PERSONAL TASTE || CH. 2|| YAOI || KYUMIN ||

PERSONAL TASTE

Author : rainy hearT

Length : Series

Rated : T

Cast :

-Cho Kyuhyun

-Lee Sungmin a.k.a Cho Sungmin

Pairing : || KYUMIN ||

Disclaimer : Semua cast belongs to God and themselves. Dan seperti biasanya, jika saya bisa saya sudah meng-Klaim seorang Lee Sungmin menjadi milik saya.#Mimmpi…#

Genre : ||Drama || Fluffy Angst||Sad||

Warning : || BL/ YAOI || Gaje || typo’s || EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia||

Summarry : || Kau tak butuh diriku… CINTA bukan kebutuhanmu ||

Another PRESENT From Me

PERSONAL TASTE

Just KYUMIN

Ini bukan Personal Taste vers KyuMin yang sama dengan salah satu drama Korea. Ini benar-benar memiliki cerita sendiri karena aku terinspirasi dari the only one and my lovely singer. Agnes Monica.

Please be Patient With me. Don’t Like Don’t Read. No copas No bash. Kritik and saran yang mendukung selalu diterima dengan tangan dan hati yang terbuka.

.

.

PERSONAL TASTE

.

.

HAPPY READING

.

.

Chapter 2

.

.

Cho Sungmin POV

.

Kembali aku menikmati wine dari gelas ketigaku. Merenung menatap langit luar dari balkon kamarku. Hawa dingin terus berhembus dan semakin menusuk hatiku. Saat ini, harusnya kami bergumul mencari kehangatan satu sama lain. Tapi tidak ada dalam pernikahanku. Semuanya berjalan begitu saja dan hanya menyakiti satu sama lain.

Rasanya aku ingin pergi jauh. Jika saja tak ada hati yang kujanjikan padanya, andai saja. Mungkin ini lebih baik diakhiri. Hanya ada cinta dariku namun kebencian darinya. Hanya ada perhatianku, dan rasanya aku ingin mati saja saat ia tak mau menerima sentuhanku.

Dari awal memang tak seharusnya seperti ini. Aku kembali meneguk wine yang kini semakin terasa pahit di lidahku. Ingatanku kembali pada masa, dimana aku masih bisa merasakan apa yang disebut ‘Kebahagiaan.’

.

.

Kepingan masa lalu Cho Sungmin

.

.

“Hyung, bisakah aku meminta satu hal padamu?”

Mata sayu itu menatapku penuh harap. Bagaimana bisa aku mengatakan tidak jika melihatnya dalam kondisi seperti sekarang. Tubuhnya berbalut baju putih rumah sakit dan juga selang dimana-mana selama bertahun-tahun. Aku tahu, semua tak akan lama lagi.

Dia akan pergi.

Nafasnya sudah sesak dan aku bisa mendengarnya. Seandainya saja bisa, aku lebih memilih aku yang mati daripada adikku yang aku sayangi lebih dari segalanya.

“Nde Taeminnie, mintalah apapun. Asal kau tak meninggalkan aku.”

Senyumnya terlihat samar dan lemah. Aku semakin mengeratkan genggamanku pada tangannya. Satu tangannya berusaha meraih wajahku. Ia mengusap pipiku dan kembali tersenyum.

“Hyung, aku mohon. Jagalah Minho untukku.”

Aku tak menyangka, dia akan memintaku hal seperti ini. “Minnie, aku.”

“Min hyung, waktuku tak banyak lagi.”

Kulihat garis air mata mulai turun dan membasahi ujung matanya. Wajahnya yang pucat semakin membuatku terluka. Aku tak ingin seperti ini, tapi mengapa semua usahaku berakhir begini.

Semua yang kulakukan untuk menyelamatkan Taemin, seakan tak ada artinya. Penyakit bodoh itu semakin menggerogoti tubunya dan membuatnya kehilangan hidupnya sedikit demi sedikit.

Hanya satu hal yang membuatnya masih ingin terus hidup dan melakukan terapi atau apapun untuk setidaknya memperpanjang usianya beberapa hari lagi dan lagi.

“Minho, akan pulang dari Swiss besok. Semua suratnya, aku simpan di box pink dikamarku. Hyung…”

Dia menatapku kembali. Sungguh aku tak bisa melakukannya. Tak ingin merebut kekasih adikku sendiri. Meski dia yang memintanya, tapi sama saja. Ini seperti…

“Tenanglah Hyung, aku tak menyalahkanmu.”

