My First Love Story || Ch. 8 || YAOI ||KYUMIN||

My First Love Story

Author : Rainy HearT

Cast :

– Cho Kyuhyun

– Lee Sungmin

– Other SUJU and DBSK member

Pairing : HaeMin slight KyuMin slight SiMin Slight HenMin Slight YeMin

Genre : Romance, Drama, Sad

Rating : T

Length : Series

Disclaimer : All cast punya diri mereka sendiri dan Tuhan.

Warning :BL/Boys Love/YAOI, EYD tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia, typos, gaje, dan cerita membosankan.

Sumarry : Cerita tentang cinta pertamaku, akankah aku bisa menemukannya kembali ?

Salah satu request-an dari readerku yang baik, PRESENTING “My First Love Story”

Terinspirasi saat liat vcr di SS4, tapi aku ubah semua ceritanya#kekekeke#

Mianhaeyo kalau jalan ceritanya makin ngawur dan membosankan. Untuk yang udah mau nyempetin waktunya buat baca and review author cuma bisa ngucapin “Jeongmall gomapseumnida.”

Happy Reading

ooo My First Love Story ooo

Previous chapter 7

“Jadi, bagaimana sekarang ? Kata Teukki ahjumma kau sudah menemukan penerima donor organ Hae ?” Sungmin mengangguk. “Lalu jika kau sudah menemukannya, kenapa kembali ke Daegu ? Apa ada masalah ?”

“Hmmm, itu…” Sungmin menghela nafasnya. “Aku juga tak tahu harus berbuat apa Hyukkie.”

Sungmin meminum cappucino hangatnya. Musim salju yang penuh dengan angin dingin. Salju tak pernah turun lebat di bulan Januari ini. Padahal biasanya hujan salju akan turun sangat lebat. Mata Sungmin menemukan namja tampan yang berjalan keluar dari mobilnya. “Dia salah satunya Hyukkie.”

Sungmin menunjuk namja yang masuk ke cafe yang mereka kunjungi. “Hyung ?” Hyukkie mengernyit melihat namja itu.

“Kau mengenalnya ?” Hyukkie mengangguk.

“Hyukkie !” Namja itu melambai mendekati Hyukkie dan Sungmin. “Senang sekali bisa bertemu kalian disini.” Ia menatap Sungmin. “Apa kabar Sungmin ?”

“Kau mengenalnya Hyung ?” Namja itu mengangguk dan duduk disisi Sungmin.

.

Chapter 8

.

.

Lee Sungmin POV

“Dia salah satunya Hyukkie.” Aku melihat Yesung Hyung keluar dari mobilnya dan berjalan ke cafe dimana aku dan Hyukkie tengah menikmati kopi kami.

Hyukkie sedikit mengernyit heran padaku sesaat setelah ia menoleh Yesung hyung. “Hyung ?” Kenapa Hyukkie memanggilnya hyung ? Apa dia mengenalnya ?

“Kau mengenalnya ?” Hyukkie mengangguk dan menatap Yesung hyung yang sepertinya melangkah menghampiri kami.

“Hyukkie !” Yesung hyung tersenyum dan mempercepat langkahnya. Aku tidak mungkin salah, dia memang Yesung hyung. Apa yang dia lakukan disini ? Untuk apa dia kembali ke Daegu ? Apakah Korea begitu sempit hingga Hyukkie harus mengenal Yesung juga ? Dan apakah dia tinggal di daerah kompleks perumahan yang dekat dengan rumahku hingga aku menemukannya disini ? “Senang sekali bisa bertemu kalian disini.” Ia menatapku. Mata biru kehijauan itu membuat jantungku berdesir halus, angin dingin serasa menusuk dan mengalir kedalam darahku. Aku semakin merindukan Hae. Tiba-tiba saja perasaanku nyeri dan sangat sakit. Mataku memanas dan wajahku terasa dingin seketika. “Apa kabar Sungmin ?” Suaranya menyadarkan aku jika dia bukan Hae. Kulihat Hyukkie menarik lengan Yesung hyung dan mendudukkannya di kursi tepat didepanku. Aku kembali menatap mata yang tersembunyi di balik kelopak sipit itu.

