Lomba FF Kyumin || BLUE TOMORROW “Tomorrow Must be Perfect” || YAOI || Twoshoot || Part 1

blue tomorrow

 

Tittle: Blue Tomorrow “Tomorrow Must be Perfect” Part 1

Author: Restia Titanreeves Ningsih/Choi Eun Joon

Lenght: TwoShoot

Pairing: KyuMin

Cast: Lee Sungmin as Lee Sungmin

Cho Kyuhyun as Cho Kyuhyun

Choi Eun Joon as Lee Jarim

Genre: Yaoi, sad (not full sad), little humor, Happy Ending

Rate: T

Warning: YAOI, gaje, Typos, dll-

Backsound: Blue Tomorrow/Suju

Disclaimer: Kyuhyun dan Sungmin adalah milik Tuhan YME. Kedua Umma-Appa mereka, dan tentu saja mereka saling memiliki. Tapi setidaknya izinkan saya berharap jodoh saya nanti mirip Kyuhyun ya… #PlakK

Summary: Cinta ini tulus. Tak cukupkah itu menjadi satu alasan untuk aku tetap memilikimu? Hari ini seperti mimpi buruk bagiku. Semakin buruk saat sebuah fakta meminta aku untuk merelakan dirinya menikahi “Dia”, adik kesayanganku sendiri. Aku hanya namja biasa, yang juga akan hancur ketika cinta meninggalkanku. Jadi, bisakah aku menutup mataku, dan ketika aku membuka mata semua akan kembali seperti semula? Aku dan dirimu bersama kembali? Bisakah Besok se Sempurna impianku??? Semoga.

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Sungmin POV

Sekali lagi aku hanya bisa menyesap kopiku yang tidak lagi sepanas tadi, sambil menatap tajam kearah namja dihadapanku ini.

“Berhentilah menatapku seperti itu Hyung”. Aku tahu dia tidak nyaman dengan tatapanku ini.

“Jeongmal pabbo!!”. Apa kata-kataku terlalu kasar? Biarlah, memang aku sedang sangat kesal saat ini.

“Mianhae, sudah berkali-kali aku bilang maaf”. Dia menunjukan ekspresi bersalahnya dengan sempurna. Tapi itu tidak akan mengubah apapun.

“Lalu? Apa dengan maaf perjodohanmu dengan Jarim akan dibatalkan?”

“Bagaimana bisa hal seperti ini baru kau ceritakan sekarang? Bagaimana bisa kau biarkan aku tahu dengan cara seperti ini?? atau jangan-jangan kau memang punya niat untuk selingkuh ya???” Aku tidak tahan lagi. Aku benar-benar kesal padanya.

-Flashback on-

“Tadinya kupikir anakmu dua-duanya yeoja, ternyata yang satu namja ya? Dia tidak kalah cantik dari adiknya ya, haha”. Ini pertama kalinya aku makan bersama dengan orangtua Kyu.

“Yeung Hwan, kau terlalu berlebihan, Sungmin itu biasa saja”. Dua tetua keluarga itu sibuk memuji satu sama lain.

“Sungmin memang sering dibawa Kyu pulang, tapi aku tidak pernah menyangka kalau dia adalah putramu”. Ternyata Appa Kyu tidak pernah benar-benar mengenalku.

“Begitukah? Kalau aku sudah sangat mengenal Kyuhyun, dia sering belajar bersama dengan Sungmin waktu SMU dulu. Tapi tetap saja sama, aku tidak tahu kalau dia putranya Cho Yeunghwan”. Mereka tertawa bersama untu kebodohan mereka mungkin.

Meski aku berhasil memaksakan wajahku untuk tersenyum, tapi sungguh, aku benar-benar ingin mencabik-cabik namja di hadapanku ini. Kalau bukan adikku yang akan dijodohkan dengannya, mungkin aku tidak akan tahu kalau dia dijodohkan. Dasar menyebalkan. Kau berhutang penjelasan padaku.

“Jarim, menurutmu bagaimana Kyuhyun?” Appa Kyuhyun mendadak menanyakan sesuatu yang tidak kusukai kepada Jarim, adikku.

