My First Love Story || Chap 1|| KyuMin Yaoi

My First Love Story

Author : Rainy HearT

Cast :

– Cho Kyuhyun

– Lee Sungmin

– Other SUJU member

Pairing : HaeMin sligt KyuMin slight Simin Slight HenMin

Genre : Romance, Drama, Sad

Rating : T

“Length : Series

Disclaimer : All cast punya diri mereka sendiri dan Tuhan

Warning :BL/Boys Love/YAOI, EYD tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia, typos, gaje, dan cerita membosankan.

Sumarry : Cerita tentang cinta pertamaku, akankah aku bisa menemukannya kembali ?

Salah satu request-an dari readerq yang baik, PRESENTING “My First Love Story”

Terinspirasi saat liat vcr di SS4, tapi aku ubah semua ceritanya#kekekeke#

Semoga bisa menghibur readerdeul setia FFq yang baik hati.

Happy Reading

ooo-My First Love Story-ooo

Lee Sungmin POV

“Andwe !” Aku kembali berteriak dan bangun tengah malam begini. Aku tak menemukan siapapun dan apapun selain ketakutanku sendiri.

.

Tok… Tok… Tok…

.

“Nde, ” aku menyahut beranjak dari kasurku. Sudah pasti yang datang adalah Siwon. Dia selalu saja terbangun karena teriakan kerasku, kurasa aku sudah terlalu banyak membebaninya.

Selain dia memberiku tempat tinggal dan pekerjaan, dia juga selalu terganggu dengan teriakanku setiap malam. Entah mengapa, aku sendiri juga tak bisa melakukan apa – apa untuk menghilangkan traumaku itu.

Aku membuka pintu, dia langsung memelukku dan mengusap pipiku, “Gwenchanayo, Minnie hyung?”

“Nde, gwenchana Siwonie.” Ia membimbingku kembali ke kasurku. Mengambilkanku air putih di meja lampu tidurku. ” Minumlah hyung, tenangkan dirimu.”

Aku meminum air putihnya dan meletakkan gelas itu kembali ke atas meja, Siwon mengusap keringatku yang tanpa kurasa memang membasahi dahi dan pelipisku. “Hyung, bisakah trauma itu hilang ? Sebenarnya apa yang kau lihat hyung ? Mengapa tak mau menceritakannya padaku ?”

Aku menatap Siwon, sungguh aku tak ingin menceritakan kepahitan kisahku padanya, karena semua ini memang salahku. “Gwenchanayo Siwonie, kau bisa kembali ke kamarmu. Aku bisa sendiri disini.”

“Tapi hyung,”

“Gwenchanayo Siwonnie, pergilah.” Aku berdiri dan mendorong Siwon hingga mau tak mau ia harus keluar dari kamarku. Aku menyandarkan tubuhku yang lemas, rasanya kakiku sendiri sudah bergetar tak kuat menahan tubuhku.

Aku terjatuh duduk bersimpuh kedua tanganku di lantai, menangis menunduk menyembunyikan wajahku. Inilah kesalahan dan kekalahan terbesarku hingga aku kehilangan dia.

Lee Sungmin POV end

Flashback Mode On

“Chagi, pelan saja makan es krimnya. Lihat, sampai belepotan kemana-mana.” Namja tampan itu tengah mengusap jejak es krim di bibir kekasihnya. Kekasihnya hanya mempoutkan bibirnya menambah gemas namja yang masih sibuk membersihkan jejak es krim di tepi bibirnya.

“Minnie, hentikan mempoutkan bibirmu itu atau aku akan menciummu disini sekarang juga.”

“Nde Hae.” Minnie menganggukan kepalanya dan tersenym nakal pada Hae, “Bilang saja kau mau menciumku, kenapa harus banyak alasan, hemm ?”

“Jadi kau menggodaku sekarang ? Atau kau memang ingin ku cium ?” Hae berdiri dari kursi taman yang sedari tadi ia duduki bersama Sungmin. Melihat Hae, Sungmin tak tinggal diam, dia langsung berlari meninggalkan Hae.

