HATE TO HEART U || CH. 11|| KYUMIN || YAOI

Hate To Heart U

Author : rainy hearT

Cast :

– Cho Kyuhyun

– Lee Sungmin

– Henry Lau

– Other SUJU member

Pairing : ||KYUMIN || slight HenMin || Other Pairs

Genre : Romance, Drama, Sad

Rating : M

Length : Series

Disclaimer : All cast punya diri mereka sendiri dan Tuhan. #Sungmin akan selalu dan selalu punya saya#plakkk#

Warning : Please be patient|| BL/Boys Love/YAOI || EYD tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia || typos || GS for Umma ||

Sumarry : || I am sorry but i have been waiting for this moment, I have been waiting forever. That your long-time love would end. Forget about him and wash him off from your mind. He’s not meant to be with you. So baby won’t you come to me…||

.

Be Patient With Me

.

NO COPAS ! NO BASH ! NO FLAME !

Don’t Like, please Just Don’t READ

.

.

HAPPY READING

.

HATE TO HEART U

.

Chapter 11

.

.

Siwon x Heechul Side

Chocolate and Love Cafe

.

.

Di ruangan ini, kembali dua makhluk cantik dan tampan itu saling berhadapan. Menatap dengan mata malasnya dan juga wajah kesal yang sering sekali ia perlihatkan belakangan ini.

“Jangan menatapku seperti itu. Aku hanya ingin melakukan pembicaraan yang ku pikir akan membuatmu senang.”

Namja itu berusaha meraih tangan yeoja yang ada di depannya, Cho Heechul. Tapi Heechul langsung menarik cepat tangannya sebelum tersentuh oleh namja yang ada didepannya itu.

“Jangan bermain denganku Siwon. Cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan. Mengulur waktu saja.”

Siwon hanya tersenyum sekilas, kemudian berdiri dan duduk di samping Heechul. Salahkanlah desain ruangan VIP di cafe itu. Dua buah sofa yang cukup besar saling berhadapan, membuat Siwon dengan seenaknya duduk memepet Heechul.

Heechul sudah mencoba berdiri dan menghindari Siwon, tapi lengan Siwon yang langsung melingkar indah di pinggang Heechul menguncinya. Heechul menatap kesal pada namja yang masih memasang senyumannya itu.

“Kau berlebihan! Kau sadar itu?”

“Tenanglah, aku hanya ingin memelukmu. Pintunya sudah ku kunci, jadi tak akan ada pelayan yang masuk dan melaporkanmu pada tuan Cho kesayanganmu itu.”

Heechul hanya memutar bola matanya dan berdecak kesal, tapi tidak dengan Siwon. “Kau masih wangi seperti yang dulu.”

Heechul menggeliat tak nyaman didalam dekapan Siwon. “Bisakah kau lepaskan aku sekarang? Ini tak sepantasnya Tuan Choi yang terhormat.”

Tapi Siwon malah semakin mengeratkan pelukannya pada Heechul. Semakin menghisap dalam pada ceruk leher yeoja itu. Berbisik lirih ditelinganya, “Apa kau tahu? Satu hal yang sangat sulit untuk ku hapus dari pikiranku. Dimana disana ada satu nama yang selalu menutup hatiku untuk yang lain. Chullie… Saranghae.”

Suara Siwon terdengar perih dan serak. Heechul sama sekali tak bisa marah kali ini. Ia hanya bisa menahan perasaan ibanya pada Siwon. Tak ingin menjadi boomerang yang seakan memberikan satu harapan pada namja yang masih saja mencintainya hingga sekarang.

“Apa kau senang, aku menikah dengan Kibum?”

“Tentu saja.”

“Wajahmu terlihat begitu tenang saat kau datang ke pernikahanku, Chullie. Apa kau sama sekali tak merasakan sakitnya aku saat melihatmu datang dengan sahabatku sendiri?”

Suara Siwon semakin lirih dan nafasnya semakin kencang menggelitik leher Heechul. Satu per satu tetesan itu jatuh di bahu Heechul. Menunjukkan betapa namja ini mencintainya. “Ini menyakitkan Chullie. Jika bisa, aku ingin mengulang waktu dan tak mau bertemu denganmu.”

Tubuh Heechul seketika dingin. Ia tak tahu apa ini salahnya atau kesalahan cinta yang ada di hati Siwon. Perasaannya dulu yang tak sepenuhnya pada Siwon, seakan memberikan beban tersendiri padanya sekarang.

