Chicken Soup Side Story |||HanChul|| Part 1

oOOo CHICKEN SOUP FOR OUR FAMILLY oOOo

Author : rainy hearT

Length : Series

Rated : M

Cast :

– Cho Kyuhyun

– Lee Sungmin a.k.a Cho Sungmin

– Kim Heechul a.k.a Cho Heechul

– Tan Hangeng a.k.a Cho Hangeng

– OC (The baby’s)

– Other SUJU and DBSK member.

Pairing : KYUMIN || HANCHUL|| and other pair

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan dan diri mereka sendiri. Tapi, Sungmin selalu dan akan selalu menjadi milikku#plak#ngarep#Sungmin juga milik Kyuppa#

Genre : Romance / Drama/Humor (dikit)

Warning : Boy x Boy / BL / YAOI, gaje, TYPO (S), EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, GS.

Summarry : “Hidup ini terdiri dari berbagai rasa dan warna. Manis, asin, terkadang juga asam. Warna merah, putih ataupun kuning, semua warna bercampur menjadi satu. Tersaji dalam sebuah mangkuk kehidupan yang akan terus berjalan dan berakhir pada kebahagiaan. Chicken Soup, satu mangkuk penuh warna, penuh rasa.”

Maafkan author yang Moody ini. Tapi Chicken Soup tetep end di ch. 7

Ini hanya side storynya kehidupan mereka dan akan selalu berganti tiap dua ch.

Be Patient with Me please

.

No Copas No Bash No Flame No Like No Comment No Review

No Money No Honey No Cry No-ngkrong aja dah… .

.

.

HAPPY READING

oooCHICKEN SOUP FOR OUR FAMILLYooo

SIDE STORY 1

CHO HANGENG X CHO HEECHUL


KYUMIN X HANCHUL HOUSE

.

.

“Umma!!!”

Sungmin berteriak memanggil sang Umma yang pada kenyataannya entah pergi kemana yeoja itu. Sungmin sudah berputar ke sekeliling rumah, dan bahkan sudah menyuruh semua pelayannya untuk mencari yeoja cantik itu.

Dan andainya Sungmin tahu, jika yeoja itu kini bukan bersembunyi hanya saja sedikit menghindari seluruh orang di rumahnya sendiri. Ia berada di salah satu paviliun kecil yang berada cukup jauh di belakang rumah mereka.

Menatap lemas pada perkebunan bunga mawar dan juga rumput hijau yang membentang luas. Taman yang baru selesai dibuat beberapa bulan yang lalu. Dan karena paviliun itu baru, maka tak akan ada yang berfikiran jika nyonya besar mereka malah tengah menikmati kesendiriannya disana.

Ditambah lagi dengan belum selesainya pembangunan paviliun itu karena memang para pekerja sengaja meminta libur selama satu minggu. Dan dengan berat hati, Heechul mengijinkannya. Meski ia sudah tak sabar melihat betapa indahnya taman yang ia siapkan sebagai taman bermain kedua cucu kesayangannya itu.

Dan suasana hati Heechul memang sedang buruk saat ini. Ditinggal ke luar negeri itu sudah biasa. Tapi tidak untuk kali ini. Heechul kembali mengingat waktu terakhir kali ia berkunjung ke kantor suaminya.

.

Flashback On

.

Cho Heechul POV

.

Entahlah, tapi hari ini aku sedang senang. Memasak dan membawa hasil masakanku ke kantor suamiku. Setelah promo besar-besaran, kukira dia pasti akan sangat sibuk dan tak sempat pergi ke restoran meski untuk makan siangnya. Selalu pulang larut dan juga berangkat lebih awal, atau malah seringkali ia lembur diruang kerjanya saat aku sudah tidur.

Aku tahu, ia sedang berusaha keras. Kyuhyun memang banyak membantunya, tapi ia sedang ingin mengembangkan usaha kami.

Aku berjalan dengan yakin dan sejuta senyuman diwajah cantikku. Melewati beberapa pelayan dan juga staff bawahan suamiku, hingga akhirnya aku sampai didepan pintu ruangannya.

