HATE TO HEART U || KYUMIN || CH.7 || YAOI ||

HATE TO HEART U

Author : rainy hearT

Cast :

– Cho Kyuhyun

– Lee Sungmin

– Henry Lau

– Other SUJU member

Pairing : ||KYUMIN || slight HenMin || Other Pairs

Genre : Romance, Drama, Sad

Rating : M

Length : Series

Disclaimer : All cast punya diri mereka sendiri dan Tuhan. #Sungmin akan selalu dan selalu punya saya#plakkk#

Warning : Please be patient|| BL/Boys Love/YAOI || EYD tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia || typos || GS for Umma ||

Sumarry : || I am sorry but i have been waiting for this moment, I have been waiting forever. That your long-time love would end. Forget about him and wash him off from your mind. He’s not meant to be with you. So baby won’t you come to me…||

.

.

Gamsahae telah tetap setia bersama author dan KYUMIN.

Makin hari makin banyak KMS yang ababil, please BELIEVE IN KYUMIN

Be Patient With Me Please… No Copas No Bash, Don’t Like Just Don’ Read

.

.

.

HAPPY READING

.

ooOoo HATE TO HEART U ooOoo

.

.

Chapter 7

.

.

Di Cafe Chocolate and Love.

.

.

Kembali diruangan VIP ini terjadi perang dingin. Kini antara Cho Heechul dengan Choi Kibum. Kedua yeoja cantik ini hanya diam dan saling bertatapan tajam.

“Ck… Cepat katakan apa maumu ? Kenapa mengajakku bertemu disini jika kau sama sekali tak mau bicara ?”

Kibum menyodorkan map yang cukup tebal pada Heechul. “Apa ini ?” Kibum meminum coklat dinginnya dan membuka map itu. “Lihat sendiri dan bacalah.”

Heechul membaca setiap lembar dengan teliti. Tak ada satu kalimat pun terlewat dari tatapan mata cantiknya. Membukanya satu persatu. Memastikan keaslian dan tanda tangan yang ada disetiap lembarnya. “Apa maksudmu memberikan aku semua ini ? Surat saham keluarga Lee. Apa maksudmu Choi Kibum ?”

Kibum tersenyum dan memainkan ujung straw pada coklat dinginnya. “Kau tahu benar apa keinginanku.”

“Ck… katakan saja Choi Kibum. Kau ini bertele-tele sekali.”

Kibum tersenyum, akh tidak. Lebih tepatnya menyeringai. Mungkin jika ada orang ketiga diantara mereka, maka orang itu akan merasakan benar aura iblis yang kental diruangan itu. Heechul membanting kasar map itu diatas meja. Kibum membenarkan posisi duduknya dan membuka lembaran demi lembaran kertas yang berada di map itu.

“Ini adalah surat kuasa dan pemindahan saham dari keluarga Lee kepada keluarga Choi. Meski semua atas nama Henry, tapi aku tahu Siwon lah yang mengontrol semuanya.” Kibum berdiri dari duduknya dan duduk disisi Heechul.

“Eonni, tahukah kau betapa aku mencintai Siwon ?”

“Jujur, aku salut padamu.” Heechul sedikit melunak saat Kibum menatapnya lembut. “Kau sanggup bertahan dengan sikap Siwon yang seperti itu.” Heechul memeluk Kibum. “Mianhe.”

“Untuk apa Eonni ? Akulah yang salah.”

“Bukan, bukan kau yang salah. Siwon dan Henry juga tidak salah. Ini semua mungkin karena keegoisan semata. Entah itu Siwon, atau Henry, atau putraku sekalipun.” Heechul melepaskan pelukannya dan menatap lembut pada Kibum. Ia sadar, tak seharusnya mereka saling membenci hanya karena masalah ini.

“Kurasa kau mengetahui semuanya. Semua yang Siwon rencanakan, termasuk rencana gilanya itu.”

Kibum mengangguk, tersenyum miris. “Aku tahu eonni. Rencana Siwon oppa, menikahimu sebagai syarat untuk melepaskan semua ini.” Kibum kembali memegang map itu. “Ini adalah semua aset keluarga Lee. Meski sekarang atas nama Henry, aku bisa mengubahnya untukmu. Aku bisa membujuk Henry, tapi kumohon eonni. Bantulah aku.”