“Kyu Oppa cukup tampan, ah, bukan tapi dia sangat tampan. Padahal dulu aku ingin sekali punya oppa setampan dia. Tapi hasilnya malah cantik seperti itu, aku jadi malu sendiri kalau jalan berdua dengannya. Karena dia bahkan lebih cantik dariku.” adikku ini memang pintar sekali bicara. Aku bingung harus bagaimana. Mau tidak mau aku harus tersenyum karena ucapannya.

“Haha, sepertinya sifatmu banyak kau turunkan pada Jarim ya ChunHwa …?”

Mereka saling memanggil nama, membuat aku semakin merasa bodoh. Kenapa aku baru menyadari sekarang, sudah lama mereka berteman. Sejak awal, ayah Kyuhyun mengenalku sebagai Sungmin, tanpa tahu siapa ayahku. Begitu juga ayahku, mengenal Kyu sebagai dirinya sendiri tanpa tahu siapa ayahnya.

“Aku sangat berterimakasih pada kalian semua, Sungmin, Jarim dan Kyuhyun. Kalian mau menyempatkan diri untuk makan malam ini.”

“Itu bukan masalah Paman”. Apa? Bukan masalah? Cho Kyuhyun, setelah ini kau akan mati.

“Tapi kenapa sejak tadi Sungmin diam saja? Apa kau sakit?”. Satu pertanyaan lagi dari appa Kyuhyun berhasil membuatku kembali dari pelayaran pikiranku.

“Mmm, ne? Ah, sebenarnya besok aku ada UTS, dari tadi aku memikirkan itu. Bolehkah aku pamit duluan?”. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan sekarang adalah melarikan diri.

“Ooh, begitu. Ya sudah kau pulang duluan. Nanti Umma, Appa dan Jarim menyusul ya”. Umma berkata lembut padaku. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Sesaat kemudian aku berdiri, membungkukkan badanku di hadapan appa dan umma Kyuhyun, juga pada Kyuhyun. Sungguh, kami seperti tidak saling mengenal satu sama lain. Kami saling diam dan menatap tajam. Setelah itu, aku berlalu meninggalkan restoran itu.

“Oppa…” sayup-sayup kudengar suara Jarim memanggilku. Aku tetap melangkah keluar, tak ingin lagi sekedar memutar badan menjawab panggilannya.

-flashback off-

“Sekali lagi aku minta maaf. Aku punya alasan untuk itu. Inilah yang aku takutkan, kau pasti marah padaku jika aku bilang aku akan dijodohkan. Karena itu aku…”

“Seperti ini, aku jadi lebih marah lagi Cho Kyuhyun. Aku terlihat seperti orang bodoh. Kekasihku sendiri melamar orang lain dihadapanku”. Aku memotong ucapannya dengan kesal.

“Lee Sungmin, aku sudah bilangkan, tadinya aku akan mengatakan yang sejujurnya pada umma-appaku dan juga umma-appamu. Tapi sebelum makan malamnya dimulai, kau justru melarangku”. Alibi menyebalkan yang keluar dari mulutnya semakin membuatku ingin menghajar wajahnya.

“Mengatakan yang sejujurnya? Kau gila? Kau tahu betapa bahagianya Jarim bercerita padaku saat appa bilang kalian akan dijodohkan? Meski waktu itu aku tidak tahu siapa yang akan dijodohkan dengannya, aku tetap bahagia karena itu untuk pertama kalinya aku melihat Jarim tersenyum lepas. Meski Jarim selalu menolak menunjukan foto orang yang dijodohkan dengannya padaku, tapi aku tetap mendoakan Jarim mendapatkan yang terbaik. Tapi kenapa tiba-tiba, ternyata, orang itu adalah kau, kekasihku sendiri. Terlebih lagi kau bukan tidak tahu kalau Jarim itu adikku. Hiks…”

Sungmin pov end

Kyuhyun pov

“Hyung, aku mohon jangan menangis, aku minta maaf. Ini memang kesalahanku, aku tidak akan mengulangnya lagi. Ku mohon hyung jangan menangis lagi, orang-orang di kafe ini akan mengira aku beru melakukan hal yang tidak-tidak padamu hyung”. Aku benar-benar tidak sanggup melihat namja kelinci ini menangis. Aku tahu ini adalah kebodohanku. Diam saja saat appa mengatakan kalau aku telah dijodohkan dengan putri salah satu sahabatnya. Sejak awal aku tahu dia adik Sungmin. Tapi aku ragu untuk memberi tahu Sungmin tentang hal ini. Aku takut dia mengalah pada adiknya dan melepaskanku. Seperti yang kuduga, dia melarangku mengatakan kebenarannya malam itu, malam dimana seharusnya aku mengatakan semuanya pada yang lain termasuk Jarim.

