HATE TO HEART U || KYUMIN || CH.2 || YAOI

HATE TO HEART U

Author : rainy hearT

Length : Series

Rated : T

Cast :

-Cho Kyuhyun

-Lee Sungmin

– Henry Lau

-And other SUJU member

Pairing : || KYUMIN || slight HenMin|| and Other Pairs ||

Disclaimer : Semua cast belongs to God and themselves. And seperti biasa, Sungmin selalu punyaku #plak#

Genre : Romance || Drama || Sad ||

Warning : || Boy x Boy / BL / YAOI || Gaje || typo’s || EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, Genderswitch for Umma (Y).||

Summarry : || …I’m sorry but I have been waiting for this moment, I have been waiting forever that your long time love would end. Forget about him and wash him off from your mind. He’s not meant to be with you. So baby, won’t U come to me… ||

Author gaje balik lagi bawa lanjutan yang kemaren. Gomawo untuk semua dukungannya. “KYUMIN IS REAL” #kibarbenderaKyuMin#

HAPPY READING

.

-oooHate To Heart Uooo-


Chapter 2

.

.

“Appa, sekarang Sungmin Hyung sudah pulang.”

“Lalu ?”

“Kau berjanji akan mengadakan pesta pertunangan yang meriah dihari ulang tahunku nanti. Hanya mengingatkanmu appa, minggu depan ulang tahunku.”

“Tenanglah, appa sudah mengatur semuanya untukmu.”

“Gomawo appa.” Henry, berlari memeluk appanya. Anak lucu nan manja. Tentunya dia sangat menggemaskan. Semua keinginannya terpenuhi, dan bila tidak, maka harus dipenuhi.

Bukan kesalahan Henry, bukan juga kesalahan Siwon maupun Kibum yang terlalu memanjakannya. Mereka hanya terlalu mencintai putra mereka satu-satunya.

Siwon mengusap lembut punggung Henry dan menatap manik mata yang berbinar itu. “Appa, akan melakukan semuanya untukmu chagi. Jadi appa mohon, kuat dan sehatlah untuk appa.”

“Nde appa.” Henry mengangguk dan tersenyum. Ia lalu meninggalkan ruang kerja Siwon.

.

Sejenak Siwon diam dalam keheningan. Ia berjalan menuju rak buku kayu yang cukup besar di dinding belakang ruangannya. Menarik satu buku tebalnya, dan rak buku itu tergeser. Itulah ruang rahasianya. Yang memang hanya ia yang tahu ruangan ini. Siwon masuk kedalam ruang rahasianya. Ruangan gelap dengan hanya cahaya merah yang redup menerangi ruangan itu. Ia menutup pintu rahasia itu dan duduk di kursi nyamannya. Didepannya kini berserakan foto masalalunya. Foto yang masih sering ia pegang.

Siwon menatap foto yang ia gantung pada sebuah tali. Foto kenangannya, kepingan masa lalu yang sangat ia benci karena sama sekali tak bisa ia hilangkan. Fotonya bersama kekasih dan sahabatnya. Sahabat yang menurutnya menikam dari belakang.

“Chullie-ah, bogoshipoyo…”

Siwon menutup matanya. Tangannya memegang satu foto besar hasil cetakannya kemarin. Memeluk erat didadanya yang terasa sesak. Berusaha mengurangi kerinduannya sendiri.

Foto yeoja cantik, dengan rambut hitam curly-nya yang membuatnya semakin terlihat cantik. Bibir merah dan kulit seputih susu. Mata tajam yang siap menarik siapapun yang menatapnya. Leher putihnya terekspose cantik dan menggoda. Paras yang selalu bisa menaklukkan keegoisan seorang Choi Siwon. Paras yang selalu ia rindukan selama bertahun-tahun.

.

Flashback On

.

Choi Siwon POV

.