“Apa maksudmu ?”

“Siwon oppa. Dia sama sekali tak pernah melupakanmu. Bahkan jika dia tidak mabuk, dia tidak akan menyentuhku. Kurasa kau tahu benar bagaimana perasaanku, eonni.”

Heechul terlihat berfikir. Memikirkan cara apa saja yang mungkin bisa dilakukannya. “Aku tidak tahu harus berbuat apa, Bummie. Siwon, dia terlalu sulit untuk ditebak.”

Kibum diam dan berfikir dalam. “Eonni, apa kau tahu ?” Kibum menatap dalam pada Heechul. “Henry, dia benar-benar anak Siwon oppa. Saat itu, aku hamil dan akhirnya ia mau menikahiku. Meski menikah denganku, malam pengantin itu pun aku tak mendapatkannya. Dia terus saja meminum wine dan barulah, saat mabuk dia melakukannya. Dan kau tahu eonni…” Kibum terhenti sejenak, menahan tangisnya. “Setiap saat, setiap detik percintaan kami, tak pernah dia menyebutku. Tak pernah dia secara sadar menganggapku Kibum. Selalu saja menyebutmu, mengingat setiap detail tubuhku ini adalah dirimu, eonni hikss… Bagaimana aku bisa mengubahnya ? Aku… hikss… hiksss…”

Air mata Kibum pun jatuh juga, menangis pasrah dalam pelukan Heechul. “Aku akan membicarakannya dengan Siwon. Kumohon, bertahanlah Bummie. Dan map ini, semuanya bawalah pulang. Aku tak mau semuanya menjadi boomerang bagimu.”

Heechul mengusap pipi Kibum, digenggamnya tangan Kibum dan mengusap bahunya. “Aku akan berusaha untukmu, kau hanya perlu meyakinkan Siwon, betapa dalam kau mencintainya. Dan masalah anak-anak, kumohon maafkan aku. Jika aku mampu, aku juga ingin menghentikan kegilaan Kyuhyun, tapi…”

“Ahniya eonni, aku akan mengusahakan Sungmin. Aku akan membujuk Henry perlahan. Tapi kumohon eonni, bantulah aku.”

Kedua yeoja itu kembali berpelukan. Kibum terus saja menangis, melampiaskan semua perasaannya. Dia hanya butuh seseorang untuk bersandar, dan inilah awalnya.

.

.

Lee Sungmin POV

.

.

Aku merasakan lengan itu melingkari pinggangku. Nafas hangatnya berhembus pelan menerpa leherku. Ia meniup pelan telingaku, “Sedang apa chagi ?”

Aku hanya tersenyum. Kembali menatap kedepan. “Pemandangan yang indah. Sunrise dipagi ini sangat indah, Kyu.”

Kurasakan ia mengangguk, mencium leherku dan sedikit menghisapnya. “Kyuh, hentikan. Ahhh… Kyuh… Aku tak ingin menutup mataku dan melewatkan sunrise ini.”

“Nde, arrasseo.” Aku tahu dia pasti marah, seperti anak kecil saja. “Kyuhyun-ah, saranghae…”

“Nde, nado saranghae.”

Kami terdiam, menikmati hangatnya sunrise pagi ini. Setelah melarikan diri dari rumah, dan akhirnya kami sampai disini. Pulau Jeju. Menghabiskan sepanjang Valentine bersama dengan Kyuhyun. Meski tubuhku terasa sakit semua, ini terlalu indah untuk dilewatkan.

Hingga menjelang siang, barulah aku berniat menyudahi kegiatanku. Tapi entah mengapa tubuh yang memelukku, terasa begitu berat dan saat aku menoleh padanya, “Ck… Tertidur.” Ia hampir jatuh saat aku memutar tubuhku. Untung saja aku cukup cepat menerima tubuhnya. Kami masih berpelukan, dan nafasnya masih menerpa leherku, sangat geli. Perlahan aku menepuk pelan punggungnya, mengusapnya, berusaha membangunkan malaikatku. Evil yang hanya akan menjadi malaikat saat ia tidur.

“Kyunie, ieronna.” Aku berbisik ditelinganya. Berharap jika dia mau bangun dan aku bisa membuatkan sarapan untuknya. “Kyuhyunie, ierronna.” Sekali lagi aku berbisik, dan dia hanya menggumam. “Where’s my morning kiss ?”