“Hannie, aku…”

Bekal yang kubawa, jatuh bersama dengan hancurnya semua harapanku. Dan aku hanya bisa menahan semuanya, menyimpannya dan terus berjalan cepat dan seakan semua baik-baik saja. Hingga aku menemukan lift dan langsung menekan tombol ke basement untuk mengambil mobilku. Saat ini aku butuh sendiri.

.

.

Aku tak menangis pada akhirnya, meski sangat ingin aku menangis. Aku ingin percaya jika ia mencintaiku, meski aku tahu ia begitu mencintaiku. Tapi apa yang ia lakukan….

Aku melepaskan baterai ponselku dan melemparnya kedalam mobilku. Suara panggilan di ponsel bodoh itu semakin mengganggu hatiku. Lebih baih aku mematikannya dan menenangkan diriku sendiri.

Aku berdiri dengan tenang. Yah…setidaknya aku bisa tenang disini. Sedikit banyak bisa mengurangi perasaan kalut dan hancurnya hatiku. Ini pengkhianatan terbesar yang pernah dilakukan seorang Cho Hangeng yang bodoh itu. Apakah aku sudah tua atau karena dia memang sudah bosan? Atau aku sudah tak cantik lagi hingga…

“Hiksss… hiksss….”

Dan aku tak bisa membendungnya lagi. Rasanya begitu sakit saat setelah begitu banyak hal terlewati selama bertahun ini dan dalam sekejap dengan mudah ia menghancurkannya. Aku…

.

.

Aku melangkah lemas masuk ke dalam rumah. Tak kutemukan sosoknya di ruang tamu. Atau setidaknya jika ia masih mencintaiku, seharusnya dia ada untuk menungguku pulang. Dan saat aku melangkah menuju kamar kami, kulihat dia sedang sibuk membereskan pakaiannya.

Sudah kuduga, dia akan pergi keluar negeri lagi. Dan aku sama sekali tak berniat untuk membantunya atau menemuinya. Aku hanya membuka pintunya, dan melihatnya sekilas untuk kemudian aku kembali berjalan menuju kamar tamu di lantai bawah.

Dan tangan dingin itu menahanku. Rasanya dadaku seakan runtuh, dan ini sangat sakit. Aku memejamkan mataku dan meremas kuat dadaku. Sungguh aku tak ingin mendengarnya berbicara apapun sekarang.

.

Greepp…

.

Pelukan yang dulu hangat, kini terasa begitu dingin dan menyiksaku. Aku berusaha melepaskan kedua lengannya yang melingkar di leher dan pingganggku. Tapi sayang, semuanya seakan sia-sia dan yang ada ia malah  semakin mengeratkan pelukannya.

“Dengarkan aku dulu yeobo.”

Dan aku tak ingin mendengar apapun. Aku menutup kedua telingaku dan menggeleng pelan. Tapi dia malah menahan satu tanganku dan berbisik lirih ditelingaku. Satu tangannya yang lain menggenggam kuat tanganku.

“Percayalah, yang kau lihat itu bukan yang sebenarnya. Dia hanya partner kerjaku dan saat itu aku hanya membantunya. Dan jika kau menganggap aku menciumnya, sebenarnya yang terjad bukanlah seperti itu. Dia hanya kelilipan dan aku meniup matanya. Sungguh…”

.

.

Dan setelah itu aku mencoba percaya. Malam itu, tidurku sungguh tak tenang. Hingga saat pagi datang, ia sudah tak ada disisiku lagi. Aku segera menelfon sekertaris perusahaan dan menanyakan jadwalnya.

“Kemana sajangnim pergi hari ini?”

“Ke Jepang, nyonya Cho.”

“Apakah dia sendirian?”

“Ahni, dia akan bersama satu staff dari bagian pemasaran dan juga dengan Noona Park.”

“Siapa dia?”

“Partner kerja Cho Sajangnim, dan mungkin saja anda bertemu dengannya kemarin.”

“Apakah dia yang berada diruangan sajangnim saat jam makan siang?”