Aku merasakan jari dinginnya mengusap pipiku. Ingin sekali aku berteriak padanya dan memaksanya untuk terus bertahan hidup. Hanya dia yang aku miliki. “Minnie, bertahanlah untukku.”

“Ahni, Min hyung. Aku sudah lelah.”

Dia kembali tersenyum, dan itu semakin membuatku terluka. Apakah dia tak tahu, mati-matian aku menahan tangisku. Kenapa dia sangat suka membuatku menangisinya?

Kenapa seperti ini…?

.

.

Dan aku meletakkan bunga lily putih di depan nisan dengan foto yang tertempel disana. Foto seorang namja dengan rambut coklatnya yang sangat cantik. Dengan senyuman di wajah pucatnya. Dan aku hanya bisa meremas surat terakhirnya yang ia titipkan pada suster di rumah sakit.

Harusnya aku tak meninggalkannya. Harusnya aku lebih memilih Taeminnie dari pada pekerjaan dan rapat bodohku.

Dia Choi Minho. Temanku waktu aku kecil. Namja tampan yang terus saja mencuri perhatianku. Dan aku tahu, dia juga memiliki perasaan yang sama padaku. Hyung, kumohon jagalah dia untukku. Kami bertemu saat tahun pertama di elementary. Tapi saat junior dia harus pindah ke Swiss.

Kami sudah berjanji Hyung. Buatlah dirimu sepertiku, dan kumohon bahagiakanlah dia. Dan saat kau merasa semuanya sudah selesai, kau bisa menyudahinya. Kumohon Hyung…

Aku ingin melihatnya bahagia…

With Love

Lee Taemin.’

.

.

Dan aku, mulai memanjangkan rambutku. Mulai membalas setiap surat Minho. Dan inilah waktunya. Aku menunggu di bandara. Hanya memegang foto namja yang ku yakin dia ini Choi Minho.

Dan aku melihatnya dari kejauhan. Satu bentuk dari kesempurnaan yang memang sangat pantas mendapatkan Taemin. Dan aku sudah berjanji akan membahagiakan Minho.

Kebohongan demi kebohongan kulakukan. Menjadi seorang Lee Taemin, adik dari seorang Lee Sungmin. Mengaku menjadi Lee Taemin, padahal namaku Sungmin. Lee Taemin, adikku yang berharga lebih dari segalanya.

.

.

Aku mulai terbawa kehidupan indah yang dijanjikan Minho. Sejenak menyerahkan urusan kantorku pada butler yang telah menjagaku dan Taemin sedari kecil. Sejenak bersenang-senang dengan Minho.

Hingga aku mengetahui, bagaimana rumitnya keluarga Minho.

Choi Minho, adalah anak dari Choi Minseok. Namun dia sudah mati,meninggalkannya dan ibunya. Hingga ibu Minho menikah lagi dengan seseorang bermarga Cho.

Hubungan yang indah antara orang tua, namun tidak dengan Minho dan anak ayahnya. Cho Kyuhyun. Dia sosok tampan dan dingin.

Saat itu, kami sama-sama kuliah. Dan aku mengambil kelas yang sama dengan Taemin dan aku mengaku sebagai Taemin. Apakah berlebihan? Aku tahu ini salah…

Semuanya berjaan dengan baik, hingga satu masalah terjadi.

Entahlah, sejak kapan aku merasakannya. Menginginkan seorang Cho Kyuhyun untuk terus berada didalam pandanganku. Menginginkan wajah itu untuk terus ada dalam bayangan fikiranku. Setiap menit dan setiap jam. Makin bertambah setiap harinya, kerinduan dan juga kecintaanku padanya.

Setiap kali aku bersama Minho, hanya dia yang ada dimataku. Awalnya, aku sungguh ingin menyelesaikan semua permintaan Taemin. Namun dengan berbohong seperti ini, aku tak bisa melakukan apapun.

Bahkan tak mampu mengendalikan perasaanku sendiri. Hatiku yang perlahan tertarik kedalam mata dinginnya. Dan fikiranku yang perlahan mulai melupakan janjiku pada Taemin.

.

.

Dan satu kenyataan harus aku hadapi.

