PERSONAL TASTE || CH. 3 || YAOI || KYUMIN

Author : rainy hearT

Length : Series

Rated : T

Cast :

– Cho Kyuhyun

– Lee Sungmin a.k.a Cho Sungmin

Pairing : || KYUMIN ||

Disclaimer : Semua cast belongs to God and themselves. Dan seperti biasanya, jika saya bisa saya sudah meng-Klaim seorang Lee Sungmin menjadi milik saya.#Mimmpi…#

Genre : ||Drama || Fluffy Angst||Sad||

Warning : || BL/ YAOI || Gaje || typo’s || EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia||

Summarry : || Kau tak butuh diriku… CINTA bukan kebutuhanmu ||

Another PRESENT From Me

PERSONAL TASTE

Just KYUMIN

Ini bukan Personal Taste vers KyuMin yang sama dengan salah satu drama Korea. Ini benar-benar memiliki cerita sendiri karena aku terinspirasi dari the only one and my lovely singer. Agnes Monica.

Please be Patient With me. Don’t Like Don’t Read. No copas No bash. Kritik and saran yang mendukung selalu diterima dengan tangan dan hati yang terbuka.

.

.

PERSONAL TASTE

.

.

HAPPY READING

.

.

Previous Chapter 2

.

.

Cho Sungmin POV

.

Aku sungguh tak mengerti dengan ini semua. Apa maksudnya. “Aku tidak menjadi Taemin, harus kukatakan berapa kali. Dia memintaku, kau harus percaya itu.”

“Apakah dengan kau bermesraan dan selalu bersama Minho itu juga Taemin yang memintanya?” Dia tertawa kecil. “Kau pikir aku buta? Tak bisa melihatnya? Kau pikir aku tak tahu, kau juga mencintai Minho?”

“Kyu, aku tidak…”

“DIAM!” Dia beranjak dari duduknya dan mendekati foto Minho yang ada di dekat TV kami. Mengambilnya dan menyerahkannya padaku. “Bukankah ini rumah kita? Lalu kenapa dimana-mana ada Minho?”

Aku…

Benarkah…

Apakah dia cemburu…

.

.

Chapter 3

.

.

Ia diam dan kemudian meninggalkanku. Punggung itu perlahan menjauh dan meninggalkanku, menghilang di balik pintu utama rumah kami. Aku hanya bisa menghela nafasku dan menggeleng heran.

Kenapa dia harus cemburu dengan Choi Minho, yang bahkan wajahnya tak bisa kulihat lagi? Apakah dia lupa jika Minho, dengan segala kegilaannya menabrakkan dirinya sendiri pada satu mobil yang melintas didepan rumahnya?

Aku masih ingat, saat itu Minho mengatakan jika dia melihat Taemin di sebrang jalan, dan dia tahu bahwa itulah saatnya untuk menyerahkanku pada Kyuhyun. Aku tahu Minho, dia yang terbaik. Di saat terakhirnya pun, dia tetap tersenyum dan menggenggam kuat tanganku. Berjanji padaku jika dia akan membahagiakan Taemin disana.

Aku mendudukkan tubuhku yang semakin lama terasa semakin remuk. Ini lebih baik jika ia memukuliku dan menghancurkan tubuhku hingga aku akan mati perlahan. Tapi jika seperti ini, ia terus menyakiti hatiku dan menggerogoti perasaanku hingga semakin lama mungkin aku akan mati tersiksa oleh diriku sendiri. Kebodohanku mencintainya, dan semua yang ada padanya membuatku buta.

.

.

Aku kembali menyiapkan makan malam. Setelah seharian ini aku pergi berbelanja dan menikmati kesenanganku untuk berburu isi kulkas kami. Meski sebagian besar makanan itu sama sekali tak disentuhnya, tapi aku ingin terus melakukannya. Hingga saatnya nanti dimana waktu lelahku itu datang dan menghentikanku.

Aku menata rapi, makanan sekedarnya yang bisa kubuatkan untuknya. Meski hanya spaghetti dengan saus jamur kesukaannya dan juga puding coklat untuk menemani malam kami. Terus berharap jika hubungan kami semakin lama akan semakin baik.

.

Ceklek…

.

Pintu utama rumah kami terbuka. Dan dia masuk dengan wajah kusutnya. Entahlah dia darimana dan aku juga tak mau menanyakannya, karena sama saja dengan menambah masalah di hubungan kami.