Namja ini begitu mencintainya, sedangkan seorang Kim Heechul yang dulu adalah yeoja yang merindukan kekasihnya yang pergi dan sama sekali tak memberi kabar sedikitpun. Jika boleh membela, maka disini korbannya adalah seorang Choi Siwon.

Heechul menoleh pada Siwon. Kedua tangannya terulur untuk mengangkat wajah tampan yang masih menangis lirih di bahu Heechul. Mengusap garis air mata itu di pipi Siwon.

“Gwenchana Siwonie. Mianhe, ini semua salahku.”

Siwon hanya menggeleng lemah. Seperti anak kecil yang sedang marah, wajah tampannya yang terbiasa tegas dan tegar seakan menghilang sekarang. Heechul tersenyum, senyuman termanis yang pernah ia hadiahkan pada Siwon disepanjang kisah mereka.

“Apa kau senang, melihatku menikah dengan Kibum?”

“Kenapa kau menanyakannya lagi. Tentu saja aku senang.”

“Kau tahu, aku tak bahagia?”

“Tapi dia mengandung anakmu. Henry itu benar-benar anakmu.”

Siwon mengusap lembut jemari Heechul yang masih menempel di pipinya. “Seharusnya aku menikah denganmu, maka semuanya akan mudah Chullie.”

Heechul menggeleng pelan. “Tak akan semudah yang kau bayangkan.” Heechul hendak menarik kedua tangannya yang ada di pipi Siwon, tapi Siwon masih menahannya. “Wae, aku tak ingin kau semakin mencintaiku. Bukan aku terlalu percaya diri Siwonie, tapi aku tahu benar kau sangat mencintaiku.”

“Aku ingin seperti ini dulu Chullie.”

“Siwonie, mengertilah. Kita sudah lama berakhir.” Ibu jari Heechul mengusap pelan pipi Siwon. ” Tak seharusnya kita seperti ini.”

“Apa kau yang meminta Kibum menceraikan aku?”

“Mwo?”

“Dia memberikan surat cerai padaku. Memintaku untuk menandatanganinya, dan kurasa itu salah satu ide gila kalian.”

“Ahniya… aku tidak memintainya untuk membuat surat cerai itu. Sama sekali tidak. Aku hanya memintanya untuk tegas melawan semua penindasanmu. Dia terlalu mencintaimu, kuharap kau mau memikirkan semuanya.”

Siwon terdiam sejenak. Jemarinya yang masih mengunci jari Heechul di pipinya mengusap pelan punggung tangan Heechul. Betapa ia merindukan sentuhan lembut yang dulu menjadi miliknya. Siwon menatap dalam pada Heechul. “Bolehkah aku menciummu?”

“Mwoya?” Siwon semakin mendekatkan wajahnya pada Heechul. Kedua tangan Heechul yang masih menempel dan terkunci di pipi Siwon, semakin membuatnya tak bisa menahan Siwon untuk menciumnya.

Sebuah ciuman yang lembut dan memaksa dari Siwon. Sama sekali tak bisa dihindari oleh Heechul. Betapa ia ingin menangis sekarang, tapi tak mungkin. Harga dirinya terlalu tinggi untuk menangis didepan Siwon.

Siwon melumat lembut bibir Heechul, menekan tengkuknya dan semakin memperdalam ciuman mereka. Tapi sebuah kesadaran seakan membangunkan Siwon. Ia menghentikan ciumannya dan mengusap lembut bibir Heechul dengan ibu jarinya.

“Bibir ini masih manis. Masih sama seperti yang dulu.”

“Huh… kurang ajar sekali. Kau pikir aku ini yeoja seperti apa? Seenaknya!”

Tapi Siwon tak mengacuhkan ocehan Heechul. Ia menarik cepat tubuh Heechul dan memeluknya erat. “Balaslah pelukanku Kim Heechul, biarkan aku mengenangmu sebagai Kim Heechul yang dulu pernah menjadi milikku.”

Heechul masih diam. Ia sama sekali tak bergerak sedikitpun. Di saat ini, hati Siwon malah terasa semakin sakit saat secara langsung Heechul seperti mengatakan bahwa dia sudah melupakan semua kenangan yang ada diantara mereka.

“Jebal Chullie…”

Suara lirih, berat dan serak itu membangunkan rasa iba yang dalam di hati Heechul. Perlahan lengannya tergerak untuk sekedar mengusap punggung Siwon.

“Gomawo Chullie, aku akan selalu mencintaimu.”

.

.

At Sibum House

.

.

Siwon melangkah pelan memasuki rumahnya. Ia membuka perlahan pintu kamar Henry. Menemukan namja itu tertidur di kasurnya. Mendekat dan duduk di sisi tubuh Henry. Mengusap dahinya.

