My First Love Story || Ch. 9 || YAOI ||KYUMIN||

My First Love Story

Author : Rainy HearT

Cast :

– Cho Kyuhyun

– Lee Sungmin

– Other SUJU and DBSK member

Pairing : HaeMin slight KyuMin slight SiMin Slight HenMin Slight YeMin

Genre : Romance, Drama, Sad

Rating : T

Length : Series

Disclaimer : All cast punya diri mereka sendiri dan Tuhan.

Warning :BL/Boys Love/YAOI, EYD tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia, typos, gaje, dan cerita membosankan.

Sumarry : Cerita tentang cinta pertamaku, akankah aku bisa menemukannya kembali ?

Salah satu request-an dari readerku yang baik, PRESENTING “My First Love Story”

Terinspirasi saat liat vcr di SS4, tapi aku ubah semua ceritanya#kekekeke#

Mianhaeyo kalau jalan ceritanya makin ngawur dan membosankan. Untuk yang udah mau nyempetin waktunya buat baca and review author cuma bisa ngucapin “Jeongmall gomapseumnida.”

Happy Reading

ooo My First Love Story ooo

.

Previous Chapter 8

.

“Kawasan perumahan elit Daegu yang tenang.” Kyu melangkah menuju taman kompleks pagi itu. Sudah banyak orang disana, ia lalu mencari sudut yang nyaman menurutnya, duduk di sebuah bangku besi berwarna kuning yang terletak di bawah pohon apel yang meranggas. Ia sudah mengeluarkan PSP itu dari kantungnya. Tapi seketika saja ia kembali menyimpannya saat mata obsidiannya menemukan namja dengan mantel merahnya tengah berjalan beriringan dengan seorang namja lain.

“Kenapa harus bertemu dengannya juga sih ?” Kyu menggerutu kesal lalu berlari mengejar kedua namja yang seakan tak melihat Kyu yang tengah terengah-engah mengejarnya. “Hyung, hosh… hosh… Berhenti hyung !”

.

Chapter 9

.

Lee Sungmin POV

.

Aku berjalan bersama Yesung hyung. Ia menawarkan diri mengantarku pulang saat kami bertemu di rumah Hyukkie. Dan ia mengajakku ke Rumah Coklat untuk menikmati secangkir coklat panas. Ternyata rumahnya dekat dengan rumah Hyukkie. Kenapa aku tidak tahu tentang Yesung dari Hyukkie ya ? Hyukkie juga tidak pernah menceritakan tentang Yesung hyung padaku. Lagipula kurasa, itu karena Hae terlalu overprotective padaku. Hae memang selalu saja marah dan mengacuhkan aku jika dia melihat aku bersama namja atu yeoja lain saat ia sedang tidak bersamaku. Hae yang selalu mengaturku hingga menjagaku, termasuk menjaga pertemananku. Meski Hyukkie sahabatku dari waktu kami bersama di junior high school, Hae tetap saja tidak memperbolehkan aku terlalu dekat dengan Hyukkie. Jealousy Lee Donghae

Sepanjang perjalanan, Yesung selalu menceritakan tentang karir dan hidupnya. Termasuk tentang Ryeowook, kekasihnya atau mantan kekasihnya. Entahlah, aku tak tahu harus bagaimana menanggapinya. Padahal baru kemarin dia menyatakan perasaannya padaku, tapi sekarang dia malah menceritakan tentang Ryeowook terus-menerus. Aku tidak marah, hanya sedikit merasa tersaingi dan kesal, perjalanan dari rumah Hyukkie ke ‘ Cafe Rumah Coklat’ harus terasa amat sangat membosankan. Kenapa Yesung hyung harus terus menceritakan namja itu ?

“Min-ah, kau tahu tidak, Wookie itu sangat suka memasak. Setiap hari dia membuat bekal dan kami makan bersama. Masakannya sangat enak, dan bertambah enak lagi saat dia menyuapiku.”

“Jinjja !” Jujur, aku penasaran. Bagaimana dan seperti apa namja bernama Kim Ryeowook itu. Sampai dia sangat bersemangat terus -menerus menceritakannya. Terus dan terus hingga aku hampir mati bosan dan kesal. “Kenapa sepertinya wajahmu tak menunjukkan kau senang mendengar ceritaku Sungmin-ah ?”

