HORMONES- The Confusing teens-Dopamine_KyuMin|YAoi

 HORMONES KYUMIN FF

Author : rainy hearT

Length : Series (?)

Rated :  T

Cast :

-Cho Kyuhyun & Lee Sungmin

– EunHae

-BaDeul

-HanChul x SiChul

-YeWook

-YunJae

-OnKey

-2Min

Pairing : || KYUMIN |

Desclaimer : Semua cast belongs to God and themselves. Dan seperti biasanya, jika saya bisa saya sudah meng-Klaim seorang Lee Sungmin menjadi milik saya.#Mimmpi….#

Genre : ||Drama || Romance|| Angst | Fluff

Warning : || BL/ YAOI || Gaje || typo’s || EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia||

Sumarry : I just pick some scene’s from mini series from Thai, named Hormones. It’s just get inspired by the tittle, but actually the story inside was so different, not same as the series. If you like Thai series, better chek it out. The mini series was so damn fucking good. Trust me.

 

.

 

Another PRESENT From Me

.

~The Confusing Teens~

.

 

Just KYUMIN

 

Please be Patient With me. Don’t Like Don’t Read. No copas No bash.

 

.

 

HAPPY READING

.

.

 

Part 2 (Dopamine)

 

 

.

 

.

 

Hae’s home…

.

 

.

 

“Bagaimana Hyung, apa handycam-nya sudah siap?”

 

“Sebentar, Hae.”  Yesung mengangguk yakin saat ia sudah memastikan oom dan angle yang akan dia dapatkan. IA memilih duduk di lantai kamar Hae dan bersiap. “Oke. Siap!” Yesung mengacungkan jempolnya.

 

Donghae sudah bersiap dengan gitarnya. Hari ini ia ingin membuat sebuah demo yang akan dia unggah ke youtube, dan juga media social sekolah. Hae sudah sangat siap, dan kali ini ia akan menyanyikan lagu ciptaanya.

 

Hae hendak memerik gitarnya, tapi ia berhenti. Ia melirik pada Kyuhyun. “Hei, Kyu!!! Ayo bantu aku, aku butuh bantuanmu.  Seorang namja paling keren satu sekolah.”

 

Kyuhyun yang tengah sibuk dengan psp-nya mau tak mau meletakkan benda kesayangannya itu terlebih dahulu. Kyuhyun mendengar suara pintu terbuka, ia mengangguk hormat saat melihat Umma-nya Hae di ambang pintu.

 

“Hae!!!”

 

“Nde!!”

 

Hae’s Umma masuk ke kamar anak kesayangannya itu. “Aku akan masak bulgogi, kalian pasti akan menyukainya. Ayo, makan bersama.”

 

“Nde, ahjumma.” Yesung menjawab bersamaan dengan Kyuhyun. Mereka mengabaikan wajah kesal Hae. Setelah yakin jika umma-nya sudah meninggalkannya, Hae menatap kesal pada kedua sahabatnya.

 

“Ck… bukankah kalian masih ingat? Jika Umma meminta kalian makan malam disini, jangan mau.”

 

Kyuhyun menepuk bahu Hae. “Tidak apa-apa, aku sudah biasa mendengar suara cempreng Umma-mu.”

 

“YA! Tapi Umma-ku terlalu berisik. Dia bisa berbicara sepanjang waktu makan malam dan menceritakan semua kejelekanku.” Hae menatap Kyuhyun dan Yesung. “Begini saja, kalian bantu aku membuat demo malam ini, dan jangan makan malam dirumah. Aku akan mentraktir kalian Di Grill 5 Taco.”

 

“Deal!!!” Kyuhyun berseru senang. “Ayo, lakukan.”

 

Mereka memulai merekam demo yang akan diunggah ke youtube. “Tadinya aku hanya dapat 30 view dalam satu minggu. Sekarang pasti langsung ribuan. Hahhaa…!” Donghae tertawa polos.

.

 

.

.

.

 

“Dimana Kyuhyun dan Yesung?”

 

“Mereka sudah pulang, Umma.”

 

“Padahal umma sudah memasak sangat banyak, kenapa kau biarkan mereka pulang.” Hae’s Umma meletakkan piring berisi sayuran dan kemudian sibuk menuangkan sayur ke piring Hae. “Seharusnya mereka ikut kita makan.”

 

Donghae menggeser kursinya dan duduk dikursi. “Tidak apa-apa. Aku yang akan habiskan.” Hae tersenyum pada Ummanya. Yah… dia merasa bersalah. Terkadang ummanya memang sangat berisik. Hae melihat TV yang masih menyala dihadapannya. “Appa, besok belikan aku itu yah???”

 

Hae’s Appa melihat iklan yang masih di putar di TV itu. Iklan sebuak skuter yang memang baru di luncurkan beberapa hari kemarin. Ia tak bisa membiarkan Hae mengendarai motor itu. Hae anak yang cukup ceroboh. “Tidak bisa, itu bukan mainan anak ceroboh sepertimu.”

“Tapi appa….” Hae merengek. Ia menoleh pada Umma yang duduk disisinya. “Umma, belikan aku itu yah???”

 

“Mianhe, appamu bilang tidak. Jadi umma tidak bisa berbuat apapun.”

 

Hae cemberut. Ia memasang wajah memelasnya.

 

“Sudahlah, Hae. Umma sudah menyiapkan susumu. Sebelum naik, bawa keatas dan habiskan.”

 

Hae hanya mengangguk patuh. Sejujurnya ia kesal. Ia masih saja dipandang dan diperlakukan seperti anak kecil. Setelah menyelesaikan makan malamnya, ia naik keatas menuju kamarnya. Ia sudah tak sabar untuk melihat bagaimana reaksi viewer di video yang diunggahnya.

 

Hae mereload  halaman terakhir dari youtube. Dan, “Coooollll!!!” Hae berseru senang.

 

Dilayar tertera jelas. “1448.”

.

 

.

 

.

 

At School!!!

 

.

 

.

 

Esoknya Hae merasa seperti menjadi artis dadakan. Mungkin mengalahkan perasaan artis kilat lainnya yang terkenal hanya lewat youtube. Dia berjalan menuju  kelasnya dengan senyuman lebar diwajahnya.

 

Ia menemui Yesung dan Kyuhyun yang tengah menikmati waktu santai mereka di tepian lorong sekolah mereka.

 

“Hae-ah…. sepertinya kau senang sekali.”

 

“Nde, Kyu!!!! Kau tau viewernya pagi ini sudah 2500. Itu bagus sekali. Ah… biarkan aku merasakan menjadi seorang artis dulu.

 

“Kyuhyun Sunbae!!!”

Tiba-tiba datang segerombolan namja yang sudah pasti Kyuhyun tidak mengenalnya. Key, Jonghyun dan Jino. Sebenarnya Jonghyun malas mengikuti Key. Tapi Key memang sangat manja dan pemaksa. Dia tak segan-segan mengomeli  Jonghyun didepan orang banyak. Key menyeret Jino untuk mendekat kepada Kyuhyun.

 

“Kyuhyun Sunbae, aku sudah melihat video yang kau unggah. Lagunya bagus!!! Bisa berfoto bersama?”

 

“Tentu saja, cantik…” Kyuhyun tak lupa memberikan rayuan maut. Yesung hanya bisa menggeleng heran. Kyuhyun memang tak bisa diam jika melihat makhluk cantik. Key memberikan ponselnya pada Yesung. Tapi saat Yesung sudah bersiap mengambil foto, Key kembali berubah pikiran.

 

“Yesung sunbae ikut berfoto dengan kami.” Key menatap Donghae. Ia menarik ponselnya dari Yesung dan memberikannya pada Donghae. “Sunbae, tolong fotokan untuk kami. Eum 2 kali yah, takutnya nanti hasilnya kurang bagus.”

 

Sebenarnya Donghae sangat kesal. Ia memang tak bisa sepopuler Kyuhyun, tapi kenapa seperti ini. Mau tak mau, meski sangat kesal ia memotret mereka.

 

“Hae, sepertinya kau masih kalah populer dari Kyuhyun.”  Setelah segeromnolan namja itu pergi, Yesung tertawa pelan dan menepuk bahu Hae. Bermaksud untuk menenangkan namja itu, tadinya memang berniat seperti itu. Tapi akhirnya Hae semakin dongkol dan kesal.

 

“Kenapa seperti ini? Aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi artis terkenal.”

 

Kyuhyun dan Yesung hanya tertawa melihat komentar polos Hae. Anak itu memang benar-benar masih sangat polos.

 

“Annyeong…”

 

Hae terdiam seketika. Ia melihat salah satu sunbae mereka -mahasiswa- yang Hae kenal benar jika namja ini adalah salah satu personil dari Spaceband.

 

“Sunbae….”

 

“Aku melihat video di youtube. Bukankah kau yang memainkan gitar?”

 

Hae mengangguk semangat.

 

“Aku akan mengadakan audisi akhir pekan ini. Aku tunggu di ruang musik sekolah sabtu sore.”

 

“Ya, pasti. Aku pasti akan datang.”

 

Setelah sunbae itu pergi, Hae berjingkrak senang. Ia bahkan tak malu saat dengan seenaknya mencium pipi Kyuhyun dan Yesung. “Cool!!!”

 

.

 

.

 

.

 

Prok..! Prookkkk!

 

“Ah.. Eunhyuk-ah!” Hae berlari kencang menuju Enhyuk yang menyambutnya dengan tepuk tangan meriah dari dalam kelas.

 

“Aku dengar kau diterima di band itu, chukkae!”

 

Hae memeluk Eunhyuk. “Nde. Ah… kami akan mengadakan pertunjukkan untuk menutup acara sekolah. Aku ingin kau merekamku nanti dan pastikan kau ada di barisan pertama.”

 

“Nde…”

 

.

 

.

 

.

 

Sekolah sangat meriah. Terlebih, nanti akan ada pentas seni yang dibuka oleh band sekolah mereka. Hae sangat gugup, ini pertama kalinya dia tampil didepan banyak orang. Hae melihat penonton yang sudah mulai berkumpul di depan panggung. Ia tersenyum melihat semua siswa sepertinya benar-benar tertarik untuk melihat penampilan Spaceband.

 

“YA! Hae-ah, ayo ambil posisi.”

 

Hae mengangguk. Ia kemudian naik ke panggung dan mengambil gitarnya. Bersiap untuk mengiringi vokalis band mereka. Kali ini mereka akan memainkan lagu wajib Spaceband. Lagu yang sedikit bergenre rock meski dengan lirik yang sedikit melow.

 

Seperti janjinya, Eunhyuk berada di barisan depan. Dia sudah bersiap dengan kamera ponselnya. Awalnya Enhyuk takut, saat iamelihat keraguan di raut wajah Hae. Tapi entah mengapa, lama-kelamaan ia malah menjadi khawatir. Hae sepertinya terlalu menikmati atau malah over dalam memainkan gitarnya.

 

“Lihatlah, bukankah dia gitaris baru?”

 

“Nde, tapi kenapa main gitarnya seperti itu?”

 

“Ih… aneh sekali. Bagaimana bisa dia mengiringi Subin eonni?”

 

“Ia, permainan gitarnya juga jelek sekali.”

 

Eunhyuk sudah memaksakan diri untuk menulikan telinganya dan tak mempedulikan ocehan para yeoja yang berdiri disekitarnya. Mereka mengomentari permainan gitar Hae. Eunhyuk memfokuskan dirinya untuk melihat penampilan Hae, tapi lama kelamaandia juga merasakan jika apa yang dikatakan para yeoja berisik itu memang ada benarnya. Eunhyuk mulai ragu. Ia menurunkan ponselnya.

 

Ia melihat penampilan Hae yang malah semakin lama semakin berlebihan. Ia merasa kesal sendiri dan kecewa, seharusnya Hae tak perlu bermain seperti itu.

 

Setelah penampilan Spaceband selesai, Hae langsung turun dari panggung. Ia heran kenapa di detik-detik akhir Enhyuk malah pergi dan tidak menonton penampilannya lagi. Ia mencari Eunhyuk  ke seluruh ruangan dan lorong sekolah. Tapi semuanya sepi.

 

Akhirnya Hae memilih untuk kembali ke ruang kelasnya. Ia menemukan ponselnya sudah berada di meja. “Ah.. pasti dari Hyukkie.” Hae memutar videonya dengan semangat. Ia sudah tak sabar melihat seperti apa penampilannya tadi.

 

Awalnya Hae memang merasa senang, ia terlihat seperti pemain gitar profesional tapi saat Hae mulai mendengar suara berbisik-bisik, ia mulai merasa terganggu. Hae mengeraskan volume rekaman video itu. Meski suara musik lebih keras tapi Hae bisa mendengar suara dari beberapa yeoja yang mengomentari penampilannya.

 

Hae menghentikan video itu. Ia tertegun. ‘Apa ini alasan Hyukkie?’

 

.

 

.

 

.

 

“Hae, Umma akan mengajakmu untuk makan di restoran Jepang. Kita akan merayakan penampilan pertamamu dengan bandmu itu. Bagaimana?”

 

Umma Hae yang tengah menyetir itu mengerutkan keningnya. Tak biasanya Hae hanya diam dan tak menyahut. Apalagi, Hae paling suka masakan Jepang. “Hae, kau baik-baik saja kan sayang.”

 

Hae tetap saja diam. Hae’s Umma kemudian memasuki lahan parkir luas yang tepat berada di depan sebuah restoran Jepang yang mewah. “Ayo, kita masuk dan makan dulu. Setelah itu baru kita pulang, umma sudah menyiapkan kejutan untukmu.”

Tapi bukannya turun dan menuju ke restoran, Hae malah berlari jauh dan mengabaikan teriakan Ummanya. Hae merasa kesal, pada dirinya sendiri dan juga ia merasa bersalah… pada dirinya sendiri. Mengapa ia bertingkah konyol dan memalukan seperti itu?

 

Hae berlari dari restoran jepang yang jaraknya memang cukup dekat dari rumahnya. Dengan tergesa, ia membuka gembok rumahnya dan masuk melalui pintu yang ada di samping rumah.Tapi Hae tertegun saat melihat motor yang terparkir di samping rumah.

 

“Mianheyo, Umma…”

 

Hae menangis pelan. Ia telah meninggalkan ummanya. Seharusnya, ia tak bersikap seperti itu. Hae mengusap air matanya, ia tersenyum saat melihat tulisan di kartu yang tergantung di spion sepeda motor itu.

 

“Hae-ah…화이팅!!!”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Heechul tengah menikmati waktu sorenya di sebuah toko buku. Ia akan membeli beberapa buku bacaan yang mungkin bisa menemaninya saat ia merasa kesepian di rumah. Nunna-nya tak selalu ada waktu untuknya.

 

Ia melihat ponselnya. “Ah… Dia sudah menungguku.” Heechul segera membayar dikasir dan kemudian keluar dari toko buku itu.

 

“Annyeong…”

 

Heechul tersenyum saat melihat seorang namja yang menyapanya. Bukan dari sekolah yang sama dengannya, tap namja itu cukup menarik baginya. “Nde, annyeong.”

 

“Bisa berbagi contact mu denganku? Kuharap kita bisa berteman.”

 

.

 

Pluk!

 

.

 

Sebuah tepukan kecil melayang dengan mudahnya mengenai kepala namja itu. Heechul hanya bisa diam. Ia tahu, dalam hal ini ia tak akan bisa berbuat  apapun. “Yah, anak kecil. Jangan sekali-kali mengganggu dia lagi. Dia ini milikku.”

 

Namja itu hanya bisa merengut kesal. Dan tak lama setelah Heechul berlalu darinya, di belakangnya tiba-tiba ada sekelompok namja yang kemudian ikut memukulinya. “Kau harusnya berkaca. Ah… dan harus kau ingat, kau bukan apa-apa. Hanya namja lemah yang tak pantas bersaing dengan Han hyung.”

 

Heechul masih sempat menoleh kebelakang hanya untuk memastikan keadaan namja itu. “Hannie, seharusnya kau tak perlu sekejam itu padanya. Dia hanya ingin berteman denganku.”

 

“Chullie, jangan mengelak. Aku tahu bagaimana sikapmu. Jangan buat aku kehilangan kesabaran denganmu.”

 

Heechul hanya bisa diam pada akhirnya. Ia tahu, Hangeng memang sangat dan terlalu mencintainya. Bukan ia tak mencintai Hangeng, hanya saja namja itu selalu memberikan cinta yang berlebih untuknya dan terkadang ia malah merasa bosan.

 

“Ah… dan kenapa Siwon harus menjadi anak buahmu. Dia sungguh kasihan, harus membelamu.”

 

“Hei… dia itu adik kesayanganku. Sudahlah, berhenti mengasihani orang lain.” Hangeng meremas nakal bokong Heechul. “Aku akan mengajakmu ke rumahku. Kita bisa menghabiskan akhir pekan bersama.”

.

 

.

 

.

 

.

 

Sungmin memasuki kelasnya dengan wajah cerah. Mereka semua baru saja kembali ke kelas masing-masing setelah sebelumnya berkumpul di gedung olahraga untuk mengetahui siapa yang akan mewakili upacara penghormatan kepada para guru yang sudah biasa mereka lakukan di awal tahun pelajaran.

 

Sungmin senang-senang saja saat mendengar jika Kyuhyun juga ikut mewakili mereka. Sebenarnya ia berharap wakil yang lainnya dari kelas yang lain dan bukan dari kelasnya, terlebih itu adalah Kyuhyun. Tapi Sungmin harus bersikap sportif.

 

Sungmin berdiri di depan para siswa yang lainnya. Hari ini mereka dibebaskan dari semua pelajaran sekolah untuk mempersiapkan upacara penghormatan itu.

 

“Apa kau yakin dengan apa yang kau tuliskan? Apa tak ingin berubah dari tahun kemarin?” Kyuhyun bersuara mengomentari tulisan di papan tulis yang baru saja di tuliskan Sungmin.

 

“Kita perlu sesuatu yang teratur dan juga rapi. Aku tidak mau kau membawa tingkahmu yang urakan itu kedalam sekolah kami.”

 

“Tapi, Sungminnie…” Kyuhyun memanggil Sungmin dengan suara lembutnya. Sungmin sempat merasa malu pada awalnya. Namun ia langsung menghentikan acara ber-blush-ing ria dan kembali menormalkan raut wajahnya. Sungmin mulai merasa ada yang salah dengan dirinya.

 

Sementara, Kyuhyun yang sadar dengan kelakuannya hanya tersenyum nakal. “Apakah tidak sebaiknya kita menambahkan kesan lucu agar para siswa juga tak takut lagi dengan Seonsaengnim. Kau tahu, seperti Kang In seonsaengnim, dia menakutkan. Yah… aku hanya berfikir mungkin kita bisa menambah sesuatu yang lucu. Agar tak kaku seperti biasanya, Ming.”

