My First Love Story || Chap 4|| KyuMin Yaoi

My First Love Story

Author : Rainy HearT

Cast :

– Cho Kyuhyun

– Lee Sungmin

– Other SUJU and DBSK member

Pairing : HaeMin slight KyuMin slight SiMin Slight HenMin Slight YeMin

Genre : Romance, Drama, Sad

Rating : T

Length : Series

Disclaimer : All cast punya diri mereka sendiri dan Tuhan.

Warning :BL/Boys Love/YAOI, EYD tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia, typos, gaje, dan cerita membosankan.

Sumarry : Cerita tentang cinta pertamaku, akankah aku bisa menemukannya kembali ?

Salah satu request-an dari readerku yang baik, PRESENTING “My First Love Story”

Terinspirasi saat liat vcr di SS4, tapi aku ubah semua ceritanya#kekekeke#

Mianhaeyo kalau jalan ceritanya makin ngawur dan membosankan. Untuk yang udah mau nyempetin waktunya buat baca and review author cuma bisa ngucapin “Jeongmall gomapseumnida.”

Happy Reading

ooo-My First Love Story-ooo

Previous chapter 3

.

Seusai konser Sungmin langsung mendekat ke Yesung di stage. Entah mengapa semua jalan terasa sangat mudah baginya. “Chukkae Yesung, konsermu sangat hebat, lagumu juga bagus. Kuharap kau cepat sukses.” Sungmin bersalaman dengan Yesung.

“Gomawo, ayo kita minum teh sebentar di backstage. Ada yang ingin kuberikan untukmu.” Yesung menarik tangan Sungmin menuju ruangannya di backstage.

“Memang apa yang mau kau berikan Yesung ?”

“Nanti kau juga tahu.” Mereka sampai di ruangan Yesung. Sungmin duduk di sofa yang ada disana. “Sebentar, aku akan membuat tehnya untukmu.” Yesung berjalan ke sudut ruangannya dan menyeduh tehnya. Bau khas teh yang harum memenuhi ruangan itu. “Teh yang wangi sekali.”

“Nde Sungmin, ini teh dari desaku. Saat pertama bertemu denganmu dan aku mengatakan kalau aku dari Daegu, ekspresi wajahmu langsung berubah. Aku hanya berfikir mungkin kau juga dari Daegu.”

“Nde, kau benar, aku juga dari Daegu.” Sungmin mengangguk dan menerima cangkir teh yang diberikan Yesung. “Gomawo.”

Yesung hanya tersenyum dan beralih ke laci meja riasnya. Ia mengambil satu kotak kecil di dalamnya.

“Ini, untukmu. Selamat tahun baru.” Yesung memberi kotak itu pada Sungmin.

“Kenapa memberiku hadiah, kan tahun baru juga sama saja dengan hari yang lain.” Yesung hanya tersenyum menanggapi Sungmin. Sungmin membuka kotak kecil berwarna biru itu dan saat ia membuka isinya hanya rasa keterkejutan yang ia rasakan. Ommo…”

“Waeyo Sungmin ?” Yesung bertanya dengan wajah khawatirnya. Sungmin memang terlihat sangat shock sekarang.

“Ahni… Hanya saja ini…”

.

Chapter 4

.

.

Lee Sungmin POV

.

“Ini, untukmu chagi.” Hae memberiku satu kotak kecil.

“Waeyo ? Memangnya ada apa memberiku hadiah ?”

“Kau pikir aku tak tahu, kalau hari ini ulang tahunmu. Saengil chukkae chagi.”

“Gomawo Hae.” Aku melihat wajah tampan dan senyumnya yang membuatnya sangat mempesona. Benar-benar dia sangat tampan. “Jangat tersenyum begitu Hae, kau membuatku gugup.”

“Pantas saja wajahmu memerah. Aku tahu aku ini tampan chagi, tenang saja kau sudah memiliki aku jadi jangan takut akan kehilanganku.” Hae memeluk bahuku dengan kedua lengannya. “Bukalah chagi.” Dia membisik ke telingaku, rasanya benar-benar geli sekali. Aku berdebar membuka hadiah pertama ulang tahunku dari Hae. “Ommo…!”

“Otte ? Kau suka tidak ?”

“Ini pasti mahal Hae.”