“Dasar evil namja pabbo. Aku sangat membencimu”. Sungmin mulai memukul-mukul bahuku dengan tangan mungilnya.

‘Oopps, Cho Kyuhyun ada SMS nih… dari siapa sih??? Ayo baca, buruan baca… Oopps, Cho Kyuhyun ada SMS nih… dari siapa sih??? Ayo baca, buruan baca…’ –nada sms ponsel kyuhyun-

Satu pesan masuk muncul di ponselku, segera aku membukanya.

From: Jarim Saeng

‘oppa, malam ini umma mengajak oppa makan bersama dirumah. Datanglah, appa juga menantang oppa bermain catur…’

“Jarim…” ucapku pelan, meski dia tidak bertanya, aku yakin Sungmin ingin tahu.

“Ya Tuhan, mungkin ini jalan Tuhan untuk memisahkan kita”. Kata-katanya itu benar-benar menyakitkan untukku.

“Sungmin~ah, kenapa bicara seperti itu. Kita tidak akan terpisahan. Kita sudahh bertahan hingga 6 tahun, aku mohon jangan menyerah”. Pintaku padanya.

“Cho Kyuhyun, apa kau pikir aku akan bertahan lagi kali ini? apa kau lupa siapa orangnya? Lee Jarim, Kyu, Lee Jarim, dia adikku sendiri, adik kandung yang teramat sangat ku sayangi. Mana mungkin aku menghacurkan kebahagiaannya”. Masih bisa kulihat, air mata dari pelupuk matanya itu masih berusaha mendobrak keluar.

Aku mengabaikan lingkunganku saat ini. aku melupakan jika sekarang aku sedang berada di kafe yang cukup ramai di jam istirahat kantor ini. aku merengkuh tubuh Sungmin, mencoba membuatnya percaya padaku, kalau aku tidak akan meninggalkannya dan juga tidak akan menyakiti Jarimnya.

Untuk beberapa saat, usahaku berhasil, Sungmin mengeratkan pelukan kami, dan menangis dalam dekapanku, tapi sebentar kemudian…

“Ini salah Kyu, sekarang kau punya Jarim. Aku akan sangat berdosa jika melakukan ini padanya. Sebaiknya memang kau harus bersama Jarim. Mungkin memang sudah seharusnya ini terjadi…” Sungmin melepas pelukannya, meraih tasnya, dan kemudian berlari keluar kafe, meninggalkanku. Usai membayar billnya, aku segera menyusul Sungmin.

Tapi aku tahu, dia pasti sudah naik taxi. Karena saat ini sosok itu sudah menghilang.

“Arrghhttt…”

Kyuhyun pov end

.

.

.

Author pov

“Terimakasih sudah menyempatkan datang”. Ucap appa sungmin pada calon menantunya itu.

“Sama-sama paman”. Kyuhyun hanya menjawab ala kadarnya saja.

Saat ini mereka semua sudah berkumpul di ruang makan untuk makan malam special yang dibuat Nyonya Lee. Appa dan Umma Sungmin duduk berdekatan. Jarim duduk di samping Sungmin sedangkan Kyuhyun duduk di hadapan Sungmin. Suasana benar-benar canggung untuk Sungmin dan Kyuhyun. Bahkan hingga makan malam selesai, acara bercengkrama selesai, mereka kelelahan dan memutuskan untuk tidur.

“Oppa akan pulang?” tanya Jarim pada Kyuhyun.

“Ne, ini sudah larut. Paman dan bibi juga sudah tidurkan?”. Jawab Kyuhyun seraya mengalihkan pandangannya kearah Sungmin yang baru muncul dari kamar mandi.

