My First Love Story || Chap 2|| KyuMin Yaoi

My First Love Story

Author : Rainy HearT

Cast :

– Cho Kyuhyun

– Lee Sungmin

– Other SUJU and DBSK member

Pairing : HaeMin slight KyuMin slight SiMin Slight HenMin Slight YeMin

Genre : Romance, Drama, Sad

Rating : T

Length : Series

Disclaimer : All cast punya diri mereka sendiri dan Tuhan.

Warning :BL/Boys Love/YAOI, EYD tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia, typos, gaje, dan cerita membosankan.

Sumarry : Cerita tentang cinta pertamaku, akankah aku bisa menemukannya kembali ?

Salah satu request-an dari readerku yang baik, PRESENTING “My First Love Story”

Terinspirasi saat liat vcr di SS4, tapi aku ubah semua ceritanya#kekekeke#

Mianhaeyo jika chap kemarin pendek, coz takutnya pada gak suka ma FF q. Dan ternyata review sangat memuaskan dan membuat author semangat buat update. Jeongmall gomapseumnida.

Happy Reading

ooo-My First Love Story-ooo

Previous chapter 1

.

Siwon dan tamunya sibuk membicarakan tentang proyek kerja sama mereka.

Mereka bertiga sibuk membicarakan ini dan itu. Tapi dalam di lubuk hati Sungmin, ia merasakan ada yang aneh,’Kenapa perasaan ini keluar dan terjadi lagi?’ Sungmin sibuk membatin dan terkadang sibuk sendiri dengan fikirannya.

‘Lee Sungmin, jadi namanya lee Lee Sungmin.’ Kyuhyun membatin, ‘Kenapa hatiku bisa bergetar begini ?’

.

Chapter 2

.

Lee Sungmin POV

Entah apa yang terjadi denganku. Hatiku bergetar mendengar suaranya yang masih sibuk berbicara dengan Siwon. Wajah seriusnya yang tampan terlihat sangat jelas saat membicarakan prospek ke depan dari kerjasama mereka. Aku sibuk mencatat hal yang penting, karena aku memang sekretaris Siwon.

Tapi kenapa aku merasakan ada yang aneh ? Perasaan yang sama seperti dulu. Perasaan yang selama bertahun terakhir kemarin hanya aku rasakan pada Hae dan sekarang aku merasakannya lagi. Ia tampan meski kacamata hitamnya masih menempel dengan sempurna menutupi matanya.

“Mianhamnida, aku harus ke toilet sebentar.” Aku pergi meninggalkan mereka meski tanpa persetujuan Siwon aku sudah berlari meninggalkan meja restoran di salah satu mall itu. Aku sudah tak bisa menahan perutku yang tiba-tiba saja mulas karena terlalu tegang. Bukan karena perutku sakit atau aku salah makan, tapi lebih ke rasa tak jelas yang mengaduk perutku sedari tadi.

Aku tak habis pikir, bagaimana dan mengapa hal ini bisa terjadi padaku. Padahal sebelum bertemu dengannya aku baik-baik saja. Hingga beberapa saat yang lalu ada orang rabun yang seenaknya memanggilku noona. ‘Menyebalkan !’ Aku hanya bisa mengumpatnya dalam hatiku.

.

“Bruk !” Aish ! Kurasa aku menabrak seseorang karena terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri.

.

“Mian-ham-nida,” kataku terbata saat menatap orang yang ku tabrak. Aku menatap intens pada namja di hadapanku ini. Mata yang terbingkai kacamata bening terlihat jelas dengan warna bola mata yang biru kehijauan. Aku berusaha keras menelan semua tangisku yang mendadak terasa menumpuk memenuhi hatiku.

“Gwenchanayo.”

Kulihat dia sibuk mengumpulkan kertas yang sepertinya partitur lagu. Aku bergegas membantunya mengumpulkan semua kertasnya.

“Mianhe,” aku kembali meminta maaf. Setelah selesai mengumpulkan semua kertasnya aku menyerahkan pada namja itu.

“Gamsahamnida,” dia membereskan berkasnya. Aku hanya tersenyum mendengar ucapan terima kasihnya. Kuakui suaranya sangat merdu. Tanpa kusadari aku mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan berkenalan dengannya.

“Jeoneun Lee Sungmin imnida.” Kataku dengan senyuman termanisku yang tanpa kusadari menghiasi wajahku. Aku menatap matanya, entah mengapa mata itu membuatku tenang hanya dengan menatapnya saja.

“Senang berkenalan denganmu. Kim Jong Woon imnida, tapi panggil saja Yesung.”

“Mianhamnida telah menabrakmu tadi.” Aku meminta maaf dan membungkukkan badanku sedikit padanya.

Tapi dia malah tersenyum padaku.”Sudah berapa kali kau mengucapkannya ? Apa tidak bosan ? Gwenchanayo Sungmin-ssi.” Kulihat dia sibuk merogoh kantung kemejanya, “Ehm… aku harus pergi dulu, dan ini…”

“Mwo ?” Dia memberiku selembar kertas kecil berwarna merah sepertinya, “Tiket ?”