Siwon tersenyum kecil saat melihat begitu banyak tanda kemerahan di leher Henry. Meski tak tahu itu siapa, tapi yang pasti bukan Sungmin. Siwon menepuk pelan pipi Henry, mencoba membangunkannya saat satu pikiran tak pasti mulai merayapi otaknya.

“Eungh… Appa…?”

Henry menggeliat pelan dan membuka matanya perlahan. Menatap wajah tampan yang tersenyum padanya. “Nde baby, ini appa.”

“Wae? Malam sekali Appa membangunkan aku. Aku masih mengantuk appa.”

Henry menatap heran pada Siwon yang malah tersenyum dan mengendurkan ikatan dasi di lehernya. “Kau baru pulang?”

“Nde.”

“Malam sekali. Apa terlalu berat Appa? Kau sangat sibuk.”

“Ahni, hanya keluar dengan rekan bisnis dan membicarakan tender di Jepang. Duduklah, Appa ingin berbicara padamu.”

Henry mendudukkan tubuhnya dan sedikit menutupi lehernya dengan memiring-miringkan kerah piyamanya saat menyadari kalau jejak merah di lehernya begitu terlihat meski di tengah remangnya cahaya di kamar Henry.

“Tak usah ditutupi, Appa sudah melihatnya.”

Henry hanya tersipu malu saat melihat Siwon mengatakannya penuh dengan senyuman aneh. ” Tapi, kau tidak di rape kan?”

“Mwo?” Henry menggeleng cepat, “Ahni appa. Aku tidak di rape. Hanya saja… eummhhh… itu… aku…”

Siwon terkekeh pelan, melihat wajah merah Henry yang masih jelas terlihat. “Sudahlah, lakukan apapun yang kau mau asal kau bahagia.” Siwon mengusap pelan pucuk kepala Henry. Dengan perasaan takut yang menumpuk di hatinya, Henry berusaha untuk menanyakan satu hal sebelum bayangan Siwon menghilang dibalik pintu kamarnya.

“Chakkaman Appa.”

Henry sedikit berlari dan mendekati Siwon. “Bisakah aku meminta satu hal padamu?”

“Tentu saja, katakan apa yang kau mau baby.”

Henry menatap dalam pada mata Siwon kemudian memeluk tubuh tegap namja itu. “Appa, bisakah kau batalkan pertunanganku dengan Sungmin hyung?”

Meski sedikit kaget, tapi Siwon berusaha tenang. Ia melepas pelan pelukan Henry dan mengusap pipi chubby putranya itu. “Wae? Kenapa malah minta di batalkan? Bukankah kau sendiri yang malah meminta pertunangan dan pernikahan ini dilakukan secepatnya.”

Henry menggeleng lemah. Ia menundukkan wajahnya, sedikit menyembunyikan rasa malu yang perlahan mulai menghangatkan hatinya. “Lihatlah berapa banyak tanda merah di bahu dan leherku. Asal appa tahu, ini bukan pekerjaan Sungmin Hyung.”

“Nde, appa tahu.”

Henry mengangkat wajahnya yang sudah sangat merah itu dan menatap Siwon. “Aish, memalukan. Kenapa Appa pintar sekali. Baiklah, mungkin appa akan marah padaku jika mengatakannya. Tapi kali ini, aku sungguh mencintainya Appa. Bukan seperti aku mencintai Sungmin hyung. Ini lain, dan terasa sangat berbeda.”

Henry menyeret Siwon untuk duduk bersamanya di kasurnya. Mulai menceritakan betapa ia mengagumi seorang namja yang selama ini selalu bersamanya. Menceritakan setiap detail perasaannya yang terasa sangat berbeda dengan perasannya pada Sungmin dulu.

.

.

Siwon melangkah ke kamarnya dengan senyuman kelegaan yang begitu terlihat di wajah tampannya. Ini sudah sangat malam, tengah malam dan sedikit dingin karena hujan yang turun perlahan. Siwon melangkah pelan masuk ke kamar mereka. Kamar Kibum dan Siwon.

Matanya tertuju pada satu makhluk cantik yang masih sibuk dengan bukunya. Kibum, terlalu serius menatap pada buku tebal dengan judul manajemen bisnis yang mulai ia baca kembali untuk mengingatkan semua pelajarannya saat kuliah dulu.

Siwon duduk di tepi kasur, tepat disisi tubuh Kibum yang masih duduk bersandar pada sandaran kasur mereka. Merasa diacuhkan, Siwon mengambil buku itu dari pandangan Kibum dan meletakkannya di atas meja kecil disisi bed mereka.