“Kau mengenalnya Hyung ?” Yesung hyung mengangguk dan tersenyum padaku. “Nde Hyukkie, aku mengenalnya. Sungmin, apa yang kau lakukan disini ? Pulang ke rumah ?”

“Iy-ya… Ehm… Aku merin- ekhhhmm…” Suaraku serak, kenapa ? Apa yang terjadi ? Mataku semakin memanas. Aku harus segera pergi dari sini, atau aku akan menangis di depannya saat ini juga. “Mian, akuhhh harus pergi- ehmm Hyukkie – aku akan – ekhmmm – mengunjungimu.”

Aku langsung berlari meninggalkan cafe itu. Aku tak sanggup lagi, sungguh aku ingin menangis. Aku terus berlari keluar dari lingkungan pemakaman ini. Wangi lilly putih seakan membayangi setiap langkahku. ‘Hae, jika aku bisa memilih, aku ingin mati bersamamu !’ Aku ingin menjerit memarahi diriku sendiri. Perasaanku terus menderaku dan seakan siap membunuhku kapan saja. “Hae ! Kumohon ! Bawa aku !” Berteriak sekencangnya di tengah taman, hanya aku sendiri ditemani hujan salju yang turun perlahan dari langit Daegu sore ini. Tanpa bisa aku kendalikan, tubuhku, mataku seakan meluapkan semua emosinya. Aku menangis, entah menangisi apa ? Aku hanya merasa hilang.

Aku mendudukkan tubuhku yang terasa semakin berat di satu kursi taman kenangan kami. Bangku kayu berwarna hitam yang terletak di bawah pohon apel yang sudah mulai meranggas membeku diterpa dinginnya musim salju Januari ini. Masih membekas hangat dalam ingatanku kenangan indah musim semi tahun terakhir kami bersama.

.

Flashback Mode On

.

“Isshh, kenapa tidak sampai sih ?” Aku sudah naik ke atas bangku kesayangan kami. Apel merah itu sangat menggodaku dan Hae hanya diam menyipitkan mata menatapku. Hei, tatapan apa itu ? Mengapa dia menyeringai seperti itu ? “Ish, Hae ! Ayo bantu aku ! Kenapa kau malah seperti menertawakan kependekanku !” Aku merajuk padanya. Kutendang pelan pahanya yang tepat didepan kakiku. Dia tengah tiduran di bangku kesayangan kami dan menatapku tanpa ada sedikitpun niat membantuku. Aish, terkadang dia jahil dan sangat menyebalkan.

“Sudahlah, meski kau berjinjit sampai besok pun tidak akan sampai chagi.” Ish, dia benar-benar menyebalkan dan sangat amat pervert. Keterlaluan! “Aku tak akan memohon dan menciummu Hae ! Sudah aku katakan bukan, aku akan mendapatkan apel itu tanpa bantuanmu.”

“Seyakin itukah chagi ? Padahal syarat yang aku ajukan sangat mudah. Kau hanya perlu menciumku, dan meminta dengan manis dan kata-kata yang baik, dan dalam sedetik saja aku bisa mendapatkan apel merah yang sangat menggoda itu untukmu.” Aduh, bagaimana ini, apel itu memang sangat menggoda, besar dan sangat merah. Membayangkan rasanya saja sudah bisa membuatku menelan air liurku dengan susah payah. Dia kembali tersenyum menggodaku. “Hanya perlu mencium bibirku chagi, atau kau lebih memilih kehilangan apel itu ?”

Aku berjongkok disisi tubuh Hae, memasang wajah aegyoku dan mempoutkan bibirku. “Hae, ayolah. Apel itu tidak akan ada lagi Hae. Cepat petikkan untukku.” Aku menoel lengannya yang sedikit berotot itu. Ia memakai kaus tanpa lengan berwarna hitam dan celana cargo pendek berwarna coklat panjang selutut. Sangat manly dan tampan. Sebenarnya aku mau saja menciumnya tapi… Helloww ini tempat umum dan ini musim semi. Banyak orang disini, juga banyak anak-anak yang sedari tadi sudah memperhatikan kami. Please, tidak hanya kami berdua disini, dan dia itu benar-benar menyebalkan. “Hae, ayolah.” Kulihat dia malah memejamkan matanya, tidak mempedulikan rengekanku. Awas saja, jangan sampai dia tidur dan membiarkan aku sendiri berusaha mendapatkan apel yang hanya setinggi mungkin 20 centi dari jangkauan tanganku.