Sekilas Sungmin menatap Kyuhyun. Lalu kemudian membuang wajahnya dan segera menaiki tangga menuju kamarnya.

“Jarim, setelah mengantar Tuan muda Cho keluar, cepat tutup pintunya. Nyamuknya sedang beroperasi sekarang.” Tutur Sungmin, membuat Kyu sedikit menunjukan kesedihannya.

“Baik”. Satu kata dari Jarim berhasil membuyarkan lamunan Kyuhyun.

“Ayo, aku antar Oppa kedepan”.

Kyuhyun hanya menurut saja dengan ajakan Jarim itu. Halaman depan rumah keluarga Lee memang cukup luas, membutuhkan waktu kurang lebih 10 menit untuk jalan dari dalam keluar.

“Apa yang oppa pikirkan saat ini?”. tanya Jarim tiba-tiba saat mereka sudah hampir sampai kedekat mobil Kyuhyun.

“Mwo??”. Kelihatannya Kyu tidak memperhatikan apa yang diucapkan oleh Jarim.

“Appa oppa sedang ada masalah?”. Begitu mereka sudah sampai di dekat mobil Kyuhyun, tanpa permisi, Jarim masuk kedalam mobilnya.

“Jarim, apa yang kau lakukan? Ini sudah malam, sebaiknya kau masuk kedalam”. Kyuhyun terlihat kaget dengan ulah Jarim.

“Aku sudah masuk kedalam”. Dengan santainya Jarim, menjawab ucapan Kyuhyun.

“Bukan kedalam mobilku, tapi kedalam rumahmu”. Kyuhyun berdecak pelan menghadapi salah satu keturunan keluarga Lee ini.

“Sudahlah, masuk dulu. Diluar dingin, izinkan aku diam dulu sebentar disini, sekedar untuk menetralisir suhu tubuhku”. Jawab Jarim.

“Hmmm…” Meski sedikit kesal, Kyu tetap menyetujui permintaan Jarim.

Untuk beberapa saat, keduanya hanya berdiam diri. Meskipun kini, waktu sudah merangkak naik menuju pukul setengah sebelas, Jarim belum juga menunjukan niatnya untuk masuk kedalam rumahnya.

“Oppa memikirkan Sungmin Oppa?”. Tanya Jarim tiba-tiba, dan sukses membuat Kyuhyun terkejut.

“Tt-t-tentu saja tidak. Kenapa aku harus memikirkan dia?”. Kyuhyun balik bertanya pada Jarim.

“Jangan berbohong. Aku bisa melihat semuanya. Pernikahan kita hanya beberapa minggu lagi. Kau dan Sungmin oppa pasti akan terluka karena ini”. ucapan Jarim ini, semakin membuat Kyuhyun membulatkan matanya. Bagaimana bisa Jarim mengetahui hubungan ‘TIDAK BIASA’nya dengan Sungmin.

“Jarim…” Kyuhyun menggumamkan nama itu pelan-pelan.

“Wae?? Terkejut aku tahu hal ini?”.

Kyuhyun tak mampu menjawab pertanyaan Jarim.

“Jangan khawatir. Aku tidak akan memisahkan kalian. Sejak appa bilang aku akan dijodohkan denganmu, aku segera mencari tahu tentang dirimu. Dan begitu aku tahu kau teman kuliah oppaku, aku jadi semakin semangat mencari tahu. Hanya mencari tahu saja, sejak awal aku memang tidak berniat menikah denganmu. Selama pengamatanku aku bisa melihat sesuatu yang berbeda dari kalian berdua, dan aku yakin kalau diantara kalian memang ada sesuatu yang ‘luar biasa’. Itu sebabnya aku tidak pernah menunjukan pada Sungmin oppa siapa namja yang dijodohkan denganku.” jelas Jarim.

“Lee Jarim…”

“Tapi maaf, aku tidak bisa begitu saja membatalkan perjodohan kita. Kedua orang tua kita pasti akan terkejut. Tapi aku janji, pernikahan kita tidak akan pernah terjadi”. Entah untuk yang keberapa kalinya, lagi-lagi Kyuhyun terkejut dengan penuturan Jarim.