Dia tersenyum dan mengangguk padaku, jantungku berdebar hebat melihatnya.”Ye, itu tiket konserku. Aku baru datang dari Daegu dan akan memulai karirku di Seoul. Datanglah, dan karena ini konser pertamaku aku berikan VIP seat untuk orang spesial sepertimu.”

Dan aku hanya bisa mematung mendengar semua perkataannya. Terasa seperti deja vu untukku. Dia kembali tersenyum padaku. “Aku seperti pernah melihatmu, dan entah mengapa aku ingin mengundangmu dan melihatmu di konserku. Aku ingin kau datang dan mendukungku. Baiklah, aku harus pergi. Kuharap kau akan datang.”

Dia kembali tersenyum padaku dan melambaikan tangannya pergi dari pandanganku. Aku masih diam mematung, “Daegu ?” Mendengar ia dari Daegu entah mengapa aku sangat senang. Ada rasa sejuk dan dingin menyelimuti hatiku saat aku menatap mata indah itu. Dan satu hal yang ku ingat pasti, hanya Hae yang memiliki mata indah dengan warna biru kehijauan seperti matanya. ‘Apakah itu mata Hae ?’ Hatiku terus bertanya dan memikirkan semua kemungkinan.

“Hei !”

Aku merasakan ada tepukan di bahuku. Dan begitu aku menengok ke belakang, tampaklah wajah tampan seorang namja yang sangat menyebalkan dengan kaca mata hitamnya. Aku heran kenapa dia tidak melepaskan kacamata jelek itu. “Aish, kau ini !”

“Kenapa kau melamun di tengah jalan begitu ? Payah, mengganggu jalan orang lain.” Dia dengan enaknya melenggang melewatiku.

“Mwo ?” Seenaknya dia mengataiku. “Heh, kau sendiri yang menggangguku .” Aku berjalan mendahuluinya. Kurasa dia juga akan ke toilet.

Aku harap membasuh wajahku dengan air yang segar dapat sedikit membenarkan otakku yang rasanya sudah penuh dengan kejutan hari ini. Aku menyimpan tiket dari Yesung baik-baik, dan bisa kupastikan aku akan datang kesana. Dan aku memang harus kesana, berkenalan lebih lanjut dengan namja itu kurasa bukan ide yang buruk.

Aku sudah masuk ke toilet dan menutup pintunya. Tapi entah kenapa aku ingin melihat keluar pintu. Aku membuka pintu toilet sedikit, menyembulkan (?) kepalaku keluar untuk memastikan namja menyebalkan bernama Kyuhyun itu tidak mengikutiku.

“Bwa… !” Dia berteriak tepat diwajahku saat kepalaku menyembul keluar.

“Aish ! Kau ini mengagetkanku saja. Kenapa muncul tiba-tiba begitu didepanku.” Tanpa kusadari aku menepuk dadanya karena memang ia lebih tinggi dariku.

“Kau sendiri yang terlalu terpesona dengan ketampananku sedari tadi, sampai tak memperhatikan kehadiranku.”

“Aish, percaya diri sekali sih.” Aku masuk kembali ke dalam toilet dan menutup pintu toliet itu. Mendekati wastafel untuk sekedar membasuh wajahku. Rasanya sangat segar dan kurasa otakku lebih bisa bekerja sekarang.

Kyu ikut masuk ke toilet dan kulihat Kyu hanya berdiri bersandar pada dinding toilet. Apa sebenarnya yang ia lakukan ?

“Aku pergi duluan,” aku meninggalkan Kyu yang sibuk bermain dengan ponselnya. Aku melangkah, kembali ke restoran dan menemui Siwon di sana.

“Aku datang!” Aku berteriak dari kejauhan. Aku duduk di kursiku kembali, dan kulihat Siwon sibuk dengan laptopnya. “Apa ada yang ku lewatkan Siwonie ? Kelihatannya kau sibuk sekali.”

“Tidak ada apa-apa hyung, hanya saja Kyuhyun ingin kita lebih rinci menjelaskan keuntungan yang ia peroleh. Kurasa dia orang yang sangat teliti sekali. Huh, ini akan sedikit sulit.”

Hampir 30 menit Kyu baru kembali dari toilet. Namja aneh yang sangat suka di toilet, sebenarnya apa yang dia lakukan disana sampai dia betah berlama-lama di toilet. Ia kembali duduk di kursinya, dengan wajah angkuh dan sombong seperti sebelumnya juga dengan kacamata hitam jelek yang menempel di wajahnya. ‘Apa dia memang rabun ya ? Hihihihi…’ Kami kembali membahas proyek kerja sama kami.

.

Lee Sungmin POV end

.