Aku kembali berdiri dan berusaha meraih apel itu. Meski sudah berulang kali aku mencoba, tetap saja tanganku tidak sampai. Aish, kenapa aku pendek ? Aku menoleh Hae yang kini sudah duduk melipat kedua lututnya dan memicingkan mata indahnya menatapku. Aish, bagaimana bisa dia setampan itu ? Dia tampan sekali. “Chagi, sudahlah.”

Dia menyeretku agar duduk disisinya. Dia menarik bahuku dan merengkuhku dalam pelukannya. Rasa tak nyaman mulai menjalariku, aku malu karena aku berkeringat dan aku merasa tidak wangi. Hei, bukannya aku bau, tapi wangiku sudah luntur karena kegiatan tadi. Pernahkah kau merasa tidak percaya diri di sisi kekasihmu yang sangat wangi dan maskulin ditambah dengan wajah yang sangat tampan. Aku minder. Haishhh… “Hae, lepaskan. Jangan memelukku.”

Tapi dia makin menarikku dalam pelukannya. Dia mencium leherku dan lidahnya bermain pelan ditelingaku. Seluruh bulu halus dalam tubuhku berdiri menanggapi rangsangan dari Hae. Lidah basah dan nakal itu bermain di telingaku.

“Hhh… Hae…” Aku menarik kepalaku menjauh dan menatapnya. “Hentikan melakukan itu. Dasar pervert !” Aku melepaskan diriku dari pelukannya dan kembali berdiri berusaha mengambil apel itu. Tak kusangka Hae juga ikut berdiri disisiku. “Jadi mau aku bantu atau tidak chagi ?”

Akhirnya aku menyerah. ” Hwaa… Baiklah… Baiklah.” Aku benar-benar tak tahan melihat apel yang bergelantung bebas diatas sana. Rasanya aku ingin memakannya sekarang juga. Aku mendekati wajah tampan yang sudah menutup matanya itu. Aku semakin mendekatinya, bibir itu memang sangat menggoda, ini bukan ciuman pertama kami, tapi tetap saja aku merasa berdebar setiap kali melakukannya dengan Hae.

.

Degh… Degh… Degh…

.

Jantungku berdebar cepat, semakin cepat saat hidungku menyentuh hidung mancungnya, aku menutup mataku dan…

.

Cup…

Bibir lembut ini terasa sangat manis. Aku berusaha menyudahi ciumanku dan menarik bibirku tapi sial, tangan Hae menekan kuat tengkukku. “Emmmhhh…” Aku melenguh merasakan hisapannya melumpuhkan seluruh kekuatanku. Aku hampir terbawa permainannya jika saja anak-anak yang tengah bermain itu tidak mengganggu kami.

.

Plookkk… Plokk… Plok…

“Wah, akhilnya Eoni dan Oppa belciuman tuga.” Seorang yeoja kecil menatap kami dan terus bertepuk tangan, sementara temannya yang lain terus tersenyum dan semakin membuat kami malu. Aku langsung duduk dan menyembunyikan wajah maluku diantara kedua lututku. ‘Ini benar-benar memalukan.’

Kurasakan tangan dengan jari panjang itu mengusap lembut rambutku. Aku mendongak melihat sebuah benda besar berwarna merah tepat didepanku. “Hae…” Aku memeluknya, dia benar-benar mengambilkannya untukku. “Gomawo Hae-ku sayang.”

“Minnie chagi, lihat ke samping. Apa kau tidak malu ?” Aku melihat kesamping kananku dan menemukan banyak anak kecil yang menatap kami, ini sungguh-sungguh memalukan. Segera saja aku melepaskan pelukanku dan menatap anak kecil yang kini masih tertawa kecil melihat kami. “Eoni, nomu yeppeoyo.” Seorang namja kecil mendekatiku dan naik ke kursi kami. Ia menatapku lekat dan tersenyum manis menunjukkan gigi ompongnya.

Cup…

Namja itu mencium pipiku, “Jika aku cudah becal nti, kuh akan puna yojachingu cepelti Nunna. Tantic dan manish.”

Namja kecil itu lalu turun dari kursi kami.