“Untukmu, aku bisa melakukan apapun chagi. Sini biar aku pakaikan.” Hae mengambil gelang tangan rantai dengan banyak salib menghiasi sekelilingnya. “Berikan tanganmu chagi.”

Aku mengulurkan tanganku ragu-ragu. Dia memakaikan gelang itu. Sangat cantik memang dengan salib yang menggantung menghiasi gelang ini. “Hae, ini terlalu mahal untukmu. Aku pasti sudah membuatmu susah. Seharusnya tak sampai seperti ini.”

“Gwenchana baby Min. Aku sangat senang bisa memberimu hadiah ulang tahun meski hanya gelang seperti ini.”

“Tapi Hae…” Aku tak bisa meneruskan kata-kataku saat melihat matanya yang teduh tengah melihatku sedih. “Ahhhh, arrasseo. Asal jangan memberi apapun lagi padaku, ya kalau harganya murah sih tidak apa-apa. Tapi kalau mahal seperti ini, bisa-bisa Hae-ku sayang akan kurus karena terus memotong uang sakunya untuk membeli barang-barang seperti ini.”

“Jika untukmu, itu bukan hal sulit chagi. Aku bisa melakukan apapun, karena aku sangat mencintaimu.”

Aku memeluknya, tubuhnya sangat hangat dan wangi, wangi seorang pria maskulin dan gentle. Wangi yang selalu memabukkanku. “Hae, kau tau tidak ?”

“Apa ?” Aku mencium lehernya, meski ini pulang sekolah dia sama sekali tak bau keringat, dia tetap saja sangat wangi.

“Kau wangi sekali. Terima kasih telah memilihku.”

“Kau juga, sangat manis dan selalu bertambah cantik setiap harinya. Terima kasih telah menerimaku baby Min.”

.

Lee Sungmin POV end

.

.

“Waeyo, kau tak suka dengan hadiahnya ?” Yesung duduk di dekat Sungmin dan memakaikan gelang rantai itu ke pergelangan tangan Sungmin. Memang gelang yang berbeda, tapi Sungmin kembali merasakan kenangannya bersama Hae lima tahun yang lalu.

Sungmin menatap gelang itu, ia tersenyum pahit dan menangis dalam hatinya. “Gomawo Yesung hyung.”

“Nde, cheonmaneyo. Aku hanya tidak ingin hadiah itu sia-sia karena tak ada pemiliknya.”

“Maksudmu ?”

“Aku membelinya untuk kekasihku. Aku tahu perasaan kami terlarang. Tapi waktu itu aku benar-benar merasakan jatuh cinta dengannya. Dia seseorang yang sangat menarik dengan tubuh mungilnya yang sangat lincah dan menggemaskan. Dia siswaku saat aku mengajar di sekolah vokal di Daegu empat tahun yang lalu. Sayangnya cinta kami tak berjalan dengan baik.”

Sungmin hanya tersenyum datar menanggapi Yesung. “Waeyo hyung, kenapa bisa begitu ?” Yesung meminum tehnya dan kembali memulai ceritanya.

“Aku dan dia sama-sama namja.”

“Mwo ?” Sungmin memebelalak tak percaya.

“Pasti kau merasa jijik padaku atau bahkan kau takut denganku.”

“Ahni, aku hanya kaget saja. Teruskan ceritamu, aku ingin mendengarnya.”

“Namanya Kim Ryeowook. Namja cantik dari keluarga pengusaha kaya. Appanya menetap di luar negeri dan dia di Daegu bersama dengan Ummanya. Aku mengenalnya saat dia masuk ke kelas vokalku. Saat itu aku menjadi guru tamu dan mengajar di sekolah itu.”

Yesung menghela nafasnya. “Saat melihatnya aku langsung merasakan sesuatu yang berbeda, dan aku sadar aku sudah jatuh cinta padanya. Aku menyatakan cintaku dan tak kuduga dia juga menerimaku. Hubungan kami baik-baik saja pada awalnya karena kami berhasil menyembunyikannya dari semua orang. Tapi ketika Umma Wookie tahu, ia bergegas membawa Wookie pergi ke luar negeri. Aku sudah berusaha mengejar penerbangannya pada hari itu.”

“Lalu apa yang terjadi selanjutnya.”