 

Sungmin hanya menggeleng. Ia harus berusaha sabar menghadapi Kyuhyun. meski Kyuhyun sudah berani-beraninya memanggilnya dengan berbagai macam panggilan yang sama sekali tak sopan. “Kalau begitu baiklah. Aku pikir ada baiknya juga. Nah, yang setuju dengan ideku untuk melakukan upacara formal seperti biasanya harap berkumpul di sebelah kiri dan yang setuju dengan ide Kyuhyun harap berkumpul disebelah kanan.”

 

Kyuhyun masih sempat mencuri padang pada Sungmin, meski sepertinya Sungmin terlalu acuh dan tak memperhatikannya. Meski Kyuhyun sudah berusaha untuk menyangkal, tapi tingkah Kyuhyun benar-benar memperlihatkan betapa ia sangat mengagumi Sungmin.

 

.

 

.

 

.

 

Heechul keluar dari sekolah dengan lemas. Hari ini Hangeng tak akan sempat menciumnya. menjadi seorang mahasiswa memang melelahkan dan membuatnya tak bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama Heechul.

 

Heechul melihat Siwon yang tengah berdiri di halte bus, ia mnghampirinya. “Hei!”

 

“Oh… Heechul Hyung.”

 

“Kenapa sendirian?”

 

“Hari ini aku harus pulang kerumah dulu, baru main ke tempat Hangeng Hyung.”

 

Heechul mengangguk. “Eum.. apakah kau benar-benar melakukannya atas dasar teman?”

 

“Maksudmu?”

 

Heechul menatap melas pada Siwon. “Kau tahu, Hannie hanya memanfaatkan kalian. Aku tak suka dia melakukan hal seperti itu.”

 

Siwon hanya menggeleng. “Tidak apa-apa.”

 

“Hey!!!”

Siwon menoleh ke sumber suara. Ia melihat namja yang kemarin menggida Heechul mendatanginya dengan beberapa teman genknya. Siwon mungkin jago bela diri, tapi jika teman genk-nya sebanya itu…

 

“Ayo! Pukul dia!”

 

Heechul hanya bisa berteriak dan sedikit-sedikit menangkis pukulan pada tubuh Siwon. “YA! Jangan ganggu kami, pergilah! Tolong!”

 

Setelah ada seorang polisi patroli terlihat berlari menuju ke tempat mereka, gerombolan anak-anak itu lalu pergi meninggalkan Heechul dan Siwon. “Mianhe, Siwon-ah…”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

Malamnya, di tempat Hangeng mereka semua berkumpul. Termasuk Siwon dan Heechul.

 

“Aku akan menghabisi mereka.” Hangeng geram hingga meremas kaleng beer yang ia pegang. Ia menepuk pelan bahu Siwon. “Kau sekarang, tak boleh kemana-mana sendiri. Sebaiknya kalian selalu ikut bersamanya.”

 

“Nde, Hyung.” Bebearap anak yang lain menyahut patuh pada pemimpin mereka.

 

“Kau tidak apa-apa, baby…”

 

“Ahni, hanya takut saja. Mereka sempat menggangguku, harusnya kau memukuli mereka.”

 

Hangeng mencium bibir pouty Heechul. “Tenang saja, aku akan bereskan anak kecil itu.”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

“Morning!!!”

 

“Yeay! Kembali lagi bertemu dengan Sandeulie yang paling cute dan juga nae baby Baro!”

 

“Nde. Hari ini kami akan menayangkan acara yang paling ditunggu setiap minggunya. Yeah, apalagi kalau bukan We Are Sources.”

 

“Dan kali ini kami akan menayangkan reka ulang dari gosip terhangat dan terpanas minggu ini. Jangan lupa, beri tanggapan kalian di fanpage Badeul News.”

 

Itu hanya sedikit kata pembukaan sebelum rekaman reka ulang dimulai. Sungmin melihat itu. Ia tahu benar rekaman itu adalah kejadian beberapa hari yang lalu yang ia yakin tak ada satu orangpun yang tahu kejadian itu selain dia dan Key.

 

Tapi saksi dalam video reka ulang itu bukan Key. Lalu siapa yang membocorkan hal itu keseluruh sekolah. Sangat memalukan memang. Gay disekolah memang sudah biasa dan tak dipermasalahkan. Tapi bukan berarti mereka bisa bermesraan dengan bebas di lingkungan sekolah.

 

Sungmin sedikit geram melihat rekaman itu. “Chulie… waeyo?” Sungmin menghela nafasnya.

 

“Waeyo, Ming?”

 

“Ah… Kyu…” Sungmin menyembunyikan ponselnya. “Ahni, bukan apa-apa. Kenapa kau belum pulang? Bukankah ini sudah jam pulang.”

 

“Aku menunggumu.”

 

“Ah… klasik sekali.” Sungmin melihat ponselnya. Ia mendapat pesan dari Ummanya. “Kalau begitu, pulanglah sekarang karena aku juga akan pulang sekarang.”

 

Sungmin meninggalkan Kyuhyun didalam kelas. Yesung datang dari luar kelas dan menghampiri Kyuhyun. “Kukira kau sudah di kelas Hae? Ternyata kau mengganggu Sungmin lagi.”

 

“Aku tidak mengganggunya, hanya ingin berkenalan dengannya.”

 

“Kyu, Sungmin itu tidak seperti yang lain.”

 

“Tapi dia tidak galak padaku. Dia pasti akan menyukaiku, buktinya dia masih baik padaku meski aku sudah sering mengganggunya.”

 

“Terserah kau saja.”

 

“Yesung-ah, apa kau tahu apa hubungan Heechul dan Sungmin.”

 

“Aku tak yakin, tapi dulu saat mereka berteman baik. Aku tak tahu, apa yang membuat Sungmin dan Heechul jadi seperti sekarang.”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

 

TBC

 

 

.

 

Aku tahu ini ngebosenin, dan juga ga cuman fokus Kyumin. Kan udah jelas castnya, and bagi yang belum nonton dramanya, aku saranin nonton deh. Dan aku juga secara garis besar ngikut alur di dramanya, jadi yah… begini deh.

 

Gomawo!!!

 

Iklan

All About Me | KyuMin | Yaoi (trilogi) | B |

.

rainy hearT

.

~Proudly present~

 

.

 

.

 

ALL ABOUT ME

 

Side story dari

 

All About U

.

 

.

 

.

 

Cast :  – Cho Kyuhyun

–          Lee Sungmin

–          -Choi Minho (Shinee)

–          Others Super Junior members

Pairing: KyuMin

Genre : Drama, romance, angst, etc

Length : ?

Rated : T

Disclaimer : KyuMin saling memiliki, Kyu Milik Sungmin, dan Sungmin milik Kyu _bersama dengan saya_  >^<

Warning : YAOI / BL, GaJe, Typo(s), etc

.

.

.

Don’t Like Don’t Read

No Copas No Bash No Flame

.

.

.

Cho Kyuhyun POV

 

.

 

.

 

Dimulai dari saat anak itu datang. Mata besarnya sangat hangat, dan tampan. Dia benar-benar seperti tiruan dari pengusaha muda Choi yang meninggal karena kecelakaan pesawat tahun lalu.

 

Aku bukan anak kecil lagi, jadi jangan mengira aku tak tahu apapun. Aku tahu, appa menyukai bekas istri tuan Choi itu. Siapa yang tak akan jatuh cinta pada yeoja cantik yang malang?

 

Menjadi hyung dari seorang Choi Minho pun, bukan hal yang aku sesali. Dia anak yang baik dan hangat, bahkan sesekali aku merasa jika dia benar-benar adikku. Selalu menempel dan manja padaku. Meski tak jarang  juga aku mengacuhkannya, tapi dia selalu bersinar. Tersenyum padaku.

 

Bukan aku tak menyukainya, hanya saja dia seperti kedua sisi tangan bagiku.

 

Aku adalah bagian putih yang selalu terlindung dari cahaya luar, dan dia adalah bagian hitam yang selalu saja menjadi tameng. Dia anak yang mandiri, dan appa menyukainya.

 

Aku namja yang bebas, yang melakukan apapun sesuai dengan keinginanku. Aku tak suka terikat.

 

Aku membiarkan Minho, lebih menguasai appaku. Aku juga tak menyesal karena aku tak dekat dengan Umma baruku. Aku tahu, Heechul… dia Umma yang baik. Hanya saja, aku lebih senang menjadi seorang yang bebas dan memulai semuanya sesuai dengan apa yang aku inginkan.

 

Aku tak menginginkan secuil pun kekayaan appaku membantuku. Aku bisa mandiri dan menikmati hidupku. Sebagai pemusik jalanan, menyanyi di cafe atau bahkan pelayan di toko. Aku belajar semuanya dari nol. Merasakan sulitnya mencari uang di kota yang padat ini.

 

Dan saat inilah pertama kali aku melihatnya, dan kurasa ini mungkin alasan terbaik yang aku miliki karena aku masih setia naik kereta meski harus berjalan atau bahkan berlari untuk melalui setiap hari dan pekerjaanku.

 

Aku melihat namja manis yang tengah duduk di kursi yang sedikit jauh dari platform kereta yang sedang kutunggu, dia mengganggu penglihatanku. Dia terlihat mengantuk. Aku tak yakin jika dia seorang namja sebelum aku melihatnya lebih teliti selama beberapa menit.

 

Musim dingin memang selalu membuat semua orang terlihat semakin manis, dengan penutup telinga dan juga topi kupluk lucu dengan telinga koala berwarna pink. Kulitnya cantik.

 

Tapi, seorang namja kurus yang terlalu enerjik itu mengganggu kesenanganku. Dengan seenaknya dia membangunkan namja manis yang sedari tadi menarikku untuk terus menerus menatapnya.

 

Ah…. keretaku sudah datang.

 

“Kajja, Sungmin hyung. Kereta kita sudah datang. Eum, kuharap hari pertama kita akan menyenangkan. Kudengar, pemilik cafe dimana kita bekerja itu adalah putra keluarga Cho.”

 

“Benarkah?”

 

Bagaimana aku tak mendengar mereka? Mereka bergosip tepat dibelakangku. Dan aku sangat senang karena kereta penuh sesak. Aku bisa merasakan punggungnya tepat berada di belakangku.

 

Dia wangi dan…. hangat.

 

“Nde, Hyung. Tapi, dia putra dari pengusaha Choi. Namanya Choi Minho, dia teman Yesung hyung. Dan, dari yang kudengar dia sangat tampan. Mungkin saja dia akan menyukaimu  nanti. Huwaaa!!! Aku tak sabar untuk mengenalkanmu pada…”

 

.

 

Bughh!!

.

 

“Awwhhh!!!”

 

Sungguh aku tak sengaja. Aku hanya tak menyukai apa yang mereka bicarakan, aku hanya__

 

“Mianhe.” Sial! Kenapa suaraku bisa sedingin ini? Aku tak bisa mengatur ekspresi wajahku sendiri.

Ingin sekali aku keluar dari kereta ini dan bersembunyi dimanapun tempat yang tak terlihat manusia. Aku tak sengaja memukulnya.

 

“Yah!!! Bisa tidak kau meletakkan kotak bodoh itu. Kau tahu, kereta ini sesak dan kau berhasil memukul kepala Hyungku dengan kotak biola bodohmu. Itu keras tahu!!!”

 

“Wookie-ah, sudahlah.”

 

Aku hanya diam.

 

Akhirnya aku memutar posisi berdiriku hingga aku bertemu dengan kedua matanya. Entahlah, mungkin tanpa sadar aku tersenyum. Meski sahabatnya itu terus mengoceh memarahiku, tapi aku tak mendengarkan apapun.

 

“Sungmin Hyung!!! Kajja!!”

 

Rasanya sangat berat saat dia harus segera keluar dari keretaku. Entahlah, aku tak tahu dan tak sadar. Aku mengikutinya.

 

“Cho Kyuhyun.”

 

“Nde…”

 

Dia menatapku. Aku tahu aku lebih tinggi darinya dan itu malah membuatnya terlihat semakin manis saat ia mencoba melihat kearahku.

 

“Namaku Cho Kyuhyun.”

 

Dia tersenyum.

 

“Kajja Hyung, kau mengganggu antrian.”

 

“Ak-aku Sungmin. Lee Sungmin.”

 

Aku melihat punggungnya. Semakin menjauh.

 

Aku tak tahu kenapa aku berdiri didepan gate seperti ini. Haruskah aku mengejarnya?

 

.

 

.

 

.

 

Dan aku baru sadar, jika aku mengikuti mereka. Terdampar didepan cafe yang aku tahu benar, ini memang milik Minho. Appa pernah mengajakku kesini saat dia membangunnya. Sejujurnya aku merasa menyesal, dan juga sedikit canggung.

 

Harusnya aku berada di gedung pertunjukkan seperti biasanya. Dan dengan bodohnya aku malah berdiri didepan cafe ini. Aku tak yakin jika aku ingin masuk kesana. Seharusnya aku berada di gedung pertunjukkan, dan bukan disini. Tapi, ugh… Minho. Kenapa dia harus menemukanku?

 

“Hyung, aku senang kau datang.”

 

“Nde.”

 

Aku tak bisa seperti Minho yang selalu tersenyum. Rasanya kaku sekali.

 

“Kukira kau akan melihat anak-anak itu malam ini, bukankah ini pertunjukkan pertama mereka?”

 

“Aku tahu.”

 

Meski sedikit gelap, tapi aku bisa melihat perubahan wajah Minho. Aku tahu aku bersalah sekarang. Dia sudah berusaha menjadi orang baik dan selalu mendekatiku. Entahlah, sangat sulit untuk merubah wajahku agar tersenyum.

 

“Hyung, aku harap kau bisa disini. Kau tahu, yeah… bermain biola untukku. Aku sangat mengagumimu.”

 

Minho menunjukkan senyumannya lagi. Dia benar-benar anak yang baik. “Hyung, kau tahu bukan__ aku sangat menyayangimu.”

 

Hening.

 

Aku tahu, aku juga sangat menyayanginya. Menjadi anak tunggal bukanlah hal yang mudah. Terlebih saat kau menyadari jika alasan kau tak memiliki Umma adalah salahmu sendiri. Umma meninggal saat melahirkan aku.

 

Umma memaksakan kehamilannya dan lebih memilihku dari pada dirinya sendiri.

 

Dan aku sungguh tak bisa memberikan ekspresi apapun.

 

Aku melihat wajah Minho, dia sedikit seperti… terluka.

 

Huh… aku benci perasaan seperti ini. Sangat bersalah.

 

“Kajja…”

 

Entah sadar atau tidak, aku meraih tangannya dan menyeretnya masuk. Aku tak tahu apa yang aku lakukan. Hanya saja, aku ingin menurutinya. Aku ingin membahagiakannya.

 

“Gomawo, Hyungie…!”

Ugh… aku benci saat dia memelukku seperti ini.

 

Membuatku jadi ingin menangis.

 

‘Mianhe, Minho-yah… ‘

 

.

 

.

 

.

 

.

 

“Selamat datang!!!”

 

Aku mendengar suara itu, teriakan cempreng dan ah… benar. Namja menyebalkan yang suka marah-marah. Dia benar-benar bekerja ditempat Minho.

 

Tapi, ada suara yang menggangguku. Suara lembut dan petikan gitar yang sangat hangat. Sangat pas dan romantis.

 

Aku terus menatapnya, menunggu mata kami bertemu. Cukup lama, sampai dia hampir menyelesaikan lagunya. Dia menatapku. Meski dia terus bernyanyi, tapi aku tahu wajahnya tersenyum.

 

“Kau memang hyung yang terbaik untukku. Kita bahkan memiliki ikatan, ya ‘kan Hyung?”

 

Aku menoleh pada Minho yang entah sejak kapan berdiri disisiku.

 

“Aku menyukainya, bahkan sejak pertama aku melihatnya. Mungkin hanya tinggal pendekatan sedikit dan aku akan menyatakan perasaanku padanya.”

 

.

 

.

 

.

 

Aku tak tahu harus bersikap seperti apa. Atau mungkin aku sudah terlalu terbiasa bersikap dingin dan acuh, jadi semuanya terasa mudah. Aku tak mau dia selalu mengatakan dia menyukaiku, yang mungkin kenyataannya dia hanya menyukai permainan musikku.

 

Aku juga terkadang membenci saat ia memuji kopi buatanku yang memang sengaja aku buatkan untuknya. Mungkin saja, dia hanya merasa tak enak padaku saat tahu aku dan Minho bersaudara.

 

Dan aku menyayangi Minho. Dia salah satu bagian terbaik dari hidupku. Jika dia tak ada, aku mungkin tak akan sebebas ini menjalani hidupku. Aku menyesal, saat usia mudanya dia harus sudah mengurus perusahaan appa dan dengan senang hati menggantikan aku. Melupakan impiannya sendiri untuk bisa membawa Korea menjadi juara dunia.

 

Aku tertawa pedih dalam hatiku.

 

Aku tak bisa menggenggamnya meski dia sudah berada di tanganku.

 

“Terima kasih Kyu, kau pasti menyanyikan lagu itu untukku. Iya ‘kan?”

 

“Huh…. tidak penting.”

 

“Yah!! Setidaknya kau memang tersenyum padaku. Ayo, mengakulah kalau kau menyukaiku.”

 

Aku mengacuhkannya, padakal dia tepat berada disisiku dan terus menggangguku.

 

“Kyu, bukankah kau  tahu perasaanku? Ayolah, mungkin kau hanya malu. Eh, atau karena aku bukan orang kaya jadi kau tak mau…”

 

“Bukan karena uang, Sungmin. Aku tak pernah mempermasalahkan itu.”

 

“Eh, jadi benar kau juga menyukaiku. Ah… akhirnya.” Dia tersenyum seperti orang bodoh. Aku tak tahu, harus memukulnya atau menciumnya.

 

“Terserah kau saja.”

 

“Kalau begitu, aku milikmu dan kau milikku. Iya ‘kan? Begitu bukan maksudmu? Ah… senangnya.”

 

Aku hanya bisa menghela nafasku. Untung saja hari ini Minho tak sedang main ke cafe. Aku menghentikan langkahku dan memegang kedua sisi bahunya. Menatap ke kedua matanya.

 

Tuhan,

 

Neomu yeppeo…

 

“Sungmin…”

 

“Nde.”

 

“Aku tid_”

 

“Sungmin hyung!!!!”

.
Sial!

.

 

Setan kecil itu datang lagi dan langsung menyeret Sungmin. Namja itu, seharusnya ikut terbang ditelan salju kemarin malam. Menyebalkan sekali.

 

.

 

.

 

.

 

Entah mengapa, dia terus melakukannya. Ada atau tidak ada Minho. Aku tak enak.

 

Aku bisa melihat perasaan Minho, aku tahu dia sakit hati. Dasar bodoh!

 

Aku mendekati Sungmin, ini sudah cukup dan dia tak akan melakukan ini lagi. Padaku ataupun Minho. Mungkin ini saatnya, aku harus berhenti memberikan harapan padanya.

 

“Berikan padaku.”

 

“Tapi___”

 

“Kau tak punya hak untuk merekamnya. Jangan membuatku marah.”

 

Aku mengambil kamera miliknya dan mengeluarkan memori didalamnya. Mengambil memori itu dan memberikan kembali kamera ke pemiliknya.