Segerombolan anak kecil itu lalu pergi meninggalkan kami. Menyisakan satu pertanyaan didalam diriku, aku menatap Hae. “Hae, apa aku terlihat seperti yeoja ?” Hae tersenyum seakan mengerti kenapa aku bertanya seperti itu. “Kau tahu Minnie,” dia membenarkan rambut dan poniku, mencium sekilas dahiku. “Kau memang sangat cantik dan manis. Lebih cantik dan manis dari yeoja manapun. Cantik dan manis seperti yang dikatakan namja tadi.”

Aish, pujian dan rayuan itu membuat wajahku memanas menahan malu. “Dan aku sangat mencintaimu Minnie. Sekarang makanlah apelnya. Bukankah kau sudah menginginkannya dari tadi.” Aku mengusap-usapkan apel itu pada kaosku dan menyodorkannya pada Hae. “Makan dan berbagilah denganku.” Dia menggigitnya, “Manis dan asam sepertimu Minnie.”

.

End of Flashback

.

“Sungmin ! Tangkap !”

Pluukk …

.

“Aww…” Sebentuk apel merah melayang sukses ke dahiku dan membuyarkan lamunanku. Aku mengambil apel itu dan mencari siapa yang melemparnya. Mataku menemukan namja yang tengah terpingkal menahan suara tawanya. “Yesung hyung !”

“Hahahaha… Mianhe Sungmin.” Dia tertawa terbahak dan mendekatiku. Kenapa dia harus melemparku dengan apel ? Apel merah, warna yang sama dengan apel yang baru saja aku lamunkan. “Mianhe Sungmin.” Ia menyodorkan sapu tangannya padaku. Wajahnya terlihat memerah setelah tertawa tadi. Dia tampan dan mata biru itu sangat cocok untuknya. Dia duduk sisiku dan meraih bahuku, membuat aku duduk berhadapan dengannya. “Tidak baik kau menangis sendiri disini. Apalagi sampai melamun seperti tadi, sebenarnya apa yang membuatmu sedih Sungmin ? Kumohon ceritakanlah padaku, atau jika memang kau menghilangkan nomor ponselku, aku akan memberikannya lagi untukmu.”

Akh, dia benar. Aku tak pernah menelfonnya. “Mianhe hyung.” Dia mengangguk, “Gwenchanayo Sungmin-ah. Sekarang ayo hapus air matamu.” Telingaku seakan tuli dan tak mendengar perkataannya. Aku menatap lekat mata Hae dalam tatapan lembutnya.

Mungkin karena aku tak kunjung menerima uluran sapu tangan itu, ia mengusapkannya di pipiku. Jantungku berdesir halus saat merasakan dia melakukannya. Mata itu tak lepas dan terus menatapku. Rasa dihatiku membuatku ingin menangis lagi dan lagi. “Wajah manis ini, akan terlihat seperti ugly duckling yang buruk rupa jika terus bersedih.” Dia menyudahi kegiatannya lalu menyodorkan cup yang sepertinya berisi kopi panas terlihat dari asapnya yang masih mengepul. “Minumlah Sungmin, kopi hangat agar perasaanmu menjadi lebih baik dan hangat.”

Aku menerima uluran kopinya dan meminumnya. Seketika kehangatan menjalar masuk ke tubuhku. “Gomawo hyung.” Yesung hyung mengangguk dan tersenyum. Ia mengambil apel yang aku genggam dan membersihkannya dengan mantelnya lalu mengulurkannya padaku. “Aku membeli apel ini dari seorang gadis kecil yang berkeliling menjajakan sekeranjang apel. Mungkin saja ada orang yang mau menemaniku memakannya.” Kulihat dia mengambil satu apel lain di sakunya. “Ayo, makanlah Sungmin.”

Aku mengangguk dan mencoba untuk tersenyum meski rasanya sungguh aneh. Dia menaikkan kedua kakinya ke atas bangku dan duduk berhadapan denganku. “Untung saja hujan salju tidak lebat, jika lebat seperti biasanya maka kau sudah membeku kedinginan berdiam diri terus seperti tadi.” Aku hanya mengangguk lemah, tak mampu berbicara apapun saat ini. Suaraku tercekat dileherku.