“Kim Heechul imnida.” Ah, sunbae yang sangat cantik. Tidak sia-sia aku mengikutinya sekolah di Universitas ini. Dia Kim Heechul, yeoja cantik yang sangat aku kagumi sejak aku melihatnya menjadi tutor untuk satu mata pelajaran saat senior high school. Dan sekarang aku bisa berbicara padanya secara langsung. Menatapnya sedekat ini, menghirup wangi tubuhnya yang sangat memabukkan. Dia sangat cantik, sempurna. Modis dan elegan tapi tidak vulgar. Tubuhnya tetap terlihat seksi meski pakaiannya cenderung tertutup. Dan jangan lupakan tubuhnya yang dibalut kulit seputih susu itu. Benar-benar, dialah malaikat yang turun dari langit.

Sedikit tempramental namun lembut dan penyayang. Sedikit pemarah tapi juga sangat perhatian.

“Bodoh, mengapa kau masih mengikutiku ke tempat kerjaku. Lihat dirimu ! Basah kuyup begini, nanti kalau kau sakit bagaimana ?” Dia memarahiku.

Tapi tak apa, aku senang. Itu tandanya dia memperhatikan aku. Dia memang sedang marah, tapi menarikku masuk kedalam cafenya. Mengajakku masuk ke ruang kerjanya. Ya, cafe ini miliknya. Ia mengeringkan rambutku dan membuatkan aku coklat panas. Sangat baik dan perhatian. “Minumlah untuk menghangatkan tubuhmu. Aku akan mencarikan pakaian ganti di bagian seragam di bawah mungkin saja ada yang pas untukmu.”

.

Greepp…

.

Secepat kilat aku menariknya dalam pelukanku. “Si-won…” Wajahnya memerah, rona itu semakin membuatnya terlihat cantik. Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya yang kupeluk erat. Pinggang rampingnya, perutnya dan juga sesuatu yang berhasil menabrak dadaku, …? Akh… Jantungku berdebar kencang.

“Kau, disinilah dulu. Dengarkan aku…”

Aku menatap wajah cantiknya. Bibir itu, merah. Menggodaku untuk merasakan manisnya. Mengeliminasi jarak antara kami, aku merasakannya. Bibir lembut yang manis dan hangat. Memberikan kehangatan yang menjalar pada aliran darahku. Melumatnya sekilas dan mencium keningnya. “Saranghae Kim Heechul.”

Dia diam. Terkejut, terlihat dari paras cantiknya. Aku mencium kembali kedua pipinya dan bibir merah itu. “Jeongmall saranghae… Neomaneul saranghalkoya…”

Dia diam dan menatapku. Sedikit takut, jika dia akan menolakku, tapi… Dia tersenyum dan mengangguk. Tak perlu lagi ada jawaban lain. Karena aku sudah mengerti dengan isyaratnya.

Kembali aku merasakan bibir manisnya. Dialah segalanya untukku. Dialah kekasihku, dia milikku.

.

“Ini Cho Hankyung. Dia sahabat terbaikku, teman dari kecil dan kami selalu bersama. Sayang, dia harus mengurus bisnis Appanya di China dan dia baru kembali.”

Satu kesalahan terbodohku. Bukan aku tak memperhitungkannya atau tak melihatnya. Aku jelas melihat dan bisa merasakannya. Hankyung, menatap dalam pada Chullie. Seakan ada hal lain yang begitu mendalam yang tersimpan di dalam hatinya. Tangannya tak kunjung melepas genggaman tangan Chullie. Kulihat Chullie sudah tak nyaman. Ia berulang kali mencoba melepaskan genggaman tangan Hankyung. Hatiku sakit. Beginikah rasanya dikhianati ?

.

.

“Siwonie, kau…”

Suara itu sukses membangunkan aku. Bagaimana bisa aku berada di kamarku dalam keadaan seperti ini ? “Chullie-ah chakkamman, Chullie ! Ini tak seperti yang kau lihat !”

Shit… ! Aku hanya bisa mengumpat. Membiarkan air mata itu membasahi pipi cantiknya, membiarkan ia lari tanpa mendengarkan penjelasanku. Bagaimana aku bisa mengejarnya, jika aku tak mengenakan apapun sekarang ? Naked. Dan parahnya, Kibum. Dia masih tidur disisiku. Bagaimana bisa begini ?

‘Paboya Siwonie.’ Aku memang bodoh.