“Akh, geureyo ? Ahniyo, aku senang mendengarnya hyung. Hanya saja terasa aneh untukku.” Huh, kenapa juga dia harus memperhatikan aku sekarang. Bagaimana wajah kesalku sekarang ? Pasti sangat jelek. Ia tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menarikku ke tepi jalan. Yesung hyung mendorongku hingga menabrak dinding dingin sebuah toko kue di satu gang kecil. “Kenapa terasa seperti itu Sungmin-ah ? Kenapa terasa aneh bagimu ? Apa kau kesal ? Katakan padaku, apa yang kau rasakan ?”

“Akh, itu…” Haish, bagaimana ini ? Aku tidak bisa untuk tidak menatap mata itu, sangat dalam dan hangat namun terasa dingin. Yesung hyung memenjara tubuhku dengan kedua tangannya yang bertumpu pada dinding. “Hyung, kau tak pe…”

“Apa kau marah mendengarku terus menceritakan semua tentang Wookie ?” Aish, dia suka sekali memotong kata-kataku. “Aku marah ? Waeyo ? Kenapa aku harus marah hyung ? Itu bukan urusanku.”

“Tapi kau kesal bukan ?” Akh, sekarang mata itu menatapku nakal dan genit, aish… ada apa dengannya ? “Kau senang tidak, aku menceritakan tentang Wookie padamu ? Jika kau tidak marah, pasti kau senang atau setidaknya menanggapi aku. Tapi kau tak terlihat seperti itu Sungmin-ah.” Mengapa dia bertanya seperti itu ? Apa sebenarnya yang ingin ia tahu ? Akh, membuatku pusing saja. “Huh, sejujurnya aku tidak senang mendengarnya hyung. Ya, sedikit kesal memang.” Dia tersenyum dan semakin mendekatkan wajahnya padaku ? “Jadi, kau sudah bisa menentukan perasaanmu ?”

“Itu…” Huh, aku harus menjawab apa. Aku masih bingung. Aku sungguh tak ingin menyakiti siapapun lagi, tapi perasaanku ? Bagaimana dengan perasaanku. Akh, sudahlah. “Hyung, mianhe. Tak bisa ku jawab sekarang. Ayo, aku sudah kedinginan.”

Aku menyeret tangan Yesung hyung yang sedari tadi masih diam menunggu jawabanku. Dia memperlambat jalannya dan aku hanya bisa terus merutuki kebodohan perasaanku. “Mengapa kau tak bisa menentukannya Sungmin. Bukankah kau dengan namja itu tidak ada hubungan apapun ?”

“Akh, Kyuhyun. Kalau itu aku juga tidak tahu hyung.” Huh, kumohon. Mereka sudah membuatku hampir gila. Namja-namja yang benar-benar menyusahkan.

“Hyung !”

‘Kenapa terdengar seperti suara Kyu ?’

.

Plukk…

.

“Hosh…hosh… Aish, aku hampir mati pingsan mengejarmu hyung. Apa kau begitu senang berjalan berdua saja dengannya sampai sama sekali tak mendengarku berteriak terus dari tadi ? Kau tahu, suaraku hampir hilang karena terus memanggilmu hyung?”

Apa lagi ini ? Kenapa sampai di Daegu aku juga masih bertemu dengannya ? Kenapa Korea menjadi begitu sempit sekarang. “Mianhe Kyu.”

“Heh, Kau !” Akh, apa yang akan dia lakukan. “Mwo ?” Akh, lihatlah wajah Yesung hyung yang polos itu. Membuatku kasihan padanya. Bagaimana tidak, Kyu tengah menunjuk dengan seenaknya dahi namja polos yang lebih tua darinya. Akh, semakin memusingkan !

“Jangan mengganggu milikku. Perlu kutegaskan, Minnie hyung itu milikku. Jangan pernah mengganggunya, dan jangan pernah sekalipun bermimpi untuk mendapatkannya. Arraseo !”

Hah ? Dia selalu seenaknya sendiri. “Aish, Kyu ! Apa-apaan kau ini ?” Aku menurunkan jari tangannya yang sangat amat tidak sopan pada Yesung hyung.

“Mwo ?” Kenapa dia menatapku seperti itu ? Akh, mereka berdua membuatku gila. “Hentikan tingkah kalian ! Seperti anak kecil saja yang memperebutkan hal yang tak penting seperti ini.”