“Kkkka-kau…” Kyuhyun mulai terbata-bata.

“Ayolah, aku ini Fujoshi. Hal seperti ini tentu saja sangat baik untukku”.

“Ha? K-kau Fujoshi??”.

Jarim menangguk dengan pasti dan lucu. Ini adalah pertama kalinya ia mengaku pada orang lain kalau dirinya seorang Fujoshi.

“Saat aku mengetahui sesuatu diantara kalian, aku jadi semakin bersemangat untuk mencari tahu bahkan mempaersatukan kalian.”

“Ini sungguh mengejutkan untukku”.

“Jinjja? Aku minta maaf sudah membuat kau khawatir dengan hubungan kalian. Tapi bisa kupastikan tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi.”

“Percuma…”

“Eh? Wae??”

“Sungmin terlanjur mengikhlaskan aku untukmu. Sekarang Sungmin membenciku. Yang dia tahu, kau bahagia dengan perjodohan ini, dan jika aku membatalkan perjodohan ini, maka kau akan terluka. Dan jika kau terluka maka dia tidak akan memaafkanku.” Kyuhyun menghela napas berat.

“Kecuali kau mengatakan yang sebenarnya pada Sungmin”. Lanjut Kyuhyun.

“Tapi itu tidak bisa. Kalau aku menceritakan ini pada Ming Oppa sekarang, dia akan berpikir aku seperti ini karena terpaksa, dia akan mengira aku mengalah padanya. Karena seperti yang kau katakan tadi, yang dia tahu, aku sangat menyukai perjodohan ini. aku tidak mau karna hal itu, dia meninggalkan Korea. Karena aku sempat mendengar dia bicara pada dirinya sendiri, jika sampai aku tahu dia kekasihmu, lalu aku mengalah padanya, mengesampingkan kebahagiaanku, maka lebih baik dia tinggal di Ausie. Aku tidak mau itu terjadi. Aku juga tidak ingin Ming oppa tahu, kalau adiknya seorang fujoshi. Apalagi kalau sampai hal ini terdengar oleh umma dan appa.”

“Lalu? Semakin dekat dengan waktu pernikahan kita, maka Sungmin akan semakin menjauhiku”.

“M-m-m- ani, serahkan semua padaku. Aku akan menyelesaikan ini serapi dan secepat mungkin”.

“Kau yakin?”

“Gurae… apa oppa tidak tahu, apa yang bisa dilakukan seorang fujoshi untuk melindungi idola mereka?”

“Haha, kalau begitu aku benar-benar bergantung padamu Jarim…”

“Tapi aku butuh kerjasamamu”.

“Tentu, itu bukan hal yang sulit”.

Kyuhyun dan Jarim sama-sama tersenyum. Untuk beberapa saat mereka saling melempar senyum.

“Mmm, tapi, apa benar kau tidak mau menikah denganku?”

“Itu karena aku sudah punya kekasih. Dia masih harus menyelesaikan kuliahnya di Ausie.” Jawab Jarim seraya memamerkan cincin berlian yang melingkar di jemari mungilnya.

Jarim tersenyum, meski pada kenyataannya hatinya menggumam, ‘pacar darimana? Untung saja aku tidak pernah melepas cincin dari appa’

“Pacarmu pria atau….”

“Tentu saja pria. Meskipun aku ini seorang fujoshi, tapi seleraku tetap pria oppa”. Jarim mempoutkan bibirnya, sangat lucu, persis seperti kakaknya.

“Hahaha, aku hanya bercanda”. Kyuhyun mengacak pelan rambut Jarim.

Pemandangan seperti itu, jika dilihat dari jauh akan tampak seperti pemandangan sepasang kekasih yang saling mencintai saling berbagi kasih. Setidaknya seperti itulah yang dipikirkan Sungmin yang melihat mereka berdua dari jendela kamarnya.

.

.

.

Sungmin pov

“Pagi…” sapa adikku begitu dia turun dari kamarnya.

“Pagi chagy…” umma segera menuju meja makan dengan roti telur ditangannya, sarapan pagi kami semua. Ibu bilang, hanya itu sarapan yang instant tapi cukup bergizi.

