(Lomba FF) C.A.K.E 2 | 2shoot | Yaoi

..

.

 

Tittle :: C.A.K.E

 

Author :: Puji SparkyuElf II

 

Summary :: Sadarkah kalian? Hidup itu penuh dengan warna, dan itu semua memiliki arti. Tergantung warna apa yang melingkupi hidup kalian. Menuntun atau menjerumuskan. Disini, ‘Kau’ dan ‘aku’ bahkan disatukan oleh warna, yang berpadu manis dengan rasa lezat dan indanya sebuah C.A.K.E~

 

Cast :: Lee Sungmin→Cho Kyuhyun, Kim Ryeowook, Lee Donghae, Lee Hyukjae and other supporter cast.

 

Genre :: Fluff, Romance,

 

Rate :: T

 

Warning :: YAOI! The Queen of Typo(s), cerita aneh.

 

Hope you like it! ENJOY! ☺

 

.

.

.

.

 

 

 

“Oh baiklah akan saya sampaikan. Terimakasih~”

 

Yeoja berpakaian khas maid itupun membungkukkan badannya kearah namja kurir dihadapannya. Tangan kanannya dengan hati-hati memegang kardus berisi cake kiriman dari seseorang, sedangkan tangan kirinya mencoba untuk menutup daun pintu. Namun belum sampai pintu itu tertutup, gerakannya terhenti ketika mendengar suara seorang wanita dibelakangnya.

 

“Siapa yang datang?”

 

“Ada kiriman cake lagi, nyonya.” Yeoja berbaju maid itupun melapor seraya menimang-nimang kardus berisi cake yang berada ditangannya dengan hati-hati.

 

“Jinjja? Dari My baby Cho kah?” Wanita yang masih cantik diumurnya yang sudah tidak muda lagi itu berucap dengan mata yang berbinar-binar. Senyumnya melebar ketika melihat sang pelayan mengangguk tanda cake itu memang kiriman dari ‘My Baby Cho’ nya. “Tolong ambilkan piring dan teh hangat ke depan, sepertinya aku ingin menikmati lezatnya cake buatan anakku sore-sore begini.”

 

Maid itupun mengangguk lalu berlalu pergi setelah terlebih dahulu menyerahkan kardus cake itu kepada wanita yang biasa ia panggil ‘Nyonya Cho’ itu. Nyonya Cho menatap kardus cake itu dengan senyum kecil tersungging dibibirnya. Dengan perlahan dia membuka kembali daun pintu yang tadi belum sempat tertutup dengan sempurna, lalu diapun berjalan menuju taman kecil yang berada didepan rumahnya. Disana terdapat beberapa sofa santai. Dengan beberapa pohon berakar tunggang yang tertanam disana, cukup membuat suasana disekitar taman kecil tersebut teduh. Nyonya Cho mendudukkan dirinya diatas salah satu sofa seraya meletakkan kardus cake itu. Sepertinya saat ini suasana sedang sangat pas sekali untuk menikmati jamuan manis seperti cake atau teh.

 

“Maaf menunggu lama, ini pesanan anda nyonya.”

 

Maid itu datang ke hadapan Nyonya Cho seraya membawa nampan berisi secangkir teh, sepasang piring dan garpu kecil khusus untuk cake, serta sebuah pisau.

 

“Terimakasih. Kau boleh pergi,” Nyonya Cho membuka tutup kardus cake tersebut setelah sang maid berpamitan untuk berlalu dari hadapannya. Matanya kembali berbinar-binar ketika melihat makanan manis yang tersembunyi didalam kardus berwarna putih tersebut.

 

Sebuah cake yang berukuran sedikit lebih besar dari sebuah batu bata. Seperti biasa, tampilan luar cake hasil racikan anaknnya memang selalu dibiarkan polos. Hanya beberapa cake saja yang tampilan dasar cakenya selalu ditambahkan bahan lain. Cake ini berwarna kuning keemasan, dengan garnish sebatang kayu manis yang ditaruh diatas potongan buah peach yang bersanding dengan sepucuk daun mint. Bubuk-bubuk halus cinnamon powder disebarkan diatas cake, memberikan efek sedikit abstrak namun cantik. Sangat simple.

 

Nyonya Cho mengangkat wadah alumunium yang terdapat dibawah cake, mengangkat wadah tempat cake itu diletakan. Ditempatkannya cake itu diatas piring seraya dengan perlahan menyingkirkan dengan hati-hati kertas alumunium tersebut.”Hah,” Nyonya Cho tersenyum ketika melihat cake cantik itu sudah tertata rapi diatas piring. Tak sabar, tangan keriput nyonya Cho dengan segera mengambil pisau yang tak jauh dari hadapannya.

 

Menilik-nilik sebentar keseluruhan cake itu dari dekat. “Sepertinya warna kuning cake ini berasal dari Golden Cheese.” Terkanya, karna memang setahu dia sang anak jarang menggunakan pasta pewarna makanan didalam cakenya. Apalagi aroma khas keju sangat terasa kuat didalam hidungnya. Setelah mengambil pusat tengah cake tersebut, Nyonya Cho pun memotong cake tersebut menjadi dua bagian.

 

“Eh? Omo!” Wanita berumur 50 tahunan itu terpekik kecil seraya menutup mulutnya ketika melihat cairan berwarna hitam pekat mengalir dari sela perpotongan cake tersebut. “Heuh anak itu, selalu saja mengagetkan diriku. Dan apa ini? Warnanya pekat sekali.” Nyonya Cho mencolek liquid pekat tersebut lalu mengecapnya. “Aku tahu apa yang dibuat anakku selalu enak. Tapi kenapa dia selalu memberiku cake yang pasti ada unsur warna gelap seperti ini? Atau hanya perasaanku? Hah, Molla. Yang penting rasanya lezat!”

 

Dengan semangat nyonya Cho mengambil garpu lalu menusukan potongan kecil cake tersebut, mencolekkannya keatas liquid hitam yang terlihat menyeramkan namun sangat lezat itu. “Ah, anakku memang hebat! Aku bangga padamu Kyuhyun-ah!” Nyonya Cho berkata seraya terus menikmati cakenya. Rasa lezat cake tersebut membuat dia serasa lupa akan segalanya termasuk sekitar, sampai dia tak menyadari seorang namja tampan berkulit putih pucat yang sedari tadi mengintip dari balik pagar tengah memasang wajah melas. Seperti.. Frustasi?

 

 

***

 

Sungmin mendudukkan tubuh berisinya diatas ranjang bersprei Light Pink miliknya. Mata Foxy-nya mengarah kearah jam digital berbentuk lambang ‘Playboy’ berwarna putih yang menunjukkan pukul 9.00 PM. Sungmin menghela nafas seraya menggerak-gerakkan tubuhnya yang terasa pegal dan kaku. Berada seharian di Joy’s Bakery memang sedikit banyak menguras tenaganya. “Eh?” Dahi Sungmin berkerut ketika nama ‘Joy’s Bakery’ hinggap didalam kepalanya. Dengan gerakan cepat Sungmin mengambil tas kerja berwarna hitam beraksen pink favoritnya lalu sedikit mengubek-ubek isi di dalamnya.

 

Sungmin menghela nafas lega ketika tangannya menyentuh sebuah misting berwarna coklat dan terdapat lambang Joy’s Bakery di atas tutupnya. Lambang J ♥ B, yang masing-masing didalam huruf tersebut berisi berbagai macam bentuk roti dan cake. Sangat simple memang. Tanpa menunggu waktu lama, tangan putihnya terjulur untuk membuka tutup misting tersebut. Memperlihatkan beberapa potongan cake berwarna hitam yang disusun cantik membentuk lingkaran dengan garnish 2 pasang buah blackberry plus daun mint diletakkan ditengah-tengah ruang kosong di sekeliling cake tersebut. Sungmin termenung menatap cake itu, bukan karna cara penataan cake yang terlihat rapi dan enak dipandang mata walaupun sangat sederhana tersebut. Namun.. Warna hitam pekat yang mendominasi cake tersebut. Mungkin hanya warna hijau daun mint saja yang membuat mata yang melihatnya bisa sedikit cerah.

 

“Hitam,” Sungmin mendongakkan kepalanya, menerawang. “Misteri, ketakutan, kejahatan, ketidak bahagiaan, perasaan yang dalam, kesedihan, kemarahan, sesuatu yang melanggar..”

 

‘.. Warna cake itu menggambarkan diriku persis, Hyung.’

 

“Kenapa dengan lelaki itu?” Sungmin memejamkan matanya masih mendongakkan kepalanya. Misting berisi cake tersebut masih berada di pangkuannya. Patissier Cho itu menyuruh Sungmin supaya membawa cake hasil karyanya untuk dibawa pulang, mungkin sebagai kenang-kenangan pertemuan pertama mereka.

 

Cklek

 

Pintu berbahan kayu mahogany itu terbuka dari arah luar, menampakkan seorang namja paruh baya yang masih terlihat kharismatik dengan senyuman khasnya. “Bagaimana harimu, Sungmin-ah?”

 

Sungmin yang mendengar suara pintu terbuka segera membuka matanya, tersenyum ketika melihat sang appa yang tengah berjalan menuju kearah tempat tidurnya. “Baik.” Lalu menggeser sedikit tubuhnya untuk memberikan ruang duduk bagi sang appa.

 

“Hei, apa yang kau bawa?” Appa Lee mengambil misting berisi cake itu dengan seenaknya dari tangan Sungmin. Membuat namja bermata foxy itu sedikit mendelik kearah sang appa. “Ini buatan salah satu patissier di tokomu, appa.”

 

“Jinjja?” Appa Lee pun mencomot satu potongan cake tersebut lalu menyuapkannya kedalam mulut. Dahinya berkerut ketika merasakan cake itu melumer diatas lidahnya. “Ini enak, aku baru tahu namja Cho itu membuat resep seperti ini.”

 

“Appa kenal Kyuhyun?”

 

Appa Lee kembali mencomot potongan cake berikutnya. “Tentu saja, semua pegawai disana yang mengetesnya adalah aku.” Sungmin mendengus ketika melihat sang appa menepuk-nepuk dadanya bangga, masih setia mengunyah cake hitam pekat itu didalam mulutnya. “Ini seperti ada rasa kopinya. Ah! benar-benar seleraku!”

 

“Cih, boss mana yang tidak tahu bakat pegawainya sendiri?” Sungmin melipat kedua tangannya didada ketika misting berisi cake itu sudah berpindah ke tangan sang appa. “Ayolah min, kau tahu sendiri kan appamu ini sangat sibuk? Biasanya eomma-mu yang sering memantau kesana, namun akhir-akhir ini dia mengeluh karna jauhnya jarak rumah kita dengan Joy’s Bakery itu, mungkin sekitar 2 bulan sekali eomma-mu akan memantau rutin kesana. Sedangkan appa akan memantau jika appa mempunyai waktu luang saja,”

 

“Miris sekali.” Sindir Sungmin. Appa Lee terkekeh kecil. “Maka dari itu, kau mau kan mengelola Joy’s Bakery? Sayang jika tempat itu terbengkalai begitu saja.” Appa Lee memandang Sungmin dengan tatapan memohon. Namun tangannya masih setia menyuapkan cake berwarna hitam pekat itu kedalam mulutnya.