“Nde Nyonya.”

.

.

Seakan semuanya kembali runtuh dan kali ini terasa lebih sakit. Aku sudah ditipu mentah-mentah oleh suamiku sendiri.

.

Cho Heechul POV end

Flashback Off

.

.

Kyuhyun dan Sungmin, tengah duduk di balkon kamar mereka. Mencoba saling menghibur dan membantu menghilangkan kepenatan satu sama lain. Dimana Kyuhyun pusing memikirkan pekerjaan dan juga orang tuanya. Sedangkan Sungmin, sama gelisahnya dengan Kyuhyun.Hanya saja pikirannya lebih bercabang lagi.

Umma-ku hamil, Kyu.”

“Lalu kenapa?” Kyuhyun tersenyum kecil dan mencium pucuk kepala Sungmin yang memang tiduran dipangkuannya. “Kau mau juga?”

Sungmin mendelik, mendengar pertanyaan Kyuhyun. Masih jelas dalam ingatannya betapa ia takut dan gelisah saat menanti kelahiran kedua aegyanya. Bukan main sakit dan takutnya ia, terlebih karena kondisi Minhyun yang sangat lemah saat itu.

Arra. Mianhe chagi, berhentilah melihatku seperti itu.” Kyuhyun mengacak pelan rambut Sungmin. Sedikit mengangkat tubuhnya dan memeluknya erat. “Saranghae.”

Nde, nado saranghaeyo.”

Nafas Sungmin berhembus pelan di tubuh Kyuhyun. Membuat namja itu sedikit merinding geli, terlebih saat Sungmin seakan sengaja menggesek-gesekkan kepalanya dengan dada Kyuhyun.

Dan Kyuhyun, ia hanya memakai piyama sutera dan tanpa kaos dalam apapun. Hanya underwear. Dan tindakan Sungmin berhasil membangunkan little Cho yang selama beberapa hari ini tidur nyenyak.

“Kau sengaja menggodaku eoh?”

“Mwo?”

Sungmin menyudahi kegiatan bermanja-manjanya. Mata cantiknya menatap Kyuhyun lembut, sedikit tersenyum, kemudian meraih pipi namja itu dan mencium bibirnya sekilas.

“Heum, aku mengantuk.”

Dengan seenaknya, Sungmin beranjak dari pangkuan Kyuhyun dan melangkah masuk kedalam kamar mereka. Melihat sekilas pada dua bed kecil disisi bed besar mereka. Mencium kening dua aegya-nya dan kemudian menggulung tubuhnya dengan selimut hangatnya.

Dan Kyuhyun, hanya bisa melongo melihat tidakan Sunggmin, ia sungguh tak habis pikir. Seorang Cho Sungmin, entah di terlalu polos atau memang sengaja menggodanya.

Kyuhyun menatap lemas pada bagian bawahnya, benda menegang itu sungguh pantas dikasihani. Ia mengusapnya sekilas dan menggeleng pelan. “Tidurlah, sepertinya partnermu sedang tak menginginkanmu.” Terssenyum miris, untuk kemudian  menyusul Sungmin dan menikmati tidur malamnya.

.

.

Setelah mengantar twins ke sekolahnya, Sungmin langsung menuju kantor Kyuhyun. Ia berencana untuk sekedar membantu Kyuhyun sebisanya. Tentu saja setelah memastikan Heechul tidur nyenyak di rumahnya. Tekanan darah nyonya besar itu langsung turun, dan ia selalu saja menggumamkan hal yang tidak-tidak.

“Bagaimana Umma?”

“Dia baik, dan kurasa hanya butuh istirahat. Beberapa tablet vitamin akan membantunya.”

Sungmin membawakan satu gelas cappucino dan meletakkannya di meja tamu yang terdapat di dalam ruangan Kyuhyun. Berdiri di tepi jendela dan menatap luas hamparan kota Seoul dari ketinggian gedung supermarketnya.

“Jangan melamun, kau kesini untuk membantuku kan?”