“Jarim, sebentar lagi Kyu akan menjemputmu ya”

“Uhuk-uhuk…”

“Oppa gwaenchana?” tanya Jarim khawatir. Kalimat umma tadi benar-benar membuatku tersedak.

“Ne ne, na gwaenchana…” ucapku lalu meneguk susu strawberry di gelasku.

“Ming, mulai sekarang kau bisa membawa mobil sendiri. Itu impianmu kan?”. Tanya umma seolah mengerti apa yang menjadi pikiranku.

“Ne umma, baguslah aku tidak perlu lagi menumpang di mobil evil itu”. Aku membersihkan remahan roti yang mengenai t-shirt ku.

‘tin tin’

“Itu pasti Kyu” Umma berlalu menuju pintu depan untuk membukakan pintu.

“Aku ambil tas dulu”. Jarim berlari lagi ke kamarnya. Sementara aku, lebih memilih tetap fokus pada roti telurku.

Beberapa menit kemudian, Jarim sudah muncul kembali dengan ransel biru langitnya. Dia berlalu menuju pintu depan dimana Umma dan Kyuhyun sudah menunggu. Aku juga mau tak mau harus ikut kesana, karena aku harus berangkat sekarang. Begitu sampai di depan, aku lihat, Jarim sudah berdiri di samping Kyu, menghadap ke umma untuk berpamitan. Ini terasa aneh, biasanya aku yang di berdiri disana, aku yang dijemput Kyu, aku yang tersenyum kearah umma untuk berpamitan, aku yang- ya Tuhan apa yang baru saja kukatakan? Aku tidak boleh seperti ini. ini demi kebahagiaan Jarim. Dia adikku sendiri.

“Aaaa…” seketika aku berteriak, membuat mereka bertiga –ayahku sudah berangkat pagi-pagi sekali- datang menghampiriku di garasi.

“Sungminie, wae gurae?”. Tanya umma khawatir.

“Ban mobilku kempes”. Jawabku pelan.

“Ommo, kenapa tidak kau cek dari semalem oppa?”. Tanya Jarim.

“Mana sempat aku terpikir untuk mengecek ban mobil”. Tuturku.

“Hah, bagaimana ini. Umma, aku naik taxi saja, aku berangkat”. Aku melangkah kesal meninggalkan area rumahku.

.

“Oppa, ikut dengan kami saja”. Suara kecil itu terdengar seperti mengikutiku dari belakang. Dan benar saja ketika menoleh, mobil Kyu memang sedang mengiringiku di belakang.

“Tidak perlu, kampusmu dan kampusku itu jaraknya sangat jauh. Nanti kau terlambat”. Ucapku sambil terus melangkah dengan tergesa-gesa.

“Oppa dan Kyu oppa kan satu kampus. Jadi ada oppa atau tidak rutenya tetap sama, jadi lebih baik oppa ikut kami. Jam segini, taxi sedikit, oppa bisa terlambat ke kampus.”

Benar juga, bukan rahasia lagi jika pada jam segini taxi akan sedikit sulit aku temui. Tapi satu mobil dengan Kyu dan Jarim? Apa itu ide yang bagus?

“Jangan banyak berpikir oppa, waktu itu terus berjalan. Kalau kita berangkat sekarang, kemungkinan terlambat akan semakin kecil”.

Interupsi dari Jarim, membuatku tersadar, kemudian berbalik untuk bergabung dengan mereka. Ya, meski berat aku harus melakukannya, demi kuliahku hari ini.

Sepanjang perjalanan, aku dan Kyu hanya diam dan sesekali menjawab pertanyaan dari Jarim.

“Oh, Yong Ha, itu temanku. Oppa hentikan mobilnya.”

“Jarim, sekolahmu masih jauh. Kenapa berhenti disini?”. aku tidak mengerti maksud Jarim kali ini.

“Aku harus temani dia oppa. Setiap hari ketika menunggu jemputan, dia pasti akan menungguiku sampai pak Kim datang. Kali ini aku harus gantian menemaninya. Aku mohon, ini demi kesetiakawanan.” Wajah memelas Jarim adalah kelemahan terbesarku, dan kurasa begitu juga dengan Kyu.