Aish, apa lagi ini ? Kenapa dengan mereka berdua ? Oke, sekarang si mata biru milik Hae sudah menatapku dengan wajah polosnya yang sangat menggemaskan. Benar-benar membuatku gemas melihat ekspresinya, aish… bagaimana bisa dia berwajah seperti itu. Dan satu namja lain dengan mata coklat yang menakutkan itu, membuatku semakin takut dengan tatapannya. Kenapa dia selalu saja memberikan tatapan seperti iblis padaku ? “Mwo ? Kenapa melihatku seperti itu ?”

Kyu melemah dan menatap lembut padaku. Dia terlihat sedikit kesal. “Aish, kau ini !”

“Kya ! Cho Kyuhyun ! Lepaskan aku !”

.

.

“Kya ! Apa-apaan kau ini !”

Akh, dia menatapku seperti itu lagi. “Kyu, tak bisakah kau sedikit menghargai orang lain ? Kenapa menarikku seenakmu begitu ? Kenapa meninggalkan Yesung hyung disana sendirian ? Aish…”

“Kau yang tak bisa menghargai orang lain hyung. Kau juga yang seenaknya membuatku mencintaimu dan kau juga yang meninggalkanku seenakmu. Kau pergi meninggalkanku dalam ketidakpastianmu Hyung. Apa kau memikirkannya !”

“Kyu…” Aku hanya bisa mendesah lirih menatap mata sendu itu. “Kau sama sekali tak pernah memikirkannya hyung. Kau mempermainkan aku ? Atau kau sedang mengujiku ? Apa sebenarnya yang kau inginkan hyung ? Atau kau tengah berbohong padaku ?” Aku memang bersalah dalam hal ini. Aku terlalu bodoh, mungkin juga naif, atau aku penipu, atau juga pembohong besar. Aku tak bisa menyembunyikannya. “Hyung, mengapa kau melakukan ini padaku ? Aku tak meminta banyak darimu. Hanya berjuang bersamaku dan membangun semua dari awal. Aku akan membahagiakanmu hyung. Aku hanya meminta itu saja, apa itu sangat sulit untukmu Hyung ? Apa begitu membuatmu tersiksa hingga kau meninggalkanku sendirian ? Mengapa kau seakan tak mau mengerti aku hyung, seberapa pentingnya dirimu untukku ? Cobalah mengerti itu. Jebal hyung, cobalah mengerti aku. Harus bagaimana lagi aku memintamu ?” Suara Kyu terlalu menyiksaku dengan nada yang bergetar. Kulihat Kyu meremas kuat dadanya. Bisa kupastikan, ia tengah menangis meski tak bisa kulihat raut wajah yang tersembunyi diantara kedua lututnya itu.

Apa aku begitu jahat ? Mengapa aku bisa berbuat seperti itu ?

‘Hae, jika saja kau tak meninggalkan aku, mungkin saja tak akan seperti ini. Aku tak mau terus menyakiti orang-orang yang menyayangiku. Cukup kehilanganmu saja Hae, aku tak mau kehilangan yang lain.’

.

.

Lee Sungmin POV end

.

Sungmin mengusap lembut bahu Kyu. Memang Kyuhyun, seorang namja tampan yang biasanya sangat tegar hingga lebih terlihat arogan, menjadi begitu lemah dihadapan Sungmin. “Kyu, mianhe.” Namun Kyu tak menyahut, dia hanya menggelengkan kepalanya. Sama sekali tak berniat menunjukkan wajah sedihnya pada namja cantik yang tengah menatapnya dengan perasaan penuh beban, rasa bersalah.

Hari yang mulai gelap, semakin terasa dingin dengan salju yang turun membuat suasana semakin terasa menyedihkan dan sendu. Sungmin menengadah melihat butiran salju yang turun menghiasi indahnya malam itu. Bulan Januari yang dingin. Sungmin menatap Kyu yang masih menyembunyikan wajahnya, ia perlahan mendekati wajah tampan yang tersembunyi itu. Ia menunduk dan berbisik lirih pada telinga namja disisinya. “Saranghaeyo…”

Kyu langsung menatap ke samping, menatap namja yang terlihat semakin bersinar diterpa lampu taman kota. Semakin cantik dengan hiasan butiran salju di rambut hitamnya.

“Katakan lagi hyung.”

“Saranghaeyo.”

