Diproteksi: Chicken Soup for Teenage Soul | Ch. 12 / end

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Iklan

Chicken Soup Side Story |||HanChul|| Part 1

oOOo CHICKEN SOUP FOR OUR FAMILLY oOOo

Author : rainy hearT

Length : Series

Rated : M

Cast :

– Cho Kyuhyun

– Lee Sungmin a.k.a Cho Sungmin

– Kim Heechul a.k.a Cho Heechul

– Tan Hangeng a.k.a Cho Hangeng

– OC (The baby’s)

– Other SUJU and DBSK member.

Pairing : KYUMIN || HANCHUL|| and other pair

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan dan diri mereka sendiri. Tapi, Sungmin selalu dan akan selalu menjadi milikku#plak#ngarep#Sungmin juga milik Kyuppa#

Genre : Romance / Drama/Humor (dikit)

Warning : Boy x Boy / BL / YAOI, gaje, TYPO (S), EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, GS.

Summarry : “Hidup ini terdiri dari berbagai rasa dan warna. Manis, asin, terkadang juga asam. Warna merah, putih ataupun kuning, semua warna bercampur menjadi satu. Tersaji dalam sebuah mangkuk kehidupan yang akan terus berjalan dan berakhir pada kebahagiaan. Chicken Soup, satu mangkuk penuh warna, penuh rasa.”

Maafkan author yang Moody ini. Tapi Chicken Soup tetep end di ch. 7

Ini hanya side storynya kehidupan mereka dan akan selalu berganti tiap dua ch.

Be Patient with Me please

.

No Copas No Bash No Flame No Like No Comment No Review

No Money No Honey No Cry No-ngkrong aja dah… .

.

.

HAPPY READING

oooCHICKEN SOUP FOR OUR FAMILLYooo

SIDE STORY 1

CHO HANGENG X CHO HEECHUL


KYUMIN X HANCHUL HOUSE

.

.

“Umma!!!”

Sungmin berteriak memanggil sang Umma yang pada kenyataannya entah pergi kemana yeoja itu. Sungmin sudah berputar ke sekeliling rumah, dan bahkan sudah menyuruh semua pelayannya untuk mencari yeoja cantik itu.

Dan andainya Sungmin tahu, jika yeoja itu kini bukan bersembunyi hanya saja sedikit menghindari seluruh orang di rumahnya sendiri. Ia berada di salah satu paviliun kecil yang berada cukup jauh di belakang rumah mereka.

Menatap lemas pada perkebunan bunga mawar dan juga rumput hijau yang membentang luas. Taman yang baru selesai dibuat beberapa bulan yang lalu. Dan karena paviliun itu baru, maka tak akan ada yang berfikiran jika nyonya besar mereka malah tengah menikmati kesendiriannya disana.

Ditambah lagi dengan belum selesainya pembangunan paviliun itu karena memang para pekerja sengaja meminta libur selama satu minggu. Dan dengan berat hati, Heechul mengijinkannya. Meski ia sudah tak sabar melihat betapa indahnya taman yang ia siapkan sebagai taman bermain kedua cucu kesayangannya itu.

Dan suasana hati Heechul memang sedang buruk saat ini. Ditinggal ke luar negeri itu sudah biasa. Tapi tidak untuk kali ini. Heechul kembali mengingat waktu terakhir kali ia berkunjung ke kantor suaminya.

.

Flashback On

.

Cho Heechul POV

.

Entahlah, tapi hari ini aku sedang senang. Memasak dan membawa hasil masakanku ke kantor suamiku. Setelah promo besar-besaran, kukira dia pasti akan sangat sibuk dan tak sempat pergi ke restoran meski untuk makan siangnya. Selalu pulang larut dan juga berangkat lebih awal, atau malah seringkali ia lembur diruang kerjanya saat aku sudah tidur.

Aku tahu, ia sedang berusaha keras. Kyuhyun memang banyak membantunya, tapi ia sedang ingin mengembangkan usaha kami.

Aku berjalan dengan yakin dan sejuta senyuman diwajah cantikku. Melewati beberapa pelayan dan juga staff bawahan suamiku, hingga akhirnya aku sampai didepan pintu ruangannya.

“Hannie, aku…”

Bekal yang kubawa, jatuh bersama dengan hancurnya semua harapanku. Dan aku hanya bisa menahan semuanya, menyimpannya dan terus berjalan cepat dan seakan semua baik-baik saja. Hingga aku menemukan lift dan langsung menekan tombol ke basement untuk mengambil mobilku. Saat ini aku butuh sendiri.

.

.

Aku tak menangis pada akhirnya, meski sangat ingin aku menangis. Aku ingin percaya jika ia mencintaiku, meski aku tahu ia begitu mencintaiku. Tapi apa yang ia lakukan….

Aku melepaskan baterai ponselku dan melemparnya kedalam mobilku. Suara panggilan di ponsel bodoh itu semakin mengganggu hatiku. Lebih baih aku mematikannya dan menenangkan diriku sendiri.

Aku berdiri dengan tenang. Yah…setidaknya aku bisa tenang disini. Sedikit banyak bisa mengurangi perasaan kalut dan hancurnya hatiku. Ini pengkhianatan terbesar yang pernah dilakukan seorang Cho Hangeng yang bodoh itu. Apakah aku sudah tua atau karena dia memang sudah bosan? Atau aku sudah tak cantik lagi hingga…

“Hiksss… hiksss….”

Dan aku tak bisa membendungnya lagi. Rasanya begitu sakit saat setelah begitu banyak hal terlewati selama bertahun ini dan dalam sekejap dengan mudah ia menghancurkannya. Aku…

.

.

Aku melangkah lemas masuk ke dalam rumah. Tak kutemukan sosoknya di ruang tamu. Atau setidaknya jika ia masih mencintaiku, seharusnya dia ada untuk menungguku pulang. Dan saat aku melangkah menuju kamar kami, kulihat dia sedang sibuk membereskan pakaiannya.

Sudah kuduga, dia akan pergi keluar negeri lagi. Dan aku sama sekali tak berniat untuk membantunya atau menemuinya. Aku hanya membuka pintunya, dan melihatnya sekilas untuk kemudian aku kembali berjalan menuju kamar tamu di lantai bawah.

Dan tangan dingin itu menahanku. Rasanya dadaku seakan runtuh, dan ini sangat sakit. Aku memejamkan mataku dan meremas kuat dadaku. Sungguh aku tak ingin mendengarnya berbicara apapun sekarang.

.

Greepp…

.

Pelukan yang dulu hangat, kini terasa begitu dingin dan menyiksaku. Aku berusaha melepaskan kedua lengannya yang melingkar di leher dan pingganggku. Tapi sayang, semuanya seakan sia-sia dan yang ada ia malah  semakin mengeratkan pelukannya.

“Dengarkan aku dulu yeobo.”

Dan aku tak ingin mendengar apapun. Aku menutup kedua telingaku dan menggeleng pelan. Tapi dia malah menahan satu tanganku dan berbisik lirih ditelingaku. Satu tangannya yang lain menggenggam kuat tanganku.

“Percayalah, yang kau lihat itu bukan yang sebenarnya. Dia hanya partner kerjaku dan saat itu aku hanya membantunya. Dan jika kau menganggap aku menciumnya, sebenarnya yang terjad bukanlah seperti itu. Dia hanya kelilipan dan aku meniup matanya. Sungguh…”

.

.

Dan setelah itu aku mencoba percaya. Malam itu, tidurku sungguh tak tenang. Hingga saat pagi datang, ia sudah tak ada disisiku lagi. Aku segera menelfon sekertaris perusahaan dan menanyakan jadwalnya.

“Kemana sajangnim pergi hari ini?”

“Ke Jepang, nyonya Cho.”

“Apakah dia sendirian?”

“Ahni, dia akan bersama satu staff dari bagian pemasaran dan juga dengan Noona Park.”

“Siapa dia?”

“Partner kerja Cho Sajangnim, dan mungkin saja anda bertemu dengannya kemarin.”

“Apakah dia yang berada diruangan sajangnim saat jam makan siang?”

“Nde Nyonya.”

.

.

Seakan semuanya kembali runtuh dan kali ini terasa lebih sakit. Aku sudah ditipu mentah-mentah oleh suamiku sendiri.

.

Cho Heechul POV end

Flashback Off

.

.

Kyuhyun dan Sungmin, tengah duduk di balkon kamar mereka. Mencoba saling menghibur dan membantu menghilangkan kepenatan satu sama lain. Dimana Kyuhyun pusing memikirkan pekerjaan dan juga orang tuanya. Sedangkan Sungmin, sama gelisahnya dengan Kyuhyun.Hanya saja pikirannya lebih bercabang lagi.

Umma-ku hamil, Kyu.”

“Lalu kenapa?” Kyuhyun tersenyum kecil dan mencium pucuk kepala Sungmin yang memang tiduran dipangkuannya. “Kau mau juga?”

Sungmin mendelik, mendengar pertanyaan Kyuhyun. Masih jelas dalam ingatannya betapa ia takut dan gelisah saat menanti kelahiran kedua aegyanya. Bukan main sakit dan takutnya ia, terlebih karena kondisi Minhyun yang sangat lemah saat itu.

Arra. Mianhe chagi, berhentilah melihatku seperti itu.” Kyuhyun mengacak pelan rambut Sungmin. Sedikit mengangkat tubuhnya dan memeluknya erat. “Saranghae.”

Nde, nado saranghaeyo.”

Nafas Sungmin berhembus pelan di tubuh Kyuhyun. Membuat namja itu sedikit merinding geli, terlebih saat Sungmin seakan sengaja menggesek-gesekkan kepalanya dengan dada Kyuhyun.

Dan Kyuhyun, ia hanya memakai piyama sutera dan tanpa kaos dalam apapun. Hanya underwear. Dan tindakan Sungmin berhasil membangunkan little Cho yang selama beberapa hari ini tidur nyenyak.

“Kau sengaja menggodaku eoh?”

“Mwo?”

Sungmin menyudahi kegiatan bermanja-manjanya. Mata cantiknya menatap Kyuhyun lembut, sedikit tersenyum, kemudian meraih pipi namja itu dan mencium bibirnya sekilas.

“Heum, aku mengantuk.”

Dengan seenaknya, Sungmin beranjak dari pangkuan Kyuhyun dan melangkah masuk kedalam kamar mereka. Melihat sekilas pada dua bed kecil disisi bed besar mereka. Mencium kening dua aegya-nya dan kemudian menggulung tubuhnya dengan selimut hangatnya.

Dan Kyuhyun, hanya bisa melongo melihat tidakan Sunggmin, ia sungguh tak habis pikir. Seorang Cho Sungmin, entah di terlalu polos atau memang sengaja menggodanya.

Kyuhyun menatap lemas pada bagian bawahnya, benda menegang itu sungguh pantas dikasihani. Ia mengusapnya sekilas dan menggeleng pelan. “Tidurlah, sepertinya partnermu sedang tak menginginkanmu.” Terssenyum miris, untuk kemudian  menyusul Sungmin dan menikmati tidur malamnya.

.

.

Setelah mengantar twins ke sekolahnya, Sungmin langsung menuju kantor Kyuhyun. Ia berencana untuk sekedar membantu Kyuhyun sebisanya. Tentu saja setelah memastikan Heechul tidur nyenyak di rumahnya. Tekanan darah nyonya besar itu langsung turun, dan ia selalu saja menggumamkan hal yang tidak-tidak.

“Bagaimana Umma?”

“Dia baik, dan kurasa hanya butuh istirahat. Beberapa tablet vitamin akan membantunya.”

Sungmin membawakan satu gelas cappucino dan meletakkannya di meja tamu yang terdapat di dalam ruangan Kyuhyun. Berdiri di tepi jendela dan menatap luas hamparan kota Seoul dari ketinggian gedung supermarketnya.

“Jangan melamun, kau kesini untuk membantuku kan?”

“Heum…” Sungmin mengangguk sekilas dan mulai melihat pekerjaan Kyuhyun hanya memeriksa laporan keuangan bulanan dan juga laporan gaji karyawan. Dan sebelum makan siang, semua pekerjaan Kyuhyun sudah selesai. Ia dan Sungmin segera keluar dari gedung dan langsung menuju ke rumah mereka.

Sisa pekerjaan akan diselesaikan oleh bawahan Kyuhyun. Hal yang lebih penting, sudah menunggu mereka di rumah. Heechul menelfon mereka dan meminta mereka untuk pulang secepatnya, karena memang akan ada yang datang berkunjung. Sungmin begitu bersemangat, tapi tidak dengan Kyuhyun. Dan Heechul, tentu saja langsung sedikit sehat meski bisa dibilang masih lemah.

Annyeong ahjumma…!!!”

Dan senyum Kyuhyun mungkin akan benar-benar hilang sekarang. Ia menatap miris pada namja yang tengah seenaknya memeluk Sungmin. “Ish, jangan lama-lama memeluknya.”

Kyuhyun menarik Sungmin dari pelukan namja itu, membuat Sungmin dan yang lainnya hanya menggeleng heran melihat tingkah Kyuhyun. Sungmin hanya tersenyum, kemudian mengusap pipi pucat Kyuhyun dan menciumnya sekilas.

“Kyunie, dia ‘kan sepupumu. Kenapa harus seperti itu? Cemburu eoh?”

“Molla. Sudahlah.”

Dan perhatian tertuju pada anak kecil yang baru berusia  4 tahun itu. Seakan sifat kekanakkannya semakin menjadi, namja kecil itu menarik-narik celana panjang Kyuhyun.

Ppoo…”

Suara kecil dari bibir mungil dengan gigi yang belum genap itu terdengar sangat lucu dan menggemaskan ditelinga Sungmin. “Ommo, Henry-ah. Zhoury lucu sekali.”

Sungmin mengangkat tubuh mungil itu dan memeluknya erat. Kemudian Henry mendekatinya dan mengusap kepala Zhoury yang masih ada dipelukan Sungmin. Pemandangan yang indah bukan? Seperti satu keluarga bahagia.

Setidaknya, itulah yang dilihat Kyuhyun. Appa yang masih terlalu kekanakkan ini, seperti aegya yang ditinggal pergi Umma-nya. Bukannya membujuk atau sekedar memisahkan Sungmin dengan Zhoury, Kyuhyun malah pergi dari ruang tamu itu. Melangkah kasar dengan langkah lebarnya, menuju ke kamarnya sendiri. Menutup pintunya rapat-rapat.

“Kurasa, kau punya big baby untuk diurus, Hyung.” Henry meraih Zhoury dari gendongan Sungmin.