Setelah dicapai kesepakatan bersama antara Kyu dan Siwon, mereka berpisah. Siwon melihat jam yang melingkar setia ditangan kirinya,”Jam setengah tujuh hyung, sudah hampir malam. Bagaimana jika kita langsung pulang kerumah. Lagipula nanti ada adik sepupuku yang datang berlibur ke Korea ?”

“Sepupu ?” tanya Sungmin dengan tangan yang masih sibuk membereskan semua berkasnya. Siwon mengangguk, “Nde, dia adik sepupuku dari China. Dia baru lulus high school dan berencana melanjutkan sekolah di Korea. Tapi waktu pendaftaran di Universitas yang ada di Korea masih setengah tahun lagi, jadi dia kini liburan di Korea.”

Sungmin mengangguk mengerti dan mereka berjalan menuju parkiran yang ada di luar mall. Mereka menuju mobil putih Siwon. Sungmin duduk di sisi Siwon. “Namja atau yeoja Siwonie ?”

“Namja hyung,” Siwon menoleh pada Sungmin dan mencubit gemas pipi chubbynya. “Dan dia juga sangat menggemaskan sama sepertimu.”

Blushhhh…

Wajah Sungmin langsung memerah,”Tapi dia hanya punya pipi chubby dan menggemaskan. Menurutku kau lebih manis dan cantik hyung, meski dibandingkan dengan semua yeoja yang ku kenal. Kau lebih dari mereka.”

“Aish, hentikan merayuku Siwonie.” Sungmin memukul lengan Siwon. Wajah Sungmin sudah semerah tomat sekarang. Bukan suatu rahasia lagi jika memang Siwon mencintai Sungmin karena dia sudah berulang kali mengatakannya.

Mereka duduk di mobil cukup lama, saling diam dan canggung karena kejadian tadi. Sungmin tak tahu harus mulai bicara dari mana, bukan dia tak menyukai Siwon tapi ia hanya belum bisa menyukai orang lain. Siwon menatap Sungmin, dan menggenggam tangannya. Sungmin hanya bisa diam dan menunduk menyembunyikan wajahnya.

“Hyung, kenapa kau tak mau membalas perasaanku ? Apa aku kurang tampan ? Atau aku kurang kaya ? Atau kau pikir aku tak cukup baik untukmu hyung ?” Sungmin hanya terdiam, dia tak tahu harus menjawab apa. Begitu banyak pertanyaan yang juga muncul dalam hatinya.

‘Mengapa dengan Siwon aku tak merasakannya ? Mengapa malah dengan namja rabun yang menyebalkan itu ?’ Sungmin membatin. Ia menatap Siwon, menatap dalam mata hitam yang kini menatap Sungmin dengan lembut. Siwon mengusap pipi Sungmin.

‘Kenapa aku tak melihatnya ? Mata biru kehijauan yang sejuk dan menenangkanku. Mengapa aku melihatnya di mata namja tampan dengan suaranya yang indah itu ? Yesung, sesuai panggilannya. Suaranya sangat indah.’ Sungmin sibuk melamun dengan pikirannya sendiri.

“Hyung, neomu yeppeoyo. Jeongmal saranghaeyo,” Siwon mendekatkan wajahnya pada wajah diam Sungmin. Ia menatap pada bibir plump Sungmin yang sedikit terbuka.

“Mianhe Siwonie,” Sungmin mengangkat wajahnya, tersadar dari lamunannya. Kata-kata Sungmin sukses menghentikan niat Siwon untuk menciumnya tadi.

“Huh, gwenchanayo hyung,” Siwon menghela nafasnya yang tiba-tiba saja sesak. Siwon menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok kemudinya. Ia duduk dan diam dengan pandangan datar entah kemana, sibuk memainkan dasi merahnya. Wajah putus asa dan mata memerah.

Ya, hanya satu jawabannya. Ia patah hati untuk kesekian kalinya pada orang yang sama untuk sekian lamanya. Dalam hatinya berkecamuk begitu banyak pertanyaan yang selalu saja membayangi pikirannya.

Sungmin menatap Siwon dengan rasa bersalahnya. Ia mendekati Siwon, tersenyum padanya dan memegang kedua pipi Siwon dengan tangan mungilnya.

Ia mengarahkan wajah Siwon agar menatapnya. Ia mendekatkan wajahnya dan mencium sekilas pipi Siwon. “Hyung …” Siwon langsung speechless. Ini pertama kalinya Sungmin menciumnya karena selama ini hanya Siwon yang mencium Sungmin itu juga hanya sekedar dahi atau tangan saja.

“Mianhe Siwonie, beri aku waktu nde ? Aku akan berusaha untuk mencintai dan membalas perasaanmu tapi tidak sekarang. Jangan seperti ini lagi dan canggung denganku.”

Sungmin mengangkat tangan Siwon dan menempelkan telapak tangannya pada pipinya sendiri, “Percayalah padaku Siwonie aku akan berusaha.”

.

.