“Sekali lagi hyung.” Sungmin tersenyum dan mengusap lembut rambut ikal namja yang tengah bermanja padanya itu. “Saranghaeyo Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun mengembangkan senyuman diwajah sendunya. Sebuah senyuman yang lebih mirip seringaian pada Sungmin. “Katakan padaku hyung, sekali lagi.”

“Kya ! Appowwww…!” Sungmin mencubit hidung Kyuhyun dengan gemas, “Kau ini, menyebalkan sekali. Mau membuatku malu ? Huhhh !” Sungmin membuang muka, menyembunyikan wajahnya yang sudah sangat memerah. “Ayolah, katakan padaku hyung.” Kyu menoel pinggang Sungmin, dan berakhirlah perdebatan kecil itu dengan aksi saling menggelitik dibawah rintik salju.

“Ahhahahaha…hahahaha… Hentikan Kyu, ahhahaha…”

Tentu saja Sungmin yang kalah dalam pergulatan mereka, “Ahhahahaha…” Sungmin terus berusaha menghindari tangan Kyu hingga akhirnya ia lelah. “Akh, hentikan Kyu ! Akh…hahahaha…”

Dan Kyu pun menghentikan aksinya, “Nado saranghaeyo Hyung.” Kyu memeluk tubuh mungil Sungmin, menghilangkan rasa dingin yang merasuk perlahan ditubuhnya.

‘Hae, entah ini benar atau salah. Kumohon, maafkan aku jika salah, dan dukunglah aku jika benar.’ Sungmin menatap langit yang menurunkan butiran salju itu. “Euuunnnggghhh … Kyuhhhh…”

Dengan jahil, Kyu menghisap leher Sungmin hingga membekas. Ia lalu menatap mata Sungmin dan mencium pipi kenyal putih milik Sungmin. “Satu kissmark untuk menandaimu. Kau milikku hyung. Hanya milikku.”

Kyu mendekati bibir Sungmin dan mengecupnya lembut. Memejamkan mata, membiarkan lidah nakalnya menyusuri setiap inchi mulut hangat Sungmin. Menyalurkan semua rasa yang berkecamuk di dadanya. Mengeratkan pelukan mereka, menekan tengkuk Sungmin kuat. Memperdalam ciuman panas mereka.

Cukup lama berciuman, Kyu menyudahinya dan menyentil pelan hidung mungil Sungmin dengan wajah yang masih merah menahan malu. “Saranghaeyo Lee Sungmin.”

“Nado saranghaeyo Cho Kyuhyun.”

.

“Jadi begitu ya ? Kenapa tak jujur padaku Sungmin-ah.”

Namja tampan itu menarik diri dari tempat persembunyiannya. Ia berjalan lemas menuju Rumah Coklat, sendirian. “Mengapa seperti ini ? Apa aku memang harus menunggumu kembali ?”

Ia menghela nafasnya yang terasa sesak, “Tak kusangka akan sesakit ini. Padahal, aku baru mencoba mencintaimu Sungmin-ah.” Jari mungilnya memutari mulut cangkir coklat panas dengan asapnya yang masih mengepul. Coklat panas dengan ekstrak jeruk yang asam, “Rasanya pasti kecut dan sangat asam hyung, mengapa kau meminumnya ?” Suara cempreng yang tiba-tiba saja mendekat padanya, mengalihkan perhatian namja tampan bernama Yesung itu. Ia menatap ke arah suara yang dahulu sangat dirindukannya. Tercekat melihat seorang namja dengan senyumnya berjalan mendekatinya. “Wookie…”

“Waeyo Hyung ? Apa kau terluka karena mencintai orang lain ? Atau kau terluka karena menungguku terlalu lama ?” Wookie duduk didepan Yesung dan menarik cangkir coklat Yesung lalu meminumnya. “Terlalu banyak ekstrak jeruk, hingga tak terasa kecut lagi, tapi terasa begitu pahit hingga membekas dilidahku. Bagaimana kabarmu hyung ?”

Yesung hanya terdiam menatap namja dengan ekspresi wajah yang menggemaskan itu tersenyum manis didepannya. “Mengapa kau kembali ?”

Satu pertanyaan Yesung yang membuat Wookie langsung diam terkaku menatap wajah dingin Yesung. “Yesung hyung ? Apa maksudmu ? Kenapa berbicara seperti itu ?” Yesung mengambil coklatnya dan meminumnya. “Mianhe hyung.”