“Kau yakin turun disini?” tanya Kyu sedikit ragu.

“Ne, geokjongma! Saat di Ausie, bahkan aku selalu jalan kaki dari rumah ke sekolah”. Jawab Jarim.

Jarim turun dari mobil, sebelumnya tersenyum padaku dan juga Kyuhyun, lalu berlari mengejar temannya itu.

“Yong Ha, Jin Yong Ha…”

Mobil Kyu belum juga beranjak dari tempatnya, sepertinya menunggu sampai Jarim benar-benar tidak tampak oleh mata.

“Hei,…” Kulihat dari kejauhan, Jarim merangkul pundak namja itu. Sepertinya mereka memang berteman.

“Kau siapa? Siapa yang kau panggil Yong Ha?”. Entah apa yang mereka berdua bicarakan. Tapi mereka semakin jauh dari pandangan kami.

“Jadilah Yong Ha, untuk beberapa menit saja, kumohon”. Dan kedua anak itu, menghilang dibalik tembok sebuah gedung.

“Kita berangkat sekarang”. Ujar Kyu, yang sangat malas untuk aku tanggapi. Meski begitu, dia tetap melajukan mobilnya.

Perjalanan ini semakin membosankan. Biasanya, kami pasti bersenda gurau sampai meneteskan air mata. Namun kali ini, benar-benar hampa… kami seperti baru pertama kali berkenalan.

“Ming, aku ingin…”

“Turunkan aku disini saja”. Sengaja aku memotong ucapan Kyu, saat mobilnya mulai memasuki pelataran gedung A kampus kami.

Seketika Kyu memang menghentikan, mobilnya.

“Terimakasih tumpangannya.” Ucapku sedingin mungkin.

Kyu tak membalas ucapanku. Tapi, begitu aku ingin turun dari mobilnya, tangan kiri kyu menahan lengan kananku.

“Ming, tidak bisakah kita bicara dulu?”.

“Tidak ada yang harus kita bicarakan lagi Kyu. Lagipula, aku sudah terlambat”. Aku melepaskan tangan Kyu dari lenganku dan segera menjauh dari mobil itu.

Jujur, hatiku remuk redam karena kondisi kami yang seperti ini. ini bukan inginku, tapi memang ini yang harus aku lakukan. Demi tetap melihat senyum di wajah yeodongsaengku.

.

.

.

Usai perkuliahan aku memutuskan segera pulang. Mungkin biasanya aku akan jalan-jalan dulu dengan Kyuhyun, tapi mulai sekarang aku harus terbiasa seperti ini, pulang tanpa Kyuhyun.

Begitu aku keluar dari kelasku, sebuah tangan putih pucat menghadang langkahku. Dan aku sangat hapal siapa pemilik tangan ini.

“Mworago?”. Tanyaku padanya, pada Cho Kyuhyun, calon adik iparku.

“Pulang denganku. Jarim ingin kita pulang bersamanya dan menjemput dia.” Aku memutar bola mataku sesaat.

“Jangan berbohong, aku tidak percaya.” Aku melanjutkan langkahku.

“Ini pesan darinya”. Kyu menyodorkan ponselnya kedepan wajahku, agar aku bisa langsung membaca pesan dari Jarim. Dan ternyata memang benar, Jarim meminta aku ikut dengan Kyu.

“Baiklah, kali ini aku akan menurut, karena ini permintaan Jarim.” Tuturku kemudian. Aku berjalan lebih dulu dari Kyu.

Begitu sampai di parkiran, aku bermaksud membuka pintu belakang sebelum Kyu melarangku.

“Duduk di depan!”. Sebetulnya aku seikit kaget dengan perubahan nada bicara Kyu. Apa mungkin kini dia juga mulai membenciku?

“Andwae. Nanti Jarim yang akan duduk disitu”. Jawabku.

“Sekarang ini Jarim belum ada. Dan aku ini bukan sopirmu”. Menyebalkan sekali. Aku memang berharap kami bisa menyudahi rasa diantara kami, tapi tidak seekstrim ini juga. Kyu tidak pernah bicara sedingin ini padaku, dan rasanya sakit sekali.