Mereka sampai dirumah pukul 20.00 KST. Sepanjang perjalanan pulang Sungmin lebih aktif mengajak Siwon berbicara, meski Siwon hanya menanggapi sekedarnya saja. Perasaan sakit hati dan terluka masih setia membuatnya tak bersemangat. Sampai di rumah Sungmin langsung menuju dapur membuat spagheti, dan Siwon sudah kabur ke kamarnya.

.

Tok… Tok… Tok…

.

Sungmin mengetuk pintu kamar Siwon. “Siwonie, keluarlah ! Aku membuat spaghetti untukmu.” Sungmin pergi meninggalkan kamar siwon dan menuju kamarnya untuk sekedar mandi dan memakai piyama biru dengan motif kelinci kecil berwarna putih. Piyama keasayangannya, pemberian Donghae saat ulang tahun resminya mereka berpacaran yang pertama.

Ia menatap dirinya di depan cermin besar yang terdapat di sudut kamarnya. “Hae, kau tahu tidak ? Aku sangat mencintaimu Hae, juga sangat merindukanmu.” Matanya memanas, dan seberkas rasa sakit menusuk hatinya. Ia mengipasi matanya menahan air mata yang ingin keluar. Hanya mengingat tentang Hae sedikit saja dia tak bisa menahan kesedihannya. Ia berjalan ke meja kerja di kamarnya. Mengambil kotak berwarna biru yang ia simpan di kolong mejanya. Ia membuka kotak itu dan mengambil satu kotak kecil berwarna merah yang ada di dalamnya. Ia membuka kotak itu dan menatap dua cincin putih yang sangat indah.

Flashback Mode On

“Mianhe Jae Umma, Yunho Appa.” Sungmin kembali meminta maaf saat pemakaman Hae telah usai. Ia mendekati Jaejong dan berlutut padanya. Perasaan bersalah membuatnya tak sanggup menatap mata cantik Ummanya Hae itu.

Jaejong menatap Sungmin datar, ia tak tahu harus bersikap bagaimana pada Sungmin. “Aku tak menyalahkanmu Minnie-ah, hanya aku belum siap menghadapi kenyataan jika putra kesayanganku sudah pergi meninggalkan kami. Ayo ikut pulang dengan kami, ada banyak barang yang menurut Umma seharusnya menjadi milikmu. Hae sudah bersusah payah mengumpulkan uang sakunya, membeli semuanya untukmu.”

Setelah meminta ijin dengan KangTeuk, Sungmin ikut dengan YunJae pulang kerumah mereka. Ia memasuki kamar dengan wallpaper warna biru. Jaejong mendudukkan Sungmin di kasur Hae .

Tangis Sungmin tak terbendung lagi saat menatap kamar yang beberapa kari itu tak ia kunjungi. Kamar yang selalu rapi dan wangi, ia mengambil bantal Hae dan mencium wangi maskulin yang masih tertinggal disana. “Hiks… Hae… Saranghaeyo Hae…” ia tak kuasa menahan tangisnya.

Sungmin memeluk erat bantal Hae dan membenamkan wajahnya di bantal itu. Nafasnya sesak mengingat kematian Hae adalah kesalahannya. “Mianhe Hae, jeongmal bogoshippoyo. Aku sangat merindukanmu Hae. Hiks…” Sungmin terus meracau tak jelas.

.

Pluk…

.

Tepukan di bahunya menyadarkan Sungmin. “Gwencahan Minnie-ah. Sudahlah jangan menangis lagi.” Jaejong mengambil tissue dan mengusap air mata Sungmin dengan kasih sayangnya. Ia mengambil kotak biru yang ia letakkan di meja belajar Hae. “Ini…” Jae menyerahkan kotak itu pada Sungmin. “Bukalah chagi, Umma rasa itu milikmu.”

Sungmin membuka kotak itu, dan kembali ia hanya bisa menangis. “Jae Umma, ini… Hiks…” Sungmin tak bisa melanjutkan kata-katanya, ia sudah menangis lagi melihat isi kotak itu.

“Semuanya Hae yang membeli sendiri untukmu, termasuk uang di tabungan itu adalah milik Hae dan kurasa kau berhak memiliki semuanya. Hae bahkan menuliskan namamu di buku tabungan itu.” Jaejong menggenggam tangan Sungmin dan mengusap air matanya. “Hae bilang, dia akan melamarmu saat kelulusan nanti, jadi dia sudah mengumpulkan uang saat setahun kalian berpacaran.”

Jae mengambil kotak kecil di dalam kotak itu dan membukanya, ia menatap datar pada cincin putih dengan ukiran di dalamnya. “Ini adalah cincin yang seharusnya Hae berikan padamu beberapa hari lagi. Aku ingat, ia memilihnya sendiri dan memesan agar tokonya mau mengukir nama HaeMin di sisi dalam cincin ini.”

Jae mengusap air matanya yang tanpa terasa keluar membasahi pipi putihnya. “Hae sangat mencintaimu Minnie, dia bahkan menentang Yunho saat kami melarang hubungan kalian.”