“Lakukanlah yang biasa kau lakukan Bummie.”

Kibum mengernyit heran menatap Siwon yang terlihat sangat berubah sekarang. “Maksudmu, membaca buku? Aku membacanya karena nantinya aku akan mengurus perusahaan Appa. Akan sangat aneh jika aku tak bisa melakukan apa-apa selain memerintah orang.”

“Bukan yang itu. Lagi pula kurasa kau tak harus melakukannya lagi.”

Kibum mengernyit heran. Ia menatap pada Siwon yang masih tersenyum aneh padanya. “Kelihatannya kau senang sekali. Apa kau senang akhirnya bisa bercerai denganku?”

Kibum kembali dengan kesinisannya yang sedang mode on. Dia beranjak dari kasurnya dan mendekati satu kulkas kecil di sudut kamar mereka. Berdiri menatap foto pernikahan yang sudah ia turunkan dan kini berada di sisi perapian.

Siwon yang baru melihatnya hanya bisa menahan keterkejutannya. Ia berjalan pelan mendekati Kibum dan menatap hampa pada foto pernikahan mereka. “Apa kau sangat bersemangat sampai kau sudah menurunkan foto ini, bahkan sebelum aku menyetujui perceraian itu.”

“Bukankah kau sangat menginginkannya. Bercerai denganku dan menikah dengan Heechul eonni. Aku bahagia jika kau juga bahagia, kurasa semua yang aku lakukan selama ini sudah cukup.”

Siwon berjalan mendekat kearah Kibum. Meraih pinggangnya dan menariknya kedalam pelukannya. “Belum cukup Bummie, dan bahkan tak akan pernah cukup.”

“Lepaskan aku Tuan Choi, aku sudah tak akan menjadi istrimu lagi. Ah, seharusnya tadi aku tidur di kamar tamu. Mianhe mengganggu waktu istirahatmu.”

Kibum berusaha melepaskan lengan Siwon yang melingkar di pinggangnya. Tapi semua sia-sia, kini malah Siwon semakin mengeratkan pelukannya dan mengusap punggung Kibum.

Jantung Kibum berdetak kencang saat ini, ia tak menyangka hal ini akan terjadi padanya. Bahkan untuk bermimpi saja rasanya ia tidak berani melakukannya. Perlahan tapi pasti Siwon sedikit menunduk dan berbisik pada Kibum.

“Lakukanlah hal yang selalu kau lakukan untukku Bummie. Tinggalkan kehidupan barumu dan kembalilah pada Bummie yang dulu kukenali.”

Perlu waktu yang lama bagi Kibum untuk bisa mengerti setiap perkataan Siwon. Ia sungguh tak tahu apa yang sebenarnya ada didalam otak Siwon. “Apa maksudmu? Katakan saja dengan jelas. Kau sangat membingungkan.”

Siwon melepaskan pelukannya dan meraih kedua tangan Kibum. Menuntunnya untuk menyentuh dasi Siwon. Dan sekarang, riuh detak jantung keduanya seakan mengisi malam yang begitu sunyi setelah hujan mereda.

Angin dingin sedikit berhembus dan menerpa tubuh mereka berdua. Perlahan, Kibum melepaskan dasi Siwon. Membuka kancing kemejanya satu persatu dan melepaskannya. Berjalan pelan ke kabinet pakaian mereka dan mengambil piyama Siwon.

Setelah meletakkan piyama itu, Kibum membuka pelan kaitan ikat pinggang Siwon dan melepaskan celana panjangnya. Inilah hal yang selalu di lakukan Kibum jika Siwon pulang dalam keadaan mabuk.

Seperti anak yang manja, Siwon akan meminta Kibum untuk melepaskan semua pakaiannya dan menggantinya. Mengusap tubuhnya dengan handuk hangat dan mengeringkannya. Memakaikan piyamanya dan mencium kening Siwon.

“Sekarang, tinggal ciumannya Bummie.”

“Ahni… akk… aku… Akh, itu tidak perlu.”

Kibum segera pergi dan membawa semua pakaian kotor Siwon dan juga handuk hangatnya. Bersembunyi didalam kamar mandi, mengatur detak jantungnya yang masih begitu cepat.

Kibum jatuh terduduk dan bersandar pada pintu kamar mandi. Mulai terisak pelan dan meremas kuat baju piyamanya. Menangis lirih dan terus mengumpat Siwon.