“Sayang, motor yang ku gunakan selip karena jalan raya yang basah sehabis hujan. Tanpa bisa ku kendalikan motorku membawaku menabrak trotoar pembatas jalan hingga akhirnya aku kehilangan kesadaranku. Aku kehilangan Wookie.”

Yesung menatap Sungmin, “Aku mengalami kebutaan karena bantingan keras pada kepalaku hingga merusak syarafku. Selama setahun lebih aku buta.”

“Untunglah saat itu ada korban kecelakaan yang bersedia mendonorkan organnya untuk orang lain. Aku sangat berterima kasih padanya.”

‘Jadi benar, itu mata Hae ?’ Sungmin membatin menatap mata biru kehijauan yang kini sedikit memerah.

“Aku harap bisa menemukan Wookie kembali. Dan saat melihatmu, aku merasa sangat dekat dan tak asing denganmu. Kau mengingatkanku padanya.” Yesung menatap gelang yang kini melingkar cantik di tangan Sungmin. “Gelang itu adalah gelang yang aku beli sebagai hadiah tahun baru untuknya dua tahun yang lalu. Saat itu aku mengunjungi rumah lamanya, tapi kurasa dia tak akan kembali lagi. Jadi lebih baik hadiahnya untukmu saja.”

“Gomawo hyung, tapi apa tak sebaiknya kau menyimpan ini dan memberikannya pada Wookie ?” Sungmin mencoba melepaskan gelang di tangannya.

“Ah, tidak usah. Jangan dilepas, biar saja itu untukmu, lagipula dia entah kembali menemuiku atau tidak. Tidak ada yang tahu, bisa saja dia sudah melupakanku.”

Sungmin mengusap bahu Yesung, dimatanya namja yang kini bersikap tegar di hadapannya ini sama rapuhnya dengan dirinya. “Aku tahu, ini tidak benar. Tapi entah mengapa saat melihatmu aku kembali merasakan hal yang sama.” Yesung menatap Sungmin, “Mianhe Sungmin, aku tak bermaksud untuk seperti ini padamu sebelumnya. Hanya saja, sejak pertemuan kita itu, aku selalu saja mengingatmu. Entah mengapa aku merindukanmu.”

Yesung menunduk menyembunyikan wajahnya, ia begitu malu bercampur sedih menghadapi Sungmin. Seakan merasakan kegelisahan yang sama dengan Yesung, Sungmin mengangkat Wajah Yesung dengan kedua tangannya. Diusapnya lembut air mata yang mengalir pelan di pipi Yesung. “Biarkan aku melihat mata biru ini hyung.”

Yesung sedikit kaget mendengar ucapan Sungmin. Secara otomatis dia menatap Sungmin, menatap dalam pada mata foxy yang lembut dan sendu. “Aku merindukan mata biru yang bertahun tak kutemukan hyung,” Sungmin melepas tangannya pada pipi Yesung.

“Kau tahu, namja yang mendonorkan matanya untukmu adalah kekasihku.” Sungmin memberanikan diri untuk mengatakan semuanya. Yesung sedikit terkejut mendengarnya.

“Jadi kau juga seperti aku ?”

“Ya, bisa dibilang begitu hyung. Aku mencintainya, sangat mencintainya. Dan karena kebodohanku, aku kehilangan dia.”

“Apa maksudmu Sungmin ?” Yesung mulai serius menanggapi Sungmin.

“Dia meninggal karena aku. Kecelakaan itu terjadi karena keegoisanku hyung.” Mata Sungmin sudah berkaca-kaca dan memerah. “Aku yang membunuhnya. Hiks… Hiks…”

Yesung mengambil sapu tangan di sakunya dan mengusap lembut pipi Sungmin. “Meski aku tak tahu yang pastinya tentang kisahmu, aku akan selalu bersamamu Sungmin. Tenangkan dirimu, percaya semua akan baik-baik saja.”

“Hiks… Hikss… Selama bertahun terakhir ini aku mencari mata biru yang selalu aku rindukan. Setiap malam aku selalu dihantui mimpi buruk dan selalu ketakutan mengingat semua kesalahanku. Hyung, hikss… Hiksss… Aku sangat mencintainya.”

Sungmin terus menangis di pelukan Yesung. Ia merasa lebih tenang saat di peluk oleh Yesung.