 

Aku menutup mataku, aku tak melihatnya. Aku tak ingin melihat kesedihan Sungmin. Ini sudah cukup. “Berhenti menguntitku dan merekap pertinjukanku. Kau tak berhak melakukannya, Lee Sungmin-ssi!”

 

Aku bisa melihat wajah terkejut Minho, tapi aku ingin menjadi buta. Aku tak ingin melihatnya menangis. Aku tahu dia menangis, dan aku tahu mulai saat ini aku hanya akan menjadi kesedihan untuknya dan Minho adalah kebahagiaannya.

 

.

 

.

 

.

 

Apa yang terjadi sama sekali tak sama dengan apa yang kuharapkan.

 

Aku tak  bisa menjauhkannya dariku, dan aku tak ingin menjauh. Aku juga tak ingin dia pergi dan memperhatikan Minho. Aku tahu, ini adalah hal bodoh seperti memperebutkan seboah kotak kosong tanpa isi apapun itu.

 

Kami semua, sama-sama sakit.

 

Dan aku tak ingin terlihat terluka. Hanya diam dan mengacuhkannya. Tapi, sama sekali aku tak berharap dia menjauh dan bahkan bersama dengan Minho. Aku tak ingin mengalah pada Minho, aku hanya tak ingin seperti ini.

 

Lelah….

 

.

 

.

 

.

 

“Sungmin hyung…”

 

Aku sungguh tak ingin tahu, apa yang akan ia katakan. Aku sudah cukup menutup diri dan kurasa aku sudah lelah. Aku akan menyerah, aku harus memaksakannya. Tapi saat aku melihat Minho, dengan senyuman bodohnya dan tangannya tengah menarik Sungmin dalam pelukannya__

 

Aku membenci keduanya, aku membenci Sungmin. Aku membenci diriku sendiri, kenapa seperti ini?

 

.

 

.

 

Dan saat aku tahu jika mereka tak bersama, entahlah aku tak tahu harus bersikap apa. Mungkin aku orang yang jahat karena aku tersenyum saat menepuk bahu Minho dan menenangkannya. Dia tak pernah sesedih ini saat dia tak diterima. Aku tahu, Sungmin akan terus melihatku. Itu sudah dituliskan dalam takdir, dan meski aku tak tahu entah sampai kapan aku akan siap, tapi satu saat nanti aku akan menciumnya dan memintanya menjadi milikku.

 

.

 

.

 

Aku melihatnya di kejauhan.

 

Dia keluar dari tempat Minho, mencoba melarikan diri. Aku benar-benar benci saat makhluk kecil kurus itu terus saja mendikte apa yang harus dilakukan Sungmin. Dia pula yang membujuk Sungmin untuk pergi dan akhirnya aku harus bersusah payah melamar kerja sebagai pelayan di cake shop yang sama sekali tak ada dalam daftar pekerjaanku.

 

Meski aku senang, karena Lee Ahjumma sangat ramah dan baik padaku. Bahkan membiarkan aku tinggal dirumahnya , karena memang jarak cake shop ini dari apartemenku cukup jauh.

 

Aku melihat Sungmin dari kejauhan.

 

Aku senang bisa melihatnya tersenyum lagi.

 

“Kyu…”

“Ah…”Aku melamun. “Mianhe, aku…”

 

“Sudahlah.”

 

Lee Ahjumma tersenyum. “Mungkin kita bisa minta bantuan Sungmin untuk hari ini. Sesekali kau harus mengajaknya bicara. Tak baik menyimpan perasaan terlalu lama.”

 

“Aku tidak menyukainya.”

 

“Eum, benarkah?”

 

Ahjumma itu terkadang bersikap genit. Bahkan dia mengedipkan matanya padaku. Benar-benar konyol.

 

Aku kembali melihat keluar. Mungkin hari ini.

 

Tidak, harus hari ini.

 

“Kyu, aku sudah menyuruhnya kesini. Kurasa kalian bisa memiliki waktu sebentar. Sebaiknya kau berusaha mengajaknya bicara.”

 

“Ahjumma,kau terlalu berlebihan.”

 

“Aku tahu, dan apa kau lupa aku juga pernah muda.”

 

Lagi-lagi dia mengedipkan matanya padaku. Aku melihat Sungmin berjalan ke arahku. Dia terlihat cantik dengan bungan yang memenuhi kedua tangannya.

 

Satu hari nanti, kau akan datang padaku dengan pakaian putih dan juga bunga mawar yang cantik. Dan aku, akan mengulurkan tanganku dan menyambutmu.

 

 

.

 

.

END

.

.

Aku tahu, bahasaku aneh…

Ga tahu kenapa, mungkin gegara kebanyakan belajar. Ah… buat yang nunggu NSFC, mianhe masih buntu nih….

Love you…

Chu ❤

All About You | KyuMin | Yaoi (trilogi) | A

 

.

 

 

rainy hearT

 

.

 

 

~Proudly present~

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

ALL ABOUT U

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

Cast :  – Cho Kyuhyun

 

          Lee Sungmin

 

          -Choi Minho (Shinee)

 

          Others Super Junior members

 

 

Pairing: KyuMin

 

 

Genre : Drama, romance, angst, etc

 

 

Length : ?

 

 

Rated : T

 

 

Disclaimer : KyuMin saling memiliki, Kyu Milik Sungmin, dan Sungmin milik Kyu _bersama dengan saya_  >^<

 

 

 

Warning : YAOI / BL, GaJe, Typo(s), etc

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Don’t Like Don’t Read

 

 

No Copas No Bash No Flame

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

“Aku pikir ini waktu yang tepat.”

 

 

“Maksud hyung?”

 

 

Sungmin melakukan usaha terbaiknya dan mencoba tersenyum. Meski semuanya percuma saja karena Ryeowook tetap bisa tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi padanya. Tinggal dalam satu ruangan apartemen yang memungkinkan mereka berbagi segalanya.

 

 

Tak ada yang bisa disembunyikan oleh Sungmin.

 

 

“Sudah beberapa tahun dan tak ada perubahan apapun. Aku merasa semuanya percuma.”

 

 

Sungmin merasakan tepukan dan usapan lembut di bahunya. Ia menoleh melihat wajah sedih Ryewook. “Yah, mungkin sudah saatnya kau merubah semuanya Hyung. Selama ini, kau hanya terlalu sibuk dengannya dan sampai tak mempedulikan orang lain yang mungkin saja malah sanggup memberikan perhatian lebih.”

 

 

“Kau bisa saja.”

 

 

Dan kemudian hanya hening. Ryewook memeluk erat tubuh Sungmin. Hyung yang sangat ia sayangi ini sepertinya semakin kurus. Heum… ia tak mau merasakan cinta jika sakitnya akan membuatmu semakin kurus. Ryewook tertawa kecil mengingat pemikiran bodohnya barusan.

 

 

Sepertinya, ia terlalu dalam memikirkan semua masalah yang dihadapi Sungmin.

 

 

‘Cinta tak harus memiliki.’

 

 

Jika mendengar kata-kata itu, rasanya hampa dan tak berguna. Tetap saja, kita egois dan harus memiliki. Rasa sakit hati, lebih bertahan lama dan terus saja melukai tubuh kita meski lukanya tak terlihat sama sekali. Jika bahkan memiliki cinta pun, entahlah harus bersikap seperti apa.

 

 

Mungkin pemikiran Ryewook memang ada benarnya. Sungmin hanya ingin merasakan perasaan dicintai. Hanya cukup dia dicintai oleh orang yang baru dan dia akan melupakan perasaan mencintainya yang sudah cukup lama menyatu dengan Sungmin.

 

 

Ryewook melihat wajah sendu Sungmin yang tengah tertidur. Namja itu selalu lelah dan tertidur dengan cepat setelah melampiaskan semua perasaannya. Meski hanya diam dan berusaha menahan air mata yang tak mungkin untuk tak keluar, ia tetap merasa lelah.

 

 

Ryewook merapihkan makan malam yang telah ia siapkan untuk Sungmin. Ia bergegas meraih mantel dan tas ranselnya. Sudah waktunya untuk bekerja. Ryewook berjalan pelan hingga akhirnya dia sampai di platform untuk menunggu kereta yang akan ia naiki.

 

 

Dari wangi yang berada disekitarnya, Ryewook bisa merasakan jika ini wangi namja itu. Ia benci karena ia juga ikut merasakan sakit hati yang Sungmin rasakan. Ia benci saat melihat wajah angkuh yang seakan buta dan tak melihatnya, padahal mereka berdiri tepat bersisian.

 

 

Ryewook memilih menjauh, dan ia tersenyum lega saat menemukan seseorang yang tengah sibuk mengacak-acak tas ranselnya.

 

 

“Hyung…”

 

 

“Oh, Wookie baby…”

 

 

“Nde.” Ryewook meraih lengan namja itu dan bergelayut manja padanya. “Sungmin hyung tak berangkat malam ini. Kurasa, kita harus mencarikan perkerjaan lain untuknya. Menjadi penyanyi dicafe itu akan semakin menyakitinya.”

 

 

Ryewook mengangkat wajahnya dan menatap namja kesayangannya. Ia mencuri ciuman kecil di hidung namja itu. “Bisa bantu aku, Hyung.”

 

 

Heuh…. namja tampan itu tengah sibuk dengan pemikirannya lagi. “Yesung hyung…” Ryewook merengek manja.

 

 

“Aku sedang memikirkan kemana sebaiknya kita membuang Sungmin.”

 

 

Ryewook hanya berpout-ing ria saat mendengar kata-kata menyebalkan dari Yesung.

 

 

“Ish… bukan membuang. Hanya menjauhkan dia dari Kyuhyun. Aku tak mau terus-terusan melihat wajah sedih Sungmin Hyung. Cukup sudah untuk 3 tahun terakhir ini. Kurasa dia harus mencari seseorang yang bisa mencintainya dan mungkin Sungmin hyung akan belajar mencintai namja itu.”

 

 

“Bagaimana jika Sungmin memilih mengalihkan perhatiannya pada Yeoja?”

 

 

Sahutan pelan nan lirih itu benar-benar membuat Ryewook gemas. Dia mencubit pinggang Yesung dan kemudian segera berlari kedalam kereta yang kebetulan sudah berhenti tepat dibelakangnya. Ia membiarkan Yesung meringis kesakitan.

 

 

Mereka menghilang tepat setelah kereta itu pergi. Tak ada yang tersisa disana. Termasuk Kyuhyun, yang sedari tadi berdiri diam dan menggenggam kedua tangannya. Ia pun hilang bersama perginya kereta itu.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Ryewook sibuk membolak-balikkan tumpukkan kertas yang sangat membosankan baginya. Mengerjakan tugas sekolahnya di cafe dimana ia bekerja sepertinya percuma. Mengerjakan di rumah pun tak mungkin. Ia selalu teralih perhatian pada Sungmin.

 

 

Di cafe, dia pun tak bisa menghentikan rasa bencinya saat melihat seorang namja yang terlihat tampan dengan pakaian casualnya. Menekan tuts piano dan sesekali melayangkan senyumannya saat ia terhanyut oleh nada yang ia mainkan sendiri.

 

 

Tanpa sadar Ryewook menekan keras pensilnya hingga ujungnya patah.

 

 

“Sudahlah. Mau kau lihat sampai kedua bola matamu keluar-pun, dia akan tetap seperti itu. Sangat mengherankan,  Sungmin bisa menyukai namja yang bahkan tak bisa berbicara dengan baik dan benar seperti dia.”

 

 

Ryewook menghela nafasnya. Cafe sangat tenang sore itu hingga Yesung tak sibuk dan bisa mengganggunya. Yeah, mengganggu fantasinya dimana hanya tempat itu yang bisa menjadikan keinginannya nyata. Ia bisa mencabik-cabik Kyuhyun seenaknya.

 

 

“Hyung….”

 

 

Ryewook ikut menoleh saat mendengar suara orang yang ia yakini, adalah target selanjutnya dari semua rencana yang ia susun baik-baik.

 

 

“Ah…Minho-ah. Aigo!!! Kau semakin tampan saja.”

 

 

Minho hanya bisa tersipu malu. Dia masih seperi anak-anak, yang terkadang memang sangat menggemaskan. Meski pada kenyataannya, dialah pemilik cafe itu tapi dia tak pernah membandingkan apapun tentang perbedaan kekayaan dan usianya.

 

 

“Aku tak melihat Sungmin hyung.” Minho berbicara pelan sambil melihat kesekeliling. “Dia tak berangkat?”

 

 

Ryewook menggeleng pelan. “Dia sedikit tak bersemangat malam ini. Eum, Minho-yah…”

 

 

“Heum…”

 

 

Ryewook menatap Minho. Kedua mata mereka bertemu dan sukses membuat Minho salah tingkah, terlebih Ryewook bahkan tersenyum saat melihatnya. “Kau tahu, kau sangat tampan.”

 

 

“Hyung sangat berlebihan.”

 

 

“Kurasa, kau tak kalah tampan dari batu itu. Bagaimana jika kau menyatakan perasaanmu pada Sungmin hyung lagi.”

 

 

Minho terdiam. Raut wajahnya berubah. “Sungmin hyung…”

 

 

“Aku tahu, aku terlalu memaksakan kemauanku. Tapi aku mencintai Sungmin hyung. Melihatnya menangisi batu itu terus menerus membuatku bertambah kesal. Setidaknya jika denganmu, dia akan merasa lebih baik. Kurasa dia hanya butuh dicintai.”

 

 

Ryewook menatap kedalam kedua mata besar Minho. “Kau masih mencintainya bukan???”

 

 

Minho mengangguk pelan. “Tapi, Kyuhyun hyung…”

 

 

“Ish… dia bahkan bukan saudaramu. Aku benci kenapa kau mengalah pada hantu batu itu.”

 

 

“Tapi, dia anak appaku dan aku tak mau…”

 

 

“Sudahlah, kalau begitu.” Ryewook mengalihkan perhatiannya dari Minho dan kembali sibuk melihat tugasnya. “ Sebaiknya kau beralih saja jika sama sekali tak mau berusaha. Kau mengalah pada orang yang salah. Kyuhyun tak menyukai Sungmin. Aku tahu, dia hyungmu. Tapi kalian bahkan tak sedarah. Jika Ummamu tak menikah dengan si bodoh itu, aku sangat yakin jika Sungmin Hyung akan menyukaimu.”

 

 

Ryewook kembali menghentakkan genggaman tangannya ke meja. Dia sungguh gemas. “Kenapa kau masih sangat muda Minho-yah…Ish, aku benci Cho Kyuhyun.”

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Ini adalah hari yang lainnya. Hari yang sama seperti hari sebelumnya. Sekolah musik sama sekali tak menarik lagi baginya.  Cafe tempatnya bernyanyi pun, sama sekali tak bisa menghiburnya. Dia sama sekali tak bisa mengalihkan pikirannya pada hal lain. Meski ia bisa mendengar suara Minho, tapi kedua matanya selalu bisa menemukan sosok yang tengah duduk diam sambil melempar jagung kearah merpati yang ada dihadapannya.

 

 

Bagi Sungmin, pemandangan dihadapannya sangat indah. He is kind of another angel. Kyuhyun terlihat sangat sempurna, terlalu bersinar.

 

 

“Aku tahu, aku tak bisa mengalihkanmu.”

 

 

Minho berucap pelan dan sambil menepuk bahu Sungmin. Sungmin mau tak mau harus merasakan perasaan bersalah. Ia juga terluka tengah membuat Minho berada dalam posisi yang mungkin malah paling sakit diantara mereka.

 

 

Sungmin menyentuh kedua sisi pipi Minho. “Kau terlalu baik, Minho.”

 

 

“Tapi tak cukup baik untukmu.”

 

 

Sungmin membeku. Sungmin tahu, jika Minho mencintainya. Entah berapa kali namja itu menyatakan perasaannya. Semua orang pun tahu jika Minho bahkan seribu kali lebih baik dari Kyuhyun. Tapi, kenapa…

 

 

“Mianhe, Minho.”

 

“Bukan salahmu jika sama sekali tak menyukaiku. Tapi, aku bisa mencintaimu. Kita bisa, setidaknya jika kau mau mencoba. Jebalyo…”

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

“Hyung, bagaimana kencanmu?’

 

 

Ryewook bertanya dengan semangat penuh. Ia sendiri yang mengatur kencan Sungmin dengan Minho hari ini. Suasana romantis, sore yang cerah bersama dengan angin yang sejuk. Ditambah ice cream dan juga merpati yang selalu beterbangan di tengah taman.

 

 

“Bukankah sangat romantis, seperti di Paris. Jadi, bagaimana dengan Minho? Apa kau sudah… eum setidaknya berciuman dengannya?”

 

 

Sungmin hanya diam. Ia sama sekali tak bisa mencerna apapun yang dikatakan Ryewook. Dalam pikirannya hanya ada Kyuhyun ia sama sekali tak mengerti, kenapa di semua tempat ia harus selalu bertemu Kyuhyun.

 

 

“Wookie-ah…”

 

 

“Heum…”

 

 

“Disana juga ada Kyuhyun.”

 

 

“Mwoya!!! Bagaimana bisa?!” Ryewook berteriak kesal. “Bagaimana dia bisa ada disana? Dari semua taman, bagaimana bisa dia ada disana!!? Dasar penguntit!” Ryewook kesal, dia terlihat benar-benar sangat kesal dan marah. Ia sudah susah payah membujuk Minho, agar menyatakan perasaannya lagi pada Sungmin.

 

 

Sudah susah payah membujuk Sungmin untuk kencan (?) dengan Minho, dan akhirnya semua berakhir seperti ini lagi.

 

 

“Kenapa Kyuhyun seperti penguntit? Bahkan dia berhenti bekerja di cafe tanpa pemberitahuan apapun dan berapa hari kemudian aku melihatnya berada di toko roti tepat di depan florist yang baru kita buka. Sangat keterlaluan! Aku akan memarahinya terang-terangan. Lihat saja!”

 

 

Ryewook segera beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Sungmin.

 

 

Sungmin memang merasa sangat aneh. Saat dimana ia mulai menjaga jarak dari Kyuhyun, adalah saat yang sangat berat. Karena memang aneh, dia masih bisa menemukan Kyuhyun dimanapun meski dia sudah berpindah tempat kerja, berhenti dari sekolah musik dan bahkan saat ia mengantar bunga kesalah satu pesta pernikahan. Dia bisa menemukan Kyuhyun berada disana, baik dijalan maupun tengah duduk atau sekedar memotret.

 

 

Dan dari pintu kaca toko bunganya, ia bahkan bisa melihat Kyuhyun tengah tersenyum ramah pada seorang Halmeoni dan menghidangkan satu potong cake dan juga coffe latte yang memang terkenal sangat enak saat Kyuhyun yang membuatnya.

 

 

Tak ada satupun celah untuk keburukan yang dimiliki Kyuhyun.

 

 

Apapun yang ada didalam tubuh Kyuhyun, semuanya sempurna.

 

 

“And I was so in love with him….”