Ia melirik sekilas pada foto Minho yang masih aku letakkan ditempat semula. Kemudian dia menyapukan pandangannya pada seluruh dinding dirumah kami. Hingga kesetiap sudut dan atas meja atau lemari yang memang penuh dengan foto Taemin, Minho dan aku,

Aku bukan tak ingin memasang fotonya dimana-mana. Itu karena aku tak punya dan lagi dia terlalu dingin dan aku tak ingin menambah masalah dengannya.

Aku berjalan mendekatinya, berusaha menepuk bahunya. Tapi belum juga aku melakukannya, ia keburu menoleh dan menatapku tajam. Tatapan dingin yang siap membunuhku kapan saja. “Aku membuatkan makan malam untukmu. Kuharap kau ma…”

“Kenapa masih ada?”

Suara bass itu terdengar berat dan dingin. Dan entah sampai kapan aku bisa bertahan. ‘Kyu… kumohon.’

“Kyu.” Aku menundukkan wajahku. Terasa memanas dan mungkin sebentar lagi aku bisa menangis dan terus menangisi nasibku hingga besok. “Itu hanya foto Minho.”

Dan untuk pertama kalinya, dia menyeretku dan melemparkanku dengan kasar untuk duduk disofa. Terlihat pancaran kemarahan di matanya. Sebegitukah ia mmebenci Minho? Atau dia memang benar-benar cemburu?

“Kau bilang hanya.” Dia tersenyum kecil. “Hanya dan ada dimana-mana. Kau pikir ini rumah siapa hah? Ini rumahku, dan dimana-mana seharusnya aku. Tapi kenapa, aku melihat Minho? Dan lagi, dan lagi, lagi hanya Minho dimana-mana.”

“Kyuhh… aku…”

Wajah Kyuhyun sudah memerah. Apakah ini puncaknya? Dimana semua kemarahannya meledak didepanku.

“Kau bahkan tak pernah memikirkan perasaanku. Jika kau pikir hanya menuruti perkataan orang mati dan terus melakukannya meski kau tak ingin, maka lakukan untukku. Aku akan mati secepat yang kau mau, dan penuhi keinginanku untuk pergi dari hidupku.”

“Kyuh…”

Wajahku memanas dan mataku terasa panas dan sakit. Ada satu sisi hatiku yang terasa nyeri, melihat wajah Kyuhyun yang penuh kemarahan dan juga luka.

“Kau tak mengerti Min.” Kyuhyun menjatuhkan tubuhnya. Jatuh terduduk dilantai dan menyembunyikan wajahnya, aku tahu dia pasti akan menangis. Dan aku tak bisa menahan diriku lagi.

Aku ikut duduk dilantai dan berusaha meraih tubuhnya, kedalam pelukanku. Namun ia mendorongku dan mencengkeram kuat kedua bahuku. Dan mata itu, kembali menatap tajam.

“Kau tahu, aku sangat membenci Minho. Dia bisa menikmati hidupnya dan bersekolah dimana saja yang ia mau. Bergaul dengan siapa saja dan mengenal begitu banyak kebahagiaan. Tapi, aku…”

Jejak bening itu mulai mengalir di pipi Kyuhyun. Dan aku memberanikan diriku untuk menyentuh pipi pucat yang basah itu. Rasanya hatiku begitu sakit, ini lebih buruk dari yang kubayangkan. Jika bisa, kumohon hilangkanlah luka itu dari hati Kyuhyun.

“Hikkss… Kyuhhh…”

Dan aku menangis untuknya. Dan inilah pertama kalinya, ia membiarkanku memeluknya setelah 4 bulan pernikahan kami. Ini adalah kenangan pertama yang kami buat dan kami simpan sebagai hadiah pernikahan kami.

.

.

Kami masih duduk dalam diam. Entahlah ia menatap kearah mana. Ia terus menatap dingin kedepan tanpa ekspresi. Wajah datarnya itu sedikit menyentuh rasa bersalahku. Apakah selama ini aku kurang peka? Tak mungkin aku menyakitinya. Bukankah dia selalu terlihat bahagia? Terkadang dia juga tak bisa kusentuh.

.

Aku harus apa?

.

Aku menatap wajah tampan itu. Kulit pucat dan hidung yang merah. Baru pertama kali ini, aku seperti melihat dirinya yang sesungguhnya. Dia yang lemah dan membutuhkan pelukan. Dia yang begitu lembut dan menyayangiku.

“Aku akan menyimpannya, Kyu. Mianhe, membuatmu tak nyaman dengan apa yang aku lakukan.”

Dan dia masih saja diam tanpa ekspresi. Ayolah Kyu, bicaralah. Kita bisa melakukannya, aku yakin kita bisa menyelesaikannya.

