokoknya kita sudah sedikit lama tak melakukan itu,

 

bahkan aku saja sampai lupa. Dan biar kutebak, kau marah karena kita lama tak

 

mel…aawwww… kenapa mencubitku?”

 

 

Dia mencubit pahaku. Meski cubitan kecil tapi tetap saja sakit. Dia menyilangkan kedua tangannya tepat di dadanya dan benar-benar berpose seperti orang yang tengah merajuk. Ah… aku

 

semakin ingin menggodanya.

 

 

“Hehehe… jangan katakan, kau menginginkannya?”

 

 

“Mwo???”

 

 

Kedua mata foxynya melebar. Ah… aku semakin yakin. “Yeah, kita lama tak bermain dan aku yakin kau pasti menginginkannya dan oh… aku baru ingat.”

 

 

“A-ahnieyo. Aku tidak marah. Ck… kau ini mesum sekali.”

 

 

Ah… iya, aku baru ingat sekarang.

 

Aku menepuk dahiku dan kemudian menatap nakal padanya. “Apa kau marah karena

 

saat itu?”

 

 

“….”

 

 

Wajahnya semakin memerah, dan dia mulai bergerak gusar. Baiklah, mungkin kali ini aku benar. “Karena waktu kita berciuman beberapa hari yang lalu, aku tak benar-benar menikmatinya, yeah… karena aku sedikit merasa flu dan kau langsung mendorongku dan pergi. Benar ‘kan?”

 

 

“Eum…???”

 

 

“Hei… tak usah mengelak, aku sudah tahu. Bukankah benar? Dan lagi kita juga sudah lama tak melakukan itu, makanya kau marah karena kau sangat merindukan namjamu yang tampan ini.”

 

 

“A-ahnieyo, eumh.. . i-itu hanya kebetulan saja. Aku bukan marah karena itu. Ck… sudahlah, aku semakin kesal nanti. Biarkan aku tidur saja.”

 

 

Dia hendak beranjak lagi, tapi kali ini aku memilih untuk mengikat pinggangnya erat dan kemudian menjatuhkan tubuh kami berdua. Ah… aku bisa merasakan debaran jantungnya yang cepat, aku

 

pastikan dia gugup dan takut karena ketahuan.

 

 

“Kau berdebar hyung, berarti aku benar.”

 

 

“A-ahniya. Ck… sudahlah, kita tidmmmhhh…”

 

 

Kalian tahu, aku sangat lega saat berhasil menciumnya.

 

 

Aku memanjakannya dan memainkan lidahku. Mencampur saliva kami hingga membuat basah di sekitar pipi dan lehernya. Menghisap dan menggigit bibirnya. Ah… sangat manis. Meremas rambut

 

hitamnya dan semakin menekan tubuhnya. Ah… dia hangat sekali.

 

 

“MMhhh… Kyunie…” Dia mendorongku dan melepaskan ciuman kami. Ouh… aku benar-benar tergoda wajahnya. Aku menurunkan ciumanku dan kali ini aku memanjakan lehernya. Hanya

 

mengendusnya dan meniupkan udara hangat di lehernya.

 

 

“Nngghh … Kyunie, aku tidak… ah…. Hentikan. Jangan digigit, awww… Kyu!!”

 

 

Aku langsung mengangkat wajahku dan menatapnya. Aku memberikan senyuman evil terbaikku. “So, apakah kau mau mengaku?”

 

 

Kulihat nafasnya masih tak karuan.

 

 

“Hei, apakah aku sehebat itu sampai kau terlihat sangat kelelahan?” Aku tersenyum evil padanya dan memainkan alisku. “Atau kau yang benar-benar ingin?”

 

 

“Ahnieyo, aku…”

 

 

OK… baiklah.

 

 

Aku beranjak dari posisiku dan kemudian berjalan menuju ke pintu kamar.

 

 

“Kyu, aku tak mau kemana-mana. Aku mau dirumah saja. Jika kau mau jalan-jalan, kau bisa ajak Kangin hyung atau yang lain.”

 

 

“Oh… benarkah?”

 

 

“Nde, ajak yang lain saja. Aku tak ingin keluar rumah, dan…”

 

 

 .

 

 

HUP!!!

 

 

.

 

 

Aku langsung melompat dan mendekatinya. “Kau pikir aku akan pergi eoh?”

 

 

“Eum…”

 

 

“Heum… kau pikir, siapa yang mau pergi. Aku hanya memastikan aku sudah mengunci pintu atau belum tadi.”

 

 

“Kyu, kau tau… kita tak harus melakukan itu pagi ini dan aku mmmhhh…. Nnghhh…”

 

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Aku tak perlu banyak penjelasan lagi. Aku tahu, dia hanya merindukanku. Ya Tuhan… kenapa dia bisa semanis ini. Bukankah tinggal minta saja, dan aku akan melayaninya (?) sampai dia menyerah

 

kalah. Ah… namja ini sangat manis.

 

 

“Nghhh… Kyunieee…ahsss…”

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

 

END

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

 

 

Semoga ini ga ngelanggar rate T yah…

 

 

 

 

 

Bye… bye…

 

 

Bunny… | KyuMin|YAOI|OS

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

 

.

 

 

rainy hearT

 

.

 

 

~Proudly present~

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

~Bunny…~

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

Cast :  – Cho Kyuhyun

 

          Lee Sungmin

 

          Others Super Junior members

 

 

Pairing: KyuMin

 

 

Genre : Drama, romance, fluff, etc

 

 

Length : Oneshoot

 

 

Rated : T

 

 

Disclaimer : KyuMin saling memiliki, Kyu Milik Sungmin, dan Sungmin milik Kyu _bersama dengan saya_  >^<

 

 

 

Warning : YAOI / BL, GaJe, Typo(s), etc

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Don’t Like Don’t Read

 

 

No Copas No Bash No Flame

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

—>> Author POV

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

Sungmin menghela nafasnya. Hari yang sangat melelahkan baru saja ia lewati. Menyelesaikan musikalnya di Jepang dan langsung terbang pulang ke Korea untuk mempersiapkan SS5 di negara berikutnya bersama member yang lainnya.

 

 

Ia sampai di dorm saat menjelang dini hari. Manager hyung menyuruhnya agar langsung istirahat karena mereka akan mengambil penerbangan lusa pagi. Ia bisa beristirahat selama stau hari penuh.

 

 

Sungmin meletakkan sepatunya pada rak sepatu yang terletak disudut ruangan. Ia berjalan perlahan sambil sesekali mengusap tengkuknya untuk menghilangkan rasa pegal yang sedikit mengganggunya. Hingga akhirnya ia melihat cahaya yang ia yakin benar berasal dari TV yang berada di tengah dorm.

 

 

Ia mendekat perlahan untuk memastikan siapa yang tengah menonton TV hingga malam selarut ini. Sedikit berharap jika magnae kesayangannyalah yang tengah menunggunya. Beberapa hari ini mereka sama-sama sibuk untuk musical hingga jarang sekali mengirim kabar. Terlebih Sungmin selalu saja berada jauh dari Kyuhyun untuk beberapa hari karena jadwal musical-nya di  Jepang.