“Kau pikir, maaf saja cukup untuk mengembalikan waktu yang terbuang karena kepergianmu ? Apa maaf saja bisa mengembalikan perasaanku yang kini sudah menghilang ? Apa maaf saja cukup mengembalikan semua yang telah terbuang pada masalalu kita. Semua yang telah hilang tak mungkin bisa kau bawa kembali Wooki, tidak cukup dengan kata maaf.”

Seakan sadar, ia kembali di waktu yang salah. Wookie berdiri, menahan air mata yang memberontak ingin keluar dari dalam sudut mata cantiknya. Meremas kuat tangannya yang tersembunyi didalam sakunya, menggigit kuat bibir bawahnya, menahan rasa sakit yang baru saja diterimanya.

“Mianhe hyung, aku sungguh tak bermaksud membuatmu menderita karena aku. Aku sungguh tak ingin meninggalkanmu dulu hyung. Aku tahu kau sudah mencintai yang lain. Tidak apa-apa untukku hyung, hanya perlu kau tahu, aku masih sama seperti saat dulu, selalu mencintaimu.”

Wookie berlari keluar dari rumah coklat itu, mengusap kasar air mata yang tetap turun membasahi pipinya. “Aish… Bodoh sekali Wookie, kau bodoh Kim Ryeowook ! Hiks…hikss…” Wookie menyandarkan tubuh mungilnya pada dinding rumah coklat yang dingin, jatuh terduduk karena merutuki semua kebodohannya.

“Kau bodoh, memang bodoh Kim Ryeowook. Sangat bodoh.”

Wookie menatap sendu wajah tampan yang kini mengulurkan tangannya, “Ikutlah denganku, dan buatlah aku kembali mencintaimu. Bersyukurlah, karena orang yang aku cintai, mencintai orang lain. Jadi tugasmu tidak terlalu sulit sekarang. Hanya kumohon, jangan pergi lagi setelah kau berhasil membuatku mencintaimu.”

Wookie langsung bangun dan memeluk erat namja yang sangat ia rindukan. “Mianhe Yesungie… Mianhe. Aku tak akan meninggalkanmu lagi, akan selalu bersamamu, selalu denganmu hyung.”

‘Mungkin sedikit sulit sekarang Wookie-ah, tapi kumohon jangan tinggalkan aku lagi.’

.

.

“Huh, kenapa turun salju begini ? Tadi tidak turun salju, sekarang lebat begini. Aish, payah !”

Namja itu terus berjalan dibawah rintik salju yang turun lebat. Bersembunyi dibalik mantel tebal dan bootsnya. “Haaattttchi…!”

“Eh, suara siapa itu ?”

“Aish, tahu begini aku membawa mobil tadi. Hatchhii !”

Ia tersenyum dan mendekati sumber suara itu. “Hei, kalau kedinginan kenapa tak masuk ke cafe ini ? Mengapa berdiri diluar seperti gelandangan tak jelas begitu ?”

“Bukan urusanmu !” Namja cantik itu menatap tajam wajah tampan yang sekarang berhenti didepannya. “Kau pergi saja sana ! Hatchiiii !”

.

Greeep…

.

“Apa yang kau lakukan ! Bodoh ! Lepaskan aku !” Namja cantik itu memberontak dalam pelukan tangan kekar yang melingkar cantik di pinggangnya. “Kya ! Siwon-ssi ! Lepaskan aku !” Namun Siwon makin mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Kibum. Ia mencium aroma parfum Kibum dengan wangi coklat yang sama sekali tak tersamar oleh dinginnya salju. “Bummie, biarkan aku memelukmu. Dengan begini, kau tak akan keinginan, aku tak ingin kau sakit. Dan dengan begini, aku bisa sedikit tenang.”

“Apa maksudmu ?” Kibum terus menggeliat tak nyaman dalam pelukan Siwon. “Lepaskan aku Siwon-ssi. Aku masih normal, dan bukan gay sepertimu. Mengapa kau suka sekali memelukku begini.”

Siwon terkejut mendengar Kibum. “Gay ? Aku memang gay.” Siwon menatap lembut mata yang tengah menatap penuh kebencian padanya. Namun bukannya takut atau melepaskan pelukannya, Siwon malah menyentuh hidung Kibum dengan hidungnya, saling berbagi kehangatan dalam pelukan yang semakin ia eratkan. “Kau memang masih normal sekarang, tapi aku akan membuatmu menjadi gay untukku sendiri. Kau akan mencintaiku Bummie.”