Aku menangkap kedua pipinya yang sudah terlihat chubby dengan kedua telapak tanganku dan sedikit berjinjit. Memberikan ciuman sekilas untuknya. “Morning, babyKyu.”

Dia hanya tersenyum dan tanpa bisa kuhentikan, kembali meraih pinggangku, mengeratkan pelukannya. Memaksaku untuk memejamkan mataku, merasakan setiap detail lumatannya yang terasa manis dan lembut. Merasakan jemarinya yang mengusap pelan leher dan punggungku.

“Ahhnnn…” Ini terlalu indah, terlalu nikmat untuk dihentikan. Dan kembali, aku tertarik dalam ciuman itu.

.

.

“Mwoya ?”

“Nde chagi, kita akan pulang sore nanti. Bukankah tidak apa-apa ? Aku akan mengantarmu sampai kerumah.”

“Tapi, Kyuhyunie. Umma, Appa, mereka akan memarahimu. Sebaiknya aku pulang sendiri saja, jangan mengantarku.” Aku berusaha mencegah Kyuhyun agar tak datang kerumah. Heechul umma, mungkin dia bisa menerimaku karena paksaan Kyuhyun, satu-satunya putra yang sangat ia sayangi, hingga ia mengijinkan apapun yang Kyuhyun lakukan. Meski dengan terpaksa tentunya.

Tapi tidak denganku, Appa dan Umma telah mengetahui, jika semua tender Appa telah direbut keluarga Kyuhyun. Mungkin saja perusahaan appa akan bangkrut, dan hal itu semakin menambah kebencian appa pada Kyuhyun.

“Kumohon Kyu, mengertilah. Aku tak ingin kau dalam bahaya. Appa, dia bisa melakukan apa saja untuk menjauhkan kita.”

“Tapi Ming, jika kau pulang nanti mungkin saja kau yang ada dalam bahaya. Aku tak mau jika besok kau tak berangkat sekolah hanya karena dikurung oleh appamu. Dia begitu menyebalkan.”

Aku hanya bisa diam dan menuruti semua keinginannya. Aku tak bisa lagi mencegahnya. ‘Meski berapa kuatnya aku, aku tetap saja tak mampu melawan kuasa appa. Salahkah jika aku mengkhawatirkan keselamatanmu, Kyu ?’

.

.

Plakk…

.

“Beraninya kau !”

“Appa, jebal appa.”

“Harus berapa kali lagi aku melarangmu Sungmin ? Aku tak ingin kau menjadi gay dan tak memberi keturunan untuk keluarga Lee. Memalukan !”

Dan appa kembali hendak menampar Kyuhyun. Aku tahu hal ini pasti terjadi. Tapi mengapa Kyuhyun sama sekali tak melawan, atau sekali saja membela diri didepan appa. Dan aku, dengan segenap keberanianku, menangkis tangan appa.

“Hentikan appa.”

“Sungmin !”

“Gwenchana Minimi. Jebal, menyingkirlah. Aku tak mau kau terluka.”

Aku memutar tubuhku dan menatap Kyuhyun. Setitik berkas darah menandakan bibir itu telah menerima pukulan yang cukup keras. “Mianhe Kyuhyunie…”

Aku berusaha mengusap titik darah itu, namun appa menarik kuat tubuhku. “Teukki-ah. Bawa dia pergi dari sini, kunci dia dikamarnya, aku tak mau dia menemui anak ini lagi. Keturunan keluarga Cho yang sama sekali tak punya perasaan.”

“Tapi appa…”

“Sungmin, kau dengar aku bukan ? Jika kau masih disini, aku tak segan-segan untuk menyuruh semua bodyguarmu memukul anak ini hingga ia tak akan bisa mengingatmu lagi.”

“Pergilah Minimi, gwenchana.”

“Ahniya, Kyuhyunie.”

“Lee Sungmin !”

Akhirnya, demi keselamatan Kyuhyun, aku meninggalkannya bersama appa. Tapi, bukan keselamatan Kyuhyun yang aku dapatkan.

.

Buagghh… Buagghhh…

.