 

 

Sungmin tersenyum saat ia sampai pada posisi yang ditujunya. Ia tak melakukan hal appaun selain tersenyum saat melihat wajah polos dihadapannya. Mendapat pantulan cahaya dari TV di wajah Kyuhyun seakan menunjukkan betapa tampannya sosok dihadapannya itu.

 

 

Ia menghela pelan nafasnya. Melihat wajah damai Kyuhyun dengan kedua matanya yang tertutup membuatnya sedikit tenang. Ia bukan ingin menganggap Kyuhyun lemah dan melarangnya menungguinya hingga larut. Hanya saja beberapa hari terakhir Kyuhyun terlihat sedikit pucat.

 

 

Sungmin duduk disisi Kyuhyun. Ia tersenyum saat menemukan sedikit berkas air liur di ujung bibir Kyuhyun. Dan entah tanpa rasa jijik, Sungmin malah menjilatnya. Aww…. dia merasa menjadi sedikit naughty…

 

 

Dan satu jilatan kecil untuk menghapus air liur itu seperti satu pintu gerbang yang terbuka dan membuat Sungmin ingin mencuri ciuman lebih banyak lagi. Diabaikannya suara TV yang tengah mempertontonkan drama.

 

 

Ia lebih tertarik untuk mengusap lembut pipi Kyuhyun. Rasanya sangat lama dia tak mengagumi wajah namjanya ini. Cinta yang terlalu dewasa mungkin, hingga ia sedikit malu untuk ber -lovey-dovey dengan seseorang yang sudah bersamanya lebih dari 7 tahun belakangan.

 

 

Sungmin tersenyum saat ia bisa merasakan sedikit rasa pahit kopi saat ia mulai menjilat bibir Kyuhyun. Dengan sedikit nakal dia menjilat dan membasahi seluruh bibir Kyuhyun, dan mungkin ia tengah beruntung saat tiba-tiba saja Kyuhyun membuka bibirnya.

 

 

Tanpa sedikitpun rasa curiga, ia memasukkan lidahnya kedalam mulut terbuka Kyuhyun dan mulai memainkan lidahnya di ruang hangat basah itu. Sesekali mencoba mengulum lembut bibir Kyuhyun.

 

 

Ia tahu, Kyuhyun mungkin bangun. Tapi mungkin itulah tujuannya. Dan terlebih saat ia merasakan Kyuhyun seperti mulai menggerakkan lidahnya dan membalas permainannya. Membiarkan saliva mereka meleleh dan saling bercampur didalam mulut Kyuhyun.

 

 

Dan dengan mudahnya, Sungmin naik ke pangkuan Kyuhyun. Melingkarkan kedua kakinya di pinggang Kyuhyun dan menarik Tubuh Kyuhyun untuk mendekat padanya. Ia berani bersumpah, ia bisa merasakan sesuatuyang keras mulai menekan bagian bawah tubuhnya.

 

 

Junior Kyuhyun mulai bereaksi. Sungmin semakin bersemangat untuk menghisap bibir Kyuhyun.  menarik dan mempermainkannya. Mengulum dan hingga akhirnya ia menggigit gemas bibir bawah Kyuhyun.

 

 

“Awwhhh….” Terdengar lenguhan pelan suara Kyuhyun. Bisa dipastikan namja itu sudah bangun dari tidurnya. Dan saat Sungmin merasakan balasan pelukan di punggungnya, ia tahu Kyuhyun benar-benar bangun.

 

 

“Heumm….” Sungmin melepaskan ciumannya dan mengatur nafasnya. Ia tersenyum saat menemukan kedua mata Kyuhyun terbuka.

 

 

“Siapa yang mengijinkanmu mencuri ciumanku, Hyung?”  Kyuhyun menarik Sungmin untuk lebih mendekat pada tubuhnya. Ia mendaratkan ciumannya di telinga Sungmin dan mulai meremas butt Sungmin yang sedari tadi menggoda paha Kyuhyun.

 

 

“Awhhh… Kyunie. Ak-aku hanya merindukanmu.”

 

 

Sungmin tersenyum kecil  saat ia merasakan jilatan di lubang telinganya. Serta remasan pada bokongnya yang semakin membuatnya ingin merasakan lebih dan lebih lagi. Seluruh tubuhnya merinding hebat saat Kyuhyun lebih gencar lagi menghujani lehernya dengan ciuman.

 

 

Ia menutup kedua matanya dan mulai meremas anak rambut di tengkuk Kyuhyun. Ia benar-benar menikmati cumbuan dan jilatan basah dari Kyuhyun. Sungmin melenguh pelan dna mulai berusaha mendorong tubuh Kyuhyun. Ia sungguh tak tahan ingin mencium namjanya itu. Sungmin meremas bahu Kyuhyun, dan ia benar-benar sedikit lupa karena cumbuan Kyuhyun hingga akhirnya ia merasakan Kyuhyun mulai mengigit kecil lehernya.

 

 

“Awwhhh… Kyuhhh… Ja-jangan disitu.”

 

 

Kyuhyun tersenyum dalam ciumannya. Ia kemudian menatap kedua mata Sungmin. Kyuhyun memainkan ibu jarinya di dagu Sungmin. Mengusapnya perlahan dan tersenyum seraya mencuri ciuman kecil di bibir Sungmin. “Lalu, bagian mana aku harus menandaimu? Kau tahu, akhir-akhir ini kau sedikit nakal dengan terus berselca ria bersama ahjussie itu. Itu membuatku selalu berfikir jika aku tak cukup baik untukmu. Dan juga selca mu dengan Henry it—“

 

 

Kyuhyun menghentikan ucapannya saat Sungmin menaruh telunjukknya tepat pada bibir Kyuhyun. “Kau juga melakukan Kissing scene di dramus-mu. Kau kira aku tidak tahu???”

 

“Kau melakukannya juga, bukannya kita impas.” Kyuhyun melepaskan pelukannya pada tubuh Sungmin. Entahlah, ia tiba-tiba merasa kesal. “Kau bahkan melakukannya berkali-kali dan berflirting ria dengan noona dancer. Kau benar-benar….”

 

 

Sungmin kesal. Ia segera mendorong bahu Kyuhyun dan kemudian menurunkan kakinya dari pangukan Kyuhyun. Ia berdiri tepat didepan Kyuhyun dan menyilangkan kedua tangannya. “Aku baru pulang dan kau ingin kita marahan lagi?”

 

 

Kyuhyun tak menjawab. Dia memalingkan wajahnya. Sebenarnya, ia tak sungguh merasa ada masalah dengan kedekatan HenMin. Henry x Sungmin.