“Heum…” Sungmin mengangguk sekilas dan mulai melihat pekerjaan Kyuhyun hanya memeriksa laporan keuangan bulanan dan juga laporan gaji karyawan. Dan sebelum makan siang, semua pekerjaan Kyuhyun sudah selesai. Ia dan Sungmin segera keluar dari gedung dan langsung menuju ke rumah mereka.

Sisa pekerjaan akan diselesaikan oleh bawahan Kyuhyun. Hal yang lebih penting, sudah menunggu mereka di rumah. Heechul menelfon mereka dan meminta mereka untuk pulang secepatnya, karena memang akan ada yang datang berkunjung. Sungmin begitu bersemangat, tapi tidak dengan Kyuhyun. Dan Heechul, tentu saja langsung sedikit sehat meski bisa dibilang masih lemah.

Annyeong ahjumma…!!!”

Dan senyum Kyuhyun mungkin akan benar-benar hilang sekarang. Ia menatap miris pada namja yang tengah seenaknya memeluk Sungmin. “Ish, jangan lama-lama memeluknya.”

Kyuhyun menarik Sungmin dari pelukan namja itu, membuat Sungmin dan yang lainnya hanya menggeleng heran melihat tingkah Kyuhyun. Sungmin hanya tersenyum, kemudian mengusap pipi pucat Kyuhyun dan menciumnya sekilas.

“Kyunie, dia ‘kan sepupumu. Kenapa harus seperti itu? Cemburu eoh?”

“Molla. Sudahlah.”

Dan perhatian tertuju pada anak kecil yang baru berusia  4 tahun itu. Seakan sifat kekanakkannya semakin menjadi, namja kecil itu menarik-narik celana panjang Kyuhyun.

Ppoo…”

Suara kecil dari bibir mungil dengan gigi yang belum genap itu terdengar sangat lucu dan menggemaskan ditelinga Sungmin. “Ommo, Henry-ah. Zhoury lucu sekali.”

Sungmin mengangkat tubuh mungil itu dan memeluknya erat. Kemudian Henry mendekatinya dan mengusap kepala Zhoury yang masih ada dipelukan Sungmin. Pemandangan yang indah bukan? Seperti satu keluarga bahagia.

Setidaknya, itulah yang dilihat Kyuhyun. Appa yang masih terlalu kekanakkan ini, seperti aegya yang ditinggal pergi Umma-nya. Bukannya membujuk atau sekedar memisahkan Sungmin dengan Zhoury, Kyuhyun malah pergi dari ruang tamu itu. Melangkah kasar dengan langkah lebarnya, menuju ke kamarnya sendiri. Menutup pintunya rapat-rapat.

“Kurasa, kau punya big baby untuk diurus, Hyung.” Henry meraih Zhoury dari gendongan Sungmin.

“Nde, kurasakau benar.” Sungmin menoleh pada Zhoumi dan Heechul. Mengusap punggung Heechul dan memeluknya. “Umma, aku tinggal sebentar. Kau pasti akan menyukai Zhoury, dia sangat menggemaskan, Umma.”

Nde Minnie, tenanglah. Umma akan baik-baik saja. Kurasa Kyuhyunie lebih membutuhkanmu.”

Heechul berusaha tersenyum, meski sesungguhnya ia masih terus mengingat semua tekanan dan juga kenangan buruknya. “Ayo Zhoury, main dengan Halmeonni.”

.

.

KYUMIN SIDE

.

.

“Kyu…”

Sungmin membuka pelan pintunya. Ia masuk ke dalam ruangan itu dan menguncinya. Ia tahu benar, Kuhyun yang cemburu seperti ini akan sangat susah diajak kompromi. Dan benar saja, namja tampan itu sudah menggulung tubuhnya yang masih berpakaian sangat lengkap dengan selimut hangatnya di siang hari yang bisa dibilang cukup panas itu.

“Hei…”

Sungmin menepuk pelan tubuh Kyuhyun dan mencoba menyingkap selimutnya. Terlihatlah, namja tampan dengan wajah murungnya. Jas dan juga sepatu masih menempel di tubuhnya. Rambut acak-acakan dan juga wajah yang benar-benar murung membuatnya terlihat sangat buruk.