.

“Chullie, dengarkan aku dulu.”

“Andweyo. Aku sudah tahu semuanya Wonie. You have nothing to explain. Ok !”

“Chulie, please. Ini tak seperti yang kau lihat.”

“Please Wonie. Sudah cukup.”

Dia pergi meninggalkan aku. Dengan air mata itu, dengan luka dariku yang entah darimana asalnya. Dan aku sama sekali tak tahu harus bagaimana, menjalani hidupku setelah ini tanpanya.

.

.

Flashback Off

.

“Huh… Sangat menyedihkan.”

Aku hanya bisa menatap fotonya. Foto terakhir setelah ia melihatku. Setelah kesalahpahaman itu. Setelah tak pernah sekalipun dia mau mendengar penjelasanku.

Foto terakhir yang aku ambil. Sebelum hari itu, sebelum hari dimana semuanya berakhir. Hari dimana aku menerima gulungan undangan merah dengan pita kuning itu. Undangan yang dari dulu aku impikan.

Terluka. Pasti. Saat membukanya, aku benar-benar terluka. Foto itu. Tak seharusnya dia bersamanya. Mengapa dia terlihat bahagia. Meremas undangannya. Aku meremas undangan itu. Benar-benar ingin kuhancurkan namja itu. Dia… Seharusnya aku bisa menghentikannya. Dia menikamku. Dia mengambilnya, Chullie-ku. Dia merebutnya.

Drrrttt… Drrrrtttt…

‘Chulie…’

Dia menelfonku …

“Nde Chullie.”

“Bisakah kita bertemu ? Aku harus berbicara denganmu. Mengenai Kyu, otte ?”

Huh… Suara ini, aku begitu merindukannya. “Akh, baiklah. Tunggu aku di tempat biasa. Kau pasti tahu dimana.”

“Nde, gamsahe Wonie.” Dia menutup telfonnya. Dia memanggilku Wonie. Dia memanggilku lembut dengan suara yang aku rindukan.

Meski ia hanya akan membicarakan masalah Kyu, biarlah. Yang penting, aku bertemu dengannya.

.

Choi Siwon POV end

.

Rumah Cho Kyuhyun

“Umma.”

“Wae ?”

“Sungmin Hyung. Dia sudah kembali.”

“Lalu ?”

“Bukankah kau dan appa sudah berjanji padaku.”

“Tapi Kyu…”

“Umma …”

“Aish, arraseeo. Anak manja.”

Kyu mengilang dari pandangan Ummanya. Heechul, tengah berada di taman belakang rumahnya. Menyiram semua tanaman bunga yang ada disana.

.

Kim Heechul POV

.

Bunga Daisy merah. Bunga yang ia berikan padaku. Bunga pertama untukku. Bunga yang lain dari semua namja lain berikan untukku. Dia memberiku bunga daisy merah. Dan aku menanamnya di rumah kami.

.

Flashback On

.

“Bunga daisy merah. Karena kau cantik dan kau sama sekali tak menyadarinya. Dan bunga ini melambangkan cintaku yang tulus dan sederhana. Cintaku yang tak menuntut banyak padamu. Chullie-ah, yongwonie saranghaeyo.”

Dia romantis. Dia mengucapkannya saat memberiku satu pot bunga daisy berwarna merah. Dia tampan saat tersenyum padaku. Apakah aku sudah benar-benar mencintainya ?

.

“Ini Cho Hankyung. Dia sahabat terbaikku, teman dari kecil dan kami selalu bersama. Sayang, dia harus mengurus bisnis Appanya di China dan dia baru kembali.”

Akh, kumohon. Kali ini saja, semoga saja penglihatanku salah. Dia …

Jujur, aku ingin menangis menatapnya. Namja dihadapanku ini, dia…

Berusaha melepaskan genggaman eratnya pada jariku. Berusaha memalingkan wajahku karena pandangannya seakan menarikku kembali. Aku tak bisa meninggalkan Wonnie.

.

“Kau berpacaran dengannya ?”

“Nde, waeyo ? Ada masalah ? Atau kau tak terima dengan hubungan kami ?”