 

 

Pair itu muncul karena beberapa fans menemukan kecocokan antara keimutan Sungmin dan maknae dari Super Junior M itu. Dan terlebih karena MV TRAP…

 

 

Kyuhyun benar-benar membenci MV itu. Dia terlihat sangat bodoh dan tua. Terlebih siang tadi, sia mencoba untuk membuat perubahan dengan mengubah warna rambutnya menjadi blonde seperti Henry, dan hasilnya sangat mengecewakan. Akhirnya, ia memilih untuk mengembalikan rambutnya ke warna sebelumnya.

 

 

“YA!! Kyuhyun-ah…! Aku bicara denganmu? Kenapa selalu Henry? Padahal kau tau sendiri, aku hanya menyukainya seperti adikku. Sama seperti aku menyukai Jongjin atau juga Sungjin. Dia seperti dongsaengku sendiri.”

 

 

Kyuhyun masih mengacuhkan Sungmin. Ia sebenarnya tak lagi kesal soal kiss scene, karena sejujurnya dia merasa bersalah atas kiss scene yang juga ia lakukan di dramusnya. Tapi soal MV Trap itu, dan juga Selca bersama Henry, dan itu karena Sungjin yang mengambil foto itu, berarti Sungjin….

 

 

“Oh ayolah Kyuhh…”

 

 

“Jadi dia seperti Sungjin untukmu?”

 

 

Sungmin mengangguk.

 

 

“Apakah kau pernah mencium Sungjin.”

 

 

Meski merasa aneh dengan pertanyaan Kyuhyun, tapi akhirnya Sungmin mengangguk.

 

 

“Di pipi?”

 

 

“Ya, sesekali.”

 

 

“Di kening?”

 

 

“Ya… karena terkadang dia merasa Umma lebih menyayangiku. Jadi aku menciuminya di kening. Hei… kenapa menanyakan itu, Kyuhyun-ah?”

 

 

“Di bibir?”

 

 

“K-Kyu???” Sungmin hampir merajuk karena pertanyaan konyol Kyuhyun.

 

 

“Jawab saja Ming.”

 

 

Sungmin sedikit kaget saat Kyuhyun memanggil namanya. Hanya nama. Bukan hyung lagi. Itu artinya Kyuhyun benar-benar serius dengan pertanyaannya. “Jadi kau mencium Sungjin di bibir juga?”

 

 

“Eum…” Sungmin memainkan jemarinya. Ia sedikit nervous saat Kyuhyun berdiri dan mendekatinya. Ia bisa melihat jelas smirk di bibir Kyuhyun. “Ok-oke… aku mencium Sungjin di bibir. Tapi dia dongsaeng-ku Kyu. Kau tak seharusnya marah karena itu Sungjin, dan…”

 

 

“Dan kau mengatakan tadi Henry itu sudah seperti Sungjin. Itu artinya, kau juga akan mencium Henry jika dia…”

 

 

“KYU!!!”

 

 

“Apa??? Aku sedang kesal denganmu Hyung. Apa maksudmu dengan selca yang kau upload dan kau hapus lagi. Itu benar-benar membuat pemikiran jika kau menyembunyikan satu hal atau berusaha menyembunyikannya. Kau pikir fans mu tak tahu??? Mereka bahkan bergerak sangat cepat. Setelah kau menghapusnya, slecamu itu sudah terlanjur menyebar di  manapun. Apa kau sengaja membuatku marah?”

 

 

“K-Kyu…” Suara Sungmin melemah. Ia sangat takut saat melihat wajah Kyuhyun. Meski cahaya yang kurang, dia bisa melihat Kyuhyun memancarkan aura kemarahannya. “Kau bisa membangunkan yang lainnya. Sebaiknya kita tidak terlalu berisik, kita-“

 

 

“Yang lainnya sedang mengunjungi Heechul Hyung. Hanya ada kita di dorm ini hyung, dan aku menunggumu sedari tadi.  Aku benar-benar merindukanmu, tapi entahlah. Aku kesal, kau benar-benar sering sekali memancing kemarahanku. Apa kau sedang menguji kesabaranku?”

 

 

“Kyunie….”

 

 

Sungmin mendekat pada Kyuhyun dan kemudian memeluknya. “Mianhe, Kyu. Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya…”

 

 

“Apa kau sengaja membuatku marah?”

 

 

“Ahniya, aku tidak…”

 

 

“Kau sengaja membuatku marah, hingga aku bisa menghabiskanmu malam ini juga dan bisa kupastikan kita akan terus melakukannya hingga esok. Melakukannya dengan kasar. Ah… kita sudah lama tak melakukan permainan yang benar-benar kasar. Bagaimana jika counter dapur?”

 

 

“Kyunie…”

 

 

Sungmin mencubit kecil pinggang Kyuhyun. Ia tersenyum. “Aku tak memancingmu, hanya saja itu karena Sungjinnie yang memaksaku untuk menguploadnya. Kau tahu, dia sedikit tertular virus aneh Jongjin. Kurasa mereka pasangan yang aneh, tapi benar-benar serasi.”

 

 

“Ouh… berhenti membicarakan orang lain.” Kyuhyun mulai mendorong tubuh Sungmin agar berjalan mundur hingga menuju counter dapur dan kemudian menyudutkannya, hingga terpaksa Sungmin naik ke sudut counter dapur dan melingkarkan kakinya untuk mengikat pinggang Kyuhyun lebih dekat padanya.

 

 

Sungmin memainkan jemarinya pada dada Kyuhyun. Ia memainkan jemarinya pada kancing piyama Kyuhyun dan mulai melepaskan kaitan kancingnya. “Sepertinya seseorang mulai tak tahan.”

 

 

“Eum… aku hanya terlalu merindukanmu.”

 

 

“Kiss me…”

 

 

“Dengan senang hati, Master.”

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

END

 

.

 

 

.

 

 

Apa ini????

 

 

Hahhaa…… saya tidak tahu apa ini? baiklah,,,, abaikan author ini.

 

 

Maaf untuk bahasa yang aneh dan kaku. Aduh…. kerjaanku bikin semua hidupku berubah. I’m so formal now….#silly

 

.

 

 

 

 

It was you, me and rainy days…|KyuMin | Drabble | Yaoi

.

.

.

“It was you, me and rainy days…”

.

.

Ketika hujan turun dan aku menyadari, tak selamanya hanya memberiku rasa sakit akan dingin yang berlebihan ini.

Ketika hujan rintik dan aku berteduh, tidak hanya aku… there was us…

Bukan… bukan hanya kita, tapi banyak orang. Entahlah, yang bisa kulihat hanya kita dan yang lainnya… anggaplah hanya bayangan semu dimataku.

Itu adalah kali pertama, aku melihatnya. Senyuman yang sangat cantik saat kau mengagumi hujan. Dan ketika kaki kecilmu melangkah untuk bermain diantara mereka…

Aku… aku bahkan tak bisa menghentikan diriku sendiri untuk tak tersenyum.

Hanya cukup melihatmu seperti itu, dan aku tahu ada hangat diantara rintik hujan yang selalu aku benci. Sejujurnya, hujan tak pernah menjadi sahabatku. Tapi, bolehkah kali ini kita berbagi payung merahku?