Siwon mengetuk pelan pintu kamar mandi. Ia sudah lengkap dengan piyamanya. Hasil pekerjaan tangan Kibum. “Ayolah Bummie, jangan seperti ini. Hentikan kebiasaanmu menangis dibelakang pintu.”

Tapi sama sekali tak ada jawaban. Kibum pun masih sibuk menangis . Entah apa yang ia tangisi, sama sekali tak mengerti mengapa hatinya merasa sakit sekarang. Dan dengan terpaksa, Siwon mendorong kuat pintu itu hingga Kibum harus bergeser dan menepi ke dinding bathtub mereka.

Siwon berjongkok dan mengusap pelan pipi Kibum. “Disini dingin. Sebaiknya kau mengganti bajumu yang mungkin saja basah. Aku tak mau kau sakit.”

“Wae?”

Kibum berbisik lirih dan terus terisak. Menyembunyikan wajahnya di balik rambut lurusnya yang jatuh dan menutupi pandangan Siwon.

Siwon mengangkat tubuh Kibum dan menuntunnya untuk keluar dari kamar mandi. Cetak basah terlihat di selana piyama Kibum. “Kau harus mengganti piyamamu Bummie.”

“Wae?”

“Bajumu basah, dan aku tak ingin kau sakit.”

Kibum menatap sinis pada Siwon. Ia mengusap kasar air matanya dan mendorong tubuh Siwon untuk menjauh darinya. “Pergilah. Jangan membuatku untuk terus berharap padamu Wonie.”

“Ahni.” Siwon memeluk tubuh mungil Kibum dan menciumi pucuk kepalanya. Sedangkan Kibum masih saja terisak lirih di pelukan Siwon. “Aku akan bertahan denganmu Bummie.”

“Mwo?”

Kibum tercekat. Jantungnya kembali berpacu cepat sekarang. Ia mengangkat wajahnya dan mencoba melihat pada Siwon. “Sebaiknya jangan memberi harapan padaku, atau aku akan terus berharap dan bermimpi kau akan tetap menjadi suamiku.”

.

Srett…

.

“Apa yang kau lakukan? Turunkan aku.”

.

Brukkk…

.

Siwon melempar kasar Kibum keatas bed mereka. Menatap dalam pada Kibum dan perlahan membuka kancing piyamanya satu per satu.

“Wonie, apa yang akan kau lakukan?”

Seperti akan diperkosa, Kibum terus berusaha memundurkan tubuhnya dan menjauh dari Siwon. Tapi gerakannya terhenti saat kedua tangan Siwon mengunci tubuhnya.

“Aku tak bisa menjelaskannya padamu Bummie. ”

Dan Siwon semakin mendekat pada Kibum. Ia mulai menciumi tubuh Kibum yang masih terbalut piyamanya. Jantung Kibum sudah berdetak begitu cepat dan seakan hendak meledak beberapa detik lagi. Kesadarannya seakan hilang dan berganti dengan satu kata yang disebut nikmat.

Lidah Siwon memanjakan lehernya dan perlahan Kibum melenguh pelan. Meremas kuat sepreinya saat tubuh Siwon menindihnya.

“Biarkan aku menjelaskannya dengan caraku sendiri Bummie.”

Siwon berbisik lirih, dan lidahnya kembali bekerja. Memanjakan leher Kibum, menggigit dan menghisapnya. Tangannya sudah merayap ke dada Kibum. Membuka kaitan kancing piyamanya satu per satu.

Mengusap pelan apa yang tersembunyi di balik piyamanya. Menggesekkan privatnya pada bagian bawah Kibum. Seakan menggodanya untuk melenguh keras di telinganya.

“Ahhhh… Wonieeehhh.. auhhhhh…”

.

.

At KyuMin House

.

Namja itu, mengusap pelan pipi chubby Sungmin yang masih tertidur pulas di atas kasurnya. Kyuhyun, sudah lengkap dengan seragamnya dan satu nampan berisi sarapan mereka. Sedangkan Sungmin, masih asyik bermimpi seakan tak terganggu sama sekali dengan sinar matahari yang mulai masuk kedalam kamar Kyuhyun.

Kyuhyun meletakkan nampan itu dan duduk disisi Sungmin. Mengusap pelan pipinya dan mencium sekilas bibir pouty yang sedikit terbuka itu. Entah apa yang Sungmin gumamkan, bibir itu terus saja bergerak-gerak seakan tak terganggu dengan ciuman Kyuhyun.

“Hei… kenapa kau semakin menggemaskan Minimi. ”

Kyuhyun mencubit kecil pipi Sungmin. Dan kembali, Sungmin hanya menggeliat kecil dan terus saja tidur. Kyuhyun berbaring disisi Sungmin dan menatap lekat wajahnya.