Dengan hati sedikit teriris, aku menurutinya untuk duduk di kursi depan. Dalam perjalanan, masih sama seperti sebelumnya, kami hanya diam tanpa banyak bicara. Sungguh aku baru merasakan tidak enaknya diperlakukan seperti ini oleh orang yang kucintai.

Kami sampai di depan kampus Jarim. Rupanya anak itu sudah menunggu kami dari tadi.

“Sudah lama?” tanya Kyu lembut kontras dengan nada bicaranya tadi.

“Ani, kami baru saja keluar”. Jawab Jarim sedikit manja.

“Ayo pulang”. Ajak Kyu.

Baru aku mau turun untuk pindah ke tempat duduk belakang, Jarim menahan pintu mobilnya dari luar.

“Ani, Oppa duduk disitu saja ya, kepalaku sedikit pusing. Tadi aku terkena lemparan bola basket, jadi pusingnya masih terasa. Aku mau berbaring di kursi belakang. Oppa duduk disini saja ya”. Pinta Jarim sambil menekan-nekan pelipisnya yang katanya sakit itu.

Aku menyutujui prmintaan Jarim dan tetap duduk di depan. Perjalanan dilanjutkan.

“Oppa boleh aku minta putarkan lagu ini? aku tidak bisa tidur jika tidak mendengar lagu ini, ponselku battery low”. Jarim menyodorkan flashdisk biru safirnya, secara refleks tangan kananku dan tangan kiri Kyu meraih flashdisk itu. Sontak aku dan Kyu jadi salah tingkah saat jari kami bersentuhan . Kulihat, Jarim masih memejamkan matanya.

Kyu melepaskan flashdisk itu dan membiarkan aku menghidupkan mp3 nya. Aku tidak berani menoleh kearah Kyu. Sepanjang perjalanan, aku merasakan kecanggungan yang lebih besar dari sebelumnya. Sampai tiba-tiba Kyu menyentuh tanganku…

‘teg’ aku menepis tangan kiri Kyu.

“Hyung… jangan hindari aku lagi hyung. Bantu aku untuk menyelesaikan ini. kita lalui bersama. Aku mencintaimu hyung…” ucap Kyu pelan, bahkan terdengar seperti bisikan.

“Kyu, disini ada Jarim” Sebentar aku melirik Jarim yang ternyata masih tertidur, dan bahkan kini membalik tubuhnya untuk menghadap ke belakang.

Tiba-tiba Kyu menghentikan laju mobilnya. Aku semakin tidak mengerti dengan tindakan Kyuhyun kali ini. aku alihkan pandanganku padanya.

Dan…

“Kyu apa yammph~~mmh”

.

.

.

.

.

TBC

a/n: hahaha, maaf-maaf, kasih waktu saya buat ketawa bentar ya… hahaha…

sejujurnya, saya tuh hobby banget nulis gitu ya, tapi entah kenapa hasil tulisan saya itu rata-rata gaje… wkwkwk… tapi saya harap chingudeul bisa memakluminya ya…

saya mohon maaf juga karena ada cast yeoja dalam cerita. Saya juga bingung mau gimana. Pengen pake namja, tapi nanti feelnya beda, soalnya karakternya udah ter-set di otak saya, jadi kalau diganti namja, mesti rombak lagi. Walhasil, saya pake yeoja aja deh. Berhubung saya gag rela kalau Oppa kyu tercinta di jodohin ama yeoja dari GB mana gitu, jadilah aku memasukan diriku sendiri kedalam cerita. Wkwkwkwk… kesannya narsis ye… gag papalah. Nah, kalau kalian gag rela juga, anggap aja tuh yeoja, kalian sendiri ya…. #maksa…

Okke, sama seperti Author lainnya, saya juga pengen ada apresiasi untuk hasil kerja saya yang ngalur ngidul ini. sejelek apapun karya, tetap aja namanya karya kan. Dan nemuin satu ide itu bukan hal yang gampang. So, boleh dong minta RCL nya… itung-itung obat pegel2nya gitu loh…

Finally, i say, Jeongmal Gamsamida, Annyeong^^

6 thoughts on “Lomba FF Kyumin || BLUE TOMORROW “Tomorrow Must be Perfect” || YAOI || Twoshoot || Part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s