Ck… aku merasa seperti anak kecil, yang bahkan tak berani melakukan apapun. Hanya melihatmu, menari dengan cantik dan berbaur dengan rintik hujan yang terus turun. Sama sekali melupakan semua orang yang menatap heran padamu, tapi inilah kau…

Diantara kau dan aku… selalu ada hujan yang menghangatkan aku.

Diantara kau dan hujan, aku berjanji akan selalu ada aku yang mengantarkan payung merah untukmu.
.

.

.

rainy hearT
.

~Proudly present~

.

.

It was you, me and rainy days..
.

.

.
Ketika hujan terus turun dan membasahimu,
Aku selalu bisa melihatmu.

Saat menemukanmu dan kau tersenyum,
Aku telah jatuh cinta…. sekali lagi.

Saat aku datang dan melindungimu,
Berbagi payung merah bersamaku…

And after that…

Can i kiss you….?
.

.

Cast : – Cho Kyuhyun
– Lee Sungmin
– Others Super Junior members

Pairing: KyuMin

Genre : Drama, romance, fluff, etc

Length : Oneshoot

Rated : T

Disclaimer : KyuMin saling memiliki, Kyu Milik Sungmin, dan Sungmin milik Kyu _bersama dengan saya_ >^<

Warning : YAOI / BL, GaJe, Typo(s), etc

.

.

.

Don’t Like Don’t Read

No Copas No Bash No Flame

.

.
Maap jika ini ga ada manis-manisnya. Ah… cuman kebayang aja sama fanart kyumin berpayung merah. Cekidot…!!!

.

.

.

.
—>> Kyuhyun POV

.

.

.

.

Ini adalah hari keberapa dalam bulan ini, hujan terus turun disaat kami menyelesaikan latihan kami. Sebenarnya aku sedikit khawatir, aku takut dingin.

Entahlah ini sedikit aneh memang, tapi jika bisa jujur aku juga sangat mencintai hujan. Aku menyukai hujan, karena ada dia. Seseorang yang kini tengah melompat kesana kemari dan sibuk bermain dengan percikan air di kakinya.

Sesekali berputar dan mengarakan senyumannya ke atas,melihat langit yang terus menjatuhkan rintik hujan di wajahnya. Aku melihatnya, lebih bersinar.

Aku sangat beruntung, karena bisa terus mengaguminya. Tapi, aku juga mengkhawatirkannya. Tak takutkah dia, jika sakit. Hujan tak selamanya menjadi sahabat jika sudah berlebihan seperti ini.

“Hyung, aku yakin kau akan sakit jika kita bertahan 5 menit lagi saja disini?” Aku melangkah mendekatinya, mencoba menangkap tubuhnya dan menghentikannya untuk terus bermain hujan.

Dia menatap penuh melas padaku. “Ayolah, Kyunie… aku hanya bersenang-senang.” Dan kemudian kembali berlari kesana kemari, melompat kembali.

Aku hanya bisa menggeleng tak percaya dengan apa yang ia lakukan. Bahkan kali ini ia menaikkan lengan mantel yang ia pakai dan mulai kembali memainkan air hujan yang jatuh di jemarinya.

“Hyungie…”

“Ck… Kyunie, onegai….”

Dia menghentikan kegiatannya dan merajuk padaku. Dari kejauhan dia bertingkah lucu dan memasang aegyonya. Aish… baiklah, tidak tergoda. Akan lebih baik dia marah dari pada dia sakit nantinya.

“Tidak hyung, ini sudah 30 menit dan hujan rintik lebih berbahaya. Kau bisa kena flu dan jangan lupakan, jika kau sudah bermain air selama beberapa hari.”

“Aish… Kyunie tidak asyik. Aku kan hatch…iii !!!”

“Well…”

Aku segera menariknya dan dia harus mau mengikutiku.

“Baiklah, kita pulang.”

“Kita memang harus pulang hyung, atau kau akan benar-benar sakit.”

“Eum….”

Aku mendengarnya berdengung pelan, tapi setelah itu ia sama sekali tak mengucapkan apapun. Demi Tuhan, dia sangat menggemaskan. Tubuh mungilnya terbungkus mantel kuning yang membuatnya semakin menggemaskan.

“Apa yang ingin kau katakan, hyung?”

“Ahniya, tidak jadi.”

Eoh??? Baiklah. Kurasa ini sudah terlalu malam, dan berjalan kaki diantara rintik hujan tak buruk juga. Menikmati saat ini, adalah kepingan terbaik dalam hidupku. Membagi payung merahku dengannya dan juga menggenggam jemarinya.

“Lihat sepertinya jarimu sudah berkerut.” Aku mengangkat satu tangannya dan melihat satu per satu jemarinya, dia benar-benar sudah kedinginan. “Seharusnya kau berhenti bermain hujan.”

Dia hanya diam. See… sekarang siapa yang benar-benar cerewet, aku sungguh mengkhawatirkannya. Sama seperti beberapa minggu kemarin saat aku sakit dan dia juga ikut sakit, aku sama sekali tak bisa melakukan apapun.

“Aku hanya mengkhawatirkanmu, hyung…”

Aku menggenggam jemari kanannya dan memasukkannya kedalam saku mantelku. Aku sedikit mendengar nada protes darinya, tapi sama sekali tak bisa menghentikan keinginanku.

“Jangan menolak apa yang aku lakukan, kau tahu… kau kedinginan hyung dan kita masih harus 15 menit lagi berjalan menuju dorm.”

“Arraseo…”

Suaranya terdengar lirih dan sedikit kesal. Mood bunny Ming kesayanganku memang terkadang buruk. Dia memperlambat langkahnya, aku tahu dia benci terlalu diperhatikan seperti ini. “Ah… apa kau mau aku patah tulang hanya karena menggendongmu? Apa kau tak sadar kau itu berat?”

“Kyunie….!!!”

“Ah… baiklah-baiklah… jangan merajuk.”

Dia malah berhenti berjalan, sudah kuduga dia pasti kesal. Kami terpaksa menepi lagi di salah satu halaman toko yang sudah tutup. Sudah jam 11 malam dan jika tak hujan pun udara sudah dingin. Tak bisa kubayangkan berapa derajat malam ini.

Aku melepaskan kaitan kancing mantelnya dan kemudian melepaskan mantelku sendiri, memakaikan padanya.

“Kyunie, nanti kau kedinginan dan sakit. Sudahlah, lagi pula ini salahku.”

“Gwenchana…”

“Harusnya tadi kita pulang bersama yang lain dan naik mobil manajer hyung. Tapi hujan dan… dan aku..”

“SSsssttt…” Aku meletakkan telunjukku pada bibirnya. Dan baru kusadari, bibirnya sudah membiru. “Sebaiknya aku menelfon seseorang untuk menjemput kita. Aku akan menelfon Kangin hyung, sebentar.”

Aku segera melakukan apa yang harus aku lakukan, menelfon seseorang yang kurasa lebih bisa mengendalikan Sungmin hyung.