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

Hari dimana Ryewook justru tidak berangkat untuk membantunya ditoko bunga adalah hari yang terberat bagi Sungmin. Pemilik cake shop, tempat dimana Kyuhyun bekerja memesan beberapa set bunga untuk menghias tokonya.

 

 

Sedikit berdebar. Sungmin tak pernah sedekat ini dengan Kyuhyun setelah beberapa bulan berlalu. Setelah ia memutuskan untuk berhenti menempel pada Kyuhyun dan memutuskan untuk merubah semua tingkah lakunya. Meski ia sendiri merasakan sesuatu yang asing, dia seperti bukan dirinya lagi.

 

 

“Ah… kau sudah datang. Kuharap kau tak sibuk, karena aku ingin kau mengatur semua bunga. Bisakah?”

 

 

Sungmin hanya mengangguk. Yeoja yang sudah berumur itu sangat manis. Seperti ummanya, dan Sungmin tak mungkin mengatakan tidak pada yeoja pemilik cake shop itu. Meski itu artinya dia akan berada disekeliling Kyuhyun. Namja itu tengah merapihkan meja yang baru saja ditinggalkan oleh sepasang kekasih.

 

 

Sungmin sesekali mencuri pandang untuk melihat Kyuhyun, dan semuanya masih sama dia masih saja berdebar dan bahkan sekarang terasa sedikit sakit. Sungmin tak mau lebih lama merasakan perasaan itu, dia bergegas merapihkan punga mawar putih di beberapa meja yang tersisa dan segera mengucapkan salam pada ahjumma pemilik cakeshop itu.

 

 

Sedikit berharap, Kyuhyun akan menyapanya. Tapi, sepertinya kenyataan tak berjalan seperti apa yang ia inginkan. Bahkan Kyuhyun tak melihatnya sekalipun.

 

 

‘He’s as cold as ice…’

 

 

.

 

 

.

 

 

“Hujan…”

 

 

Sungmin melihat kearah luar. Sore itu sangat sepi, karena hujan terus saja turun. Ia bahkan tak bisa pulang karena tak mungkin berjalan cukup jauh untuk sampai ke stasiun kereta di tengah hujan yang entah kapan akan berhenti.

 

 

Sungmin beranjak dari duduknya dan kemudian menutup jendela kaca tokonya. Mungkin ia akan menginap di toko saja. Setelah mengirim pesan pada Ryewook, ia membuat coklat panas dan kembali duduk diam. Ia menekan tombol play pada music player yang ada ditokonya dan ia mulai sedikit merasa tenang. Alunan piano yang terdengar pelan dan lembut cukup berhasil menghibur kesepiannya.

 

 

“Sangat tidak sopan kau selalu memainkannya.”

 

 

Sungmin hampir menjatuhkan gelas coklatnya saat ia mendengar suara bass yang benar-benar ia kenal. Meski hampir sangat jarang Kyuhyun berbicara padanya. Sungmin juga baru merasakan panas pada pahanya beberapa menit setelah ia sadar dari keterkejutannya.

 

 

“Apakah kau selalu seperti ini?”

 

 

Kyuhyun berucap pelan dan mendekati Sungmin. Sungmin tak bisa berkata apapun. Ia bahkan belum percaya pada penglihatannya, Kyuhyun berada dihadapannya, dan berbicara padanya.

 

 

“Aku tidak… aku tak sengaja menjatuhkan coklatnya. Uh… maaf. Tapi, kenapa kau ada disini?”

 

 

Kyuhyun hanya diam. Situasi seperti ini membuat Sungmin sedikit canggung. Meski sebelumnya dia selalu ceria didepan Kyuhyun, tapi entahlah. Sekarang ia merasa sangat takut dan canggung.

 

 

“Kenapa kau sangat senang bermain-main?”

 

 

“Hheuhhh…?”

 

 

Kyuhyun tak menyahut. Ia hanya memamerkan smirk yang entah sejak kapan tak ia keluarkan. Ia mendekati Sungmin dan memegang erat kedua sisi bahunya. “Bagaimana bisa kau selalu seperti ini padaku?”

 

 

“Aku tak melakukan apapun. Bukankah aku sudah menjauh? K-kau sepertinya tak…”

 

 

“Beraninya kau melakukan itu padaku?”

 

 

“Aku tak melakukan apapun, Kyu. Aku tak mengganggumu.”

 

 

Kyuhyun mendekatkan wajahnya pada Sungmin. Kedua mata foxy itu terlihat sangat cantik, dan alunan piano yang mengiringi mereka sepertinya seakan mengerti suasana hati Kyuhyun.

 

 

“Siapa yang mengijinkanmu untuk menjauhiku?”

 

 

“Tapi, Kyu kau…”

 

 

Sungmin diam.

 

 

Dia tak akan bisa bicara saat bibirnya merasakan kelembutan bibir Kyuhyun. Sesuatu yang hangat dan sangat memaksa, yang sanggup melemahkan kedua kaki Sungmin. Bahkan tubuhnya bergetar hebat.

 

 

“Jangan melakukan apapun tanpa seizinku. Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika kau milikku.”

 

 

“Kyu….”

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

“What!!!!” Ryewook berteriak histeris. “Beran-beraninya si evil batu menyebalkan itu mencuri ciuman dari bibir Sungmin hyung!” Ryewook menoleh tajam pada Yesung. Namja yang mungkin sama sekali tak bersalah dalam masalah ini.

 

 

“Ini karena kau, Hyung!!! Kau menahanku saat aku akan menjemput Sungmin hyung. Ish… kau sangat menyebalkan.”

 

 

“Kita sedang  di ronde 2 saat kau ingat Sungmin, bagaimana bisa aku membiarkanmu pergi saat aku sendiri membutuhkanmu.”

 

 

Ryewook ingin sekali memukuli namjanya yang selalu saja blak-blakan itu.

 

 

“Ish…Mianhe Sungmin hyung, aku tak bisa menjagamu. Aku berjanji, setelah ini aku akan selalu bersamamu. Mengantarmu dan mengikutimu kemanapun kau mau.”

 

 

“Yah!!! Aku namjachingumu. Jika kau terus menguntit Sungmin, kapan kau akan bermesraan denganku?”

 

 

“Ish… jangan kekanakkan hyung. Sungmin hyung lebih penting sekarang.” Ryewook bergegas merapihkan isi tas ranselnya dan kemudian bersiap. “Nah, sekarang kita berangkat ke florist. Ah… aku ingin mencium wangi bunga.”

 

 

Ryewook terhenti saat ia tak merasakan pergerakan Sungmin, padahal dia sudah menarik pergelangan tangan namja itu. “Wae Hyung??? Apakah ada yang terlupa?? Bukankah kau meninggalkan tasmu di toko.”

 

 

“Eum… Wookie-ah.”

 

 

“Heum?”

 

“Sebenarnya ranselku tak tertinggal di toko.”

 

 

“Eoh? Dimana hyung??? Jangan sampai hilang atau kita tak akan bisa mengantarkan bunga yang sudah di booking pembeli. Ish… aku tak punya salinan alamatnya hyung.”

 

 

“Wookie, tenanglah. Tasku tidak hilang.”

 

 

“Lalu?”

 

 

“Hanya tertinggal di suatu tempat.”

 

 

“Dimana?”

 

 

“Dirumah Kyuhyun.”

 

 

“Oh… ya sudah kita ambil saja.” Ryewook melenggang dengan santainya sambil menarik Sungmin untuk mengikutinya. Tapi selang beberapa detik, “What!!!!” Ryewook berbalik dengan sangat cepat dan menghadap tepat didepan wajah Sungmin. “Bagaimana bisa dirumah Kyuhyun!!!!”

 

 

“I-itu….”

 

 

“Sshhh…. baby Wookie-ah.” Yesung mencoba menghentikan tangan kurus  Wookie yang terus menggoncangkan tubuh Sungmin.

 

 

“Sudahlah. Lagian kemarin hujan deras, dan sangat pas untuk make out.”

 

 

“Yah!!!!” Ryewook berteriak kesal pada Yesung. “Ingatkan aku jika aku sedang marah denganmu Hyung.” Ryewook mendorong tubuh Yesung hingga namja itu menabrak pintu. Ryewook mengacuhkannya dan kembali sibuk pada Sungmin.

 

 

“Jangan katakan k-kalian make out.”

 

 

Meski dengan wajah memerah dan menunduk, tapi dengan jelas dia melihat Sungmin mengangguk.

 

 

“Yahhh!!! Bagaimana bisa? Ish… aku harus buat perhitungan dengan si evil batu jelek itu. Aku akan…”

 

 

“Akan apa?”

 

 

Ryewook menghentikan kata-katanya. Ia langsung memutar tubuhnya menghadap kepintu. Kemarahannya semakin menjadi saat melihat namja yang benar-benar ia benci tengah berdiri di pintu apartemennya.

 

“Aku akan membunuhmu evil batu jelek!!!”

 

 

“Coba saja kalau kau bisa.” Kyuhyun memamerkan smirknya. Dan tanpa basa-basi ia langsung menarik Sungmin kedalam pelukannya dan mencium lembut bibir namja itu tepat di depan wajah shock Ryewook.

 

 

“How dare you Cho Kyuhyun!!!! Dia hyungku!”

 

 

Kyuhyun memeluk erat pinggang Sungmin setelah ia menghentikan ciuman singkat mereka. ia menatap tajam pada Ryewook. “Kau tahu, aku tak  pernah berharap Sungmin berteman denganmu. Kau membuat semua usahaku sia-sia. Dan tingkahmu yang berani-beraninya menyuruh Minho  untuk terus menempel pada Sungmin benar-benar menggangguku. Jangan melakukan apapun pada Sungminku, atau aku akan melakukan hal yang lebih gila padamu.”

 

 

“Mwoya!!! Apa maksudmu evil Cho!!!!”

 

 

Sungmin menghela nafasnya. Ia mendorong Kyuhyun untuk keluar dari apartemennya. Dia merasa dia harus menjelaskan sesuatu terlebih dahulu pada Ryewook dan menyingkirkan kedua seme evil tak berguna itu diluar pintu.

 

 

“Katakan hyung!!! Bagaimana sebenarnya? Bagaiamana dia bisa melakukan hal itu dengan mudahnya dan bahkan setelah mengacuhkanmu selama beberapa tahun ini dan bagaimana bisa dia menciummu seperti itu? Bag….”

 

 

“Tenang Wookie-ah.”

 

 

“Bagaimana aku bisa tenang?”

 

 

“Dia hanya kesal dengan Minho.”

 

 

“Mwo!!!”

 

“Ya… hari dimana Minho mengatakan dia menyukaiku adalah hari dimana Kyuhyun akan menyatakan perasaannya padaku.”

 

 

“Mwoya!!!”

 

 

“Trust me, he loves me.”

 

 

Dan sungmin mencium pipi Ryewook setelah menepuk pipi tirus itu beberapa kali untuk menyadarkan namja manis itu dari keterkejutannya. “YAH!!! Dasar evil Cho!!!!”

 

.

 

 

.

 

 

.

 

 

.

 

END

 

.

 

 

.

 

 

Failed!!

 

 

Bahasanya anehhhhhhhhh….

 

.

 

 

CHICKEN SOUP FOR TEENAGE SOUL || Ch. 10 || YAOI | KYUMIN

 

CHICKEN SOUP FOR TEENAGE SOUL

 

 

 

 

 

Author : rainy hearT

 

 

Length : Series

 

 

Rated : T to M

 

 

Cast :

 

– Cho Kyuhyun

 

– Lee Sungmin a.k.a Cho Sungmin

 

– Other SUJU and SHINEE member

 

 

-KyuMin aegya :

 

~ Cho Sunghyun a.k.a Sungie (N)

 

~ Cho Minhyun a.k.a Minhyunie (Y)

 

~ Sandeul b1a4  a.k.a  Cho Kyumin (N)

 

 

Haehyuk aegya

 

                ~ Lee Eunhae a.k.a Junior (N)

 

 

-Yewook aegya

 

                ~Kim Jongki a.k.a Kie (N)

 

 

 

-Zhoury Aegya

 

                ~ Jinyoung b1a4 a.k.a Zhoury (N)

 

 

 

-Sibum Aegya

 

                ~ Baro b1a4 a.k.a Sibum                (N)

 

 

-Jungmo x Leeteuk

 

~ Gongchan a.k.a Baby Soo (N)

 

 

– Yeoja Cast (GS)

 

                ~ Leeteuk            ~ Junsu’ie            ~ Taemin

 

                ~ Heechul            ~ Jaejong             ~ Key

 

 

Pairing : KYUMIN and Other Pair

 

 

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan dan diri mereka sendiri. Tapi Kyuhyun dan Sungmin saling memiliki. Kyuhyun milik Sungmin, Sungmin milik Kyuhyun

 

 

Genre : Romance / Family/Fantasy

 

 

Warning : Boy x Boy / BL / YAOI, gaje, typo disana-sini, EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

 

 

Summarry : “Menjadi dewasa adalah IMPIAN. Setelah dewasa karena usia adalah BEBAN. Karena semua yang kita lakukan adalah sebuah bekal, untuk melangkah bersama menuju satu titik KEDEWASAAN. Dimana KEJUJURAN akan menjadi satu tali yang mengikat kebersamaan kita. Raih genggaman tanganku dan kita akan tumbuh bersama.”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

GAMSAHAE untuk yang selalu setia sama KYUMIN and menanti ff ini.

 

 

Be Patient with Me please. No Copas/No Bash. Don’t Like Don’t Read.

 

 

Mianhe, jika ceritanya semakin ngawur dan juga keluar dari KyuMin. Tapi inilah Chicken Soup.

 

Dimana kebersamaan dan kekeluargaan itu terasa nyata.

 

 

 

As a small present for OUR LOVELY AND THE GREATEST COUPLE

 

Let’s save their love, 13elieve in the name of 7ove….

 

.

 

.

 

HAPPY READING

 

.

 

.

 

CHICKEN SOUP FOR TEENAGE SOUL

 

.

 

Chapter 10

 

.

 

.

 

Ep. Hope

 

.

 

.

 

.

 

Notice me:

 

 

 

Ni keterangan Usia and tingkatan kelas mereka.

 

 

 

~ Senior High 3rd Grade :  Cho Sunghyun (17), Cho Minhyun (17), Kim Jongki (17), Junior (17), Taemin (15), Key (16), Minho (16), Onew (17).

 

 

 

~ Senior High 1st Grade :  Zhoury (15), Sibum (15)

 

 

 

~ Primary School  5th grade : Kyumin (10), Baby Soo (11)

 

 

 

.

 

.

 

.

 

 

 

Flashback~

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

Masih bergelut dalam kehangatan selimut dan sedikit bermandikan keringat yang mengering. Tangan dengan jari besar itu mengusap lembut rambut yang sedikit menutupi wajah cantik yang ada di pelukannya. Saling tersenyum dan meyakinkan satu sama lain, jika semuanya sudah pada jalannya.

 

 

 

“Kie…”

 

 

 

“Heum….”

 

 

 

Minhyunnie sedikit mengangkat wajahnya dan berangsur kembali menciumi wajah Kie. Menangkup kedua pipi penuhnya. “Saengil chukkae~”

 

 

 

Percintaan selanjutnya mereka lakukan di salah satu penginapan itu. Memang salah, dan mereka menyadarinya. Tapi hanya inilah yang bisa mereka lakukan, untuk saling berbagi dan mengisi. Menghapus kerinduan yang mungkin saja akan tetap ada. Atau setidaknya, menghapus semua pemikiran yang sama sekali tak boleh dibayangkan sekalipun.

 

 

 

Minhyun kembali mengeratkan pelukannya. Ia mengusap lembut dada telanjang Kie. Begitu banyak pemikiran yang ada di dalam otak Minhyun. Sesungguhnya ia juga sedikit ragu dan takut. Akankah ini akan cukup baginya. “Aku ingin selalu seperti ini, memeluk Kie dan bersama dengan Kie.”

 

 

 

“Tenanglah, aku akan selalu ada baby.”

 

 

 

Minhyun menyimpan semua perasaan kalutnya sejenak. Ia meremas kuat selimut tebal mereka, mencoba mengubur dalam rasa khawatirnya. “Baguslah, kuharap kau tak sedang mencoba membohongiku.”

 

 

 

“Ahni, tenanglah.”

 

 

 

Minhyun tersenyum kecil, meski pada kenyataannya mungkin tak akan seperti itu tapi setidaknya ini lebih baik daripada harus jatuh mulai sekarang.

 

 

 

“Ah, Kie~ bagaimana jika aku hamil?”

 

 

 

“Hahaha… bisa saja. Memang kau mau hamil?”

 

 

 

“Nde, tentu saja mau. Aku tak apa hamil dan mengurus baby. Masih ada Ming mommy dan juga pelayan dirumah yang akan membantuku. Kie akan bekerja dan aku akan menjaga baby.”

 

 

 

Kie menangkap wajah Minhyun dan menciumnya. “Benarkah akan seperti itu?”

 

 

 

“Tentu saja, kita akan bersama mengantarnya ke sekolah. Mengajaknya bermain di taman, berbelanja bersama. Dan baby Kie pasti sangat tampan seperti appanya. Dan~”

 

 

 

Kata-kata Minhyun terhenti. Melihat wajah Kie yang tak begitu senang dengan semuanya. Apakah Kie tahu perasaannya? Dan Minhyunnie tak bisa menahannya lagi. Satu per satu butiran basah jatuh di pipinya.”Hiks~ Kie…”

 

 

 

“Sudahlah~” Kie memeluk tubuh Minhyun kedalam pelukannya.

 

 

 

“Aku ~ hikss…. akan sangat senang jika kenyataannya seperti itu. Tapi~ Hikss…. Kie…”

 

 

 

Kie terus mencoba meyakinkan Minhyun. Ia lebih memilih diam dan terus mengusap lembut punggung yeoja itu. “Percaya padaku, semua akan baik-baik saja baby.”

 

 

 

“Berjanji padaku Kie…”

 

 

 

“Apa?”

 

 

 

“Kau juga akan baik-baik saja, dan akan selalu bersamaku.”

 

 

 

Kie terdiam sejenak.

 

 

 

“Berjanji jika kita akan bersama selamanya, bersama dengan aegya kita. Kau akan bekerja dan aku akan mengurus mereka. menjadi keluarga yang sepenuhnya dan bahagia. Berjanjilah Kie.”

 

 

 

“A-aku…”

 

 

 

“Hikss… jebal Kie…”

 

 

 

“Nde baby, aku berjanji.”

 

.

 

 

 

.

 

 

 

Flashback Off

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

Ceklek…

 

 

 

.

 

 

 

Sungmin membuka  pintu kamar Minhyun. Ia kemudian hanya terdiam di ambang pintu itu. Terhenti disana dan hanya melihat dari kejauhan. Betapa terpukulnya putri kecilnya itu. Dengan wajah sendu dan terus saja memeluk boneka bunny yang sedikit usang termakan usia.

 

 

 

Air mata tak kunjung berhenti keluar dan membasahi pipinya. Sungmin tahu perasaan ini. Perasaan yang sama dimana ia menyadari jika aegyanya dulu telah meninggalkannya. Terpukul dan mencoba kuat, tapi ini berbeda.