Seakan mengerti dengan keadaanku dia tersenyum dan meminum kopinya. “Padahal aku berharap kopi hangat ini dapat melegakan perasaanmu Sungmin. Memang, jika kita sedang bersedih, berbicara saja terasa begitu berat dan sangat sulit. Mianhe, jika aku terlalu mencampuri urusanmu.” Dia menatapku tajam dan untuk pertama kalinya aku kembali menatap dalam mata indah itu.

Mata yang memancarkan kesedihan dan juga luka yang mendalam. Ia meletakkan apel dan kopinya di bangku dan melepaskan kedua sarung tangannya. Ia lalu menarik apel dan kopiku lalu meletakkan di bangku juga dan menarik sarung tanganku.

“Hatimu dingin Sungmin, jadi biar aku bantu menghangatkannya.”

Seketika itu juga jantungku berdebar. Ada perasaan hangat menyusup masuk kedalam darahku. Saat dia menarik tanganku dan menyatukan jari kami. Menggosok-gosokkan jari tangannya yang mungil dengan jariku, memberi kehangatan tersendiri untukku. “Yesung Hyung,” aku hanya bisa bercicit lirih menerima perlakuannya. Sesekali dia meniupkan nafas hangatnya pada jari tangan kami yang saling bertautan.

“Sungmin, jangan bersedih dan memikirkan kehilanganmu terus menerus.” Apa maksud perkataannya? “Mianhe jika aku lancang dan menanyakan masalahmu pada Hyukkie. Tadi aku juga sudah mengunjungi Hae di makamnya. Dia namja yang tampan Sungmin dan rasanya memang pantas jika kau sangat kehilangan dia.”

“Gwenchana hyung.” Ternyata dia sudah mengetahui semuanya dari Hyukkie, pantas saja. “Bagaimana kau bisa ada disini Hyung, bukankah jadwalmu sangat pa…”

“Aku ke Daegu untuk bertemu dengan Hyukkie. Dia adik sepupuku dan dia baru kembali dari Jepang setelah menyelesaikan studinya disana.” Dia memasangkan satu sarung tanganku dan memasang satu sarung tangannya juga. Lalu dia menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku kami dan memasukkan jari tangan kami yang masih bertautan kedalam saku mantel hangatnya. “Sungmin, apa kau pernah merasakannya ?”Dia menatap lurus kedepan, dapat kurasakan ia mengeratkan genggaman tangannya padaku.

“Apa hyung ?” Perkataannya seperti magic yang langsung membuat darahku berdesir hebat. Perlakuannya padaku yang bisa dibilang kelewat manis saja sudah membuat pikiranku melayang entah kemana. “Aku merasakan hal yang aneh, seperti saat ini. Rasanya hangat tapi juga dingin hingga membuat tubuhku kaku dan terus bergetar.” Dia menengok padaku dan kami bertemu pandang.

Seperti terhisap dalam tatapan itu, aku, antara sadar dan tak sadar mendekatkan wajahku. Dapat kurasakan nafas hangatnya berhembus menerpa wajahku. “Hatiku berdesir cepat meski hanya memikirkanmu Sungmin. Awalnya aku berfikir mungkin aku hanya mengagumimu saja, tapi… ” Apa ? Kenapa dia harus meraskanannya, ini tidak boleh terjadi. “Tapi hyung ak…”

Apa ini ? Mengapa seperti ini ? Akh… Kenapa aku tak bisa menghentikannya ? Mengapa aku seakan menikmati ini ? Bibir lembutnya menempel sempurna di bibirku, membuatku menutup mata untuk lebih meresapi manisnya, membuat jantungku berpacu lebih cepat saat ini. Apa yang harus aku lakukan ? Aku tak bisa berbuat apapun. Tubuhku terasa hangat namun sangat dingin hingga kaku.

Seketika kehangatan merasuk dalam darahku dan seakan aku menikmati ciumannya. Dia melakukannya dengan sangat lembut dan hati-hati. Dapat kurasakan satu tangannya menarik tubuhku mendekat padanya dan ia melepaskan tautan jari kami lalu menekan tengkukku. Mengapa aku menikmatinya, lumatan dan hisapannya membuatku menggila. “Eummmhhh… Ennggghh…” Aku hanya bisa melenguh menerima perlakuannya padaku. Lidahnya menjalar masuk dan menggelitik rasa dalam perutku. Aku sungguh terbawa dalam permainannya seiring dengan hisapan dan gigitan kecil darinya dalam ciuman kami. French kiss yang benar-benar basah hingga dapat kurasakan pipiku sedikit basah dan lengket terkena salivaku sendiri yang mengalir keluar. Namun tiba-tiba saja sebersit rasa kecewa menghampiriku saat ia menyudahi ciuman basah kami.