Meski hujan tak selebat tadi, tapi tetap saja perjalanan kami masih cukup lama, dan Sungmin hyung sudah benar-benar kedinginan kali ini. Setelah selesai menelfonnya, aku kembali memperhatikan Sungmin hyung.

“Bibirmu sudah membiru, seharusnya kalau sudah kedinginan kau berhenti hyung.”

“Tapi, Kyu…. hujan jarang terjadi dan seringnya aku melewatkannya. Kau tahu, sekarang kita tak selalu bisa menikmati waktu dan…”

.
Chup…
.

“Satu ciuman, untuk namja cerewet sepertimu. Kau tahu, kau sakit nanti hyung…”

Dia mempoted-kan bibirnya dan bergumam lucu seakan menirukan aku. Baiklah, namja ini benar-benar membuatku gemas. “Hei…” Aku memanggilnya lirih. Dia sama sekali tak mau menatapku. Aku mengusap bibir shape M yang selalu menarik untukku.

“Look… “ Aku menjaga kedua pipinya agar ia bisa menghadapku, menatapku dengan baik dan mau mendengarkan aku. “Aku tak mau kau sakit hyung, aku benar-benar khawatir. Jadwalmu sangat padat, dan kumohon berhenti menjadi egois.”

“Ck… arra…”

Dia menjawab dengan nada kesalnya, kawaiii neh…?

“I love you hyung…”

“Neh…”

“Hei… kenapa jawabnmu seperti itu, kau marah?”

“Ahniya,hanya saja kau sangat cerewet.”

Aku memeluknya. “Biarkan seperti ini, karena kau sangat kedinginan.”

Dia diam, sama sekali tak menjawab. Ck… baiklah, dia benar-benar kesal. Aku mengangkat dagunya, membuatnya menatapku. “Apa kau marah pada dirimu sendiri?”

Dia mengangguk pelan.

“Oke… lain kali, kita akan bermain hujan, tapi tidak jika malam hari. Dan sekarang, jangan memasang wajah seperti itu, atau aku akan berakhir di rumah sakit karena Kangin hyung memukuliku.”

Dia memukul kecil dadaku. Aish… sangat menggemaskan. Aku mengusap lembut bibirnya dan mendekatkan jarak kami. Biarkan saja J-Elf melihat, bukankah bagus.

Ah… bibirnya benar-benar dingin. Seperti es…

Aku mengulumnya pelan dan mempererat pelukan kami. Sungguh, dia benar-benar butuh sesuatu yang hangat, seperti ciumanku kali ini. Ah… bolehkah aku tersenyum?

“I love you…”

“Love you too…”

Dan melanjutkan ciuman kami kembali, aku harap kali ini dia lebih mendengarkan aku.

.

.

.

.

.
END
.

.

Apah ini????

Okeh ini bukan FF yah… ini drabble….

Ps: abaikan TYpo

Remarried | KyuMin | YAOI | Part 1

.

 

.

 

.

 

Matahari sore bersinar hangat. Terlihat indah. Mereka berdua memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar taman sedikit jauh di depan rumah mereka. Membeli ice cream atau sekedar gula kapas mungkin.

 

Tapi, sore ini …

 

Sepertinya namja pintar ini memiliki pemikiran lain. Memang wajar jika seusianya sudah menanyakannya. Ia mencoba untuk tak bertanya, tapi nyatanya perbedaan itu terlalu mencolok dan benar-benar membuatnya penasaran.

 

“Appa….”

 

“Heum…”

 

“Cungie cuma punya satu appa, waeyo?”

 

“Kenapa tiba-tiba berbicara seperti itu, baby?”

 

Sunghyun sedikit takut dan mengkerut, hingga akhirnya ia menggeleng lemah dan berusaha untuk tidak menangis. Ia tahu, appanya tak akan suka jika membicarakan hal ini. Bahkan sejak beberapa hari yang lalu, ia sudah mulai berfikir jika dia bukan anak appa kesayangannya ini. Mungkin saja, perkataan chingunya benar jika Sunghyun berasal dari sebuah rumah yang besar dengan begitu banyak anak kecil didalamnya. Rumah besar tepat didepan rumah mereka.

 

“Ahniya, appa…”

 

Namja mungil itu menunduk, namun dengan pasti ia melepaskan tangannya dari genggaman namja disisinya. Mau tak mau, namja tampan itu harus menghentikan langkah mereka dan mulai membujuk putra kesayangannya yang merajuk padanya.

 

Meski namja kecil itu sedikit meronta, tapi ia tetap memaksakan untuk membawanya dalam gendongan lengannya. “Kenapa bersikap seperti ini pada Appa? Hei… jangan menangis sebelum mengatakan apapun. Kau tahu bukan, namja tidak boleh cengeng.”

 

Sunghyun mengangguk pelan. Ia mengusap sedikit basah di wajahnya dan kemudian segera memeluk erat leher appanya. “Juniol, punya 2 appa.”

 

Sunghyun bergumam kecil dengan suaranya yang sedikit serak. Sungguh, ia benar-benar ingin tahu, kenapa hanya dia…

 

Kenapa…

 

Namja tampan ini sangat yakin, jika jagoan kecilnya ini pasti tengah merengek. Sebenarnya bukan karena 2 atau 3 appa. Ia mungkin hanya merasa iri dan itu saja, tidak lebih. “Hei… lalu kau mau punya 2 appa juga?”

 

“Eum…Cungie…” Sunghyun menggumam pelan.

 

“Atau kau ingin seperti Gwiboon?”

 

“Eoh? Boonie nuna…” Sunghyun tampak berfikir. Heuh… ia sama sekali tak tahu apa yang dia pikirkan. Ia juga tidak ingin mempunyai satu appa dan satu umma. Dia tidak merasa iri pada Gwiboon. Bukan pada yeoja anak tetangganya itu. Tapi, ia benar-benar merasa iri pada Junior.

 

“Appa…” Sunghyun menangkup kedua sisi pipi namja yang tengah menggendongnya ini. Kemudian dia mendekatkan wajahnya dan mencium kening namja itu.

 

“Cungie lihat Hae Appa cepelti itu cama Hyukkie appa.”

 

“Hehehe….Lalu?”

 

“Yeye appa…. “

 

“Nde, kenapa dengan Yesung appa?”

 

Sunghyun tidak menjawab, hanya menggeleng. Dan dengan begitus saja namja ini tahu, jika putranya benar-benar tak menyukai seseorang yang selama ini selalu bersama mereka.

 

“Wae?”

 

“Cungie bukan dali lumah itu ‘kan, Appa?”

 

“Ya… tentu saja. Ish… siapa yang mengatakan itu?”

 

“Yeye appa, bukan appa Cungie. Lalu ciapa appa Cungie?”

 

“Sunghyunie….”

 

“Apa, Cungie punya umma cepelti Boonie nunna?”

 

“Chagiya, kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu. Sudahlah… eum appa akan membelikan ice cream untukmu.”

 

“Hukss… Appa….”

 

.

 

.