 

Sungmin terdiam. Ini adalah tiket emas bagi Sungmin! Selain untuk mengisi waktu luangnya, Sungmin juga bisa memantau Patissier Cho dengan nyaman disana. Eh? Maksudnya bukan memantau, Sungmin hanya penasaran dengan namja Cho yang terkesan misterius itu saja. Tak masalahkan jika dia ingin tau lebih banyak tentang namja Cho itu? “Sungmin-ah?”

 

Sungmin tersentak, mata foxy miliknya beralih menatap sang appa. Senyum simpul terlukis di bibir tipisnya, “Aku mau, appa!”

 

 

***

 

Next Day 8.00 AM

 

Sungmin memasuki Joy’s Bakery seraya membenarkan letak tas ransel yang berada di punggungnya. Ransel? Kalian jangan berpikir bahwa Sungmin kabur dari rumahnya. Kalian ingat kemarin dia menyetujui permintaan appa-nya untuk mengelola Joy’s Bakery? Jarak rumah keluarga Lee dan toko ini bisa dibilang cukup jauh, dan appa Lee yang tidak mau anaknya merasa kelelahan menyuruh Sungmin untuk mencari penginapan saja disekitar Nowon, mungkin sekitar 1 minggu sebagai percobaan.

 

Kelopak mata Sungmin terpejam ketika hidungnya mencium aroma khas roti yang baru saja selsai dipanggang. Uh, benar-benar menggugah selera! “Ah, Sungmin-Hyung! Aku kira kau tidak akan datang sepagi ini.” Hyukjae yang kaget ketika melihat sang boss memasuki Joy’s Bakery segera menghampiri namja manis yang dengan santainya mendudukkan diri diatas sofa yang tersedia untuk para pengunjung.

 

“Hehe, kau berlebihan Hyukjae-ah.” Sungmin membenarkan posisi duduknya. “Kenapa rasanya sepi sekali? Kemana yang lain?” Sungmin menggerakan kepalanya kesana kemari.

 

“Ryeowook dan Kyuhyun belum datang, hanya ada aku dan Donghae saja.”

 

“Oh.. Belum datang yah?” Gumam Sungmin ketika mendengar nama namja Cho itu disebutkan oleh Hyukjae. Hyukjae menganggukkan kepalanya, baru saja dia ingin membuka mulutnya untuk memulai obrolan selanjutnya, sebuah suara menginstrupsi kegiatan 2 namja manis tersebut.

 

“Annyeong Yeorobun~” Tiba-tiba saja Donghae keluar dengan senyuman lebar khasnya dari arah dapur. Dan dia terlihat membawa keranjang yang sepertinya berisi.. “Wonderful French bread untukmu, Hyung.”

 

“Whuah!” Sungmin menjerit tertahan ketika melihat keranjang berisi roti sepanjang tangan hingga sikunya diletakkan diatas meja. Dasar roti tersebut ditaburi gula bubuk, disusul dengan lelehan coklat panas diatasnya. Astaga, ini benar-benar terlalu menggiurkan!

 

“Ini adalah french bread biasa yang kami make over habis-habisan. Sehingga memberikan rasa yang berbeda.” Sungmin tersenyum ketika mendengar ucapan berlebihan Donghae. “Dan silahkan dinikmati, roti ini pas sekali untuk dimakan saat sarapan.”

 

Dengan senyuman lebar khas balita miliknya, Sungmin menggenggam roti berukuran ‘wow’ itu. Menimang-nimang sebentar roti itu diudara ketika dirasa bibirnya tak memungkinkan untuk melahap keseluruhan bagian atas roti tersebut. Ketika menemukan posisi yang pas, Sungmin pun menggigit bagian sisi atas roti itu. Walaupun gigitannya tidak terlalu besar, tapi Sungmin menggigit dalam roti tersebut. Membuat bagian isinya melumer keluar.

 

“Yummy!”

 

Sungmin berucap riang ketika melihat isian cream berwarna kecoklatan yang didapat dari campuran White cream dan bubuk cinnamon yang dipadu dengan potongan stroberi segar serta kismis yang memberikan tekstur khusus. “Tak menyesal aku bersedia untuk mengelola toko ini!” Ucap Sungmin seraya masih sibuk mengunyah roti manisnya. Hyukjae dan Donghae hanya bisa tersenyum simpul melihat kelakuan boss baru mereka.

 

 

***

 

Namja itu menggeliat pelan ketika cahaya matahari berhasil masuk mengenai kornea matanya. Tanpa menunggu lama akhirnya kelopak itu terbuka, manampakkan obsidian onyx yang sedikit memerah dan berair. Merasa nyawanya sudah mulai terkumpul, namja itupun bangkit dan mendudukkan dirinya diatas bed tempatnya tidur beberapa saat yang lalu. Tangan putih pucatnya terjulur mengambil handphone miliknya yang berada diatas nakas. Melihat beberapa notification.

 

Ditekannya tombol open ketika melihat sebuah pesan yang menurut ia sekiranya penting.

 

|From : Hyukjae-hyung

 

Segeralah kemari, Kyu. Bahkan Sungmin sajangnim saja sudah datang, jangan memberikan kesan buruk. Aku tunggu-|

 

Namja yang teridentifikasi sebagai Cho Kyuhyun ini hanya mengedikkan bahunya lalu meletakkan kembali handpone tersebut diatas nakas. “Sungmin sajangnim?” Kedua tangan Kyuhyun ia posisikan dibelakang, berfungsi sebagai penahan tubuhnya. Matanya menatap kearah matahari pagi yang seakan menantangnya dari balik jendela kamar yang memang tidak ia tutup dari semalam. Tanpa diduga senyum penuh kharisma terlukis di bibir sexy-nya. Kyuhyun membawa kedua tangannya diatas dada, menyatukan jarinya erat. “Aku percayakan semuanya padamu, Hyung.” Ucapnya masih tersenyum lebar. Jarang sekali ia tersenyum seperti itu, ini aneh.

 

 

***

 

“Membosankan!” Sungmin mengerucutkan bibirnya seraya mengaduk-aduk tepung terigu yang ada dihadapannya dengan asal. Ya, saat ini Sungmin tengah berada di dapur Joy’s Bakery. Disaat kedua pegawainya Lee Hyukjae dan Lee Donghae tengah asik melayani pembeli sementara ia malah terkurung disini.

 

“Coba saja ada Ryeowook ataupun Kyuhyun disini.” Gumam Sungmin seraya menumpukkan dagunya keatas tangan.

 

“Aku disini, Hyung.”

 

“YA!” Sungmin menjerit kecil ketika suara bernada bass tiba-tiba saja memasuki indra pendengarnya. Disusul dengan sesosok tubuh jangkung yang masuk melalui pintu yang berada persis dibelakang Sungmin. “Kau mengagetkanku, Kyu! Menyebalkan!” Sungut Sungmin seraya merengut kesal. Kyuhyun terkekeh kecil. “Mianhae.”

 

Kyuhyun ikut mendudukkan dirinya disebelah Sungmin. Rasanya Kyuhyun ingin selalu terkekeh ketika melihat raut menggemaskan Sungmin ketika sedang merengut. “Sudahlah. Akukan sudah minta maaf.” Sungmin mendelik sekilas. “Arra.”

 

Kyuhyun mengedikkan bahunya acuh. Lalu matanya dibiarkan berpendar kesegala arah. Dahinya berkerut ketika merasa ada yang aneh dengan dapur Joy’s Bakery hari ini. “Kemana Ryeowook?” Bukankah aneh ketika tak melihat si pegawai teladan saat jarum jam sudah mengarah ke angka 10 pagi?

 

“Huh? Aku tak tahu.” Jawab Sungmin acuh tak acuh seraya terus memainkan butiran tepung dihadapannya. Kyuhyun mendelik. “Lalu, kenapa kau ada disini?”

 

“Kau belum tahu? Aku yang sekarang menjadi owner toko ini. Pokoknya semua yang berhubungan dengan Joy’s Bakery, aku yang urus!” Ucap Sungmin menggebu-gebu. “Oh.” Sungmin mendelik horor ketika Kyuhyun menjawab dengan sangat singkat dan datar. Tak sopan!

 

Brak!

 

“Ya!”

 

“Mianhae Sungmin-hyung.” Sungmin melotot kearah Hyukjae yang baru saja membuka pintu dengan cara brutal. Sedangkan sang pelaku hanya nyengir dan memasang wajah seolah tanpa dosa ketika Sungmin memberikannya tatapan ‘manis’.

 

“Ada apa?” Suara Kyuhyun membuat Hyuk tersadar apa tujuan utamanya datang ke dapur Joy’s Bakery sampai membuat sebuah insiden kecil yang cukup bermasalah. “Begini, Ryeowook meneleponku bahwa dia mohon ijin untuk satu hari ini. Ada urusan mendadak dengan keluarga yang tidak bisa ditolak katanya.” Terang Hyukjae.

 

“Tak masalah, aku ijinkan. Tenang saja,” Ucap Sungmin kalem ketika mengerti dengan ucapan namja berambut blonde itu.

 

“Tapi masalahnya bahan-bahan untuk roti dan cake sudah habis, biasanya Ryeowook yang akan mengurus semuanya. Dari mulai membuat daftar, memilih-milih bahan dan sebagainya. Apalagi ada pesanan roti yang belum Donghae buat, bisa jadi masalah nanti.” Ucap Hyukjae frustasi. Sungmin menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal. “Yasudah, biar aku saja yang belanja bahan-bahan itu.” Putus Sungmin. Sungmin mengerti Hyukjae dan Donghae tidak akan pergi untuk melakukan tugas tersebut. Karna kedua namja itu lebih dikhususkan untuk menjadi ‘penjaga’ dibanding dengan ‘tukang seleksi’.

 

“Eh? Memangnya kau tahu semua yang kami butuhkan, hyung?” Tanya Hyukjae dengan tampang polos.

 

“Tidak juga, sih. Tapi kalau untuk memilih-milih bahan sepertinya aku bisa.” Jawab Sungmin seraya melipatkan tangannya diatas dada. Matanya berputar, berusaha mencari ide. Tentu saja dia tidak mau toko roti miliknya yang baru saja ia pegang bangkrut begitu saja karna ketiadaan barang. Memalukan.

 

“Kau ikut denganku, Kyu!”

 

“Mwo? Kenapa aku?”