“Ahni Heenim. Aku hanya…”

“Jangan panggil aku Heenim. Dia sudah mati saat kau tinggalkan.”

“Kau dengar sendiri bukan ? Saat itu aku benar-benar harus pergi ke China, aku…”

“Ya ! Kau pergi kesana setelah kau menyatakan perasaanmu padaku. Setelah aku menerimanya, setelah aku mencintaimu, setelah seminggu aku baru merasakan menjadi seorang yeoja chingu-mu. Kau pergi ke China selama bertahun-tahun, dan selama itu aku harus bertahan. Tanpa kabar darimu, tanpa e-mail ataupun sekedar menelfonku menanyakan bagaimana keadaanku. Dan kebodohanmu adalah, kau kembali disaat yang benar-benar tidak tepat.” Aku benar-benar kesal padanya. Teramat kesal setelah semua yang ia lakukan, setelah ia meninggalkan aku, dan kini dia seenaknya masuk dan seakan hendak menghancurkan semuanya.

Hatiku bimbang. Aku ragu dan takut. Benci, sangat membencinya. Tapi, aku mencintainya. Dialah cinta pertamaku.

.

“Siwonie, kau…”

Terpaku. Tadinya aku hanya diam. Melihat semua pakaian itu berserakan di kamarnya. Oh… Jangan lupakan bau khas orang yang bercinta. Dan dia bersamanya. Yeoja itu, putri pengusaha kaya. Yeoja yang dipilih kedua orang tuanya. Dan semuanya terasa cukup untukku. Mungkin ini yang terbaik bagi hubungan kami.

“Chullie-ah chakkamman, Cullie ! Ini tak seperti yang kau lihat !”

Aku tak mau mendengarnya. Terlalu menyakitkan untukku. Dan aku hanya bisa menangis sekarang. Aku benar-benar tak ingin bertemu lagi dengannya.

“Chullie, dengarkan aku dulu.”

“Andweyo. Aku sudah tahu semuanya Wonie. You have nothing to explain. Ok !”

“Chulie, please. Ini tak seperti yang kau lihat.”

“Please Wonie. Sudah cukup.”

Meninggalkannya adalah satu-satunya caraku. Terlihat jahat, atau kejam memang. Tapi aku sendiri tak bisa membohongi hatiku, jika aku masih mencintai Hannie. Seakan semua terasa mudah dengan adanya kejadian itu.

.

“Aku masih sangat mencintaimu. Mianhe, jika selama itu aku tak pernah mengabarimu. Appa selalu mengontrolku dan aku sama sekali tak bisa berbuat apa-apa. Heenim, menikahlah denganku.”

Satu permintaan itu, berhasil merobohkam keegoisanku. Semua perasaanku pada Siwon akhirnya pun hanyut terbawa arus kehidupan kami masing-masing. Aku tahu Siwon sangat mencintaiku, tapi mungkin inilah akhir dari jalan cinta kami.

Aku memilih undangannya, memilih gaun dan juga menyiapkan tempatnya. Sedikit tidak tega saat aku harus mengirim undangan itu ke tempat Siwon. Tapi apa boleh buat, inilah yang kupilih, dan aku harus melakukannya.

.

Flashback Off

.

Dan sekarang, karena anak manja kami, aku kembali berurusan dan harus bertemu lagi dengannya. Aku harus segera menyelesaikan masalah ini. Putraku … Akh dia benar-benar tak bisa mendengar kata tidak. Hanya karena seorang namja, ia menjadi mayat hidup dan tak menganggap aku dan Hannie. Hanya karena seorang namja, dia tidak peduli lagi pada hidupnya sendiri.

Dan aku memang menjajikannya. Akh tidak, tepatnya kami berjanji padanya untuk merestuinya saat Sungmin kembali. Dan dia…

Huh… Aku benar-benar tak bisa bertemu dengan Siwon. Ini terlalu rumit. Masalah diantara kami. Aku akan menyakitinya lagi. Tapi nae baby Kyu…

Oke, egoku dan ketakutanku sudah kalah jika harus memikirkan Kyu. Mungkin, sekali saja bertemu dengannya tidak apa-apa. Aku mengambil ponselku.