 

.

 

‘Mianhaeyo… baby…’

 

.

 

.

 

.

 

 

re-MARRIED

 

.

.

 

Author : rainy hearT

 

Length : Series

 

Rated : T

 

Cast :

-Cho Kyuhyun

-Lee Sungmin

– Lee Hyunming (Sungmin Twins) – OC – Yeoja

– Other SUJU member

 

Pairing : || KYUMIN ||

 

Disclaimer : Semua cast belongs to God and themselves. KyuMin saling memiliki dan saya adalah pemilik mutlak dari seorang Lee Sungjin #%$&&^%???

 

Genre : ||Drama || Romance|| Slice of life |

 

Warning : || BL/ YAOI || Gaje || typo’s || EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia||

 

.

 

Another PRESENT From Me

.

 kyumin remarried mini size

.

 

Just KYUMIN

 

Please be Patient With me. Don’t Like Don’t Read. No copas No bash. Kritik and saran yang mendukung selalu diterima dengan tangan dan hati yang terbuka.

 

.

 

.

 

Happy Reading

.

 

 

 

Part 1

.

 

.

 

.

 

Jika aku bisa kembali, aku berharap tak pernah menemukanmu,

 

Jika aku bisa menolaknya, maka aku tak ingin bersama denganmu,

 

Dan jika aku akan kalah pada akhirnya, aku benar-benar tak akan pernah mencintaimu.

 

.

 

.

 

.

 

Berawal dari pertemuan kecil, hingga akhirnya membuatmu terus merasa bersalah jika tak mengalah. Apakah sama sekali tak pernah berfikir, bahwa aku benar-benar tak menginginkan ini.

 

Jika cinta hanya karena belas kasihan, aku tak mau melakukannya. Mengapa memohon padaku, jika nantinya akan menyakitimu?

 

Untuk apa kau melakukan ini? Apakah sudah bosan dan tak mencintaiku lagi?

 

Apa hakmu untuk mengatur kehidupanku? Untuk apa memohon padaku?

 

Harusnya kau juga tahu, aku tak akan pernah bisa membahagiakannya. Aku tak akan pernah benar-benar mencintainya. Aku sungguh, tak akan bisa.

 

Mengerti?

 

 Atau kau tak mau mengrti….

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Flashback On

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Teng….teng… teng…

 

.

 

Lonceng gereja itu berbunyi nyaring, menandakan upacara disana telah selesai. Meski hanya beberapa sahabat asing yang mereka temukan, itu sudah cukup sebagai saksi kebahagiaan mereka. saling melempar senyuman dan bahkan menggenggam jemari.

 

Seperti tak ada beban apapun lagi, karena kita benar-benar bebas. Bahkan berciuman didepan orang banyak, dan mereka menghargai.

 

Inilah yang disebut cinta, sesuatu yang bebas.

 

Dan inilah ikatan kita seharusnya.

 

.

 

.

 

.

 

“Aku tak percaya kita menikah.”

 

Senyuman cantik itu menghiasi bibir Sungmin. Dia tersenyum dan memutar tubuhnya, untuk melihat bagaimana ekspresi namjanya. Yeah, mereka menikah …

 

Jauh diseberang. Di negeri orang, dimana pernikahan itu akan benar dan tak ada yang salah dengan cinta mereka.

 

“Kau senang, Ming?”

 

“Nde, tentu saja. Heuh, aku tak menyangka akan menikah dengan namja menyebalkan yang dari dulu sangat suka menggangguku. Kukira kau tak akan menemukan aku di Paris. Sangat menyebalkan.”

 

Sungmin mendekat pada namja itu, kemudian membiarkan lengan kuat namjanya melingkar indah dan mengangkat tubuh Sungmin, agar kaki mungilnya berpijak pada kakinya.

 

“Ck… Kyunie, aku berat. Kau tahu….”

 

“Biarkan saja. Aku ingin melakukan ini. Aku suka kau seperti ini, jangan mencoba diet. Atau aku akan memberikanmu susu penambah nafsu makan.”

 

“Ahaha… Konyol sekali.”

 

Kyuhyun, namja yang menikahinya. Memberikan marga Cho, meski sangat sulit pada akhirnya. Senyuman di bibir Sungmin perlahan menghilang. Ia kemudian mengusap dada Kyuhyun dan memeluknya erat.

 

“wae, kenapa wajahmu seperti itu?”

 

Sungmin hanya menggeleng menanggapi pertanyaan Kyuhyun. Sejujurnya, ia sungguh takut dalam hal ini. “Aku tak bisa menjelaskannya nanti. Bagaimana jika appa dan umma-mu tahu? Bagaimana jika mereka…”

 

Kyuhyun menggeleng dan meletakkan satu jemarinya dibibir Sungmin, meminta namja itu untuk diam dan menghentikan semua pemikiran anehnya. Sungmin merajuk. Dia menghentak pelan tubuhnya dan memasang wajah khawatirnya.

 

“Ck… mereka tak pernah menyukaiku sejak dulu. Mereka sadar, jika kau… aku… yeah…. aku…”

 

“Sssttt…. jangan berfikiran sampai seperti itu. Aku yakin, mereka akan merestui kita. Bukankah, menantunya ini sangat cantik?” Kyuhyun mencuri ciuman kecil di pipi chubby Sungmin. Membuat wajah imut namja itu memerah dan semakin menggemaskan.

 

“Ah, aku juga tak tahu bagaimana memberi tahu Hyunming noona.” Tambah Sungmin. Namja itu benar-benar khawatir tentang semua hal. Pernikahan ini benar-benar tak mudah. Bagaimana bisa ia mengubah pemikiran banyak orang dinegaranya nanti. “Dan juga appa dan Umma…”

 

Kyuhyun tersenyum kecil dia mengusap lembut pipi Sungmin, membuat namja itu menatap Kyuhyun. “Apa kau ingin pulang, baby?” Kyuhyun berbisik pelan. Sungmin hanya mengangguk.

 

Bagaimana ia tak ingin pulang setelah beberapa tahun meninggalkan Korea. “Aku sudah menyelesaikan sekolahku di sini. Aku bisa mengajar di salah satu universitas atau high school. Dan lagi, aku mengkhawatirkan Hyunming noona. Beberapa bulan ini, dia sama sekali tak bisa dihubungi.”

 

Kyuhyung mengangguk pelan. “Baiklah, Cho Sungmin. Kita akan pulang ke Korea.”

 

“Tapi, Kyu… appa dan umma-mu…”

 

“Jangan dipikirkan. Aku yakin mereka akan mengerti, dan jika mereka belum bisa menerimamu… aku akan tetap bersamamu.”

 

Masih terlihat raut wajah khawatir Sungmin, tapi Kyuhyun menoba meyakinkannya. Menatap kedua mata foxy yang cantik itu dan tersenyum pada namjanya. “Kita akan bersama, bukankah aku sudah mampu melaluinya selama beberapa tahun. Untuk beberapa tahun lagi, kurasa bukan masalah.”