 

Sungmin memutar bola matanya malas. “Kau dengar sendiri kan jika aku tidak terlalu tahu dengan bahan-bahan pembuatan roti dan cake? Jadi kau ikut saja denganku. Kau sebagai penunjuk bahan dan aku yang akan memilih. Lagipula kau sedang tidak ada kerjaan kan? Bagaimana?” Tawar Sungmin seraya menaik-turunkan alisnya. Kyuhyun menghembuskan nafas berat. Menolak pun pasti akan tetap dipaksa.

 

“Baiklah.”

 

 

***

~

 

“Tepung terigu yang bergambar kunci.”

 

“Sebentar.”

 

Kyuhyun memutar bola mata bosan ketika melihat Sungmin tengah serius membaca bagian belakang kemasan tepung. Memeriksa kualitas mungkin. “Sudahlah hyung, sudah sejak lama toko Joy’s Bakery memakai tepung tersebut. Dan hasilnya bagus.”

 

“Begituyah? Baiklah, tepungnya 2 box ajusshi!”

 

Sungmin memeriksa kertas yang dipakainya untuk menulis bahan-bahan yang disebutkan Kyuhyun selama mereka berbelanja. “Baking powder, telur, gula, butter & mentega, susu cair. Ehm, aku pikir bahan pokoknya sudah semua, apa yang kurang?” Tanya Sungmin seraya mendongakkan kepalanya, memandang Kyuhyun.

 

“Aku rasa stok buah-buahan sedang sangat menghawatirkan.”

 

Sungmin mendengus lirih ketika mendengar suara datar Kyuhyun. Matanya berpendar, senyum terulas ketika melihat stand buah-buahan. Dengan seenaknya Sungmin menarik tangan Kyuhyun supaya mau mengikuti dirinya, mengabaikan sosok namja yang tengah mengerutkan dahi bingung kearahnya.

 

“Nah, buah-buahan apa saja yang kalian butuhkan?”

 

Kyuhyun berpikir sebentar. “Strawberry,” Ujarnya seraya menjulurkan tangan, mengambil satu buah strawberry yang dihargai per kilogram.

 

“Aish, jadi orang itu harus pilih-pilih Kyu!” Sungmin merebut paksa strawberry yang berada ditangan Kyuhyun lalu menyimpannya kembali. Sementara ia sekarang tengah sibuk mengobrak-abrik gunung strawberry segar dihadapannya. “Apa yang salah? Strawberry tadi bagus! Segar, besar pula! Aku bingung dengan seleramu, Hyung.” Gerutu Kyuhyun. Layaknya seorang istri yang tak menanggapi ocehan suaminya, Sungmin terus saja sibuk memilah-milih strawberry yang menurutnya lulus uji.

 

“Hei, Cho! Lihat kemari,” Dengan malas Kyuhyun menuruti perintah sang boss. Matanya menyipit ketika melihat Sungmin menyodorkan strawberry di dua telapak tangannya. Layaknya seorang SPG yang sedang menawarkan produk. “Ini strawberry yang kau pilih,” Sungmin menaikkan tangan kanannya. “Dan ini strawberry yang ku pilih.” lanjutnya seraya menaikkan tangan sebelah kirinya.

 

“Sepintas memang terlihat sama. Namun kau harus lebih teliti, strawberry yang kau pilih memang besar dan segar. Tapi apa kau tak lihat? Warna merah strawberry ini tidak menyeluruh, sebagian masih berwarna putih dan sebagian lagi berwarna merah tetapi merah pias.” Sungmin menghela nafas. “Sedangkan strawberry yang kupilih, ukurannya tidak terlalu jauh beda dengan strawberry pilihanmu. Namun lihat, strawberry ini berwarna sangat merah, dan menyeluruh. Teksturnya-pun bagus. Sangat menggugah selera,”

 

“Huh? Hanya beda sedikitlah, Hyung. Yang penting strawberry!” Kyuhyun masih kekeuh dengan alasannya. Sungmin menggeleng. “Jangan menyepelekan! Warna merah pada buah-buahan berarti di dalam buah tersebut terdapat kandungan Antosianin dan Lycopene. Antosianin dan Lycopene berfungsi untuk mencegah berbagai kanker dan menghambat proses kemunduran fisik sehingga tidak mudah pikun!”

 

Kyuhyun ternganga. Hei, apakah Lee Sungmin sekarang sedang bertransformasi menjadi seorang dokter?

 

“Lagipula merah itu berarti kesan energi, kekuatan, hasrat. Dan ah, aku lupa lagi! Keke~” Dan tanpa diduga-duga Kyuhyun ikut tersenyum ketika melihat Sungmin terkekeh lucu. Entahlah, ia merasa senang ketika Sungmin membahas tentang arti warna.

 

“Baiklah, kau yang memilih strawberry-strawberry ini.” Sungmin mengangguk semangat. Dan Kyuhyun kembali tersenyum dibailk bahu Sungmin yang tengah serius menyeleksi strawberry menggiurkan dihadapannya. Mengabaikan seorang ajhussi penjaga stand yang sedari tadi memperhatikan keributan kecil antara Kyuhyun dan Sungmin.

 

“Benar-benar pasangan yang romantis. Khukhu~”

 

 

***

3MonthLater 

 

TRING!

 

Sungmin menjulurkan tangannya keatas meja nakas. Mematikan alarm yang sudah berhasil membuatnya terbangun. Dengan mata yang masih setengah terpejam, pinky boy ini mendudukkan dirinya. Membiarkan sinar matahari menyapa tubuhnya. Tangan Sungmin terjulur mengambil handphone bercassing putih beraksen pink yang ada diatas meja. Sebuah pesan ia buka ketika nama sang appa tertera sebagai pengirim.

 

From : Appa Lee

 

|Sungmin-ah, apa kau baik? Syukurlah kalau memang begitu. Hanya ingin memberi tahu, kalau appa dan eomma akan berangkat ke China, ada sedikit krisis disana. Mungkin sampai akhir tahun. Mianhae, kau akan merayakan natal seorang diri. Karna Sungjin juga tengah sibuk di Jepang. Tapi kau tenang saja, di hari ulang tahunmu appa akan datang, Janji! Tetap jaga kesehatanmu, captain!|

 

Sungmin menghela nafas berat. Sudah ia duga, tapi No problem lah. Oh hei, hampir 3 bulan lebih Sungmin hidup di sebuah apartement yang cukup sederhana di Nowon. Sekitar 1 minggu sekali Sungmin akan pulang, bertemu dengan kedua orang tuanya. Apartement Sungmin sendiri berlokasi cukup dekat dengan Joy’s Bakery. Jalan kaki selama 10 menit juga sudah sampai. Dan entah kenapa hidup Sungmin sekarang terasa lebih berwarna dibandingkan sewaktu ia di Jepang dulu. Teman-temannya di Joy’s Bakery yang semuanya unik membuatnya nyaman dan happy! Tidak ada alasan untuk Sungmin tidak betah di Joy’s Bakery. Dan juga, Sungmin sudah mulai bisa beradaptasi dengan baik bersama Kyuhyun. Ah~ entah kenapa jantung Sungmin selalu berdegup seolah telah olahraga ketika membayangkan nama itu. Bukankah itu hal aneh?

 

Sungmin menggeleng-gelengkan kepalanya lucu ketika membayangkan hal tersebut. Matanya tak sengaja menangkap ke arah jam yang menunjukkan pukul 06.30. Teringat rencananya kemarin yang akan datang pagi untuk mengecek pengiriman bahan, memang setelah Sungmin ditetapkan menjadi boss urusan keuangan dipegang oleh Sungmin. Ia tidak mau membebani Ryeowook yang sudah banyak membantunya di Joy’s Bakery.

 

“Sepertinya aku harus ke Joy’s Bakery sekarang juga. Okay, Fighting Lee Sungmin!”

 

 

***

 

From : Eomma

 

| Apa kabarmu, Chagi? Kapan kau bisa berkunjung menemui eomma? Oh dan mana cake mu? Sudah lama rasanya kau tidak mengirim cake lagi kepada eomma, eomma menunggu cake lezat buatanmu, Chagi. Ah~ I really miss u, son!|

 

Brak!

 

Handphone bercassing hitam itu membentur keras dinding dapur Joy’s Bakery. Tidak hancur, namum membuat layarnya hitam seketika. Kyuhyun, sang pelaku pelemparan hanya bisa menatap tajam benda berteknologi canggih tersebut dengan mata memerah. Pandangannya terarah pada berbagai macam bahan pembuat cake yang berada dihadapannya. “Shit!”

 

Brak!

 

“Bajingan!”

 

Cklek

 

“Omo!” Pintu dapur terbuka, menampakkan wajah terkejut seorang Lee Sungmin. Bagaimana tidak, wajah didepannya itu sangat menyeramkan. Dengan ekspresi dingin, mata panda yang sangat nyata, dan kelakuannya yang berhasil menghancurkan sebuah kursi kayu yang biasanya dipakai Sungmin untuk duduk menjadi fanboy Kyuhyun ketika sedang membuat cake. Sungmin menatap Kyuhyun tak percaya. “Ya! Kau kenapa?” Kyuhyun hanya diam. Hanya deruan nafas beratnya saja yang terdengar menggema.

 

“Kenapa pagi-pagi sekali kau sudah ada disini?” Sungmin menyipitkan matanya. “Atau, kau tak pulang dan bahkan tidak tidur? Astaga~”

 

Badan Sungmin menegang ketika Kyuhyun berjalan kearahnya. Tentu saja dengan tatapan tajam mematikan khas Cho Kyuhyun. Semakin dekat dan, “Eh?” Sungmin ingin sekali memukul orang yang tengah seenaknya mendorong tubuhnya dengan seenaknya kearah luar. Memang tidak kasar, tapi tetap saja menyebalkan. “Ya! Aish, kenapa kau mengusirku?”

 

“Tolong beri aku ketenangan.”

 

Cklek

 

Sungmin menganga. Berani sekali namja itu memperlakukan seorang boss seperti ini. Huh, kalau bukan pegawai yang mempunyai potensi Sungmin tidak mau mempertahankan patissier tampan itu. “Kenapa lagi dia?” Sungmin merengut lucu. “Aneh lagi. Huh!”

 

 

***

 

“Silahkan~ Dijamin roti dan cake di Joy’s Bakery akan membuat anda ketagihan.” Dengan senyum manisnya Sungmin menjulurkan brosur-brosur berisi iklan tentang Joy’s Bakery itu kepada semua orang yang berlalu lalang ditengah dinginnya salju akhir tahun. Baru sekitar seminggu yang lalu ia menekuni cara ini. Bermula saat ia merasa bosan karna tidak ada pekerjaan lain selain mengawasi dan mengurus keuangan. Dan tentu usahanya tak sia-sia, selain terpesona oleh keramahan seorang Lee Sungmin dan tergoda oleh lezatnya gambar cake dan roti, orang-orang juga bersemangat datang ke toko ini karna melihat 5 namja ‘wah’ dalam brosur tersebut. Hei, bahkan Sungmin membuat sebuah photoshoot dirinya, Donghae, Kyuhyun, Hyukjae dan Ryeowook untuk dijadikan penarik minat masyarakat. Benar-benar pintar kau Min!