 

 

 

Minhyun menyaksikan sendiri bagaimana janin itu di tawan oleh Schnee. Tak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkannya. “Hikss…” Kembali Minhyun mencoba menghentikan tangisnya. Tapi yang ada malah semakin terasa sakit dan perih, semakin ingin menangis terus menerus.

 

 

 

Disaat seperti ini yang ia inginkan hanyalah Kie. Dan ia sendiri bahkan tak tahu, bagaimana Kie akan melakukan semuanya. Menyelamatkan Wookie dan kembali ke dunia manusia.

 

 

 

“Hikss….. “

 

 

 

Sungmin lebih memilih membiarkan Minhyun sendiri. Untuk saat seperti ini ia tahu persis jika kesendirian akan lebih baik daripada ia menemaninya. Akan semakin menambah kesedihan, dan lagi pula ia sendiri tak mampu berbuat banyak untuk Minhyun.

 

 

 

Sungmin kemudian menutup kembali pintu kamar itu. Dan saat ia berbalik, kembali harus dikejutkan oleh kehadiraan Kyuhyun dibelakangnya. “Kyu~”

 

 

 

Kyuhyun hanya tersenyum kecil dan kemudian meraih tangan Sungmin dan membawanya pergi dari sana. “Kau tak hanya punya Minyun, Ming. Kyumin dan Sunghyun juga membutuhkanmu. Mereka sama sedihnya denganmu saat melihat keadaan Minhyun. Meski mereka terlihat baik-baik saja, tapi tak berarti kau bisa melupakan mereka. Mereka juga membutuhkanmu. Arraseo?”

 

 

 

“Kyunie~ Mianhe…”

 

 

 

Kyuhyun mencium kecil pipi Sungmin. “Kajja, makanlah. Mereka sudah menunggumu. Nanti setelah mereka ke sekolah, kau bisa mengurus Minhyunie.”

 

 

 

Sungmin mengangguk kecil dan melempar senyum sebisanya. Ia harus terlihat baik-baik saja dan tegar. Tak mungkin ia menunjukkan air mata dan kesedihannya hingga kemudian mengacuhkan aegya yang lainnya.

 

 

 

Sungmin mendekati Kyumin dan memeluknya. “Mianhe baby…”

 

 

 

Kyumin hanya mengangguk kecil dan kemudian menyodorkan susunya pada Sungmin. “Minumlah mommy, kau tak terlihat baik-baik saja. Jangan terlalu memikirkan Minnie noona.”

 

 

 

Sungmin hanya bisa tersenyum miris dan mencium pucuk kepala Kyumin. “Mianhe baby.” Sungmin kemudian duduk di kursinya, tepat di sisi Sunghyun. Namja mungil itu kemudian menggenggam erat tangan Sungmin.

 

 

 

“Tenanglah Mommy, beberapa hari lagi pasti semuanya kembali seperti semula.”

 

 

 

Sungmin mengangguk pada Sunghyun. “Kau tahu, kau yang terbaik Sungie. Mianhe, Mommy tak bisa berbuat banyak hal untuk Minhyun.”

 

 

 

Sunghyun hanya mengangguk. Ia kemudian membawa sarapannya, meninggalkan meja makan itu dan menuju ke kamar Minhyun. Entah bagaimana caranya, seakan ada tali yang menariknya untuk mendekat pada Minhyun. Meski disaat seperti ini, Minhyun sama sekali tak bisa ditenangkan dengan mudah tapi setidaknya Sunghyun harus bisa membujuknya makan. Tubuhnya semakin lemah, dan Sunghyun bisa merasakannya.

 

 

 

“Minnie~”

 

 

 

Dengan cepat Minhyun mencoba menghapus berkas air mata di pipinya. Mencoba berpura-bura masih tidur sambil memeluk boneka bunny usangnya.

 

 

 

“Jangan berpura-pura tidur, Minnie. Aku tahu.”

 

 

 

Sunghyun meletakkan makanan mereka di meja kecil yang ada di sisi tempat tidur itu. Berusaha membawa tubuh Minhyun untuk duduk dan menyuapinya. Minhyun yang memang tak tertidur  kemudian membuka mata dan menatap sendu pada Sunghyun.

 

 

 

“Gwenchana.” Ki mengambil satu suapan bubur dan menghadapkannya pada Minhyun. “Say aaaahhh…”

 

 

 

Minhyun menggeleng.

 

 

 

“Ayolah Minnie, kau harus makan. Kajja, say aaaahhh…”

 

 

 

“Oppa~”

 

 

 

Sunghyun kembali meletakkan sendok itu ke mangkuknya. Ia kemudian mengambil suus untuk Minhyun. “Setidaknya,kau minum susunya. Bagaimana jika Kie kembali nanti, kau terlihat menyedihkan.”

 

 

 

“Aku tak terlihat seperti itu. Aku masih tetap cantik, Oppa.”

 

 

 

“Ah, benarkah?” Sunghyun mencoba menggoda Minhyun. “Aku lihat sekarang, bahkan Taeminnie lebih cantik darimu. Dan juga Key, dia seribu kali lebih cantik dan kau terlihat menyedihkan.”

 

 

 

.

 

Pukkkk

 

.

 

 

 

“Oppa! Bagaimana bisa kau menghinaku begini? Aku ‘kan sedang sedih.”

 

 

 

“Ah ya, mianhe.” Sunghyun kembali mengambil sendok bubur itu. “Makanlah, atau kau akan terlihat kurus. Kau bilang, Kie tak menyukai yeoja kurus. Jadi kau harus makan agar tubuhmu itu tak semakin menyusut.”

 

 

 

“KYA! OPPA!”

 

 

 

“Aeum…” Sunghyun berhasil memasukkan suapan itu ke mulut Minhyun yang sedikit terbuka. Dan saat Minhyun tengah berusaha menelan makanannya. Sunghyun mencium pipinya dan mengusapnya. “Tidak akan terjadi apapun, dan harusnya kau percaya jika semuanya untuk kebaikan. Lagi pula, aegyamu akan menjadi raja. Bukankah kau harusnya senang akan hal itu? Dan~”

 

 

 

Sunghyun menghentikan kata-katanya. Kemudian menatap penuh selidik pada Minhyun. “Mwo? Kenapa melihatku seperti itu?”

 

 

 

“Ahahaha~ aku pikir kalian akan bisa membuatnya lagi, bahkan mungkin lebih banyak lagi.”

 

 

 

“KYA! OPPA! APA MAKSUDMU?”

 

 

 

“Ahahhaa…. mianhe Minnie… ahhhahaha…. “

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

“Ikuti cahaya ini. Kau akan sampai ketempat dimana salju abadi itu. Salju abadi hanya bisa kau sentuh jika hatimu bersih. Kau bisa mengambilnya sebanyak yang kau mau. Tempatkan dia di pot bunga snowdrop dimana Wookie mengering.”

 

 

 

“Semudah itu ‘kah?”

 

 

 

Schnee mengangguk. “Memang semudah itu, tapi kau tak boleh terbang. Hanya boleh berjalan kaki.”

 

 

 

Kie tertegun. Ia menatap tak mengerti pada Schnee. “Berapa hari aku bisa kesana?”

 

 

 

“Paling cepat 14 hari dan jika kau berhasil, maka kau akan langsung kembali ke dunia manusia. Meninggalkan dunia peri selamanya.”

 

 

 

Kie terdiam. Ada satu hal yang masih saja mengganggu pemikirannya. Keadaan Minhyun selanjutnya dan juga baby mereka. Dan lebih menyakitkan lagi, bahwa ia bahkan belum melihat janin itu. Hanya berupa cahaya yang terus terkurung di ujung tongkat Schnee. “Tapi aegyaku~ Bisakah kau mengembalikannya? Aku tak yakin dia akan menjadi rasa disini, jadi ~bisakah kau_”

 

 

 

Schnee tersenyum kecil. “Kau benar-benar rakus. Aegyamu sudah menjadi milikku dan jangan pernah berharap kau akan bisa menemuinya. Semua pemikiran Minhyun tak akan hilang dari ingatannya. Semuanya, termasuk janin itu. Kurasa membalas kalian dengan sedikit saja perasaan bersalah adalah hal bagus. Aku akan tetap membiarkan ingatan kalian, membiarkan kalian merasakan bagaimana perasaan kaumku. Dan satu hal lagi, dia milikku.”

 

 

 

Kie menatap wajah angkuh Schnee. Begitu banyak pertanyaan berkecamuk di otaknya. “Apakah begini sifat seorang peri yang angkuh dan sama sekali tak berperasaan?”

 

 

 

Schnee menatap tajam pada Kie. “Jangan mencoba menceramahi atau menghinaku. Beginilah caraku menjaga kerajaan peri, atau tak akan ada lagi bunga snowdrop di dunia ini. Sebaiknya kau cepat pergi dan jangan lagi menggangguku.”

 

 

 

Schnee kemudian terbang semakin meninggi. Menggantungkan tongkatnya ke atas awan yang sedikit menghitam. “Awan ini akan semakin memutih saat matahari hitam perlahan menghilang. Dan biarkan janin itu tumbuh atas kuasaku, bisa kupastikan dia akan hidup lebih baik disini. Seorang peri harus kembali ke kaumnya. Bukan mengikuti pemikiran bodoh appamu atau kau sekalipun. Kalian~ adalah perusak peri bangsawan.” Schnee menatap penuh kepuasan pada tongkatnya yang menjadi pengukur kekuatan matahari hitam.

 

 

 

Wajah cantik itu terlihat sedikit menakutkan. Begitukah soosk yang begitu diagungkan oleh rakyat Kerajaan Peri? Sayangnya, tak ada yang mengetahui keangkuhan itu kecuali Kie. Disini, ditempat terpencil~ tempat paling tinggi di kerajaan peri. Tempat dimana Kie akan segera memulai perjalanannya.

 

 

 

Meski dari kejauhan, Kie bisa melihat wajah Schnee yang penuh dengan kepercayaan diri dan juga senyuman kemenangan. “Bagaimanapun, kalian juga harus merasakan bagaimana kami saat kehilangan sahabat kami? Satu jiwa sama sekali tak ada artinya dibandingkan dengan beribu jiwa yang telah mati karena matahari hitam itu.”

 

 

 

Dan Schnee terus terbang tinggi hingga menghilang dari tempat itu. Tempat serupa dengan tepi tebing salju yang tinggi dan curam. Mengharuskan Kie untuk menuruninya seorang diri. Sementara itu cahaya di depannya mulai bergerak perlahan dan kemudian terbang memaksa Kie harus bersusah payah.

 

 

 

Kie mencoba meyakinkan dirinya sendiri jika ia bisa melakukannya. “Minhyunnie-saranghae. Umma, saranghae. Hwaiting!!!!” Berteriak keras kemudian berlari cepat menyusul cahaya itu.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

“Jadi bagaimana keadaannya sekarang?”

 

 

 

Yesung mengangkat wajahnya dan kemudian berjalan menjauhi 2 namja tampan yang sedang mengunjunginya. Ia berhenti di pot bunga snowdop dengan tanah keringnya. Bunga yang sudah sangat mengering, dan mungkin bisa terbang terbawa angin yang sedikit kencang di luar sana.

 

 

 

“Dan kenapa kau tak mengatakan apapun tentang hal ini? Meski tak membantu, tapi kami akan menunjukkan  kepedulian kami padamu. Seperti memperhatikan makanmu, misalnya. Iya ‘kan Hyukkie?”

 

 

 

“Ne, kurasa juga begitu. Kau terlihat buruk, dan itu mungkin yang menjadi alasan Kie terus saja menumpang sarapan di rumah Ming, ahhahhaa….” Hyukkie mencoba tertawa, setidaknya mungkin Yesung akan ikut tertawa.

 

 

 

Tapi sayangnya tidak begitu. Namja itu hanya menggeleng dan tersenyum miris. “Aku hanya berusaha menjadi kuat disaat aku sendiri seperti ini. Rasanya seperti tak ada yang menyayangiku lagi. Bahkan tak ada seorangpun yang mau hidup denganku sekarang. Bukankah sangat menyedihkan?”

 

 

 

Yesung menatap kosong kearah depannya. Satu per satu butiran salju turun tapi sama sekali tak bisa membantunya menenangkan dan ,mendinginkan pemikirannya. “Lebih takut lagi jika Kie tak bisa kembali. Apakah aku juga akan menghilang?”

 

 

 

“Yesungi~”

 

 

 

Hae berjalan mendekat. Ia berusaha bersikap sebiasa mungkin. Ia juga merasakannya, bagaimana saat kehilangan orang yang kalian sayangi? Sama seperti saat Yunho meninggalkannya dan Jaejongie terus saja bersedih. Tak ada yang bisa ia lakukan, selain hanya seperti saat ini.

 

 

 

Memeluk tubuh Yesungie dan menangis bersamanya. “Aku tahu ini sangat berat. Tapi mencoba untuk tak terlalu larut. Akan sangat konyol jika kita tak bisa sama sekali mengontrol semuanya, bukankah kita harus kuat untuk orang yang kita miliki. Lebih baik menyimpan semuanya dalam hati sendiri dan tersenyum pada orang lain. Jangan biarkan mereka berfikir jika kau lemah.”

 

 

 

Yesung hanya diam dipelukan Hae. Sementara Hyukkie, ia tak akan mengganggu kedua namja itu. Hanya tersenyum saat melihat Hae berusaha keras menahan tangisannya. Ia bukan namja yang kuat, tapi mencoba menguatkan orang lain. Ia bahkan tak bisa menahan tangis saat Yunho meninggal karena serangan jantung itu. Tapi menceramahi orang lain dan terus mengatakan seakan ia kuat.

 

 

 

“Paboya Lee Donghae~”

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

“Bagaimana Minhyunnie?”

 

 

 

“Aku rasa dia akan baik-baik saja. Mungkin bahkan jauh lebih baik dari hari kemarin. Aku sudah memaksanya makan, dan perasaanku mengatakan jika Mommy bisa membuatnya lebih tenang.”

 

 

 

Junior mengangguk dan kemudian meraih tangan kanan Sunghyun. Memasukkannya ke mantel hangatnya. Sunghyun menoleh, dan mereka saling melempar senyum.

 

 

 

“Agar kau tak kedinginan.” Junior kemudian berhenti dan membenarkan mentel Sunghyun. “Aku yang bodoh atau kau yang bodoh. Sudah tau hujan salju, tapi malah keluar dari sekolah.”

 

 

 

Sunghyun tertawa kecil. “Entahlah, aku hanya ingin menikmati salju saja. Rasanya seperti merindukan Wookie Umma dan Kie. Bagaimana keadaan Kie disana?”

 

 

 

Mereka kembali berjalan, menikmati dinginnya pagi hari dengan hujan salju yang tak begitu lebat itu. “Sudahlah, jika bersamaku jangan mencoba memikirkan apapun yang membuatmu bersedih. Terlihat sangat konyol dan mungkin saja orang yang menatap kita berfikir jika aku telah berlaku jahat atau menjahilimu.”

 

 

 

“Hahhaa…”

 

 

 

Mereka berdua tertawa bebas. Berbaur dengan begitu banyak orang yang juga memilih untuk menikmati salju. Berhenti di taman yang sudah penuh dengan tumpukan salju dan saling melempar satu sama lain.

 

 

 

“Ya!”

 

 

 

“Hhahhaa…. hyung! Awas! Aku akan membalasmu!”

 

 

 

“Hahaha….”

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

“Momy, apakah Kie akan kembali?”

 

 

 

“Nde, tentu saja. Bukankah kau percaya padanya?”

 

 

 

“Eum…” Minhyun mengangguk dan terus menatap hujan dari jendela kamarnya. “Biasanya jika hujan salju seperti ini, aku dan Kie akan duduk bersama di depan toko ice cream di dekat sekolah. Dia akan memelukku dan memastikan aku tidak kedinginan. Meski kadang dia payah dan bahkan bersikap aneh, tapi dia punya cara tersendiri untuk memanjakan aku.” Minhyun tertawa kecil.

 

 

 

Minhyun kemudian menoleh penuh pada Sungmin dan menumpukan wajahnya diatas kedua lututnya. Pikirannya menerawang jauh dan terus menatap lekat pada Sungmin. “Wajah Kie sangat tampan Mommy~” Dan Sungmin hanya bisa diam mendengarkan Minhyun. “Aku sangat mencintainya, dan kau tahu Mommy~ aku bahkan belum pernah berpisah seperti ini dengan Kie.”

 

 

 

Sungmin bisa melihatnya. Bagaimana kedua mata cantik itu terus mengerjap menahan panas yang memaksanya untuk menangis, Minhyun sudah berusaha keras untuk tak memikirkannya. Tapi tetap saja~

 

 

 

“Hiks… bahkan aku selalu memeluk Kie setiap hari. Hikss…. mommy…”

 

 

 

Sungmin pun tak bisa menahannya. Ia tahu bagaimana sakitnya perasaan Minhyun. Ia memilih merengkuh Minhyun dalam pelukannya dan berusaha menenangkannya. “Menangislah baby, ungkapkan semuanya. Mommy akan mendengarkanmu.”

 

 

 

Minhyun menggeleng cepat. Ia semakin terisak, dan semakin erat memeluk Sungmin. “Bahkan Kie tak pernah berbohong padaku. Hikss… ini pertama kalinya dia berbohong padaku. Dia berjanji akan selalu bersamaku, Mommy. Dia berbohong. Hikss…. Kie berbohong.”

 

 

 

Sungmin hanya diam dan terus memeluk tubuh Minhyun. Saat ini ia hanya perlu menjadi pendengar yang baik bagi Minhyun. Tak ada yang hal lain yang bisa ia lakukan dan sayangnya Minhyun hanya menginginkan Kie saat ini, bukan yang lain.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

.

 

 

 

“Ahhhhh…!!!”

 

 

 

Kie berteriak keras saat ia terperosok jatuh ke dasar tebing yang tinggi. Tubuhnya teras anyeri, terlebih pada kakinya yang tak sengaja menabrak pohon besar.

 

 

 

“Minnie~ Akhh… neomu appo…”

 

 

 

Cahaya itu berhenti didekat Kie. Seakan memiliki wajah dan tersenyum padanya. Pandangan Kie semakin mengabur. “Ahhh… jebal~ aku tak mau begini.” Kie berusaha bangkit namun akhirnya ia kembali jatuh dan tak sadarkan diri.

 

 

 

Sementara itu, dikejauhan~ yeoja dengan rambut panjangnya tersenyum menatap Kie. “Permainan baru dimulai.”

 

.

 

 

 

.

 

 

 

TBC

 

.

 

.

 

.

 

.

 

 

 

Hadeh,udah lama… jelek… gaje pula. Hahaa…. sudahlah~ Mianhe atas ke-lama-an updatenya.

 

 

 

Abaikan kegajean story fantasi yang ga jelas ituh, hehehe…

 

 

 

Abaikan juga typo (S) yang berserakan *mungutin sampah*

 

 

 

#plakkk#

 

 

 

Mind to RCL?