“Nde, kurasakau benar.” Sungmin menoleh pada Zhoumi dan Heechul. Mengusap punggung Heechul dan memeluknya. “Umma, aku tinggal sebentar. Kau pasti akan menyukai Zhoury, dia sangat menggemaskan, Umma.”

Nde Minnie, tenanglah. Umma akan baik-baik saja. Kurasa Kyuhyunie lebih membutuhkanmu.”

Heechul berusaha tersenyum, meski sesungguhnya ia masih terus mengingat semua tekanan dan juga kenangan buruknya. “Ayo Zhoury, main dengan Halmeonni.”

.

.

KYUMIN SIDE

.

.

“Kyu…”

Sungmin membuka pelan pintunya. Ia masuk ke dalam ruangan itu dan menguncinya. Ia tahu benar, Kuhyun yang cemburu seperti ini akan sangat susah diajak kompromi. Dan benar saja, namja tampan itu sudah menggulung tubuhnya yang masih berpakaian sangat lengkap dengan selimut hangatnya di siang hari yang bisa dibilang cukup panas itu.

“Hei…”

Sungmin menepuk pelan tubuh Kyuhyun dan mencoba menyingkap selimutnya. Terlihatlah, namja tampan dengan wajah murungnya. Jas dan juga sepatu masih menempel di tubuhnya. Rambut acak-acakan dan juga wajah yang benar-benar murung membuatnya terlihat sangat buruk.

Sungmin segera melepaskan sepatu dan juga kaus kaki Kyuhyun. Membuka kaitan kancing jasnya satu per satu kemudian melepaskannya, dan membuang dasi yang sempat melilit leher Kyuhyun. Kemudin ia melangkah menuju lemarinya dan mengambil satu kaos santai dengan kerah yang cukup lebar. Ia melepaskan kemeja Kyuhyun dan memakaikan kaosnya.

“Such a cute little Baby Kyunie…”

Dan Kyuhyun hanya tersenyum sekilas. “Sudahlah, aku masih kesal.” Kemudian namja itu kembali membaringkan tubuhnya dan menutup wajahnya dengan selimut tebalnya. Dan sungmin, kembali berusaha menyingkap selimut itu setelah sebelumnya ia mengganti pakaiannya dengan celana pendek dan juga kaos yang sedikit longgar.

“Mau ikut aku?”

“Oddiega?”

“Menjemput anak-anak. Sebentar lagi kelas mereka selesai. Mungkin mengajak semua baby ke rumah akan sedikit membuat Umma senang. Bukankah mereka sangat lucu?” Kemudian Sungmin mencubit pipi Kyuhyun yang kini sedikit berisi itu.  “Seperti Kyu Appa, kau bayi besar yang sangat menggemaskan. Ayolah, jangan seperti ini.”

Kyuhyun mem-pout-kan bibirnya sekilas dan melirik pada Sungmin. “Kau menyebalkan, kau tahu?”

Sungmin hanya tersenyum dan mengangguk sekilas. Kemudian memeluk Kyuhyun dan mengusap punggungnya. “Bisakah kau berhenti memperlakukan aku seperti anak kecil? ”

.

Chu~

.

Sebuah ciuman singkat mendaratdi bibir tebal Kyuhyun, kemudian Sungmin mencium telinga Kyuhyun dan berbisik lirih ditelinganya. “Tapi kau suka sekali bertingkah seperti anak kecil.” Kemudian mencium telinganya.

Sungmin meraih lengan Kyuhyun dan menariknya untuk beranjak dari kasur nyamannya. “Kajja! Rumah akan ramai setelah ini, jadi jangan berwajah seperti itu didepan anak-anak. Mereka akan ketakutan melihatmu.”

“Minnie!”

Dan Sungmin hanya menanggapi Kyuhyun dengan senyuman dibibirnya. Kyuhyun, sama sekali tak bisa melakukan apapun jika Sungmin selalu saja seperti itu. “Kau tahu, aku tak suka saat kau terlalu dekat dengan Henry. Kau terlalu…” Kyuhyun mengacak gemas rambutnya sendiri. “Kau itu… ish… pokoknya aku kesal.”

Dan Sungmin dengan sabar merapikan kembali rambut Kyuhyun. Sedikit berjinjit, kemudian mencium dahinya. “You know I love you.”

“Tapi Minnie…”

“Hentikan bersikap seperti itu Kyu, kau sudah dewasa. Dan lagi, mereka akan menginap. Mungkin yang lainnya juga akan menginap, jadi bersikaplah seperti Kyu appa yang baik. Jebal…”

Kyuhyun menghela nafasnya, dan menyeringai kecil. Menarik Sungmin dalam pelukannya dan menjilat kecil lehernya. “Tapi dengan syarat.”

“Ish….” Sungmin mencubit kecil pinggang Kyuhun, membuat ia sedikit meringis namun sama sekali tak menghilangkan seringaian tipis yang terukir jelas diwajahnya. “Pervy daddy… really such a pervy daddy.”

.

.

.

.

.

Rumah Keluarga Cho

.

.

“Kie pelgi!”

“Eih…?”

Namja kecil itu menatap horor pada yeoja mungil yang semakin duduk merapat dan memeluk namja yang lebih kecil darinya itu. Yeoja kecil itu, Cho Minhyun. Ia menatap tajam pada Kim Jongki, sembari memeluk erat mainannya dan juga Zhoury.

“Iya! Pelgi!” Minhyun kembali berteriak keras sambil mendorong pelan tubuh Jongki.

“Alaso!” Jongki  sama keras kepalanya dengan Minhyun. Dan ia mendelik, dan juga berteriak bahkan lebih keras dari Minhyun dan ia juga menatap tajam pada Minhyun.

Kedua anak kecil itu saling menatap tajam hingga Jongki yang masih saja memutar tubuhnya dan menatap Minhyun yang berada di belakangnya, terus saja berjalan dan akhirnya menabrak Junior.

“Aww…”

Junior mengaduh saat mereka berdua jatuh bersama.

“Ah, mianhe.”

“Wae Kie hyung?” Junior bertanya dengan wajah polosnya. Ia memang sedari tadi sibuk bermain dengan Sunghyun dan tidak begitu mempedulikan pertengkaran kecil kedua adiknya itu.

“Min jahat.”

Jongki mengadu pada Sunghyun. Memang Sunghyun langsung menghentikan acara menyusun lego-nya saat ia mendengar pertengkaran itu. Ia hanya sibuk melihat tanpa ada niat sedikitpun melerai dua anak kecil itu. Hingga akhirnya dan memang selalu saja, Minhyun yang menang.

Ahni,  Kie jahat. Bukan Min!”

Minhyun menatap pada Sunghyun sembari jari telunjuknya menunjuk ke arah Jongki. Sedangkan Jongkie menatap Minhyun dan menunjuk ke arahnya.

“Min lupa cama Kie, Min cukanya main cama Lie. Kie ga cuka tau?”

Dan Minhyun tak kalah sengitnya, ia berteriak di depan Jongki tanpa mempedulikan wajah sepolos Zhoury yang hanya diam melihat pertengkaran kecil itu.

“Kie yang lupa cama Min. Maca Kie main cama Tetem telus tadi di cekolah. Min kan cendilian. Kie jahat!”

“Ish, Min juga jahat. Maca mainnya cama Lie telus. Lie kan macih kecil! Kie lebih cakep. Kelen lagih!”

“Hahahahhahaaa….” Minhyun tertawa keras dan berjalan mendekati Jongki. ”Maca kelen? Mana yang kelen, Kie? Lie lebih kelen. Wleee….” Minhyun menjulurkan lidahnya dan menyeret Zhoury untuk ikut berjalan dibelakangnya.

“Ish, Kie kelen tau! Lie chu macih kecil. Min!” Jongki memanggil Minhyun dengan volume suaranya yang paling keras. Tapi seakan tuli, Min tetap saja asyik bermain dengan Zhoury.

“Cinih, nuna ajalin main pecepe. Nanti betel cama nuna yah?”

“Eum…” Zhoury mengangguk patuh. Dan ia memang masih kecil, tak akan merasakan sebagaimana panasnya tatapan membunuh dari Jongki.

“Min! Ish… Min…!!!”

Tapi, semua hanya dianggap angiN lalu oleh Minhyun. Kasihan sekali, uri litlle Jongki. Akhirnya ia kini bermain dengan Sunghyun dan Junior. Dan Sunghyun, sebagai hyung tertua, ia…

“Cudah Kie, main cama hyung ajah. Cini.” Sunghyun menyeret Jongki untuk duduk didekatnya. “Main camah Hyung, ntal Chunnie hyung kacih talt.”

“Eum…”

Meski sedikit tak rela, tapi akhirnya Jongki ikut bermain. Dan disela permainan kecil mereka, Junior bertanya dengan seribu kepolosannya.

“Kie-ah…”

“Eeum…”

“Kie cuka benelan cama Min?”

“Eih…?”

.

.

.

.

Dan hari ti rumah benar-benar ramai. Zhoumi dan Henry menginap selama dua hari, dan begitu hari kepulangan Hangeng, mereka juga pamit pulang karena memang mereka meninggalkan cukup banyak pekerjaan saat berlibur ke rumah Cho.

Sangat disengaja memang, semua pelayan hari itu diliburkan. Hangeng sendiri terpaksa pulang dengan taksi, karena saat meminta supir untuk menjemputnya, supir mereka sudah pergi berlibur entah kemana. Dan kyuhyun sendiri, sudah mengajak twins dan Sungmin bermain ke botanical garden.

Tujuan Kyuhyun tadinya, membiarkan Heechul menjemput Hangeng  tapi sayang nyonya besar itu malah lebih memilih menyendiri di taman baru mereka. Sesungguhnya ia juga merindukan Hangeng, tapi ia kembali teringat dengan semuanya. Pengkhianatan dan kebohongan Hangeng yang semakin membuatnya membenci suaminya itu.

Hangeng masuk kedalam rumah megah itu. Rumah yang biasanya ramai, kini sangat sepi. Ia melangkah pelan menuju kamarnya. Dan ini bahkan masih sore, tapi ia tak menemukan siapapun didalamnya. Ia segera membersihkan diri dan berganti pakaian. Jujur, ia lapar.

Hangeng melangkah pelan menuju dapur. Sesekali ia melihat sekeliling, berharap akan menemukan sosok cantik yang biasanya selalu menyambutnya dengan pelukan dan ciuman hangat. Tapi, sosok itu tak muncul sampai ia selesai membuat Beijing Fried Rice kebanggaannya. Dua piring Beijing Fried Rice ditambah dengan dua gelas jus untuk menemani makan malam mereka.

Kemudian ia mulai mencari Heechul. Melangkah keseluruh penjuru rumah, hingga ia menemukan bayangan Heechul yang tengah duduk di taman mereka. Ia melangkah menuju Heechul, dengan senyuman yang selalu terlukis di bibirnya.

Dan sesungguhnya, ia memang tak bersalah dalam hal ini. Semua memang bisnis, dan ia juga tak melakukan apapun. Semuanya hanya salah paham, dan entah mengapa untuk kali ini salah paham diantara mereka tak seperti biasanya. Mungkin karena Heechul begitu sensitif akhir-akhir ini.

.

.

“Hei…”

Hangeng langsung memeluk Heechul dari belakang. Menyingkirkan rambut panjang Heechul dan mencium lehernya. Meresapi wangi lembut yang sangat ia rindukan akhir-akhir ini. Tapi Heechul sama sekali tak menikmatinya. Ia tersiksa, dan bahkan hampir menangis.

“Jangan menyentuhku dengan tanganmu. Aku tak mau bekas yeoja itu menempel di tubuhku.”

Heechul mencoba berdiri dari duduknya, dan dengan terpaksa Hangeng akhirnya melepaskan lengannya. Menatap punggung Heechul yang perlahan menjauh dari pandangannya. Dan ia hanya bisa menggeleng pelan. Untuk kemudian sedikit berlari dan menyusul Heechul ke dalam rumah mereka.

“Heenim,tunggu sebentar.” Hangeng meraih tangan Heechul dan menyeretnya ke ruang makan. “Lihatlah, aku memasak untukmu. Kajja, kita makan. Kau pasti merindukan masakanku. Sudah lama sekali aku tak memasak.”

“Aku sedang tak ingin makan. Kau makan saja sendiri.”

“Ayolah…”

Dan wajah tampan itu sangat patut dikasihani ketika sedang membujuk Heechul. Hingga mau tak mau, ia akhirnya juga memakan masakan Hangeng. Memang ia sangat merindukan masakan Hangeng, dan juga ia lebihmerindukan suaminya. Namun ia selalu kembali teringat dengan pengkhianatan Hangeng dan hal itu membuatnya sering melamun di waktu makan malam itu.

Hingga makan malam selesai, yang tercipta hanya keheningan. Dan tak seperti biasanya, Heechul mencuci piring mereka dan semua peralatan yang digunakan Hangeng untuk memasak. Karena biasanya, pasti ada pertengkaran kecil terlebih dahulu diantara mereka.

Dan hal ini membuat Hangeng mengerti, jika Heechul memang masih mengingat semua kejadian yang sempat ia lupakan, bahkan Hangeng juga berfikiran jika Heechul sudah melupakan hal itu. Ia mengekor di belakang Heechul, berjalan menuju kamar mereka.

Tersenyum miris saat melihat Heechul langsung berlari ke kamar mandi mereka. Melihat tubuh putih itu mulai tenggelam didalam air bathtub dengan wangi aroma therapy yang sungguh sangat jarang dipakai Heechul. Dan ia seakan hal itu menjadi pukulan untuk kesadarannya. Heechul benar-benar harus didinginkan.

Hangeng melepas semua pakaiannya dan melangkah menuju ke bathtub. Ia mendekati Heechul yang memejamkan kedua matanya, menikmati wangi yang cukup bisa menenangkan hatinya. Hangeng melepas bathrobe-nya dan masuk kedalam bath tub besar itu.

“Ahh… Hannie, kau…”

Heechul langsung beringsut mundur saat ia merasakan tubuh lain masuk kedalam bat tub besar itu. Ia sedikit kesal dan menatap malas pada Hangeng.

“Pergi saja. Bukannya kau sudah mandi. Menganggu kesenanganku saja.”

Tapi Hangeng tau, wajah memerah Heechul ini sangat langka dan ini artinya jika yeoja cantik itu memang sedang sensitive dan butuh perhatian lebih. Hangeng mendekati tubuh Heechul dan mencium pipi putihnya.