“Kya, berhenti Lee Sungmin !” Hae mengejar Sungmin yang berlari disepanjang jalan di taman kompleks perumahan mereka.

Minnie berlari memutari semua wahana permainan di taman itu, dan Hae masih setia mengejarnya. Minnie merasa lama-kelamaan nafasnya habis dan ia berhenti berlari.

.

Bruukkk…

.

“Kya Hae ! Ahhahahaha..” Hae menabrak Sungmin hingga terjatuh dan menggelitiknya, “Hentikan Hae, ahhaahahaha.” Hae berhenti menggelitik pinggang Sungmin.

Ia menyingkap poni yang menutupi dahi kekasihnya itu dan tersenyum padanya, “Jadi, karena kau tertangkap biarkan aku menciummu.”

Tanpa menunggu jawaban Sungmin, Hae sudah melumat bibir plump dan pink milik Sungmin, menggenggam erat kedua tangannya dengan jari yang saling bertautan.

Taman kompleks yang sepi saat sore menjelang malam, ditemani sunset menambah romantisnya suasana yang mereka rasakan.

“Minnie chagi, ayo pulang ini sudah terlalu sore. Kajja !,” Hae berdiri dari posisinya tadi, dan membantu Sungmin untuk berdiri. Hae memeluk sekilas tubuh mungil Sungmin, dan mencium dahinya. “Chagi, aku sangat mencintaimu.”

Sungmin hanya berblushing ria, mendengar perkataan Hae. “Nado saranghae nae Hae.”

Mereka berjalan saling bergandengan tangan keluar dari taman menuju parkiran. Salahkanlah keinginan keras Sungmin yang terus memaksa untuk menyetir mobil sampai ke rumahnya. Karena Minnie benar-benar tak bisa mendengar kata tidak.

“Minnie chagi, kau belum pintar mengemudikan mobil sendiri. Jadi kau harus berhati-hati nde ?” Hae mencoba meyakinkan Sungmin. Kini mereka tengah keluar dari parkiran taman menuju jalan raya.

Sore itu cuaca cukup cerah hingga jalan raya pun ramai pejalan kaki dan juga kendaraan.

“Awas !” Hae kontan berteriak saat Sungmin hampir saja menyerempet mobil yang lain.

“Nde Hae, aku kan sudah hati-hati.”

Tapi Sungmin meleng tak memperhatikan jalan malah sibuk menatap Hae hingga tak menyadari satu hal yang akan terjadi.

Hae terkejut seketika saat Sungmin hampir menabrak truk yang berhenti di depannya, tapi …

“Aaakhhhh !”

.

Braakk…!

.

Semuanya terjadi begitu cepat dan hanya terdengar bunyi klakson mobil Hae. “Hae ?” Sungmin mendesah lirih mencoba menggerakkan tangannya mengusap darah di wajah Hae.

Kaca mobil pecah menghantam bagian belakang truk karena mobil Hae hampir masuk ke kolong truk.

Hae melindungi Sungmin dengan tubuhnya. “Hiks… Hae …” Sungmin mencoba mengguncang tubuh Hae yang penuh dengan pecahan kaca dan darah. Ia hanya bisa menangis dan sekejap saja semuanya gelap bagi Sungmin.

.

Bau obat menyengat hidung Sungmin, ia mengerjapkan matanya membiasakan diri dengan cahaya yang masuk. Tubuhnya sama sekali tak terasa sakit hanya lecet di tangan dan kakinya.

“Umma,” Sungmin memanggil lirih Teukki yang masih tidur di sisi kasurnya dan menggenggam tangannya. Sungmin melepaskan tangan ummanya dan mengusap rambutnya.

Merasakan belaian lembut di kepalanya, Teukki terbangun dan menatap Sungmin dengan mata sayu dan senyuman di bibirnya. “Chagi,”Teukki memeluk Sungmin dan mengusap kedua pipinya seakan tak percaya putranya sudah siuman.

“Umma, Hae ?”

Hal pertama yang di tanyakan Sungmin adalah Hae. Teukki hanya bisa diam mematung, tak tahu harus menjawab apa.

“Umma, bagaimana dengan Hae ? Dia baik-baik saja ‘kan ?” Sungmin bertanya dengan suara yang bergetar menandakan ia hampir menangis.