 

“Hah~” Sungmin meregangkan tangannya ke udara saat brosur dalam tangannya telah habis. Seharian berada diluar benar-benar membuatnya cukup penat dan sedikit kedinginan. Terlihat dari pipinya yang mulai memerag. Sungmin melihat jam, sekitar jam 3 sore. “Pantas saja Joy’s Bakery sangat ramai.” Ucapnya seraya melihat keadaan didalam. Senyuman kecil tersungging ketika melihat Ryeowook, Hyukjae dan Donghae tampak sibuk dengan para pengunjung genit yang mayoritas memang anak remaja. Kyuhyun? 3 bulan ia berapatasi dengan Joy’s Bakery cukup membuat Sungmin tahu sedikit dengan kehidupan pribadi Cho Kyuhyun. Ternyata ia merupakan salah satu kepala patissier disalah satu Hotel mewah di Nowon. Jadi Sungmin memberi kelonggaran untuk Kyuhyun bekerja di Joy’s Bakery. Namun cukup mengherankan, untuk apa Kyuhyun bekerja di Joy’s Bakery ketika ia sudah mempunyai pekerjaan yang lebih menjanjikan? Bahkan namja Cho itu lebih sering menghabiskan waktu disini. Yah, walaupun tidak sering dan tidak lama. Berbicara mengenai Kyuhyun, sepertinya Sungmin belum melihat namja itu pergi dari Joy’s Bakery.

 

“Eh?” Sungmin menyipitkan matanya ketika melihat seorang namja keluar dari pintu belakang Joy’s Bakery. “Siapa dia? Mencurigakan!” Dengan cepat Sungmin berlari kearah namja tersebut, sekedar memastikan.

 

“Jogiyo~”

 

Namja itu berbalik. “Ne? Ada yang bisa saya bantu?” Pandangan Sungmin teralih pada sebuah kotak yang berada ditangan namja tersebut. “Ah, saya lihat anda keluar dari pintu belakang Joy’s Bakery? Apakah ada yang anda perlukan? Kebetulan saya pemilik toko itu.” Ucap Sungmin ramah, tidak maksud menuduh.

 

“Oh tidak, saya tadi hanya ingin mengambil sebuah kiriman dari Tuan Cho.”

 

“Tuan Cho?” Sungmin mengerutkan dahi. “Maksud anda Cho Kyuhyun?” Namja itu mengangguk.

 

Kyuhyun? Paket? Apa? Sungmin penasaran! “Boleh saya melihatnya sebentar?” Namja itu mengangguk seraya tersenyum. “Tentu.”

 

| To : Cho Heebum

From : Your ‘Lovely’ Son, Cho Kyuhyun.|

 

“Oh, paket untuk eomma-nya. Aku rasa ini cake.” Ucap Sungmin ketika melihat sepercik memo diatas tutup kardus tersebut. Senyum kecil tersungging di bibir Sungmin. “Aku tak me-”

 

BRUK!

 

“OMO!” Sungmin dan namja dihadapannya tersentak kaget ketika kardus yang berada diatas tangan Sungmin jatuh keatas Trotoar yang dilapisi oleh tebalnya putih salju. Membuat isinya hancur berantakan.

 

“Ya anak muda! Kembali kau! Dasar tak sopan!” Namja tersebut berteriak kalap kepada seorang remaja berseragam Junior High School yang tengah melajukan sepedanya dengan kecepatan brutal. Dialah yang tak sengaja menyenggol Sungmin sehingga kardus itu jatuh keatas trotoar.

 

“Anda baik-baik saja?” Namja berbadan tambun itu bertanya khawatir kearah Sungmin yang tampak terdiam kaku. Ekspresinya seperti orang yang Shock. Ya, Sungmin Shock ketika melihat isian cake yang jatuh berantakan diatas Trotoar. Bukan masalah cake itu yang hancur, tapi.. “Hitam,” Ucap Sungmin lirih. Dengan cepat Sungmin mengambil kardus berisi cake hancur itu lalu dibawa kepangkuannya. “Anda tak perlu khawatir, cake ini akan saya tangani. Ini bayaran anda.”

Dan Sungmin pun berlalu dengan tergesa-gesa seraya membawa kardus cake itu ditangannya. Meninggalkan namja yang tengah membuka telapak tangan dengan lembaran uang won diatasnya. “Aneh.”

 

 

***

 

BRAK!

 

Kyuhyun yang sedang membereskan meja berantakan miliknya terlonjak kaget saat mendengar pintu yang berada persis dibelakangnya dibuka dengan brutal. Ia membalikan badannya, menyipitkan mata ketika melihat Sungmin tengah menatap aneh kearahnya.

 

“Kau kenapa?”

 

“JUSTRU AKU YANG HARUSNYA BERTANYA KENAPA!” Kyuhyun berjengit kaget. Ayolah, semalam dia tidak tidur. Ditambah ia merasa lelah karna seharian disibukkan membuat cake ‘spesial’, dan sekarang tiba-tiba saja sang boss marah-marah tak jelas. “Apa maksudmu?!” Ucap Kyuhyun dengan nada datar.

 

“Jelaskan dengan rinci hubungan eomma-mu, cake, dan-” Sungmin menyodorkan kardus yang berisi cake hancur tersebut, membuat Kyuhyun reflek membulatkan matanya. “-Hitam.”

 

Kyuhyun diam. Oh, dan Kyuhyun lupa jika namja manis didepannya ini adalah seorang pembaca arti warna handal. Kyuhyun tersenyum, hanya tersenyum kecut.

 

“Dulu kau memberiku sebuah cake hitam yang kau namakan Something Cake. Dan kau bilang warna pada cake itu menggambarkan dirimu. Dan sekarang,” Sungmin memandang cake hancur yang berada didalam kardus. Cake yang terdiri dari semua unsur hitam. Dari mulai Adonan cake, cream, bahkan garnish pun semua yang berwarna hitam. Sungmin tak habis pikir, siapa yang mau memakai cake seperti ini? Dari segi rasa mungkin enak, tapi dari segi penampilan nol besar bagi Sungmin.

 

Kyuhyun melangkahkan kakinya kearah sofa yang berada beberapa meter dihadapannya. Sofa untuk bersantai setelah para pegawai ‘dapur’ bekerja. “Duduk.” Seakan terhipnotis, Sungmin pun memilih mendudukkan dirinya diatas kursi kayu yang ia tarik dari bawah meja.

 

“Hah~” Kyuhyun menghela nafas berat. Sepertinya bebannya sangat besar, membuat Sungmin semakin penasaran. “Kau ingat ketika aku pernah berbicara padamu bahwa dulu dapur adalah salah satu tempat yang aku blacklist dalam memori otakku?”

 

Sungmin mengangguk. “Dan kau mungkin bingung dengan pernyataan dan keadaanku yang sekarang menjadi, yah bisa dibilang seorang patissier handal. Bukankah aku benar?” Sungmin kembali mengangguk. Bertele-tele sekali, ck!

 

“Itu adalah pangkal masalahnya. Kau tahu? Cita-citaku dulu adalah seorang pemusik handal, namun itu semua tidak akan pernah terwujud. Karna aku sekarang adalah seorang patissier handal,”

 

“Eommaku memaksaku untuk masuk kedalam dunia kuliner, Ia ingin aku meneruskan impiannya yang dulu terhenti, apalagi appaku adalah seorang chef. Jadilah ia sangat terobsesi,”

 

Sungmin serius mendengarkan. Kyuhyun terkekeh lemah ketika melihat raut menggemaskan Sungmin. “Dulu aku sangat-sangat alergi dengan yang namanya dapur, bahkan aku pernah menghancurkan dapur temanku ketika aku berniat memasak ramen instan. Haha,” Demi apapun Sungmin tidak ingin ikut tertawa melihat tawa horor Kyuhyun.

 

“Kau tahu perjuanganku untuk beradaptasi dengan dunia baru itu? Rasanya sangat lelah asal kau tahu. Bahkan jariku sudah hampir ratusan kali tersayat, kulitku terbakar, mataku hampir buta. Maka dari itu, aku memilih jalur sebagai patissier daripada Chef,”

 

“Kau terpaksa? Lalu kenapa kau menerimanya begitu saja? Kau kan bisa menyuarakan protesmu.” Intrupsi Sungmin.

 

“Tidak semudah itu. Obsesi eomma semakin besar ketika appa meninggal,” Sungmin tersentak. “Sesakit apapun yang aku rasa, demi kebahagiaan orang tuaku satu-satunya aku bersedia melakukannya. Well, walaupun berat.”

 

Kyuhyun tersenyum kecut. “Aku memang bersedia menjalankan obsesinya, tapi jika aku terus-menerus dipaksa aku tidak yakin akan bertahan. Dia sangat bahagia melihatku bekerja sebagai patissier, tanpa dia tahu aku mempunyai syndrom aneh karna hal itu,”

 

“S-syndrom?”

 

“Aku akan merasa marah dan kesal ketika aku melihat cake hasil buatanku sendiri. Namun disaat yang bersamaan justru aku menghasilkan cake yang begitu lezat, dan justru terlihat berbeda dari yang lain. Hanya kau yang tahu, jika semua cake yang kubuat adalah berdasarkan curahan hatiku,” Kyuhyun berhenti sejenak. “Tapi apa? Eomma tidak pernah tahu apa isi hatiku, TIDAK PERNAH TAHU! Bahkan aku sering mengamuk sendiri akibat syndrom itupun ia tak tahu. TAK TAHU, HYUNG!”

 

Sungmin bangkit. Menghampiri Kyuhyun yang tengah memejamkan matanya, menetralisir perasaan kesal yang membuncah. Ia mengerti, sangat mengerti maksud Kyuhyun. Duduk disamping Kyuhyun lalu menghadapkan tubuhnya kearah namja berkulit pucat itu. “Jadi kau selalu rutin mengirimi eomma-mu cake supaya ia tahu bagaimana perasaanmu?” Sungmin mengangkat pipi Kyuhyun. Menghadapkan mata itu kearah wajahnya. “Caramu salah, Kyu. Eomma-mu justru akan makin merasa bahwa kau nyaman dengan duniamu. Kau bisa membicarakannya, itu akan lebih baik.”

 

Kyuhyun menghadapkan wajahnya kearah samping. “Dia tidak akan mengerti, Hyung! Lagipula..” Sungmin memasang telinganya baik-baik. “Aku takut mengecewakannya, aku tidak mau.” Cicit Kyuhyun.

 

Sungmin tersenyum. “Ternyata rasa cintamu lebih besar daripada rasa bencimu. Lalu apa yang membuatmu seolah menjaga jarak dengan eomma-mu? Kau tahu jika ini justru akan membuatnya lebih dari sekedar kecewa.”