“Masih marahkah?”

“Kau pikirkan saja sendiri.”

“Jangan cemburu seperti itu. Kau tahu, aku merindukanmu.” Hangeng meraih tubuh Heechul kedalam pelukannya membuat tubuh mereka bertemu dan saling menempel satu sama lain. “Kau lebih dari semuanya, lebih dari siapapun dan aku mencintaimu lebih dari apapun.”

“Hei, kau pikir aku buta?” Heechul mencoba melepaskan lengan Hangeng yang melingkar di pinggang dan juga lehernya. Tapi ia benar-benar tak bisa melepaskan diri sekarag. Terlebih saat bibir Hangeng mulai menyentuh lehernya dan menghisapnya kuat.

“Eunghhhh…. lepaskan. Jangan… euhhhh….Hann… ahhh….”

Heechul tak bisa menghentikan lenguhannya saat satu tangan Hangeng beralih dari lehernya dan mulai meremas dadanya. Tubuh Heechul mulai memanas, dan ia bisa merasakan sesuat yang mulai menegang dibawah sanah.

.

.

Other Side

.

“Eunghhhh…. lepaskan. Jangan… euhhhh….Hann… ahhh….”

.

Suara itu masih terdengar meski samar dan Sungmin sadar, mereka pulang diwaktu yang salah.

“Kyu, sepertinya kita pulang diwaktu yang salah.”

“Kurasa tidak. Kita pulang diwaktu yang sangat tepat.”

Dan Sungmin bisa merasakan aura buruk disekitarnya. Ia bergegas menggendong Sunghyun yang tertidur pulas di pelukannya dan membaringkannya di bed mereka. Kemudian dengan cepat pergi ke kamar mandi dan menguncinya.

Kyuhyun hanya menyeringai kecil, kemudian meletakkan Minhyun dan mencium keningnya. “Minhyunie, tidur nyenyak ya.” Kemudian dia menuju Sunghyun dan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada Minhyun. “Sungie oppa, tidur nyenyak ya. Daddy mau membuatkan little Cho lain untukmu.”

Kemudian ia merogoh satu laci di meja kamarnya. Tersenyum penuh kemenangan menatap satu benda yang ia ambil dari laci itu. Kunci kecil itu berkilat memantulkan cahaya lampu kamar mereka yang samar.

“Minnie baby, Kyu appa merindukanmu…”

.

.

2BeecON…

.

.

ooOOoo CHICKEN SOUP FOR OUR FAMILLY ooOOoo

.

KYUMIN IS REAL

.

Gomawo untuk yang sudah review di chap sebelumnya.

CHICKEN SOUP FOR TEENAGE SOUL || Ch. 10 || YAOI | KYUMIN

 

CHICKEN SOUP FOR TEENAGE SOUL

 

 

 

 

 

Author : rainy hearT

 

 

Length : Series

 

 

Rated : T to M

 

 

Cast :

 

– Cho Kyuhyun

 

– Lee Sungmin a.k.a Cho Sungmin

 

– Other SUJU and SHINEE member

 

 

-KyuMin aegya :

 

~ Cho Sunghyun a.k.a Sungie (N)

 

~ Cho Minhyun a.k.a Minhyunie (Y)

 

~ Sandeul b1a4  a.k.a  Cho Kyumin (N)

 

 

Haehyuk aegya

 

                ~ Lee Eunhae a.k.a Junior (N)

 

 

-Yewook aegya

 

                ~Kim Jongki a.k.a Kie (N)

 

 

 

-Zhoury Aegya

 

                ~ Jinyoung b1a4 a.k.a Zhoury (N)

 

 

 

-Sibum Aegya

 

                ~ Baro b1a4 a.k.a Sibum                (N)

 

 

-Jungmo x Leeteuk

 

~ Gongchan a.k.a Baby Soo (N)

 

 

– Yeoja Cast (GS)

 

                ~ Leeteuk            ~ Junsu’ie            ~ Taemin

 

                ~ Heechul            ~ Jaejong             ~ Key

 

 

Pairing : KYUMIN and Other Pair

 

 

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan dan diri mereka sendiri. Tapi Kyuhyun dan Sungmin saling memiliki. Kyuhyun milik Sungmin, Sungmin milik Kyuhyun

 

 

Genre : Romance / Family/Fantasy

 

 

Warning : Boy x Boy / BL / YAOI, gaje, typo disana-sini, EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

 

 

Summarry : “Menjadi dewasa adalah IMPIAN. Setelah dewasa karena usia adalah BEBAN. Karena semua yang kita lakukan adalah sebuah bekal, untuk melangkah bersama menuju satu titik KEDEWASAAN. Dimana KEJUJURAN akan menjadi satu tali yang mengikat kebersamaan kita. Raih genggaman tanganku dan kita akan tumbuh bersama.”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

GAMSAHAE untuk yang selalu setia sama KYUMIN and menanti ff ini.

 

 

Be Patient with Me please. No Copas/No Bash. Don’t Like Don’t Read.

 

 

Mianhe, jika ceritanya semakin ngawur dan juga keluar dari KyuMin. Tapi inilah Chicken Soup.

 

Dimana kebersamaan dan kekeluargaan itu terasa nyata.

 

 

 

As a small present for OUR LOVELY AND THE GREATEST COUPLE

 

Let’s save their love, 13elieve in the name of 7ove….

 

.

 

.

 

HAPPY READING

 

.

 

.

 

CHICKEN SOUP FOR TEENAGE SOUL

 

.

 

Chapter 10

 

.

 

.

 

Ep. Hope

 

.

 

.

 

.

 

Notice me:

 

 

 

Ni keterangan Usia and tingkatan kelas mereka.

 

 

 

~ Senior High 3rd Grade :  Cho Sunghyun (17), Cho Minhyun (17), Kim Jongki (17), Junior (17), Taemin (15), Key (16), Minho (16), Onew (17).

 

 

 

~ Senior High 1st Grade :  Zhoury (15), Sibum (15)

 

 

 

~ Primary School  5th grade : Kyumin (10), Baby Soo (11)

 

 

 

.

 

.

 

.

 

 

 

Flashback~

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

Masih bergelut dalam kehangatan selimut dan sedikit bermandikan keringat yang mengering. Tangan dengan jari besar itu mengusap lembut rambut yang sedikit menutupi wajah cantik yang ada di pelukannya. Saling tersenyum dan meyakinkan satu sama lain, jika semuanya sudah pada jalannya.

 

 

 

“Kie…”

 

 

 

“Heum….”

 

 

 

Minhyunnie sedikit mengangkat wajahnya dan berangsur kembali menciumi wajah Kie. Menangkup kedua pipi penuhnya. “Saengil chukkae~”

 

 

 

Percintaan selanjutnya mereka lakukan di salah satu penginapan itu. Memang salah, dan mereka menyadarinya. Tapi hanya inilah yang bisa mereka lakukan, untuk saling berbagi dan mengisi. Menghapus kerinduan yang mungkin saja akan tetap ada. Atau setidaknya, menghapus semua pemikiran yang sama sekali tak boleh dibayangkan sekalipun.

 

 

 

Minhyun kembali mengeratkan pelukannya. Ia mengusap lembut dada telanjang Kie. Begitu banyak pemikiran yang ada di dalam otak Minhyun. Sesungguhnya ia juga sedikit ragu dan takut. Akankah ini akan cukup baginya. “Aku ingin selalu seperti ini, memeluk Kie dan bersama dengan Kie.”

 

 

 

“Tenanglah, aku akan selalu ada baby.”

 

 

 

Minhyun menyimpan semua perasaan kalutnya sejenak. Ia meremas kuat selimut tebal mereka, mencoba mengubur dalam rasa khawatirnya. “Baguslah, kuharap kau tak sedang mencoba membohongiku.”

 

 

 

“Ahni, tenanglah.”

 

 

 

Minhyun tersenyum kecil, meski pada kenyataannya mungkin tak akan seperti itu tapi setidaknya ini lebih baik daripada harus jatuh mulai sekarang.

 

 

 

“Ah, Kie~ bagaimana jika aku hamil?”

 

 

 

“Hahaha… bisa saja. Memang kau mau hamil?”

 

 

 

“Nde, tentu saja mau. Aku tak apa hamil dan mengurus baby. Masih ada Ming mommy dan juga pelayan dirumah yang akan membantuku. Kie akan bekerja dan aku akan menjaga baby.”

 

 

 

Kie menangkap wajah Minhyun dan menciumnya. “Benarkah akan seperti itu?”

 

 

 

“Tentu saja, kita akan bersama mengantarnya ke sekolah. Mengajaknya bermain di taman, berbelanja bersama. Dan baby Kie pasti sangat tampan seperti appanya. Dan~”

 

 

 

Kata-kata Minhyun terhenti. Melihat wajah Kie yang tak begitu senang dengan semuanya. Apakah Kie tahu perasaannya? Dan Minhyunnie tak bisa menahannya lagi. Satu per satu butiran basah jatuh di pipinya.”Hiks~ Kie…”

 

 

 

“Sudahlah~” Kie memeluk tubuh Minhyun kedalam pelukannya.

 

 

 

“Aku ~ hikss…. akan sangat senang jika kenyataannya seperti itu. Tapi~ Hikss…. Kie…”

 

 

 

Kie terus mencoba meyakinkan Minhyun. Ia lebih memilih diam dan terus mengusap lembut punggung yeoja itu. “Percaya padaku, semua akan baik-baik saja baby.”

 

 

 

“Berjanji padaku Kie…”

 

 

 

“Apa?”

 

 

 

“Kau juga akan baik-baik saja, dan akan selalu bersamaku.”

 

 

 

Kie terdiam sejenak.

 

 

 

“Berjanji jika kita akan bersama selamanya, bersama dengan aegya kita. Kau akan bekerja dan aku akan mengurus mereka. menjadi keluarga yang sepenuhnya dan bahagia. Berjanjilah Kie.”

 

 

 

“A-aku…”

 

 

 

“Hikss… jebal Kie…”

 

 

 

“Nde baby, aku berjanji.”

 

.

 

 

 

.

 

 

 

Flashback Off

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

Ceklek…

 

 

 

.

 

 

 

Sungmin membuka  pintu kamar Minhyun. Ia kemudian hanya terdiam di ambang pintu itu. Terhenti disana dan hanya melihat dari kejauhan. Betapa terpukulnya putri kecilnya itu. Dengan wajah sendu dan terus saja memeluk boneka bunny yang sedikit usang termakan usia.

 

 

 

Air mata tak kunjung berhenti keluar dan membasahi pipinya. Sungmin tahu perasaan ini. Perasaan yang sama dimana ia menyadari jika aegyanya dulu telah meninggalkannya. Terpukul dan mencoba kuat, tapi ini berbeda.

 

 

 

Minhyun menyaksikan sendiri bagaimana janin itu di tawan oleh Schnee. Tak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkannya. “Hikss…” Kembali Minhyun mencoba menghentikan tangisnya. Tapi yang ada malah semakin terasa sakit dan perih, semakin ingin menangis terus menerus.

 

 

 

Disaat seperti ini yang ia inginkan hanyalah Kie. Dan ia sendiri bahkan tak tahu, bagaimana Kie akan melakukan semuanya. Menyelamatkan Wookie dan kembali ke dunia manusia.

 

 

 

“Hikss….. “

 

 

 

Sungmin lebih memilih membiarkan Minhyun sendiri. Untuk saat seperti ini ia tahu persis jika kesendirian akan lebih baik daripada ia menemaninya. Akan semakin menambah kesedihan, dan lagi pula ia sendiri tak mampu berbuat banyak untuk Minhyun.

 

 

 

Sungmin kemudian menutup kembali pintu kamar itu. Dan saat ia berbalik, kembali harus dikejutkan oleh kehadiraan Kyuhyun dibelakangnya. “Kyu~”

 

 

 

Kyuhyun hanya tersenyum kecil dan kemudian meraih tangan Sungmin dan membawanya pergi dari sana. “Kau tak hanya punya Minyun, Ming. Kyumin dan Sunghyun juga membutuhkanmu. Mereka sama sedihnya denganmu saat melihat keadaan Minhyun. Meski mereka terlihat baik-baik saja, tapi tak berarti kau bisa melupakan mereka. Mereka juga membutuhkanmu. Arraseo?”

 

 

 

“Kyunie~ Mianhe…”

 

 

 

Kyuhyun mencium kecil pipi Sungmin. “Kajja, makanlah. Mereka sudah menunggumu. Nanti setelah mereka ke sekolah, kau bisa mengurus Minhyunie.”

 

 

 

Sungmin mengangguk kecil dan melempar senyum sebisanya. Ia harus terlihat baik-baik saja dan tegar. Tak mungkin ia menunjukkan air mata dan kesedihannya hingga kemudian mengacuhkan aegya yang lainnya.

 

 

 

Sungmin mendekati Kyumin dan memeluknya. “Mianhe baby…”

 

 

 

Kyumin hanya mengangguk kecil dan kemudian menyodorkan susunya pada Sungmin. “Minumlah mommy, kau tak terlihat baik-baik saja. Jangan terlalu memikirkan Minnie noona.”

 

 

 

Sungmin hanya bisa tersenyum miris dan mencium pucuk kepala Kyumin. “Mianhe baby.” Sungmin kemudian duduk di kursinya, tepat di sisi Sunghyun. Namja mungil itu kemudian menggenggam erat tangan Sungmin.

 

 

 

“Tenanglah Mommy, beberapa hari lagi pasti semuanya kembali seperti semula.”

 

 

 

Sungmin mengangguk pada Sunghyun. “Kau tahu, kau yang terbaik Sungie. Mianhe, Mommy tak bisa berbuat banyak hal untuk Minhyun.”

 

 

 

Sunghyun hanya mengangguk. Ia kemudian membawa sarapannya, meninggalkan meja makan itu dan menuju ke kamar Minhyun. Entah bagaimana caranya, seakan ada tali yang menariknya untuk mendekat pada Minhyun. Meski disaat seperti ini, Minhyun sama sekali tak bisa ditenangkan dengan mudah tapi setidaknya Sunghyun harus bisa membujuknya makan. Tubuhnya semakin lemah, dan Sunghyun bisa merasakannya.

 

 

 

“Minnie~”

 

 

 

Dengan cepat Minhyun mencoba menghapus berkas air mata di pipinya. Mencoba berpura-bura masih tidur sambil memeluk boneka bunny usangnya.

 

 

 

“Jangan berpura-pura tidur, Minnie. Aku tahu.”