“Mianhe Sungmin, aku sungguh tak berniat melakukannya.” Dia meminta maaf ? Setelah terus membuat jantungku berdebar hingga sekarang. Dia mengusap jejak saliva yang ada disekitar bibirku dengan jari mungilnya lalu menghisapnya didepanku. “Sayang jika salivamu harus aku buang.”

“Yesung hyung, aku…” Aku tak bisa berkata apa-apa lagi saat merasakan tubuh hangatnya menempel sempurna memelukku erat. Dapat kudengar detak jantungnya yang keras diantara heningnya malam ini. “Biarkan seperti ini dulu untuk beberapa saat Sungmin. Aku ingin menghilangkan dingin yang menyelimuti hatimu dan juga perasaan takut dalam hatiku. Mianhe jika aku bertindak seperti ini. Mianhe jika kau tidak nyaman dengan apa yang aku lakukan. Aku hanya berusaha menenangkan diriku sendiri Sungmin. Mungkin juga kau dapat mendengarnya, jantungku tengah bekerja dua kali lipat saat ini. Kau membuatku merasakannya lagi. Sebuah perasaan sebentuk hati dengan warna merah yang bernamakan cinta. Menyusup dalam dan mengukirnya dengan namamu, saranghe Sungmin-ah.”

Dia mengatakannya padaku. Dia mencintaiku. Dapat kurasakan nafas hangatnya berhembus dileherku dan membuat semua bulu halus diseluruh tubuhku berdiri. Sangat hangat dan juga geli. Dia mengusap-usapkan wajahnya pada perpotongan leher dan bahuku membuatku tak sengaja mengeratkan pelukannya sembari menahan geli yang mengaduk perutku.

Pelukannya sangat hangat dan seketika itu juga lampu taman menyala dan hujan salju berhenti. Udara disekelilingku menjadi hangat dan pemandangan malam ini begitu indah, sangat romantis. Aku tak tahu harus melakukan apa untuk menghentikan diriku sendiri saat ini.

‘Hae, apa yang harus aku lakukan searang ?’ Dilema ? Tentu saja. Saat ini hatiku juga hangat saat Yesung memelukku erat, serasa tak ingin aku lepaskan. Tapi bagaimana dengan Kyu ? Aku harus bagaimana ? Kenapa cinta ini begitu menyiksa. Dilema, aku dalam dilema yang aku buat sendiri. Aku memejamkan mata menikmati pelukan ini.

Biarlah, malam ini saja aku menikmatinya. Aku tak mau kehilangan perasaan ini sekarang, perasaan yang tenang dan hangat. Merasa dilindungi dan disayangi. Meski bukan Hae yang memelukku, namun perasaan ini sungguh membuat hatiku hangat dan lega. Menikmati malam di taman kenanganku bersama Yesung hyung, kurasa bukan satu hal yang buruk. Karena hatiku benar-benar hangat sekarang.

.

.

Lee Sungmin POV end

.

.

Other Side

.

.

“Arghhh, kemana dia !” Kyu berteriak frustasi di kantornya. Semua pekerjaan menumpuk dan tak satu pun yang berhasil ia selesaikan. Meski ia hanya harus tanda tangan, tapi seakan tak ada sedikitpun keniatan dalam hatinya untuk melakukan itu. Akhirnya ia meraih ponsel dan menelfon seseorang.

“Nde baby Kyu. Waeyo ? Kau sudah menentukan pilihanmu ?” Suara seorang wanita menggema di jalur telfon di seberang sana.

“Nde Umma, aku sudah memutuskannya.”

“Jadi ?”

“Aku akan tetap menikahi Minnie hyung. Aku akan pergi kerumahku sendiri dan meninggalkan kantor Umma sekarang juga.”

“Geurae, kalau begitu aku akan meminta supirmu menjemput dan mengantarmu ke rumah barumu baby Kyu. Ingat, Umma akan selalu menunggumu merubah keputusanmu Kyu. Umma harap kau memikirkannya kembali.”