 

Kyuhyun terdiam. Hidungnya kembang-kemping tak beraturan. “AA-ku-”

 

Sungmin yang mengerti segera menarik kepala Kyuhyun untuk bersembunyi dibalik bahunya. Mendekap erat tubuhnya dan mengelus lembut punggungnya. “Arraseo, aku mengerti. Menangislah, menangislah sepuasmu.”

 

Sungmin tersenyum sedih ketika merasakan tangan Kyuhyun mendekap erat pinggangnya. Menyurukkan wajahnya pada bahu Sungmin, dan seketika isakkan berat Kyuhyun menggema diruangan serba putih tersebut. Membuat Sungmin meringis kecil. ‘Cho Kyuhyun..’

 

 

☆~☆~☆

 

 

“Ya Hae! Itu milikku!”

 

Sungmin terkekeh keras ketika melihat Hyukjae yang tengah merengut kesal karna kado natal miliknya diambil dan dimainkan dengan seenaknya oleh Donghae. Ck, namja berwajah childish itu memang senang menggoda Hyukjae. Ya, malam ini adalah malam Natal. Selsai berdoa bersama, boss manis ini berniat merayakan perayaan kecil di toko rotinya. Kalian pasti sudah tahu kenapa Sungmin memilih merayakan Natal di Joy’s Bakery kan? Dan kebetulan Hyukjae dan Donghae juga ingin menghabiskan malam suci ini dengan Sungmin ketika tahu sang boss akan merayakan perayaan Natal seorang diri. Sedangkan Ryeowook, ia tidak datang karna sudah mempunyai urusan lain.

 

“Jangan marah Chagi, akukan hanya bercanda.”

 

Kekehan Sungmin berubah menjadi senyuman ketika mendengar nada merajuk Donghae. Chagi? Tidak, kalian tidak salah dengar. 3 bulan lebih berada di Joy’s Bakery membuat Sungmin tahu bahwa Hyukjae dan Donghae mempunyai hubungan dekat yang ‘lebih’ dari seorang sahabat. Dan selama itu pula Sungmin yang memang menghargai perbedaan juga tahu bahwa orang-orang tidak mempermasalahkan hubungan Donghae dan Hyukjae. Walaupun beberapa orang masih ada yang sering menganggap aneh ataupun mencibir mereka, Tapi dua pasangan hyperactive itu tidak peduli. Yang penting mereka nyaman dan tetap bisa bermesraan, itu sudah lebih dari cukup.

 

BUK!

 

“Aw!”

 

Sungmin berjengit ketika melihat Hyukjae memukul brutal otot bisep Donghae dengan boneka berbentuk kepala santa. Donghae sendiri sibuk melindungi tubuhnya dari serangan mendadak sang kekasih. “Ya!Berhenti chagi,”

 

“Kau menyebalkan Lee Donghae!”

 

Buk! Buk!

 

Sungmin tertawa keras ketika melihat wajah Donghae memerah menahan geram. Beginilah keromatisan yang selalu disuguhkan oleh kedua sejoli ini, ribut. Tawaan Sungmin memelan perlahan ketika matanya menangkap sosok jangkung Kyuhyun yang berjalan kearah luar tanpa sepatah katapun. Oh, bahkan Sungmin melupakan jika Kyuhyun juga ikut merayakan malam Natal di Joy’s Bakery. Entah suruhan siapa, Sungmin bangkit dari atas sofa lalu berjalan keluar mengikuti kemana Kyuhyun pergi.

 

 

.

 

.

 

 

Sungmin berdiri mematung di depan pintu ketika merasakan tubuhnya mendingin akibat salju yang turun disertai dengan angin cukup kencang. Dieratkannya syal serta jaket yang membungkus tubuh mungilnya. Pandangan Sungmin mengarah kedepan, matanya membulat ketika melihat si namja Cho tengah tidur diatas tebalnya salju seraya memejamkan mata. Ck, apa-apaan namja itu! Sungmin kembali masuk kedalam, mengambil matras cukup tebal yang berukuran tak lebih besar dari sebuah karpet pada umumnya.

 

“YA! Kau ingin mati kedinginan? Ck!”

 

Seruan keras Sungmin membuat Kyuhyun refleks membuka matanya. Tatapan tajam namja Cho itu mengarah kepada Sungmin yang tengah berjalan kearahnya dengan susah payah karna menarik matras. Kyuhyun mengerutkan keningnya ketika melihat Sungmin berdiri diatasnya dengan mata melotot lucu. “Huh?” Mata Kyuhyun seketika ikut membulat ketika kaki mungil berbungkus boot hitam beraksen pink itu mendorong tubuhnya hingga posisi tubuh Kyuhyun menyamping. Wow, Kyuhyun tak menyangka tenaga Sungmin bisa sekuat itu.

 

“Matras ini akan sedikit menghidarkanmu dari dinginnya salju.”

 

Kyuhyun mendudukkan dirinya. Memilih menatap Sungmin yang sibuk memasang matras diatas salju tebal tepat disebelahnya. Memang semenjak hari dimana Kyuhyun menceritakan semua keluh kesahnya pada Sungmin, namja manis itu terlihat lebih memperhatikan Kyuhyun. Namja berkulit putih pucat itu menghela nafas berat.

 

Sungmin yang mendengar desahan berat disampingnya membuat kepalanya bergerak menatap kearah Kyuhyun. Senyuman kecil terulas dibibir pinkish Sungmin. “Ayo duduk disini.” Ucapnya seraya menepuk-nepuk bagian atas matras kosong disamping tempatnya duduk.

 

“Tapi aku ingin tidur.”

 

Ucapan datar Kyuhyun membuat Sungmin mendesah kecil. Matras ini besarnya tak seberapa, ditambah lagi separuhnya sudah diduduki oleh Sungmin. Dan juga badan Kyuhyun tinggi dan tidak mungkin ia bisa tidur diatas matras. Kalaupun bisa, tidak akan lebih dari seperempat bagian badannya saja yang terlindungi hangatnya matras. Sungmin berpikir, jika dia membiarkan Kyuhyun menguasai semua bagian matras ini, dia akan duduk dimana? Tentu saja Sungmin tidak mau kedinginan.

 

“Eh?”

 

Sungmin kaget ketika tiba-tiba saja Kyuhyun merebahkan kepalanya diatas paha Sungmin,menjadikannya bantalan. Mengetahui bagaimana keras kepalanya seorang Cho Kyuhyun, namja manis inipun memilih mengalah seraya mendesah kecil.

 

“Lagipula jika kau ingin tidur, kenapa memilih diluar? Jelas kau tahu jika malam ini sedang turun hujan salju.” Ucap Sungmin seraya membenarkan ciput rajutan berwarna pink yang dikenakannya. Menghangatkan kepalanya dari rintikan hujan salju di malam Natal.

 

“Aku hanya ingin menenangkan diri saja dari kedua pasangan ‘romantis’ itu.” Jawab Kyuhyun seraya mulai memejamkan matanya. Ada untungnya juga ia diposisi seperti ini, karna bisa mendapatkan lebih banyak kehangatan. Sungmin terkekeh kecil ketika mendengar ucapan Kyuhyun yang mengandung sindiran.

 

“Begitulah cinta, Kyu. Penuh dengan warna,” Sungmin tersenyum. “Cinta tidak selalu harus dilihat dari perhatian berlebihan ataupun seberapa romantis pasangan itu mengumbarkannya. Cinta juga bisa diekspresikan dengan pertengkaran kecil seperti tadi, justru itu yang membuat sebuah hubungan menjadi lebih menarik.”

 

Kyuhyun membuka matanya. Mendongakkan kepala, menatap orang yang sedari tadi berbicara mengenai sesuatu yang menurutnya tidak pernah ia ketahui sebelumnya. Lama Kyuhyun menatap wajah Sungmin dari posisinya saat ini, dan entah kenapa itu rasanya menenangkan dan menyenangkan. Rasa hangat mendominasi ketika Sungmin menundukkan kepalanya, membalas tatapan Kyuhyun dengan tatapan dan senyuman simpul khasnya.

 

Suasana sekejap hening ditengah hujan salju disertai angin yang cukup untuk membekukkan tubuh. Kyuhyun dan Sungmin masih terlarut dengan acara tatap-tatapan yang dimulai sejak beberapa menit yang lalu. Hanya ada suara samar-samar musik dari arah dalam yang tampak dari jendela sedang mengiringi pasangan Donghae dan Hyukjae berdansa romantis.

 

“Perbuatan yang kau lakukan selama ini kepada eomma-mu juga sebagian bentuk dari Cinta dan kasih sayang. Cara penyampaianmu saja yang salah, sehingga tidak semua orang dapat melihat perhatian penuh itu.”

 

Kyuhyun mendesah. Ia menangkap tangan Sungmin yang berada diatas dadanya, meminta kehangatan lebih. “Lalu apa yang harus aku lakukan?” Tanyanya lirih.

 

“Kembalilah seperti Kyuhyun sebelum kau menjadi seorang patissier Cho. Aku tahu kau dulu adalah orang yang sangat mencintai keluarga terutama eomma-mu, buktinya kau rela melakukan sesuatu yang bahkan kau tidak pernah mau melakukannya.” Sungmin ikut mengelus tangan Kyuhyun yang tengah melingkupi tangannya. “Tanpa kau sadar, kau terlalu mencintai eomma-mu. Tinggal bagaimana cara kau mengungkapkan rasa cinta itu.”

 

“Lalu, menurutmu aku harus bagaimana?”

 

“Hm, cukup jujur pada eomma-mu tentang semuanya lalu kembali seperti ibu dan anak yang saling menyayangi.” Jawab Sungmin seraya tersenyum.Helaan nafas berat kembali dihembuskan Kyuhyun. Baiklah, Sungmin mengerti bagaimana perasaan Kyuhyun saat ini.

 

Hening terasa ketika Kyuhyun kembali diam. Sungmin yang sedari tadi menunggu ucapan Kyuhyun sedikit tersentak ketika sebuah tangan melingkar dipinggangnya. “Dingin~” Dan namja manis itu hanya memutar bola mata bosan ketika mendengar rengekkan manja Kyuhyun.

 

“Sudah kubilang kita kedalam saja, disini memang sangat dingin.” Ucap Sungmin sedikit menggerutu. Bukannya mengendur, pelukan itu malah terasa semakin mengerat. “Aku tidak mau mengganggu pasangan romantis yang ada didalam sana.” Jawab Kyuhyun seraya mendorong punggung Sungmin cukup kuat, membuat tubuh namja imut itu terhuyung kedepan dan hampir saja wajahnya bertabrakan dengan Kyuhyun. “Dan begini lebih baik.”

 

Sungmin tersenyum kecil ketika merasakan nafas hangat Kyuhyun menerbangkan helaian poninya. Sepertinya Kyuhyun benar, posisi ini memang terasa nyaman. Kyuhyun yang tidur diatas paha Sungmin seraya memeluk erat pinggang sang namja manis, sedangkan Sungmin menyurukkan badannya kearah depan dan menumpukkan pipi kirinya diatas kening lebar Kyuhyun. Hm, benar-benar hangat.