 

 

 

Sunghyun meletakkan makanan mereka di meja kecil yang ada di sisi tempat tidur itu. Berusaha membawa tubuh Minhyun untuk duduk dan menyuapinya. Minhyun yang memang tak tertidur  kemudian membuka mata dan menatap sendu pada Sunghyun.

 

 

 

“Gwenchana.” Ki mengambil satu suapan bubur dan menghadapkannya pada Minhyun. “Say aaaahhh…”

 

 

 

Minhyun menggeleng.

 

 

 

“Ayolah Minnie, kau harus makan. Kajja, say aaaahhh…”

 

 

 

“Oppa~”

 

 

 

Sunghyun kembali meletakkan sendok itu ke mangkuknya. Ia kemudian mengambil suus untuk Minhyun. “Setidaknya,kau minum susunya. Bagaimana jika Kie kembali nanti, kau terlihat menyedihkan.”

 

 

 

“Aku tak terlihat seperti itu. Aku masih tetap cantik, Oppa.”

 

 

 

“Ah, benarkah?” Sunghyun mencoba menggoda Minhyun. “Aku lihat sekarang, bahkan Taeminnie lebih cantik darimu. Dan juga Key, dia seribu kali lebih cantik dan kau terlihat menyedihkan.”

 

 

 

.

 

Pukkkk

 

.

 

 

 

“Oppa! Bagaimana bisa kau menghinaku begini? Aku ‘kan sedang sedih.”

 

 

 

“Ah ya, mianhe.” Sunghyun kembali mengambil sendok bubur itu. “Makanlah, atau kau akan terlihat kurus. Kau bilang, Kie tak menyukai yeoja kurus. Jadi kau harus makan agar tubuhmu itu tak semakin menyusut.”

 

 

 

“KYA! OPPA!”

 

 

 

“Aeum…” Sunghyun berhasil memasukkan suapan itu ke mulut Minhyun yang sedikit terbuka. Dan saat Minhyun tengah berusaha menelan makanannya. Sunghyun mencium pipinya dan mengusapnya. “Tidak akan terjadi apapun, dan harusnya kau percaya jika semuanya untuk kebaikan. Lagi pula, aegyamu akan menjadi raja. Bukankah kau harusnya senang akan hal itu? Dan~”

 

 

 

Sunghyun menghentikan kata-katanya. Kemudian menatap penuh selidik pada Minhyun. “Mwo? Kenapa melihatku seperti itu?”

 

 

 

“Ahahaha~ aku pikir kalian akan bisa membuatnya lagi, bahkan mungkin lebih banyak lagi.”

 

 

 

“KYA! OPPA! APA MAKSUDMU?”

 

 

 

“Ahahhaa…. mianhe Minnie… ahhhahaha…. “

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

“Ikuti cahaya ini. Kau akan sampai ketempat dimana salju abadi itu. Salju abadi hanya bisa kau sentuh jika hatimu bersih. Kau bisa mengambilnya sebanyak yang kau mau. Tempatkan dia di pot bunga snowdrop dimana Wookie mengering.”

 

 

 

“Semudah itu ‘kah?”

 

 

 

Schnee mengangguk. “Memang semudah itu, tapi kau tak boleh terbang. Hanya boleh berjalan kaki.”

 

 

 

Kie tertegun. Ia menatap tak mengerti pada Schnee. “Berapa hari aku bisa kesana?”

 

 

 

“Paling cepat 14 hari dan jika kau berhasil, maka kau akan langsung kembali ke dunia manusia. Meninggalkan dunia peri selamanya.”

 

 

 

Kie terdiam. Ada satu hal yang masih saja mengganggu pemikirannya. Keadaan Minhyun selanjutnya dan juga baby mereka. Dan lebih menyakitkan lagi, bahwa ia bahkan belum melihat janin itu. Hanya berupa cahaya yang terus terkurung di ujung tongkat Schnee. “Tapi aegyaku~ Bisakah kau mengembalikannya? Aku tak yakin dia akan menjadi rasa disini, jadi ~bisakah kau_”

 

 

 

Schnee tersenyum kecil. “Kau benar-benar rakus. Aegyamu sudah menjadi milikku dan jangan pernah berharap kau akan bisa menemuinya. Semua pemikiran Minhyun tak akan hilang dari ingatannya. Semuanya, termasuk janin itu. Kurasa membalas kalian dengan sedikit saja perasaan bersalah adalah hal bagus. Aku akan tetap membiarkan ingatan kalian, membiarkan kalian merasakan bagaimana perasaan kaumku. Dan satu hal lagi, dia milikku.”

 

 

 

Kie menatap wajah angkuh Schnee. Begitu banyak pertanyaan berkecamuk di otaknya. “Apakah begini sifat seorang peri yang angkuh dan sama sekali tak berperasaan?”

 

 

 

Schnee menatap tajam pada Kie. “Jangan mencoba menceramahi atau menghinaku. Beginilah caraku menjaga kerajaan peri, atau tak akan ada lagi bunga snowdrop di dunia ini. Sebaiknya kau cepat pergi dan jangan lagi menggangguku.”

 

 

 

Schnee kemudian terbang semakin meninggi. Menggantungkan tongkatnya ke atas awan yang sedikit menghitam. “Awan ini akan semakin memutih saat matahari hitam perlahan menghilang. Dan biarkan janin itu tumbuh atas kuasaku, bisa kupastikan dia akan hidup lebih baik disini. Seorang peri harus kembali ke kaumnya. Bukan mengikuti pemikiran bodoh appamu atau kau sekalipun. Kalian~ adalah perusak peri bangsawan.” Schnee menatap penuh kepuasan pada tongkatnya yang menjadi pengukur kekuatan matahari hitam.

 

 

 

Wajah cantik itu terlihat sedikit menakutkan. Begitukah soosk yang begitu diagungkan oleh rakyat Kerajaan Peri? Sayangnya, tak ada yang mengetahui keangkuhan itu kecuali Kie. Disini, ditempat terpencil~ tempat paling tinggi di kerajaan peri. Tempat dimana Kie akan segera memulai perjalanannya.

 

 

 

Meski dari kejauhan, Kie bisa melihat wajah Schnee yang penuh dengan kepercayaan diri dan juga senyuman kemenangan. “Bagaimanapun, kalian juga harus merasakan bagaimana kami saat kehilangan sahabat kami? Satu jiwa sama sekali tak ada artinya dibandingkan dengan beribu jiwa yang telah mati karena matahari hitam itu.”

 

 

 

Dan Schnee terus terbang tinggi hingga menghilang dari tempat itu. Tempat serupa dengan tepi tebing salju yang tinggi dan curam. Mengharuskan Kie untuk menuruninya seorang diri. Sementara itu cahaya di depannya mulai bergerak perlahan dan kemudian terbang memaksa Kie harus bersusah payah.

 

 

 

Kie mencoba meyakinkan dirinya sendiri jika ia bisa melakukannya. “Minhyunnie-saranghae. Umma, saranghae. Hwaiting!!!!” Berteriak keras kemudian berlari cepat menyusul cahaya itu.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

“Jadi bagaimana keadaannya sekarang?”

 

 

 

Yesung mengangkat wajahnya dan kemudian berjalan menjauhi 2 namja tampan yang sedang mengunjunginya. Ia berhenti di pot bunga snowdop dengan tanah keringnya. Bunga yang sudah sangat mengering, dan mungkin bisa terbang terbawa angin yang sedikit kencang di luar sana.

 

 

 

“Dan kenapa kau tak mengatakan apapun tentang hal ini? Meski tak membantu, tapi kami akan menunjukkan  kepedulian kami padamu. Seperti memperhatikan makanmu, misalnya. Iya ‘kan Hyukkie?”

 

 

 

“Ne, kurasa juga begitu. Kau terlihat buruk, dan itu mungkin yang menjadi alasan Kie terus saja menumpang sarapan di rumah Ming, ahhahhaa….” Hyukkie mencoba tertawa, setidaknya mungkin Yesung akan ikut tertawa.

 

 

 

Tapi sayangnya tidak begitu. Namja itu hanya menggeleng dan tersenyum miris. “Aku hanya berusaha menjadi kuat disaat aku sendiri seperti ini. Rasanya seperti tak ada yang menyayangiku lagi. Bahkan tak ada seorangpun yang mau hidup denganku sekarang. Bukankah sangat menyedihkan?”

 

 

 

Yesung menatap kosong kearah depannya. Satu per satu butiran salju turun tapi sama sekali tak bisa membantunya menenangkan dan ,mendinginkan pemikirannya. “Lebih takut lagi jika Kie tak bisa kembali. Apakah aku juga akan menghilang?”

 

 

 

“Yesungi~”

 

 

 

Hae berjalan mendekat. Ia berusaha bersikap sebiasa mungkin. Ia juga merasakannya, bagaimana saat kehilangan orang yang kalian sayangi? Sama seperti saat Yunho meninggalkannya dan Jaejongie terus saja bersedih. Tak ada yang bisa ia lakukan, selain hanya seperti saat ini.

 

 

 

Memeluk tubuh Yesungie dan menangis bersamanya. “Aku tahu ini sangat berat. Tapi mencoba untuk tak terlalu larut. Akan sangat konyol jika kita tak bisa sama sekali mengontrol semuanya, bukankah kita harus kuat untuk orang yang kita miliki. Lebih baik menyimpan semuanya dalam hati sendiri dan tersenyum pada orang lain. Jangan biarkan mereka berfikir jika kau lemah.”

 

 

 

Yesung hanya diam dipelukan Hae. Sementara Hyukkie, ia tak akan mengganggu kedua namja itu. Hanya tersenyum saat melihat Hae berusaha keras menahan tangisannya. Ia bukan namja yang kuat, tapi mencoba menguatkan orang lain. Ia bahkan tak bisa menahan tangis saat Yunho meninggal karena serangan jantung itu. Tapi menceramahi orang lain dan terus mengatakan seakan ia kuat.

 

 

 

“Paboya Lee Donghae~”

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

“Bagaimana Minhyunnie?”

 

 

 

“Aku rasa dia akan baik-baik saja. Mungkin bahkan jauh lebih baik dari hari kemarin. Aku sudah memaksanya makan, dan perasaanku mengatakan jika Mommy bisa membuatnya lebih tenang.”

 

 

 

Junior mengangguk dan kemudian meraih tangan kanan Sunghyun. Memasukkannya ke mantel hangatnya. Sunghyun menoleh, dan mereka saling melempar senyum.

 

 

 

“Agar kau tak kedinginan.” Junior kemudian berhenti dan membenarkan mentel Sunghyun. “Aku yang bodoh atau kau yang bodoh. Sudah tau hujan salju, tapi malah keluar dari sekolah.”

 

 

 

Sunghyun tertawa kecil. “Entahlah, aku hanya ingin menikmati salju saja. Rasanya seperti merindukan Wookie Umma dan Kie. Bagaimana keadaan Kie disana?”

 

 

 

Mereka kembali berjalan, menikmati dinginnya pagi hari dengan hujan salju yang tak begitu lebat itu. “Sudahlah, jika bersamaku jangan mencoba memikirkan apapun yang membuatmu bersedih. Terlihat sangat konyol dan mungkin saja orang yang menatap kita berfikir jika aku telah berlaku jahat atau menjahilimu.”

 

 

 

“Hahhaa…”

 

 

 

Mereka berdua tertawa bebas. Berbaur dengan begitu banyak orang yang juga memilih untuk menikmati salju. Berhenti di taman yang sudah penuh dengan tumpukan salju dan saling melempar satu sama lain.

 

 

 

“Ya!”

 

 

 

“Hhahhaa…. hyung! Awas! Aku akan membalasmu!”

 

 

 

“Hahaha….”

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

“Momy, apakah Kie akan kembali?”

 

 

 

“Nde, tentu saja. Bukankah kau percaya padanya?”

 

 

 

“Eum…” Minhyun mengangguk dan terus menatap hujan dari jendela kamarnya. “Biasanya jika hujan salju seperti ini, aku dan Kie akan duduk bersama di depan toko ice cream di dekat sekolah. Dia akan memelukku dan memastikan aku tidak kedinginan. Meski kadang dia payah dan bahkan bersikap aneh, tapi dia punya cara tersendiri untuk memanjakan aku.” Minhyun tertawa kecil.

 

 

 

Minhyun kemudian menoleh penuh pada Sungmin dan menumpukan wajahnya diatas kedua lututnya. Pikirannya menerawang jauh dan terus menatap lekat pada Sungmin. “Wajah Kie sangat tampan Mommy~” Dan Sungmin hanya bisa diam mendengarkan Minhyun. “Aku sangat mencintainya, dan kau tahu Mommy~ aku bahkan belum pernah berpisah seperti ini dengan Kie.”

 

 

 

Sungmin bisa melihatnya. Bagaimana kedua mata cantik itu terus mengerjap menahan panas yang memaksanya untuk menangis, Minhyun sudah berusaha keras untuk tak memikirkannya. Tapi tetap saja~

 

 

 

“Hiks… bahkan aku selalu memeluk Kie setiap hari. Hikss…. mommy…”

 

 

 

Sungmin pun tak bisa menahannya. Ia tahu bagaimana sakitnya perasaan Minhyun. Ia memilih merengkuh Minhyun dalam pelukannya dan berusaha menenangkannya. “Menangislah baby, ungkapkan semuanya. Mommy akan mendengarkanmu.”

 

 

 

Minhyun menggeleng cepat. Ia semakin terisak, dan semakin erat memeluk Sungmin. “Bahkan Kie tak pernah berbohong padaku. Hikss… ini pertama kalinya dia berbohong padaku. Dia berjanji akan selalu bersamaku, Mommy. Dia berbohong. Hikss…. Kie berbohong.”

 

 

 

Sungmin hanya diam dan terus memeluk tubuh Minhyun. Saat ini ia hanya perlu menjadi pendengar yang baik bagi Minhyun. Tak ada yang hal lain yang bisa ia lakukan dan sayangnya Minhyun hanya menginginkan Kie saat ini, bukan yang lain.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

“Ahhhhh…!!!”

 

 

 

Kie berteriak keras saat ia terperosok jatuh ke dasar tebing yang tinggi. Tubuhnya teras anyeri, terlebih pada kakinya yang tak sengaja menabrak pohon besar.

 

 

 

“Minnie~ Akhh… neomu appo…”

 

 

 

Cahaya itu berhenti didekat Kie. Seakan memiliki wajah dan tersenyum padanya. Pandangan Kie semakin mengabur. “Ahhh… jebal~ aku tak mau begini.” Kie berusaha bangkit namun akhirnya ia kembali jatuh dan tak sadarkan diri.