Sungmin segera melepaskan sepatu dan juga kaus kaki Kyuhyun. Membuka kaitan kancing jasnya satu per satu kemudian melepaskannya, dan membuang dasi yang sempat melilit leher Kyuhyun. Kemudin ia melangkah menuju lemarinya dan mengambil satu kaos santai dengan kerah yang cukup lebar. Ia melepaskan kemeja Kyuhyun dan memakaikan kaosnya.

“Such a cute little Baby Kyunie…”

Dan Kyuhyun hanya tersenyum sekilas. “Sudahlah, aku masih kesal.” Kemudian namja itu kembali membaringkan tubuhnya dan menutup wajahnya dengan selimut tebalnya. Dan sungmin, kembali berusaha menyingkap selimut itu setelah sebelumnya ia mengganti pakaiannya dengan celana pendek dan juga kaos yang sedikit longgar.

“Mau ikut aku?”

“Oddiega?”

“Menjemput anak-anak. Sebentar lagi kelas mereka selesai. Mungkin mengajak semua baby ke rumah akan sedikit membuat Umma senang. Bukankah mereka sangat lucu?” Kemudian Sungmin mencubit pipi Kyuhyun yang kini sedikit berisi itu.  “Seperti Kyu Appa, kau bayi besar yang sangat menggemaskan. Ayolah, jangan seperti ini.”

Kyuhyun mem-pout-kan bibirnya sekilas dan melirik pada Sungmin. “Kau menyebalkan, kau tahu?”

Sungmin hanya tersenyum dan mengangguk sekilas. Kemudian memeluk Kyuhyun dan mengusap punggungnya. “Bisakah kau berhenti memperlakukan aku seperti anak kecil? ”

.

Chu~

.

Sebuah ciuman singkat mendaratdi bibir tebal Kyuhyun, kemudian Sungmin mencium telinga Kyuhyun dan berbisik lirih ditelinganya. “Tapi kau suka sekali bertingkah seperti anak kecil.” Kemudian mencium telinganya.

Sungmin meraih lengan Kyuhyun dan menariknya untuk beranjak dari kasur nyamannya. “Kajja! Rumah akan ramai setelah ini, jadi jangan berwajah seperti itu didepan anak-anak. Mereka akan ketakutan melihatmu.”

“Minnie!”

Dan Sungmin hanya menanggapi Kyuhyun dengan senyuman dibibirnya. Kyuhyun, sama sekali tak bisa melakukan apapun jika Sungmin selalu saja seperti itu. “Kau tahu, aku tak suka saat kau terlalu dekat dengan Henry. Kau terlalu…” Kyuhyun mengacak gemas rambutnya sendiri. “Kau itu… ish… pokoknya aku kesal.”

Dan Sungmin dengan sabar merapikan kembali rambut Kyuhyun. Sedikit berjinjit, kemudian mencium dahinya. “You know I love you.”

“Tapi Minnie…”

“Hentikan bersikap seperti itu Kyu, kau sudah dewasa. Dan lagi, mereka akan menginap. Mungkin yang lainnya juga akan menginap, jadi bersikaplah seperti Kyu appa yang baik. Jebal…”

Kyuhyun menghela nafasnya, dan menyeringai kecil. Menarik Sungmin dalam pelukannya dan menjilat kecil lehernya. “Tapi dengan syarat.”

“Ish….” Sungmin mencubit kecil pinggang Kyuhun, membuat ia sedikit meringis namun sama sekali tak menghilangkan seringaian tipis yang terukir jelas diwajahnya. “Pervy daddy… really such a pervy daddy.”

.

.

.

.

.

Rumah Keluarga Cho

.

.

“Kie pelgi!”

“Eih…?”

Namja kecil itu menatap horor pada yeoja mungil yang semakin duduk merapat dan memeluk namja yang lebih kecil darinya itu. Yeoja kecil itu, Cho Minhyun. Ia menatap tajam pada Kim Jongki, sembari memeluk erat mainannya dan juga Zhoury.