Dengan susah payah Teukki menelan salivanya, mengatur nafasnya dan mencegah air matanya untuk tidak keluar.”Ayo kita temui Hae.” Teukki membantu Sungmin berjalan keluar menuju kamar di sebelah ruangan Sungmin.

Teukki membuka pintu dan terlihat sosok yang dicari Sungmin tergeletak (?) tak berdaya dengan selang dan masker oksigen. Perban di seluruh tubuh Hae tak terkecuali kepalanya. Sungmin berjalan mendekati ranjang Hae.

“Lee ahjumma, mianhe.” Sungmin mendekati ibu Hae dan mengusap bahunya. Hanya senyuman getir yang keluar dari bibir yeoja tua itu. “Gwenchana Minnie-ah.” Lee ahjussi, appa Hae mengusap bahu Sungmin.

“Tapi ahjussi, jika bukan karena aku Hae pasti tak akan jadi begini.” Lee ahjussi hanya memeluk Sungmin dan mengusap punggung Sungmin. Ia sudah menganggap Sungmin seperti anaknya sendiri.

Ibu Hae meraih tangan Sungmin agar menggenggam tangan dingin Hae.

Sungmin dapat merasakan betapa dingin tangan kekasihya yang sedang ia genggam itu. Ia mengusap pipi Hae yang pucat dan dingin. Mendekatkan wajahnya dan mencium pipinya. Menghembuskan hangat nafasnya sendiri hingga menerpa pipi dingin Hae.

Tapi Sungmin tak kuasa untuk menahan tangisnya, hingga air matanya jatuh dan membasahi pipi Hae. Ia merasa sangat bersalah karena sepenuhnya kecelakaan itu karena kelengahannya. Sungmin menatap Ummanya Hae dengan penuh rasa bersalah di matanya. Lee ahjumma hanya tersenyum getir dan duduk di sofa di ruangan Hae, bersama dengan Appanya Hae dan Teukki Umma.

Sungmin duduk disisi Hae dan menggenggam tangannya. Ia mencium tangan dingin Hae. Sungmin terus menatap wajah Hae berharap mata biru kehijauan kekasihnya akan terbuka.

Ini sudah menjelang pagi, hampir seharian penuh Hae tak sadarkan diri. Sungmin terus berusaha terjaga, tak mau melewatkan sedetikpun di sisi Hae. Ia mengusap pipi dingin Hae dan berusaha keras menahan tangisnya. “Jebal Hae, bangunlah.”

Sungmin mencium tangan Hae yang dingin dan menundukkan kepalanya hingga dahinya dapat bersentuhan dengan jari-jari Hae. Sungmin merasakan pergerakan di jari Hae. Dengan wajah tak yakin, ia menatap wajah Hae dan terlihatlah mata biru kehijauan kekasihnya kini menatapnya.

“Hae, hiks…” Sungmin tak bisa menahan tangisnya dan memeluk pelan tubuh Hae. Ia mencium pipi Hae dan menggenggam tangannya.

“Chagi,” terdengar suara lirih Hae memanggil Sungmin. “Nde Hae, aku disini. Mianhe,” Sungmin mencium telapak tangan Hae dan terus menangis.

“Sudah chagi, jangan menangis.” Hae mengusap pelan pipi Sungmin dengan sisa tenaganya. Sungmin menatapnya dengan mata sendu, “Jebal Hae, berjanjilah kau akan sehat untukku.”

Namun Hae hanya mengangguk dan tersenyum.”Berjanjilah Hae, kumohon kita akan selalu bersama ‘kan ?” Sungmin tak bisa menghentikan tangisnya.

“Nde chagi, kita akan selalu bersama dan aku juga akan selalu denganmu, tenanglah.” Sungmin mendekati Hae dan menatap mata biru kehijauan yang sangat ia sukai.

“Berjanjilah kau akan melihatku lagi dengan mata yang indah ini Hae.” Hae hanya menganggukkan kepalanya. “Berjanjilah kau akan selalu bersamaku dan mengusap lembut rambutku, Hae.”