“Appa, hentikan !” Aku terus mencoba mendobrak pintu kamarku. Umma menguncinya. Dan entah mengapa kedua orang tuaku seperti tak punya perasaan lagi. Umma masih didepan pintuku. Dan aku hanya bisa menatap Kyuhyun dari jendela kecil di pintu kamarku. Appa sendiri yang memukulinya.

“Appa hentikan ! Hikss… Appa jebal ! Appa !” Kyuhyun sudah tak dapat bergerak lagi, darah sudah membasahi setiap inchi kulitnya. Luka pukulan dan lebam terlihat jelas diwajahnya. “Umma, jebal Umma.”

Umma hanya menggeleng, ia sama sekali tak mau membuka pintunya. “Kyuhyun-ah, bertahanlah. Kyuhyun ! Kyuhyun… ”

.

Lee Sungmin POV end

.

.

“Appa, hentikan !” Teriakan Sungmin terdengar jelas, menggema diseluruh sudut di rumah besar itu. Semua pelayan dan supir terbangun, tak terkecuali dengan kedua orang tua Sungmin. “Appa hentikan ! Hikss… Appa jebal ! Appa !”

Kedua orang tua Sungmin, Leeteuk dan Kangin, masuk dan melihat Sungmin. Berkeringat dan terus menggerakkan tangan dan kakinya. Dan sekarang, Sungmin menyatukan kedua tangannya.

“Umma, jebal Umma.” Jejak air mata sudah membasahi pipinya. Jika boleh jujur, Leeteuk sangat ingin membantu Sungmin. Namun, ketakutannya terhadap Kangin melebihi semua kasih sayangnya pada Sungmin. Leeteuk hanya diam.

Berbeda dengan Kangin, dia sudah menatap geram pada Sungmin. Tangannya mengepal kuat. “Bisa-bisanya kau ! Anak bodoh !”

“Kyuhyun-ah, bertahanlah. Kyuhyun ! Kyuhyun… ”

.

Sreet…

.

Seketika Sungmin terbangun dan langsung bangkit mendudukkan tubuhnya, dengan nafas yang tak teratur, ia menatap ke arah pintu. Menatap wajah Kangin yang sudah diliputi kemarahan yang siap meledak.

“Kau ! Mengapa kau melakukannya Sungmin ?” Kangin berjalan mendekati Sungmin.

“Seharusnya aku yang bertanya padamu, Appa. Apa yang kau lakukan padaku ?” Sungmin memberanikan diri menatap tajam pada Kangin.

“Kau tak boleh mengingat Kyuhyun ! Kau dengar baik-baik. Kau harus melupakan nama itu.”

“Tapi, appa. Mengapa dalam ingatanku hanya ada Henry ? Mengapa dalam mimpiku, aku mengingat nama itu ? Bahkan setiap detail wajahnya, bisa aku ingat dengan baik. Appa, katakan padaku Appa. Sebenarnya, Appa yang kau lakukan padaku ? Apa yang kau lakukan pada pikiranku ?”

.

Plaakk…

.

Kangin menampar Sungmin. Matanya berkilat penuh kemarahan. ” Kau harus melupakan nama itu. Dan ingat, jangan menemuinya dimanapun, dan jangan sekali-kali kau berani mencari namja itu, atau kau akan menerima penyiksaanku.”

.

Brakkk…!

.

Kangin membanting kasar pintu kamar Sungmin. Meninggalkan Sungmin yang masih menangis lirih, dan Teukki yang kini perlahan mendekati Sungmin dan memeluknya. “Mianhe chagi.”

Sungmin menatap wajah cantik Teukkie, mencium pipi pucat Ummanya dan kembali menangis dalam pelukan Teukki. “Umma… Waeyo Umma ?”

“Mianhe, Umma tak bisa membantumu.”

Mereka terus berpelukan, hingga akhirnya Sungmin mengantuk dan tertidur dalam dekapan Teukki. Perlahan, Teukki membaringkan Sungmin, diciumnya kening basah Sungmin dan meninggalkannya. Teukki berjalan pelan menuju kamarnya kembali. “Istirahatlah kalian semua.” Segera, semua pelayan dan supir dirumah megah itu kembali ke kamarnya masing-masing.