Siwon mencium lembut bibir Kibum. Bukan tidak memberontak, tapi Kibum memang kalah besar di banding Siwon. “Emmmpppttt…” Kibum terus memukul lengan kekar yang mengunci kuat pelukan mereka. Merasa terus mendapat penolakan, satu tangan Siwon menekan kuat tengkuk Kibum. Memperdalam ciuman mereka. “Eunnnghhhh…ennnghhh…” Kibum terus melenguh. Mulai terpancing dengan lumatan kasar yang dilakukan Siwon. Ciuman panas dengan lidah yang sudah menyusup kedalam mulut Kibum. Menghisap kuat dan saling menekan mencoba mendominasi ciumannya. “Euuunngghhh…”

Kibum terus melenguh, kini tangan Kibum tengah meremas kuat mantel Siwon.

‘Shit ! Ayolah Kibum, kau ini normal. Mengapa jantungmu terus saja berdebar karena ciuman bodoh ini ?’

Siwon menyudahi ciumannya dan kembali mencium sekilas bibir merah Kibum. “Kau menikmatinya bukan ?”

“Eh, ahni ! Kau sudah gila ! Siapa yang menikmatinya ? Kau gila !”

“Kau pikir aku percaya ? Meski kau mengatai aku gila, atau kau mengatakan kau tak menikmatinya, tubuhmu berkata lain Bummie. Dan jangan lupa, aku bisa merasakan detak jantungmu yang begitu cepat. Apa kau begitu berdebar bersamaku ?” Kibum hanya menunduk menggigit kuat bibirnya. ‘Namja menyebalkan ! Namja gila yang sangat menyebalkan. Apa maunya ?’ Ia mengutuk Siwon dan terus mengumpat dalam hati.

Siwon menarik tangan Kibum dan mengajaknya berjalan bersama. Menuju rumahnya, “Kita akan ke rumahku. Aku tak mau kau kedinginan Bummie ?”

“Mwo ! Apa-apaan kau !”

“Tenanglah, aku akan memberikanmu secangkir coklat dan juga membuatkanmu ramen. Makan ramen bersama pasti sangat romantis.”

“Huh ! Namja aneh !” Kibum tersenyum mengejek sambil terus mengimbangi langkah Siwon.

“Aku memang aneh, karena berusaha mencintaimu. Jadi kau juga harus berusaha mencintaiku.”

“Heh, kau tak berhak mengaturku !” Kibum menghentakkan tangan Siwon kasar, namun percuma, genggaman tangan itu sama sekali tak terlepas dari tangan Kibum.

“Kau akan mencintai aku Bummie. Kau akan menjadi gay hanya untukku. Jadi, diamlah dan ikuti aku, aku akan memberikanmu hidup yang lebih berwarna Bummie.”

Kini Kibum hanya diam, tangan mereka saling bertautan. Malam dingin yang hangat. Mengikuti langkah Siwon yang terus berjalan menuju rumahnya. Bukan menyerah untuk terus menolak, hanya saja, ‘Akh… Mengapa terus berdebar begini ? Apa-apaan ini ?’

.

“Kya ! Apa yang kau lakukan ? Mengapa membuka laptopku tanpa ijinku ?”

“Katakan padaku gege, mengapa kau menyimpan begitu banyak fotoku ?”

“Mwo ?”

“Katakan sekarang atau aku akan menghapus semuanya.”

“Itu karena…”

Dua namja tengah berdiam dalam pikiran mereka masing-masing.

Namja imut dengan kedua pipi chubbynya masih menatap pada namja yang masih salah tingkah didepannya. Zhoumi terus menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali. “Sampai kapan kau akan bertingkah seperti itu didepanku gege ? Atau kau memang menginginkan aku menghapus semuanya ? Baiklah, aku akan menghapusnya.” Tangan Henry sudah bersiap memegang mouse dan memblock semua data, “Chakkaman ! Jangan hapus Henry. Aish, baiklah-baiklah aku akan mengatakannya.” Zhoumi berbalik dan mengambil dua kaleng minuman soda dingin dari sebuah kulkas yang terletak disudut kamarnya.”Untukmu.” Ia menyodorkan satu kaleng pada Henry.

