i name it ‘LOVE’|JongBin| YAOI |OS

 20140222193623

Title : I Name It “Love”

Pairing : JongBin (Lee Jongsuk / Kim Woobin)

Warning : Boys love | EYD yang ga sesuai |

Author’s Note : Lagi suka banget sama couple yang satu ini. FF ini bukan untuk mencari sensasi, hanya berbagi karena aku bener-bener berharap mereka akan jadi couple yang real nantinya. Semoga PD-nim berbaik hati dan menyatukan mereka kembali, meski dalam drama. Hahhaa… aku ngarep banget tuh lanjutan School 2013. Untuk FF KyuMin, aku akan lanjutin secepatnya. Ugh… kadang kalo udah di NC bisa nge-blank. T_T

 

 

Enjoy MY new Fic.

by

Rainy hearT

.

.

Jongsuk mengusap pipinya. Dia baru saja merasakan tamparan dari seorang yeoja. Siapapun akan merasa kesal jika dicium begitu saja oleh namja yang bahkan baru ia temui beberapa menit yang lalu.

Jongsuk tak mencoba meminta maaf. Ia sedikit merasa bersalah, tapi ia sama sekali tak terganggu untuk sekedar meminta maaf.  Bahkan ia malah beranjak pergi dari kamar karaoke yang ia sewa bersama beberapa teman wanitanya.

Jongsuk menyandarkan punggungnya di dinding luar gedung karaoke itu. Ia tak tahu, harus merasa sedih atau senang. Saat ini ia sama sekali tak yakin dengan apa yang sedang ia pikirkan. Bahkan untuk benar-benar memastikan apa yang ada dalam pikirannya, ia sampai mencium yeoja yang baru ia kenal tadi dengan seenaknya.

Ia mengambil ponselnya.

 

‘Mianhe, noona. Aku tak bermaksud mencium temanmu. Itu hanya sebuah kesalahan.’

Ya, Jongsuk mengirim pesan singkat itu dan kemudian dengan cepat ia berjalan menuju mobilnya. Mungkin sebaiknya ia pulang sebelum manager mencarinya.

.

.

“Kukira kau sudah mati dikamarmu, ternyata kau pergi bersenang-senang.” Manager Jongsuk menyapanya saat ia baru saja masuk kedalam apartemennya. “Kau tak bisa terlalu lama meminta cuti, dan aku harap kau bisa mengganti warna rambutmu lagi. Pertengahan tahun ini, School 2014 akan di produksi.”

Jongsung hanya diam dan mengangguk.

Manager menepuk bahu Jongsuk dan kemudian berjalan menuju pintu keluar. “Aku sudah membawakan makanan untukmu. Aku simpan di dalam lemari pendingin. Kau bisa menghangatkannya. Aku tak akan mengganggumu sampai akhir bulan ini, tapi pastikan kau bisa menjaga dirimu dengan baik.”

“Nde….”

“Mulai bulan depan, aku akan mengatur jadwalmu untuk beberapa sesi foto dan modeling. Dan juga variety show. Aku harap, kau bisa melakukannya dengan baik.”

“Nde…”

Jongsuk menyahut lirih. Ia melihat manager tengah memakai sepatunya didepan pintu. Manager itu sempat tersenyum  saat bertatapan secara tak sengaja dengan Jongsuk. “Aku kira Woobin sangat sibuk, setelah The Heirs dan dia harus syuting School. Bukankah itu bagus.”

Dan setelah mengatakan hal itu, manager kembali meninggalkan Jongsuk di apartemennya.

Memang, ia akan segera syuting School 2014 dan berita itu sempat ia dengar awal bulan kemarin. Mungkin itu satu hal yang bagus, tapi sedikit menyedihkan baginya. Ia tak sanggup membayangkan bagaimana nantinya ia akan menghadapinya.

Jongsuk beranjak malas dari sofa yang didudukinya. Ia melepaskan kemejanya dan membiarkan angin dingin menyapa kulit pucatnya yang tak terlindungi apapun lagi. Ia melihat pantulan tubuhnya di cermin. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan seseorang yang selama beberapa waktu terakhir ini mengganggu kehidupannya.

Ia sempat membayangkan kulit coklat dengan abs yang terbentuk dengan sangat baik dalam refleksi tubuhnya sendiri di cermin. Jongsuk hanya menghela nafasnya. Ia kesal dengan dirinya sendiri.