 

Sungmin mengembangkan senyumannya. Sungguh, ia sangat mencintai namjanya. Namja tampan yang sedari dulu sudah mengejarnya. Namja yang bahkan rela melanggar aturan dalam keluarganya hanya untuk cintanya.

 

“Aku sangat mencintaimu, Kyu.”

 

“Aku lebih mencintaimu, Cho Sungmin….”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Bandara selalu saja ramai. Bahkan hari ini sepertinya lebih ramai. Yeoja yeppeo ini sudah menunggu hingga kering di arrival gate. Sialnya, penerbangan diundur beberapa jam hingga membuatnya menunggu dan menunggu.

 

Sesekali ia melihat jam tangan putih yang bertengger manis di pergelangan tangannya. Menggeleng pelan dan kemudian melihat lagi kearah depannya. “Ah… akhirnya.” Ia mendesah pelan saat melihat beberapa orang asing keluar dari pintu itu. Sepertinya penantiannya sudah berakhir.

 

Sangat mudah mencari seseorang yang ia tunggu. Sangat mudah….

 

“Noona….”

 

Sungmin tersenyum saat melihat yeoja yang tengah menunggunya di arrival gate. Dia meninggalkan Kyuhyun dan kemudian segera bergegas memeluk yeoja itu.

 

“Sungmin… ck… kau menyebalkan sekali. Asal kau tahu, aku menunggu sangat lama.”

 

“Mianhe, noona…”

 

“Hikss… kau benar-benar kejam saat meninggalkan aku sendiri di Korea. Aku merindukanmu, pabbo…”

 

Sungmin melepaskan pelukannya dan bersiap untuk menghapus air mata nonanya. “Ck… kau cengeng sekali, Nonna.”

 

“Yah!!! Kau pikir kau pergi berapa lama. Sama sekali tak memikirkan bagaimana aku. Appa dan Umma terus menanyakanmu. Mereka sangat khawatir.”

 

“Mianhe…” Sungmin mencium pucuk kepala nonanya. Ia kemudian menoleh ke belakangnya. Namja tampan itu tengah menunggu gilirannya. “Eum, Hyunming nonna…ini…”

 

“Ah… bukankah kau Kyuhyun.” Hyunming melihat penuh selidik pada Kyuhyun. “Ommo!!! Jangan katakan kalau kalian…”

 

Sungmin mengangguk mengiyakan pemikiran Hyunming.

 

“Yah!!! Beraninya kau menikah tanpa memberitahuku. Anak nakal.” Hyunming memukul lengan Sungmin dengan jemari kurusnya. “Ah … baiklah, sepertinya aku harus mengucapkan selamat. Dan kau Kyuhyun-ah… jaga Sungminku baik-baik.”

 

Sungmin berusaha tersenyum. Meski wajah nonanya sama sekali tak menyiratkan apapun, tapi ia tahu… nonanya kecewa. Ini bukan karena Sungmin menikah dengan sesama namja tapi ini karena….

 

Kyuhyun…

 

.

 

.

 

.

 

Mereka terkesan diam didalam mobil. Sangat tak wajar karena diawal pertemuan, Hyunming bahkan sangat berisik.  Terlebih lagi, yeoja itu lebih memilih duduk dibelakang bersama karangan bunga white lily yang ia bawa untuk Sungmin. memilih menyendiri dibelakang dan membiarkan Kyuhyun membawa mobilnya menuju rumahnya.

 

“Nonna, tentang appa dan umma… “

 

“Tenanglah Ming, aku yakin mereka hanya butuh waktu. Kau bisa menjelaskannya perlahan.”

 

Biar bagaimanapun, biar seperti apapun cinta itu… hubungan mereka tetaplah menjadi cinta yang terlarang. Dianggap tabu dan sebelah mata. Dan benar-benar menyakitkan jika sama sekali tak ada satupun dari mereka yang mengerti.

 

“Ah… bagaimana denganmu Noona. Apakah kau sudah menikah?”

 

Hyunming tertawa pelan. “Bagaimana menikah, jika aku pusing memikirkanmu. Aku khawatir padamu, Ming. Kau pergi begitu saja, untung Umma tidak mati karena serangan jantung.”

 

“Hehe… mianhe Noona, kau juga sama sekali tak bisa dihubungi beberapa bulan terakhir.”

 

“Ah… itu karena aku harus mengurus perusahaan Appa. Mereka ingin beristirahat. Heuh… harusnya kau yang melakukannya, kenapa jadi aku.”

 

“Ahh… nde. Dan soal ini, aku….”

 

Dan kembali hening lagi. Sungmin tak berani melanjutkan perkataannya saat ia menyadari genggaman kuat pada tangannya. Kyuhyun mencoba menghentikan pembicaraan Sungmin.

 

Sungmin menatap seklias pada Kyuhyun, terlihat raut kecewa dan gelengan perlahan dari namja itu. Sungmin sendiri tak mengerti harus bagaimana. Dari dulu, ia sudah berusaha untuk membuat Kyuhyun tak mencintainya. Membuat namja itu melihat nonanya. Tapi, percuma.

 

“Nonna, aku minta maaf.”

 

Hyunming menghela nafasnya. Entahlah, ia hanya merasa sedikit sesak dan… bodoh.

 

“Tak ada yang perlu dimaafkan Ming.” Hyunming kemudian meraih tasnya dan merapikan dirinya. “Ah… aku berhenti disini.”

 

“Tapi noona….”

 

“Ck… jangan khawatir. Aku akan bertemu dengan Yesung Oppa. Sebaiknya kau bawa mobilku, berjalan-jalan mungkin. Kau bisa pulang ke apartemenku dulu. Atau kalian mau berbulan madu. Ahahha…. sangat romantis.”

 

Tepat saat Hyunming berhenti berbicara, mobil mereka sudah menepi. Sungmin hampir menahan Hyunming, tapi Kyuhyun sepertinya tak mengijinkannya. Hingga akhirnya, ia hanya melihat dari dalam mobilnya, yeoja itu mengusap kasar pipinya. Ia yakin, jika noona kesayangannya tengah menangis. Dan ini karena dia.

 

“Kami adalah saudara Kyu. Aku tahu nonna sangat kecewa padaku. Aku…”

 

Sungmin terdiam saat ia merasakan tarikan cepat dari Kyuhyun dan pelukan nyaman tubuh namja itu. Ia berusaha memejamkan kedua matanya dan mencoba untuk tak menangis.

 

“Bukankah kau yang meminta pulang? Jika kau belum siap, kita bisa kembali ke Paris.”

 

Sungmin menggeleng lemah. “Ahnieyo… aku akan menghadapi semuanya, Kyu. Aku… aku hanya…”

 

“Jika kau hanya kasihan pada nonamu, apa ku tak kasihan padaku? Apa tak memikirkan aku?”

 

“Kyu…”

 

Sungmin mengangkat wajahnya dan melihat Kyuhyun. Melihat wajah tampan itu tersenyum padanya, dan membiarkan ibu jari namja itu mengusap berkas air mata di pipinya.