“Jika aku tak memaksanya mungkin tak akan seperti sekarang ini.”

“Semua sudah ada takdirnya Sungmin.” Yesung menatap Sungmin dan mengusap air matanya, “Sama seperti kisahku dan pertemuan kita. Ini sudah jalannya Sungmin. Kuharap kau bisa kuat dan tegar. Meski aku juga sama lemahnya denganmu, setidaknya kita bisa bangkit bersama.”

“Hyung, gomawo .”

“Kau istimewa Sungmin, jadi jangan selalu menyalahkan dirimu sendiri. Jika kau merindukan mata kekasihmu, datanglah padaku dan tatap aku sepuas hatimu. Mana ponselmu ?”

Sungmin mengulurkan ponselnya penuh tanda tanya, Yesung meraih ponsel itu dan menyimpan nomornya sendiri di sana. “Aku sudah memberimu nomor pribadiku, jadi setiap saat kau bisa menghubungiku ke nomor itu.”

“Tapi kau pasti sibuk dengan karirmu ?”

“Tenang saja, akan kuusahakan, semua waktu untukmu. Bersemangatlah, dan jangan terus menyalahkan dirimu sendiri.”

Merasa sudah terlalu malam, ia memutuskan untuk pulang. “Gomawo untuk hari ini, hari pertama di bulan Januari yang indah. Tapi ini sudah malam, aku yakin kau ingin beristirahat, sebaiknya aku pulang dulu hyung. Terima kasih untuk hadiahnya, mianhe aku tak memberimu apapun.”

Sungmin segera merapikan dirinya, memakai kembali mantelnya dan berdiri menuju pintu keluar. “Sebaiknya aku mengantarmu pulang jika kau akan naik taksi atau kereta semalam ini sendirian.”

“Gwenchana hyung, aku bisa sendiri.”

“Tapi Sungmin…” Melihat tatapan Sungmin yang begitu yakin akhirnya ia mengalah. “Arrasseo, hati-hati Sungmin.” Meski dengan berat hati, Yesung akhirnya membiarkan Sungmin pulang sendiri. Namun Sungmin tak langsung pulang, ia pergi ke sebuah cafe dan duduk disudut yang baginya sangat tenang. Memesan secangkir kopi pahit tanpa gula dan terus merenung mengingat semua kenangannya dengan Hae.

.

.

Sungmin tak menyadari di satu sudut cafe itu, ada namja yang memperhatikannya. Mata obsidian berwarna coklat dengan rambut ikalnya yang sangat khas membuatnya terlihat tampan. Jas putih dipadu dengan celana jeans hitam dan kaos V neck berwarna putih.

Namja itu menatap Sungmin dengan seribu tanya dalam hatinya. Niatnya untuk menenangkan perasaannya hingga ia memilih ke cafe dan menikmati kesendiriannya bersama kopi pahit miliknya pupus sudah.

Dengan melihat Sungmin saja, sudah sukses menghancurkan semua niat dan rencana yang sudah ia susun dengan baik malam itu. Hatinya kembali bergetar melihat namja cantik yang menatap nanar pada cangkir kopinya.

.

Cho Kyuhyun POV

.

.

“Kenapa ditempat seperti ini aku bisa bertemu dengannya ?” Aku menggumam sendiri menatap wajah cantik yang sibuk memainkan jarinya pada bibir cangkir kopi panasnya. Bagaimana aku tak bisa melihatnya jika dia hanya duduk dua meja di sisi mejaku. Dan lebih menyedihkan lagi, aku menyadari hatiku bergetar kembali saat melihatnya.

Wajah sendu dan muram sangat jelas dapat kulihat. Matanya seperti orang yang baru saja menangis. ‘Kenapa dia suka sekali menangis ? Jadi aku dekati tidak ya ?’

Mungkin ia merasa ada yang menatapnya, karena tiba-tiba saja dia menengok ke arahku. Mata kami bertemu. Dan perasaan aneh itu semakin kuat menyiksaku.

.

Degh…

.

Degh…

.

‘Aish… Kenapa jantungku tak berhenti berdebar kencang jika ada di dekatnya.’ Mau bagaimana lagi sekarang, mau tak mau aku mendekatinya karena dia sudah terlanjur melihatku. “Annyeong Sungmin hyung.”