Teukki berhenti didepan kamarnya, menatap datar pada namja yang kini berdiri tegap menatap langit malam yang gelap di balkon kamar mereka. “Gwenchana …”

Teukki melingkarkan lengannya di pinggang Kangin, menyandarkan kepalanya pada bahu Kangin dan perlahan menangis lirih. “Kau tak melupakan janjimu bukan ?”

“Ck…” Kangin memutar tubuhnya. Memegang kedua bahu Teukki, membuat wajah cantik itu terdiam dan menatapnya. “Aku hanya tak tahu harus berbuat apa.” Kangin melepaskan pelukan Teukki dan duduk di kursi santai di balkon itu. Menatap kembali pada langit kelam yang sama sekali tak berbintang.

Teukki terus berdiri dan melihat tak tentu arah. Pandangannya kabur. Kabur karena air mata yang perlahan keluar dari mata cantik itu.

“Apakah aku keterlaluan ? Atau aku kejam ? Atau aku egois ? Salahkah aku ?” Kangin menggumam pelan, namun masih bisa didengar oleh Teukki. “Aku hanya ingin yang terbaik untuk Sungmin, untuk kita. Apa itu bisa dihitung satu hal yang salah ?”

“Tapi kau sudah berjanji padaku.”

Kangin menghela nafasnya, “Jika saja Sungjin tidak meninggal, mungkin ini akan lebih mudah.”

“Kita sudah bisa berdiri sendiri. Kurasa, satu perusahaan saja cukup untuk kita bertahan. Atau jika masih sulit, lebih baik lepaskan semuanya dan memulai kehidupan baru di Daegu. Kurasa, usahaku disana cukup berhasil.” Teukki berjalan mendekati Kangin dan memijat bahu suaminya. Ia tahu, Kangin tengah bimbang saat ini. Sama dengan dirinya. “Meski sulit, jika bersama, tak akan terasa sulit.”

Teukki sedikit membungkukkan tubuhnya dan berbisik pada Kangin. “Dan kita lebih bisa menikmati hidup.”

“Tapi, bagaimana dengan perjanjian itu ? Meski Siwon sudah memberikan dua perusahaannya pada kita, semua akan hilang jika Sungmin tidak menikah dengan Henry. Aku tak mau kau dan Sungmin hidup susah. Aku akan mengusahakan semuanya.”

Perlahan Teukkie mencium pipi Kangin dari belakang. “Percayalah padaku. Bukankah kau sudah berjanji ? Kuaharap kau tidak melupakannya.” Teukki berjalan menjauhi Kangin dan kembali menuju kasur mereka, namun ditengah jalan ia berhenti dan menoleh. “Kita hanya punya satu Sungmin, jika dia tidak bahagia, maka aku tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk diriku sendiri. Sudah cukup, aku menahan semua sakitku karena keegoisanmu dan Siwon. Jika kau masih tetap bersikeras dengan semua itu, jangan salahkan aku, jika kau akan sendiri nanti.”

Teukki berjalan cepat, meninggalkan kamar itu. Membuka pintu berwarna soft pink dan mengusap kening namja yang kini tengah tidur lelap. “Umma, akan berusaha untukmu.”

.

.

Di rumah Zhoumi

.

“Jadi, caranya begini. Arra ?”

Henry hanya mengangguk kecil. Ini hari ketiga dia harus mengikuti pelajaran tambahan di rumah Zhoumi. Bukan tak menikmati pelajaran itu, tapi Henry sedang memikirkan hal lain. Apalagi kalau bukan Sungmin. Seketika saja Henry menoleh pada Zhoumi. Ia menatap wajah serius Zhoumi yang kini tengah menjelaskan tentang teori Fisika. “Bolehkah aku bertanya padamu ?”

Zhoumi terhenti sejenak dan menatap pada Henry. Membenarkan kacamatanya dan tersenyum datar. “Arra, untuk kali ini kau kuijinkan menyela pelajaran kita, karena sepertinya kau juga sedang tidak bersemangat.” Zhoumi membenarkan posisi duduknya dan menatap Henry, “Jadi, apa ?”

Henry menatap dalam pada Zhoumi. “Apa kau tahu, aku akan bertunangan ?”

“Tentu, waeyo ?”

“Apa kau tahu, aku akan bertunangan dengan seorang namja ?”