 

 

 

GAMSAHAMNIDA

^____^

 

AM I…? | KYUMIN | YAOI | OS

 

Author : rainy hearT

Length : OneShoot

Rated : T to M

Cast :

– Lee Sungmin

– Cho Kyuhyun

– Other Cast

Pairing : || KYUMIN ||

Disclaimer : Semua cast belongs to God and themselves. Dan seperti biasanya, jika saya bisa saya sudah meng-Klaim seorang Lee Sungmin menjadi milik saya.#Mimmpi….#

Genre : ||Drama || Romance||

Warning : || BL/ YAOI || Gaje || typo’s || EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia||

Summarry : || It’s GOOD to be ME. When i just need to shake my things and you’ll be MINE.||

Another PRESENT From Me

 

.

~AM I…?~

.

Just KYUMIN

 

.

 

Hello~ hello~

 

Aku bawa ONESHOOT pertama di bulan november nih. Saengil Chukkae buat Ummu Musyahidah. Saengil Chukkae chagi, moga makin segalanya deh~

 

Hehehe…. semoga juga ga kecewa ma OS yang GARING N GAJE ini.

 

.

 

Please be Patient With me. Don’t Like Don’t Read. No copas No bash. Kritik and saran yang mendukung selalu diterima dengan tangan dan hati yang terbuka.

.

.

HAPPY READING

.

.

 

 

—- AM I ….? —–

 

.

 

.

 

.

SEOUL UNIVERSITY

.

.

Matahari bersinar dan tetap saja angin terasa lebih dingin di banding hari-hari di bulan sebelumnya. Dan namja itu, masih terus saja menjadi pusat perhatian. Keadaan yang masih sama sejak beberapa bulan, akh~ bahkan beberapa tahun yang lalu.

 

“Hei, baby Ming.”

 

Namja itu hanya melirik seklias dan tersenyum sangat manis, mengangguk dan mengedip nakal. Ia menghentikan jalannya dan menoleh ke sampingnya. Memilih berhenti dan menyapa siapa yang mengiringi langkah santainya di pagi ini.

 

“Ah~ Morning baby Minhonnie.”

 

Sungmin mengedip pelan dan kemudian mengusap perlahan dada namja tegap itu. Membenarkan jaket yang dipakainya dan mencium aromanya.Wangi maskulin yang sangat kental dan begitu pas dengan imajinasi Sungmin. Namja dengan tubuh tegap itu memang sedikit berhasil mencuri perhatian Sungmin beberapa bulan terakhir ini.  “Hmmm… baby~ kau sexy.”

 

Hhhhh~

 

Tak ada yang bisa menolak seorang namja yang penuh dengan pesonanya. “Yes baby Ming, tentu saja.” Minho menghirup wangi yang menguar dari tubuh Sungmin. Wangi lemon yang manis dan membuat Minho semakin ingin memakan Sungmin.

 

Mereka kembali berjalan beriringan, membuat setiap mata yang tertuju pada mereka menatap iri pada pasangan yang baru-baru ini menjadi topik hangat di kampus mereka.

 

“Aish, Choi Minho…”

 

Sungmin perlahan menyingkirkan tangan Minho yang terus saja mencoba meremas bokong penuhnya. Ayolah~ mereka masih di kampus dan bahkan belum memulai jam pertama dan Minho sudah seperti ini.

 

“Hanya memeluk pinggangku atau kau akan kutendang sampai menabrak tong sampah itu.”

 

Sungmin bergumam pelan namun terdengar pasti, terlebih tatapan Sungmin tak lepas dari tong sampah besar yang sedikit jauh dari tempatnya dan Minho berjalan sekarang. “Yeah~ baiklah. Kau selalu saja. Menyebalkan~” Minho menggumamkan kekesalannya. Terlihat kekanakan dan ~kawaiiii….

 

Sungmin memang suka sekali mempermainkan semuanya. Perasaan, perlakuan bakan gerak tubuhnya. Dengan mudah, dia bisa mengendalikan siapapun.

 

“Hei~” Sungmin menghentikan langkahnya dan kemudian mengusap pelan pipi Minho. Sedikit  mengangkat wajahnya dan mencoba melihat wajah tampan kekasihnya itu. “Ayolah, bukankah kita sudah deal, dan kau~”

 

“Yeah, baik. Hanya namja cadangan yang setiap harinya bahkan selalu mendapatkan ancamanmu. Seharusnya, setidaknya satu ciuman untuk sehari dan aku tak akan seperti setan mesum yang kelaparan seperti ini.”

 

Tapi Sungmin mengabaikan ocehan hoobaenya itu. Ia lebih memilih berjalan santai, membiarkan lengan Minho melingkar di pinggangnya dan terus menyebar pesonanya. Tersenyum ke banyak arah, dan sesekali mengedip nakal saat melintasi beberapa hoobae yang terlihat tampan di matanya. Langkah Sungmin terhenti di depan kelas Minho.

 

Minho kembali menghela nafasnya. Iabenar-benar tak suka cara Sungmin memperlakukannya. “Baby Ming, harusnya aku mengantarmu. Dan juga harus mengawasimu dari mata – mata kelaparan itu.”

 

Sungmin menggeleng cepat. “No, and never.”

 

“Ayolah~ mana ada seme yang malah diantar ukenya ke kelasnya sendiri. Kau anggap aku masih kecil?”

 

Sungmin menyentuh leher Minho dengan kedua telapak tangannya yang lembut. Memainkan rambut belakang Minho dan sedikit membuai Minho dengan sentuhan nakalnya.

 

“Jangan membuatku marah Tuan Choi, atau kau akan kehilangan statusmu sekarang juga.”

 

Minho menghentikan khayalan nakalnya. “Yaish… baik-baik. Aku tak akan mengungkitnya lagi. Tapi bagaimana dengan ciumanku?” Minho memasang wajah tampannya. Ia memainkan jarinya di bibir tebalnya dan tersenyum. Aish~ namja ini kelewatan…

 

Dan sangat pas dengan Sungmin. Tingkah namja itu lebih gila lagi. Ia menarik jaket Minho agar namja itu semakin mendekat dan menatap lekat pada mata bulat penuh itu. Menatap dengan tatapan menggoda yang terus saja membuat Minho semakin berfantasi tentang Sungmin. “Apa kau benar-benar menginginkannya?”

 

Minho mengangguk pasti dengan mata  besarnya yang bersinar. Sungmin tersenyum dan kemudian sedikit berjinjit. Meniup pelan leher Minho, melingkarkan lengannya ke leher Minho.

 

.

Chu~

.

 

Satu ciuman singkat di bawah telinga Minho, dan dengan nakal meniup telinga namja itu. Menghirup wangi maskulin yang menguar dari tubuh namjanya dan berbisik pelan. “Menangkan hatiku, dan kau dapatkan semuanya. Cobalah baby~”

 

Kemudian memainkan pelan lidah nakalnya menggoda seluruh syaraf di leher Minho. Demi semua keroro di bumi ini, Minho bersumpah~ dia tak bisa menahannya lebih lama lagi. Terlebih tangan nakal Sungmin tanpa permisi mengusap abs datarnya dan menggelitik pinggangnya.

 

Namun permainan itu berjalan cepat, Sungmin segera menyudahinya dan kemudian mengerling nakal. “Jalja baby Minhonie~”

 

Wajah Minho memerah, dan sepeninggal Sungmin wajahnya semakin memerah. Menatap namja dengan skiny jeans berwarna hitam dan juga kemeja lengan panjang berwarna putih yang melapisi kaus berwarna soft pink miliknya. Topi merah yang membuatnya terlihat lebih imut dari hari ke hari.

Ia menoleh kedalam kelasnya.

 

“Kalian melihatnya? Dia namjaku!”

 

Berteriak penuh kebanggaan  dan seakan mengabaikan gelengan tak percaya akan kenarsisan namja itu. Sementara Minho, dia  tersenyum penuh dan terus saja bercerita bagaimana manisnya godaan Sungmin tadi.

.

 

.

 

.

Sungmin menyamankan duduknya, dan entah mengapa semakin lama ia semakin risih saat mendengar dengungan dan gumaman aneh di belakang punggungnya. Ia sedikit menoleh kebelakang dan menemukan kedua sahabatnya sibuk menggosipkan dirinya. Merasa tak tahan, akhirnya ia menoleh penuh dan menatap tajam pada dua sahabatnya.

 

“Hei~ jangan membicarakan aku dibelakangku. Jangan juga membicarakan masalah, Minho atau Siwon. Jangan juga mem~”

 

“Membicarakan Yunho, Yesung dan juga Changmin.” Namja imut itu menyahuti ocehan Sungmin.

 

“Yeah, seperti itulah. Kau tahu, aku tak suka kalian menggosipkan aku dibelakangku.” Sungmin malah semakin menyamankan posisinya dan tak mengindahkan dosen yang tengah mengumbar pelajaran entah tentang apa itu didepannya.

 

“Yeah, tapi bukan berarti sekarang kau dengan enaknya memacari Minho. Hyung, dia bahkan terpaut jauh dibawahmu dan sungguh dia sangat polos.”

 

“Yah, Taeminnie~ apa maksudmu dengan polos?? Dia bahkan sangat mesum, mengesalkan.” Sungmin kemudian merogoh kantuk kemejanya dan menemukan lolipopnya. Membuka pembungkus dan mengemutnya. “Sebenarnya aku juga bosan, tapi tak ada yang menarik. Semuanya sama saja~ hanya menginginkan tubuhku. Apa aku begitu menggoda?”

 

Kedua namja imut didepannya hanya mengangguk. Namun salah satu diantaranya kemudian menarik lolipop Sungmin dan menatap wajahnya. “Kau sangat menggoda, tapi aku masih lebih menggoda dari pada kau, Hyung. Dan lagi, aku dan Jinki sudah sampai ke tahap itu. Tapi kau~”

 

“Yah! Key! Apa kau sedang menghinaku?”

 

“Ayolah, making love adalah hal biasa.”

 

“Cih…~” Sungmin berdecih. Ia sungguh kesal dengan kenyataan yang ada. “Aku harus bilang kau beruntung atau sial. Jinki itu namja teraneh yang pernah aku temui, dan dengan mudah kau menerimanya. Sangat konyol saat mendengarmu melakukan itu dengannya. Kau aneh.”

 

Key tersenyum dan pikirannya sudah menerawang entah kemana. “ Kau tak tahu, bagaimana dia kalau sudah di ranjang. Uhhh…. hottt.”

 

.

Prok~ prok~ prok~

.

 

Seketika ketiga namja itu diam. Tepukan single  yang mereka sadari dan tahu betul siapa itu membuat mereka terdiam. Sungmin kembali ke posisinya. Ia menatap acuh dan masih setia mengemut permen lolinya.

 

“Bagus sekali. Ini jamku dan kalian dengan seenaknya mengobrol.”

 

Mereka bertiga hanya diam. Berfikir acuh pada seluruh penghuni kelas lain yang menatap lekat pada ketiga diva itu. “Lee Sungmin, Lee Taemin dan kau Key~ kuharap kalian keluar saja. Dan ingat, jangan mengikuti pelajaranku lagi. Test akan aku lakukan bulan depan.”

 

Sungmin menghela nafasnya. Ia sungguh tak peduli. “Huhhh… whatever.” Membenarkan topinya dan meraih ranselnya. Hendak beranjak dari ruangan itu. Namun belum juga mereka bertiga sampai di pintu, dosen yang sebenarnya terlihat sangat bodoh dan konyol di mata Sungmin berucap kembali.

 

“Lee Sungmin, kau harus menemui dokter jaga di ruang kesehatan. Aku mau kau piket selama satu minggu penuh, dan hal bagusnya itu khusus untukmu.”

 

“Mwo?” Sungmin menoleh dan menatap horor pada namja tua yang berdiri angkuh di depan kelas itu. “Yah?! Apa maksudmu dengan piket? Kau pikir aku tenaga sukarela? Begitu?”

 

“Ck… anggap saja itu hukumanmu. Lakukan dengan baik atau kau akan tetap menjadi muridku tahun depan.”

 

Sungmin melengos kesal. Ia hampir lupa jika Mr. Goh ini  adalah musuh bebuyutannya, bahkan sejak pertama kali ia menginjakkan kakinya di Universitas ini. Berjalan dengan angkuh dan tanpa ekspresi. Kedua teman di sisi kanan dan kirinya itu hanya bisa berbarengan menepuk bahu Sungmin.

 

“Tenanglah, Ming. Santai saja, jalani hukuman itu dengan baik dan aku pastikan kau akan menikmatinya.”

 

Sungmin melempar senyuman mirisnya. Melirik jengah pada namja yang ada di sisi kanannya. “Yah… Taeminnie-ah. Kau kira aku ini mau ke taman bermain? Aku dihukum~ diruang kesehatan dan kau tahu, aku benci bau obat.”

 

Key terkikik melihat tingkah menggemaskan Sungmin. Namun ada satu hal yang berhasil memancing ingatannya hingga memorinya penuh dengan informasi yang mungkin akan sangat disukai Sungmin. “Hei, dengarkan aku, hyung.”

 

“Mwo?”

 

“Kudengar Dokter jaga itu tampan. Yeah~ dia baru dipindahkan sekitar seminggu yang lalu. Tadinya dia bekerja di rumah sakit, tapi dia menggantikan Dokter jaga yang sudah tua.”

 

“Hhhhh… kebanyakan, dokter itu pasti botak dan berjenggot. Penampilan aneh dan apalagi jika yang ditempatkan di kampus kita. Dokter itu adalah hasil seleksi dan bisa saja dengan wajah teridiot dan terjelek di kampusnya.”

 

“Ck…. kenapa tak percaya padaku, hyung.” Key mempoutkan bibirnya. “Menurut Jinki, dia adalah lulusan terbaik dan tampan.” Key sibuk menggerutu, terlebih dengan tak adanya tanggapan dari Sungmin membuatnya bertambah kesal. Namun kembali senyumannya merekah saat melihat namja yang melambaikan tangannya dari kejauhan.

 

“Heuh… membosankan~ “ Sungmin memutar bola matanya dengan malas saat namja dengan pakaian khas seragam petugas disekolah itu mendekati mereka. “Hya~ love dovey yang sangat memuakkan.”

 

Sungmin memilih meninggalkan Key dan Jinki yang entah tengah melakukan ritual apa. Ia juga meninggalkan Taemin yang dengan polosnya ikut bergabung dengan dua namja yang tengah kasmaran itu. Berjalan tak tentu arah, sampai dia melihat gedung dengan cat berwarna biru muda yang sedikit banyak mengingatkannya dengan hukuman konyol yang baru ia dapatkan pagi ini.

 

“Heuh~ baiklah. Kita lihat, apakah ada namja tampan disini? Kalau tidak, awas saja Key! Aku akan memukuli dubbu jelek bodohmu itu!”

 

Sungmin menaikkan lengan kemejanya dan berjalan cepat menuju ke gedung itu. Ia sedikit mengendap – endap saat sampai di pintu gedung. Namun, bukannya mengetuk pintu~ ia malah beralih ke sisi dinding dan merayapinya. “Eh?” Terkejut saat mendengar suara aneh dari dalam gedung yang disebut ruang kesehatan.

 

“Jebal~ Dokter Cho~”

 

Mata Sungmin membulat mendengar desahan yang jelas- jelas suara yeoja. Rasa penasarannya sudah sampai ke ujung. Ia terus berjalan merayapi tembok dan kemudian mencoba mengintip dari jendela yang agak tinggi. Ck~ salahkanlah jendela yang rendah di gedung itu tepat berada di atas kolam. Maka Sungmin harus bersusah payah melompat-lompat kecil untuk bisa melihat lewat celah kecil yang berada di atas tinggi tubuhnya.

 

“Haish… susah sekali.” Sungmin menggaruk rambutnya yang menunjukkan betapa frustasinya ia saat ini. Suara desahan itu terus saja memenuhi pendengarannya. Membuatnya semakin penasaran. “Ah, baiklah~ sebenarnya bagaimana wajah si dokter baru itu? Kenapa ada suara yeoja, dan oh~ mereka melakukan ‘this n that’? Helll~ aku harus ikutan.”

 

Sungmin kemudian melangkah cepat kembali ke depan pintu dan mengetuknya. Beberapa kali mengetuk namun sama sekali tak ada jawaban dan desahan itu pun berhenti. Hell, ada apa ini? Sungmin merutuki kebodohannya, harusnya ia langsung mendobrak pintu dan langsung menyerang yeoja itu juga.

 

.

Brakkk~

.

Sungmin menendang kasar pintu yang nyatanya tak terkunci itu. Pandangannya tertuju tepat ke satu hal yang membuat darahnya berdesir panas. “Hell~ kau dokter baru dan langsung akan berbuat mesum disini?”

 

Mata Sungmin menatap mengejek pada namja yang masih memainkan cangkir lemon hangatnya. Ia mengacuhkan Sungmin dan sama sekali tak melirik namja manis itu. Pandangannya juga tak tertuju pada yeoja yang hanya berbalut lingerie didepannya. Pandangan namja tampan itu terfokus pada kaca lemari penyimpan obat yang ia rasa lebih menarik perhatiannya.

 

“Kau baru datang dan langsung menghakimiku? Kalau kau hanya mau yeoja itu, ambil saja. Aku sedang tak berminat sekarang.”

 

“Oh~ rupanya kau cukup punya nyali untuk meremehkan aku. Ingat satu hal~ Lee Sungmin, pantang menerima barang bekas.” Sungmin menoleh tajam pada yeoja yang kini sibuk membelai belahan dadanya sendiri. “Jangan pikir kau bisa meggodaku, pergi saja sana. Dan jangan kembali lagi.”

 

“Tapi, Oppa~ ayolah~” Yeoja itu mendekati Sungmin, turun dari bed yang cukup kecil itu dan melilitkan tubuhnya sendiri mendekati Sungmin. “Bukankah aku seksi, dan aku juga bukan barang bekas.” Berbicara dengan nada lembut dan mendesah.

 

“Yack! Kau baru tingkat 1 saja sudah seperti ini. Memuakkan! Sebaiknya cepat pergi atau aku akan mengadukanmu pada kepala pengawas.”

 

Yeoja itu hanya mempoutkan bibirnya dan kemudian memunguti pakaian minimnya yang berserakan di lantai. Meninggalkan Sungmin yang kini lebih memilih duduk di atas kasur itu dan terus memainkan kedua kakinya yang mengambang. Setelah yeoja itu benar-benar pergi, Sungmin segera saja memastikan apa yang baru saja sekilas ia lihat adalah kenyataan. Dan hell~ ‘Handsome…’

 

Sungmin bergumam dalam hati dan ia terus saja menatapi namja yang masih sibuk dengan acara merenungnya. Namun lama kelamaan di tatap oleh mata foxy itu sedikit banyak membuat ia mengalihkan perhatiannya. “Aku tahu, aku tampan. Sebenarnya satu kesalahan saat aku dikirim kesini. Jika bukan karena kegilaan appaku, mungkin aku juga tak akan ada ditempat aneh ini.”