“Mianhe Jae Umma.” Sungmin menatap Jaejong dan memeluknya, perasaan bersalah dalam hatinya makin menumpuk dan membuatnya sangat tertekan.”Jeongmal mianhaeyo Jae Umma.”

“Gwenchanayo Minnie, mungkin ini memang yang terbaik untuk semua. Umma tidak menyalahkanmu Minnie. Simpan baik-baik semuanya, aku tahu kau sangat mencintainya. Umma harap kau tak terus menyalahkan dirimu sendiri.”

Kotak berisi foto, uang, cincin dan boneka kecil kelinci pink dengan berbagai bentuk menjadi kenang-kenangan terindah yang pernah Sungmin miliki.

“Gomawo Umma, aku akan menjaganya dengan baik”.

.

Flashback Mode Off

.

Sungmin menelan salivanya dengan susah payah, ia menahan air matanya mengingat semua kenangan tentang Hae. Ia menyimpan semua kembali ketempatnya. “Aku takkan bisa mencintai yang lain seperti aku mencintaimu Hae. Dan kau tahu itu,” Sungmin menatap foto Hae yang ia simpan di bawah bantalnya. “Jadi mengapa, kau tak mengajakku bersamamu ? Aku seperti mati tanpamu Hae.”

Cukup lama Sungmin menatap pada wajah tampan kekasihnya yang sedang mencium pipinya. Foto yang diambil saat kencan pertama mereka, di taman kompleks perumahan Hae. Taman yang sangat Sungmin rindukan.

Sungmin meletakkan kembali foto itu di bawah bantalnya saat perutnya berbunyi, “Aku lapar.” Dia berucap pada dirinya sendiri dan berjalan keluar kamarnya menuju ruang makan.

.

“Kenapa piring spaghettinya masih utuh ?” Rasa bersalah kembali menghinggapi hatinya. Ia menatap pintu kamar Siwon yang masih tertutup dengan sempurna. “Aish, aku selalu saja membuat orang lain menderita. Apa memang tak ada yang bisa aku lakukan selain membuat semua orang yang menyayangiku kesusahan karena keegoisanku ?”

Sungmin memanaskan spaghettinya, dan kembali meletakkannya di atas meja makan. “Huhhh… ” Ia menghela nafasnya dan melangkahkan kakinya dengan gontai dan lemas ke kamar Siwon. “Siwonie ! ” Sungmin berteriak di depan kamar Siwon. Tapi tetap tak ada jawaban dari dalam.

.

Ceklek…

.

Sungmin membuka kamar Siwon, terlihat namja itu tengah duduk di lantai, melipat kedua lututnya dan menyembunyikan wajahny. Sungmin melangkah mendekati Siwon dan mengusap bahunya. “Siwonie ?” Sungmin memanggil Siwon dengan lembut. Tapi tak ada jawaban.

Sungmin menunduk dan mengintip wajah Siwon, ia tersenyum melihat Siwon tak menangis seperti biasanya. Ia memegang dua sisi kepala Siwon dengan kedua tangannya, menatap intens pada mata merah yang sudah tak mengeluarkan air mata lagi. Pipi yang lengket larena air mata yang sudah mengering, membuat Sungmin tersenyum.

“Tatap aku Siwonie, jangan begini dan mendiamkan aku”.

“Hyung…” Suara Siwon terdengar lirih dan bergetar. “Tatap aku Siwonie,” Sungmin mengusap pelan pipi Siwon dan menciumnya kembali. “Jebal, nae Siwonnie jangan begini denganku. Apa kau mau membunuhku dengan semua rasa bersalahku ?”

“Ahniyo Hyung. Aku tak bermaksud seperti itu.” Siwon menatap mata cantik dari namja aegyo yang ada di hadapannya itu. “Aku tak akan membunuhmu karena aku sangat mencintaimu Hyung.”

Sungmin tersenyum dan memeluk namja tampan di hadapannya yang rapuh itu, “Aku akan berusaha mencintaimu Siwonie. Beri aku waktu.”

Siwon mengangguk imut dipelukan Sungmin, Sungmin melepaskan pelukannya dan meraih tangan Siwon. “Kajja, kau harus makan. Aku harap, spaghettiku tak menangis karena kau biarkan sedari tadi. Kau sungguh tak menghargai usahaku Siwonie.” Sungmin berpura-pura marah dengan wajah kesalnya, ia mengerucutkan bibirnya.

” Jangan mempotkan bibirmu seperti itu didepanku Hyung, apa kau mau aku menciummu ?” Siwonie berucap pada Sungmin.

Seperti deja vu, ia teringat saat Hae mengatakan hal yang sama padanya. Ia dreaming di depan Siwon.

Melihat Sungmin yang dreaming, Siwon tersenyum penuh arti dan mencium sekilas bibir Sungmin.

“Mwo ?” Sungmin menatap tak percaya pada Siwon. Tapi Siwon hanya senyum gaje di depan Sungmin, ia menarik tangan Sungmin keluar dari kamarnya. “Mianhe untuk yang tadi Hyung, aku hanya tak bisa menahan diriku.”

