(lomba FF) C.A.K.E /Yaoi-Twoshoot | A

cake

Tittle :: C.A.K.E

Author :: Puji SparkyuElf II

Summary :: Sadarkah kalian? Hidup itu penuh dengan warna, dan itu semua memiliki arti. Tergantung warna apa yang melingkupi hidup kalian. Menuntun atau menjerumuskan. Disini, ‘Kau’ dan ‘aku’ bahkan disatukan oleh warna, yang berpadu manis dengan rasa lezat dan indanya sebuah C.A.K.E~

Cast :: Lee Sungmin→Cho Kyuhyun, Kim Ryeowook, Lee Donghae, Lee Hyukjae and other supporter cast.

Genre :: Fluff, Romance,

Rate :: T

Warning :: YAOI! The Queen of Typo(s), cerita aneh.

Hope you like it! ENJOY! ☺

.

.

.

.

.

“Tahun baru 2013 nanti umurmu sudah 28 tahun, Sungmin-ah. Dan-”

“Aku tahu.”

Yeoja paruh baya itu hanya bisa menghela nafas pasrah ketika melihat sang anak seakan menganggap acuh apa yang dikatakan oleh dirinya. Namja berambut hitam legam itu hanya terfokus pada laptop putih beraksen pink yang ada dihadapannya, walaupun sesekali matanya melirik kearah sang eomma yang duduk di sebelahnya.

“Ayolah eomma, aku bahkan baru pulang dari Jepang. Masih banyak rencana yang aku belum capai di Korea ini.” Lee Sungmin, namja itu menutup laptopnya lalu segera menghadapkan badannya kearah sang eomma yang sedang duduk dengan tampang memelas.

“Baiklah terserahmu saja, eomma hanya mengingatkan.” Sungmin tersenyum simpul, lulusan terbaik The Tokyo University of Foreign Studies jurusan Departement of Management itupun mengusap lengan halus sang eomma dengan gerakan lembut.

“Jangan terlalu menekan uri Sungmin, eomma.” Sontak pandangan kedua anak dan ibu itu terarah pada sumber suara. Seorang namja paruh baya yang masih terlihat tampan di umurnya tengah berjalan santai kearah mereka.

Sungmin tersenyum lebar ketika melihat sang appa mengecup singkat bibir sang eomma yang kebetulan sedang mengerucutkan bibirnya sebal mendengar ucapan sang appa. Ah~ benar-benar pasangan yang sangat cocok walaupun sudah tidak muda lagi. “Kau masih baik-baik saja kan, captain?”

“Tentu!” Itulah suasana yang akan terasa jika Appa Lee bertemu dengan Sungmin, Hangat dan ramai. Berganti eomma Lee yang tersenyum. Diapun beranjak kearah dapur, berniat membuatkan sesuatu untuk anak dan suaminya. Appa Lee mendudukan tubuhnya diatas kursi yang sama dengan Sungmin.

“Apakah istirahat selama 1 minggu sudah membuatmu puas?” Tanya appa Lee kepada Sungmin. Cukup lama Sungmin terdiam, namun tak lama Sungmin kemudian menganggukkan kepalanya. “Ne, bahkan aku sudah merasa bosan berdiam diri di rumah terus.”

Begitulah jawaban yang terlontar dari bibir tipis Lee Sungmin, namja berumur 27 tahun ini memang baru sekitar 1 minggu lebih menginjakkan kaki kembali di Korea Selatan. Setelah menyelsaikan study-nya selama beberapa tahun di Jepang, Sungmin kemudian mencoba peruntungan di negri matahari terbit tersebut dengan membuka sebuah perusahaan yang bergerak di bidang tekstil. Walaupun tidak sesukses dengan bisnis yang dijalani sang appa, namun Sungmin bisa dibilang sebagai pengusaha muda yang cukup berhasil. Eomma, Appa dan adiknya memang tetap tinggal di Korea, namun sesekali mereka mengunjungi Sungmin yang tinggal di Jepang seorang diri.

“Baguslah kalau begitu.” Sungmin mengerutkan keningnya. “Memangnya kenapa, Appa? Tampaknya kau bahagia sekali.”

Appa Lee tersenyum kecil. “Sungjin kan sudah bersedia untuk menghandle perusahaanmu di Jepang, lalu apa kau mau menghandle salah satu project usaha appa?”