.

“Nde Chullie.”

“Bisakah kita bertemu ? Aku harus berbicara denganmu. Mengenai Kyu, otte ?”

“Akh, baiklah. Tunggu aku di tempat biasa. Kau pasti tahu dimana.”

“Nde, gamsahe Wonie.”

Tunggu aku ditempat biasa. Tempat kami selalu menghabiskan waktu bersama. Di Cafe-ku. Cafe milikku dulu, yang sekarang sudah dikelola oleh orang bawahan Hannie. Cafe ‘Chocolate and Love.’

.

.

Kim Heechul POV end

.

.

Taman belakang sekolah

.

Kyuhyun, kembali berada disini. Menikmati permainan di PSPnya. Duduk diatas hamparan rumput hijau, dibawah pohon yang teduh. Sebenarnya, pikiran Kyuhyun tak tertuju pada PSP itu. Ia memikirkan hal lain. Satu keanehan yang memang sangat ia rasakan.

Ia sudah bertanya pada temannya yang lain. Juga pada Hyukkie, sepupunya sekaligus sahabat Sungmin. Dan Sungmin sama sekali tak mengingatnya. Sedikitpun tak mengingat Kyuhyun.

Sungmin mungkin mengingat Hyukkie tapi tidak dengan Kyuhyun. Satu hal yang baru ia sadari. Satu hal yang berhasil menggugah seorang Cho Kyuhyun yang sudah lama diam.

.

.

Flashback On

.

“Dia tak mengingatmu Kyu.”

“Benarkah ?”

Hyukkie mengangguk. Menatap dalam pada mata obsidian coklat adiknya itu. “Dia mengingatku, begitu juga dengan Hae. Dia mengingat Wookie dan Yesung. Tapi dia tidak mengingatmu Kyu.”

Hyukkie berhenti sejenak. Menyeduhkan black coffee untuk Kyuhyun. Mereka berada di salah satu cofee shop di sekitar rumah Hyukkie. Kyuhyun memang sengaja, meminta Hyukkie untuk bertemu dengannya.

Setelah sebelumnya ia menceritakan kepulangan Sungmin. Hyukkie langsung menghubungi Sungmin, dan hasilnya, ia bertemu dengan Sungmin. Sungmin mengunjungi Hyukkie di rumahnya. Seperti biasa. Dia selalu ceria dan terlihat ringan. Dan kecurigaan Kyu akhirnya terbukti.

“Sungmin menganggap Henry kekasihnya. Henry namjachingunya, bukan kau Kyu. Dia sama sekali tak mengenalmu, sama sekali tak mengingatmu.”

“Kau sudah memberi tahu tentang hubungan kami sebelumnya padanya ?”

“Belum. Aku tak ingin bertindak terlalu jauh tanpa persetujuanmu. Bukankah kau sendiri yang akan membuatnya mengingatmu kembali ?”

Hyukkie menyerahkan undangan pada Kyu. Undangan berbentuk board kaku persegi. “Ini, undangan dari Sungmin.”

Kyu membukanya. “Pertunangan ?” Hyukkie mengangguk. “Dengan Henry ?” Hyukkie lagi-lagi mengangguk.

“Aish, anak itu benar-benar perlu diberi pelajaran.”

“Buatlah Sungmin mengingatmu Kyu. Aku tahu kau masih sangat mencintainya.

.

Flashback Off

.

Cho Kyuhyun POV

.

Henry…

Dari pertama dia datang dia memang selalu menempel pada Sungmin. Dari pertama aku menjadikan Sungmin kekasihku, dia selalu saja mengganggu Sungmin.

Salahkanlah sikap Sungmin yang penyayang, ia menganggap Henry itu Sungjin. Selalu ramah dan lembut pada Henry. Tak pernah sekalipun ia menolak permintaan manja Henry. Berbagi bekal, mengantarnya pulang, hingga mengurus anak lemah itu saat ia terbaring di rumah sakit.