Lagi-lagi Hae hanya mengangguk. Sungmin menangis, ia tak sanggup lagi untuk menahan air mata yang sudah ingin kekuar dari tadi. “Berjanjilah kau akan selalu bersamaku, dan menghabiskan hidup kita bersama, Hae.”

“Nde chagi, yakhsokejwo. Aku akan selalu bersamamu.” Hae menghentikan kata-katanya dan menggenggam tangan Sungmin. Sungmin menatap Hae, “Tapi aku tidak janji untuk sekarang Minnie chagi. Tapi bisa kupastikan aku akan selalu bersamamu.”

“Mwo ?” Sungmin masih mencerna perkataan Hae.

Hae tersenyum dan mengusap pelan pipi Sungmin menghapus jejak air matanya, “Saranghaeyo, Lee Sungmin. Yong wonhi, jeongmall saranghaeyo.” Hae mengatakan dengan sangat jelas dan dengan suara yang pelan. Ia tersenyum dan membuka masker oksigennya.

Hae mencium bibir Sungmin, dan menutup matanya menikmati keringnya bibir kekasih yang sangat ia cintai…

.

10 detik…

.

15 detik…

.

30 detik …

.

Sungmin merasa aneh. Ia tak merasakan nafas Hae berhembus dipipinya. Dengan hati yang sudah bergetar dan rasa takut yang memuncak, ia memberanikan dirinya menatap wajah kekasihnya.

.

“Andwe…!”

.

Jeritan Sungmin membangunkan semua orang di ruangan itu, Kangin dan Teukki juga Yunho dan Jae yang tertidur karena lelah.

Jae langsung berlari mendekati Sungmin dan saat melihat kenyataan yang terjadi ia hanya bisa terisak lirih. “Andwe, Hae…” Yunho memeluk tubuh istrinya yang sudah jatuh di lantai.

Teukki dan Kangin memeluk tubuh Sungmin yang terus memeluk tubuh kaku Hae.”Umma, dia tidak boleh meninggalkanku Umma,” Sungmin menangis di pelukan kedua orang tuanya.

“Umma, ini salahku Umma.”

“Andwe ! Hae ! Hiks… Hae… Kembali…” Sungmin terus mengguncang kuat tubuh Hae. Namun apapun yang ia lakukan hanya sia-sia. Teukki mencoba menenangkan Sungmin dan memeluknya.

“Mianhe Ahjumma, Ahjussie, hiks… Ini salah Minnie.” Sungmin memeluk Jae yang masih bersimpuh di lantai. Jae tak membalas pelukan Sungmin, tak juga marah dengannya. Ia hanya belum bisa menerima kenyataan.

Yunho mengangkat tubuh Sungmin dan membantunya berdiri. “Sesuai dengan permintaan Hae, organ Hae yang masih berfungsi akan disumbangkan untuk orang yang membutuhkan.” Yunho tersenyum pada Sungmin. Hati, mata dan ginjal Hae akan di sumbangkan untuk sosial, dan kami sudah menyetujuinya.”

“Yunho appa, mengapa ? Mengapa Hae menyumbangkannya ?” Sungmin menatap Yunho dan Jae. Begitu banyak pertanyaan berkecamuk dalam hatinya. Yunho hanya tersenyum penuh arti pada Sungmin.

Jaejong, berdiri dan menatap Sungmin. Teukki dan Kangin memeluk tubuh mungil Sungmin yang lemah. Jae menatap lembut Sungmin dan kemudian berpaling dan menatap tubuh kaku Hae. Ia tersenyum penuh arti.

“Hae begitu mencintaimu Minnie-ah, jadi ia berharap semua organ yang di sumbangkan untuk orang lain itu akan bergetar kembali saat bertemu lagi denganmu.” Jaejong mengusap lembut pipi dingin Hae, “Umma sangat menyayangimu chagi.”

“Jae Umma, mianhe,” Sungmin mendekati Jae, memeluknya dan menangis dalam pelukan Jaejong. Jae hanya tersenyum getir dan mengusap punggung Sungmin,”Gwenchana Minnie.”

“Bolehkah aku tahu orang yang menerima organ Hae Umma ?”