“Mwo? Jadi Appa menyuruhku untuk pulang dan menyerahkan perusahaan kecilku pada Sungjin supaya aku mau mengurus project usahamu? Ish!” Sungmin menggembungkan pipinya sebal, alisnya mengkerut lucu. Appa Lee terkekeh kecil, tangan keriputnya pun terangkat untuk mengelus rambut hitam legam milik Sungmin.

“Bukan begitu, kami menyuruhmu pulang juga karna kami rindu padamu. Lagipula kau sudah terlalu lama menetap di negri orang, Sungmin-ah.”

“Huh!” Sungmin tetap mempertahankan ekspresinya, dengan tangan yang mulai melipat di dada. “Bertempat dimana?”

“Nowon.”

Sungmin seketika menegakkan tubuhnya. Memandang appa-nya dengan pandangan heran. “Eh? Nowon? Aku baru tahu Appa membuka project usaha dia daerah Nowon. Dalam bidang apa?”

“Kalau itu masih rahasia.” Appa Lee tersenyum menggoda. “Tapi kujamin kau bisa serius menghandlenya dan nyaman berada di sana.”

“Aish!”

“Mau kan? Deal?” Appa Lee menyodorkan tangan kanannya seraya menaik-turunkan alisnya. Sungmin menghela nafas berat. Jujur, dia bosan jika hanya berdiam diri dirumah saja. Dan lagi, dia juga tak mau ilmu yang didapatnya setelah bertahun-tahun belajar terabaikan begitu saja. See? Apa alasan Sungmin untuk menolak?

“Yeah, baiklah.”

“Good Boy!”

***

“Jangan terlalu kencang, nanti adonannya rusak.” Namja berambut brunette itupun mengangguk lalu merendahkan kecepatan Mixer yang tengah dipegangnya. Tangannya masih setia berputar-putar mengaduk dan menatap lekat-lekat adonan yang terdiri dari gula, cream cheese, mentega dan margarin yang sudah tampak terlihat soft tersebut.

“Eh? Kemana telurnya? Kenapa hanya 5 butir?” Namja mungil berambut kemerahan itu menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal. Sesekali direndahkan tubuhnya untuk melihat keadaan dibawah meja, atapun ditempat-tempat yang terdapat celah dibawahnya.

“Kau yakin telurnya tadi lebih dari 5?”

“Aku sangat yakin, Donghae-hyung. Malah aku sendiri yang membereskannya.” Namja bername-tag kan Kim Ryeowook itupun mulai terlihat panik. Pasalnya tidak ada stock telur lagi di dalam freezer, penghabisan istilahnya. Sedangkan pasokan telur akan dikirim sore nanti. Lee Donghae, si namja berambut brunette menghela nafas beratnya. “Sudah kuduga membuat roti itu lebih mudah daripada membuat adonan cake ataupun Muffin.” Gerutunya. “Masih tidak ada?”

Ryeowook menggeleng.

“Yasudah, masukan saja 5 telur itu. Lagipula hanya beda 1 perbandingan.”

Ryeowook menatap Donghae. “Tap-”

“JANGAN!”

Kedua namja itupun sontak menoleh kearah pintu ketika mendengar suara bass yang terdengar rendah namun tegas menyapa pendengaran mereka. Dahi mereka mengkerut ketika melihat seorang namja tinggi, berwajah stoic tengah menatap tajam kearah mereka. Namja tampan itupun berjalan dengan gaya -sedikit- angkuh kearah Donghae & Ryeowook.

“Kalian tidak boleh melakukan hal itu!”

“Eh? Hal apa?” Ryeowook bertanya bingung.

“Memasukan 5 telur kedalam adonan yang jelas-jelas harus memakai lebih dari 5 butir telur.” Namja itu menjawab dengan nada dingin.

“Ayolah patissier Cho, perbandingannya hanya beda tipis. Hanya beda satu telur.” Donghae memutar bola matanya malas. Namun di detik berikutnya, mata Donghae membulat ketika mangkok adonan yang berada ditangannya kini sudah beralih kearah namja berkulit putih pucat itu.

Namja Cho itupun mencelupkan bagian sisi jari kelingkingnya kedalam mangkok adonan, membawa sedikit adonan itu diatas kulitnya. Lidahnya menjulur untuk membersihkan adonan itu lalu memasukannya kedalam mulut. Detik selanjutnya, matanya terpejam seraya menggerak-gerakan lidahnya, membiarkan adonan itu melumer di dalam mulutnya.

“Adonan ini sudah cukup manis dan gurih namun sangat licin. Bukankah kalian nanti akan menambahkan susu cair dan terigu kedalamnya?” Ryeowook yang memang ahlinya dalam mengolah resep-pun mengangguk.