Henry menganggap Sungmin kekasihnya. Setidaknya itu pemikiranku. Henry selalu saja mengganggu saat dimana aku dan Sungmin berdua. Dia selalu datang dengan wajah innocentnya dan mengganggu kami. Dia pernah mengatakannya padaku, dia akan merebut Sungmin dariku. Dan sekarang, Henry memenangkan semuanya. Dia berhasil merebut Sungmin. Meski dengan cara entah apa itu.

Dan satu hal lagi, pertunangan mereka. Bagaimana bisa ? Beraninya Henry mengambil semua kesempatan disaat Sungmin sama sekali tak mengingatku. Mengapa dia hanya tak mengingatku ? Apa yang terjadi padanya ? Mengapa ?

Perasaan ini sangat menyiksa. Dia harusnya tak membuangku dari pikirannya. Dan pertunangan itu, akh… ini membuatku gila. Aku berdiri dari posisiku tadi. Menatap danau jernih dihadapanku.

Rasanya sangat sakit. Menangis … Jika aku bisa, sudah kulakukan dari tadi. Aku tak bisa menangis, aku menahan tangisku, aku menahannya. Menangis, adalah perbuatan seseorang yang lemah dan kalah, dan aku belum kalah saat ini. Mereka hanya bertunangan. Dan Sungmin hanya tak mengingatku. Satu kenyataan yang sangat aku benci, Sungmin hanya tak mengingatku.

Seakan semuanya percuma, penantianku, usahaku, lukaku, cintaku… Semua perjuanganku didepan appa dan umma, akankah semua harus terbayar dengan cara seperti ini.

“Huhh… Bosan…”

‘Eh, suara itu…’

Aku mengedarkan pandanganku. Dan aku kembali menemukannya. Sungmin. Dia kembali duduk ditempat yang sama seperti kemarin. Haruskah aku…

Akh, jangan menyerah Kyu, dia itu milikmu.

Aku berjalan mendekatinya, kembali duduk disisinya. Wanginya, wangi tubuhnya itu sangat aku rindukan. Ia menatapku dan tersenyum padaku. “Hei, kita bertemu lagi.”

“Nde, kita bertemu lagi.”

“Aku belum tahu siapa namamu. Kemarin aku belum sempat menanyakannya.”

Ternyata benar, dia tak mengingatku. Tak mengenalku, sama sekali tak mengenalku. Aku hanya bisa tersenyum miris, menahan air mata yang seakan memberontak untuk keluar. Rasanya sangat sakit. “Cho Kyuhyun imnida.”

“Akh, nde. Cho Kyuhyun.” Dia mengangguk dan menyambut uluran tanganku. “Kyunie…”

“Kyunie ?”

“Nde, aku panggil kau Kyunie saja. Terdengar manis, dan lagi pula kau juga tampan.”

Satu kenyataan yang tak akan pernah bisa ia lupakan. Dia tetap memanggilku Kyunie, dan tetap mengatakan aku tampan. Ini sama, seperti perkenalan kami dulu. Dulu juga begini, dia tersenyum dan menyambut uluran tanganku.

“Jadi apa yang kau lakukan disini hyung ?”

“Menunggu Henry. Dia ada tambahan pelajaran karena nilainya cukup buruk pada pelajaran Sains. Kalau Kyunie sendiri, sedang apa disini ? Bukankah semua siswa sudah pulang.”

“Aku menunggumu Minimi.”

“Eh… Mwoya ?”

“Aku menunggu untuk berkenalan denganmu.” Mata foxynya mengerjap cepat dan wajahnya cantik berbinar diterpa pantulan cahaya sore ini. “Kau cantik Minimi.” Kata-kata yang sama yang dulu selalu aku ucapkan.

“Aku namja Kyunie, seharusnya aku tampan. Tapi, terima kasih atas pujiannya.”

“Kudengar, kau akan mengadakan pesta pertunanganmu dengan Henry, benarkah ?” Dia mengangguk dan tersenyum. Dia lalu mengambil kotak bekalnya. Dan sudah kuduga, dia membawanya. Salad sayuran. Akh, salahkanlah hari Rabu ini. Hari ini memang jadwal Sungmin membawa salad ke sekolah.