“Mianhe chagi, dokter tak mau memberi tahu kami.”

“Jadi ?”

Jaejong mengangguk dan tersenyum pada Sungmin,”Kau cari sendiri chagi.”

“Mianhe Jae Umma.”

Flashback Mode Off

.

.

Sungmin berangkat bersama dengan Siwon. Semenjak kematian Hae, Sungmin meninggalkan Daegu dan pergi ke Seoul. Ia tak ingin mengingat kembali masalalu yang selalu membayanginya dengan rasa bersalah. Siwon, namja yang menolong Sungmin yang tersesat di Seoul setahun yang lalu.”Kajja hyung, kita harus menemui satu klien kita.”

Perkataan Siwon sukses membuyarkan lamunan Sungmin, entah mengapa jantungnya terus saja bergetar. Entah apa yang akan terjadi nanti.

Mereka duduk di restoran tempat janjian mereka dengan kliennya.”Hyung, apa kau sudah merasa lebih baik ?”

“Waeyo ?” Sungmin meminum jus strawberrynya dan menatap Siwon dengan wajah aegyonya.

“Aish, jangan menatapku seperti itu hyung.” Siwon tersenyum malu pada Sungmin. Ia melihat pintu masuk restoran dan melihat tamunya yang sudah memasuki pintu restoran itu. “Hyung, itu tamunya.”

Sungmin dan Siwon menatap tamu yang memang sudah mereka tunggu sedari tadi. Namja tinggi dengan rambut ikal berwarna coklat kemerahan, kacamata hitam, dan kulit pucat. Siapapun pasti akan terpesona termasuk Sungmin. “Tampan.”

“Wah hyung, tumben sekali kau mengomentarinya.” Siwon tersenyum melihat tingkah baru Sungmin.

Tamu itu sampai di meja mereka,”Annyeong Siwon-ssi, mianhe menunggu lama.” Namja itu mengulurkan tangannya pada Siwon dan mereka berjabatan tangan. Ia menatap Sungmin dan tersenyum.

“Annyeong noona.”

“Mwo !” Sungmin merasa terhina saat di panggil noona oleh namja yang sama sekali belum ia kenal. “Heh, aku ini namja tahu ? Makanya, kacamata hitammu itu dilepas dulu Tuan. Jadi kau tak akan salah lihat.

“Akh, sudahlah ayo duduk saja.” Siwon mengajak tamunya duduk dan meminta maaf atas tingkah Sungmin yang sedikit kasar tadi.

“Mianhe Kyuhyun-ah, aku tahu jika Minnie itu cantik seperti yeoja, tapi bisa ku pastikan dia namja.”

“Siwonie !” Sungmin sedikit berteriak mendengar penuturan Siwon.

Siwon dan tamunya sibuk membicarakan tentang proyek kerja sama mereka.

Mereka bertiga sibuk membicarakan ini dan itu. Tapi dalam di lubuk hati Sungmin, ia merasakan ada yang aneh,’Kenapa perasaan ini keluar dan terjadi lagi?’ Sungmin sibuk membatin dan terkadang sibuk sendiri dengan fikirannya.

‘Lee Sungmin, jadi namanya lee Lee Sungmin.’ Kyuhyun membatin, ‘Kenapa hatiku bisa bergetar begini ?’

Tubikon…

Jeongmal Gomawo reader yg dah mau baca and review.

21 thoughts on “My First Love Story || Chap 1|| KyuMin Yaoi

  1. Wahhhh… Ikan cnta ∂Ķΰ meninggal.. Smpe ikutan nangis ∂Ķΰ
    Cnta prtama umin si ikan..
    Critane seru nich…
    Keren eonni…
    Wlpn pd akhrnya ma kyu *sotoi* tp first love nya umin ikan mokpo…
    Soalnya kan msti kyumin sling suka dr pndngan prtma.. Tp nie crtane bda..
    Seruuuuu… Seruuuu…

  2. huhu kasian tapi tetep aja entar sungmin ingetnya donghae bukan kyuhyun,itusih hehe yang kurang enak kalo baca fanfic begini😀 tapi sruuuu :*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s