“Tidak Umma. Tidak ada yang akan aku rubah.”

Plipp…

“Huh… Kyu, sekarang kau harus berjuang lebih keras dan kau harus menemukan Minnie hyung.” Kyu mengatakan itu untuk menyemangati dirinya sendiri kini. Tak lama kemudian supir yang disuruh Ummanya datang. Pertama kali, Kyu langsung menuju kerumah orang tuanya dan mengemas semua barangnya. Setelah itu ia bersiap menuju rumah barunya. Sepanjang jalan, ia hanya termenung menatap ramai laju kendaraan disekitar limo-nya. Ia mengernyit heran saat memasuki satu jalur yang ia kenal baik sejak kecil.

“Aku mengenal jalanan ini. Kita mau kemana ?”

“Ke rumah lama Tuan Besar, Tuan Muda. Rumah Halmeoni Tuan Muda.”

“Daegu ?”

“Nde tuan muda. Anda akan tinggal di Daegu. Menurut perintah nyonya besar, anda akan menempati rumah mendiang Halmeoni anda. Pelayan sudah membersihkannya untuk tuan muda. Dan meski rumah itu sudah tidak dihuni selama setahun terakhir, keadaannya masih baik tuan muda.”

‘Baguslah, dengan begitu aku bisa mencari Minnie hyung di Daegu. Kenapa sama sekali tak terfikir olehku jika Minnie hyung pasti pulang ke rumah orang tuanya. Baiklah Minnie hyung, tunggu aku.’

.

.

“Hei Mochi, sedang apa kau berdiam disitu ?” Zhoumi melangkah mendekati Henry yang tengah memejamkan mata duduk bersandar pada dinding gedung kelas musik yang ada di Universitasnya. Sebenarnya Henry tidak tidur, dia hanya merenungkan nasibnya dan hyungnya. Ini pertama kalinya Henry merasakannya, menyayangi seseorang setulus hati dan pertama kali juga ia merasakannya, betapa dalam rasa sakit yang tersisa saat semua perasaannya tak berbalas. ‘Kenapa sampai sekarang masih terasa sakit ?’ Henry susah payah menahan nyeri yang mendera hatinya. ‘Ini sangat sakit Mommy. Lebih sakit dari saat kau tak datang di hari ulang tahunku. Lebih sakit dari lukaku saat aku belajar mengemudikan mobil dan mengalami kecelakaan kecil yang membuatku trauma. Sakit ini seakan membuatku trauma juga. Aku takut mencintai, jika hanya akan ditinggalkan seperti ini.’

Henry seperti tak mendengar teguran Zhoumi, terus saja sibuk dengan gumaman lirihnya. “Minnie hyung, kenapa kau tega sekali padaku ? Mengapa kau harus memilih Kyu hyung dan bukan aku ? Aku yang mencintaimu hyung. Kau jahat Minnie Hyung.” Segaris air mata turun di pipi merah itu. Henry sedikit meremas dadanya melampiaskan perihnya. Zhoumi berjongkok menatap namja didepannya. Ada sebersit rasa sakit saat mengetahui jika namja didepannya itu telah mencintai orang lain dan bukan dirinya. ‘Kau tahu Henry, terasa sangat menyakitkan saat aku tahu kenyataannya.’ Zhoumi membatin dan semakin mendekatkan wajahnya pada Henry. Dia tersenyum datar dan mendekati telinga Henry, berbisik, “Aku tahu kau tidak tidur Henry, bangunlah dan buka matamu sekarang atau aku akan meninggalkanmu di gedung ini sendirian.”

Henry langsung membuka mata dan sedikit tersentak menemukan wajah Zhoumi yang begitu dekat dengannya. “Aish… Dasar orang aneh. Mengagetkanku saja, ayo pulang sekarang.” Henry bersikap setegar mungkin dan mengusap kasar pipi basahnya. Berjalan mendahului Zhoumi menuju parkiran mobil di halaman depan universitasnya.

.

.

“Dia pergi ke Daegu ?” Namja cantik itu menatap tak percaya pada namja tampan dihadapannya. “Untuk apa dia pergi ke Daegu ?”