Jongsuk memilih untuk mandi dengan air hangat. Mungkin bisa sedikit membenarkan kerusakan pada otaknya.

.

.

Jongsuk menyelesaikan mandinya, dan saat ia melihat ke arah jam yang terdapat di atas tempat tidurnya, “Huh… baru jam 11 malam.” Biasanya, ia akan meminta manager untuk membawakannya makanan kecil, minuman dan bahkan mendekatkan semua fasilitasnya tanpa ia harus beranjak dari kasur nyamannya. Itu selalu ia lakukan dulu, tapi akhir-akhir ini ia mencoba menghilangkan kebiasaannya.

Ia tak bisa terus mengganggu manager dengan semua kemalasannya. Ia menyadari, ia sudah lebih dewasa dan sudah saatnya untuk mulai berubah, tak bergantung pada orang lain, dan bahkan harus mulai memikirkan bagaimana masa depannya sendiri. Ia tak ingin menjadi egois. Tapi, kebiasaannya berakting sekarang mengikat dirinya yang sebenarnya. Bahkan dalam nama Lee Jongsuk saja, ia bisa berakting dengan baik dan menyembunyikan dirinya jauh didalam sudut hitam di tubuhnya.

Jongsuk kembali menghela nafasnya. Ia meraih ponselnya, menekan speed dial nomor 2. Tapi, sebelum ia menekan call, ia mengurungkan niatnya kembali. Seperti itu, terus saja berulang-ulang hingga akhirnya ia tak melakukan apapun.

Jongsuk beranjak dari tempat tidurnya, ia melangkah menuju dapur berniat untuk sekedar mencari kopi hangat. Ia melewati ruang tamu di apartemennya begitu saja. Tapi, ia merasa ada yang aneh. Tv menyala dan bahkan ia sempat melihat seseorang tengah duduk disana sambil terus mengganti chanel.

“W-woobin…” Jongsuk hampir seperti berbisik.

Dan seperti biasa, Woobin menyapanya dengan senyuman penuh aegyo yang sungguh tak pantas untuk wajah tampan dan manly-nya.

“Berhenti menggunakan aegyo yang bahkan tak pantas untukmu.”

“Kukira kau akan senang melihatku dirumahmu.” Woobin melangkah mendekati Jongsuk. Ia mengekori Jongsuk yang tengah memasukkan kopi kedalam mesin pembuat kopi. “Aku juga mau kopi.”

Jongsuk hanya diam dan kemudian meraih satu gelas yang lainnya. Ia  sempat melirik Woobin yang membuka kulkasnya. “Wah , banyak makanan.”

Woobin melihat isi kulkas Jongsuk dan akhirnya ia hanya mengambil apel merah yang ada di sana. Sementara Jongsuk sudah membawa dua gelas kopi ke meja yang ada didepan satu sofa besar  yang ia duduki nantinya.

“Kau tahu, kita akan main di drama itu lagi. Bagaimana menurutmu?”

Jongsuk sebenarnya malas. Ia sedang tak ingin membahas masalah itu, apalagi melihat Woobin dirumahnya. Tadi juga ia sempat mengurungkan niatnya untuk menghubungi Woobin, dan tiba-tiba namja itu sudah ada dirumahnya.

“Ya… seperti itulah.”

Woobin masih tetap sibuk menggigit apelnya. Ia tahu Jongsuk sedikit aneh. Woobin melihat ke wajah Jongsuk. “Wah… seperti bekas tamparan.” Woobin memegang dagu Jongsuk dan menatap pipi Jongsuk yang memang masih membekas kemerahan. “Apa kau baru saja ditampar seorang yeoja? Pantas saja hari ini kau sedikit aneh.”

Woobin tertawa mengejek. Dan benar-benar, Jongsuk sedang tak berniat untuk menanggapi hinaan Woobin yang terlihat jelas dari ekspresi wajahnya.

“Aku dengar, mereka akan membuat sedikit perubahan pada alur cerita. Mungkin fokusnya akan berganti. Suk-ie ah… kau sudah mendengar bagaimana ceritanya???”

Jongsuk hanya menggeleng.

“Wah… aku kira managermu mendapatkan sedikit informasi dari PD-nim.”