Aku beranjak dari dudukku dan melangkah menuju dapur. Sekedar membuatkannya teh hangat. Dan saat aku kembali ke ruang tamu, dia sudah tidak ada. Aku tahu dia di kamarnya.

Aku menuju kekamarnya. Pintu itu terbuka meski hanya sedikit, dan dengan seluruh keberanianku aku masuk ke kamar itu. Kamar yang tak pernah aku masuki selama 2 bulan kami pindah ke rumah ini. Rumah yang memang miliknya sejak awal, dan hanya ditinggalinya.

Ia memberiku kebebasan mengatur semuanya, kecuali kamarnya. Bahkan inilah pertama kalinya aku masuk ke kamarnya. Kamar dengan wallpaper berwarna biru dan sisi gelap dimana-mana.

Ia sudah menyembunyikan tubuhnya dibalik selimutnya. Aku berjalan mendekatinya, meletakkan teh itu diatas meja lampu tidur disisinya. Awalnya aku tak begitu memperhatikannya. Namun kamar ini benar-benar bersih dan wangi.

Wangi Kyuhyun yang telah lama aku ingat. Aku mengedarkan pandanganku pada seluruh kamarnya. Membuka lemari pakaiannya. Mengusap setiap baju kantornya yang bahkan inilah pertama kali aku menyentuh pakaian itu.

Aku sungguh kasihan bukan, bahan untuk sekedar merapikan bajunya saja dia tak memberiku kesempatan? Hanya sekedar menyiapkan pakaiannya saja aku tak pernah.

“Hikss…”

Entahlah, aku begitu cengeng. Jika seperti ini, aku tak bisa menahan air mataku. Memendam perasaan cintaku yang mendalam untuknya, tanpa bisa aku menyentuhnya meski dia milikku. Ini sungguh menyedihkan. Aku ingin memeluknya erat. Tubuh yang tersembunyi dibalik selimut itu, benar-benar seakan menyimpan beban yang begitu banyak.

Aku mendekatinya. Naik keatas kasurnya dan menyingkap selimutnya. Biarlah, meski mungkin setelah ini dia akan memarahiku, semuanya lebih baik. Daripada dia terus hanya diam dan menatap dingin padaku.

Kulihat ia memeluk satu bingkai foto. Perlahan meski tak yakin, aku mengambilnya. Meski agak sulit, dan penuh dengan rasa bersalah akhirnya aku berhasil mengambilnya.

“Kyuh…”

Dan inilah kebahagiaan terbesarku. Apakah ini rahasianya? Apa ini salahku? Apakah sebenarnya aku yang menyakitinya? Seandainya aku tak menjadi orang bodoh yang egois…

“Hikss…”

Aku memeluk kuat foto itu. Dua foto dalam satu bingkai. Foto pernikahan kami, dan fotoku saat Senior grade. Apa artinya semua ini? Apakah dia benar benar mencintaiku sejak lama?

Apakah aku sudah menyakitinya?

“Mianhe…”

Dan aku tak bisa menghentikan tangisku. Inilah kelegaan pertamaku. Saat tahu ia begitu mencintaiku. Kenapa aku begitu bodoh? Kenapa dia juga sangat bodoh?

Dan fotoku, aku…

Saat senior grade? Bukankah itu artinya 7 tahun yang lalu? Selama itukah ia menderita karenaku? Apakah aku buta untuk tak melihatnya?

Aku meletakkan foto itu, dan inilah janjiku. Walau apapun yang akan terjadi, aku berjanji akan terus bersamanya. Meski ia akan mengusirku, aku akan tetap ada disisinya. Meski dia tak menginginkan aku, aku akan selalu ada untuknya.

Aku mengusap wajah tampannya. Menundukkan wajahku dan mulai menciumi garis air mata dipipinya. Aku tahu, ini pasti sangat menyakitkan untuknya. Dan inilah, caraku untuk mengobatinya.

Aku tak peduli lagi jika nantinya ia akan bangun, karena hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menunjukkan betapa aku mencintainya dari dalam hatiku. Bukan karena Minho yang memintanya, tapi karena aku memang selalu mencintainya.

Dan bibir merah itu, seakan menarikku. Merasakan lembut dan manisnya. Aku mendekatinya, mencuri ciumannya. Meski hanya menempelkan bibirku tapi…

.

Degh…

.

“Eumhhh…”

Jantungku seakan berhenti, saat merasakan tangannya menekan tengkukku saat aku hendak menyudai ciumanku. Ia menekan tengkukku begitu dalam dan mengusap pipiku. Memperdalam ciuman kami.