.

“Aku tahu kau bukan Taemin.”

Aku sempat terkejut dan tak bisa berfikir. Seakan duniaku berhenti dan gelap seketika. Minho, dia hanya tersenyum dan meraih pipiku. Mengusap rambut panjang coklatku, rambut yang sama dengan Taemin.

“Meski seakan sama, aku tahu kau bukan Taemin.”

“Minho… aku…”

“Gwenchana hyung, aku bisa memahaminya.”

“Siapa yang memberitahumu?”

Dia mengacak pelan rambutku dan mencium keningku. Sungguh perlakuan lembut yang sempurna. Namun mengapa, aku sama sekali tak merasa bahagia? Dan akhirnya, aku menemukannya.

Sosok yang aku inginkan, menatap penuh kebencian padaku. Ia membenarkan kaca matanya dan meninggalkan tempatnya bersembunyi. Entahlah, ia tengah memata-mataiku atau memang tak sengaja melihat kami, tapi sialnya…

“Sejak awal aku sudah merasa aneh denganmu Hyung. Taemin, dia itu selalu ceria. Meski kau pun juga begitu tapi, ada saja hati yang tak bergetar saat bersamamu.” Minho mulai beranjak dari duduknya dan kini menengadahkan kepalanya. Menatap birunya langiet sore di belakang rumah megahnya.

“Aku menanyakannya pada butler Kim dan mungkin saja dia tak tahu tentang aku dan Taemin, jadi dia malah mengantarkan aku ke makam Taemin.” Dia memutar tubuhnya dan menatapku.

Aku sendiri hanya bisa terdiam kaku. Rasanya dingin telah merasuk kedalam tubuhku. Perasaan bersalah dan pengkhianatan. Aku sungguh ter berniat untuk membohongi siapapun.

Tapi Minho, dia…

Bibir itu, mengecup lembut pipiku. Seakan ia tengah menghirup wangiku. Menekan tengkukku dan mulai membuatku menikmatinya. Hingga akhirnya aku merasakan bibir itu mulai merasuk dalam diriku.

Mencuri ciuman pertamaku. Tapi, apakah ini yang aku inginkan? Jika terus kulakukan, hanya akan ada pengkhianatan pada Taemin. Aku, tak bisa melakukannya. Aku…

Aku mendorong pelan tubuh Minho agar menjauhiku. “Minho, aku…”

Dan dia hanya tersenyum. “Aku akan membantumu, aku tahu.”

“Aku…”

Tak kusangka, namja seperti dia bisa menatapku dengan lembut seperti ini. Matanya begitu dalam dan menenangkan. Ia menggenggam jariku dan mencium leherku. Rasanya seluruh tubuhku bergetar dan dingin.

“Tenanglah, Kyu hyung akan menjadi milikmu. Sebagai hadiah dariku, terima kasih Hyung.”

Kurasakan basah menyentuh telingaku. Dia sedikit memainkan lidahnya disana. Membuatku merinding tak karuan. Kemudian dia membawaku dalam pelukan eratnya.

.

Dia terlalu sempurna.

.

.

“Aku akan membuatmu dan Kyu hyung bersama.”

“Tapi, aku… eum, hubunganmu dengan Kyu juga…”

“Tenanglah Hyung. Meski dia dingin padaku, aku tahu dia menyayangiku.”

Minho kembali tersenyum dan menggenggam erat tanganku. Inilah saat terakhir dimana aku merasakan kebahagiaan itu. Saat dimana aku menemukan apa yang sebenarnya dicintai Taemin, dan aku tahu Minho memang pantas untuknya.

“Maaf soal Taemin, aku tak bisa menjaganya. Aku sudah berusaha, tapi tetap saja…”

“Tenanglah hyung, kami akan bersama dan baik-baik saja.”

Dan senyuman itu kembali menghiasi bibirnya. Seandainya Taemin masih hidup, dia pasti akan terus menatapi wajah tampan ini. Aku hanya bisa terus menyesali kematiannya lagi dan lagi.

.

.

“Andwe!”

Aku berlari menyusuri lorong rumah sakit. Berharap jiwanya masih ada dan mau menungguku. Meski aku tak mencintainya, bukan berarti aku tak peduli. Dan dia adalah separuh hati yang dititipkan Taemin padaku.