 

 

 

Sementara itu, dikejauhan~ yeoja dengan rambut panjangnya tersenyum menatap Kie. “Permainan baru dimulai.”

 

.

 

 

 

.

 

 

 

TBC

 

.

 

.

 

.

 

.

 

 

 

Hadeh,udah lama… jelek… gaje pula. Hahaa…. sudahlah~ Mianhe atas ke-lama-an updatenya.

 

 

 

Abaikan kegajean story fantasi yang ga jelas ituh, hehehe…

 

 

 

Abaikan juga typo (S) yang berserakan *mungutin sampah*

 

 

 

#plakkk#

 

 

 

Mind to RCL?

 

 

 

GAMSAHAMNIDA

^____^

 

Chicken Soup for Teenage Soul || KyuMin ||YAOI || CH. 9

CHICKEN SOUP FOR TEENAGE SOUL

 

 

Author : rainy hearT

 

Length : Series

 

Rated : T to M

 

Cast :

– Cho Kyuhyun

– Lee Sungmin a.k.a Cho Sungmin

– Other SUJU and SHINEE member

 

-KyuMin aegya :

~ Cho Sunghyun a.k.a Sungie (N)

~ Cho Minhyuna.k.a Minhyunie (Y)

~ Sandeul b1a4  a.k.a  Cho Kyumin (N)

 

Haehyuk aegya

                ~ Lee Eunhae a.k.a Junior (N)

 

-Yewook aegya

                ~Kim Jongki a.k.a Kie (N)

 

-Zhoury Aegya

                ~ Jinyoung b1a4 a.k.a Zhoury (N)

 

-Sibum Aegya

                ~ Baro b1a4 a.k.a Sibum                (N)

 

-Jungmo x Leeteuk

~ Gongchan a.k.a Baby Soo (N)

 

– Yeoja Cast (GS)

                ~ Leeteuk            ~ Junsu’ie            ~ Taemin

                ~ Heechul            ~ Jaejong             ~ Key

 

Pairing : KYUMIN and Other Pair

 

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan dan diri mereka sendiri. Tapi Kyuhyun dan Sungmin saling memiliki. Kyuhyun milik Sungmin, Sungmin milik Kyuhyun

 

Genre : Romance / Family/Fantasy

 

Warning : Boy x Boy / BL / YAOI, gaje, typo disana-sini, EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

 

Summarry : “Menjadi dewasa adalah IMPIAN. Setelah dewasa karena usia adalah BEBAN. Karena semua yang kita lakukan adalah sebuah bekal, untuk melangkah bersama menuju satu titik KEDEWASAAN. Dimana KEJUJURAN akan menjadi satu tali yang mengikat kebersamaan kita. Raih genggaman tanganku dan kita akan tumbuh bersama.”

.

.

.

.

GAMSAHAE untuk yang selalu setia sama KYUMIN and menanti ff ini.

 

Be Patient with Me please. No Copas/No Bash. Don’t Like Don’t Read.

 

Mianhe, jika ceritanya semakin ngawur dan juga keluar dari KyuMin. Tapi inilah Chicken Soup.

Dimana kebersamaan dan kekeluargaan itu terasa nyata.

 

As a small present for OUR LOVELY AND THE GREATEST COUPLE

Let’s save their love, 13elieve in the name of 7ove….

.

.

HAPPY READING

.

.

CHICKEN SOUP FOR TEENAGE SOUL

.

Chapter 9

.

.

Ep. Power

.

.

.

Notice me:

 

Ni keterangan Usia and tingkatan kelas mereka.

 

~ Senior High 3rd Grade :  Cho Sunghyun (17), Cho Minhyun (17), Kim Jongki (17), Junior (17), Taemin (15), Key (16), Minho (16), Onew (17).

 

~ Senior High 1st Grade :  Zhoury (15), Sibum (15)

 

~ Primary School  5th grade : Kyumin (10), Baby Soo (11)

 

.

.

.

 

Kerajaan Peri

 

.

 

.

 

.

 

Terdengar rakyat di kerajaan itu berbisik lirih. Sang Raja Peri terlihat tak senang, dan telinganya cukup peka untuk mendengarkan apa yang rakyatnya bicarakan.

 

“Aku adalah Raja kalian. Tak ada hak untuk peri Rendahan meski itu Peri bangsawan sekalipun. Akulah yang terpilih dan akan memimpin kalian. Jangan bergunjing di belakangku, atau kalian akan aku musnahkan!”

 

Dan untuk sejenak kumpulan peri itu diam. Dan kembali mereka menyorakkan keagungan untuk rajanya. Raja Peri mengangguk puas dan kemudian terbang meninggalkan kumpulan rakyatnya. Menuju ke istana kecil yang terbuat dari kumpulan salju.

 

Dari singgasananya sekarang, terlihat jelas jika tabung di persembahan altar itu semakin lama semakin memancarkan sinarnya. Ia tersenyum puas, sementara Kie…

 

Ia terus menunduk dan memainkan jarinya. Ia sangat cemas. Begitu cemas hingga tak bisa memikirkan apapun lagi. Merasa ada yang menatap, akhirnya Kie memberanikan menoleh k arah kirinya.

 

“Harabeoji…” Suara Kie terhenti, ia sedikit ngeri saat melihat raut datar Raja peri itu.

 

“Waeyo? Terus memandangi tabung itu, kau pikir dia akan mati?”

 

“Ahni, aku hanya… eum…”

 

“Jangan takut. Aku hanya memakai calon anak kalian.”

 

“Tapi bagaimana bisa dia hamil? Aku bahkan hanya melakukannya 2 kali dan itu dalam waktu yang berdekatan. Dan aku ha…”

 

“Hei!!”

 

.

Pletakkk…

.

 

Raja Peri memukul kepala Kie dengan tongkatnya. “Bagaimana seorang calon raja mengatakan hal se-privat itu dengan seenaknya. Cih… “

 

“Ah…. Mianhe harabeoji.”

 

Raja peri menggeleng melihat kepolosan dan kebodohan Kie. Terlebih wajah anehnya membuat sang raja tak bisa mengatakan apapun lagi. “Kau ini terlalu mirip dengan peri rendahan itu, sampai otak bodohnya itu pun kau ikuti. Ck…. harusnya kau mengikutiku, meniru watak dan pemikiranku. Babo!”

 

Kie hanya mempoutkan bibirnya. “Aku tidak bodoh, hanya saja… aishhh… sudahlah…”

 

Dan Kie lebih memilih melihat tabung yang di gantung di altar. Tabung dengan cahaya yang hampir menerangi seluruh kerajaan. “Minnie baby… mianhe…”

.

 

.

 

.

 

Matahari semakin tinggi dan kini cahaya yang keluar dari tabung yang berisi jiwa Minhyun semakin terang. Perlahan Raja Peri bangkit dari singgasananya dan kemudian meniup kecil sebuah peluit yang tersemat di jari kelingkingnya.

 

Dan dengan cepat semua peri terbang dan berkumpul kembali di istana itu. Pandangan mereka tertuju pada satu titik. Dimana Schnee akan muncul di dalam sinar yang ada di tabung itu.

 

“Kita akan menyambut peri salju abadi. Berbahagialah untuk kemenangan salju diatas panas matahari. Dimana kita bisa hidup karena semua kebaikannya.”

 

“Hidup Raja Peri Zheech!”

 

Seruan seluruh rakyat itu mengembangkan satu senyuman di bibir raja peri. Ia tertawa terbahak dan kemudian terbang dengan kedua sayap kecilnya. “Rakhie, Putra Mahkota. Cobalah terbang dan gapailah tabung itu.”

 

“Terbang?”

 

“Ya, terbang.”

 

Kie beranjak dari duduknya dan mulai merasa gugup. Sebagai putra mahkota, ia bahkan sama sekali tak bisa terbang. “Tapi aku tak~”

 

“Jangan mengatakan apapun. Cukup berusaha untuk mengepakkan sayapmu dan mencoba membawanya terbang bersama angin dingin di kerajaan ini.”

 

Kie menggeleng. Ia merasa tak mamu dan sangat payah. “Bahkan semua peri bisa, tapi aku~”

 

“Baiklah, jika kau memang tak mau mencobanya. Asalh kau tau saja, jika kau tak bisa menyentuh tabung itu maka selamanya kau akan tetap duduk disinggasanaku dan kehilangan semuanya.

 

“Harabeoji…” Kie berbisik lirih dan menatap tak percaya pada Raja peri itu. “Ini adalah salah satu syarat dari kemunculan Schnee. Aku juga tak mau selamanya kerajaan peri harus kehilangan satu per satu peri yang mati karena matahari hitam yang membakar salju kami.”

 

Satu peri dengan sayap pink terbang mendekati raja. “Sudah hampir waktunya, yang mulia. Jika Putra Mahkota tak segera menyentuh tabung itu maka mungkin Schnee akan menghilang kembali.”

 

Raja Peri mengangguk dan kemudian kembali meoleh pada Kie. Posisi mereka sudah agak berjauhan, dan sementara Raja peri sudah terbang tak jauh di atas Kie. “Kau yang menentukan, apakah Wookie akan hidup atau mati? Atau kau lebih memilih kehilangan keduanya dan tak melakukan apapun?”

 

Kie menunduk dan mencoba menyembunyikan kekesalannya. Kekesalan pada dirinya sendiri dan juga hukum di kerajaan itu. Belum juga ia sembuh dari perasaan berat dan terlukanya karena harus merelakan calon anaknya, ia kembali harus dihadapkan pada satu keadaan yang benar-benar sulit.

 

“Kau akan mencoba terbang atau tidak?!” Raja Peri sedikit menggeram marah karena Kie tak kunjung selesai dengan pemikirannya. Hingga akhirnya raja peri memerintahkan salah satu Peri bangsawan untuk mendekati tabung itu bersamanya. “Putra Mahkota sama sekali tak menginginkan Schnee. Lebih baik kita turunkan dan buang saja tabung jiwa ini.” Raja peri berkata dengan sedikit keras. Jelas-jelas ia tengah mencoba membangkitkan semangat Kie untuk terbang.

 

Perlahan Kie melangkah pelan, memajukan tubuhnya hingga ia berada di tepi lantai altar. “Tapi, aku~ Bagaimana jika aku…” Kie menatap yakin tak yakin pada Raja Peri yang masih terbang diatasnya.

 

Raja Peri menggeleng tak percaya, kemudian ia memerintahkan pada beberapa peri lain yang bercahaya pink yang sudah berkumpul mengelilingi tabung jiwa itu untuk segera menurunkan tabung jiwa Minhyun. “Turunkan saja. Putra Mahkota tak akan melakukannya.”

 

Beberapa peri itu langsung mendekat dan mulai mengulurkan tongkat mereka. Kie terus menggeleng tak percaya. Tempat penggantungan tabung itu sungguh tinggi dan bagaimana bisa dia menjangkaunya.

 

“Minhyunie….” Kie bergumam lirih dan ia mulai memejamkan matanya. “Tunggu sebentar!” Teriakan itu menghentikan pengucapan mantra oleh peri bangsawan yang sudah mengelilingi tabung jiwa Minhyun. “Aku akan mencobanya.”

 

Raja peri memberi isyarat untuk semua peri bangsawan itu agar mereka menyingkir. Sementara itu, Kie berjalan perlahan hingga akhirnya ia menyentuh batas terakhir antara halaman singgasana dengan jurang yang membuat istana itu terlihat begitu tinggi.

 

Halaman yang begitu dingin dan licin dengan lantai salju bekunya, membuat Kie kembali diselimuti keraguan. Ia memejamkan rapat kedua tangannya dan~

 

“Rakhie!!!”

 

Raja Zeech berteriak keras saat tubuh Kie jatuh begitu saja ke jurang bawah yang begitu dalam. Semua mata peri itu melihat  ke arah Raja Peri, mereka sama-sama berfikir~ mengapa raja peri tak menolong putra mahkota?

 

Yeah~ memang raja peri itu hanya meringis perih dan juga menggeleng tak percaya. “Bagaimana bisa kau melakukannya? Dasar bod~”

 

.

Syuuut~

.

 

“Hidup putra mahkota! Hidup Pangeran Rakhie!”

 

Seluruh peri itu tersenyum dan mengagungkan nama Putra Mahkota kerajaan mereka. sementara Raja Peri tersenyum puas dan mengangguk yakin saat melihat kepakan sayap bersinar hijau itu melintasinya.

 

Kie langsung terbang dan mendekati tabung jiwa Minhyun. Beberapa peri yang ada disekitar tabung itu perlahan menjauh dan membiarkan Kie menyentuhnya. Tabung yang berupa seperti lampion kecil bercahaya pink pucat itu semakin menguarkan wangi khas musim salju yang dingin.

 

Kie mengulurkan tangannya dan menyentuh perlahan pada lapisan kaca tabung itu. “Schnee~ Ibu dari semua peri salju~ kumohon… datanglah.”

 

Kie memejamkan matanya dan perlahan ia semakin bisa merasakan hangat di tangannya, hingga akhirnya ia kemudian bisa merasakan dingin yang perlahan mulai merasuk ke tubuhnya. Entahlah, tapi saat merasakannya~ perlahan Kie mencoba untuk membuka matanya.

 

Sesaat, semua waktu terasa berhenti. Ia begitu terpana dengan sesosok peri cantik dengan rambut putih panjangnya. Tiara kristal bening itu terlihat begitu cantik.

 

“Kuagungkan namamu! Hidup Schnee…!”

 

Raja Peri membimbing seluruh rakyat kerajaannya untuk menunduk dan terbang bersamaan mengelilingi Schnee.  Peri cantik itu hanya mengangguk perlahan dan kemudian meraih dagu Kie dan mengangkatnya. Ia tersenyum kecil dan kemudian menjauhkan tubuhnya dari Kie.

 

“Kenapa kau memanggilku, Zeech…”

 

Raja Peri mendekat pada Schnee dan membungkuk hormat. “Maafkan aku karena aku tak sanggup menjaganya.”

 

“Apa maksudmu?”

 

Raja Peri mengangkat wajahnya dan kemudian meraih bahu Kie dan memeluknya. “Ceritanya sungguh panjang dan aku yakin kau sudah mengetahuinya.” Raja menoleh pada Kie. “Dia adalah Putra Mahkota pengganti Wookie.”