 

Namja itu kemudian menatap penuh pada Sungmin. “Jadi, Lee Sungmin~ apa maumu datang kesini? Apakah kau sakit?”

 

“Hei, kau tahu namaku.” Sungmin tersenyum senang, ia tak menyangka jika ia sangat populer di kampusnya. “Wah~ ternyata aku sangat populer.”

 

“Huh… biasa saja, kau ‘kan tadi sudah mengatakan siapa namamu. Jadi aku rasa tak ada yang spesial darimu.” Namja itu menatap keseluruhan tubuh dan wajah Sungmin, kembali mengukirkan senyuman di wajah tampan nan angkuhnya. “Sepertinya kau GAY?”

 

Shit~!

 

Sungmin mengumpat dalam hati. Apa salahnya jika ia GAY? Bukankah selama ini dia juga menjadi pemenang dan selalu memiliki apapun yang ia inginkan. “Kalau aku gay, lalu apa? Apa kau bisa mengobatinya?”

 

Namja itu tersenyum aneh. Sama sekali tak bisa diartikan. “Menjadi gay atau bukan, itu sebenarnya pilihan. Dan dari yang kudengar dari beberapa anak yang membicarakan tentang Lee Sungmin, sepertinya kau cukup pintar menjadi player.“

 

“Huh~ tentu saja. Siapapun akan menjadi milikku. Dan aku selalu jadi pemenangnya. Pilihan atau bukan yang penting memang sudah menjadi seperti ini. Aku bahagia dan menikmatinya, kurasa itu juga bukan urusanmu.”

 

Sungmin memilih membaringkan tubuhnya. Ia merasa lelah sekarang. Beberapa tahun tertinggal di kelas yang sama. Sebenarnya bukan karena kebodohannya, namun sikap acuhnya  itu selalu saja membuat Sungmin bersikap seenaknya pada semua dosen di universitas itu. Bersyukurlah, appa Sungmin tak malu mempunyai putra sepertinya.

 

“Kudengar kau tertinggal jauh, harusnya diwisudah 2 tahun kemarin dan kau masih ada di tempat yang sama.”

 

“Ck…. bukan urusanmu.” Sungmin mulai tertarik dengan namja berwajah tampan nan menyejukkan itu. “Katakan siapa namamu? Dan kenapa kau tahu tentang hal memalukan itu?”

 

“Presdir Lee yang mengatakannya padaku.” Ia kemudian mendekati Sungmin dan duduk di salah satu kursi yang ada tepat didepan Sungmin. “Bukankah dia appamu dan sekaligus pemilik universitas ini?”

 

Sungmin tertawa hambar. “Hahaha~ baiklah. Ternyata appaku sekarang sudah menjadi penggosip. Tapi itu lebih baik, setidaknya dia tak melarangku menjadi  Gay. Bukan sepertimu yang seakan berfikir buruk tentangku.”

 

“Huh…Aku sama sekali tak berfikir buruk. Mungkin hanya dugaanmu saja.” Namja itu mengulurkan tangannya. “Deal~ dan aku akan membuatmu lulus tahun ini.”

 

“Mwo??” Sungmin menatap malas. “Jangan bercanda. aku bahkan tak mengenalmu. Lagi pula sepertinya kau bukan gay dan bukan namja yang mudah, jadi jangan membantuku atau aku  nantinya akan jatuh cinta padamu yang hanya namja bodoh yang mencoba menolongku. Kau yang setiap harinya berkutat dengan buku yang sama bodohnya denganku.”

 

“Cho Kyuhyun imnida, dan kupastikan kau akan lulus dengan peringkat yang baik. Aku tak bisa menjamin itu akan sangat baik atau hanya baik. Yang kulakukan hanyamengembalikan Sungmin yang belum tersesat dulu.” Ia menatap lembut dan penuh selidik pada Sungmin. “Bukankah kau sedang tersesat dan tak tahu jalan pulang?”

 

“Huhh… konyol sekali.” Sungmin mengacuhkan ocehan Kyuhyun dan memilih menutup kedua matanya. Ia tidak tertidur hanya saja sibuk memikirkan sesuatu. “Akh~ aku baru ingat, aku di hukum oleh Mr. Goh untuk membantumu disini.”

 

Kyuhyun mengangguk pasti. “Baguslah, sangat bagus.” Namja itu kemudian kembali ke tempat duduknya dan bersiap memeriksa laporan kesehatan siswa. Bodoh jika ia berfikir bahwa Sungmin sudah tidur.

 

Namja manis itu bahkan masih sempat mencuri pandang pada wajah tampan Kyuhyun sekarang. Ada sesuatu yang terasa memuncak di dalam peruta. Seperti ada semut yang menggigiti dinding perutmu. ‘Come on Sungmin~ dia juga sama dengan yang lainnya.’

 

Sungmin mencoba meyakinkan diri dan kemudian  beranjak dari posisi tidurannya. “Ehm… Dokter Cho.”

 

“Nde, wae?” Kyuhyun menyahut tanpa memperhatikan Sungmin yang semakin mendekat padanya.

 

“Aku rasa aku membutuhkan semacam terapi.”

 

.

Sreet…

.

 

Dengan cepat Sungmin menjatuhkan bokong sexynya dan sukses menduduki file yang tercecer diatas meja Kyuhyun. “Aish, kau menggangguku.”

 

“Ayolah, aku merasa sedang sakit dan butuh terapi.”

 

“Kalau begitu, minum obat saja. Aku rasa obat atau plester anti demam bisa menyembuhkan otakmu yang sedikit tak waras sekarang.”

 

Sungmin menyungginggkan senyumannya. Dengan cepat ia menarik menarik lengan Kyuhyun, membuat namja itu kembali duduk di posisinya. “Aku bilang, aku butuh terapi. Dan itu artinya hanya terapi. Bukan obat atau plester bodohmu.”

 

“Andweyo~” Kyuhyun menghempaskan punggungnya. “Sama sekali tak bisa percaya dengan namja sepertimu. Kau pasti sudah memikirkan hal konyol yang akan kau lakukan padaku dari tadi. Jangan menganggap aku mudah karena aku berbeda dari semua namja yang menggilaimu.”

 

Tapi Sungmin tak hilang akal, ia segera menjatuhkan tubuhnya tepat di atas Kyuhyun. Menahan beban tubuhnya dengan mencengkeram kuat sandaran  kursi yang diduduki Kyuhyun. Dan oh~

 

Lupakan tentang kenakalannya selama ini. Lupakan juga dengan sikap player dan juga litlle bitch-nya selama ini. Lupakan juga tentang beberapa namja yang ia  kencani beberapa bulan terakhir ini.

 

“Apa kau tergoda denganku~”

 

Satu gumaman lembut itu terdengar halus dan berhasil menggelitik kesadaran Sungmin. Dan apa yang ia lakukan sungguh membuatnya mati gaya. Melihat tanpa berkedip pada mata yang begitu tajam yang tak tersembunyi dengan baik di balik kacamata bodohnya. Wajah tampannya masih saja terlihat sempurna dan mata coklat itu semakin menyipit menandakan guratan senyuman Kyuhyun yang semakin lebar.

 

“Tak kusangka, semudah ini membuatmu menyukaiku.”

 

Sungmin hampir saja mengurungkan niatnya saat mendengar celotehan namja yang masih berada dalam kungkungan kedua lengannya. Dapat ia rasakan jika jantungnya berdebar sangat cepat kali ini.

 

“Yeppeo~”

 

Bluss~

 

Seakan semilir angin tiba-tiba melintasi wajah Sungmin dan membuatnya memerah. Apa ini? Kenapa semudah ini. Tapi Sungmin masih mencoba bersikap biasa dan tak begitu menanggapi wajah mengejek Kyuhyun. Dan hell~

 

Sungmin merutuki dalam hati saat namja itu berbalik menatap lekat padanya. “Hyung~ neomu yeppeo~”

 

Ingin rasanya Sungmin menampar wajahnya sendiri, kenapa disaat seperti ini dia malah tak bisa berbuat apapun.  Sungmin semakin kaget saat dikejutkan dengan pergerakan kecil Kyuhyun. Namja itu menggerakkan kedua lengannya dan langsung menarik Sungmin hingga namja itu jatuh di pangkuannya.

 

Degh~

.

Degh~

.

Degh~

.

 

“Jantungmu sangat berisik.” Kyuhyun berbisik lirih di wajah Sungmin. Dan~

.

Hup~

.

Ia mengangkat tubuh Sungmin dan membaringkannya di tempat tidur khusus pasiennya yang luasnya tak seberapa itu. Kyuhyun memilih membuka jas dokter dan melepaskan kacamatanya. “Kau ingin terapi bukan?”

 

Sungmin mengangguk lemah, entahlah~ ia merasa tubuhnya beranjak melemah dan bisa runtuh kapanpun. “Baiklah, kalau begitu aku akan memulai terapimu.” Dan kali ini jantung Sungmin berdebar  dan lebih kencang setiap harinya. Ia tak menyangka jika rasanya jatuh cinta itu benar-benar melelahkan seperti ini.

 

Sungmin merasa lemah dan lemas. Namun ia memaksakan dirinya untuk sedikit lebih menggoda Kyuhyun. Saat namja tampan itu sibuk mengamati bibir plump berwarna pink yang terlihat penuh, Sungmin mulai melancarkan kepintaran tangannya.

 

Ia menarik pinggang Kyuhyun hingga tubuh namja itu jatuh tepat di atasnya. Mengerling nakal~

 

“Kau tahu, meski ini pertama kali~ dan detik pertama itulah aku merasa kau menang. Aku akui, aku bodoh dan payah dalam semua hal. Tapi aku tahu, kau juga gay~”

 

Kyuhyun menyeringai kecil dan kemudian dengan sedikit tergesa ia menurunkan wajahnya, mengendus wajah Sungmin yang begitu halus dan sangat hangat. “Aku tak peduli ada yang melihat atau tidak, aku juga tak peduli bagaimana nasibku selanjutnya. Yang penting untukku~ adalah menikmatimu.” Kyuhyun mengusap pipi kenyal Sungmin dan mengecupnya sekilas. “Yeppeo, i think i’m in love~”

 

Sungmin tersenyum puas. Ia melancarkan gerakan tangannya dan menyusup kedalam kemeja berwarna biru milik Kyuhyun. Mengusap punggung hangat namja itu dan terus beranjak naik. “Am I good enough for you?”

 

“Sure~”

 

“Am I looks so hot for you?”

 

“Yes baby, as hot as my body~”

 

Kyuhyun menyusupkan kepalanya dan menghujani leher Sungmin dengan ciuman-ciuman kecilnya. Dan dia sungguh benar-benar menginginkan namja ini. “Kyuhh~ heummmhhhh~” Sungmin mendesah pelan saat merasakan tangan Kyuhyun mulai mengusap paha bagian dalamnya. Menggelitiknya dengan godaan nakalnya.

 

“Am I hhh…. Kyuhhh…. mhhhh….”

 

Sungmin mendesah tak karuan saat Kyuhyun menggigit kecil nipplenya dari balik kaos pink yang ia pakai. Sungguh, namja ini benar-benar membuatnya gila. “Am I  the one for you?”

 

“Ye, pretty sure baby Ming.” Dan dengan tak sabar Kyuhyun menarik turun zipper celana panjang Sungmin. “Nikmatilah~ biarkan aku yang memanjakanmu.” Dan dengan cepat Kyuhyun mengulum junior Sungmin yang sudah tegak itu. Tak menyangka jika semuanya akan secepat ini. Dan Sungmin sama sekali tak bisa menolaknya. Bodoh~ bahkan sangat bodoh.

 

“Cukup bagus untuk permulaan.” Namja bermata sabit itu tersenyum. Ia kemudian menoleh pada namja yang masih sibuk dengan kameranya. “Sudahlah Key, jangan rekam lagi. Kau bisa merekam permainan kita.”

 

.

Blushhh~

.

“Lebih panas dan juga lebih berisik.” Namja bermata sipit itu menarik Key untuk segera menutup pintunya dan menghempaskan tubuh namja itu hingga menabrak tembok ruang kesehatan. “Kau mau yang kasar atau lembut?”

 

Key mengukir senyumannya. “Am I hot for you?”

 

“Sure, and i just already hard for this, Key~”

 

“Aishh~” namja dengan rambut karamelnya itu mendecih kesal. Kesalahannya mengajak kedua hyung mesumnya itu mengintip Sungmin dan juga dokter Cho . “Kalian semakin meracunipikiranku. Dan hei~ bukankah ini artinya Minho free?” dengan mata yang berbinar, ia segera berlari meninggalkan gedung bercat biru itu. Membiarkan semuanya berjalan dengan sempurna di siang hari yang cukup dingin ini.

 

.

 

.

 

“Akhhh~ Kyuhhh…”

 

“So tight baby…ukhhh~”

 

“Ming~ ahhh…Lee Sungmin~”

 

.

 

.

 

.

FIN

.

.

.

Endingnya gantung yah~ hadeuh… emang lagi ga ngefeel bikin NC. Jadi digantung-gantung.

 

Hadiah kecil untuk sahabatku, Ummu chagi~ semoga suka ma hadiahnya. Mianhe, karena aku post hari ini. Sebenernya mau post besok tapi apalah daya~ aku nginep di rumah klien.

 

SAENGIL CHUKKAHAMNIDA!!!!

 

SECRET HEART || CH. 16 || KYUMIN FF || YAOI |

SECRET HEART

 

Author : rainy hearT

Length : Series

Rated : M

Cast :

-Cho Kyuhyun   (N)

-Lee Sungmin    (N)

– Kim Heechul    (Y)

-And other SUJU and SHINEE member

Pairing : || KYUMIN || SIBUM || ONKEY || and Other Pairs ||

Disclaimer : Semua cast belongs to God and themselves. Dan seperti biasanya, jika saya bisa saya sudah meng-Klaim seorang Lee Sungmin menjadi milik saya.#muehehhehe#

Genre : Romance || Drama || Sad ||Angst||

Warning : || Boy x Boy / BL / YAOI || Gaje || typo’s || EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, Genderswitch (Y).||

Summarry : || Aku adalah satu hal yang SEMPURNA. Tapi tak akan ada artinya jika tanpa dirimu disisiku. Aku bukanlah apa-apa ||

Another PRESENT From Me

KYUMIN FF, ditulis dengan seluruh kekuatan Hati dan Pikiranku. Terinspirasi dari drama yang sangat mengena dihatiku. “SECRET GARDEN.”

Disini aku menambahkan pair kesayanganku yang lain “OnKey”, so welcome for Uri Unyu Leader.

Ini hanya terinspirasi dengan drama itu, bukan berarti ceritanya akan sama dengan Secret Garden. Aku membuatnya dengan segenap hati dan cintaku untuk seorang Lee Sungmin #ck… I’m crazy ’bout him#

Please be Patient With me. Don’t Like Don’t Read. No copas No bash. Kritik and saran yang mendukung selalu diterima dengan tangan dan hati yang terbuka.

.

.

~SECRET HEART~

.

.

HAPPY READING

.

.

Chapter 15

.

.

.

.

“Eoh? Apa maksud Umma?”

“Sudahlah, lebih baik kalian bicara berdua saja karena Umma harus mengurus hal lain. Dan ingat, kalian harus segera melakukan konferensi pers.”

“Untuk apa? Bukankah tak ada masalah. Lagi pula peluncuran albumku masih lama.” Kyuhyun melepaskan jaketnya, membuang gerah dan perasaan sedikit kesal karena Nyonya Cho selalu mengaturnya.

Nyonya Cho kemudian tersenyum kecil dan mengusap bahu Kyuhyun. “Bukan untukmu, tapi untuk memperkenalkan Ha Jiwon.”

“Untuk apa Umma? Kalau memperkenalkan dia, ya harus dia sendiri yang konperss. Kenapa aku harus ikut?”

Nyonya Cho menyeringai kecil dan mendekatkan wajahnya pada Kyuhyun, hingga kini ia berhenti tepat di sisi telinga Kyuhyun. Sedikit berbisik, “Karena dia calon istrimu.”

“Mwo?!”

Nyonya Cho kemudian meraih tasnya dan mengeluarkan satu majalah. Ia melemparkan majalah itu dengan kasar ke depan Kyuhyun.”Lihat ini!”

 

Kyuhyun membungkuk untuk meraih majalah yang jatuh di meja itu, sementara Nyonya Cho berjalan keluar meninggalkan  Kyuhyun dan Jiwon. Kyuhyun meremas kuat majalah itu. Hanya dengan melihat covernya saja sudah bisa ia pastikan jika itu memang fotonya dengan Sungmin.

Kyuhyun menoleh pada Jiwon. “Jadi, maksud Umma hanya untuk menutupi ini?”

Jiwon hanya menggeleng. “Aku tak tahu pasti, lagi pula sejujurnya aku kembali bukan untukmu. Aku punya tujuan sendiri dan karirku terlalu berharga jika hanya akan menikah denganmu secepat ini.”

Kyuhyun tersenyum miris dan duduk di sisi Jiwon. “Lalu apa maksud kerja samamu dengan umma?”

Jiwon menyingkap sedikit rambut pendeknya. “Aku perlu menyadarkan seseorang jika dia telah salah memilih yeoja. Aku tak mau kekasihku pergi dengan mudahnya, dan aku juga tak bisa menolak  permintaan nyonya Cho. Lalu kau pikir aku harus bagaimana?”

Jiwon meraih majalah yang dilempar kasar oleh Kyuhyun. “Lee Sungmin.”

“Kau tahu dia?”

“Tentu saja. Dia di bawah naungan Zhoumi, bersama dengan Seung Gi.”

“Kau? Dan Seung Gi?” Wajah Kyuhyun seperti meremehkan Jiwon. “Jangan bercanda, kau ini mengada-ada.”

“Lalu, kau dengan Sungmin ini apa? Ini lebih dari sekedar bercanda. Kau konyol jika seperti ini, sama saja dengan bunuh diri.”

“Jangan menceramahiku, kau  membuatku semakin pusing. Sekarang coba pikirkan, aku harus bagaimana? Menyangkal, sudah pasti bisa tapi bagaimana dengan Sungmin? Dan kenapa ada wartawan yang bisa mendapatkan  gambar ini?”

Jiwon tersenyum, bahkan perlahan terkikik lirih. “Sangat lucu, apakah kau begitu tak laku hingga memilih namja. Kau tak memikirkan bagaimana karirmu?”

Kyuhyun menggeleng enteng, ia menyeringai dan menaikkan dua kakinya keatas meja. “Aku sudah banyak uang, tak takut juga menghadapi pers atau bahkan fans fanatikku. Yang aku pikirkan hanya Sungmin. Dia baru memulai karirnya dan tak mungkin jika aku menghancurkannya dengan hubungan kami.”

“Kalau begitu mudah,” Jiwon tersenyum dan berdiri dari posisinya. “Menyerah atau bekerja sama denganku.”

Kyuhyun mengerutkan keningnya. “ Bekerja sama?”

“Ya.”

Dan keduanya sama-sama tersenyum. Entah apa yang mereka rencanakan…

.

.

.