Jari telunjukknya terulur untuk mengurutkan kesempurnaan wajah yang selalu ada di dalam pikirannya itu. Dan Sungmin mulai sedikit terganggu sekarang

.

.

Lee Sungmin POV

.

.

Mulai dari wangi sup ayam yang bisa kucium meski dalam mimpiku dan sekarang seakan wangi itu tertutup sempurna oleh wangi maskulin yang sangat aku kenal. Ayolah, aku masih ingin tidur. Jika aku bangun dan melihat Kyuhyunie, aku akan kembali berpikiran yang tidak-tidak.

Entah mengapa belakangan ini ia semakin terlihat seksi. Dan semakin aku memperhatikan wajah tampannya, maka akan semakin terlihat bahwa dia itu sangat sexy. Meski bertambah sedikit gemuk dan chubby pada pipinya, tapi itu…

.

Aish… he is so damn HOT…

.

Dan apa lagi ini? Dia mengusap bibirku dengan jarinya. Apa dia sedang menggodaku sekarang? Baiklah, kali ini aku harus bangun. Mungkin jika tidak, maka aku akan terlambat untuk sekolah.

Eh, sekolah…

Sekolah…

“Kya!”

.

Jedukk…

.

“Awhhh… appo…”

“Sakit Minimi.”

“Kya! Ini salahmu Kyuhyunie.” Aku mengusap dahiku yang sexy (?) ini. “Aishh… pasti akan benjol ini. Kyuhyunie kau menyebalkan! Kenapa sedekat itu denganku?”

“Ya salahmu sendiri. Kau bangun mendadak.”

Kyuhyun juga sibuk mengusap dahinya. Dia masih menggerutu kesal. Dan jujur kukatakan, wajah kesalnya itu sangat menggemaskan. Aku menurunkan tangannya dari dahinya dan mencium dahinya.

“Eih…”

“Morning kiss Kyuhyunie.”

Tapi setan pervert ini malah menunjuk bibirnya dengan telunjuknya dan memainkan telunjuknya di bibir itu. Aish, dia sedang menggodaku. “Hei, sejak kapan kau suka menggodaku Kyuhyunie.”

“Ayolah. Mana ada morning kiss di dahi, dari ukeku sendiri pula. Kalau aku yang memberikan morning kiss di dahi itu wajar. Aku kan seme, tapi kau uke chagi. Jangan menurunkan pangkatku.”

Ah, aku lupa. Dia ini setan pervert tingkat paling atas, dimana semua yang berhubungan dengan kemesumannya padaku itu benar. “Hei, Tuan Muda Cho Kyuhyun yang tersayang. Kau pikir aku ini akan selamanya jadi uke? Sudahlah, aku mau mandi.”

Aku segera beranjak dari kasur Kyuhyun. Ya, karena aku menginap di rumahnya untuk belajar bersama. Tapi apalagi kejahilannya kali ini?

.

Lee Sungmin POV end

.

.

“Awhhh…”

“Kau akan memberikan morning kissnya atau tidak?”

“Shireo, sudahlah Kyunie. Kita bisa terlambat. Lihatlah, setengah jam lagi dan aku belum mandi. Ayolah, lepaskan aku.”

Kyuhyun menindih Sungmin dan mengunci kakinya. Kedua tangannya mencengkeram kuat pergelangan tangan Sungmin dan posisi mereka benar-benar rawan sekarang. Kyuhyun mencoba mencium Sungmin, tapi…

.

Ceklek…

.

“Kyubaby…upss…”

.

Blam…

.

“Umma…?”

“Kya! Kyuhyunie, kau mau membunuhku hah? Kau mau aku mati karena malu didepan Appa dan Ummamu? Aish, menyikir sana. Aku mau mandi.”

Dengan sangat berat hati, Kyuhyun harus merelakan bunny Min kesayangannya untuk mandi sebentar. Sedangkan ia sendiri mulai sibuk menyantap sarapannya.

.

.

At School

.

.

Kyuhyun dan Sungmin, duduk bersama di atap sekolah. Sungmin membuka bekal makan siangnya yang sengaja di buat oleh Heechul.

“Heenim Umma, membawakan aku sandwich dan salad.” Lalu Sungmin melirik bekal Kyuhyun, “Dan kau seperti biasa, fast food ala restoran.”

Mereka makan dalam diam, Sungmin sibuk memikirkan soal yang baru saja ia kerjakan. Meski semua yang diajarkan Kyuhyun itu keluar dalam ujian, bukan berarti Sungmin mengerti dan bisa menyelesaikannya.