“Iya! Pelgi!” Minhyun kembali berteriak keras sambil mendorong pelan tubuh Jongki.

“Alaso!” Jongki  sama keras kepalanya dengan Minhyun. Dan ia mendelik, dan juga berteriak bahkan lebih keras dari Minhyun dan ia juga menatap tajam pada Minhyun.

Kedua anak kecil itu saling menatap tajam hingga Jongki yang masih saja memutar tubuhnya dan menatap Minhyun yang berada di belakangnya, terus saja berjalan dan akhirnya menabrak Junior.

“Aww…”

Junior mengaduh saat mereka berdua jatuh bersama.

“Ah, mianhe.”

“Wae Kie hyung?” Junior bertanya dengan wajah polosnya. Ia memang sedari tadi sibuk bermain dengan Sunghyun dan tidak begitu mempedulikan pertengkaran kecil kedua adiknya itu.

“Min jahat.”

Jongki mengadu pada Sunghyun. Memang Sunghyun langsung menghentikan acara menyusun lego-nya saat ia mendengar pertengkaran itu. Ia hanya sibuk melihat tanpa ada niat sedikitpun melerai dua anak kecil itu. Hingga akhirnya dan memang selalu saja, Minhyun yang menang.

Ahni,  Kie jahat. Bukan Min!”

Minhyun menatap pada Sunghyun sembari jari telunjuknya menunjuk ke arah Jongki. Sedangkan Jongkie menatap Minhyun dan menunjuk ke arahnya.

“Min lupa cama Kie, Min cukanya main cama Lie. Kie ga cuka tau?”

Dan Minhyun tak kalah sengitnya, ia berteriak di depan Jongki tanpa mempedulikan wajah sepolos Zhoury yang hanya diam melihat pertengkaran kecil itu.

“Kie yang lupa cama Min. Maca Kie main cama Tetem telus tadi di cekolah. Min kan cendilian. Kie jahat!”

“Ish, Min juga jahat. Maca mainnya cama Lie telus. Lie kan macih kecil! Kie lebih cakep. Kelen lagih!”

“Hahahahhahaaa….” Minhyun tertawa keras dan berjalan mendekati Jongki. ”Maca kelen? Mana yang kelen, Kie? Lie lebih kelen. Wleee….” Minhyun menjulurkan lidahnya dan menyeret Zhoury untuk ikut berjalan dibelakangnya.

“Ish, Kie kelen tau! Lie chu macih kecil. Min!” Jongki memanggil Minhyun dengan volume suaranya yang paling keras. Tapi seakan tuli, Min tetap saja asyik bermain dengan Zhoury.

“Cinih, nuna ajalin main pecepe. Nanti betel cama nuna yah?”

“Eum…” Zhoury mengangguk patuh. Dan ia memang masih kecil, tak akan merasakan sebagaimana panasnya tatapan membunuh dari Jongki.

“Min! Ish… Min…!!!”

Tapi, semua hanya dianggap angiN lalu oleh Minhyun. Kasihan sekali, uri litlle Jongki. Akhirnya ia kini bermain dengan Sunghyun dan Junior. Dan Sunghyun, sebagai hyung tertua, ia…

“Cudah Kie, main cama hyung ajah. Cini.” Sunghyun menyeret Jongki untuk duduk didekatnya. “Main camah Hyung, ntal Chunnie hyung kacih talt.”

“Eum…”

Meski sedikit tak rela, tapi akhirnya Jongki ikut bermain. Dan disela permainan kecil mereka, Junior bertanya dengan seribu kepolosannya.

“Kie-ah…”

“Eeum…”

“Kie cuka benelan cama Min?”

“Eih…?”

.

.

.

.

Dan hari ti rumah benar-benar ramai. Zhoumi dan Henry menginap selama dua hari, dan begitu hari kepulangan Hangeng, mereka juga pamit pulang karena memang mereka meninggalkan cukup banyak pekerjaan saat berlibur ke rumah Cho.