Zhoumi mengangguk, kemudian meminum jus jeruknya. Ia menuangkan segelas jus lagi dan memberikannya pada Henry. “Minumlah, anggap saja ini istirahat. Kurasa ada sesuatu yang salah dengan otak kecilmu itu.” Zhoumi mendorong pelan dahi Henry dengan telunjuknya.

Henry merengut kesal. “Jangan karena aku tak bisa sains, kemudian kau mengecapku anak bodoh. Aku hanya tidak pintar bukan berarti aku bodoh.”

“Arra, mianhe. Karena seperti bukan anak keluarga Choi yang manja saja. Kenapa tiba-tiba bertanya seserius itu ? Aneh.”

Henry memainkan ponselnya, menggumam lirih. “Bukan begitu, aku hanya sedang ragu. Apakah salah, jika aku merebut sesuatu yang bukan milikku ?”

“Tentu saja salah, kau memiliki segalanya, bisa mendapatkan apapun yang kau mau. Tapi jika merebut sesuatu yang bukan milikmu, maka itu bukan suatu kebahagiaan. Hanya kepuasan untukmu.”Sedikit terlalu bersemangat, Zhoumi menanggapi Henry. “Memangnya kenapa ? Ada yang mengganggu pikiranmu eoh ?”

Henry menggeleng kecil. “Entahlah, aku baru memikirkannya sekarang. Dia tak membalas pesanku, juga tak pernah menelfonku terlebih dulu. Meski kita belum resmi bertunangan, tapi aku juga perlu semua perhatiannya. Entah mengapa, aku merasa bukan dia yang bersamaku. Seperti orang lain.”

“Nuguya ?”

“Lee Sungmin.” Henry menatap Zhoumi kembali, ia benar-benar butuh orang lain untuk mencurahkan segala kegundahan hatinya. “Bolehkah aku bercerita kepadamu ? Maukah kau mendengarku ?”

Zhoumi hanya mengangguk dan memperbaiki posisi duduknya. Henry mengangguk dan tersenyum sekilas. Ia mulai mengingat setiap detail dari seorang Lee Sungmin.

“Dia sempurna. Cantik, manis, dan tampan. Sangat menggemaskan, juga aegyonya mampu meluluhkanku. Pertama aku pulang dari Kanada dan langsung datang ke sekolah, dialah orang pertama yang menarikku dengan segala pesonanya.” Henry terdiam sejenak dan menunduk. “Tapi, sayang. Dia memiliki Cho Kyuhyun. Dan aku, hanya menjadi adiknya. Setidaknya, dia menganggapku begitu.”

“Lalu, bagaimana bisa, kau sekarang hampir bertunangan dengannya ?”

“Itu karena aku mencintainya, aku ingin memilikinya. Semuanya, segala cara bisa aku lakukan. Hanya meminta pada Appa, dan dia akan mengendalikan semuanya untukku.”

Sedikit terkejut, Zhoumi menatap tak yakin pada Henry. “Jangan katakan kau memaksa Sungmin untuk bertunangan dengamu.”

“Ahni, aku tak memaksanya. Aku hanya meminta pada Appa, dan dia mengusahakan semuanya untukku.” Henry kembali diam dan menatap wajah cantik dengan bibir poutynya yang selalu membuat Henry tersenyum. “Lihatlah, dia sangat menggemaskan.” Henry menunjukkan ponselnya pada Zhoumi.

“Untuk seorang namja, dia terlalu menarik.”

“Nde.” Henry mengangguk kecil dan kembali menatap foto Sungmin di ponselnya. “Tapi, entah mengapa aku seperti bersama orang lain saat bersamanya. Meski aku memilikinya, tapi dia bukan Sungmin hyung yang yang dulu.”

“Maksudmu ?”

Henry menghela nafasnya dan menatap sayu pada Zhoumi, menahan segala ketakutan di dalam hatinya. “Meski dia mengatakan saranghae padaku, tapi mata itu, seperti tak melihatku. Katakan padaku, apa aku salah ? Atau aku egois ? Atau aku melukainya ?”

Zhoumi menepuk bahu Henry dan tersenyum datar. “Cinta itu tak akan menuntut banyak pengorbanan karena kita berkorban dengan hati hingga meski kehilangan banyak hal, kita sama sekali tetap berbahagia. Jika kau setulus hati mencintainya, pasti kau merasakannya. Bukan cinta, jika kau selalu memaksakan semuanya. Lepaskanlah, jika kau sama sekali tak melihat dirimu sendiri didalam matanya.”