 

Kyuhyun dan Sungmin pun kembali diselimuti keheningan. Membiarkan salju menghujani keduanya. Mengabaikan Donghae dan Hyukjae yang tampak dari balik jendela tengah berciuman dengan panas dan mesra ditemani rentetan lagu klasik penyejuk jiwa.

 

~

***

12-31-2012

2.00 PM KST

 

Kyuhyun terlihat menatap lurus kearah telur yang ada dalam genggamannya. Sejak beberapa menit yang lalu ia memperhatikan telur ayam tersebut. Sepertinya sedang ada sesuatu yang mengusik pikirannya. “Cinta,” Kyuhyun menimang-nimang telur tersebut. “Huh? Cinta?” Dan sekarang telur itu ia lemparkan dari tangan kanan ke tangan kiri begitupun sebaliknya. “Hah~ Aku tidak yakin.” Gumamnya seraya kembali memperhatikan telur yang ia letakkan diatas meja. Ck, patissier muda ini sepertinya sangat frustasi.

 

Cklek

 

Pandangan Kyuhyun terarah pada pintu dapur yang terbuka. Menampakkan wajah manis sang boss, Lee Sungmin yang terlihat tengah mengerutkan keningnya kearah Kyuhyun. “Kukira kau sedang membuat cake.  Kau masih ingat kan bahwa kau punya banyak pesanan?” Ucap Sungmin seraya mendudukkan dirinya diatas kursi kayu yang biasa ia duduki seraya menonton pertunjukan membuat cake Kyuhyun. Dahinya makin mengkerut ketika melihat namja Cho dihadapannya malah terdiam seraya menatap dirinya, dengan intens. Membuat Sungmin sedikit kikuk sebenarnya. “Y-ya kau kenapa? Cepat buat cake-nya, kau mau para pelanggan enggan memesan roti dan cake disini lagi?” Titah Sungmin. Menghela nafas sebentar, akhirnya Kyuhyun menyibukkan diri dengan peralatan serta bahan-bahan untuk membuat cake. Akhir-akhir ini memang pesanan cake sedang sangat meningkat, kalian masih ingat cake yang diberikan Kyuhyun pada Sungmin lalu dimakan oleh Appa Lee? Ternyata appa Lee ketagihan dan akhirnya merekomendasikan cake tersebut kepada teman-temannya. Cake yang mengandung unsur coffee itu memang cocok bagi orang-orang berumur seperti Appa Lee.

 

“Kenapa kau kesini? Memangnya diluar sedang ramai pengunjung?” Tanya Kyuhyun seraya sibuk menuangkan berbagai macam bahan kedalam mangkok besar dihadapannya. Kebiasaan Sungmin jika Joy’s Bakery sedang ramai, ia akan memilih kabur kedapur. Ia tidak terlalu suka keramaian, lagipula dia tidak bisa melakukan sesuatu diluar sana.

 

“Ani, Joy’s Bakery justru sedang sangat sepi. Dan aku kemari hanya ingin memberikan Donghae dan Hyukjae privasi.” Jawab Sungmin seraya mencomot sebuah Strawberry yang berada tak jauh didekatnya. “Mereka benar-benar pasangan yang sedang dimabuk cinta, ckck~” Sungmin menggelengkan kepalanya lucu seraya terus mengunyah buat merah berbentuk hati itu.

 

Bukanlah hal aneh jika pasangan itu selalu mengumbar kemesraan dimana-mana. Walaupun bukan dalam lingkup negative, tapi tetap saja orang yang ada disekitar mereka akan merasa iri jika melihat betapa romantinya Donghae dan Hyukjae. Kyuhyun yang baru saja memasukan adonan kedalam oven pun hanya menganggukkan kepala seraya membentuk mulutnya menjadi O. Kyuhyun kembali berjalan kearah meja, menyiapkan buah-buahan untuk dipakai sebagai garnish. Diambilnya beberapa buah Kiwi dan Strawberry lalu memotongnya sesuai keinginan.

 

“Berbeda dengan Ryeowook, malah terkesan tidak banyak tingkah dengan pacarnya. Hah, Cinta memang unik! Bahkan bisa merubah kepribadian seseorang.”

 

Gerakan tangan Kyuhyun terhenti. Obisidiannya mengarah kepada Sungmin. “Menurutmu sendiri, Cinta itu bagaimana?”

 

Sungmin yang mendengar ucapan Kyuhyun mengerutkan dahinya. Cinta? Hm, “Tulus, nyaman, berani dan yakin. Itu definisi Cinta menurutku.” Kyuhyun mengangguk singkat. Hei, ada apa dengan namja Cho ini? Sepertinya ada yang salah.

 

Tring!

 

Bunyi Oven yang menandakkan bahwa cake yang baru dipanggang beberapa menit yang lalu oleh Kyuhyun itu telah matang. Kyuhyun menaruh pisaunya, lalu beranjak menuju oven. Cake ini memang hanya memerlukan waktu yang sebentar untuk proses masaknya. Sungmin yang melihat Kyuhyun tengah sibuk mengurus cake panasnya pun beranjak, mengambil pisau lalu memotong Kiwi dan Strawberry dihadapannya. Yah, sekedar membantu Kyuhyun.

 

“Memangnya kenapa Kyu? Kau kelihatan aneh sekali hari ini.”

 

“Aku sedang bimbang.”

 

“Bimbang? Apa yang membuatmu bimbang?” Tanya Sungmin seraya menyomot kembali 2 buah strawberry dan langsung ia masukkan kedalam mulut. Membuat pipinya mengembung dengan wajah berjengit karna masam.

 

“Ada seseorang yang entahlah, membuatku selalu nyaman ketika bersamanya, merasa tenang ketika aku didekatnya, dan merasa menjadi Cho Kyuhyun yang lebih berani jika ia dihadapanku.” Sungmin sempat terkaget ketika sebuah tangan mencengkram kedua tangannya dari belakang. Mengarahkan harus bagaimana posisi pisau ketika sedang memotong buah-buahan. Yah, memang hasil potongan Sungmin terlihat ‘cukup’ baik.

 

“Tapi aku masih bingung dengan kata-kata Tulus, hyung. Aku tidak tahu aku bisa tahu perasaanku ini tulus atau tidak.” Ucap Kyuhyun persis dibelakang telinga Sungmin. Jika ada yang salah paham, Sungmin dan Kyuhyun pasti akan dikatakan pasangan paling romantis dengan posisi seperti ini.

 

Menelan semua strawberry halus yang telah dikunyahnya. Sungmin pun berkata, “Kau sendiri yang bisa menilai seberapa tulusnya cintamu, Kyu. Tulus adalah perasaan yang tiba-tiba muncul tanpa kau tahu kapan dan sebab rasa itu datang. Tulus adalah disaat kau merasa bebas akan sesuatu seolah tidak ada yang memaksa dan mengekangmu. Tulus adalah spontanitas, tidak banyak menggunakkan pikiran. Itu menurutku,”

 

Kyuhyun tersenyum simpul. Hanya sekejap. Tangannya masih sibuk menggerakan tangan Sungmin yang berada dibawahnya. Namun gerakannya terhenti, membuat tangan Sungmin juga menghetikan pergerakannya. “Berbaliklah, hyung.” Sedikit bingung, namun Sungmin pun menuruti keinginan sang patissier tampan.

 

“Tetap seperti itu dan jangan bergerak sampai aku memerintahkanmu.” Ucap Kyuhyun. Hei, berani sekali namja Cho itu menyuruh-nyuruh Sungmin? “Eh?” lirih Sungmin ketika melihat Kyuhyun menatap intens dirinya, perlahan jarak minim antara Kyuhyun dan Sungmin semakin menipis ketika Kyuhyun memajukan wajahnya. Dan seolah terhipnotis oleh perkataan Kyuhyun, Sungmin tidak bergerak sama sekali.

 

CHU~

 

Sungmin membulatkan matanya ketika merasakan sebuah bibir hangat melingkupi bibir mungilnya. Ia tidak menampakkan mata membulat penuh, hanya tersentak sekejap saja tadi. Lumatan terus ia rasakan, membuat tak sadar ia mengulum sebentar bibir hangat itu. Hanya sebentar dan itupun tak sengaja.

 

Kyuhyun melepaskan penyatuan bibir itu seraya tersenyum. “Cinta itu tulus, dan tulus adalah spontanitas dan tidak banyak menggunakkan pikiran. Lalu, kenapa tadi kau tak menolak ciumanku? Apa kau tulus menrima keberadaan bibirku diatas bibirmu?”

 

DEG!

 

Mata Sungmin membulat seketika seraya menatap Kyuhyun yang tengah menyeringai kearahnya.

 

 

***

 

12-31-2012

 

10.00 PM KST

 

Sret Sret

 

Suara ujung pensil yang berbenturan dengan kertas terdengar jelas di dapur Joy’s Bakery yang sunyi ini. Sang pelaku, Cho Kyuhyun masih terus memperbaiki sketsanya. Sketsa cake itu amat sangat ia pertimbangkan dari mulai segi warna, bahan dan rasa ketika nanti ia membuat cake aslinya.

 

Cklek

 

“Kyu?” Kyuhyun mendongak ketika mendengar suara tenor Ryeowook. Namja mungil itu masuk diikuti Donghae dan Hyukjae yang semuanya menatap heran kearah Kyuhyun. “Kukira kau sudah pulang.” Ucap Ryeowook seraya mendudukkan dirinya diatas sofa. Besok adalah tahun baru, dan toko sangat ramai. Mungkin nanti sampai tengah malampun akan ada pengungjung, maklumlah kawasan Joy’s Bakery memang berada dipusat kota. Tentu saja memakan roti hangat ditengah dinginnya salju ketika merayakan malam tahun baru adalah hal yang menyenangkan. Mereka tidak terlalu khawatir, karna Sungmin menyuruh mereka istirahat cukup dan mulai membuka toko pada jam 10 pagi. Jadi mereka yakin tidak akan mengantuk dan akan melewati malam tahun baru dengan sukacita. Sungmin sendiri sudah pulang dari hari masih sore, entah kenapa ia tak berkata hal aneh-aneh dan pergi begitu saja. Mengherankan.

 

“Apa yang kau buat?” Tanya Donghae seraya mengambil kertas berisi sketsa cake dipangkuan Kyuhyun.

 

“Cake?”

 

“Happy birthday?” Kini Hyukjae yang mengerutkan keningnya bingung. Setahu dia, patissier handal semacam Cho Kyuhyun tidak harus menggunakan sketsa dulu jika ingin membuat cake.

 

“Siapa yang ulang tahun?” Gumam Donghae seraya meletakkan jarinya diatas dagu.