 

Schnee merengut bingung. “Bagaimana bisa dia diganti? Kau tak berhak mengganti seenakmu tanpa perintah dariku. Dan apa yang aku ketahui? Aku tak tahu apa-apa.”

 

“Maafkan aku Schnee, aku tak bisa mencegahnya. Tapi bukan hal itu yang menjadi masalahnya, sebenarnya aku memanggilmu ini karena~”

 

“Apa?”

 

Raja tak kunjung menjawab. Ia menoleh ragu pada Kie. Dan kemudian Kie mengangguk ragu. “Aku tak tahu bagaimana pastinya tapi, Wookie Umma~ dia…”

 

“Umma?” Schnee menoleh tajam pada Raja Peri. “Apa maksudnya ini? Kau bilang Umma? Bagaimana bisa dia mempunyai anak dan~ Ah… jangan katakan jika dia memainkan sihir dan mengurangi masa hidupnya.” Schnee terlihat memojokkan Raja Peri dan dengan segera Kie mencoba membela harabeoji-nya itu.

 

“Maaf, tapi sesungguhnya itulah yang terjadi.” Kie berusaha untuk terus memberanikan dirinya dan terbang mendekati Schnee. “Umma~ dia berkorban banyak untukku dan aku… aku harus menyelamatkannya.”

 

 

Sangat terlihat raut sedih di wajah Kie, namun Schnee sama sekali tak ingin melihatnya. Ia berusaha mengacuhkannya dan tetap bertahan pada keteguhannya sebagai peri salju teragung di kerajaan itu.

“Ck… itu urusanmu. Jangan menganggap kebijakanku akan kekuatan dan masa hidup itu mudah. Kalian hanya memanfaatkanku. Mengapa tak mengikuti aturan yang ada? Dan kau!” Schnee menoleh pada Kie dan menunjukknya dengan tongkatnya. “Kaulah penyebab utamanya.”

 

“Ak-aku…” Kie seakan tertusuk sangat dalam dan tepat di jantungnya. Tubuhnya bergetar saat ia mendengar kata-kata yang begitu tegas keluar dari mulut Schnee.

 

“Kau!” Schnee menunjuk langsung pada tubuh Kie dengan jari telunjukknya. “Wookie dan peri rendahan itu menghasilkan kau! Yang bahkan tak pantas menjadi putra mahkota.”

 

 Raja Peri segera menutupi tubuh Kie dengan tubuhnya. Ia mencoba menahan kemarahan Schnee. “Ampuni aku Schnee. Dia memang putra mahkota, aku yang mengangkatnya. Dan sebenarnya~” Raja Peri menunduk, ia berfikir sebentar. “Aku ingin melakukan penawaran.”

 

“Penawaran?” Schnee memundurkan tubuhnya, mengepakkan dengan cantik sayap putihnya. Ia membalik tubuhnya dan mendekati tabung jiwa itu. “Maksudmu ini?”

 

“Nde, Schnee. Aku benar-benar tak mau kehilangan Wookie.”

 

Shcnee tersenyum miris dan menggeleng “Apa yang sebenarnya kau lakukan? Ini kesalahanmu dan aku harus membantumu lagi.”

 

Kie hanya diam, ia tak tahu harus ikut berbicara bagaimana tentang masalah ini. Tapi ia kembali mengkerut saat Schnee kembali menatapnya. “Baiklah, aku terima penawaran kalian.” Ia terbang sedikit tinggi dan menatap ke kedua namja itu. Sedikit berfikir dan kemudian tersenyum aneh. “Kerajaan Peri memang harus di pimpin oleh peri setengah manusia, dan aku akan menyerahkannya pada calon bayi itu. Tapi~ tinggalkan jiwa bayi itu padaku disini dan lupakan apa yang terjadi, maka aku akan memberikan kehidupan pada Wookie kembali.” Schnee menatap lembut pada kie. “Bagaimana? Kau bisa melakukannya?”

 

“Ak-aku~”

 

“Meninggalkan calon anakmu disini dan melupakannya? Dan jangan pernah sekalipun menginjakkan kakimu di kerajaan ini lagi.” Kie tertegun. Ia diam sejenak dan mulai sibuk memikirkan satu hal.

 

Minhyunie…’

 

Bagaimana bisa dia mengatakannya pada Minhyun? Bagaimana bisa dia akan menyembunyikan semua ini dan menghapus ingatan Minhyun? Bagaimana bisa dia melupakannya jika dia terus mengingatnya, tapi Wookie~

 

“Baiklah~ aku merelakannya.”

 

Kie berucap lirih dan menunduk. Ia tak mau wajah sedihnya terlihat oleh Schnee. Peri agung itu langsung membuka tutup jiwa itu dan membiarkan jiwa Minhyun terbang terbebas. Terlihat jelas jika jiwa itu menatap lembut pada Kie, seolah menahan tangisnya.

 

Entahlah, yang bisa Kie lakukan hanya menggeleng pelan seakan menyampaikan maaf lewat pandangan matanya. Sementara itu Shchnee mulai mendekati cahaya pink pucat dan mengambilnya dengan satu tangannya. Mengangkatnya tinggi dan kemudian mengucapkan mantra lirihnya hingga perlahan cahaya itu masuk kedalam ujung tongkatnya dan memenuhi bola pada ujung tongkat itu.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

“Ughh…”

 

“Minnie!”

 

Sungmin langsung bangun dari sedikit ketidaksadarannya. Ia langsung meraih tubuh Minhyun dan memeluknya erat.

 

“Mommy…. hikss…. Mommy…”

 

Minhyun langsung memeluk erat tubuh namja cantik yang sudah sedikit lemas menungguinya itu. “Tenanglah chagi, gwenchana~”

 

“Mommy…” Minhyun kembali memanggil lirih. Ia terisak pelan dan kemudian sedikit tersentak kaget saat merasakan usapan lembut di ujung kepalanya. Ia menoleh dan semakin menangis kencang. “Daddy…. hikss… daddy…” Minhyun kembali menangis dan kali ini lebih keras. Siapapun tahu, jika yeoja ini begitu dekat dengan Kyuhyun.

 

Dan dari kejauhan, Yesung hanya tersenyum miris. Entahlah, ia harus senang atau sedih melihat semua itu. Ia tahu, jika sesuatu yang belum hadir itu sudha menghilang di tangan Schnee.

“Yeye appa.”

 

Yesung menoleh saat merasakan tepukan di bahunya. “Gwenchana.” Dan senyuman itu sedikit meneangkannya. Hingga akhirnya namja itu memilih meninggalkan kamar itu dan membiarkan Yesung membaur dengan mereka.

 

Ia lebih memilih menenangkan dirinya bersama dengan wangi bunga yang membaur di ruangan ini. Ia menangis lirih, seakan bisa merasakan kesedihannya.

 

“Gwenchana….”

 

Ia merasakan remasan lembut pada bahunya. Sungguh, ia terus bertanya-tanya dalam hatinya. Bagaimana bisa ia merasa sesedih ini padahal baru kemarin ia berbahagia? Ia begitu ingin membagi kebahagiaannya pada yeoja yang paling ia sayangi, tapi kenapa ia harus melihat semua kesedihannya.

 

“Minhyunie~ hikss… aku…” Ia merasakan ketenangan saat namja itu membalik tubuhnya dan  merengkuhnya kedalam pelukannya. “Hikss…. entahlah… Jun, bagaimana aku bisa bertahan Jun…” Dia meremas kuat kemeja di bagian dadanya. “Disini, terasa sangat sakit. Pasti Minhyunie…. hikss… Aku ingin menemuinya tapi dia… aku… hikss… Junie, aku tak bisa Jun…”

 

“Sudahlah, biarkan Kyu daddy dan Ming Mom yang menenangkannya.” Junior menangkup kedua pipi Sunghyun dan kemudian mencubit kecil hidung mungilnya. “Kau yang perlu di tenangkan hyung.”

 

“Junie… hikss…” Sunghyun memukul pelan lengan Junior dan membiarkan namja itu kembali merengkuhnya.

 

“Sudahlah, jangan menangis lagi. Biar bagaimanapun kau namja, hyung.”

 

“Junnie!” Sedikit berteriak kesal dan kembali memuku  lengan Junior.

 

“Ahhaha… yeah baiklah, kau namja tercantik dan terindah Hyung. Jadi jangan pernah merubah semuanya. Tetaplah menjadi namja dan kau tahu bukan~ namja itu harus kuat. Kau harus kuat untuk dirimu sendiri fan orang lain. Untuk Minhyunie…” Junior kembali menangkup kedua pipi Sunghyun. “Dan untukku.”

 

Dan kembali perasaan tenang itu menyusup seperi darah yang mengalir hangat di tubuhnya. Semuanya berjalan dan terasa dengan sangat baik. Terlebih saat bibir mereka bertemu dalam satu rasa manis yang mampu menghanyutkan segalanya.

 

Menghanyutkan kesedihannya dan kembali menyusupkan sedikit demi sedikit kehangatan itu. Sunghyun mengeratkan remasannya di lengan Junior dan membiarkan namja itu memeluk erat pinggangnya.

 

Memperdalam ciumannya dan menghanyutkan semua kesedihan dan pikirannya. “Eumhh….” Sunghyun melenguh pelan saat kembali merasakan lidah Junior menyusup dan mengabsen deretan gigi rapihnya. Meremas pelan dan mengernyit menahan perasaan aneh saat merasakan hisapan lembut dan dalam di bibirnya.

 

Dengan pintar, Junior memainkan lidahnya dan bergelut lembut di dalam rongga hangat Sunghyun. Sebuah kehangatan yang mampu mengalihkan semuanya. Mampu mengalihkan perasaan kacau dan ketakutannya.

 

Dan saat Junior menyudahi ciuman itu~

 

“Kau hanya butuh ketenangan dan aku~” Junior merapihkan poni Sunghyun yang sedikit acak-acakan. “Jangan berfikir satu kesedihan dan tak membiarkan aku mengetahuinya. Tak membiarkan aku ikut merasakannnya, atau tak membaginya padaku. Dan satu lagi~ percayalah, jika Mihyunie dan Kie bisa bertahan.”

 

“Tapi Jun, bagaimana jika Minnie baby tahu ka~”

 

“Shhh….”

 

Satu telunjuk itu menutup dan menghentikan dengan sempurna ucapan yang mungkin keluar dari bibir Sunghyun.  “Ketakutanmu hanya akan membuatmu terluka sendiri chagi. Percayalah.”

 

Dan sekali lagi, Sunghyun tahuada satu sisi yag begitu menakjubkan dalam diri Junior. Ia kemudian tersenyum kecil dan melepas pelan kedua tangan Junior yang sedari tadi memeluk pinggangnya. “Heum… kau mau tahu satu hal?”

 

“Apa?”

 

“Eum~” Sunghyun tersenyum malu dan menunduk. “Aku mulai menyukaimu.”

 

“Eh…” Junior sebenarnya mendengarnya tapi tetap saja dia sedikit berpura-pura dan menggoda Sunghyun. “Kau bilang apa tadi hyung?”

 

“Eum… sudahlah. Kalau tak mendengar juga tak apa-apa.” Sunghyun melepaskan tautan jemarinya dengan Junior dan merengut kesal. “Ck… padahal aku sudah bersusah payah mengatakannya.” Ia menggumam pelan dan sedikit memalingkan tubuhnya dari Junior.

 

Dan sementara itu, Junior hanya tersenyum kecil dan kemudian merogoh kantongnya. Perlahan membalikkan tubuh Sunghyun agar membelakanginya. “Apa yang akan kau lakukan Junnie?”

 

“Sssh… tenanglah. Hanya memberimu kejutan kecil.”

 

“Apa?”

 

Tapi Junior tak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya membuka genggaman tangannya dan kemudian jatuhlah liontin berbentuk dolphin dan lingkaran yang mengelilinginya. “Hadiah istimewa untuk orang yang teristimewa.”

 

“Eh?”

 

Tersentak, saat ia bisa merasakan lengan junior mulai memeluk lehernya dan merasakan lengan itu mengancing sesuatu di belakang lehernya. “Jun…” Sunghyun menatap lembut  pada liontin yang sudah melingkar indah dilehernya.

 

“Maaf hanya ini saja.”

 

“Jun, ini…”

 

Junior membalik tubuh Sunghyun dan mengangkat dagunya. “Lihat aku, dan kau akan tahu jika aku adalah kekuatan dan kelemahanmu. Jangan sendiri lagi karena sekarang aku memilikimu dan kau milikku. Kesedihanmu adalah milikku dan bahkan mungkin semua kebahagiaanmu dan mimpimu adalah aku. Hyung, percayalah semuanya akan baik-baik saja. Dan aku hanya butuh aku.”

 

“Jun… “ Sunghyun tersenyum dan atau bahkan mulai tertawa. “Hahha…. kau benar-benar…”

 

“Hei, kenapa seperti itu? ck…. Kau merusak suasana romantis saja Hyung. Sunghyun memainkan liontin kalung barunya itu sementara Junior kembali menundukkan tubuhnya di salah satu bangku yang sedari tadi mereka anggurkan.

 

“Aku tak tahu, sejak kapan kau jadi aneh begini. Tapi…” Sunghyun menoleh dan menatap lembut pada Junior. “Aku menyukainya. Terima kasih.”

 

Dan senyuman itu semakin lama semakin cerah. Hari ini pagi hari yang indah dan seharusnya memang cerah.

 

.

 

.

 

.

 

“Jadi Schnee sudah keluar?”

 

“Nde.” Minhyun menunduk. “Sayang aku tak bisa melakukan apapun. Bahkan berbicara saja aku tak bisa. Dan lebih menyedihkan lagi… “ Minhyun mulai meremas pelan bagian dadanya. Terasa sangat sesak hingga air matanya mungkin tak bisa berhenti. “Aku tak bisa menyelamatkan anakku sendiri.”

 

“Mianhe…”  Yesung berucap lirih dan mengusap lembut rambut Minhyun. “Ini adalah syaratnya dan sungguh jika bisa memilih, aku tak ingin kalian mengorbankan apapun.”

 

“Gwenchana appa.” Minhyun berusaha menghentikan tangisannya dan kemudian menoleh kepada ketiga namja yang ada disisinya. “Kalian adalah bagian terbaik dari hidupku. Dan kau~” Minhyun meraih tangan Yesung dan menempelkannya pada ujung kepalanya. “Kau adalah malaikatku, appa. Terima kasih untuk Kie dan kebahagiaanku.”