“Eumpppphhhh… emhhhh…”

Dan aku hanya bisa melenguh menerima perlakuannya. Dia sungguh mengejutkan, dan bibir ini begiu lembut dan manis. Lidah itu menjelajah keseluruh ruang didalam mulutku dan seakan terus memancingku untuk meminta lebih.

Aku hanya bisa meremas kerah baju yang ia pakai, menunjukkan betapa aku menikmati ciuman yang memabukkan ini. Dan lengannya memaksaku untuk jatuh diatas tubuhnya. Kami bergelut dalam kehangatan itu.

Jantungku terus berdebar kencang dan ini benar-benar mengagumkan. Perasaaan ini begitu menyenangkan dan aku sama sekali tak bisa menyembunyikannya. Betapa aku bahagia dan menginginkan ini.

Hingga kebutuhan akan udara menghentikan ciuman lembutnya. Garis saliva tercipta antara kami. Matak kami saling bertemu dalam jarak yang begitu dekat. Dan ia menatapku.

Bukan tatapan tajam seperti biasanya, kali ini sangat lembut. Ia menarikku kedalam pesona seorang Cho Kyuhyun yang sebenarnya.

“Terima kasih untuk ciumannya.”

“Kyu…”

“Aku akan mengurus perceraian kita besok. Kuharap kau tidak…”

Dan aku menghentikan omong kosong itu dengan satu ciuman kecil di bibirnya. Harus kuakui, bibir ini terasa sangat manis dan lembut. Dan terus memaksaku untuk menciumnya lagi dan lagi.

“Ming…”

“Dengarkan aku Kyu.” Wajah itu menatapku. Bukan dengan kebencian seperti biasanya dan inilah yang sesungguhnya. Sepertinya, inilah Cho Kyuhyun yang aku cari. “Aku mencintaimu.”

Namun, ia malah mendorongku hingga aku kembali duduk dan kini kami sama – sama duduk diatas kasurnya. Ia hendak beranjak dari duduknya dan meninggalkanku, namun aku menahan tangannya. Aku tak ingin ia pergi.

“Mengatakan perasaanmu sendiri, apakah sangat sulit?”

Dan wajah itu kembali seperti semula. Dingin dan menatapku tajam. “Bukan sulit. Tapi jika kau hanya kasihan padaku, lebih baik biarkan aku mengurus semua dokumen perceraian kita.”

“Kyu, ini tidak seperti apa yang kau pikirkan. Aku benar-benar…”

“Apa? Mencintai Minho, dan kau hanya berpura – pura denganku.” Ia memotong pembicaraanku. Dan kenapa otak jeniusnya itu benar-benar tak seimbang dengan hatinya? Kenapa ia begitu keras kepala?

“Dengarkan aku dulu, Cho Kyuhyun.”

“Kau yang dengarkan aku, Lee Sungmin.”

“Mwo?” Ia masih memanggilku dengan Lee. Lalu dia menganggap aku ini apa selama ini? “Lee Sungmin?”

“Nde, Lee Sungmin. Atau kau menginginkan menjadi Choi Sungmin?”

“Cho Kyuhyun! Dengarkan aku!” Entah mengapa hawa dalam tubuhku memanas dan terus berkumpul menjadi satu kemarahan dan kekesalan padanya.

“Kau yang dengarkan aku Lee Sungmin!” Ia berteriak balik padaku. “Aku akan menceraikanmu, hingga kau bebas melakukan apapun yang kau mau. Kau puas?”

“Kyuh, ini tidak…”

“Aku tahu, kau mencintai Minho. Itu sudah cukup bagiku untuk membuktikannya, jika kau memang hanya menganggap pernikahan kita sebagai janji pada Minho. Kau tak pernah benar-benar mencintaiku. Kau selalu saja mengingat Minho. Dimana-mana Minho, bahkan saat kau diam pun pandanganmu akan tertuju pada fotonya. Aku tahu, tak pantas jika aku cemburu pada orang yang sudah mati, tapi kau…”

.

Plak…

.

Apa ini?

Aku menamparnya?

Aku tak mau ia terus mengingatkanku pada Minho. Bukan hanya karena aku mencintainya, tapi karena rasa bersalahku perlahan membunuhku. Aku tak tahu ini benar atau tidak, dan aku tak mau Taemin membenciku karena Minho begitu menyayangiku.

“Kau menamparku?”