Henry hanya mengernyit heran sambil membuka penutup kaleng itu. “Gege, diluar hujan salju, kenapa malah memberiku minuman seperti ini ?” Meskipun protes, Henry tetap meminumnya.

Zhoumi masih sibuk memperhatikan wajah merah menggemaskan didepannya. “Kenapa melihatku seperti itu ?” Henry memicingkan mata sipitnya. “Kau sangat manis Henry, sangat menggemaskan.”

Zhoumi merebut laptopnya dan membuka keseluruhan foto yang ada di folder berjudul ‘My Little Mochi.’ Ia lalu membuka sub folder yang berjudul ‘Empty Heart’ dan menyerahkan laptop itu kembali pada Henry.

“My Little Mochi, adalah dirimu. Dan Empty Heart adalah hatiku. Sekarang bukalah, mungkin ini sudah saatnya kau tahu semuanya.”

Henry meraih laptopnya dan memulai membuka satu persatu foto yang terdapat di dalamnya. Hanya ada foto beberapa mahasiswa lain, memegang sebuah kertas berbentuk hati berwarna pink. “Zoom saja, pasti tulisannya dapat dibaca. Sengaja aku tulis dalam huruf mandarin agar tak banyak yang tahu artinya.” Henry menatap Zhoumi sekilas kemudian melihat laptop itu lagi.

Foto pertama. Seorang namja, satu tangannya memegang biola dan tangan lainnya memegang kertas berbentuk hati. “Cintaku tak mengenal waktu, hanya mengenalmu. Cintaku tak mengenal yang lain, hanya mengenalmu. Cintaku tak mengenal hati yang lain, hanya mengenalmu.” Henry menatap Zhoumi, dan Zhoumi hanya tersenyum, lanjutkan saja dan baca semuanya. “Cintamu, mengisi hatiku tapi membawanya pergi bersamamu. Cintamu tak mengerti aku.” Foto seorang namja memakai mantel hitam, tangan satunya memegang payung hitam dan tangan lainnya memegang kertas pink berbentuk hati. Berdiri didepan gedung teater dibawah rintik salju. “Mengapa terkesan seperti terluka gege ?”

“Memang, saat aku membuat tulisan itu, suasana hatiku sedang terluka. Mengetahui kenyataan orang yang kau cintai ternyata mencintai orang lain, itu sangat menyakitkan Henry.”

“Bukan cinta jika aku tersakiti, haruskah aku bahagia untukmu ? Mengapa kau terus menyiksa dirimu sendiri, terus memikirkan yang sama sekali tak mengingatmu ? Mengapa kau membuangku, aku yang sangat mengingatmu ?”

Henry menelan salivanya banyak-banyak. Terlihat di foto itu, tulisan dengan warna merah diatas kertas hati berwarna putih. Namja di foto itu memakai mantel merahnya, ia sangat mengenal namja di foto itu. Satu tangan yang lain, memegang papan bertuliskan Empty Heart. Henry bukan tak mengerti, ia hanya terlalu shock dengan semuanya.

“Kau sudah mengerti sekarang ?” Suara Zhoumi memecah keheningan Henry. “Jadi, bagaimana perasaanmu jika menjadi aku ?” Henry tidak menangis, ia hanya terharu. Mata dan wajahnya sudah memerah. “Wo pu ce tao gege… Mianhe, aku tak tahu semuanya. Mianhe, aku tak mengerti dirimu.”

Henry semakin larut dalam pikirannya. “Aku hanya terlalu mencintai Sungmin hyung. Mianhe, karena aku selalu menceritakan tentangnya padamu. Mianhe karena aku selalu mengeluh tentangnya padamu, mianhe karena ak…”

Satu jari Zhoumi menutup bibir Henry, membuatnya diam seketika. “Bukan salahmu Henry, semuanya terasa menyakitkan karena aku mencintaimu.” Zhoumi menarik Henry dalam pelukannya, “Kau mungkin menganggapku gila karena mencintaimu, tapi kumohon, jangan jauhi aku karena perasaanku ini. Akan terasa lebih menyakitkan untukku jika kau melakukannya Henry.”

“Ahni, aku tak akan melakukannya Gege. Aku akan berusaha semampuku. Kumohon, cukup Sungmin hyung yang meninggalkan aku.”

“Henry, saranghaeyo, mianhaeyo.”