“Gwenchanayo Siwonie, asal lain kali minta ijin dulu nde ?”

“Jinjja ? Berarti aku boleh menciummu lagi hyung ?” tanya Siwon dengan senyuman dan semangatnya, menunjukkan lesung pipi yang membuatnya terlihat semakin tampan.

“Tentu saja, tapi tidak sekarang.”

“Nde hyung, arraseo. Hmmm spaghettimu rasanya sangat enak, dan sausnya terasa manis sepertimu.”

“Jangan menggombal padaku, itu saus jamur dan sama sekali tak terasa manis Siwonie.”

Mereka menikmati makan malam yang indah, hanya mereka berdua.

‘Hhhh, mungkin sedikit bersikap lunak padanya bisa membuat hubungan kami lebih baik.’ Sungmin membatin dan terus memakan spaghettinya.

.

Incheon International Airport

.

“Siwonie, ini sudah jam sebelas malam, kenapa sepupumu belum datang juga ?” Sungmin duduk dengan lesu di kursi tunggu di depan arrival gate. Mereka memang sudah menunggu satu jam lebih. “Mungkin sebentar lagi hyung, cuaca sedang buruk, jadi semua penerbangan mundur dari jadwal seharusnya.” Siwon merengkuh bahu Sungmin dan mengecup pucuk kepalanya.

“Aku mengantuk Siwonie,” Sungmin merajuk pada Siwon. Hal yang biasa terjadi saat ia lelah, Sungmin menyandarkan kepalanya pada bahu Siwon. “Siwonie, kenapa lama sekali ?”

“Hyung ! ” Terlihat namja aneh (?) melambaikan tangannya pada Siwon dan Sungmin dengan bersemangat. Ia berlari menyeret koper merahnya. Melihat namja itu, Siwon langsung saja berdiri, dan Sungmin langsung kehilangan rasa kantuknya saat melihat sebentuk mochi berlari ke arah mereka.

“Ommo ! Menggemaskan sekali Siwonie. Seperti Mochi.”

.

Hupp…

.

Namja mochi itu langsung memeluk Siwon dan tertawa gembira, “Hyung, bogoshippoyo. Jeongmall bogoshippo.”

“Aish, mochi-ah, turun ! Jangan memelukku seperti ini.” Siwon menurunkan tubuh mochi dan mencubit pipi chubby adiknya itu. “Kau selalu menggemaskan dari dulu mochi.” Namja yang di panggil mochi itu menggembungkan pipinya. “Siwon hyung hentikan mencubit pipiku dan memanggilku mochi,” Henry menurunkan tangan Siwon yang masih setia mencubit pipinya.

Sungmin menatap namja dengan pipi menggemaskan itu, untuk sesaat mata mereka bertemu, “Sungmin Hyung, kenalkan ini adik sepupuku namanya Henry Mochi.”

“Kya ! Hyung, hentikan memanggilku Mochi.” Henry menatap Sungmin dan membungkukkan tubuhnya, “Henry Lau imnida, aku dari China. Karena Ummaku adalah orang Korea jadi aku juga mengerti bahasa Korea.”

“Hmmm, bolehkah aku meminta satu hal darimu.” Sungmin menatap Henry dan tersenyum manis padanya. Tingkah Sungmin yang ini sukses menusuk hati namja tampan yang sedari tadi memperhatikan Sungmin, yang seakan tak merasakan kehadirannya.

“Mworago ? Katakan hyung .” Henry mengangguk.

“Bolehkah aku mencubit pipimu ?” Pertanyaan Sungmin sukses membuat 2 namja di sisinya tertawa. Henry hanya mengangguk menanggapi Sungmin, dan dengan cepat Sungmin mencubit pipi Henry.

“Ommona ! Kau sangat menggemaskan Henry-ah. Benar-benar chubby.”

Mereka menuju ke rumah, karena Henry memang sudah sangat lelah menempuh perjalanan berjam-jam. Henry tertidur di mobil, dengan wajah yang makin menggemaskan.

Bibir yang terus komat-kamit entah mengigau apa. Sungmin menatap Henry dan tersenyum, ” Siwonie, kau benar. Henry memang sangat menggemaskan. Benar – benar seperti anak kecil.”

Siwon merasakan ada yang aneh dengan Sungmin, ia hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi Sungmin.

.

Mereka sampai dirumah, Siwon mengangkat tubuh Henry dan membaringkannya di ruangan yang sudah ia siapkan untuk Henry. Saat di rumah Siwon kembali diam, dan hal ini membuat Sungmin kembali bertanya-tanya dalam hatinya. Tapi saat ia ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Siwon, namja tampan berlesung pipi itu sudah mengunci kamarnya. Menandakan ia akan tidur.

Sungmin masuk ke kamarnya dan melepaskan jaketnya, ia merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah. Pikirannya tak kalah lelah karena begitu banyak kejadian berat yang ia lalui hari ini. Ia mencari dompetnya.