“Minho…”

Aku melihatnya di ruangan yang sama. Ruangan putih dengan bau yang sungguh kubenci. Bertahun aku menemani Taemin ditempat seperti itu, hingga akhirnya sekarang aku kembali kesini.

Menatap tubuh lemah dengan begitu banyak perban dan juga selang yang menempel ditubuhnya. Tidakkah dia merasa sakit? Apakah dua orang ini suka sekali melihatku menangis.

“Minho…”

Dan dia hanya tersenyum. Mengangkat pelan tangannya dan mencoba menggapaiku. Aku mendekatkan diriku padanya. Dan suara pintu terbuka seakan menyadarkan aku akan kehadirannya.

Ia, datang membawa kesedihan yang mendalam. Aku tahu, apa yang dikatakan Minho memang benar. Dia menyayangi Minho.

“Kau datang Hyung.” Minho tersenyum dan terus menatap Kyuhyun. “Kemarilah.”

Jantungku semakin berdebar kencang. Wanginya mulai menusuk paru-paruku. Dia adalah gambaran kesempurnaan dalam mataku. Cho Kyuhyun.

“Kumohon, lakukan satu hal untukku.”

Minho menatap penuh harap pada Kyuhyun. Ingin aku berteriak dan memakinya, tingkah Minho seperti orang yang mau mati saja. Kenapa seperti ini…

“Jagalah Min hyung untukku… menikahlah dengannya…”

“Minho…”

.

.

.

.

Dan aku hanya bisa kembali lagi dan lagi hanya bisa menghela nafasku. Aku tak ingin menangis. Aku beranjak dari dudukku dan meninggalkan beberapa botol wine dan gelasku.

Berdiri didepan kaca besar yang ada diruanganku. Menatap diriku sendiri, dan benar-benar diriku. Bukan kepingan dari Taemin. Bukan kepingan yang masih ada dalam penglihatan Minho dua minggu yang lalu.

Pernikahanku, memang berjalan dengan baik pada awalnya. Dimana ibu Minho dan ayah Kyuhyun sangat menerimaku. Hubunganku dengan Kyuhyun juga sangat baik…

Namun itu saat di rumah keluarga Cho. Begitu aku keluar dari sana, rasanya semua seperti neraka yang terus berjalan mengikutiku.

Kepingan kesedihan seakan membangun lukaku dan menambahnya lagi. Aku tak tahu, sampai dibatas apa aku bisa bertahan.

.

.

Aku menatap fotoku dengan Taemin. Wajahnya adalah satu simbol kebahagiaanku. Dan aku juga menatap foto Minho yang kuletakkan bersama dengan foto kami. Wajahnya adalah satu simbol kesempurnaan.

Aku berjalan meninggalkannya. Menuju satu sisi dinding dikamarku. Foto pernikahanku dengan Kyuhyun. Sangat terlihat jelas, senyuman itu… ia paksakan.

.

.

“Selamat pagi…”

Aku kembali menyapa Kyuhyun dan dia hanya diam. Entah sampai kapan akan terus seperti ini? Apakah aku bisa? Haruskah aku memaksanya?

Aku beranikan diriku menghadang langkahnya. Ini hari libur, tapi dia sudah rapih dan entah akan pergi kemana. Tak bisakah sehari saja dia mengingat jika ada aku dirumah ini.

“Berhenti Kyu. Kita perlu bicara.”

“Bicara saja, aku mendengarmu.”

Wajah dingin itu, bisakah dia melepasnya barang sebentar? Bisakah dia menatapku layaknya aku ini manusia juga?

“Sebenarnya ada apa denganmu? Sejak dari rumah Umma, kau tak pernah menganggapku lagi. Kyu…”

Dan dia hanya diam. Beranjak dari hadapanku dan duduk di sofa. Mulai membaca koran paginya. Sungguh menyebalkan. Dia ini tuli atau buta? Kenapa semakin tak berperasaan seperti ini?

Dan dia hanya diam. Aku duduk disisinya. Meletakkan kopi hitam untuknya. Ia hanya melirikku sekilas, kemudian kembali sibuk dengan kopinya. Cho Kyuhyun… sebenarnya apa salahku?

“Bukankah sudah kukatakan, aku tak mau semua hal yang terkena sentuhan tanganmu. Apa kau tuli?”