“Mianhe Kyu, aku sungguh tidak… aku hanya…”

“Hahahhaaa… kau menamparku hanya karena Minho. Apa ini yang kau sebut dengan mencintaiku? Apa dengan menamparku dan semuanya selesai? Bukankah aku sudah bilang jika aku akan menceraikanmu. Jadi kenapa bersusah payah mengotori tanganmu dan menamparku…”

“CUKUP!” Aku sudah tak tahan lagi. Jika dia begitu menderita, apakah dia tak melihat penderitaanku? Bahkan aku lebih menderita saat Minho menciumku dan tahu dia melihatnya. Aku lebih terluka saat ia mendiamkanku dan mengacuhkan aku. “Dengarkan aku, Kyu.”

“Tidak ada yang perlu aku dengar lagi. Kita sudah selesai sampai disini. Aku akan menelfon pengacaraku. Kuharap ini belum terlalu malam untuk memintanya mulai mengururs perce…”

“KYUHYUN! Aku tak akan menandatanganinya!” Dan mataku terasa panas. Hatiku sakit dan begitu hancur. “Aku mencintaimu dan kau harus percaya itu.”

“Huh, jangan kira aku akan tertipu dengan air matamu. Ini bukan sekali dua kali kau menangis didepanku, dan aku sama sekali tak peduli itu.”

“Kyuhhh…hiksss… kumohon percayalah…” Dan dia malah semakin melangkah jauh menuju pintu kamarnya. Aku segera beranjak dari kasurku dan memeluknya erat. “Kumohon Kyuh, percayalah padaku.”

Dia hanya diam membeku. Sama sekali tak membalas pernyataanku atau setidaknya mempedulikan apa yang aku katakan. Dia juga tak melepas pelukanku. Dan entahlah,tapi punggung ini begitu nyaman.

“Kyuhhh… jebal…”

Cukup lama, hanya ada hening antara kami. Hingga aku merasakan tanganku tiba-tiba basah. Apakah ia menangis? Aku melepaskan pelukanku pada tubuhnya dan memutar tubuhku hingga aku berdiri dihadapannya.

Dan dia, kembali menangis. Inikah sosok manja dan cengeng itu?

Aku mengusap kedua matanya. Sedikit berjinjit dan mencium kedua pipinya. Dan dia hanya diam. Kumohon, tetaplah menjadi Kyuhyun yang seperti ini dan jangan berubah esok hari.

“Mianhe Kyu… saranghae…”

Dan aku memberanikan diri, mencium sekilas bibirnya. Ia tak terlihat tekejut sekalipun. Ia hanya menatapku dan aku tersenyum. Memberikan senyuman terbaikku untuknya.

“Kyu, percayalah jika aku mencintaimu. Apapun akan kulakukan asalkan kau percaya padaku. Ini bukan karena Minho atau siapapun, tapi ini semua karena aku mencintaimu. Kyu… ”

Dan dia menatapku. Bisa kurasakan, lengannya mulai memeluk pinggangku…

.

Chuuu…

.

Aku benar-benar mencintainya.

.

TBC

.

.

.

Bagaimana? Romantiskah? Sedihkah?

Yupz… inilah Kyumin focus pertama aku. Mianhe jika meminjam Minho and Taemin sedikit.

Mian juga jika storynya gaje and pasaran.

Gomawo untuk yang dah review… love you all

20 thoughts on “PERSONAL TASTE || CH. 3 || YAOI || KYUMIN

  1. Romantis, sedih, so sweet~
    Ah~ smuanya pkoknya ada..
    Haddehhh~
    Aku ampe nangis bacanya chingu..
    Huweee~
    Ni critanya gk pasaran kok chingu..
    Blon tentu da yg bisa mkir crita kaya gni..

    Gamsahamnida~

    Sign,
    KarooMinnie

  2. Sweet, romantis, sedih
    Semuanya komplit eon…

    Kyu keras kepala bgt sih…
    Gak mw ngedengerin penjelasan minnie dlu…
    Jd semua ini murnih salah paham…

    next read next part:)

  3. Say ,, huee r0mance bget _.wktu di gr0up cuma ad 2 part ,, eEeh pas oprek” disni nemu dEch _.suka bget sma epep niie>.kaya’a ngena gmana gtU ahahaha😄

  4. Aish, semuanya hanya karna salah paham aja…
    Sungminnya jga sih pake nyimpen-nyimpen fotonya Minho segala. Udah tau Kyu benci ama Minho gitu.
    Tapi ini kenapa malah mau cerai. jangan dong.

  5. Bete huwaaaaa….
    Kyuhyun gak bisa dengerin Sungmin dulu kek elah, pake minta cerai segala lagi, percaya dong sama Sungmin
    Ini ff romantis tapi nyelekit nyelekit yah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s