Sungmin mengingat semua kebiasaannya, tapi mengapa tak sedikitpun dia mengingatku ?

“Kau mau ?” Dia menyodoriku satu sendok salad. Meski sudah memakai saus, tapi tetap saja itu sayuran. “Ahniya, aku tak mau.”

“Ayolah Kyunie, makanlah.”

“Aku tak suka sayuran Minimi. Kau juga tahu aku tak menyukainya.”

“Ayolah baby Kyunie, satu suap saja…”

Dia tiba-tiba terdiam. “Eh, kenapa aku …”

“Waeyo hyung ?”

Dia meletakkan kembali sendoknya. “Kepalaku sakit.” Dia mulai memegang kepalanya, terus menggeleng dan mulai berkeringat. “Sakit sekali, hiks…hikss… Sakit…”

“Hyung, gwencahanyo hyung. Tenanglah.”

Aku memeluknya erat, dan tanpa sadar aku menciumi puncak kepalanya. Mengirup wangi rambutnya yang sangat aku rindukan. Memeluk erat tubuh lemahnya.

Dia tenang dan diam. Tertidur. Dia tertidur di pelukanku. Nafasnya sudah mulai teratur. Aku membawanya ke ruang kesehatan. Menidurkannya dan duduk disisinya.

“Hyung, bangunlah.”

“Kyunie, kenapa tak mau makan sayuran ?”

Eh… Aku melihatnya, dan ternyata benar. Dia mengigau. Wajahnya sangat tenang dan cantik sekali.

“Henry, bukan kekasihku… Dia adikku, dia seperti Sungjin adikku. Appa, aku tak mencintainya appa. Kumohon, aku mau Kyunnie…”

Ia menggumam lirih. Sama seperti dulu, ia suka mengigau dalam tidurnya. Kebiasaan yang tak pernah berubah.

“Akh… Apa yang kalian lakukan ? Jangan lakukan ini padaku. Kumohon… Aku tak ingin melupakannya… Aku tak mau melupakan Kyunie. Kyunie, saranghae. Kyunie, mianhe. Kyunie…”

Dia masih mengingatku. Satu kenyataan yang membuatku sadar bahwa aku harus memperjuangkannya. Meski didalam ketidaksadarannya, dia mengingatku.

“Tenanglah chagiyya, aku disini. Aku akan melindungimu.”

“Hikss… Kyunie…”

Aku mencium bibirnya, sedikit melumat dan merasakan manisnya bibir plump yang selalu menggodaku ini. Berusaha meredakan tangisnya, menghapus jejak air mata dipipi chubbynya. Terus melumat dan menghisap bibirnya. Memainkan lidahku masuk kedalam mulutnya. Mencoba menggugah cintanya.

“Enghh…” Dia melenguh dalam tidurnya, dan dia membalas ciumanku. Biarkanlah dia tertidur lebih lama, kumohon. Aku tak ingin saat ini berakhir dengan cepat.

Aku masih menciumnya, dan akan terus menciumnya. Menggenggam lembut jemarinya dan menautkannya dengan jariku. Mengusap lembut dahinya yang mulai berkeringat. Terus menghisap bibirnya. Dan ciumanku turun ke lehernya. Menggigit kecil leher putihnya. Meninggalkan kissmark disana.

“Engh… Kyuh…” Aku tahu, ada satu sisi didalam dirinya yang tak melupakan aku.

.

Cho Kyuhyun POV end

.

oooHATE TO HEART Uooo

.

.

T.B.C

7 thoughts on “HATE TO HEART U || KYUMIN || CH.2 || YAOI

  1. Aigoo sad r0mance ,, KYUMIN so str0ng ._mrka msh bsa brtmu stlh skian lma ‘n brusha mengukir msa indah dlu >.hueEe brjuanglah KYU untk mengambil kmbli milikmu

  2. Chap 1 udah di pr0tek jdi bc dlu chap 2 nya,,eumm mris bnget k0 kyumin nya sad r0mance,,chap dpan full kyumin ne e0nni di tnggu lnjutan nya,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s