Woobin memang bukan orang pendiam, seperti peran yang kebanyakan ia lakukan. Dan jongsuk juga bukan orang yang ceria seperti banyak peran yang sering ia mainkan. Terlebih saat ia merasa sangat kacau seperti ini. Jongsuk hanya ingin bersembunyi, dan sebisa mungkin tak melihat Woobin.

Tapi, tak mungkin ia mengusir namja itu dari rumahnya.

Pembicaraan mereka sepertinya benar-benar  tak menarik, terlebih bagi Jongsuk yang hanya menyahut sekenanya terhadap apapun yang Woobin katakan. Lama kelamaan Woobin merasakan kecanggungan itu. Awalnya, ia hanya mengabaikan tapi akhirnya ia menyerah.

Ia meletakkan gelas kopi yang tadinya akan ia minum. Ia menatap Jongsuk. Tadinya, Jongsuk berkonsentrasi dengan acara TV yang sebenarnya sama sekali tak menarik baginya. Tapi tatapan intens dari mata tajam Woobin benar-benar mengganggunya.

Jongsuk menoleh malas pada Woobin. “Mwo?”

“Apa ada yang salah?”

Jongsuk hanya menggeleng.

“Suk-ie…jangan berbohong padaku. Apa kau sedih karena baru ditampar yeoja??? Akh… seharusnya kau berpikir berkali-kali sebelum kau mengganggu seorang yeoja.” Woobin mengambil kesimpulan sendiri.

Jongsuk sudah tak tahan. Ia meletakkan gelasnya dan kemudian menatap Woobin. Mereka hanya saling diam dan mengabaikan suara TV yang sedikit banyak menghapus kesunyian di rumah Jongsuk.

“Kenapa kau datang kesini, bukankah kau masih harus menjadi Youngdo???”

Woobin  hanya tersenyum. “Aku baru mendengar kita akan syuting School lagi, jadi aku ingin mengunjungimu.  Jika tahu kau akan menyebalkan seperti ini, lebih baik aku tidur di lokasi syuting.”

“Bukankah rating dramamu yang satu itu benar-benar bagus, dan bahkan kau berakting dengan Minho hyung. Harusnya kau lebih senang saat mendengar drama itu akan dibuat sequelnya. Tapi, kenapa ditengah syuting kau malah kesini.” Jongsuk meraih remote dan mulai mengganti chanel secara random sesukaenya. Ia kemudian berhenti pada saluran HBO yang tengah menayangkan film peperangan yang cukup berisik. “Aku juga tak berharap melihatmu disini. Jadi, tidur saja sana dilokasi syuting.”

Woobin merasa aneh. “Suk-ie ah… sebenarnya kau kenapa?”

“Sudahlah, mungkin aku hanya mengantuk. Sebaiknya aku tidur dan jika kau ingin pergi, pergilah.” Jongsuk beranjak dari duduknya dan mencoba melarikan diri lagi. Tapi ia terhenti saat merasakan cengkraman yang kuat pada pergelangan tangannya.

“Kita hanya tak bertemu selama beberapa bulan, dan kau sudah melupakan aku. Kau bahkan sama sekali tak terganggu sedikitpun untuk menelfonku atau sekedar mendukungku. Kau bahkan tak membalas pesanku sama sekali. Sampai kapan kau akan seperti ini, Namsoon-ah…”

Jongsuk sangat tak menyukai saat Woobin memanggilnya dengan nama yang ia perankan di drama itu. Awalnya ia menyukai perannya, tapi dalam satu sisi lain didirinya, ia sangat membenci perannya.

“Apa tak merindukan aku, Namsoon-ah…”

Jongsuk sangat memebenci kalimat itu. Kata-kata itu dimainkan dengan sangat baik oleh Woobin, dan bahkan dengan ekspresi wajah yang sama juga. Jongsuk sangat membenci kelemahannya, iabenar-benar tak bisa menahan dirinya jika akan terus seperti ini.

Jongsuk berusaha untuk menarik tangannya tapi Woobin tetap menahannya dan bahkan memegangnya lebih kencang lagi. Jongsuk merasakan wajahnya memanas. Ia tak tahu pasti, apakah ia akan marah atau ia akan menangis.

“Hentikan kekonyolanmu, Woobin-ah. Sebaiknya kau lepaskan aku dan pulanglah.”

Dan seketika suara TV itu seperti menghilang. Ruangan luas itu semakin menyempit dan seakan hampa udara, membuat Jongsuk dan Woobin merasa sesak.