“Telur berfungsi sebagai perekat, jika nanti kalian memasukan terigu & susu kedalam adonan dengan takaran semestinya dan takaran telur yang dikurangi, bagaimana adonan cream, susu dan terigu ini akan bersatu dengan sempurna? Walaupun hanya berbeda sedikit, namun akan sangat berpengaruh besar bagi hasil adonan ini nanti.” Patissier tampan itupun bersuara.

“Kalau begitu, kurangi saja takaran terigu dan susu cairnya. Lalu sesuaikan dengan jumlah telurnya,”

“Tapi adonan gula, cream cheese, mentega dan margarin ini sudah dibuat dengan takaran yang kalian tentukan sebelumnya kan? Sama saja kalian menggali lubang kematian sendiri.”

Finally, Ryeowook pun mengangguk menyetujui ucapan namja tersebut. Bagaimana otak sepadan chef-nya tidak menangkap hal-hal seperti itu tadi? Benar-benar menyebalkan & memalukan. Melihat Ryeowook mengangguk, Donghae-pun akhirnya ikut mengangguk. Jangan salahkan namja ikan itu, karna dia memang tidak tahu menahu dengan sesuatu bernama adonan cake. Tugasnya disini hanya membantu Ryeowook, tidak lebih.

Sreet

Ryeowook dan Donghae hanya bisa menghela nafas ketika melihat patissier bertangan dingin itu membawa mangkok berisi adonan setengah jadi tersebut kearah wastafel lalu mengalirkan air untuk membersihkan isinya. Setelah cukup untuk menggenangi isi dari tempat adonan tersebut, namja Cho itu menutup keran lalu mengeringkan tangannya pada baju khas chef berwarna coklat yang digunakannya. Namja itupun berbalik,-

“Aku tidak mau menerima sesuatu yang tidak sempurna. Sekecil apapun kesalahan itu, kuanggap itu adalah sebuah kegagalan.”

-Dan berlalu pergi.

“Aish!”

***

Next Day, 10.00 am

Mobil Renault Samsung sm5 yang ditumpangi Sungmin berhenti tepat didepan sebuah bangunan yang didominasi oleh warna coklat disetiap sisinya. Bangunan yang tidak terlalu besar jika dilihat dari luar, namun terlihat nyaman juga disaat yang bersamaan. Park Ajusshi, supir yang mengemudikan mobil tersebut pun melirik kearah belakang. Kearah Sungmin yang tengah sibuk dengan Ipad bercasing Pink-nya. Sepertinya namja itu terlalu serius, sampai tak menyadari bahwa mobil yang ditumpanginya sudah berhenti.

“Tuan Lee, sudah sampai.”

Sungmin tersentak dan segera mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara sang supir memanggil namanya. “Gamshae Ajusshi.” Tanpa babibu Sungmin pun membereskan semua barang-barang yang dibawanya lalu keluar dari dalam mobil.

Mwo?

Mata Foxy Sungmin membulat ketika melihat bangunan yang berada di depannya. Bukan bangunannya, lebih tepatnya pada plang yang ada diatas bangunan tersebut.

‘JOY’S BAKERY’

“Huh? Jadi appa menyuruhku untuk mengelola sebuah toko roti dan kue?” Sungmin mengerutkan dahinya. Hei, waktu di Jepang usaha kecil-kecilan yang dibuka Sungmin itu bergerak di bidang tekstil. Bagaimana bisa sekarang dia menyimpang menjadi mengurus usaha roti dan kue? Baiklah, memang ilmu yang dipelajarinya dulu mencakup berbagai hal. Tapi tampaknya Sungmin harus beradaptasi lagi nantinya, ‘menyebalkan’. Pikir Sungmin dalam hati.

“Aku kabari lagi nanti, Ajusshi!”

Tak mau berlama-lama, Sungmin pun berjalan kearah toko roti dan cake bernuansa coklat tersebut seraya menenteng tas berwarna hitam dengan sedikit ornamen pink kesayangannya. Sungmin mengedarkan pandangannya dari balik pintu kaca yang berada di hadapannya. Hanya ada sekitar 2 orang saja yang sedang menikmati roti di dalam. Tak heran, mengingat sekarang bukanlah jam istirahat kantor.