Sungmin hanya menggigiti wortel yang di potong memanjang, sambil melamun dan terus menatap hampa kedepan. Kyuhyun menghentikan kegiatannya memakan kentang gorengnya dan menarik pelan wortel itu dari Sungmin.

Sungmin menatap sekilas pada Kyuhyun dan kemudian menghela nafasnya. Menutup kotak bekalnya dan menatap dalam pada Kyuhyun

“Kyunie, bagaimana kalau nilaiku jelek.”

“Ya, harus bagaimana lagi. Mungkin kau memang lebih baik jadi seorang pengurus rumah tangga dan menungguku pulang kantor setiap harinya. Kurasa jika nilaimu jelek, maka tak akan ada universitas yang mau menerimamu.”

.

Plakkk…

.

“Awhhh… kenapa memukulku?”

Kyuhyun mengusap pelan bahunya. Sungmin kembali memasang wajah kesalnya setelah memukul bahu Kyuhyun. Ia melipat kedua tangannya di dadanya dan mempoutkan bibirnya. “Aku kesal.”

“Wae?”

“Kau menyebalkan! Kau tahu itu?”

Kyuhyun menggeleng pelan dan kembali sibuk mengunyah kentangnya. Dengan kasar Sungmin menarik kotak bekal besar itu dan menyembunyikannya di pelukannya.

“Hei, suamimu ini sedang makan. Jangan mengganggu. Jarang-jarang Umma membuatkan bekal untukku. Biasanya selalu saja pelayan yang membuatnya.”

“Aku tidak peduli.”

Sungmin, dengan ganas mengunyah semua yang ada di dalam kotak itu. Sebagai pelampiasan rasa kesalnya. Kyuhyun terus berusaha menarik kotaknya. Ia tak mau, menu makan siang istimewanya itu harus ludes juga di makan oleh Sungmin.

“Kemarikan Minimi, itu Umma yang membuatnya untukku. Kau makan saja saladku.”

“Ish, aku mau makan ini. Kau pelit sekali sih!”

“Jangan makan ini, nanti kau gemuk.”

“Biar saja.”

“Gemuk, bulat, pendek dan jelek. Ommo menyeramkan.”

“Kya, aku tidak jelek. Aku ini tampan, bahkan kau saja menyukaiku.”

“Siapa bilang?”

“Mwo?”

Sungmin mendelik horor menatap Kyuhyun. “Kau yang bilang, kau menyukaiku. Kau yang bilang Kyuhyunie.”

“Kapan aku mengatakannya? Aku tak ingat.”

Kyuhyun, dengan wajah sok polosnya mencoba mengingat-ingat kapan ia mengatakan menyukai Sungmin. Dan pada kenyataannya, ia hanya ingin menggoda Sungmin. “Ahni, aku tak pernah mengatakannya.”

“Kau mengatakannya Cho Kyuhyun. Aish, kau menyebalkan! Menghancurkan moodku saja.”

Sungmin membanting kasar kotak bekal Kyuhyun dan hendak pergi meninggalkan Kyuhyun di atap itu. Tapi dengan cepat Kyuhyun menarik tangan Sungmin, hingga Sungmin terjatuh di pangkuan Kyuhyun.

“Hei, bunny Minimi. Kau mau kemana eoh?”

“Aku kesal. Kau menyebalkan Kyuhyunie, dan aku akan pergi dari sini. Mencari Henry mungkin, atau aku mencari yang lain saja. Yunho mungkin, ah… dia tampan sekali.”

“Hei… jangan mencoba bermain denganku.”

Tapi Sungmin terus saja menggoda Kyuhyun. Ia berpura-pura berfikir dan memasang senyumannya. “Atau TOP, ah dia tampan dan sexy. Atau Chunie, dia juga tampan. Akh, sekolah ini banyak pemuda tampan.”

Sungmin kembali hendak beranjak dari pelukan Kyuhyun, tapi Kyuhyun menahannya kuat dan memeluknya erat.

“Sudahlah, jangan seperti ini. Aku minta maaf chagiyya. Jeongmall mianhamnida.”

Suara Kyuhyun terdengar lirih di telinga Sungmin. Kyuhyun semakin mengeratkan pelukannya dan diam. Dia tak lagi berkata apapun. Hanya diam.

“Arra, aku memaafkanmu. Tapi, jangan seperti tadi lagi. Aku tak suka kau mengatai aku gemuk Kyunie.”