“Aku pasti datang.” Gumamnya saat menatap tiket berwarna merah, “Konser solo penyanyi pendatang baru, Kim Jong Woon. Vip Seat. Sabtu, 01 Januari 2011.” Sungmin membaca tulisan di tiket itu.”Eh, itu kan hari ulang tahunku. Jadi sebentar lagi usiaku 21 tahun. Tak terasa sudah 3 tahun sejak kematian hae.”

Sungmin tersenyum datar, ia menatap kembali tiket merah itu,”Besok aku harus bisa berkenalan dan lebih dekat dengannya.” Sungmin sibuk dengan semua rencana difikirannya. Tak sadar, akhirnya ia tertidur.

.

.

“Selamat pagi Hyungdeull !” Henry menyapa kedua hyungnya yang tengah menikmati sarapannya. “Henry, mianhe jika kami tak bisa mengantarmu karena masih banyak pekerjaan menunggu kami. Tapi akan Hyung usahakan mengambil cuti untuk mengantarmu jalan-jalan.”

“Hhh, arrasseo hyung.” Henry menunjukkan wajah sedihnya. “Tidak di sini, tidak di rumah. Semua orang sibuk dengan pekerjaannya dan menelantarkan anak kecil sepertiku.” Henry meratapi nasibnya dan hanya memainkan jarinya pada bibir gelas susunya.

“Bagaimana kalau aku yang menemanimu nanti siang, kurasa Siwonie tak akan keberatan. Otte Siwonnie ?” Sungmin menatap Siwon dengan pandangan dan wajah aegyonya membuat Siwon tak kuasa untuk menolak keinginan Sungmin. “Arrasseo hyung, nanti siang sehabis makan siang kau menemani Henry.”

Henry dan Sungmin sibuk berbicara berdua dan menganggap Siwon tidak ada. Poor Siwonie.

.

.

Di kantor, Kyu sudah menunggu Siwon dan Sungmin. Ia memang sudah membuat janji dengan Siwon. “Mianhe Kyu, tadi ada urusan sebentar.” Siwon duduk di kursinya berhadapan dengan Kyu, sedangkan Sungmin duduk di mejanya yang ada di ruangan yang sama dengan ruangan Siwon. .

Drrrrtttt… Drrrttt…

Ponsel Siwon bergetar dan terlihat nama Henry di ID pemanggilnya. “Nde mochi, waeyo ?”

“…”

“Huh, arrasseo. Baiklah hyung akan menemanimu.”

Plip.

Sieon mendekati Sungmin, “Minnie, aku harus pulang dulu sebentar, Henry merajuk padaku dan sayangnya aku tak bisa berbuat apa-apa dan menolaknya.”

“Nde, akan ku selesaikan semua urusanmu disini.” Sungmin mengangguk. Siwon mendekati Kyu, partner kerja sekaligus sahabatnya, “Mianhe Kyu, aku harus pergi. Semua yang menurutmu perlu penjelasan lebih lanjut, bisa kau tanyakan pada Sungmin Hyung.”

Kyu hanya mengangguk. Siwon meninggalkan ruangannya, membuat aura canggung di dalam ruangan itu. Hanya terdapat Sungmin dan Kyu yang saling diam di dalamnya. Kyu duduk dei kursi didepan meja Sungmin. Menyangga dagunya dengan satu tangannya, dan satu tangan yang lain sibuk memainkan penanya.

“Kau Lee Sungmin ‘kan ?” tanya Kyu. Sungmin hanya mengangguk. Dapat ia rasakan jika jantungnya tengah berpacu begitu cepat memompa darah ke seluruh tubuhnya. “Aku, Cho Kyuhyun.” Kyu membuka kacamata hitamnya. Ia menatap Sungmin dan mau tak mau Sungmin juga menatapnya. Mata merekas saling bertemu, kembali hati mereka merasakan ada yang aneh, dan Kyu juga Sungmin tak bisa mengartikannya.

Rasa penasaran dan aneh di hatinya menuntut kejelasan. Kyu menatap mata foxy yang cantik di hadapannya. Ia mengusap pipi chubby Sungmin dan Sungmin hanya bisa diam. Tubuhnya terasa mati di hadapan Kyu. “Katakan padaku, apa kau merasakan hal aneh saat bertemu denganku ?”

“Apa maksudmu ?” Sungmin menelan salivanya dengan susah payah. Bukan ia tak mengerti dengan pertanyaan Kyu, hanya dia tak tahu harus menjawab apa.

.”Aku merasakan hal aneh, disini.” Kyu sedikit berdiri dan meraih tangan Sungmin. Ia meletakkan tangan Sungmin di dadanya. “Kau tahu, hatiku selalu berdebar hebat dan itu membuat jantungku bekerja lebih keras.”

“Jeongmall.” Sungmin berusaha menahan dirinya, ia sungguh tak ingin namja didepannya memiliki hati Hae. “Memangnya kau sakit ?”