Henry terdiam sejenak, memikirkan kata-kata Zhoumi. Meski ia kesal, karena secara tidak langsung Zhoumi memintanya untuk meninggalkan Sungmin, tapi dalam hatinya, ia juga mengakui kebenaran perkataan Zhoumi.

.

.

KyuMin side

.

“Kyunie, aku menemukannya. Kurasa, ini kubuat untukmu.” Sungmin melingkarkan syal yang seharusnya ia berikan dari dulu untuk Kyuhyun. “CK.” Sungmin mendongak sedikit dan tersenyum menatap Kyuhyun. “Cho Kyuhyun.”

“Kurasa memang Cho Kyuhyun.” Kyuhyun mengusap lembut rambut Sungmin, menciumnya dalam, menghirup wangi shampo anak-anak yang selalu dipakai Sungmin. “Gamsahae.”

Sungmin memeluk Kyuhyun, pelukan erat, mendengarkan detak jantung Kyuhyun. “Kumohon, jangan pergi.”

Merasa aneh. Tentu saja. Kyuhyun bingung sekarang. Sungmin menariknya begitu saja sebelum ia sempat masuk kekelasnya pagi itu. Bersembunyi dari kejaran pengawas kedisiplinan di sekolah. Bersembunyi di kamar kecil nan sempit di atap sekolah.

“Ayo keluar dari sini. Disini panas chagiyya.”

Sungmin mengangguk, dan mereka keluar dari ruangan itu. Menghirup udara pagi di atap sekolah yang segar dan hangat. Syal biru muda itu melambai tertiup angin yang pelan menerpa tubuh Kyuhyun.

“Aku bermimpi buruk Kyu.”

“Apa ?”

“Appa memukulimu, dan aku hanya bisa menangis didalam kamarku tanpa bisa melakukan sesuatu untuk menghentikan kemarahan appa.” Sungmin mengusap sudut bibir Kyuhyun. “Disini, jejak darah itu pertama kali mengalir untukku.”

“Uljima Minimi, jangan mengingatnya lagi.”

“Kyunie, berjanjilah padaku. Kau akan menungguku hingga aku mengingat semuanya. Hingga aku bisa berusaha membujuk appa dan umma.”

Kyuhyun mengangguk pelan, mencium dahi Sungmin. “Aku berjanji.”

Sungmin menarik tangan Kyuhyun, mengajaknya untuk duduk bersamanya. Meski dilantai yang terkesan kotor karena debu, tetap saja Sungmin dan Kyuhyun duduk dengan nyaman disana.

Sungmin membuka tasnya dan mengeluarkan semua isinya. “Ini boneka bunny. Meski dalam ingatanku Henry yang memberikannya tapi kurasa kau yang memberinya untukku.”

Kyuhyun mengangguk dan tersenyum pada Sungmin. “Ini aku berikan saat kau menemaniku ke Game Centre. Karena kau marah padaku saat aku terlalu lama berada disana, dan ini sebagai hadiah permintaan maafku.”

Sungmin mengangguk dan memasukkan kembali boneka itu. Kemudian ia mengeluarkan kalung yang ia temukan kemarin. Kyuhyun menatap kalung itu, dan dia mengeluarkan kalung yang sama yang ia simpan di dalam tasnya. “Aku punya yang berinisial S, S untuk Sungmin dan K untuk Kyuhyun.”

“Nde, aku ingat. Mianhe aku tak memakainya.”

“Gwenchana, aku juga tak memakainya. Aku takut, kalung ini akan direbut umma. Jadi aku hanya menyimpannya dan membawanya kemanapun aku pergi.”

Sungmin meraih kalung itu dan memakaikannya di leher Kyuhyun. Kalung dengan rantai perak yang menjuntai hingga pas berada ditengah-tengah dada Kyuhyun. Huruf S yang berada di tengah lingkaran yang bertuliskan Kyuhyun and Sungmin. Kalung yang sama yang kini dipakaikan Kyuhyun pada Sungmin. Kalung dengan inisial K untuk Kyuhyun.

“Mulai hari ini aku akan selalu memakainya.”