“Annyeong, Kyuhyun. Sedang apa kau disini ?”

“Tentu saja minum kopi hyung, memangnya apa lagi.” Eh… Apa itu ? Benda berkilat dibawah lengan mantelnya. Apa ya ?

“Semalam ini kau dari mana Hyng ?” Aku duduk di depannya, membawa cangkir kopiku yang masih hangat karena aku memang baru datang ke cafe ini saat menyadari ada namja cantik yang termenung sendiri disudut cafe. Kulihat asap tak lagi mengepul dari cangkir kopinya, “Kau sudah lama hyung ?”

” Ahni, baru 15 menit paling. Mungkin aku saja yang terlalu tak memperhatikan sekitarku jadi tak melihatmu.” Ya tentu saja tak memperhatikan sekitar karena dia terlalu sibuk menatap cangkir putih dengan kopi hitap pekat di dalamnya.

“Jadi apa kau tak akan pulang hyung ? ” tanyaku padanya. “Kau mengusirku ?” Eh, kenapa dia berfikiran seperti itu. “Tentu saja tidak hyung, aku tahu kau pasti naik kereta atau taksi. Hanya takut nanti kau tak bisa pulang bagaimana ?”

Dia malah menatapku dan tersenyum. ‘Manis, cantik sekali.’ Tapi kenapa aku melihat senyumnya sedikit janggal, “Jadi kenapa aku harus bingung bagaimana caranya pulang jika ada kau disini ?”

“Maksudmu ?” Akhh… Ini pasti akan berakhir sama dengan kemarin. “Antar aku pulang, mudah kan ?”

“Heh, kau pikir aku ini supirmu apa ?” Kulihat wajahnya yang sudah sumringah kembali sendu. Aish… Dia sensitif sekali, sama sekali tak bisa dikasari. “Baiklah- baiklah, aku akan mengantarmu. Sudah jangan memasang wajah seperti itu didepanku, sangat mengganggu pemandanganku hyung.”

“Waeyo ?” tanyanya padaku dengan wajah aegyonya. Hei, apa dia sedang meledekku ? Atau sedang menggodaku. Aku akui, entah bagaimana rasanya kami seperti menyatu dengan mudahnya. Sejak pertemuan pertama kami, aku berusaha seangkuh mungkin untuk menyembunyikan perasaan aneh ini. Tapi kurasa aku sudah kalah kali ini. Wajah cantik yang ada di hadapanku, berhasil meluluhkan hatiku.

“Kyu, bagaimana keadaanmu ?” Mengapa dia menanyakannya ? “Maksudmu keadaanku yang seperti apa hyung ?” Ya, aku memang tak begitu bisa menangkap pertanyaannya.

“Maksudku, hati dan ginjal Hae yang ada dalam tubuhmu. Apakah kau nyaman dengan organ itu ?”

“Nde, tentu saja. Sangat nyaman hyung.” Sebelum bertemu denganmu, terasa sangat nyaman, tapi sekarang terasa sangat aneh dan mempengaruhi pikiranku sepenuhnya.

“Baguslah kalau begitu Kyu. Aku hanya takut, organ itu tak membuatmu merasa lebih baik.”

“Aku sangat sehat hyung. Gomawo, sudah mengkhawatirkan aku.” Aku melihat jam tangan hitam yang setia melingkar di tanganku. “Hyung, hampir tengah malam, sebaiknya aku antar kau pulang hyung.”

“Sebentar lagi Kyu, aku ingin disini dulu.” Kulihat gelang itu berkilat tertimpa (?) cahaya lampu. Kemarin saat aku bertemu dengannya gelang itu belum ada. “Gelangmu baru hyung ?” Akhirnya aku menanyakannya, entah mengapa hatiku ingin mengetahuinya.

“Aku di beri oleh temanku. Gelang yang bagus bukan ?” Aku mengangguk. Pemberian temannya ? Kulihat gelang itu bukan barang murah, pasti yang memberinya seorang teman yang mungkin menaruh hati padanya.

Huh, aku akui kali ini aku tak menyukainya. Hatiku dan pikiranku sangat kompak dan setuju untuk mengatakan dia harus melepaskan gelang itu. Hei, kenapa aku begini ? Aku menatap gelang itu lagi, dan aku tak bisa menahan diriku kali ini (lagi), “Bisakah kau melepaskannya hyung ?” Aku memintanya untuk melepaskannya.

Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku. Kulihat dia sedikit terkejut menatapku. “Waeyo Kyu ?”

“Akh, gwenchanayo hyung. Hanya terlihat tak bagus jika kau pakai. Lebih baik lepaskan saja.” Akh, berbohong untuk pertama kalinya demi hal bodoh yang sangat aneh yang terus meracuni hati dan pikiranku. Gelang itu sangat bagus ia pakai, tapi aku benar-benar tak suka melihatnya.

“Akh, begitu ya ? Kalau tak pantas, aku lepaskan saja dan menyimpannya di rumah.” Dia menyimpan gelang itu kedalam sakunya. Akhh… Begini lebih baik.

Satu hal lagi yang masih kurasa kurang hari ini, tapi aku tak tahu itu apa. Hatiku menuntut satu hal yang ingin aku lakukan hari ini. Mungkin dia bisa membantuku. “Hyung, apa hari ini ada hal istimewa yang biasanya kau dan Hae lakukan ?”

Kulihat dia diam seketika dan menatap jam tangannya. Aku melakukan hal yang sama. Pukul 23.50 KST. Sedikit lagi, tanggal 1 Januari akan lewat. Tahun baru yang terasa biasa saja, karena aku sudah bosan dengan keramaian kota yang hanya itu-itu saja.

Aku kembali menatapnya, “Jadi hal apa hyung ? ” Aku menanyakannya lagi dan dia hanya menunduk. “Memangnya ada apa kau menanyakan itu ?”

“Aku hanya merasa ada yang aneh dengan hatiku. Karena hati ini adalah milik Hae mungkin saja kau tahu satu hal tentang hari ini.” Dia mengangkat wajahnya dan menatapku datar. “Hari ini adalah hari ulang tahunku.”

“Mwo…?” Pantas saja rasanya ada yang kurang hari ini. Aku jadi ingat tentang gelang itu. “Apa gelang tadi hadiah ulang tahun dari temanmu ?”

“Ah, bukan. Itu hanya hadiah tahun baru dari sahabatku.” Kulihat dia merapikan dirinya dan beranjak dari kursinya. “Kajja kita pulang.”

“Ehm… Saengil chukkahamnida hyung. Mianhe aku tak memberimu apa-apa.”

“Gwenchanayo Kyu, lagipula hari ini juga sama dengan hari yang lain.” Dia terlihat tegar. Biasanya mengingat sedikit saja hal tentang Hae dia pasti akan menangis. “Kenapa menatapku begitu Kyu ?” Dia menghentikan langkahnya saat di depan pintu keluar cafe.

“Kau terlihat lebih kuat hyung. Biasanya kau akan langsung menangis dan memperlihatkan wajah sedihmu jika sedikit saja menyinggung tentang Hae.”

Dia menarik tanganku menuju mobilku. Sepertinya dia sangat bersemangat, benar-benar susah ditebak. Tapi aku bisa melihat satu sisi dalam dirinya yang masih diselimuti kesedihan, kuakui dia cukup pintar menyembunyikannya.

Dia duduk dengan tenang selama peljalanan ke rumah Siwon. Kami juga tak banyak bicara dan dia sibuk melihat pemandangan malam kota yang masih ramai dengan banyak orang di tepi jalan.

“Tahun ini, apakah akan jadi tahun yang paling indah ya Kyu ?” Tanyanya padaku saat melewati tengah kota dengan begitu banyak lampu menghiasi pohon-pohon disana.

“Menurutmu sendiri bagaimana Hyung ?”

“Akhir tahun kemarin banyak sekali keajaiban yang mendatangiku. Dan awal tahun ini, aku juga sudah mendapatkan begitu banyak keajaiban dan kebahagiaan. Aku harap ini tak akan berakhir Kyu.”

“Apa harapanmu tahun ini Hyung ?”

“Aku ingin bahagia Kyu.”

“Mwo ?”