Kring

Pintu berbahan kaca tersebut pun terbuka, menampilkan sosok manis seorang Lee Sungmin yang dibalut dengan jas simple berwarna soft pink dengan dalaman berwarna putih. Terlihat seorang namja berambut blonde menghampiri Sungmin dengan sedikit tergesa-gesa,

“Selamat datang di Joy’s Bakery.”

Sungmin tersenyum menanggapi sikap ramah pegawai yang bekerja disini. Bagaimana Sungmin tahu dia pegawai? Dari pakaian yang dikenakannya sudah sangat mencerminkan bahwa dia bukan ‘orang biasa’ di toko ini. Di Joy’s Bakery memang mempunyai seragam khusus, baik itu patissier handal sampai pelayannya pun pastilah pakaiannya sama. Hanya berbeda di bentuk pin saja. Seragam disini disesusaikan dengan warna cat pada bangunan, coklat. Bentuk pakaiannya seperti chef pada umumnya, namun ditambah dengan topi berbentuk seperti topi seniman yang melengkapi pakaian tersebut. Terlihat keren dan manis disaat yang bersamaan.

“Silahkan duduk.” Sungmin pun duduk diatas kursi yang sudah dipilih oleh namja tadi. Senyum manis masih belum terlepas dari bibir plump-nya. “Saya permisi dulu,”

Dahi Sungmin berkerut, Hei! bahkan Sungmin belum memesan. Kenapa namja tadi berlalu begitu saja? Apa namja itu bisa tahu apa selera dirinya? Lucu sekali. Dan tak berselang lama, pemuda tadi kembali dan berjalan kearah Sungmin dengan membawa sepiring cake ditangannya.

“Silahkan dinikmati Lee Sajangnim.” Oh, ternyata namja ini sudah tahu siapa Sungmin. Hah, benar-benar tidak menyenangkan. “Jangan panggil aku seperti itu, panggil saja aku Sungmin. Namamu siapa?”

“Eh? Jounen, Lee Hyukjae imnida.” Sungmin mengangguk-anggukkan kepalanya. Diapun membawa piring berisi cake itu kehadapannya. Memutar-mutar seraya meneliti piring berisi cake itu dengan mata menyipit. Tampaknya penampilan cake ini biasa saja. Dengan bentuk seperti gunung puding, dan semua bagian tertutupi oleh coklat yang sepertinya coklat cair. Jangan lupakan potongan strawberry di sisi-sisinya.

“Nah Hyukjae-sshi, silahkan jelaskan mengenai cake ini.” Ucap Sungmin bersikap like the boss. Tapi memang dia bos kan?

“Nama kue ini adalah Suprising Cake.”

Dahi Sungmin berkerut ketika mendengar ucapan Hyukjae. Kue mengejutkan? Apanya yang mengejutkan? Bahkan bentuk dan penampilan luarnya biasa-biasa saja. Lebih dari biasa-biasa saja sebenarnya, batin Sungmin. Namja manis itupun mengambil garpu kecil yang sudah disediakan, sepertinya tidak boleh menghina dulu jika belum tahu bagaimana keseluruhan cake ini.

“Eh?” Mata Foxy Sungmin mengerjap-erjap ketika melihat potongan cake hasil garpu yang dipegangnya. Ternyata didalam cake itu adalah warna hijau yang terdapat warna biru muda dibawahnya. Sungguh cantik. Tak menunggu waktu lama, Sungmin pun membawa potongan kecil itu kedalam mulutnya.

“Warna hijau diperoleh dari green tea dicampur dengan daun mint. Sedangkan warna biru sendiri diperoleh dari Blueberry segar yang baru saja dipetik dari kebun.”

“Huh?” Dahi Sungmin berkerut ketika merasakan berbagai rasa dalam satu potongan cake itu. Manis yang melumer dari lelehan coklat, sedikit pait dan segar ditambah sedikit remah dari adonan green tea dan daun mint, serta rasa sedikit masam bercampur manis khas buah dari adonan blueberry. Heum, Yummy!

“Ini benar-benar enak dan menakjubkan!” Ucap Sungmin antusias seperti anak-anak. Hyukjae tersenyum, “Mau kuantar untuk melihat dapur tempat cake itu dibuat?”

Sungmin kembali mengangguk. Diapun ikut berdiri, tak lupa piring cake itu juga dibawanya. Mengikuti kemana Hyukjae berjalan, sesekali Sungmin menyuapkan cake itu kedalam mulutnya. Tak berselang lama, sampailah mereka diruangan yang terhalangi oleh kaca di dinding bagian sisinya.