Sangat disengaja memang, semua pelayan hari itu diliburkan. Hangeng sendiri terpaksa pulang dengan taksi, karena saat meminta supir untuk menjemputnya, supir mereka sudah pergi berlibur entah kemana. Dan kyuhyun sendiri, sudah mengajak twins dan Sungmin bermain ke botanical garden.

Tujuan Kyuhyun tadinya, membiarkan Heechul menjemput Hangeng  tapi sayang nyonya besar itu malah lebih memilih menyendiri di taman baru mereka. Sesungguhnya ia juga merindukan Hangeng, tapi ia kembali teringat dengan semuanya. Pengkhianatan dan kebohongan Hangeng yang semakin membuatnya membenci suaminya itu.

Hangeng masuk kedalam rumah megah itu. Rumah yang biasanya ramai, kini sangat sepi. Ia melangkah pelan menuju kamarnya. Dan ini bahkan masih sore, tapi ia tak menemukan siapapun didalamnya. Ia segera membersihkan diri dan berganti pakaian. Jujur, ia lapar.

Hangeng melangkah pelan menuju dapur. Sesekali ia melihat sekeliling, berharap akan menemukan sosok cantik yang biasanya selalu menyambutnya dengan pelukan dan ciuman hangat. Tapi, sosok itu tak muncul sampai ia selesai membuat Beijing Fried Rice kebanggaannya. Dua piring Beijing Fried Rice ditambah dengan dua gelas jus untuk menemani makan malam mereka.

Kemudian ia mulai mencari Heechul. Melangkah keseluruh penjuru rumah, hingga ia menemukan bayangan Heechul yang tengah duduk di taman mereka. Ia melangkah menuju Heechul, dengan senyuman yang selalu terlukis di bibirnya.

Dan sesungguhnya, ia memang tak bersalah dalam hal ini. Semua memang bisnis, dan ia juga tak melakukan apapun. Semuanya hanya salah paham, dan entah mengapa untuk kali ini salah paham diantara mereka tak seperti biasanya. Mungkin karena Heechul begitu sensitif akhir-akhir ini.

.

.

“Hei…”

Hangeng langsung memeluk Heechul dari belakang. Menyingkirkan rambut panjang Heechul dan mencium lehernya. Meresapi wangi lembut yang sangat ia rindukan akhir-akhir ini. Tapi Heechul sama sekali tak menikmatinya. Ia tersiksa, dan bahkan hampir menangis.

“Jangan menyentuhku dengan tanganmu. Aku tak mau bekas yeoja itu menempel di tubuhku.”

Heechul mencoba berdiri dari duduknya, dan dengan terpaksa Hangeng akhirnya melepaskan lengannya. Menatap punggung Heechul yang perlahan menjauh dari pandangannya. Dan ia hanya bisa menggeleng pelan. Untuk kemudian sedikit berlari dan menyusul Heechul ke dalam rumah mereka.

“Heenim,tunggu sebentar.” Hangeng meraih tangan Heechul dan menyeretnya ke ruang makan. “Lihatlah, aku memasak untukmu. Kajja, kita makan. Kau pasti merindukan masakanku. Sudah lama sekali aku tak memasak.”

“Aku sedang tak ingin makan. Kau makan saja sendiri.”

“Ayolah…”

Dan wajah tampan itu sangat patut dikasihani ketika sedang membujuk Heechul. Hingga mau tak mau, ia akhirnya juga memakan masakan Hangeng. Memang ia sangat merindukan masakan Hangeng, dan juga ia lebihmerindukan suaminya. Namun ia selalu kembali teringat dengan pengkhianatan Hangeng dan hal itu membuatnya sering melamun di waktu makan malam itu.

Hingga makan malam selesai, yang tercipta hanya keheningan. Dan tak seperti biasanya, Heechul mencuci piring mereka dan semua peralatan yang digunakan Hangeng untuk memasak. Karena biasanya, pasti ada pertengkaran kecil terlebih dahulu diantara mereka.