“Heungsoo-ah…” Jongsuk memutar tubuhnya dan menghadap ke Woobin. Jujur, ia merasa kesal. Sangat kesal pada dirinya sendiri. “Mianhe….”

Woobin melepaskan pegangannya pada tangan Jongsuk. Ia beranjak dari duduknya dan kemudian berdiri dengan cepat dan entah bagaimana, ia kemudian memeluk erat tubuh Jongsuk.

Woobin bukan namja yang cengeng, tapi entah kenapa ia sangat mudah menangis didepan Jongsuk. “Kau tahu, aku sangat membencimu…”

Tubuh Jongsuk hanya diam. Ia bahkan tak merespon pelukan Woobin. Woobin melepaskan pelukannya dan kemudian menatap Jongsuk. Bibir merah Jongsuk seperti penarik tersendiri untuknya. Ia sungguh membenci Jongsuk dan semua keindahan yang ada dalam dirinya.

“Woobin-ah…” Jongsuk menunduk. “Aku tak ingin seperti ini,kau tahu? Aku benci diriku yang seperti ini, apa kau tahu itu?” Tangan Jongsuk memegang pipinya. “Aku baru saja ditampar disini,oleh seorang yeoja. Kau tahu kenapa?”

Jongsuk masih menunduk. “Aku ditampar karena kebodohanku, karena keegoisanku dan juga karena ketakutanku. Aku senang saat mendengar kita akan main bersama lagi. Tapi, aku tak tahu apakah nanti aku akan bisa mengendalikannya jika saat ini saja aku sudah cukup membencimu.”

Woobin hanya diam. Ia tak tahu pasti kearah mana Jongsuk berbicara, tapi ia tahu pasti Jongsuk sedang terluka. Woobin pun tak mengerti, ia juga merasakan sedikit sakit dan sesak dialam dirinya.

“Aku benci saat harus berbuat baik padamu. Aku benci setiap adegan dalam drama itu. Aku benar-benar tak ingin melakukannya. Woobin dan Heungsoo adalah orang yang sama padahal mereka sangatlah berbeda. Dan aku juga Namsoon adalah orang yang berbeda. Namsoon adalah sahabat terbaik Heungsoo… tapi, Jongsuk yang ini…”

Jongsuk mengusap airmata yang tanpa ia sadari jatuh dan mengalir dipipinya. “Tak ingin menjadi sahabat Woobin.”

Woobin mengangkat dagu Jongsuk hingga ia bisa melihat kedua mata Jongsuk yang memerah. Dengan sangat lembut ia mengusap air mata itu dan mencoba membuat Jongsuk menatapnya. Tapi, namja itu masih mengalihkan kedua matanya dan bahkan hanya diam.

Bibir merah itu, mungkin milik seorang namja. Tapi, namja ini bahkan terlihat berkali-kali lebih cantik dari  yeoja manapun yang pernah ia lihat. Dan Woobin mungkin sedang terhipnotis atau apalah itu. Yang pasti, ia tengah memainkan ibu jarinya pada bibir merah Jongsuk.

Jongsuk menatap Woobin. Ia takut menghadapi kenyataan. Bahkan untuk berfikir saja, Jongsuk takut untuk memikirkan hal yang sangat buruk. Mungkin Woobin akan menjauhinya atau bahkan membatalkan kontrak mereka untuk drama yang nantinya mereka mainkan.

“Woobin-ah…”

“Kau benar-benar menggangguku, Suk-kie ah…”

Dan sebelum Jongsuk memikirkan apa maksud Woobin, ia merasakan bibir namja itu menyentuhnya. Menyentuh bibirnya dan membuatnya bisa menghirup aroma maskulin yang sangat ia kenal. Jongsuk hampir kehilangan nafasnya dan tubuhnya benar-benar langsung lemas.

Woobin melepaskan pagutan mereka dan menatap dalam pada kedua mata indah Jongsuk. Mata yang selalu bisa membuatnya kehilangan dirinya.

Jongsuk merasakan tubuhnya ditahan oleh lengan Woobin yang melingkar kuat di pinggangnya. Woobin mendekatkan wajahnya kembali pada Jongsuk. Ia mencium kecil bibir Jongsuk. “Just say you love me, Suk-ie ah…”

Jongsuk tak bisa mengatakan apapun. Ia hanya memeluk erat Woobin dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang namja itu. Jongsuk tak tahu harus mengatakan apa, yang jelas ia sedang tak berani menatap Woobin.