 

“Minnie…”

 

Hanya suara lirih itu yang keluar dari mulut Yesung. Tak ada yang tahu betapa ia menggantungkan semua kehidupannya pada anak ini. Dimana ia begitu yakin jika Minhyun akan melahirkan calon raja kerajaan peri dan menggantikan Wookie pada akhirnya.

 

“Mianhe, Minnie baby…”

 

.

 

.

 

“Kau harus melewatinya untuk mengambil salju abadi itu.”

 

“Tapi, bagaimana jika~”

“Tak ada penolakan atau salju itu tak akan pernah kau temukan.”

 

“Tapi, bisakah aku meminta beberapa peri untuk mengawalnya.”

 

“Kau pikir kita sedang bermain? Kau mau matahari hitam membakar perimu dan semuanya akan mati?”

 

“Aku~”

 

“Biarkan dia pergi sendiri.”

.

 

.

 

.

 

.

 

TBC

.

.

.

.

 

Hadeh,udah lama… jelek… gaje pula. Hahaa…. sudahlah~ Mianhe atas ke-lama-an updatenya.

 

Abaikan kegajean story fantasi yang ga jelas ituh, hehehe…

 

Abaikan juga typo (S) yang berserakan *mungutin sampah*

 

#plakkk#

 

Mind to RCL?

 

GAMSAHAMNIDA

^____^

Chicken Soup for Teenage Soul || Ch. 8 || sekuel CSOF

CHICKEN SOUP FOR TEENAGE SOUL

 

 

Author : rainy hearT

Length : Series

Rated : T to M

Cast :

– Cho Kyuhyun

– Lee Sungmin a.k.a Cho Sungmin

– Other SUJU and SHINEE member

-KyuMin aegya :

~ Cho Sunghyun a.k.a Sungie (N)

~ Cho Minhyuna.k.a Minhyunie (Y)

~ Sandeul b1a4  a.k.a  Cho Kyumin (N)

Haehyuk aegya

                ~ Lee Eunhae a.k.a Junior (N)

-Yewook aegya

                ~Kim Jongki a.k.a Kie (N)

 

-Zhoury Aegya

                ~ Jinyoung b1a4 a.k.a Zhoury (N)

 

-Sibum Aegya

                ~ Baro b1a4 a.k.a Sibum                (N)

-Jungmo x Leeteuk

~ Gongchan a.k.a Baby Soo (N)

– Yeoja Cast (GS)

                ~ Leeteuk            ~ Junsu’ie            ~ Taemin

                ~ Heechul            ~ Jaejong             ~ Key

Pairing : KYUMIN and Other Pair

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan dan diri mereka sendiri. Tapi Kyuhyun dan Sungmin saling memiliki. Kyuhyun milik Sungmin, Sungmin milik Kyuhyun

Genre : Romance / Family/Fantasy

Warning : Boy x Boy / BL / YAOI, gaje, typo disana-sini, EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Summarry : “Menjadi dewasa adalah IMPIAN. Setelah dewasa karena usia adalah BEBAN. Karena semua yang kita lakukan adalah sebuah bekal, untuk melangkah bersama menuju satu titik KEDEWASAAN. Dimana KEJUJURAN akan menjadi satu tali yang mengikat kebersamaan kita. Raih genggaman tanganku dan kita akan tumbuh bersama.”

.

.

.

.

GAMSAHAE untuk yang selalu setia sama KYUMIN and menanti ff ini.

Be Patient with Me please. No Copas/No Bash. Don’t Like Don’t Read.

Mianhe, jika ceritanya semakin ngawur dan juga keluar dari KyuMin. Tapi inilah Chicken Soup.

Dimana kebersamaan dan kekeluargaan itu terasa nyata.

 

As a small present for OUR LOVELY AND THE GREATEST COUPLE

Let’s save their love, 13elieve in the name of 7ove….

.

.

HAPPY READING

.

.

CHICKEN SOUP FOR TEENAGE SOUL

.

Chapter 8

.

.

Ep. Piece of heaven

.

.

.

Notice me:

 

Ni keterangan Usia and tingkatan kelas mereka.

 

~ Senior High 3rd Grade :  Cho Sunghyun (17), Cho Minhyun (17), Kim Jongki (17), Junior (17), Taemin (15), Key (16), Minho (16), Onew (17).

 

~ Senior High 1st Grade :  Zhoury (15), Sibum (15)

 

~ Primary School  5th grade : Kyumin (10), Baby Soo (11)

 

.

.

.

Rumah Sibum

 

.

 

.

 

.

 

“Hyung…”

 

“Hnn…”

 

Kyumin membalik posisinya. Ia mengerjap pelan dan berusaha menatap Sibum yang terlihat masih sibuk dengan bukunya. Ia tak pernah tahu, jika hyungnya yang satu ini sangat suka membaca.

 

“Kau selalu sibuk dengan bukumu, mirip Kibum Mommy…” Kyumin berucap lirih kemudian duduk berhadapan dengan Sibum.

 

“Yah, mungkin saja. Besok aku ada sedikit tes lisan. Kau tahu bukan, tak selamanya bahasa Inggris itu mudah. Dan aku harus belajar karena besok aku harus menceritakan satu kisah atau dongeng dengan bahasa inggris.”

 

Kyumin mengangguk kecil, lalu  melihat buku yang tengah di baca Kibum. “Chicken Soup for Teenage Soul.”

 

“Nde.”

 

“Apa bagus?”

 

“Tentu saja, tapi sayang ceritanya berbahasa Inggris.” Sibum akhirnya menyudahi kegiatannya saat melihat Kyumin yang malah sibuk menatap padanya. Ia melepaskan kacamatanya dan menarik namja itu untuk duduk dan bersandar didadanya. “Mianhe jika mengganggumu, aku kira kau sudah tidur. Kemarilah.”

 

Kyumin mendekat dan membiarkan Sibum memangkunya. Sibum memeluk tubuh mungil itu dan mencium kecil pelipisnya. Hingga akhirnya ia menjadi ketagihan dan mencoba untuk merasakan lebih dan lebih.

 

“Hahaha… geli hyung…”

 

Kyumin tertawa kecil saat merasakan nafas dan ciuman kecil Sibum mulai menggelitik telinganya. Ia terus menggeliat pelan dan kemudian membalikkan tubuhnya dan berhadapan langsung dengan Sibum.

 

“Harusnya kau sudah tidur, anak nakal.” Sibum mulai menggelitik pinggang kecilnya. Membuat Kyumin semakin bergerak tak tentu arah.

 

“Yah, hentikan. Hahaha… geli hyung, ayo hentikan… ahhahhaa….” Kyumin tampak menikmati permainan malam mereka, hingga akhirnya Sibum menghentikan candaannya dan kemudian ia diam. Menatap intens pada wajah merah Kyumin.

 

“Hhaha… akhirnya kau berhenti menggelitikku hyung, aish… geli sekali.”

 

Sibum tak mempedulikan ucapan Kyumin, ia hanya tersenyum manis dan kemudian menatap tanpa kedip pada tubuh mungil berbalut piyama kuning yang di pakai Kyumin. Piayama yang cukup kebesaran hingga menampakkan bagian leher yang sungguh putih mungkin terasa manis.

 

“Jangan melihatku seperti itu hyung, kau membuatku takut.”

 

Sibum tersenyum kecil. “Benarkah?”

 

“Nde…. takut dan malu. Hehehe…” Kyumin tertawa polos dan dengan wajahnya yang menggemaskan itu ia terlihat semakin menggoda di depan Sibum. Entah sengaja atau tidak, Kyumin menarik kerah piyamanya seakan tengah menunjukkan leher jenjangnya.

 

.

Grep…

.

 

“Eoh…”

 

Kyumin mengerjap bingung saat merasakan lengan Sibum yang tiba-tiba saja memeluk tubuhnya. Sibum menyamakan posisi wajahnya dengan Kyumin, hingga kedua pasang mata mereka saling bertemu. Sibum bisa merasakan nafas Kyumin yang sudah tak stabil lagi.

 

“Apa kau berdebar?”

 

Kyumin mengangguk pelan dan ia sedikit mundur saat Sibum denga cepat mendekati wajahnya dan mencuri ciuman kecil di pipinya. Wajah Kyumin merona merah. “Kau sangat lucu…”

 

“Dan hyung sangat tampan.” Pipi Kyumin merona merah. Ia sedikit tersentak saat merasakan ciuman kecil di pipinya. “Ish… kenapa menciumku?”

 

“Hnnn… hanya ingin saja. Wae? Tak bolehkah?”

 

“Tidak.” Kyumin mempoutkan bibir tipisnya dan menggeleng pelan. “Harusnya kau memintanya dariku, kenapa harus mencuri-curi seperti itu?”

 

“Eum, kalau begitu sekarang aku meminta. Bolehkah?” Sibum bertanya dengan suara memelasnya. Tapi sesungguhnya ia tersenyum dan menyeringai seram didalam hati.

 

“Eum… bagaimana yah? Boleh tidak yah…” Kyumin memasang pose berfikir yang begitu menggemaskan. Terlebih ia sedikit memainkan bibirnya dan mengetuk-ngetukkan jari telunjukknya di dagunya.

 

“Aku akan memberikanmu permen yang sangat manis yang bahkan tak akan bisa kau beli meski tabunganmu sudah banyak.”

 

“Benarkah?”

 

“Nde, tentu saja.”

 

“Bolehkah akutahu apa itu?”

 

Sibum tersenyum aneh err… sedikit menyeringai dan menggeleng. “Tak boleh. Harus deal dulu…”

 

“Baiklah kalau begitu. Deal…” Kyumin kembali mengangguk imut dan jarak antara mereka semakin dekat. Kyumin masih duduk di pangkuan Sibum, namun sekarang posisi mereka berhadapan. dan Sibum bisa dengan mudah melihat wajah menggemaskan itu meski hanya dengan cahaya lampu yang remang.

 

Sibum kembali melingkarkan lengannya untuk mengunci tubuh Kyumin. “Tapi tutup matamu.”

 

“Kenapa harus menutup mata?” Kyumin kembali memasang aegyo dan wajah polosnya. Ia memiringkan kepalanya sedikit dan seolah tengah merajuk pada Sibum.

 

“Sudah, tutup saja.”

 

Meski awalnya ragu tapi Kyumin akhirnya menutup kedua matanya. Namja mungil itu bersiap menunggu apa yang akan dilakukan Sibum padanya. Namun, entahlah….

 

Ia harus terkejut atau bagaimana saat merasakan serangan yang tiba-tiba dari Sibum. “Hnnn…..” Kyumin melenguh kecil saat merasakan ciuman dadakan yang cukup memaksa dari Sibum. Entahlah, tapi Sibum begitu menikmati permainannya meski Kyumin tak bisa merespon apa yang ia lakukan. Baginya sudah cukup saat Kyumin meremas lembut pinggangnya dan nafas yang terengah dan menimbulkan sedikit suara desahan lembut itu cukup bisa membuat Sibum semakin menginginkan namja mungil ini.

 

“Eunngghhhh…. hhhh….”

 

Kyumin kembali melenguh saat merasakan lidah Sibum membelit kuat lidahnya. Membuatnya menjadi sedikit berani untuk ikut bermain dengan lidah pintar Sibum. Mereka berdua baru saja akan hanyut dalam permainan kecil mereka hingga akhirnya…

 

“Ehhemm…!”

 

“Eh…”

 

Kedua namja polos nan lucu itu langsung menjauhkan tubuh mereka saat mendengar deheman keras dari namja tinggi besar yang kini tengah berdiri tegak sambil menggelengkan kepalanya dan bersandar nyaman di pintu kamar Sibum.

 

“Jadi ini yang kalian lakukan malam-malam?” Namja besar itu melangkah pelan dengan gayanyayang sedikit menakutkan membuat Kyumin semakin menunduk dalam dan meski Sibum sudah memeluk tubuhnya, ia tetap saja merasa takut.

 

“Daddy, kau mengganggu saja.” Sibum sedikit kesal dan menatap tajam pada namja besar itu.

 

“Hei, kau yang tak tahu diri. Masih kecil sudah mengajari Kyumin yang tidak-tidak.” Namja itu, Choi Siwon beralih menatap Kyumin dan kemudian duduk disisinya. “Hei, ayo tidur dengan Won dad. Jangan tidur dengan setan mesum seperti dia.”

 

“Eum…” Kyumin mengangkat wajahnya. “Tapi aku ingin tidur dengan Sibum hyung, boleh ‘kan?”

 

“Kau bisa habis jika tidur dengan dia disini.”

 

“Hei daddy… ayolah. Aku hanya menciumnya, apa salah? Ish…” Sibum yang gemas akhirnya mendorong Siwon untuk beranjak dari duduknya dan mendorong namja itu untuk keluar. Meski tubuh Siwon besar bukan berarti dia bisa menang melawan kemauan keras Sibum.

 

“Daddy… pergilah… uuuhhhhh…” Sibum terus mencoba mendorong Siwon hingga akhirnyamereka ada di dekat pintu.

 

“Hei … tapi Kyumin tak aman denganmu.” Siwon mencoba berbalik lagi dan kembali mendekati Kyumin. Tapi kemudian dengan sedikit berjinjit, Sibum menarik lengan Siwon dan mencoba berbisik ditelinga namja itu.

 

“Hei … daddy, dengarkan aku. Aku punya rahasia.”

 

“Mwo? Rahasia apa? Kau menyembunyikan porn movie yah?”

 

“Ck… ahni, bukan itu. Tapi rahasia di kantormu.”

 

“Eoh?” Siwon mengernyit aneh. Ia mencoba mengingat-ingat satu hal terakhir ini. “Kau pasti sedang mempermainkan daddy. Sudahlah, kemarikan Kyumin biar dia tidur dengan Mommy dan daddy…”

 

Tapi Sibum malah menarik kencang lengan Siwon, lalu ia kembali berbisik dengan sangat pelan. “Daddy, turst me or I’ll tell mommy if you’ve got new secretary and she was so damn HOT.”

 

“Mwo?” Siwon mendelik hebat. Ia tak  habis pikir, darimana namja pervert ini tahu. “Hei … darimana kau tahu?”

 

“Sudahlah daddy, kau tak perlu tahu aku tahu dari mana. Yang penting sekarang, pergi atau kau akan mati ditanganku.”

 

 Siwon menghela nafasnya. Ia benar-benar harus ekstra hati-hati dengan Sibum. “Ishhh…. baiklah, aku akan pergi. Tapi jangan kau apa-apakan Kyumin, aku tak mau kau  berbuat mesum padanya. Kau  dan dia masih kecil.”