Sungmin mengangguk dan mengusap kalung itu. “Ini indah Kyu. Gamsahae.”

“Tentu saja indah, dan tak akan ada di toko manapun karena aku mendesain sendiri untuk kita.”

Sungmin diam sejenak, matanya sayu menatap kosong kedepan. “Kyu, bagaimana dengan Henry ?”

“Hhhhh… Masih memikirkan anak itu ?”

“Bukan begitu maksudku, hanya saja aku takut dia akan terluka.” Sungmin menatap Kyuhyun. “Dia mencintaiku Kyu.”

“Dan kau tidak.”

Sungmin mengangguk pelan. “Aku bisa mengatakan nado saranghae padanya, tapi entah mengapa hatiku sendiri seperti memberontak setiap kali aku berusaha untuk sebiasa mungkin mengatakannya.”

Kyuhyun meletakkan telunjuknya di bibir Sungmin. Meraih dagu namja itu dan membawanya kedalam ciuman lembut yang selalu memabukkan Sungmin.

Melumat dan menghisap lembut bibir tipis Sungmin, menekan tengkuknya dan memejamkan mata, menikmati setiap detail ruang hangat didalam mulut Sungmin.

Merasakan manis strawberry yang entah bagaimana selalu menempel di dalam lidah Sungmin. Mengisapnya kuat, meremas dan mengusap pelam punggung Sungmin.

“Euhhhh… Ahhhh…”

Lenguhan itu seperti alunan merdu ditelinga Kyuhyun, membuat Kyuhyun semakin bersemangat untuk melakukannya lagi dan lagi.

“Aahhhh…” Sungmin melenguh keras dan mendorong pelan bahu Kyuhyun. “Sudah Kyuh… Hhhhhh…”

Sungmin sedikit mendesah, saat lidah Kyuhyun menjilati berkas saliva disekitar bibir Sungmin.

“Aku hanya terlalu merindukanmu Minimi.”

Dan kembali, Kyuhyun meraih dagu Sungmin. Kembali membawanya kedalam ciuman yang sangat hangat dan dalam. Menjelajah setiap sudut dan menyimpannya dalam ingatannya.

“Aaaahhhh…hhhh…”

Kyuhyun melepaskan tautan bibir mereka, saat kedua kalinya Sungmin mendorong keras tubu Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum, akh tidak. Menyeringai. Menatap Sungmin, mencium kembali bibirnya sekilas. “Berhentilah memikirkan anak itu. Dia saja tak memikirkan bagaimana aku bertahan tanpamu.”

“Tapi Kyu, Henry. Dia terlalu lemah dan penyakitnya…”

“Dia sudah sembuh. Kau harus tahu itu. Beberapa hari setelah kau menghilang dia juga menghilang dari sekolah. Dan menurut berita yang aku dapat, dia melakukan operasi di Jepang. Dia mendapatkan donor, dan penyakitnya sudah sembuh.”

“Tapi Kyu…”

“Minimi, berhentilah memikirkan perasaan orang lain. Sekali ini saja, pikirkanlah aku.”

“Hmmm…” Sungmin mengangguk pelan. Ia terlalu bimbang untuk segera memutuskan semuanya. Mereka berdua diam, hanya angin yang berhembus hangat menerpa kulit mereka. Perlahan Kyuhyun memeluk Sungmin, membawanya dalam dekapan hangat dan mencium keningnya. “Jebal, sekali ini saja. Pikirkanlah kita.”

.

.

TBC…

.

.

Gimana ? Makin gajekah ? Mianhe jika ceritanya datar atau bahkan gag berasa sama sekali. Author udah berusaha sebaik mungkin. Gamsahae untuk yang selalu setia menanti dan Review FF ini.#bow

5 thoughts on “HATE TO HEART U || KYUMIN || CH.7 || YAOI ||

  1. Aigoo!!
    Romantis banget🙂
    Aku bahkan bisa membayangkannya🙂
    Begitu jelas dan romantis🙂
    Oke, lanjut lagi sebelum kantuk melanda »»

  2. romantisnya,,, kyumin the best couple,,, walaupun ming masih lupa sama kyu tapi tetap saja romantisnya nggak ilang,,, ff nya bagus,, sukses membuat airmataku mengalir,,, daebak eon,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s