“Inilah dapur tempat cake dan roti-roti di toko Joy’s Bakery dibuat.” Hyukjae merentangkan tangan kanannya seraya tersenyum gummy. Sungmin bisa melihat 2 orang yang tengah sibuk dengan urusan masing-masing didalam sana.

“Namja berambut kemerahan dan bebadan mungil itu namanya Kim Ryeowook. Dia adalah jantungnya dapur ini, dia yang memilih bahan-bahan berkualitas dan menghasilkan resep-resep baru untuk roti.” Sungmin menganggukkan kepalanya ketika melihat seorang namja berbadan paling mungil itu tengah sibuk menulis sesuatu di note kecilnya.

“Sedangkan namja berbadan tegap dengan rambut brunette itu namanya Lee Donghae. Dia adalah salah satu patissier di Joy’s Bakery. Namun dia hanya spesialis dalam membuat roti. Jika Ryeowook yang membuat resepnya, maka Donghae lah yang membuat dan menghasilkan roti enak dan berkualitas.”

Perhatian Sungmin teralih pada namja cukup tampan yang sedang membentur-benturkan adonan roti keatas meja. “Namun Donghae sering membantuku, sesekali menjadi pelayan atau penjaga cashier jika cafe sedang ramai.”

“Eoh? Jadi bisa dibilang toko roti ini kekurangan pegawai? Hah, appa memalukan!” Sungmin menggerutu.

“Ani, menurut saya empat orang yang mengelola toko roti ini saja sudah cukup. Walaupun dalam beberapa waktu kami sering merasa sangat kewalahan.”

Dahi Sungmin berkerut. “Empat? Ada pegawai yang tak masuk?” Pandangannya berpendar keseluruh penjuru toko roti dan kue ini. Memang yang dia lihat hanya tiga orang, Ryeowook, Donghae, dan Hyukjae sendiri.

“Anda sepertinya melewatkan meja yang terdapat bayak cake-nya itu didalam sana.”

Sungmin mengikuti kemana jari telunjuk Hyukjae mengarah. Dahinya kembali berkerut ketika melihat meja yang bisa dibilang cukup penuh dengan cake. Entah itu yang masih polos, ataupun yang masih dalam tahap menghias. Apa yang harus dia lihat? Tidak ada si-Eh? Mata Sungmin menyipit ketika melihat sebuah tangan berwarna putih pucat yang terjulur dari arah bawah.

“Omo!” Sungmin menjerit kecil ketika seorang namja -pemilik tangan putih pucat- itu berdiri dengan tiba-tiba. Namja bepostur tinggi tersebut memasang wajah stoic, dengan baju pegawai yang membalut tubuh jangkungnya, namja itu.. Yeah, terlihat tampan menurut Sungmin.

“Dia adalah Cho Kyuhyun, Patissier termuda disini. Jika Donghae spesialis membuat roti, maka dia spesialis membuat cake. Bahkan cake yang tadi kau makan adalah buatan dia!”

“Jinjja? Whuah~” Sungmin memasang wajah kagum seraya terus memperhatikan Kyuhyun. Namja tampan itu terlihat tenang melakukan pekerjaannya, bahkan terlihat sangat santai menurut Sungmin. “E-eh? Mau kemana namja itu?”

Perempatan samar tercetak diatas dahinya ketika melihat pemuda Cho itu seperti merapikan pakaian dan tangannya. Tanpa membereskan cake setengah jadi itu, dia berlalu pergi melalui pintu yang terdapat dibelakangnya. Namja tampan -Donghae- yang kebetulan berada di meja yang bersebelahan dengan meja milik Cho Kyuhyun itu tampak memutar bola matanya malas melihat sikap namja berpostur tinggi tersebut.

“Mungkin dia sedang mencari inspirasi. Memang begitulah sikap patissier Cho, senang mencari inspirasi untuk pembuatan cake-nya.” Sanggah Hyukjae. Sungmin menganggukkan kepalanya pelan. ‘Aneh sekali, sampai pembuatan cake saja harus mencari inspirasi dahulu, seperti seorang seniman saja.’ batin Sungmin keheranan. Memang baru pertama kali Sungmin menemukan seorang patissier semacam Cho Kyuhyun itu, sedikit.. Berlebihan menurutnya.

“Mari kuperkenalkan pada dua orang yang masih tersisa didalam.” Sungmin mengikuti langkah Hyukjae yang mulai membuka pintu dapur itu. Menemui para pegawainya -minus Kyuhyun-, sekedar mengakrabkan diri.