Sementara itu didepan gedung perkantoran Zhoumi, suasana begitu ramai. Bukan karena ada konser atau pembagian tiket gratis, tapi para fans Kyuhyun yang memaksa ingin bertemu dengan Sungmin. Sementara di kantor Sungmin sendiri, namja itu sedang kewalahan sambil memijat pelipisnya.

“Jadi kau sungguh-sungguh dengan ini?”

“Aku tak tahu juga.”

“Kau ini, bagaimana?” Namja tinggi itu membenarkan kacamatanya. Ia membolak balik halaman majalah itu. “Wartawan yang mengambil gambar ini pasti ada bersama kita kemarin. Aku akan menyelidikinya.”

“Tidak usah.” Sungmin menghela nafas dan mengangkat wajahnya, berusaha menatap atasannya yang duduk di atas meja. “Zhoumi,  aku hanya perlu menyangkalnya didepan publik bukan? Bagiku itu mudah. Hanya saja, aku takut jika aku akan gagal untuk mendapatkan peran pada film Black Line yang disutradarai oleh Robertson. Itu karya terakhirnya dan bisa aku pastikan, untuk menembusnya sangat susah. Jika belum apa-apa saja sudah seperti ini maka bagaimana nantinya denganku.”

Zhoumi mendekat pada Sungmin, berdiri dibelakang namja itu. Memijat punggung Sungmin dan membiarkan angannya melayang entah kemana. “Aku padahal sudah bermimpi, jika aku akan menjadi yang pertama di Korea. Bekerja sama dengan Robert, huhhh… ini gara-gara wartawan iseng itu. Awas saja! Aku akan menghubungi  pihak Star Magazine.”

Zhoumi langsung meraih ponselnya dan segera menghubungi pihak majalah yang menerbitkan berita tentang Sungmin itu. Sementara Sungmin, jujur ia takut dan ragu. Ia takut, tak mungkin bisa berperan dengan baik. “Huh…” Ia hanya menghela nafasnya, “Aku pinjam mobilmu, aku akan menemui Kyuhyun.”

Sungmin segera beranjak dan keluar dari pintu darurat di basement gedung.  Menghindari serbuan SparKyu _Nama Fans Kyuhyun_ yang tak terima dengan adanya foto itu.

.

.

.

.

“Menurutmu bagaimana?”

Siwon sekarang sedang berada diruangannya, bersama dengan Kibum, Kyuhyun, Onew dan Hae. Mereka membicarakan tentang masalah foto itu. Kyuhyun menaikkan kedua kakinya ke atas meja, sementara Onew dengan setia berdiri disisi Siwon yang duduk di meja direkturnya.

Kibum sibuk mengurut dagunya dan melihat foto cover majalah Star itu. “Kalau begini , kau yang salah Kyu. Kenapa bisa ceroboh seperti ini? Lagipula, Zhoumi sudah menghubungi pihak majalah itu. Ck… aku tak bisa perkirakan bagaimana hebohnya fans gilamu itu.”

“Mereka sudah mengepung kantor Zhoumi.” Siwon berdiri dari kursinya dan beranjak melangkah ke belakang Kibum. “Menurutmu, harus bagaimana baby? Lagipula Cho ahjumma mau menjodohkan Kyuhyun dengan Jiwon untuk menutupi skandal ini. Sebenarnya mungkin itu cara yang paling baik, tapi aku tak bisa pastikan jika nanti Jiwon akan aman, sangat mungkin ia nantinya juga  mungkin akan diserang sparKyu.”

Semuanya terlihat berfikir keras. Hanya Kyuhyun yang terus saja diam menatap lurus pada majalah yang ada di atas meja itu. Ia memikirkan bagaimana Sungmin. Jika ia terus melakukan apa yang sudah ia rencanakan bersama Jiwon, mungkin Sungmin akan salah paham. Lalu jika begini…

“Aku dengar besok lusa Robert akan datang dan langsung menyeleksi  siapa saja yang akan masuk kedalam daftar pemain di Film Black Line,dan aku kira Sungmin sudah mengirimkan kaset demonya pada pihak Robert.” Kibum membuka suara dan sesekali menoleh pada Siwon yang masih ada dibelakangnya.

Kyuhyun mengangkat wajahnya dan tersenyum menatap Kibum. “Ternyata kekasihmu sangat berguna, Hyung.”

“Apa maksudmu?” Siwon mengernyit aneh.

“Aku akan selesaikan ini dengan caraku sendiri. Lagipula Sungmin juga harus tetap bisa bermain di film itu. Ia sangat mengharapkannya, meski hanya peran kecil tapi itu sudah bisa menjadi penyemangatnya untuk terus bertahan di dunia seperti ini.”

Kyuhyun segera beranjak dari duduknya dan meninggalkan kantor Siwon. Di luar ruangan, ia melihat Key yang masih sibuk dengan kertas-kertasnya. “Malam ini Onew pulang kerumahmu bukan?”

“Eoh, wae?” Key menatap bingung pada Kyuhyun.

“Aku akan membawa Sungmin menemui seseorang, jadi kuharap kau tidak ketakutan sendirian dirumah. Jaga rumah baik-baik, semoga tak ada sparKyu yang meneror kalian.”

“Huh…” Key menghela nafasnya. “Fansmu itu terkadang sangat berlebihan, hyung.”

.

.

.

.

.

“Aku memang ingin bertemu denganmu Kyu, tapi tidak kerumahmu. Tingkahmuu bisa menjadikan kita scandal paling heboh di sepanjang tahun ini.” Sungmin menghempaskan kesal tubuhnya di atas sofa putih yang ada di rumah Kyuhyun. Tadinya ia akan menemui Kyuhyun di ruangannya, tapi ternyata malah mereka bertemu di basement CnC ent.

Kyuhyun mendekat pada Sungmin, dan tangannya memberi isyarat untuk semua pelayan yang ada di ruangan itu agar keluar dari sana. Kyuhyun mengalungkan kedua lengannya dan meraih bahu Sungmin. Ia mencium lembut pelipis Sungmin, dan setidaknya hal manis itu bisa sedikit meredakan emosi Sungmin.

“Sudahlah, jangan pikirkan masalah skandal itu. Yang penting kau bisa mengambil satu peran di film Robert itu. Bukankah kau sudah mengirimkan kaset demo-nya?”

Sungmin mengangguk. Wajahnya menghadap kedepan, menatap hamparan tanah luas yang ditumbuhi rumput kering serta beberapa titik salju. “Sudah hampir masuk musim dingin, berarti ini hampir tiga tahun aku ada di bawah Zhoumi. Aku sangat mengharapkan peran itu, kau tahu bukan jika aku hanya sekolah akting biasa dan jika bisa berakting untuk fim itu, bukankah menjadi hal yang sangat menakjubkan. Dan aku orang Korea satu-satunya yang bisa berperan bersama begitu banyak orang asing.”

Mata Sungmin berbinar saat membicarakan tentang mimpinya, tapi entah kenapa setan pervert ini malah berusaha mengalihkan pembicaraan dan angan Sungmin. “Eum… Ming..”

“Heum…” Sungmin menoleh pada Kyuhyun dan melepaskan lengan Kyuhyun pada bahunya. “Jangan memelukku, aku tak mau ada yang melihat.”

“Ya, baiklah.” Kyuhyun duduk nyaman di posisinya dan kemudian menyilangkan kedua tangannya. “Tapi, eum… mengingat kau akan berakting dengan orang asing, sekarang yang aku pikirkan adalah… apa mungkin kau bisa berbicara menggunakan, yah … setidaknya bahasa inggris.”

Senyum diwajah Sungmin memudar. “Ya! Apa kau mau menghinaku?! Meski aku hanya kuliah di sekolah akting yang biasa tapi setidaknya aku bisa sedikit bahasa Inggris, enak saja menghinaku!”

“Ahhhhaaa… mianhe Ming. Hahhaa….. itu karena aku ragu, kau bisa berbicara bahasa asing. Yeah, biar bagaimanapun kau itu artis baru. Hhahaha…..”

Kyuhyun tertawa, dan lebih tertawa lagi saat Sungmin malah menggelitik pinggangnya. Suara ramai tawa itu memenuhi ruang tamu rumah Kyuhyun, tapi sayang tiba-tiba…

“Ehhemmm…”

“Eoh…”

“Kenapa kalian berbuat hal menjijikkan seperti itu disini?”

“Umma…” Kyuhyun berdecak kesal. Ia meraih pinggang Sungmin dalam pelukannya dan membiarkan Nyonya Cho terus menatap tak suka padanya. Sementara Sungin sendiri, dia bahkan sudah merasa sangat tak nyaman dengan posisi itu tapi tetap saja ia tak bisa berbuat apapun untuk menghindari perlakuan Kyuhyun padanya.

Nyonya Cho duduk dengan anggun di salah satu single seat dan menyilangkan kedua kakinya. Satu tangannya meremas kuat genggamannya dan satu tangannya yang lain menunjuk ke arah Sungmin dan Kyuhyun.

“Kau! Anak bodoh! Kau pikir kau sedang apa? Aku tak menyangka jika kesalahanku menyuruh kalian main film itu akan berdampak seperti ini.”

“Kau menyesal, Umma?” Kyuhyun menatap remeh pada yeoja itu. “Ck, sayang … aku bahkan tak merasa menyesal sedikitpun. Iya kan, chagi…”

“Cih! Menjijikkan! Lepaskan dia Cho Kyuhyun!  Jangan membuatku lebih malu lagi dengan tingkahmu itu.” Nyonya Cho tersenyum licik dan terus menatap tajam pada Sungmin dan Kyuhyun. “Apa kau lupa dengan Jiwon, dan kalian akan segera Umma nikahkan.”

“Menikah?” Sungmin menatap tak mengerti pada Kyuhyun, ia memang belum tahu tentang masalah ini. “Apa artinya dengan menikah? Dan siapa Jiwon?”

Tapi Kyuhyun malah mengabaikan Sungmin dan menatap pada Nyonya Cho. “Dengarkan aku, Umma.” Kyuhyun menghela nafasnya dan mengusap lembut perut Sungmin yang masih dalam pelukannya. “Bukankah selama ini aku tak pernah menolak semua permintaanmu, bahkan aku setuju menjadi penyanyi dan melakukan semua yang kau inginkan. Baiklah, mungkin aku suka menjadi terkenal. Tapi Umma, aku sekarang sudah memilih Sungmin. Dan meski semua tak menyetujuinya, harusnya kau saat ini mendukungku. Bukan malah memintaku untuk menikah dengan Jiwon.”

“Huh…” Nyonya Cho memalingkan wajahnya dan tertawa kecil. “Menyetujui putraku satu-satunya menjadi GAY?” Nyonya Cho kemudian berdiri dan meraih tasnya. Ia melangkah mendekat pada Kyuhyun dan Sungmin. “Kau pikir  aku sudah gila? Kau satu-satunya penerus Cho, dan sekarang kau memilih namja? Apa kau sudah buta? Atau kau memang sudah gila?”

Nyonya Cho melangkah angkuh dan pergi meninggalkan ruangan itu. Sementara Kyuhyun masih membeku dalam pelukan erat lengan Kyuhyun yang masih melingkar di pinggangnya.

“Gwenchana Ming…”

Kyuhyun berbisik lirih pada Sungmin. Ia kemudian menciumi pipi kenyal Sungmin dan memeluk erat namja itu. Sementara Sungmin, matanya menerawang melihat tak tentu arah.

“Aku tahu sekarang bagaimana perasaan Key, Kyu. Dan sekarang aku merasakan ketakutan Key.” Sungmin menoleh pada Kyuhyun, menatap tepat pada kedua mata coklat Kyuhyun. “Bagaimana sekarang, Kyu? Dan apa maksudnya dengan Jiwon? Siapa dia?”

Kyuhyun hanya menggeleng, “Dia bukan siapa-siapa. Hanya sahabat lamaku, dan aku pastikan aku hanya mencintaimu saja Ming. Percayalah…..”

.

.

.

.

.

“Nyonya Cho?” Sungmin mengernyit bingung saat menemukan Nyonya Cho berada dihalaman garasi rumahnya. Mobil silver yeoja itu terparkir indah disana, ditambah lagi dengan kehadiran yeoja lain berambut pendek yang setia menemani langkah anggun Nyonya Cho.

Nyonya Cho melepas kacamatanya dan menghampiri Sungmin yang tadi tengah bersiap pergi kelokasi syutingnya. “Ada apa pagi-pagi sudah ketempatku?”

“Sebaiknya kita bicara di rumahku saja. Kau tahu bukan, dimana rumah keluarga Cho?”

Sungmin mengangguk ragu,dan kemudian Nyonya Cho hanya tersenyum singkat dan memberi isyarat pada yeoja itu untuk ikut pergi bersamanya. Sungmin tak yakin dengan apa yang akan ia lakukan, bisa saja Nyonya angkuh itu memakinya habis-habisan.

Drrrrtt…. drttt…

Sungmin merogoh ponselnya dan tersenyum saat membaca pesan dari Kyuhyunnya.

|To : Ming Bunny

‘Hwaiting chagiyya!! Ini iklan pertamamu.’|

|To: Kyuhyunie

‘Nde Kyuhyunie, pasti. Chu~|

Sungmin menyimpan kembali ponselnya, dan bergegas keluar dari rumahnya.

.

.

.

“Aku ingin berbicara serius denganmu.”

Sungmin duduk diam didepan Nyonya Cho yang memang terkenal tegas dan angkuh. Ia merasa sangat lelah sekarang, terlebih kondisi tubuhnya yang benar-benar butuh beristirahat. Tapi, sekretaris Nyonya Cho terus saja menelfonnya dan memaksanya untuk datang secepatnya.

“Baiklah, aku sudah sampai disini. Lalu apa yang akan kau bicarakan?”

 

Nyonya Cho tersenyum kecil. Ia kemudian memberikan isyarat pada yeoja yang sedari tadi mengikuti Sungmin itu untuk mendekat padanya. Sungmin menatap aneh pada lembaran amplop coklat yang diberikan yeoja itu padanya.

“Ambilah, itu cek seharga 10 juta U$D. Dan kuharap kau cepat menyingkir dari kehidupan Kyuhyun.”

“Mwo?” Sungmin melempar amplop itu ke atas meja. “Kau pikir perasaanku ini cuma main-main? Aku tak butuh uangmu.”

“Ahhahaa…. ternyata masih punya harga diri. Atau memang uangnya kurang?” Kembali Nyonya Cho memberi isyarat pada pelayan itu, dan dengan cepat pelayan itu merogoh kantongnya dan mengulurkan pulpen serta cek kosong yang sudah ditandatangani oleh Nyonya Cho.

“Apa lagi ini?”

“Kau bisa menulis angka yang kau mau, asal lepaskan Kyuhyun-ku.”

Sungmin menyeringai dan menyobek cek kosong itu. “Dengarkan aku Nyonya Cho yang terhormat. Kau pikir, uangmu yang banyak itu sanggup membeli perasaan kami. Pemikiran yang sungguh bodoh, aku bukan orang yang gila uang. Dan asal kau tahu, putramu itu sangat mencintaiku. Jadi kau sama sekali tak punya hak untuk mengatur kehidupan kami.”

Sungmin segera beranjak dari duduknya, namun langkahnya terhenti saat mendengar bunyi tepuk tangan Nyonya Cho. “Bagus sekali. Jadi kau sedang mengajakku bermain?” Yeoja itu melirik aneh pada Sungmin. Ia berjalan mendahului Sungmin dan berhenti tepat di depan Sungmin. Tanpa memalinkan tubuhnya, Nyonya Cho tersenyum sengit pada Sungmin.

“Jika kau memang kuat dengan semuanya, maka aku akan memainkan tanganku.”

“Apa maksudmu?”

“Kyuhyun-ku, adalah putraku. Didalam darahnya ada darahku,darah keluarga Cho. Semua kekayaannya adalah milikku, termasuk karir dan rumahnya. Lalu…” Nyonya Cho tertawa kecil dan melirik pada Sungmin. “Bisa kau bayangkan sendiri apa yang akan kulakukan, dan oh… jangan lupakan kalau kau hidup dibawah genggaman tanganku.”

Sungmin terdiam dan tangannya mengepal kuat. “Aku dan Kyuhyun tak akan menyerah, jadi sebaiknya berhenti membujukku.”

.

.

.

Plukk… pluk… plukk….

“Ya! Berhenti dan jangan melempar lagi, atau aku akan melaporkan kalian pada polisi!”

Zhoumi masih berusaha melindungi tubuh Sungmin yang terus saja dilempari telur oleh para sparKyu yang berjaga di luar gedung perkantorannya. Sungmin baru saja akan menuju ke tempat casting dengan Robert tapi tak menyangka jika kerumunan fans itu tetap masih ada meski sudah berlalu beberapa hari.

“Ck…. kau ini bodoh atau apa? Sudah tahu keadaan seperti ini malah menjemput di depan gedung. Ck.. supir payah.”

Zhoumi sibuk mengomel pada supir mereka, sementara itu Sungmin melihat kerumunan fans Kyuhyun yang sedikit banyak membuatnya bimbang. Sungmin akhirnya lebih memilih menunduk dan memikirkan ucapan Nyonya Cho. Entahlah, ia tak tahu apa yang terjadi dengan Kyuhyun.

Sungmin sampai di tempat casting. Ia begitu takut dan berdebar saat melihat seorang namja asing yang terlihat cukup tua tapi ia masih terlihat sehat dan pantas disebut sebagai sutradara senior yang patut di acungi jempol.

“Apakah kau gugup?” Zhoumi sedikit berbisik pada Sungmin yang ada disisinya.

“Nde, lumayan. Untunglah aku mendapatkan nomor terakhir, jadi aku bisa lebih mempersiapkan diri.” Sungmin mengangguk gugup. Ia kemudian merogoh sakunya saat merasakan getaran yang cukup lama. Sedikit terkejut saat melihat id pemanggil di ponselnya.

“Aku pergi sebentar.” Sungmin berpamitan pada Zhoumi dan dengan cepat mengangkat telfonnya. “Yeobosseoyo…”

‘Aku tidak main-main, Lee Sungmin.’

“Apa maksudmu?”

‘Kau akan mudah mendapatkan peran itu jika kau melepaskan Kyuhyun. Tapi jika kau tetap bersikeras, maka sekarang juga aku bisa menjatuhkan anakku sendiri.’

“Ya! Apa yang akan kau lakukan?Umma macam apa kau?!”

‘Hahahaa…. aku memperingatkanmu Sungmin, 2 jam dari sekarang. Lakukan atau aku akan melakukannya dengan caraku sendiri.’

Sambungan telfon itu diputus secara sepihak oleh Nyonya Cho. Entah apa yang sebenarnya diinginkan yoja angkuh itu.

.

.

.

TBC

 

Huwaaa!!! Makin jelek. Aduh sebenarnya aku malah menganggap ini produk gagal.

 

Bukan karena apa,tapi karena aku sendiri dah kehilangan feelnya. Haish… gimana ini? Enaknya lanjut atau didelete ajah. Atau ada yang mau nerusin?????

 

Comment n Like sangat diharapkan…