Kyuhyun melepaskan pelukannya dan menjauhkan sedikit tubuh Sungmin. Menatapnya dan terlihat berfikir sekarang. “Eum… kau tidak gemuk, hanya sedikit berisi.”

“Hei, itu sama saja Kyuhyunie.”

“Ahni, tentu saja berbeda. Sama saja dengan … eumm…” Kyuhyun mengusap dagunya dan tersenyum nakal pada Sungmin. “Kau itu bukan bodoh chagi, hanya sedikit tidak pintar.”

“Kya! Kau mengatai aku bodoh! Ish, kau menyeb…emmmmppppphhh… leppp… eummppphh…”

Kyuhyun, menghentikan semua perkataan Sungmin dengan ciumannya. Memeluk erat tubuh Sungmin yang seakan membakar tubuhnya sendiri. Untuk sesaat, Kyuhyun melepaskan ciumannya dan menatap Sungmin. Mengusap pelan pipi chubbynya dan menciumnya sekilas.

“Aku terlalu mencintaimu Minimi, dan inilah kebodohan terbesarku. Karena aku sama sekali tak bisa menghentikan perasaan ini. Kebodohanku, karena tak tahu bagaimana aku harus hidup jika tanpamu Minimi.”

“Kyunie…”

.

.

“Kalau begitu, kau bisa tinggal disini.”

“Mwo?”

“Nde, tinggallah disini. Kurasa, akan lebih berat untukku membiarkan Kyuhyun mengejarmu dan tinggal di Daegu. Tinggallah disini, agar kau tahu bagaimana nakalnya Kyunyun.”

“Umma…”

Kyuhyun merengut kesal saat secara sangat langsung, Heechul mengatakan jika dirinya itu sangat buruk dan nakal jika dirumah. Betapa sulitnya mengatur seorang Cho Kyuhyun.

Setelah mengatakan itu semua, Heechul pergi keluar rumah dan meninggalkan KyuMin di rumah. Para pelayan, sedang makan siang bersama, dan KyuMin sedang ada di ruang kerja Hankyung.

Kyuhyun, menatap wajah Sungmin yang terlihat sendu. Besok adalah pengumuman dari hasil ujian masuk ke universitas yang Sungmin dan Kyhuyun pilih. Sangat mendebarkan bagi Sungmin karena semua pelajaran terasa berat bagi otaknya yang pas-pasan itu.

Melihat wajah galau Sungmin, Kyuhyun mendekat dan memeluknya. “Tenanglah, jika tidak lulus kau masih akan menjadi istriku dan mengurusku kok.”

Sungmin mendengus kesal dan memukul pelan dada Kyuhyun. “Hei, meski aku ini Uke tapi aku juga ingin bekerja dan menghasilkan banyak uang. Setidaknya cukup untuk membeli satu mobil sport.”

“Hei, kau ini Uke. Dan mobilku juga banyak, jangan macam-macam. Memangnya kau mau menggoda siapa, memakai mobil sport begitu? Kau ini…”

Kyuhyun mendorong dahi Sungmin dengan telunjukknya. “Jangan mencoba macam-macam.”

“Ish, kau ini suka sekali meremehkan aku. Makanya jangan menuntutku untuk masuk ke Universitas Seoul. Kau ini, sama sekali tak mau mengerti aku.”

Sungmin melepaskan pelukannya dari Kyuhyun, tapi Kyuhyun kembali mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher Sungmin.”Mianhe, aku sungguh tak bermaksud memberikan tekanan padamu. Hanya saja, aku ingin menjadi yang terbaik untukmu Minimi.”

.

.

TBC…

.

.

Bagaimana SIBUM momentnya?

Bagaimana KYUMIN momentnya?

Mianhe, karena NC akan di bagikan nanti di chap terakhir. Mianhe.

Mianhe, jika KYUMIN scenenya masih kurang panjang. Habisnya, author udah kehabisan ide.

And takut kepanjangan juga.

5 thoughts on “HATE TO HEART U || CH. 11|| KYUMIN || YAOI

  1. SiBum dan KyuMin Momentnya bagus🙂
    Aku lebih suka yang kaya gini dari pada NC. Yang NC itu membuatku gila.

    Kalo kehabisan ide tentang KyuMin atau SiBum atau Couple yang ada di Super Junior, mending buka YouTube, cari KyuMin moment. Mungkin itu bisa membantu🙂

    Sejujurnya, aku malah lebih suka yang panjang, mungkin 9000 words. Aku pernah membaca FF KyuMin yg disetiap Chapter-nya mencapai 8000 sampai +9000 words🙂

    Oke, hp-nya dicas dulu, lalu lanjut bacanya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s