“Annyeong Yeorobun~”

***

“Fortune Bunny Bread ke meja no 3, Hae-Hyung!”

“Mandarina Luck Bread untuk meja no 10, Hyukkie-hyung!”

Sungmin menangkupkan kedua tangannya diatas dagu, matanya masih asik memperhatikan keadaan hiruk pikuk di toko ini. Ryeowook yang berteriak kecil dengan suara melengkingnya seraya menyerahkan berbagai pesanan roti kearah Donghae dan Hyukjae untuk diantarkan ke meja pemesan. Sebenarnya Sungmin sudah menawarkan diri untuk membantu, namun Ryeowook dengan halus menolaknya. Dia bilang, seorang boss hanya tinggal duduk dan melihat kerja para pegawainya saja. Membosankan sekali.

Sungmin pun beranjak dari tempat duduknya, matanya menatap kearah lemari kaca berisi berbagai macam cake yang memang hanya beberapa orang saja yang hari ini memesan cake. Tidak ada yang terlalu istimewa dari semua cake yang terlihat oleh mata Sungmin. Namun, semua cake yang ada disini pastilah berwarna. Maksudnya, tidak hanya monoton berwarna putih, coklat ataupun hitam kecoklatan saja yang mendominasi cake disini seperti yang biasa ia lihat. Setidaknya dalam 1 cake pasti terdapat satu warna mencolok sebagai visual utama. Hm, unik. “Dan ini adalah buatan patissier Cho itu?” Sungmin menaruh jari telunjuknya diatas dagu.

“Kuakui cukup keren.”

“Gomawo.”

Sungmin terlonjak kecil ketika mendengar suara bass dari arah belakangnya. Dengan gerakan slow motion namja penyuka pink itu membalikan badannya. Dilihatnya seorang namja tinggi dengan penampilan khas pegawai di Joy’s Bakery tengah menatap dengan poker face miliknya kearah Sungmin. “O-oh, Patissier Cho.” Sungmin tergagap.

“Aku sangat senang hasil karyaku dipuji oleh seorang boss.”

“Jadi benar semua cake ini adalah buatanmu?” Sungmin memasang wajah terkejutnya. Mata foxy yang melebar, dengan bibir membentuk huruf O.

“Tentu saja. Kenapa tidak?” Kyuhyun, patissier Cho itu duduk diatas sofa yang berada didekatnya. Sofa yang biasanya digunakan untuk para pegawai disaat tengah menjaga toko. Sungmin yang masih antusias segera mengambil tempat duduk persis disebelah namja Cho itu.

“Benar-benar mengagumkan!” Sungmin tak sadar menepuk bahu Kyuhyun tanda dia bangga kepada namja berkulit putih pucat itu. Sedangkah Kyuhyun hanya melirik Sungmin dengan mata tajamnya, sedikit sakit juga sebenarnya tepukan ‘halus’ Sungmin.

“Apalagi Suprising Cake yang kumakan tadi, perpaduan warna biru dan hijau sangat cantik, indah dan pas.” Sungmin menyorkan kedua jempolnya ke hadapan wajah Kyuhyun. Membuat Kyuhyun sedikit memundurkan kepalanya untuk melindungi hidungnya yang hampir bertubrukan dengan jempol mungil Sungmin.

“Apa yang membuatmu berkata bahwa cake yang kubuat cantik, indah dan pas?” Tanya Kyuhyun seakan menantang.

Sungmin menaruh telunjuknya diatas dagu. “Warna biru berarti kebijakan, tenang, kelembutan, dinamis, kestabilan, kepercayaan diri, kedamaian.” Sungmin menarik nafasnya sekejap. “Sedangkan warna hijau mempunyai arti, kesuksesan materi, pembaharuan, keseimbangan, ketergantungan dan persahabatan. Apa lagi yah? Aish, aku lupa! Tapi yang jelas, cake mu mempunyai arti yang sangat bagus menurutku.”

Rahang Kyuhyun hampir terjatuh jika saja dia tidak mempertahankan ekspresi poker face-nya. Bagaimana namja mungil didepannya ini bisa berbicara sefasih itu mengenai arti warna? Kyuhyun pikir, tidak ada orang yang tahu arti warna pada cake yang dibuatnya. Karna memang biasanya seperti itu, mereka menganggap warna pada cake yang dibuat Kyuhyun hanya sebagai hiasan untuk mempercantik tampilan.

“Darimana kau bisa menyimpulkan hal seperti itu?”