Dan hal ini membuat Hangeng mengerti, jika Heechul memang masih mengingat semua kejadian yang sempat ia lupakan, bahkan Hangeng juga berfikiran jika Heechul sudah melupakan hal itu. Ia mengekor di belakang Heechul, berjalan menuju kamar mereka.

Tersenyum miris saat melihat Heechul langsung berlari ke kamar mandi mereka. Melihat tubuh putih itu mulai tenggelam didalam air bathtub dengan wangi aroma therapy yang sungguh sangat jarang dipakai Heechul. Dan ia seakan hal itu menjadi pukulan untuk kesadarannya. Heechul benar-benar harus didinginkan.

Hangeng melepas semua pakaiannya dan melangkah menuju ke bathtub. Ia mendekati Heechul yang memejamkan kedua matanya, menikmati wangi yang cukup bisa menenangkan hatinya. Hangeng melepas bathrobe-nya dan masuk kedalam bath tub besar itu.

“Ahh… Hannie, kau…”

Heechul langsung beringsut mundur saat ia merasakan tubuh lain masuk kedalam bat tub besar itu. Ia sedikit kesal dan menatap malas pada Hangeng.

“Pergi saja. Bukannya kau sudah mandi. Menganggu kesenanganku saja.”

Tapi Hangeng tau, wajah memerah Heechul ini sangat langka dan ini artinya jika yeoja cantik itu memang sedang sensitive dan butuh perhatian lebih. Hangeng mendekati tubuh Heechul dan mencium pipi putihnya.

“Masih marahkah?”

“Kau pikirkan saja sendiri.”

“Jangan cemburu seperti itu. Kau tahu, aku merindukanmu.” Hangeng meraih tubuh Heechul kedalam pelukannya membuat tubuh mereka bertemu dan saling menempel satu sama lain. “Kau lebih dari semuanya, lebih dari siapapun dan aku mencintaimu lebih dari apapun.”

“Hei, kau pikir aku buta?” Heechul mencoba melepaskan lengan Hangeng yang melingkar di pinggang dan juga lehernya. Tapi ia benar-benar tak bisa melepaskan diri sekarag. Terlebih saat bibir Hangeng mulai menyentuh lehernya dan menghisapnya kuat.

“Eunghhhh…. lepaskan. Jangan… euhhhh….Hann… ahhh….”

Heechul tak bisa menghentikan lenguhannya saat satu tangan Hangeng beralih dari lehernya dan mulai meremas dadanya. Tubuh Heechul mulai memanas, dan ia bisa merasakan sesuat yang mulai menegang dibawah sanah.

.

.

Other Side

.

“Eunghhhh…. lepaskan. Jangan… euhhhh….Hann… ahhh….”

.

Suara itu masih terdengar meski samar dan Sungmin sadar, mereka pulang diwaktu yang salah.

“Kyu, sepertinya kita pulang diwaktu yang salah.”

“Kurasa tidak. Kita pulang diwaktu yang sangat tepat.”

Dan Sungmin bisa merasakan aura buruk disekitarnya. Ia bergegas menggendong Sunghyun yang tertidur pulas di pelukannya dan membaringkannya di bed mereka. Kemudian dengan cepat pergi ke kamar mandi dan menguncinya.

Kyuhyun hanya menyeringai kecil, kemudian meletakkan Minhyun dan mencium keningnya. “Minhyunie, tidur nyenyak ya.” Kemudian dia menuju Sunghyun dan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada Minhyun. “Sungie oppa, tidur nyenyak ya. Daddy mau membuatkan little Cho lain untukmu.”

Kemudian ia merogoh satu laci di meja kamarnya. Tersenyum penuh kemenangan menatap satu benda yang ia ambil dari laci itu. Kunci kecil itu berkilat memantulkan cahaya lampu kamar mereka yang samar.

“Minnie baby, Kyu appa merindukanmu…”

.

.

2BeecON…

.

.

ooOOoo CHICKEN SOUP FOR OUR FAMILLY ooOOoo

.

KYUMIN IS REAL

.

Gomawo untuk yang sudah review di chap sebelumnya.

9 thoughts on “Chicken Soup Side Story |||HanChul|| Part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s