“Mana aku tahu. Mian, aku tak bisa membuatkan janji untukmu agar bisa menemuinya. Kau bisa menyuruh orang yang akan bertemu dengannya untuk menyusulnya ke Daegu.”

Namja cantik bernama Kibum itu menghela nafasnya, “Huh, arraseo. Kau punya alamatnya ?”

“Hei, kau pikir aku ini kurang kerjaan sampai mencari sedetail itu.”

“Kya ! Choi Siwon ! Aku akan membayar padamu berapapun yang kau inginkan. Dasar namja sombong menyebalkan. Kenapa kau selalu saja membuat masalah semakin panas dan rumit.”

“Kau saja yang keterlaluan. Memangnya kau pikir aku ini pegawai Departemen Kependudukan sampai harus mengurus hal tak penting seperti itu. Aku ini direktur tahu !”

“Nde, namja sombong. Aku tahu kau Direktur dari sebuah perusahaan periklanan yang cukup sukses. Hanya sayang kau sangat sombong dan menyebalkan.” Kibum menggeser kursinya mundur hendak beranjak pergi, namun dengan sigap Siwon berdiri dan menarik tubuh mungil Kibum hingga kini namja cantik itu ada di pelukan Siwon. “Akh… Si- Won-.”

.

Degh… Degh… Degh…

.

‘Nurago…’ Siwon membatin menatap mata cantik yang seperti menariknya untuk semakin menyelami betapa indah kehidupan dibalik mata dingin itu. Hening dan hanya suara detak jantung yang berpacu cepat yang terdengar di ruangan kerja Siwon.

‘Mengapa terasa seperti ini ? Aku ingin mendorongnya keras dan melepaskan pelukannya, tapi mengapa sangat sulit untukku melepaskan diriku dari lengan yang masih setia melingkar di pinggangku.

.

.

“Akh, Umma cukup baik padaku. Menyuruhku mengurus kebun Halmeoni dan meninggalkan dua pelayan dirumah untukku. Setidaknya ini cukup bagus sebagai permulaannya.” Kyu berjalan di area perkebunan jeruk dan strawberry di dalam sebuah rumah kaca besar. Halmeoni-nya memang hidup mandiri hanya dengan menjual buah ini. Pelayan saja, Halmeoninya bisa membayar dengan hasil kebunnya. Sangat hebat. Kyu lalu keluar dari rumah kaca itu dan berjalan di luar kompleks perumahannya. “Kawasan perumaha elit Daegu yang tenang.” Kyu melangkah menuju taman kompleks pagi itu. Sudah banyak orang disana, ia lalu mencari sudut yang nyaman menurutnya, duduk di sebuah bangku besi berwarna kuning yang terletak di bawah bawah pohon apel yang meranggas. Ia sudah mengeluarkan PSP itu dari kantungnya. Tapi seketika saja ia kembali menyimpannya saat mata obsidiannya menemukan namja dengan mantel merahnya tengah berjalan beriringan dengan seorang namja lain.

“Kenapa harus bertemu dengannya juga sih ?” Kyu menggerutu kesal lalu berlari mengejar kedua namja yang seakan tak melihat Kyu yang tengah terengahKengah mengejarnya. “Hyung, hosh… Hos… Berhenti hyung !”

.

.

“Kibumie, kau kenapa ? Mengapa wajahmu seperti itu ?”. Namja mungil dan manis itu mengusap pelan bahu saudaranya. “Jadi, dia di Daegu ya ?”

“Nde Wookie hyung, apa kau akan kesana ? Seingatku rumah lamamu tak terurus. Bagaimana kau disana ? Kau akan tinggal dimana Hyung ?”

“Tenang saja Kibumie, aku bisa tinggal di rumah sahabatku atau tinggal dirumahnya. Aku yakin dia masih setia untukku dan masih mau menerimaku.”

.

.

T.B.C.

6 thoughts on “My First Love Story || Ch. 8 || YAOI ||KYUMIN||

  1. nyesek gw eonn#serasa jadi ming,,

    makin jelas sih mulai ada pencerahan untuk sibum,,,,kwkwkw

    tapi kapan kyumin bersatu,,kenapa yeppa juga suka ma ming,,tiyyusss wookie gimana tuh???

    wahh..aku langsung lanjut ne eonn…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s