Sungmin menggaruk kepala bagian belakangnya secara kasar. “Aish! Kau ini cerewet sekali. Usaha yang ku kelola dahulu bergerak dibidang tekstil, tak heran jika aku familiar dengan sesuatu bernama warna.”

“Oh.”

Untuk menutupi rasa terkejutnya, Kyuhyun pun memilih untuk bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menuju kearah dapur. Sungmin yang masih terkagum-kagum dan masih ingin mengobrol -karna bosan- dengan namja Cho itu pun memilih untuk bangkit dan mengikuti kemana namja tampan itu melangkah.

Sreet

Sungmin duduk diatas kursi yang berada disebelah meja tempat Kyuhyun tengah menuangkan inspirasinya. Tanganya diletakan diatas dagu, sementara matanya mengawasi semua pergerakan Kyuhyun. Tangan itu tampak sangat lihai mempersiapkan bahan dan membereskan meja dihadapannya. Terlihat seperti seorang profesional.

“Berapa umurmu?”

“25 tahun.” Jawab Kyuhyun singkat seraya menakar tepung yang akan digunakannya untuk membuat cake.

“Huh? Kau harus memanggilku Hyung kalau begitu.” Sungmin mencolek wipe cream yang kebetulan berada dihadapannya.

“Memangnya umurmu berapa?”

“Tepat pada tahun baru 2013 nanti umurku resmi 28 tahun.” Ujar Sungmin ceria, namun tampang dan tingkahnya yang kelewat semangat malah membuat dia terlihat seperti anak kecil. Kyuhyun menghentikan sekilas kegiatan memecahkan telurnya, memandang Sungmin. Hanya sekilas.

“Hyung?” Panggil Namja Cho itu.

“Ne?”

“Apa saja warna-warna gelap yang kau ketahui?”

Sungmin mengerutkan keningnya seraya berpose berpikir, mengingat-ngingat ketika dia masih mengurus usaha tekstilnya di Jepang sana.

“Black, tentu saja. Lalu DarkBlue, DarkGrey, DarkSlateGrey, indigo, dan- Ah! Aku lupa lagi, hehe.” Sungmin nyengir gaje seraya mengusap tengkuknya. Kyuhyun mengangguk, diapun kembali melanjutkan pekerjaannya. Mulai mencampurkan dengan lihai semua bahan yang dibutuhkan. Sedangkan Sungmin masih asyik menjadi penonton setia Patissier Cho yang sedang beraksi.

“Whuah, kau benar-benar terlihat seperti seorang profesional!” Sungmin menggeleng-gelengkan kepalanya -masih- takjub. “Kau dari kecil sepertinya sudah suka membuat cake-cake semacam ini, ya?”

Kyuhyun yang tengah menuangkan adonan kedalam loyang menghentikan aktivitasnya sekejap. Sungmin kira namja Cho itu ingin menjawab pertanyaannya, namun sama sekali tidak. Kyuhyun kembali melanjutkan kegiatannya memasukan loyang kedalam oven. Membuat Sungmin sedikit menggerutu.

“Kau salah. Bahkan dulu dapur adalah salah satu tempat yang ku blacklist dalam memori otakku.”

“Eoh?” Sungmin mengerutkan keningnya mendengar ucapan Cho Kyuhyun. Bisa ditarik kesimpulannya, bahwa Namja berkulit pucat itu paling anti dengan yang namanya dapur ketika kecil. Tapi, apakah itu mungkin? Mengingat Kyuhyun sekarang menjadi patissier handal, bahkan dimata Sungmin dia adalah seorang patissier profesional. Atau mungkin, namja Cho itu berbohong? Karna jujur, Sungmin sama sekali tidak percaya. Tapi untuk apa juga kan dia berbohong?

Cukup lama Sungmin melamun, memikirkan perkataan Kyuhyun. Sampai sebuah aroma yang menusuk hidungnya membuat Sungmin tersadar. Ditegakkan tubuhnya dengan benar lalu menolehkan kepalanya kearah sumber aroma, ke arah yang sama dimana Kyuhyun berada.

“The Something Cake.” Kyuhyun menyodorkan cake yang fresh from the oven itu ke hadapan Sungmin. Bagian luar cake itu berwarna abu-abu muda sedikit kehitaman. Tangan pucat itupun bergegas mengambil pisau lalu mengarahkannya diatas cake tersebut. Setelah dirasa ukuran potongannya pas, pisau itupun ditekan Kyuhyun sampai akhirnya bagian dalam cake tersebut terlihat.