“Ahni.” Kyu menggeleng. Ia melepaskan tangan Sungmin dan duduk kembali dikursinya. Wajah Kyu mendadak pucat, melihat itu Sungmin lari ke sudut kantornya mendekati dispenser dan membuat teh hangat untuk Kyu. “Minumlah.”

“Gomawo hyung. Bolehkan aku memanggilmu hyung ?”

Sungmin mengangguk dan tersenyum. “Hmmm, tapi apa kau pernah sakit sebelumnya ? Penyakit organ dalam atau apalah ?” tanya Sungmin penasaran.

“Waeyo hyung ?” Kyu mengernyit heran menatap Sungmin.

“Akhhh, ahni.” Sungmin menggeleng, ia kembali berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya yang sebenarnya ia juga tak begitu berkonsentrasi dengan pekerjaannya.

“Sebenarnya aku bukan sakit hyung, tapi memang bawaan lahir.” Kyu berdiri dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Sungmin melangkah dan duduk di dekat Kyu. Rasa penasarannya sudah memuncak dan dia harus mendapatkan jawabannya sekarang juga.

“Aku gagal ginjal hyung, dan terkena kanker hati. Saat stadium 3, aku ditawari donor hati dan ginjal, dan saat itu aku merasa sangat beruntung karena memang hati dan ginjal itu cocok denganku.”

Sungmin mendelik hebat, ia begitu terkejut mendengar pengakuan Kyu. “Dimana kau mendapatkan donornya ? Boleh aku tahu ?”

“Di Daegu, saat aku terapi di rumah halmeoni ku.” Kyu menatap wajah Sungmin yang sudah memerah, mata yang mulai tergenang air yang siap turun membasahi pipinya. “Waeyo hyung ?”

“Gwenchana Kyu…hiks…” Sungmin tak bisa menahan air matanya yang mengalir bebas membasahi pipinya.

Kyu mendekatkan wajah Sungmin pada dadanya dan merengkuh bahu Sungmin. Sungmin terus menangis di pelukan Kyu yang terasa begitu nyaman baginya.

‘Hhhh, mengapa aku merasakan hal seperti ini pada namja yang bahkan baru ku kenal. Aku tak bisa melihatnya menangis.’ Kyu sibuk membatin dan mengusap punggung Sungmin. Ia tak bisa menghentikan dirinya sendiri.

Kyu mencium pucuk kepala Sungmin tanpa ia sadari. Kyu menghirup wangi coklat pada rambut Sungmin. Ia merasa bajunya basah karena memang Sungmin tak kunjung berhenti menangis.

“Hae… Hiks… Hae…”

Sungmin meracau memanggil Hae dalam tangisnya.

Sementara itu, Kyu terus mengumpat dalam hati. ‘Siapa Hae ? Kenapa dia memanggil Hae ?’

.

T.B.C.

16 thoughts on “My First Love Story || Chap 2|| KyuMin Yaoi

  1. Hiks…hiks…
    Iktan nangis d ending crta…
    Umin dlm pncrian pnerima donor organ tbuhnya hae…
    Siapa yg akn dipilih umin sbg pngganti hae…
    Jeng…jeng…jeng….. Yg psti adl KYU…
    Hidup KYUMIN… “̮ƗƗɪ̣̇ƗƗɪ̣̇ƗƗɪ̣̇ ๑ˆ⌣ˆ๑ “̮ƗƗɪ̣̇ƗƗɪ̣̇ƗƗɪ̣̇ *gila..

  2. Wuuuiiish seru pas ending nya #hiks
    Kyu yng dpt hati nnya hae,
    Ecung matanya hae,
    Klo bleh tbak siwon jga kbagian (?) Yaa onn ??
    Apa jgn” uri-mochi kita jga kedapetan (?) ??!!
    #penasaraaaaaannnn !!!

  3. hah ternyta tbakn q tepat y,,, hanya mleset pas sungi oppa ja….
    q g nyangka kalo sungie oppa bakal dpt donor mata hae, atau cuma kbtulan ja???
    mudh2an g da kish asmara antara sungie oppa ama minnie,,,,
    q tak rela kalo sungie oppa selingkuh hehehe,,,,,,,, sungie oppa kan cuma milik wookie seorang #ketauan YWS nih#
    ok lanjt dah,,,,,,,,,,

  4. Yesung dpt mata, kyu dpt hati sama ginjal, masih ada lg kah yg dpt donot dr hae
    ini kisah cinta nya sedikit rumit ya…
    Nnti endingnya tetep KYUMIN kan?

  5. ini parah banget demi apapun = = thor aku gasuka pairing nya haemin ;( jadi kaya baca FF haemin oh ayolah aku gabisa hehehe kaya menghianati kyumin entah kenapa aku gabisaa😀

  6. Tebkan ku tenttg kyu benar ye..\(^o^)/
    gk nygka ternyta yeye oppa jg pasti deh !!!
    Eh thu mochi gemesin deh..
    Fighting..(y)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s