Dia berbicara pelan, seperti menggumam. Tapi itu lebih dari cukup untuk membuatku merasa bahwa dia memang benar-benar tak menginginkan aku. Aku menggenggam kuat tanganku. Terus mencoba meyakinkan diriku sendiri, bahwa ini yang memang seharusnya aku lakukan.

Aku merebut korannya, dan dia menatapku tajam. Sungguh, sekarang aku begitu takut. Rasanya seluruh tubuhku dingin dan tak bisa bergerak.

“Apa maumu huh? Mengganggu saja.”

Dia hendak beranjak pergi, namun sekuat hati aku mencoba memberanikan diriku. Menahannya, meraih lengannya.

“Lepaskan! Aku sudah mengatakannya padamu berulang kali, apa kau masih juga tak mengerti? Aku tak mau kau sentuh. Menjijikkan.”

“CUKUP!”

Aku berteriak keras padanya. Nafasku terasa sesak dan penuh. Mataku memanas dan seluruh tubuhku lemas. Tak pernah aku melakukan hal seberani ini selama beberapa bulan ini. Aku hanya terus berfikir jika diam, tak akan menyelesaikan masalah.

“Apa salahku Cho Kyuhyun? Bukankah kita seharusnya tak seperti ini?”

“Pikirkan saja sendiri. Lepaskan!”

“Aku tak akan melepasnya.” Aku semakin erat memegang pergelangan tangannya. “Jelaskan! Kenapa kau seperti ini? Dulu saat dirumah umma, kau tak seperti ini. Kau sangat menghargaiku, dan setidaknya menganggapku. Sekarang apa? Kenapa?”

Dia tersenyum kecil dan melepas tanganku. Kemudian duduk bersila menghadapku. “Umma, dia adalah orang yang paling kubenci, tapi sayang aku harus mengakui jika dia memang orang yang sangat baik. Sekedar menghormatinya, bukankah itu wajar?”

“Apa maksudmu?”

“Lee Sungmin.” Dia menggelengkan kepalanya, seakan ada yang aneh dan salah padaku.”Kenapa kau memotong rambutmu? Apakah kau sudah bosan menjadi Taemin? Atau kau sudah tak mencintai Minho lagi?”

“Mwo?”

Aku sungguh tak mengerti dengan ini semua. Apa maksudnya. “Aku tidak menjadi Taemin, harus kukatakan berapa kali. Dia memintaku, kau harus percaya itu.”

“Apakah dengan kau bermesraan dan selalu bersama Minho itu juga Taemin yang memintanya?” Dia tertawa kecil. “Kau pikir aku buta? Tak bisa melihatnya? Kau pikir aku tak tahu, kau juga mencintai Minho?”

“Kyu, aku tidak…”

“DIAM!” Dia beranjak dari duduknya dan mendekati foto Minho yang ada di dekat TV kami. Mengambilnya dan menyerahkannya padaku. “Bukankah ini rumah kita? Lalu kenapa dimana-mana ada Minho?”

Aku…

Benarkah…

Apakah dia cemburu…

.

.

TBC

.

.

.

Jangan bunuh author karena menyiksa Ming Umma…

Yupz… inilah Kyumin focus pertama aku. Mianhe jika meminjam Minho and Taemin sedikit.

Mian juga jika storynya gaje and pasaran.

Otte? Dapet ga angst-nya

Gomawo untuk yang dah review… love you all

16 thoughts on “PERSONAL TASTE || CH. 2|| YAOI || KYUMIN ||

  1. Jd selama ini kyuhyun salah paham….
    Kyuhyun mengira sungmin cinta sama minho, sampai” pura-pura jd taemin…

    Aigoo kyu harusnya dengerin penjelasan sungmin dulu…
    Jgn langsung salah paham gt…

    Cemburu memeng bisa mengerikan….

    D tunggu lanjutannya eon…

  2. Oww~
    Jd kyu cemburu nih..
    Aihhh~
    Tp jgn jahat” dun sama min..

    Aku jd mw culik sungmin..
    Abis kasian d’cuekin kyu..

    Gamsahamnida~

    Sign,
    KarooMinnie

  3. awalnya kalo gak baca tulisan BL aku kira min itu yeoja, soale ada kata rmbut panjang sih..
    aduh si kyu dah ngrasa cemburu..
    ming umma bersabarlah be patient with evil kyu appa!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s