 

“Jangan menangis, bukankah kau namja? Jangan mengatakan kau tak bisa, karena kita tak bisa terus menghindari ini.”

 

Sungmin mengangguk, dan perlahan tapi pasti ia menyatukan bibirnya…

 

Membiarkan Kyuhyun menuntunnya untuk  menenangkan pikiran dan perasaannya. Merasakan setiap lumatan lembut dan gigitan nakal Kyuhyun. Menikmati moment mereka di tengah kota Incheon.

 

Meski mereka tak menyadarinya, seseorang tengah mencoba menahan tangisnya. “Hikss…”

 

“Hei…”

 

“Ah, Yesung oppa.” Hyunming mencoba menghapus semua air matanya. Ia segera mengalihkan pandangannya dari mobil dimana Sungmin dan Kyuhyun masih sibuk dengan kegiatannya.

 

Yesung hanya menggeleng pelan dan kemudian meraih jemari kurus Hyunming. “Tak seharusnya kau terus memikirkannya. Bahkan Kyuhyun sama sekali tak melihatmu.”

 

“Aku tahu, oppa… tapi…”

 

“Apakah setiap saudara kembar pasti akan seperti ini? Jatuh cinta pada orang yang sama, seperti tidak ada yang lain saja.”

 

“Oppa…” Suara Hyunming semakin lirih. Ia berusaha untuk tak menangis lagi, tapi tangannya melemah dan perlahan melepaskan genggaman Yesung. Mau tak mau namja itu berhenti dan kemudian memeluk Hyunming.

 

“Jangan menangis untuk kebahagiaan mereka. Bukankah kau menyayangi Sungmin?”

 

Hyunming mengangguk pelan. “Aku sangat menyayangi Sungmin, bahkan lebih dari apapun.”

 

“Jadi berbahagialah untuk mereka. Kau yeoja yang hebat, Hyun-ah…”

 

Hyunming mengangguk pelan. “Aku tahu…hikss… tapi, tetap saja ini sedikit sakit. Hikss…. Oppa…”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

 

Dan angin menerbangkan kisah mereka. Menceritakannya pada debu yang menyertainya. Membawa mereka pada satu titik waktu dimana semuanya harus berubah sesuai dengan takdirnya. Sama sekali tak bisa menghindar.

 

Jadi, aku hanya manusia biasa. Apa yang bisa aku lakukan….

 

.

 

.

 

.

 

.

 

“Jadi, apa rencana hari ini?”

 

“Eum….”

 

Sungmin mengetuk dagunya menggunakan pena yang sedari tadi ia mainkan. “Aku sudah mendaftar pada salah satu sekolah, kurasa mungkin bulan depan aku sudah harus bekerja.”

 

“Baik, lalu…”

 

“Kita akan ke rumah Umma.”

 

“Umma?”

 

“Nde, ke rumah Umma.”

 

“Baik.” Kyuhyun mengangguk dan melepaskan kacamatanya. “Kurasa, aku siap untuk kerumahmu.” Kyuhyun mendekati Sungmin dan memainkan hidungnya, membuat Sungmin mau tak mau tersenyum melihat tingkah Kyuhyun.

 

“Yak, Kyunie… hentikan.” Sungmin menjauh, ia sungguh kesal saat Kyuhyun terus memainkan hidungnya. “Ish… siapa bilang akan kerumahku, aku ingin kita ke rumahmu Kyunie.”

 

“Eoh?”

 

“Kau yakin?”

 

“Aku pulang!!!”

 

“Noona….!” Sungmin langsung mendorong Kyuhyun untuk menjauh darinya. Biar bagaimanapun ia masih punya perasaan untuk hal ini. Ia tak ingin menyakiti noonanya lebih dalam lagi. “Wah, kau sudah pulang.”

 

“Nde.” Hyunming membuka beberapa tas belanjaannya. Ia tersenyum saat mengangkat salah satu dari beberapa tas itu. “Nah, Sungminnie… lihat apa yang aku beli untukmu.”

 

Hyunming mengangkat kain itu dan kemudian berjalan mendekati Sungmin. “Cuaca akan dingin di akhir bulan ini. Aku harap, syal ini akan menghangatkan nae bunny Ming.”

 

“Ish… Noona, seperti kau bukan bunny saja.” Sungmin meraih syal yang dililitkan Hyunming di lehernya. Syal berwarna hijau yang cantik. “Gomawo, noona…”

 

“Nde.” Hyunming mengangguk dan kemudian dia mengobrak-abrik belanjaannya yang lain lagi. “Nah, ini untuk Kyuhyun. Cha…” Hyunming berusaha untuk tersenyum sebaik mungkin. Meski sedikit malas, tapi Kyuhyun akhirnya menerimanya – meski harus menerima deathglare terlebih dahulu dari Sungmin-.

 

“Terima kasih untuk syalnya…”

 

“Nde, Kyuhyun-ah. Mianhe karena yang tersisa tinggal warna putih. Aku sebenarnya akan memberikanmu yang hijau sama dengan milik Sungmin. Tapi…”

 

“Gwenchana, ini saja sudah cukup.”

 

Sungmin melihat kecanggungan diantara kedua manusia itu. Sungguh, ia seperti orang jahat yang terus saja menusuk noonanya sendiri. Keadaan ini benar-benar sangat tidak nyaman.

 

“Ah… Nonna, besok aku akan kerumah Kyunie.”

 

“Wah, bagus. Ganbate!! Aku tahu, appa dan umma Cho akan senang melihatmu.”

 

Seketika raut wajah Sungmin berubah. Hyunming menyadari itu. “Hei… jangan seperti ini. Biar bagaimanapun, cepat atau lambat kau juga akan tetap menemui mereka.”

 

“Noona, bisakah kau ikut denganku. Aku…”

 

“Ming?” Kyuhyun menyela Sungmin. Sungguh, ia benar-benar tak senang dengan keadaan ini.

 

“Tapi, Kyu… aku ingin noona melihat dan mendukungku. Aku ingin dia selalu bersamaku. Kau tahu, kami sama Kyu… aku…”

 

Hyunming menggeleng dan menggenggam tangan Sungmin. “Gwenchana Ming, Noona tidak usah ikut ya. Aku janji, akan selalu mendoakanmu Bunny…..”

 

“Tapi Noona, aku ingin kau melihatku. Aku ingin kau menjadi Umma dan mendukungku. Kau tahu, aku tak bisa memberitahu Umma sekarang. Dia benar-benar bisa mati karena serangan jantung dan….”

 

“Ah… baiklah, tapi…”

 

Kyuhyun segera beranjak dari duduknya dan meletakkan syal dari Hyunming begitu saja. “Heuh… terserah kalian saja.”

 

“Kyu! Yak… Cho Kyuhyun…!”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

TBC

 

.

 

.

 

Ini alurnya mundur yah… dan saja ga tahu, ini bakal ngegantung apa cepet end… ahaha….

 

 

GamsaHAE ^_^

.