 

Sibum mengangguk yakin. “Tenanglah appa, dia aman… seaman rahasiamu. Hahha…”

 

.

Blammmm…

.

 

“Kyuminnie…”

 

Sibum memanggil lembut nama itu dan kemudian mendekati namja yang masih sedikit shock melihat kelakuan anak dan appa ajaib itu.

 

“Apa tidak apa-apa hyung? Sepertinya, appamu marah dan itu sangat menyeramkan.”

 

Sibum mengacuhkan Kyumin dan ia mulai duduk didepan namja mungil itu. Kemudian membenarkan poninya dan menyematkan rambut berantakkan itu ke belakang telinganya, “Kau sangat manis, bahkan lebih manis dari Mommy.”

 

“Eoh… benarkah?”

 

“Nde.” Sibum mengangguk dan semakin mendekati wajah Kyumin. “Eum… bolehkah aku melakukannya lagi.”

 

“Apa?”

 

“Ini…”

 

Dan Kyumin, kembali sedikit memundurkan tubuhnya saat melihat namja di depanya tengah memejamkan kedua matanya dan semakin mendekatkan wajahnya. Ia tersentak kembali sata merasakan ciuman kecil Sibum yang lembut. Bibir itu terasa sangat kenyal dan manis.

 

Tubuh Kyumin semakin lama melemas dan pasrah. Ia membiarkan Sibum kemudian membaringkan tubuhnya dan mulai bermain dengan lidahnya. Lidah nakal itu membelit dan memainkan lidah sibum. Sementara kedua tangan Sibum tengah sibuk mengusap pipi dan leher Kyumin.

 

Ciuman yang benar-benar basah dan panas hingga tubuh kecil Kyumin mulai menggeliat tak karuan terlebih saat ia merasakan daging basah itu mulai memainkan telinganya.

 

“Ahnnn…. hyunggg…. “

 

.

 

.

 

.

 

“No Crown Prince No Schnee.”

 

“Ya!!! Jangan bicara itu terus.” Yesung lama-lama kesal dengan Raja peri yang sedari tadi sibum memainkan tongkatnya dan terus saja bergumam aneh. Sementara Kie dan Minhyun sepertinya amsih asyik dengan dunia mereka.

 

Mereka masih bingung memikirkan bagaimana kelanjutan semuanya. Sekarang mereka tengah duduk di taman belakang. Menatap rimbunnya tanaman bunga di rumah kaca yang ada di sana.

 

“Mianhe…”

 

Minhyun mengucap lirih. Ia seakan sadar jika ini adalah kesalahannya dan Sunghyun. Jika saja dulu mereka tak memaksakan kelahiran Kyumin, mungkin saja Kie tak akan kehilangan Wookie.

 

Minhyun sudah menunduk dalam. Ingin rasanya dia berteriak dan menangis keras, tapi sayang dia tak bisa. Hanya terisak lirih akhirnya. Kie mendekat perlahan pada yeoja itu dan mendekapnya kuat. Meraih bahunya dan menciumi pelipis Minhyun. “Gwenchana chagi. Itu tak sepenuhnya salahmu.”

 

“Hiksss… tapi… hikss….”

 

“Ssshhh….”

 

“Kie….” Minhyun membalik tubuhnya dan memeluk erat pada pinggang Kie. Melesakkan kepalanya ke dada Kie. “Bagaimana ini? Bagaimana jika kau harus tinggal di tempat raja peri? Bagaimana denganku?”

 

Minhyun mengangkat wajahnya dan mencoba melihat wajah Kie. “Bagaimana denganku, Kie? Hikss…. “ Akhirnya tangis itu pun pecah. Ia sungguh kalut memikirkan bagaimana dengan mereka selanjutnya. “Hiksss… memikirkannya saja sudah membuatku hampir gila. Hikkss…”

 

Kie semakin merapatkan pelukannya. Ia juga tak tahu harus berbuat apa, tapi inilah kenyataan dan mungkin sama saja bagi Kie. Dia juga tak menginginkan ini.

 

.

 

.

 

.

 

“Jadi bagaimana?”

 

Kie mengambil nafasnya. Tangannya masih menggenggam kuat jemari Minhyun. Sesungguhnya ini sangatlah berat, tapi tak mungkin jika ia membiarkan  Wookie menghilang. “Aku akan ikut denganmu.”

 

“Baguslah, kau mengambil keputusan yang tepat.” Raja peri mendekati Kie, sementara Yesung sama sekali tak berkutik dan tak bisa berbuat apapun. Ia hanya bisa berharap inilah yang terbaik bagi mereka semua.

 

Mata cantik Minhyun sudah begitu sendu, rasanya ia ingin menghilang saja saat ini. “Raja peri yang teragung… hikss… b-bisakah kau tak mengambil Kie. Hiksss…”Minhyun mencoba memohon dan mendekati raja peri. “Kau tahu, hikss… aku bahkan  baru saja merasakan semuanya. Kebahagiaanku bersama Kie. Aku mencintainya, lebih dari apapun jadi jebal… hiksss jangan ambil dia. Biarkan dia kembali, aku mohon…”

 

Raja Peri hanya menghela nafasnya. “Huah…. manusia sama saja. Mereka selalu saja menyusahkan aku.” Raja peri itu mengusap pelan jenggot panjangnya dan kemudian menatap Kie dan Minhyun. Ia berganti menatap pada kedua bocah itu. “Aku tahu, kalian sudah melakukkannya.”

 

Raja Peri menyeringai penuh dan sedikit menyungginggkan senyumannya. “Baiklah, kita akan bernego dengan Schnee.”

 

“Apa maksudmu?” Yesung mendekat. “Jangan katakan kau akan mengambilnya.”

 

Raja peri menatap sinis pada Yesung. “Bukan urusanmu. Sebaiknya  kau berfikir lagi. Bukankah aku baik? Aku tak marah kau mengambil putraku. Aku juga tak marah kau selalu seenaknya, dan menghilangkan putraku. Dan sekarang giliranku.”

 

Raja peri meraih tangan Kie dan menyeretnya  untuk berdiri disisinya. “Kau akan pergi bersamaku dan kita akan memunculkan Schnee.” Lalu raja peri memainkan tongkatnya dan mengucapkan mantra. “Apparere…!!!”

 

Munculah didepan mereka satu tabung pengukur waktu dan satu tabung besar lainnya dengan sinar keunguan yang ada didalamnya. “Ini adalah tabung waktu untuk pengukur 7 hari di dunia peri. Itu artinya sama saja dengan 1 hari di dunia manusia.”

 

“Lalu apa yang akan kau lakukan dengan tabung ini?”

 

Raja peri tersenyum penuh menatap Yesung. Ia kemudian kembali memainkan tongkatnya hingga membentuk cahaya ungu yang membulat. “Perjanjian dengan Schnee adalah perjanjian sakral. Dia bukan hanya peri salju abadi, tapi juga penjaga dunia peri. Seharusnya Kie yang menjadi keturunan peri meneruskan tahta. Tapi kita akan mencobanya, mungkin saja keturunan setengah peri setengah manusia bisa membuatnya luluh.”

 

“Apa maksudmu?”

 

Raja peri mengacuhkan Yesung dan terus memutar tongkatnya. “Didalam perut itu akan ada keturunanku. Keturunan Raja Peri Zheech.” Raja Peri menunjuk pada Minhyun tepat diperutnya. “Dan keturunan itu akan hidup di dunia peri jadi, signum et quietam…!”

 

.

Brak…

.

 

“Ahni!!!”

 

Terlihat namja itu langsung mendekat ke posiis Minhyun tadi. Yeoja itu diam dan kemudian lemah hingga tubuhnya ambruk dan dengan sigap Sungmin menangkapnya. “Yah! Apa yang kau lakukan dengan anakku.”

 

“Hahhaa… anakmu? Apa kau sedang bercanda? Hahahhaha….”

 

“Kau apakan anakku? Minnie chagi… bangunlah…”

 

Tapi sayang, meski harus bagaimanapun Minhyun tak akan bangun. “Tunggulah hingga besok hari dan dia akan bangun kembali. Sekarang aku meminjamnya.  Hhhhaha…”

 

“Mwo?”

 

Evanescunt…”

 

Dan mereka menghilang dengan mudah. Meninggalkan 3 namja dewasa yang terlihat begitu linglung dan kalut. “Hikss… Minnie baby…”

 

Sungmin memeluk erat tubuh Minhyun yang lemas. Tubuh itu sudah tak berjiwa…

 

Sungmin membawanya ke pelukannya dan menyerahkannya pada Kyuhyun. “Lihatlah Kyu… hikss…. aku tak akan mengampuni diriku sendiri jika dia sama sekali tak bisa hidup kembali. Hikss…”

 

“Mianhe…” Yesung melangkah dan mendekat pada Sungmin dan Kyuhyun yang masih memelik tubuh Minhyun. “Meski aku tak tahu harus bagaimana, aku percaya jika Minhyun dan Kie akan kembali dan membawa Wookie.”

 

“Tenanglah Ming, kita harus kuat untuk Minhyun.”

 

Kyuhyun mencoba tegar dan memeluk Minhyun dan Sungmin dalam satu rengkuhannya. Mencoba meyakinkan dirinya sendiri jika semua memang baik-baik saja.

 

.

 

.

 

“Minnie…”

 

Sunghyun tersentak bangun dari tidurnya. Ia mencoba duduk namun rasa sakit di bagian bawah tubuhnya membuatnya mengurungkan niatnya. Entahlah, perasaannya sangat tidak enak. Ia sungguh takut dan kalut sekarang. Entah apa yang terjadi dengan Minhyun, tapi yang ia tahu di hatinya terasa sangat sakit namun sepi.

 

Sunghyun mencoba mengusir pikiran-pikiran anehnya, dan mencoba berfikir positif. Ia kemudian mencoba meraih ponselnya dan hanya melenguh pelan saat melihat  jam di ponselnya.

 

“Sudah jam 9 pagi.” Sunghyun menoleh ke sampingnya. Tersenyum kecil saat menemukan  Junior yang masih tidur dengan lelap. Ia kembali melihat ponselnya dan segera  menelfon. Menunggu beberapa saat hingga akhirnya ia tersambung dengan nomor yang ia tuju.

 

“Yobosseoyo, saengil chukkae…”

 

‘Sungie…’

 

“Eoh, Mommy…” Sunghyun mengernyitkan dahinya saat mendengar suara Sungmin. “Apa yang Mommy lakukan disana? Bukankah ini ponsel Kie?”

 

‘Minnie baby… hiks… bagaimana dengan Minnie baby, Sungie…’

 

“Apa maksud mommy?”

 

Dia menghilang.’

 

.

 

.

 

.

 

Setelah telfon itu, Sunghyun langsung membangunkan junior dan langsung berpamitan untuk pergi ke rumah Kie. Disana, ia menemukan Sungmin yang masih menggenggam kuat jemari Minhyun. Sungmin yang terlihat sangat terpuruk.

 

“Mom…”

 

“Hikss…. Sungie…” Sungmin mencoba mengusir air matanya yang terus saja mengalir. Ia membiarkan Sunghyun memeluknya. “Lihatlah Minnie baby… hikss… bagaimana bisa dia meninggalkan aku seperti ini…”

 

.

 

.

 

.

 

 Hari pertama di Kerajaan Peri

 

.

 

.

 

.

 

“Hidup Raja Peri Zheech!”

 

Seruan di teriakkan oleh seluruh peri kasta rendah dan juga bangsawan saat melihat sinar keungunan tiara raja peri itu terlihat dari kejauhan.  Tubuh Kie yang sudah berubah menjadi mungil dan juga berwarna hijau berhasil mengundang perhatian dari seluruh penghuni kerajaan peri.

 

“Tenanglah semua rakyatku.” Raja peri itu terbang ke angkasa dan terbang diatas semua penghuni kerajaannya. Cahaya ungunya membuatnya terlhat berbeda diantara semua peri bercahaya pink dan biru. Cahaya pink untuk kasta bangsawan dan biru untu kasta rendahan.

 

Rraja peri kemudian menggantung satu tabung berisikan jiwa Minhyun di tengah altar persembahan untuk Peri salju abadi.

 

“Dengarkan aku wahai rakyatku! Sambutlah, calon putra mahkota kita…” Tangan raja peri mengayun pada Kie. “Dia , Rakhie….”

 

Semua rakyat bersorak gembira saat melihat sosok Kie berdiri di tengah altar. Tubuhnya yang berbalut pakaian senada daun dan cahaya kehijauan membuatnya terlihat semakin berbeda.

 

Raja peri kemudian menyalakan kembali tongkatnya. Ia mengarahkan pada Kie. “Wahai keturunanku, keturunan Raja Peri Zheech! Keluarkanlah kekuatanmu dan pimpinlah kami. Vires et exsurge Domine filiorum!”

 

Cahaya ungu itu menerpa tubuh Kie hingga kemudian saat cahaya itu menghilang, di punggung Kie…

 

“Sayap…” Kie menggumam lirih saat melihat sayap tumbuh di punggugnya. Kemudian Kie menggeleng sedikit erat saat merasakan pusing di kepalanya. “Apa lagi ini? Akhhh  appo…”

 

Kie terus menggeleng cepat. Ia merasakan begitu banyak teriakan dan suara yang terus menggema di telinganya. “Hafalkanlah Putraku… itulah mantramu. Hahhaa..” Raja Peri ytertawa keras diiringin dengan seruan keras oleh rakyatnya. “Long lifetime,my Majesty!!!”

 

“Nah … dengarkan aku.” Raja peri melangkah mendekat pada Kie kemudian mengajaknya untuk duduk bersamanya disinggasana  mungilnya. “Kaulah keturunan peri. Kita akan melakukan penawaran sengan Schnee. Berdo’alah jika dia akan menerima janinmu yang hidup di perut yeoja itu atau jika tidak, maka kalian berdua akan tetap tinggal di kerajaan peri.”

 

Kie mengangguk paham. “Aku mengerti. Hanya saja aku masih tak bisa menerima jika Minhyun harus terjebak juga disini.”

 

Raja peri tertawa kecil. “Itu salahmu sendiri, karena kau menghamilinya. Hhahahhaaa….”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

TBC

.

.

.

.

 

Gimana lanjutannya? Hhhahhaha… garing and ngarang abis. Adeuh… sempet ga pede ma scene perinya.

 

Typo-nya banyak… haish ga sempet edit.

 

Lama Update, Udah gitu pendek pula… Udah biasa…

 

 

Mind to RCL?

 

GAMSAHAMNIDA

^____^