 

“Tahun baru dan ulang tahun?” Ryeowook mengernyit. “Omo! Sungmin-hyung!” Jeritan kecil itu membuat Donghae dan Hyukjae tersentak dan akhirnya tersadar. Sementara Kyuhyun hanya tersenyum kecil melihat ekspresi ketiga orang didepannya.

 

“Jadi cake yang ada dalam sketsa ini untuk Sungmin-hyung?”

 

“Ne. Aku berencana membuatnya hari ini dan besok aku bisa langsung mempersembahkannya.”

 

“Whuah~ Romantis sekali.” Hyukjae dan Ryeowook berseru manja seraya meletakkan tangan diatas pipi, membuat Donghae menggeleng-gelengkan kepalanya heran.

 

“Ehm, mau kita bantu?”

 

Kyuhyun menatap kearah Donghae, Hyukjae dan Ryeowook yang tengah memandang kearahnya seraya tersenyum simpul. Membuat tak sadar lengkungan pun tercipta dibibir Kyuhyun. “Gomawo!”

 

 

♥~♥~♥

 

01-01-2013

7.30 AM

 

“Happy New Year~” Namja manis itu berucap lirih seraya memandang kearah luar, menatap salju yang masih mendiami beberapa tempat. Menghela nafas berat seraya terpejam, lalu kembali membuka matanya. Matanya memerah karna efek bangun dan kurang tidur. Pandangannya beralih kearah meja, menatap smartphone kesayangannya. Huh, bahkan dihari special begini pun tidak ada yang peduli padanya. Ya, tahun baru dan hari ulang tahun dirinya. Lee Sungmin.

 

Bahkan para pegawai Joy’s Bakery tidak ada satupun yang mengirim pesan. Ah, atau mungkin mereka kelelahan karna semalaman mengurus toko? Sungmin jadi merasa bersalah karna pergi begitu saja, padahal jelas-jelas toko ramai karna kemarin adalah malam pergantian tahun. Salahkan namja Cho yang dengan seenak jidatnya mencium Sungmin. Baiklah, kemarin Sungmin memang tidak mengelak atau apapun. Tapi, Tapi, ah! Sungmin pun tak mengerti. Namja manis itu mengacak-acak rambutnya yang memang masih berantakan. “Cinta, huh?”

 

Drrt Drrt

 

Tangan Sungmin terjulur mengambil smartphone-nya. Bingung ketika melihat nomor asing yang tidak ia kenal. “Yeoboseo?”

 

“Apakah benar ini nomor Tuan Lee Sungmin? Pemilik Joy’s Bakery?”

 

Dahi Sungmin berkerut. Sedikit was-was sebenarnya. “Ne, saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?”

 

“Begini, saya Cho Heebum. Eommanya Kyuhyun-”

 

DEG!

 

“-saat ini saya berada didepan Joy’s Bakery. Namun ternyata belum buka, kira-kira toko ini buka jam berapa?”

 

“E-eoh? Ajhumma sudah berada di depan Joy’s Bakery? Ini terlalu pagi, ajhumma.” Jeda sejenak. “Tapi ajhumma mohon tunggu sebentar, saya akan secepatnya kesana.”

 

“Baiklah kalau begitu, Terimakasih Sungmin-sshi.”

 

“Ne.”

 

 

♥~♥~♥

 

 

“Jadi Kyuhyun tidak menghubungimu sama sekali, ajhumma?”

 

“Ne, bahkan handphone-nya akhir-akhir ini selalu mati. Karna ajhumma khawatir, yasudah ajhumma datangi saja Joy’s Bakery.” Sungmin mengangguk canggung. Hah, namja Cho itu benar-benar! Saat ini Sungmin dan Cho Ajhumma tengah berada didalam Joy’s Bakery. Ditemani roti hangat dan hot chocolate membuat suasana semakin terasa nyaman.

 

“Memangnya ajhumma tidak tahu apartement tempat Kyuhyun tinggal?”

 

“Dulu ajhumma tahu, tapi ternyata Kyuhyun pindah dan lagi-lagi tidak memberitahu ajhumma.” Lirih Cho Ajhumma.

 

“Ck, benar-benar anak itu!” Sungmin geram. Sungmin tahu Kyuhyun memang mempunyai ‘sesuatu’ dengan eommanya, tapi Sungmin tidak menyangka sampai sejauh ini.

 

“Sungmin-ah, ajhumma merasa Kyuhyun menjaga jarak dengan ajhumma. Dia jarang sekali datang menengok kerumah, dan hanya rutin mengirimi cake buatannya. Memang ajhumma suka, tapi tetap saja eomma rindu pada patissier tampan itu.”

 

Sungmin tersenyum sedih. Sepertinya Sungmin bingung yang mana yang harus disalahkan. Kyuhyun atau eomma-nya? “Ehm, ajhumma, sebenarnya ada yang ingin saya bicarakan tentang sifat Kyuhyun.”

 

“Apa? Bicara saja Chagi.” Walaupun baru beberapa menit bertemu dan mengobrol bersama, mereka berdua terlihat sangat akrab. Sifat hangat ajhumma Lee sangat cocok dengan sifat baik Sungmin.

 

Sungmin mencoba meyakinkan dirinya. Menghela nafas berat, dan akhirnya iapun membuka mulutnya. Menceritakan semua curahan hati Kyuhyun secara detail kepada Cho Ajhumma.

 

.

 

.

 

“Benarkah begitu ceritanya, Sungmin-ah?” Sungmin mendekat lalu mendekap tubuh ringkih Cho Ajhumma. Ya mau bagaimana lagi, Sungmin menceritakan semuanya juga demi kebaikan Kyuhyun beserta eomma-nya.

 

“Kyuhyun-ah, Mianhae~ Tolong maafkan eomma. Hiks,” Sungmin mengelus punggung Cho Ajhumma, menenangkan yeoja paruh baya tersebut.

 

Tring

 

Sungmin mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara pintu depan terbuka. Ia pun dengan perlahan melepas pelukannya, “Saya tinggal sebentar, ajhumma.” Cho Ajhumma mengangguk seraya sibuk membersihkan air matanya. Sungmin berjalan kearah depan, memeriksa siapa yang datang.

 

“HAPPY BIRTHDAY!”

 

Sungmin terlonjak kecil ketika melihat rombongan appa, eomma, dan para pegawai Joy’s Bakery tengah berseru dengan keras kearahnya. Seperti anak kecil, Sungmin berlari kearah kedua orang tuanya lalu memeluknya erat. “Hei, captain sudah! Kau tak malu pada teman-temanmu?” Sungmin segera melepaskan pelukannya. Dan tersenyum kearah Ryeowook, Hyukjae, Donghae dan oh! Entah kenapa jantung Sungmin serasa berpacu ketika pandangan matanya bertemu dengan Cho Kyuhyun. Ukh!

 

“Eomma dan Appa tadi ke apartementmu, tapi ternyata kau tak ada. Jadi kami menebak kau datang ke Joy’s Bakery, ternyata benar.” Ucap Eomma Lee. “Dan kebetulan sekali kami bertemu dengan mereka berempat didepan. Jadi acara suprise ini sedikit lebih ramai.” Timpal Appa Lee.

 

“Saengilchukhae, Hyung.” Kini bergantian Ryeowook, Hyukjae dan Donghae berpelukan memberi selamat kepada Sungmin. Kyuhyun juga, namun sangat singkat dan tak sehangat teman-teman yang lain.

 

“Ayo masuk.” Sungmin mengajak semuanya kedalam, supaya lebih nyaman.

 

“Eomma,” Dan Sungmin tersentak ketika mendengar suara lirih Kyuhyun. Oh, bahkan Sungmin melupakan jika ada Cho Ajhumma didalam. Dan mata Sungmin membulat ketika melihat Cho Ajhumma menghampiri Kyuhyun lalu memeluknya erat, menangis terisak didalam dekapan sang anak tercinta. “Maafkan eomma, Kyu. Maafkan eomma jika selama eomma selalu memaksamu. Hiks,” Kyuhyun menatap Sungmin yang berada disampingnya, seolah memastikan sesuatu. Dan desahan kecil ia keluarkan ketika melihat Sungmin mengangguk kecil lalu menunduk. Eunhaewook, Eomma Lee dan Appa Lee hanya bisa memasang wajah tak mengerti.

 

Tangan Kyuhyun terangkat untuk mengelus punggung sang eomma. “Maafkan Kyuhyun juga eomma, maafkan kelakuanku yang selalu menyakiti eomma.” Tak terasa setitik air mata menetes dari mata Kyuhyun. Terenyuh juga mendengar dan merasakan sang eomma menangis didalam pelukannya.

 

“Eomma berjanji akan mengikuti semua keinginanmu mulai saat ini, bahkan jika kau ingin berhenti menjadi patissier pun eomma akan menyetujuinya.”

 

Senyuman Kyuhyun tercipta. Dan Sungmin yang melihatnya jelas menjadi was-was. Apa Kyuhyun akan melepaskan jabatannya sebagai seorang patissier? Entah kenapa Sungmin seperti tak rela.

 

“Jinjja?” Dan senyuman Kyuhyun semakin mengembang ketika melihat sang eomma mengangguk antusias. Namja Cho itu perlahan melepaskan pelukannya, membalikan badannya. Membungkuk kearah Appa dan Eomma Lee yang tengah tersenyum kearahnya. Lalu memberi seperti kode kepada Eunhaewook yang langsung mengangguk mengerti. “Eomma tunggu disini, ada yang ingin Kyu tunjukan.” Dan diakhiri dengan kecupan manis dipipi sang eomma, Kyuhyun pun beranjak bersama Eunhaewook kearah dapur. Meninggalkan 4 orang termasuk Sungmin yang tengah mengerutkan dahi bingung.

 

*

 

“Semuanya sudah siap, Kyu!”

 

Namja Cho yang sedari tadi mengatur nafasnya seraya terpejam pun membuka matanya. Matanya menatap Donghae, Hyukjae dan Ryeowook yang tengah tersenyum kearahnya. Sebuah senyuman disertai seringai tercipta dibibir Kyuhyun. “Inilah waktunya.”

 

 

♥~♥~♥

 

Mata kelinci Sungmin berpendar kesana kemari. Sedikit khawatir ketika tak melihat Kyuhyun, Donghae, Hyukjae dan Ryeowook muncul. Sebenarnya apa yang tengah dilakukan mereka?

 

“Sampai saat ini aku tak menyangka jika Kyuhyun adalah putramu.” Pandangan Sungmin beralih kearah Cho Ajhumma yang tengah mengobrol hangat bersama kedua orangtuanya. Dan satu fakta ditemukan, bahwa ternyata Cho ajhumma adalah teman semasa SMP Eomma dan Appa Lee. Beginilah akibatnya karna Kyuhyun tak pernah mengenalkan orang tuanya kepada eomma dan appa Lee, semuanya jadi tidak terkuak.

 

“Maaf menunggu lama.” Dan suara bass Kyuhyun membuat semua pandangan tertuju kearah pintu dapur. Dahi Sungmin berkerut ketika melihat Hyukjae dan Donghae tengah mendorong trolly yang diatasnya diberi tutup. Apa itu?