Sungmin menyipitkan matanya ketika melihat warna dari isi cake tersebut. Hitam, sangat hitam. Tidak ada unsur kecoklatan sama sekali yang tertangkap oleh penglihatan Sungmin. “Warna hitam aku dapatkan dari sari buah Blackberry yang dicampur dengan ampas kering kopi.” Kyuhyun menjelaskan. “Rasanya memang agak pahit, namun rasa sedikit asam bisa didapatkan dari sari buah Blackberry, dan rasa manis dari sedikit gula yang aku tambahkan.”

Sungmin mengangguk tanda mengerti. Dan entah suruhan siapa, Sungmin memberanikan diri untuk mencomot potongan kecil cake tersebut lalu memasukannya ke dalam mulut. Mata Sungmin terpejam dan bibirnya bergerak untuk merasakan keseluruhan rasa dari cake tersebut.

“Uh, kau benar! Cake ini didominasi oleh rasa pahit, namun untungnya ada sedikit rasa asam dan manis didalamnya.” Dahinya berkerut, dan alisnya bertaut. Pertanda bahwa Sungmin tengah menetralisir sesuatu. “Kenapa kau berani sekali membuat cake semacam ini?”

“Karna itu cake kesukaanku.” Kyuhyun tersenyum kecil. Membuat dahi mulus Sungmin semakin berkerut. “Dan warna cake itu menggambarkan diriku persis, Hyung.”

Sungmin mengerjapkan matanya ketika melihat mata elang Kyuhyun menatap intens dirinya. Jujur, itu membuat Sungmin salah tingkah. Namun Sungmin terdiam seketika kala mengingat perkataan Kyuhyun yang terakhir. Dalam itungan detik matanya-pun terpejam, sangat erat. Dahinya berkerut, sesekali bibirnya juga menggeram kecil ketika sesuatu yang bukan dia butuhkanlah yang menghampiri memori otaknya. Cukup lama Sungmin melakukan aksi semedinya, sampai akhirnya mata foxy namja penyuka pink itu membulat sempurna. Wajah yang dialasi rasa terkejut kini beralih menatap Kyuhyun yang masih betah menatap dirinya intens.

“A-apa yang ada di kepalaku sama persis dengan yang kau maksud?” Sungmin menatap Kyuhyun dengan pandangan aneh. “Ya.” Kyuhyun menatap Sungmin dengan pandangan tajam khas miliknya.

“Kau memang satu-satunya orang yang bisa mengerti aku. Terimakasih, Lee Sungmin Hyung.”

~

T.B.C

***

Annyeong ☺ ada yg merasa aneh? Sebernya ini FF fluff Romance kok, cuma belum keliatan aja. Saya akui cukup sulit untuk membuat FF romance seperti ini, karna biasanya saya bikin FF yg galau (angst) ._.

Pengalaman saya tentang dunia cake dan roti itu tidak seperti yg kalian bayangkan, bahkan saya harus searching sana-sini untuk FF ini. Jadi dimohon untuk sedikit menghargai karya ‘sampah’ saya yah? :))

Terinspirasi dari drama Miss Panda & Hedgehog dan lagu Kyuhyun – Listen To You (dimohon selama membaca FF ini seraya ditemani lagu tersebut).

Untuk gambaran seragam Joy’s Bakery, kalian bayangin aja ‘Super Junior at Kyochon’ atau sedikit gambaran bisa kalian lihat di cover. Persis seperti itu.

Udah ah, saya tidak mau muluk-muluk. Hanya meminta kalian mau menghargai FF aneh ini saja kok. Gampang kan? ☺

At least,

MIND TO RCL?

Thanks.

12 thoughts on “(lomba FF) C.A.K.E /Yaoi-Twoshoot | A

  1. Ff ini daebak bikin penasaran…
    Kira2 apa yg ada di pikiran sungminie ya??
    Penasaran sama lanjutannya…..
    Udah lama nggak nemu ff yg setingnya di resto

  2. Ff ini bgus n bkan smpah?knp author mnilai kryax sndri bgtu!jgn psimis apa prnah kna bashing?
    Aplg dilhat dri ush author utk mdkung tulisanx mngnai dunia “per cake an” dimna bkan spesialisx dgn bgtu ‘gmblang’ (kta yg aneh).jd krya ini ptut dpt thumb up!so dont judge ur self.basher go away

  3. author ini bener bener keren… Tipe tipe fanfic kesukaanku😀 ga mudah ditebak, tapi punya banyak makna dalam satu kata..dan aku bener bener suka!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s