“Woobin-ie… Yahhh!!!”

Jongsuk kemudian berteriak saat merasakan tubuhnya di gendong Woobin bridally style dan tanpa terganggu sedikitpun, Wobin mencium wajah Jongsuk. “Aku sudah meminta ijin 2 hari dan aku pikir, kita bisa menghabiskan waktu bersama. Bukankah kau sedang cuti, Namsoon-ah…”

Dan Jongsuk hanya diam. Ia membiarkan Woobin membawanya kekamarnya dan menjatuhkannya di kasur empuknya. Woobin berbaring di sebelah Jongsuk. “Ah… malam ini adalah pertama kalinya kita benar-benar tidur bersama, Namsoon-ah… “

Woobin melingkarkan lengannya posesif memeluk tubuh Jongsuk. “Kupikir aku harus sesekali mengajakmu ke gym untuk berolahraga. Kulitmu sangat pucat dan juga tubuhmu sangat ringan. Besok kita akan berbelanja dan masak bersama.”

Woobin meraih selimut dan kemudian menutupkannya pada tubuh mereka berdua. “Aku senang kita akan main drama bersama. Sangat sulit untuk menemuimu akhir-akhir ini, Suk-ie…”

“Saranghae….Woobin-ah…”

Woobin yang tadinya hendak mengatakan entah apa itu, langsung diam. Ia kemudian tersenyum pada Jongsuk. “Aku harap kau tak bodoh, dan menerima tamparan hanya untuk membuktikan kau benar-benar gay atau bukan. Jangan katakan kau mencium seorang yeoja hanya untuk membohongi dirimu sendiri.”

Jongsuk hanya mempout-kan bibirnya.

“Kau tahu, aku tak suka rambutmu ini. Kulitmu terlihat sangat pucat Suk-ieah. Ah… atau kau ingin aku memanggilmu sweet cake? Saat menciummu tadi, aku seperti memakan kue coklat yang manis.”

Woobin tersenyum dan kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Jongsuk. “Nado saranghae, Suk-ie…”

Dan mereka menutup malam itu dengan saling beriuman mesra diatas bed luas itu. Tak ada sex…. karena Woobin harus bisa menahan dirinya untuk hari itu. Sudah terlalu malam.

“Kita akan bermain sepuasnya besok…”

“Apa maksudmu Park Heung Soo?”

“Jangan panggil aku dengan nama itu. Aku lebih suka kau memanggilku oppa.”

“Yah…! Kau pikir aku yeoja.”

Woobin mengabaikan Jongsuk yang masih terus berargumen tentang dirinya yang tak ingin disebut cantik. Woobin merasa tenang. Ia melingkarkan lengannya ditubuh Jongsung dan kemudian mencium lembut pelipis namja itu.

“Ah… aku pikir aku terlalu lama mengambil keputusan. Seharusnya, aku melakukannya sejak saat itu. Sukkie-ah…”

Jongsung mengangkat wajahnya dan  menatap kedua mata Woobin.

“Kau tahu, aku seperti bermimpi. Aku juga ingin menolaknya, tapi sama sekali tak bisa. Dan jika aku harus melewati batas, aku akan melewatinya dengan terus menggenggamu.” Woobin mencium kening Jongsuk. “Saranghae…”

Dan untuk pertama kalinya, Jongsuk memulai ciuman mereka. Mungkin malam ini akan berlalu lebih lama dari malam yang biasanya. Dan untuk pertama kalinya, Jongsuk benar-benar merasa bebas dan hangat.

.

.

End

 

.

Buat yang belum tahu couple ini, ah… bakalan nyesel abis. Nih couple sosweeeeet bingit….

 

Semoga feelnya dapet. Bye…

6 thoughts on “i name it ‘LOVE’|JongBin| YAOI |OS

  1. Aaahhh hello kak, aduh sibuk un kmarin jd jarang mampir k sini. Btw ff nya kakak yg ini keren! /aku lg suka bgt ama heungsoon ;)/ Jujur aku baru slesai nnton School2013 kkkk ehh langsung nemu ff ini. Feels nya dpt kok kak. Makasih udh bkin ff ini xD
    fighting eoh ^^

  2. Suka bgt sama couple ini, ngarep mereka main drama bareng lagi, author kece g niat bikin ff couple ini lg? Ditunggu lho hehehe gomawo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s