 

“Saengilchukkhae hamnida,” Oh, suara bass Kyuhyun ternyata sangat indah dan enak untuk didengar. Tak salah Kyuhyun mempunyai impian untuk menjadi pemusik. Ucap Sungmin takjub. “Saengilchukkhae hamnida.” Kyuhyun berjalan kearah Sungmin dan para tetua. “Uri sarang Lee Sungmin,” Kyuhyun berhenti tepat dihadapan Sungmin. “Saengilchukkhae hamnida~” Dan lagu ditutup oleh senyuman tampan Cho Kyuhyun. Membuat Sungmin ikut tersenyum melihatnya. Para tetua berserta Donghae, Hyukjae dan Ryeowook bertepuk tangan riuh. Semntara Kyuhyun dan Sungmin tengah saling menatap seraya tersenyum manis. Ukh!

 

“Dan, hanya ini yang bisa kuberikan untukmu.” Kyuhyun berbalik lalu membuka tutup yang berada diatas trolly, menampakkan sebuah cake berpenampilan manis yang membuat Sungmin membulatkan matanya takjub.

.

 

.

 

“Biru berarti tenang, kasih sayang, kepercayaan. Dan warna tersebut aku gunakan sebagai alas.”

 

“Merah muda berarti simbol kasih sayang dan cinta, pengobatan emosi, perasaan yang manis dan indah. Aku membuat warna merah muda hampir  mendominasi cake ini.”

 

“Sedangkan putih yang aku letakkan ditengah-tengah sebagai pusat mempunyai arti kedamaian, permohonan maaf, ketulusan, persatuan, dan kesucian.”

 

“Dan merah yang aku gunakan sebagai warna pendukung walaupun sedikit memliki arti, keberanian, pencapaian tujuan, perjuangan, perhatian.”

 

Cho ajhumma, eomma dan appa Lee, Haehyuk serta Ryeowook hanya bisa menganga tak percaya ketika Kyuhyun mempresentasikan cake yang ada dihadapan mereka dengan begitu lancar. Wow, satu lagi hal yang menakjubkan dari seorang Cho Kyuhyun.

 

“Dan kau pasti mengerti maksud keseluruhan cake yang kubuat ini.” Ucap Kyuhyun kepada Sungmin yang tengah menatap dengan tatapan kosong kearahnya.

 

“Cinta.” Semuanya memandang Sungmin yang baru saja menggumamkan sesuatu. “Ya, cake itu menggambarkan perasaan cinta.” Ucap Sungmin yakin lalu menatap kearah Kyuhyun yang tengah tersenyum simpul.

 

“Dan ini aku buat untukmu. Hanya untukmu,” Semuanya tercengang. Ayolah, mereka tidak sebodoh itu. Tentu saja mereka mengerti apa maksud dari semua rentetan kejadian ini. Kyuhyun tampak berjalan kearah sang eomma yang tengah menatapnya dengan pandangat tak percaya. “Eomma, apa eomma mengijinkanku untuk mengikat sebuah perasaan cinta kepada Lee Sungmin?” Suara lembut Kyuhyun seolah menyadarkan Cho Ajhumma bahwa ia telah berjanji bahwa mulai saat ini ia akan mendukung semua kemauan Kyuhyun. Meskipun ragu menyelimuti, namun akhirnya Cho ajhumma mengangguk. Ia mengerti Cinta itu seperti apa. Sangat mengerti, “Aku mengijinkanmu, Cho.” Dan Kyuhyun refleks memeluk eomma-nya seraya menggumamkan semua kata-kata terimakasih. Kalian bertanya bagaimana Sungmin? Namja itu tersenyum melihat Kyuhyun yang sangat bahagia dalam pelukan sang eomma, tak sadar air mata mengalir deras dari mata foxy-nya.

 

Kyuhyun melepas pelukannya perlahan. Menghadapkan badannya kearah eomma dan appa Lee yang tengah menatapnya dengan, entahlah Kyuhyun pun tak mengerti. “Lee Ajhumma dan Ajhusshi, aku tahu ini mungkin akan mengecewakan kalian. Tapi bolehkah aku bertanya, apakah aku boleh mengikat Sungmin dengan perasaan Cinta?” Eomma Lee sedari tadi menangis terharu melihat kelakuan Kyuhyun. Namja tampan itu benar-benar romantis dan sangat menampakkan perhatian yang berlebihannya kepada Sungmin. Tanpa sadar kepalanya mengangguk, membuat Kyuhyun tersenyum simpul. Kini Kyuhyun menatap kearah appa Lee yang juga tengah menatapnya seolah meminta jawaban.

 

“Tapi ini tak lazim, kalian sama-sama lelaki.”

 

“Aku berjanji cintaku tulus dan tak main-main.”

 

“Aku berharap Sungmin akan menjadi ayah yang baik dan akan menghasilkan keturunan penerus keluarga Lee.”

 

“Aku berjanji akan membahagiakannya,”

 

“Aku-aku ingin Sungmin menjadi lelaki normal,”

 

“Aku berjanji akan selalu ada kapanpun ketika dia membutuhkanku.”

 

“Aku-aku belum siap melihat Sungmin dihujat oleh semua orang,”

 

“Aku berjanji akan melindunginya segenap jiwaku, walaupun aku akan mati, aku rela melakukannya.”

 

Hening. Setelah perkataan terakhir Kyuhyun semuanya menjadi hening. Hanya suara isakkan lirih antara Cho ajhumma dan Eomma Lee yang tengah berpelukan. Hyukjae yang tengah menangis dibahu Donghae, sedangkan Ryeowook hanya bisa sesegukan seorang diri seraya meremas kuat pakaiannya. Dia terlalu terbawa suasana.

 

Kyuhyun memang was-was, ia takut semuanya berakhir tidak seperti harapannya. Tubuhnya semakin merendah, hampir bersujud dihadapan appa Lee sebelum sebuah tangan menghentikan gerakannya. Kyuhyun menatap kesamping, matanya berbinar tak percaya ketika Sungmin ikut duduk disampingnya seraya tersenyum sangat manis. Dan nafas Kyuhyun serasa tercekat ketika merasakan sebuah tangan halus menggenggam tangannya yang dingin. Sangat erat.

 

“Appa. Sebelumnya aku minta maaf, maaf sekali. Tapi tolong, beri kami ijin appa. Aku hanya meminta itu, kumohon.”

 

Dan Kyuhyun tercengang ketika melihat Sungmin bersujud seraya menggenggam erat tangannya. Sungmin mengucapkan itu semua seraya menangis namun juga tersenyum. Oh, seperti mimpi indah ketika tahu bahwa Sungmin juga, mencitainya. Sangat mencintainya. Iapun ikut bersujud bersama Sungmin. Dan tanpa ada yang tahu, kedua namja itu saling melempar senyum ketika pandangan mereka bertemu.

 

Appa Lee tersentuh. Tak pernah ia melihat Sungmin berekspresi seperti ini. Menangis hebat seraya tersenyum, sampai membuat dirinya bersujud. Itu adalah pemandangan yang tak pernah disangka oleh namja paruh baya tersebut. Ia tahu perasaan cinta kedua namja itu sangat tulus, tapi..

 

“Bangkitlah,” Appa Lee menepuk-nepuk punggung Kyuhyun dan Sungmin. “Perasaan tulus kalian membuat appa mengijinkan semua ini..”

 

Kyuhyun dan Sungmin menganga tak percaya. Semua orang mengghembuskan nafas lega. Kyumin segera bangkit dan memeluk appa Lee dengan erat seraya mengucapkan beribu-ribu terimakasih. Membuat appa Lee tersenyum.

 

Kyuhyun dan Sungmin melepas pelukannya perlahan, lalu saling memandang. Tersenyum manis lalu membawa tubuh masing-masih kedalam pelukan hangat penuh cinta. Kyuhyun meregangkan pelukannya, “Saranghae Lee Sungmin, Jeongmal saranghae..” Sungmin terkekeh kecil, ia menoyor pelan dada bidang Kyuhyun. “Nado saranghae Cho babo..”

 

Semua orang disana tersenyum tulus ketika melihat Kyuhyun dan saling memagut bibir mesra. Bahkan mereka tak malu berciuman panas didepan orang banyak seperti ini. Ck, benar-benar. Sepatah dua patah doa terucap dari bibir masing-masing ketika melihat tulusnya cinta Kyuhyun dan Sungmin. Berharap selamanya mereka akan bahagia, dan kisah cinta mereka akan selalu manis, berwarna-warni, dan unik seperti semua cake buatan patissier Cho. Perfecto!

 

‘Mencintaimu adalah disaat aku merasa nyaman bersedih denganmu.’

 

-‘Mencintaimu adalah disaat aku bisa berhasil membuatmu tersenyum kembali. Karna itu adalah sebuah ketulusan,’

 

‘Mencintaimu adalah disaat aku merasa tenang dan tidak pernah takut, karna bersamamu aku seolah berani melawan takdir yang bahkan tuhan yang berkuasa.’

 

-‘Mencintaimu adalah disaat semua perjuanganmu membuatku tersenyum, seolah semua yang ada didunia ini tidak ada yang bisa membuatku terpaku seperti aku ketika berada didepanmu.’

 

‘Mencintaimu adalah ketika aku menyadari perasaan yang aku tidak tahu apa, yang membuat aku selalu mengingat dan tidak mau berpisah denganmu.’

 

-‘Mencintaimu adalah disaat perasaan itu memainkan hatiku, menggelitik seolah menyuruhku untuk selalu bersamamu. Tidak ada yang lain.’

 

“Terimakasih Lee Sungmin..”

 

“Terimakasih juga Cho Kyuhyun..”

 

Selamat menikmati hari baru di tahun baru untuk cinta kalian~ Tuhan selalu memberkati.

 

 

-FIN-

 

 

Maaf kepanjangan, maaf juga jika readers malah jadi bosen, maaf juga ceritanya malah tambah aneh, Jeongmal Mianhaee~ #DeepBow

Ini noedit, jadi maaf jika banyak typo.

Thanks bagi yang masih menunggu FF ini dan udah mau RCL, Jeongmal Gamsahamnida ☺ FF ini bukan apa-apa tanpa kalian. Sekali lagi Gamsahamnida dan Mianhae~ Love!! ☺

 

 

 

19 thoughts on “(Lomba FF) C.A.K.E 2 | 2shoot | Yaoi

  1. whoaa keren banget ff nya…
    daebak
    author yg nulis jago bikin kue yaa ??
    terimakasih ada sedikit pengetahuan tentang warna 🙂
    keep writing daebak

    • Eh sangat makasih yah🙂
      Haha enggak kok, cuma dulu pernah sekali-kalinya bikin donat wks😀
      Arti warna di gugel banyak, hehe
      Sekali lagi makasih yah~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s