“Ya, aku ingin bahagia bersama orang yang akan selalu menemaniku seumur hidupku. Dan aku tak akan melakukan kesalahan apapun lagi. Aku tak akan mengulangi semua kesalahanku dulu.” Aku hanya tersenyum senang mendengarnya, ternyata minum kopi memang bisa melegakan perasaan. Meski hanya sedikit tapi itu lebih baik dari pada tidak sama sekali.

.

Cho Kyuhyun POV End

.

Mereka kembali saling diam hingga sampai di depan rumah Siwon. Sungmin dan Kyu keluar dari dalam mobil dan menatap rumah Siwon yang bisa dibilang besar itu. Terlihat lampu ruang tamu masih menyala menandakan masih ada orang disana. ‘Apa Siwon belum tidur ? Akh Jangan sampai dia belum tidur hanya karena menungguku.’ Sungmin terus membatin.

Lee Sungmin POV

.

“Gomawo Kyu, kau sudah mau mengantarku pulang. Mianhe jika merepotkanmu.”

“Nde hyung, cheonmaneyo. Aku tak akan mampir jadi kau langsung masuk dan tidur hyung. Jaga kesehatanmu dan jangan memikirkan hal yang membebani pikiranmu Hyung.” Dia sangat perhatian denganku. Semakin mirip dengan Hae.

“Nde. Ya sudah, aku masuk dulu.” Hatiku merasakan getaran halus dan lembut.

Aku membalikkan tubuhku dari hadapannya menuju rumah Siwon, tapi…

.

Greepp…

.

‘Ommo, dia menarik lenganku dan memeluk pingganggku. Mata obsidian coklatnya terlihat sangat teduh. Jarak yang sangat dekat dan mampu membuat tubuhku terasa lemas dan dingin. Jantungku berdebar begitu cepat. “Waeyo Kyu ? ” Upsss, kenapa suaraku serak begini. Akh, pasti wajahku sudah sangat merah.

.

Chuu…

.

“Ommo…” Aku hanya bercicit lirih merasakan bibir basah menempel di dahiku.

“Entah mengapa aku ingin menciummu hyung. Sebagai hadiah ulang tahunmu, bermimpilah yang indah hyung. Annyeong.”

What ! Yang tadi itu apa, kenapa hatiku bisa bergetar sekencang ini. Aku menyentuh dahiku, ‘Basah.’ Jadi yang tadi itu sungguhan ? Dia mencium dahiku ? Kenapa rasanya begitu menyenangkan dan hangat sekali.

Mobilnya sudah pergi meninggalkanku. Rasanya kakiku sangat ringan melangkah ke pintu masuk rumah Siwon. Hatiku masih terus berdebar dan sangat hangat. Aku berhenti dan menatap langit sebentar.

Mencari bintang yang paling terang dan tersenyum padanya, “Hae, jika ini jalan yang kau inginkan. Berikanlah aku keyakinan pada orang yang kau pilih untuk menggantikanmu.” Aku menangkupkan kedua tanganku menjadi satu. Aku menyudahi do’a dan harapanku untuk tahun baru ini. Rasanya hari ini sangat indah, dengan semua sahabatku yang sangat perhatian padaku.

.

Lee Sungmin POV end

.

.

Sungmin melangkah kembali ke rumah Siwon. Terus mengukir senyuman manis dibibirnya dan melangkah dengan santai sambil sesekali melompat gembira.

Sama sekali tak memikirkan namja yang sedari tadi menunggunya hingga tertidur. Sama sekali tak menyadari namja yang sedari tadi menatap semua yang ia lakukan dengan mata sedih dan sayunya. “Mengapa, sangat sulit mendapatkanmu ? Mengapa kau suka sekali menyiksaku ?” Namja itu menyudahi kegiatannya mengintip Sungmin dari jendela depan rumahnya. Menghempaskan tubuhnya ke sofa di depan TV di ruang tamu itu.

“Apakah aku menyedihkan ?” Tanyanya pada dirinya sendiri.

“Aku pulang !”

.

.

.

T.B.C.

8 thoughts on “My First Love Story || Chap 4|| KyuMin Yaoi

  1. ommo! kyu cium minnie nih hehehe,,,
    mdh2an wookie kmbali lg k korea trus jadian deh ama sungie oppa, biar sungie oppa jg g gangguin moment kyumin untk bersatu gitu,,,,
    trus itu yg ngintip siwon y,,,,,,
    poor siwon
    lanjut deh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s