Henry tak menjawab, ia hanya diam. “Gwenchanayo Henry-ah. Kau hanya perlu membiasakan dirimu denganku. Belajarlah mencintai aku.”

Henry hanya mengangguk pelan dalam pelukan Zhoumi.

‘When love tells everything, then you have noting to say, but feel what love will bring out the heart go in to you’r empty heart.’

.

Rumah Kyu

.

“Ini rumah Halmeoniku. Dia sudah meninggal, jadi Umma memberikan rumah ini untuk memulai hidup kita nanti.” Kyu mengajak Sungmin masuk ke dalam rumah megah bergaya kuno itu. “Ini kamarku, atau bisa kau sebut kamar kita nantinya.” Kyu menyeret Sungmin masuk dan mendudukannya di kasur empuk dengan ranjang kayu ukiran yang sangat mewah. “Keluargamu pasti sangat kaya. Hingga kamar ini pun terasa sangat mewah dan glamor.” Sungmin menatap seluruh sudut kamar, dinding kayu dengan begitu banyak foto namja dan yeoja yang mirip sekali dengan Kyu. “Itu Harabeojiku, appanya appaku. Dia meninggal di usia muda.” Kyu mengambil foto itu dan duduk disisi Sungmin. “Dia sangat menyayangiku Minnie. Hingga saat dia tahu aku terkena penyakit bawaan, ia selalu menjagaku. Dia juga yang memintaku terapi di Daegu. Dia selalu membelaku didepan appa dan ummaku.”

Melihat raut wajah sedih Kyu, Sungmin hanya mengusap pelan bahu Kyu, “Hatiku bergetar saat bersamamu Hyung. Dan kuharap, aku tak akan kehilangan perasaan ini selamanya.” Kyu meletakkan foto itu dan memeluk Sungmin dengan erat. Membenamkan wajahnya, mencium aroma khas Sungmin pada leher namja cantik itu. “Kyu…”

“Kau akan tahu, seberapa besar aku mencintaimu hyung. Kau akan mengerti itu hyung, kau akan memahami jika aku yang akan menjadi pengganti Hae untukmu. Aku yang akan membahagiakanmu. Jadi kumohon, tetapkan hatimu hyung, dan jangan meninggalkan aku. Saranghaeyo Sungmin-ah, jeongmall saranghaeyo.”

“Aku akan berusaha Kyu, nado Saranghae.”

Mereka terus berpelukan, menyalurkan semua perasaan khawatir dan takut, mencurahkan perasaan sayang dan cintanya. Malam yang indah, meski dengan dinginnya salju yang harus mengiringi langkah mereka.

“Hyung, bagaimana jika kau tinggal disini ?”

“Mwo ?” Sungmin langsung menarik tubuhnya dari pelukan Kyu. “Aku punya rumah Kyu, ada Appa dan Ummaku.”

“Kalau begitu, aku akan menemui mereka.”

“Untuk apa ?” Kyu tersenyum melihat wajah menggemaskan yang tengah menatapnya penuh tanya. “Meminta ijin untuk menikahimu. Kita akan menikah di Amerika. Bukankah bagus, sekalian bulan madu.” Sungmin hanya menatap Kyu penuh tanya, mencari satu kejujuran dan kepastian dari setiap pernyataannya.

.

Other Side

“Boo, kau kenapa ? Mengapa sejak kita pulang ke Daegu kau terus saja diam ?”

Jaejong hanya diam, kembali menatap ke luar jendela kamar Hae, Yunho menatap bingung istrinya. “Mengapa kau melamun di sini ? Bukankah kau sudah bisa merelakan kepergian putra kita.” Jaejong tetap menatap keluar jendela. “Yunie, aku bertemu dengan Hae.”

“Mwo !” Jaejong mengangguk dan menatap foto Hae yang tengah tersenyum membanggakan piala saat Hae menjadi juara menyanyi saat ia berada di junior high school. “Aku melihat Hae di gedung teater. Aku melihatnya diantara begitu banyaknya penonton yang ada disana Yunie. Aku yakin itu Hae.”

Yunho hanya diam, tak ingin terlalu menanggapi istrinya. Ia merengkuh tubuh Jaejong ke dalam pelukannya. “Aku yakin itu Hae, aku ibunya Yunnie. Aku tahu itu Hae.”

.

.

.

.

T.B.C.

 

9 thoughts on “My First Love Story || Ch. 9 || YAOI ||KYUMIN||

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s